Bab 2

Kaivan pun tertawa gembira. "Lain kali, aku akan lebih lembut. Aku akan membelikanmu obat nanti."

Suara pria itu berangsur-angsur menjauh. Sementara itu, Adeline menatap patahan lipstik di tangannya dengan ekspresi datar. Dia membuang lipstik yang patah itu ke tempat sampah, lalu membuka lapisan kedua kotak perhiasan yang hanya berisi beberapa buah perhiasan.

Dulu, kotak itu penuh dengan perhiasan pemberian Kaivan yang mencapai ratusan buah. Sejak Kaivan berselingkuh, dia akan membuang sebuah perhiasan setiap kali merasa kecewa terhadap Kaivan.

Awalnya, frekuensinya sangat jarang. Setelahnya, frekuensinya makin sering dan perhiasannya sudah hampir habis sekarang. Sama seperti cintanya pada Kaivan, yang awalnya meluap seperti air pasang hingga kini akan segera pudar sepenuhnya.

Adeline mengambil sebuah kalung emas yang sangat tipis. Kalung itu adalah pemberian Kaivan pada tahun ketiga mereka bersama. Liontin kalung itu berbentuk telapak kaki kucing. Saat itu, Adeline ingin memelihara kucing dan sering menonton video kucing di internet. Ketika menerima kalung itu, dia sangat gembira dan tidak berhenti memainkan liontin itu.

Mereka berdua sepakat untuk mengadopsi kucing setelah lulus dan menyewa rumah. Mereka bahkan sudah memilih namanya, yaitu Bubu. Setelahnya, mereka tentu saja tidak jadi memelihara kucing.

Kaivan awalnya fokus merintis bisnis. Setelah bisnisnya sukses, dia menjadi makin sibuk. Dia bahkan tidak punya waktu untuk Adeline, apalagi memelihara kucing. Setelah dipikir-pikir, hubungan mereka memang sudah mulai bermasalah dari saat itu. Dia terlalu percaya diri dan berpikir hati Kaivan tidak akan pernah berubah.

Adeline menahan gejolak emosinya, menunduk, dan membuang kalung emas itu ke tempat sampah. Setelah itu, dia perlahan-lahan menutup kotak perhiasan itu. Hanya tersisa lima perhiasan di dalam kotak.

Adeline bangkit dan mengenakan mantelnya, lalu keluar sambil membawa tasnya. Begitu tiba di firma hukum, rekan-rekannya menghampirinya untuk memberi selamat atas kemenangannya lagi dalam persidangan.

"Bu Adeline, selamat!"

"Bu Adeline, ini sudah yang keenam kalinya dalam bulan ini! Bukan tanpa alasan kamu punya julukan Jenderal Tak Terkalahkan di firma hukum ini!"

"Ternyata benar yang bilang orang yang biasanya gagal di percintaan biasanya sukses di karier. Lihat saja betapa bersinarnya karier Bu Adeline sekarang!"

Begitu orang itu selesai berbicara, orang di sebelahnya pun buru-buru menarik lengan bajunya dan mengedipkan mata padanya. Suasana yang awalnya meriah tiba-tiba menjadi canggung. Semua orang yang hadir saling memandang dan tak seorang pun berani menatap wajah Adeline.

Semua orang di firma hukum tahu bahwa Adeline dan Kaivan akan segera menikah. Orang yang punya koneksi luas juga tahu bahwa Kaivan diam-diam berselingkuh dengan sekretarisnya. Namun, tak seorang pun pernah membicarakan hal ini di depan Adeline.

Rekan kerja yang baru saja berbicara juga menyadari bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang salah dan segera meminta maaf kepada Adeline, "Bu Adeline, maaf. Aku cuma asal bicara. Jangan dimasukkan ke hati, ya ...."

Wajah Adeline terlihat sedikit pucat, sedangkan tangannya yang memegang tas kerja perlahan-lahan mengencang. Dia memaksakan senyum dan menyahut, "Nggak apa-apa. Malam ini, aku akan traktir semua orang di Restoran Celestial untuk merayakannya. Ingat untuk luangkan waktu, ya!"

Semua orang segera menanggapi dengan canda dan tawa, lalu insiden kecil itu pun berlalu.

