Bab 1
Aku menggugurkan bayiku yang usianya belum genap tiga bulan tanpa sepengetahuan tunanganku. Dia sedang menjalin hubungan penuh gairah dengan cinta pertamanya.
Agar cinta pertamanya itu merasa betah, dia langsung menyuruhku mengosongkan kamar tidur utamaku untuk cinta pertamanya. Dia bahkan mengubah pesta pertunangan kami menjadi pesta penyambutan untuk cinta pertamanya, juga membiarkanku menjadi bahan tertawaan semua orang.
Aku pun berbalik, memotong gaun pertunanganku, dan setuju untuk menikahi pasangan kencan butaku.
Kakak perempuanku mengirimkan foto pasangan kencan butaku. Aku hanya meliriknya sekilas, lalu menutupnya dan membalas pesan kakakku.
[ Aku setuju. Kamu bantu saja aku mengaturnya. Tapi, aku butuh tiga hari untuk selesaikan segala sesuatu di sini. ]
Tiga hari sudah cukup bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal pada segala sesuatu di sini.
Pesta pertunanganku telah diubah menjadi pesta penyambutan untuk Sonia. Lanjut tinggal di sini hanya akan membuatku menjadi bahan tertawaan. Aku membuang gaunku yang sobek dan bersiap-siap untuk pulang.
Namun, seseorang malah sengaja tidak ingin melepaskanku.
"Kak Anna, maaf pertunanganmu jadi tertunda. Sam bersikeras adakan pesta penyambutan untukku hari ini. Berhubung dia terlalu antusias, aku nggak bisa menolak. Jangan marah, ya."
Sonia menghampiriku dengan dagu terangkat dan tersenyum, seolah-olah takut aku tidak melihat bekas ciuman yang jelas di lehernya. Dia dengan berani memamerkannya dengan harapan ingin melihat bagaimana aku akan menggila saking cemburunya. Sayangnya, keinginannya kali ini tidak terpenuhi. Sebab, aku sudah tidak peduli lagi.
"Emm, aku nggak keberatan," jawabku dengan acuh tak acuh.
Semua kata-kata yang sudah disiapkannya pun tercekat di tenggorokannya.
Aku meraih tasku dan langsung pulang. Begitu sampai di rumah, wajahku memucat karena kesakitan. Ternyata, aku memang belum pulih total.
Seminggu yang lalu, tanpa peduli pada penolakanku, Samuel Darmanto bersikeras membawa Sonia pulang untuk tinggal bersama kami. Aku mengancam akan pindah keluar, tetapi Sonia akhirnya tetap tinggal di rumah kami.
Pada saat itu juga, aku tahu bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menandingi posisi Sonia di hatinya. Keesokan harinya, aku langsung pergi ke rumah sakit untuk aborsi.
Aku menahan rasa sakit dan mencari obat pereda nyeri. Tepat setelah aku selesai minum obat, Samuel tiba-tiba kembali.
Melihatku terkulai di sofa, dia dengan santainya melempar jasnya kepadaku dan berkata, "Aku sudah pulang."
Setiap kali dia pulang dulu, aku akan dengan senang hati mengambil jasnya dan menggantungnya. Sekarang, melihat aku bahkan tidak repot-repot bergerak, dia pun kehilangan kesabarannya.
"Aku tahu kamu nggak senang karena perubahan pesta dadakan malam ini, tapi kamu juga nggak perlu bersikap begitu kentara, 'kan? Kamu pergi sebelum pestanya selesai, gimana dengan harga diri Nia?"
Namun, dia yang jelas-jelas telah menunda pesta pertunangan kami. Kenapa dia tidak peduli pada harga diriku?
Melihatku tidak berkata apa-apa, Samuel menghampiriku dan mencoba menarik lenganku. Alhasil, begitu berjalan mendekat, dia melihatku yang pucat pasi dan memegangi perutku. Dia pun terkejut. "Kamu kenapa?"
"Sakit maag," jawabku dengan asal.
Dia mengerutkan kening, lalu meletakkan kantong yang dipegangnya di atas meja. "Berhubung kamu lagi nggak enak badan, lupakan saja. Ini makanan yang kubawa khusus untukmu. Anggap saja ini kompensasiku atas pergantian acara pesta yang mendadak. Panaskan dan makanlah."
Melihat kantong di atas meja, aku tahu itu caranya membujukku. Setiap kali kami bertengkar, dia akan membelikanku sesuatu yang lezat untuk menghiburku. Seiring berjalannya waktu, itu sudah menjadi kebiasaan.
Aku membawa kantong itu ke dapur karena memang lapar setelah sibuk seharian. Namun, setelah membukanya, aku baru menyadari kantong itu penuh dengan sisa makanan dari pesta tadi. Bahkan ada beberapa pita dari pesta penyambutan yang tercampur dengan makanan. Aku langsung membuang seluruh kantong itu ke tempat sampah.
Ketika aku keluar, Samuel sedang menonton video di ponselnya sambil tertawa terbahak-bahak. Itu adalah video dari pesta hari ini, di mana dia dan Sonia berpelukan mesra dengan disoraki semua orang.
Berhubung sofa sudah terisi, aku langsung mengambil ponselku dan masuk ke kamar. Kebetulan, kakakku menelepon.
"Anna, aku sudah bantu kamu atur semuanya. Akhirnya kamu sadar juga. Sudah kubilang Samuel itu nggak bisa diandalkan. Dulu, dia depresi dan hampir mati gara-gara cewek itu. Mana mungkin dia bisa memperlakukanmu dengan sepenuh hati?"
Benar. Sonia adalah cinta pertama Samuel. Mereka telah berpacaran selama tiga tahun dan hampir menikah. Sementara itu, aku hanyalah orang malang yang harus tinggal bersama Keluarga Darmanto setelah orang tuaku meninggal dalam kecelakaan mobil.
Jika bukan karena Sonia pergi ke luar negeri tanpa meninggalkan jejak, mana mungkin aku bisa jadi pasangan Samuel?
"Iya, makanya aku akan segera meninggalkannya," jawabku dengan acuh tak acuh.
Kakakku merasa kasihan padaku. "Anna, kamu bodoh sekali. Kesehatanmu pada dasarnya kurang baik, tapi kamu malah harus kehilangan anakmu gara-gara bajingan itu."
"Nggak apa-apa, Kak. Semuanya sudah berakhir." Aku mengganti topik pembicaraan. "Tapi, aku pernah aborsi. Apa pria itu nggak keberatan?"
Kakakku langsung bersemangat. "Jangan khawatir, dia sama sekali nggak keberatan. Tahu nggak ...."
Dia mulai bercerita panjang lebar tentang betapa baiknya pasangan kencan butaku itu.
"Orangnya kedengaran lumayan baik. Aku sudah mulai menantikan pernikahan ini."
Saat aku selesai bicara, suara Samuel tiba