Setelah kembali ke meja kerjanya, Adeline menyalakan komputer, merapikan dokumen-dokumen untuk diarsipkan, dan mulai menulis laporan ringkasan kasus. Namun, setelah menulis selama lebih dari dua jam, dia hanya menulis beberapa baris kata dan pikirannya sudah melayang.

Malam harinya, Adeline berjalan masuk ke Restoran Celestial bersama belasan orang dari firma hukum. Ada dua sosok familiar yang duduk di dekat jendela. Ketika menoleh, Adeline kebetulan bertemu pandang dengan tatapan Kaivan yang acuh tak acuh.

Adeline pun menahan napas untuk sejenak. Pada detik selanjutnya, Kaivan sudah mengalihkan pandangannya dan lanjut menyuapi Lesya hidangan penutup sambil tersenyum, seolah-olah tidak ada orang di sekitarnya.

Bahkan di depan rekan-rekan Adeline, Kaivan tetap tidak menunjukkan rasa hormat apa pun terhadap Adeline.

Seorang rekan kerja yang memiliki hubungan lumayan dekat dengan Adeline pun merasa marah. Dia hendak melangkah maju untuk menuntut keadilan bagi Adeline.

Namun, Adeline menahannya dan berkata dengan tenang, "Aku baik-baik saja. Ayo kita masuk ke ruang privat."

Wajah rekan kerja itu dipenuhi amarah. Dia berbalik dan hendak membantah, tetapi langsung tertegun ketika melihat ekspresi Adeline yang lebih buruk daripada menangis. Akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan membiarkan Adeline menariknya ke ruang privat.

Dalam masalah perasaan, hanya orang yang menjalani hubungan itu yang mengetahui dengan jelas bagaimana hubungan mereka. Berhubung Adeline ingin mempertahankan ilusi ketenangan itu, orang lain tidak berhak mengatakan apa pun.

Setelah memesan makanan, Adeline bangkit dan pergi ke kamar mandi. Begitu pintu tertutup, dia mendengar suara rekan-rekannya berdiskusi di dalam.

"Tadi, aku nggak salah lihat? Pacar Bu Adeline menyuapi wanita lain makanan hidangan penutup di depan Bu Adeline? Dasar bajingan!"

"Aku juga melihatnya. Entah apa sebenarnya yang Bu Adeline sukai dari pria berengsek seperti itu? Dia begitu cantik. Kalau meninggalkan pria itu, dia pasti bisa temukan pria lainnya kapan pun dia mau."

"Haih, intinya, mereka berdua secara sukarela terima keadaan ini. Bu Adeline bisa berpikiran sangat jernih dan tegas saat tangani kasus, tapi malah nggak bisa berpikir jelas dalam urusan cinta ...."

Adeline tidak mendengar sisa percakapan mereka, tetapi bisa menebaknya. Sebenarnya, apa yang mereka katakan memang benar. Namun, setiap kali memikirkan masa depannya tanpa Kaivan, rasa sakit yang tak tertahankan akan merayapi hatinya.

Perlahan-lahan, Adeline pun mulai terbiasa. Terbiasa dengan ketidakpedulian Kaivan, terbiasa dengan aroma parfum wanita lain di tubuhnya, dan terbiasa dengan proses penyembuhan luka secara perlahan.

Tepat saat Adeline berjalan menuju pintu kamar mandi, langkahnya tiba-tiba terhenti. Seluruh tubuhnya terpaku di tempat. Sebuah pemandangan yang tak jauh darinya terlihat sangat menusuk mata.

Lesya duduk di atas wastafel, sedangkan Kaivan memeluk pinggangnya erat-erat dan memunggungi Adeline. Kaivan mencium Lesya seperti tidak ada orang lain di sekitar mereka. Mau dia bertingkah seperti apa pun dulu, dia tidak pernah bermesraan dengan wanita lain di depan Adeline. Namun, hari ini, dia malah melakukannya.

Melihat punggung Kaivan, Adeline merasa seperti ada angin dingin yang berembus masuk melalui lubang yang menganga di hatinya.

'Kaivan, kenapa kamu begitu kejam?' tanya Adeline dalam hati.

Berhubung terlalu terlena, Kaivan bahkan tidak menyadari Adeline berdiri tak jauh darinya. Akan tetapi, meskipun tahu, hal itu juga tidak akan berpengaruh baginya. Lagi pula, dia tidak peduli apakah Adeline sedih atau tidak.

Cermin itu memantulkan sosok dua insan yang saling bertautan, juga memantulkan wajah Adeline yang pucat dan terlihat sangat malu. Adeline merasa dirinya bagaikan orang yang sangat konyol.

Lesya yang lebih dulu melihat Adeline. Dia segera mendorong Kaivan. "Pak Kaivan ... Bu Adeline ...."

Pipinya merona merah, mata besarnya berkilat panik, sedangkan bibir lembapnya yang dicium Kaivan memerah hingga terlihat bagaikan buah manis yang sudah matang dan begitu menggoda untuk dipetik.

"Jangan pedulikan dia."

"Pak Kaivan ... umph ...."

Kaivan langsung membungkam mulut Lesya.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Kaivan akhirnya melepaskan Lesya dan mengangkatnya turun dari wastafel. Dia merapikan gaun Lesya, lalu merangkulnya dan berbalik untuk pergi.

Saat melewati Adeline, Kaivan mengangkat alisnya dan bertanya dengan nada mengejek, "Masih belum puas lihatnya? Apa perlu aku bawa Lesya pulang malam ini supaya kamu bisa melihatnya dengan jelas?"

Adeline menoleh untuk menatapnya. Mata Kaivan yang jernih itu penuh dengan ejekan dan sama sekali tidak terlihat jejak kelembutan.

"Kaivan, kamu boleh lakukan apa saja yang kamu mau dengannya secara pribadi, tapi bisa nggak kamu ... jangan membawanya ke hadapanku? Anggap saja aku mohon padamu ...."

Adeline benar-benar tidak tahu berapa lama lagi dia bisa bertahan. Sepertinya, hanya dia seorang yang masih berangan-angan tentang masa depan yang mereka janjikan pada satu sama lain.

Kaivan tersenyum acuh tak acuh, lalu memegang dagu Lesya dan mengecup bibirnya lagi.

"Nggak tahan? Kalau nggak tahan, kamu boleh batalkan pernikahan kita atau minta putus."

Adeline menunduk dan hendak berbicara, tetapi tatapannya tiba-tiba terhenti. Lesya sedang mengenakan sebuah gelang emas tulip. Baik desain maupun ukiran gelang itu sama persis dengan yang Kaivan rancang sendiri dan dibuat khusus untuknya!

Bab 3

Saat menyadari tatapan Adeline, Lesya segera mengulurkan tangan untuk menutupi gelang itu. Matanya berkilat panik dan dia tanpa sadar bersembunyi di belakang Kaivan.

Kaivan menariknya ke belakang dan menatap Adeline. "Buat apa kamu menatap Lesya?"

Mata Adeline sedikit memerah. "Kaivan, kenapa kamu kasih Lesya gelang yang sama? Kamu jelas-jelas bilang gelang itu dibuat khusus untukku."

"Lesya melihatmu memakainya dan bilang dia sangat menyukainya. Aku nggak mungkin kasih gelangmu padanya, 'kan? Lagian itu cuma sebuah gelang. Sejak kapan kamu jadi orang yang berhati sempit?"

Ekspresi Kaivan dipenuhi dengan ketidaksabaran, seolah-olah dia sedang membicarakan hal sepele.

Rasa tidak percaya terpancar di mata Adeline. "Tapi, waktu kamu memberikannya padaku, kamu bilang ...."

Sebelum Adeline selesai berbicara, Kaivan sudah menyela dengan kening berkerut, "Adeline, memangnya hidup di masa lalu itu menarik, ya? Kamu sendiri juga sudah bilang itu waktu itu."

Kaivan paling membenci ketika Adeline mengungkit masa lalu. Sebab, itu akan mengingatkannya pada dirinya yang berulang kali gagal dalam membangun usaha dan masa-masa kelamnya.

Adeline memang menemaninya melewati semua masa kelam dan kegagalan saat itu. Namun, setelah bisnisnya sukses, Kaivan pun tidak ingin lagi mengingat masa-masa sulit itu dan perlahan-lahan merasa bosan pada Adeline.

Adeline menatapnya dengan tatapan sedih, bagaikan kaca yang hampir pecah. "Jadi, janji yang kamu buat bisa berubah dan diingkari dengan begitu saja?"

Kaiva menatapnya dengan dingin, "Aku pernah janji untuk menikahimu, jadi karena kamu mau menikah denganku, aku sudah setuju. Apa lagi yang kamu inginkan? Adeline, satu-satunya kesalahanku padamu adalah, aku tak lagi mencintaimu. Memangnya aku nggak punya hak untuk ambil keputusan mengenai siapa yang kucintai?"

Adeline mengedipkan matanya dan air matanya pun menetes. Ternyata setelah hati seorang pria berubah, janji yang dibuatnya juga tidak berlaku lagi, bagaikan istana pasir yang bisa dengan mudahnya roboh tertiup angin.

Cinta Kaivan bisa kandas, tetapi bagaimana dengan Adeline? Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana dia bisa meyakinkan dirinya untuk melupakan masa-masa ketika mereka masih saling mencintai? Bagaimana dia bisa meyakinkan dirinya untuk menerima perubahan hatinya? Bagaimana dia bisa meyakinkan dirinya untuk melepaskan Kaivan dan juga melepaskan dirinya ....

Melihat Adeline menggigit bibir pucatnya tanpa berkata apa-apa, Kaivan merangkul Lesya dan berjalan pergi. Sosoknya pun menghilang di belokan.

Adeline mengedipkan matanya yang perih dan berdiri di sana cukup lama. Setelah menenangkan diri, dia baru berjalan kembali ke ruang privat.

Makan malam ini baru berakhir pada larut malam. Sampai melihat rekan kerja terakhirnya meninggalkan restoran, Adeline baru melaju pulang. Ketika tiba di rumah dan membuka pintu, ruangannya masih gelap. Seperti dugaannya, Kaivan tidak kembali.

Bayangan Kaivan dan Lesya yang berciuman di wastafel kembali muncul di benaknya. Rasa sakit yang mendalam juga muncul di hatinya. Dia memejamkan mata dan menahan air matanya.

Adeline berjalan ke meja rias, lalu membuka kotak perhiasan dan mengeluarkan gelang emas tulip dari dalam. Gelang yang dulunya membuat hatinya berbunga-bunga setiap kali melihatnya kini malah membuat hatinya terasa sakit. Berhubung gelang itu tidak lagi eksklusif, dia juga tidak perlu menyimpannya lagi.

Adeline menggigit bibirnya dengan perasaan getir dan melepaskan genggamannya. Gelang itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke tempat sampah di bawahnya dengan mengeluarkan suara dentuman, tepat seperti dentuman kosong di dadanya saat melihat Lesya mengenakan gelang itu.

Selama beberapa hari selanjutnya, Kaivan tidak pulang. Adeline mengiriminya pesan setiap hari untuk mengingatkannya mencoba gaun pengantin pada hari Sabtu, tetapi Kaivan tidak membalas.

Pada Sabtu pagi, Adeline bangun, mandi, dan sedang merias wajah ketika menerima pesan dari Kaivan.

[ Aku sudah sampai di toko gaun pengantin. ]

Adeline pun bergegas pergi ke toko gaun pengantin. Ketika melihat Lesya yang sedang merangkul lengan Kaivan dengan manja, mata Adeline tanpa sadar menjadi dingin. "Kaivan, hari ini kita mau coba gaun pengantin. Buat apa kamu membawanya kemari?"

Kaivan terlihat santai, seolah-olah tidak merasa ada yang salah. "Setelah coba gaun pengantin, aku dan dia mau pergi bahas kerja sama. Buat apa kamu permasalahkan hal sepele seperti ini?"

"Hal sepele? Di matamu, ini benar-benar cuma masalah sepele?"

Pada hari mereka mencoba gaun pengantin, Kaivan membawa datang selingkuhannya untuk membuatnya sakit hati. Apakah dia juga akan membiarkan Lesya menghadiri resepsi pernikahan mereka?

Lesya melepaskan lengan Kaivan dan bersikap agak panik. "Pak Kaivan, sudah kubilang aku nggak seharusnya datang .... Sebaiknya aku kembali ke perusahaan dulu .... Habis kamu selesai coba gaun pengantin, aku baru ...."

"Nggak perlu." Kaivan berbalik untuk menatap Adeline suaranya menjadi dingin. "Kamu mau coba atau nggak? Aku sangat sibuk dan nggak punya waktu untuk dihabiskan bersamamu di sini."

Adeline mengenal Kaivan dengan baik. Ketika dia mengerutkan kening, itu berarti dia sudah sangat tidak sabar. Jika Adeline mengatakan dirinya tidak ingin mencoba sekarang, Kaivan pasti akan langsung berbalik dan pergi.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Adeline berbalik dan berjalan masuk ke toko gaun pengantin. Begitu dia melangkah masuk, karyawan toko segera menghampirinya dengan senyum lebar. Saat melihat Kaivan di belakang Adeline dan Lesya di samping Kaivan, ada sedikit keterkejutan di matanya, tetapi dia masih tetap tersenyum.

"Pak Kaivan, Bu Adeline, selamat pagi. Gaun pengantin yang kalian pesan sudah sampai. Mari kubawa kamu pergi mencobanya."

Adeline pernah belajar sedikit tentang desain sebelumnya. Dia menghabiskan setengah tahun untuk menyelesaikan desain gaun pengantin ini di bawah bimbingan seorang desainer ternama dalam negeri. Upaya yang dicurahkannya dalam hal ini sangatlah banyak.

Namun, semua harapannya sudah pupus saat dia melihat Lesya. Sekarang, dia hanya berusaha untuk menyelesaikan tugasnya. Dia mengangguk dengan lelah. "Oke."

Kemudian, Adeline mengikuti karyawan toko pergi ke area pengantin dan langsung melihat gaun pengantinnya di tengah ruang pameran.

Gaun pengantin itu bermodel kemban. Bagian atasnya dihiasi bordir bunga tulip favoritnya yang disulam di atas renda Prancis. Bunga-bunga itu terlihat nyata, seolah-olah tumbuh di permukaan renda.

Deretan mutiara sehalus bintang melingkar di bagian pinggang dan berkilauan indah di bawah cahaya lampu. Bagian depan roknya terbuat dari satin berkualitas tinggi, sedangkan bagian belakangnya terdiri dari tiga lapis ekor panjang yang mengombinasikan satin dan renda sehingga terasa ringan dan anggun. Adeline hampir tidak bisa mengalihkan pandangannya.

"Bu Adeline, gaun pengantin ini baru saja diantar kemari pagi ini. Waktu melihatnya, ada beberapa pelanggan yang ingin mencobanya. Kamu pasti akan terlihat sangat cantik waktu memakainya."

Lesya juga melirik gaun pengantin itu. Matanya berbinar dengan keterpukauan sekaligus iri. Dia menimpali, "Iya, cakep banget! Dengar-dengar, Bu Adeline yang mendesain gaun pengantinnya. Bu Adeline benar-benar berbakat! Benar nggak, Pak Kaivan?"

Saat mendengar suara mentel Lesya, Adeline pun merasa mual. Baru saja dia berbalik untuk berbicara, dia malah melihat Kaivan menunduk dan menatap Lesya dengan lembut, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus kepalanya.

"Kamu juga nggak buruk. Kalau nggak, mana mungkin kamu bisa jadi sekretarisku."

Lesya memelototinya. "Kamu cuma mengolok-olokku."

Dalam sekejap, Adeline tiba-tiba tidak ingin mengatakan apa-apa. Apa lagi yang bisa dia katakan? Lesya bisa datang ke tempat ini untuk membuatnya muak sebenarnya karena Kaivan yang memberinya keberanian itu.

Ini jelas adalah pertama kalinya karyawan toko menghadapi situasi memalukan seperti ini. Dia dengan hati-hati bertanya, "Bu Adeline ... apa kamu masih mau coba gaun pengantinnya?"

Adeline berbalik dan menjawab dengan tenang, "Mau."

Karyawan toko itu dengan hati-hati melepas gaun pengantin dari gantungan dan membawa Adeline ke ruang ganti. Berhubung ada renda dan tali di bagian belakang gaun pengantin, gaun ini lebih rumit untuk dikenakan hingga butuh waktu lebih dari sepuluh menit.

Adeline sangat cantik. Dengan kulit putih dan fitur wajahnya yang indah, dia terlihat anggun dan memikat layaknya bunga teratai yang mekar sempurna. Jika tidak, Kaivan tidak akan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Dia yang mengenakan gaun pengantin bahkan terlihat lebih memukau lagi.

Karyawan toko membantunya merapikan ujung gaunnya sambil berkata, "Bu Adeline, kalau aku ini bukan seorang perempuan, aku pasti akan terpesona olehmu."

Adeline menunduk dan memaksakan seulas senyum. "Terima kasih."

Melihat suasana hatinya sedang buruk, karyawan toko itu menghela napas dalam hati dan tidak berani berbicara lagi.

Ketika tirai ruang ganti dibuka, Kaivan sedang menunduk untuk membalas pesan pelanggan di LINE, sedangkan Lesya entah pergi ke mana.

Karyawan toko pun memanggil Kaivan. "Pak Kaivan, Bu Adeline sudah selesai kenakan gaun pengantinnya."

Kaivan mengangkat kepala tanpa minat dan melirik Adeline. "Biasa saja."

Dia benar-benar merasa tidak ada yang terlihat istimewa. Bagaimanapun juga, sekarang dia tidak menaruh perasaan apa pun pada Adeline. Meskipun Adeline berdiri telanjang di depannya, dia juga sama sekali tidak tertarik.

Adeline merasa sedikit kecewa.

Di tahun pertama mereka bersama, mereka sudah mendiskusikan gaun pengantin seperti apa yang akan dia kenakan saat menikah nanti. Kaivan berkata bahwa Adeline adalah wanita paling cantik tidak peduli apa pun yang dikenakannya. Ketika Adeline mencoba gaun pengantin, dia pasti akan sangat terharu hingga berlinang air mata. Sebab, dia akhirnya bisa menikahi Adeline.

Itu hanyalah masalah sepele. Kaivan seharusnya sudah melupakannya sejak lama.

Delapan tahun memang waktu yang lama, juga cukup lama bagi seseorang untuk jatuh cinta pada orang lain. Namun, waktu Itu juga cukup lama untuk perlahan-lahan menghilangkan rasa suka seseorang terhadap orang lain.

Karyawan toko menyadari suasana aneh di antara keduanya dan hendak menengahinya. Tiba-tiba, tirai ruang ganti di seberangnya pun terbuka. Lesya yang mengenakan gaun pengantin tersenyum dan menatap Kaivan dengan santai.

"Pak Kaivan, aku nggak nyangka gaun pengantin yang kamu pilih begitu pas. Gimana?"

Bab 4

Kaivan menatap Lesya sambil tersenyum. Matanya penuh dengan kekaguman. "Cantik sekali. Gaun ini cocok banget sama kamu."

Keduanya saling memandang dari kejauhan dan mata mereka dipenuhi dengan cinta yang tak terselubung.

Jelas-jelas, yang datang untuk mencoba gaun pengantin adalah Kaivan dan Adeline. Namun, dengan adanya keberadaan Lesya sekarang, malah Adeline yang terlihat seperti pihak ketiga.

Adeline langsung mencengkeram ujung roknya. Seutas tali dalam otaknya yang disebut akal sehat tiba-tiba putus. Dia mengangkat ujung gaunnya dan berjalan perlahan menuju Lesya.

Melihat Adeline berjalan mendekat, senyum di bibir Lesya makin lebar. "Bu Adeline, gaun pengantinmu indah banget. Waktu melihat gaun pengantin itu, aku tiba-tiba ingin mencobanya. Kamu nggak keberatan, 'kan?"

"Plak!"

Adeline mengangkat tangan dan menampar Lesya, lalu menekankan kata-katanya. "Sekarang, kamu seharusnya sudah tahu aku keberatan atau nggak."

Raut wajah Kaivan langsung berubah, "Adeline, apa yang kamu lakukan!"

Dia melangkah maju dengan cepat dan langsung mendorong Adeline. Kemudian, dia mengangkat dagu Lesya untuk memeriksa apakah wajahnya terluka.

Gaun pengantinnya sangat kembang dan Adeline juga mengenakan sepatu hak tinggi setinggi 8-9 sentimeter. Berhubung didorong Kaivan, kakinya pun terpelintir dan dia langsung jatuh ke lantai. Rasa nyeri di pergelangan kakinya sama sekali bukan apa-apa jika dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya.

Dulu, Kaivan akan merasa sedih ketika melihatnya meneteskan air mata. Sekarang, dia bahkan bisa main tangan terhadapnya demi wanita lain.

Kaivan sama sekali tidak menatap Adeline. Dia mengerutkan kening saat melihat wajah Lesya yang merah dan bengkak, lalu berkata dengan suara berat, "Aku akan bawa kamu ke rumah sakit."

Lesya menggeleng dan berusaha menekan rasa perih di wajahnya. "Pak Kaivan, aku baik-baik saja. Aku akan mengompresnya dengan es nanti. Kita harus ketemu klien pada pukul 11 dan nggak boleh terlambat."

Melihat kesabaran dan kekeraskepalaan di mata Lesya, Kaivan merasa geram, tetapi bukan terhadap Lesya, melainkan terhadap Adeline. Dia menoleh dan menatap Adeline yang duduk dengan menyedihkan di lantai, lalu memberi perintah, "Minta maaf!"

Adeline mendongak dan menjawab dengan tenang, "Kenapa aku harus minta maaf?"

"Kau sudah tampar orang tanpa alasan, bukannya kamu seharusnya minta maaf? Adeline, sejak kapan kamu berubah jadi wanita sembrono yang nggak tahu bedakan situasi?"

Kaivan terlihat marah dan menatap Adeline dengan berapi-api. Dia bahkan sepertinya merasa sedikit kecewa.

Adeline menahan rasa sakit di pergelangan kakinya, lalu berdiri sambil menggertakkan gigi dan menatapnya lurus-lurus. "Kaivan, kamu bilang aku berubah? Memangnya kamu nggak berubah?"

Kaivan pun tertegun. Sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, Lesya di sebelahnya tiba-tiba meraih lengannya dan berkata dengan wajahnya dipenuhi rasa bersalah, "Pak Kaivan, jangan bertengkar dengan Bu Adeline. Ini salahku .... Aku nggak seharusnya mencoba gaun pengantin ini .... Maafkan aku ...."

Kaivan mengulurkan tangan untuk menyeka air matanya dan menyahut dengan lembut, "Ini bukan salahmu, kamu nggak perlu minta maaf. Yang seharusnya minta maaf itu orang lain."

Adeline ingin tertawa, tetapi matanya malah memerah. Delapan tahun bersama .... dan mereka akan menikah sebulan lagi, tetapi Kaivan malah menggunakan kata "orang lain" untuk menyebutnya ....

Melihat raut wajah Kaivan yang dingin, Adeline bahkan mulai ragu, apakah Kaivan benar-benar pernah mencintainya? Jika Kaivan pernah mencintainya, bagaimana mungkin dia begitu kejam? Jika Kaivan tidak mencintainya, apa gunanya semua perhatian yang Kaivan berikan padanya di masa lalu?

Setelah menghibur Lesya, Kaivan menoleh dan menatap Adeline dengan tatapan dingin dan kesal. "Kalau kamu nggak minta maaf sama Lesya, kita nggak perlu coba gaun pengantin lagi hari ini. Tunda saja pernikahannya."

Wajah Adeline langsung memucat. Dia menatap mata Kaivan dengan putus asa, seperti ingin menangis, tetapi malah tersenyum pahit. Lihat saja betapa Kaivan melindungi Lesya. Hanya karena dia menampar Lesya, pria ini mengancamnya untuk meminta maaf dengan menunda pernikahan.

Adeline merasa hatinya seperti ditusuk ribuan anak panah Dia sudah bisa membayangkan betapa besar rasa sakit yang akan dialaminya di masa depan jika dia berkompromi hari ini. Dia ...tidak ingin menyakiti dirinya sendiri lagi.

"Oke, berhubung kamu mau menundanya, tunda saja."

Suaranya tidak kuat, tetapi Kaivan dan Lesya bisa mendengarnya. Setelah itu, Adeline berbalik sambil mengangkat gaunnya. Dia menegakkan punggungnya dan berjalan tertatih-tatih menuju ruang ganti.

Melihat punggungnya, Kaivan mengerutkan kening dengan erat dan tatapannya terlihat sangat suram.

Kemudian, terdengar suara Lesya yang bertanya dengan hati-hati, "Pak ... Pak Kaivan, apa aku dalam masalah?"

Kaivan tidak menjawab, entah karena tidak mendengar pertanyaan itu atau apa.

Saat mengganti gaun pengantin dan melihat pergelangan kaki Adeline yang bengkak, karyawan toko itu berujar dengan terkejut, "Bu Adeline, kakimu bengkak. Aku akan ambilkan es batu untuk mengompresnya."

Adeline menunduk dan matanya tiba-tiba terasa panas. Tak disangka, seorang karyawan toko pengantin yang baru beberapa kali bertemu dengannya lebih peduli padanya daripada tunangannya. Apa pantas dia membuat dirinya terlihat begitu menyedihkan demi seorang pria?

Adeline menggigit bibirnya, lalu memaksakan seulas senyum kepada karyawan toko itu. "Oke, terima kasih."

"Nggak usah sungkan, ini tugasku."

Saat hendak menggantung kembali gaun pengantin Adeline dan pergi mengambil es batu, karyawan toko itu tiba-tiba melihat sesuatu yang berkilauan di lantai. Dia pun berjongkok untuk mengambilnya dan menemukan bahwa itu adalah gelang berliontin heksagram yang pernah dipakai Adeline sebelumnya.

Dia buru-buru berkata, "Bu Adeline, gelangmu jatuh ke lantai."

Ketika mendengarnya, Adeline yang sedang berganti pakaian pun berbalik. Saat melihat gelang itu, sorot matanya langsung berubah.

"Gelang itu sudah rusak dan nggak bisa dipakai lagi. Tolong bantu aku membuangnya."

Itu adalah hadiah ulang tahun yang diberikan Kaivan pada tahun ketiga mereka bersama. Gelang itu diukir dengan inisial nama mereka, diikuti dengan kata bahasa asing yang berarti selamanya.

Sebelumnya, Adeline merawat gelang itu dengan hati-hati. Tak disangka, gelang itu tiba-tiba rusak hari ini. Jika itu sebelumnya, dia pasti akan sangat sedih dan menganggapnya sebagai pertanda buruk. Sekarang ... dia tidak peduli meskipun gelang itu rusak ....

Karyawan toko ingin mengatakan bahwa gelang itu sangat mahal dan seharusnya bisa diperbaiki. Namun, ketika melihat wajah pucat Adeline, dia ragu sejenak dan mengurungkan niatnya. Dia menggantung kembali gaun pengantin itu, lalu berjalan pergi sambil membawa gelang itu.

Ketika tiba di depan tempat sampah dan hendak membuang gelang itu, tiba-tiba terdengar suara dingin seseorang dari samping. "Apa yang ada di tanganmu?"

Petugas itu pun terkejut. Saat berbalik dan melihat wajah Kaivan yang dingin, dia buru-buru menjawab, "Pak Kaivan, ini gelang Bu Adeline. Gelangnya putus waktu coba gaun pengantin. Dia bilang gelangnya nggak bisa dipakai lagi dan minta aku untuk membuangnya."

Mata Kaivan berkilat dingin. Tentu saja dia tahu itu adalah hadiah ulang tahun yang pernah diberikannya kepada Adeline. Berhubung dia memberi Lesya gelang yang sama persis, Adeline pun sengaja membuang gelang pemberiannya untuk memaksanya minta maaf?

Kaivan memicingkan mata dan seluruh auranya menjadi kelam. "Ini ...."

Sebelum Kaivan selesai berbicara, terdengar suara manis Lesya dari belakang. "Pak Kaivan, aku sudah selesai ganti baju."

Kaivan menghentikan tangannya di tengah udara, lalu menariknya kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Kemudian, dia menoleh dan tatapannya berubah menjadi lembut. "Kalau sudah selesai, ayo pergi."

"Sebaiknya kita pamitan dulu sama Bu Adeline sebelum pergi. Oh iya, tadi apa yang mau kamu katakan pada karyawan toko?"

"Nggak apa-apa, kita nggak perlu menunggunya."

Lesya menatap karyawan toko itu dengan curiga, tetapi tidak lanjut bertanya. Dia tahu jelas sifat Kaivan. Jika Kaivan tidak ingin membicarakan sesuatu, lanjut bertanya hanya akan membuatnya kesal. Dalam beberapa tahun terakhir, dia sudah memanfaatkan hal ini untuk menimbulkan banyak konflik di antara Kaivan dan Adeline.

Setelah berganti pakaian, Adeline pun keluar. Kebetulan, Kaivan dan Lesya baru hendak pergi. Dari sudut matanya, dia menangkap punggung kedua orang yang berjalan berdampingan itu. Tangan Adeline perlahan mengencang, tetapi ekspresinya tetap datar.

Dulu, Adeline pernah membaca sebuah kalimat berisi "ketika sudah cukup kecewa pada seseorang, kamu akan memilih untuk pergi". Dia merasa kekecewaannya pada Kaivan sepertinya sudah hampir cukup besar untuk membuatnya pergi.

Jatuh Bangun sang Pengacara Cantik

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya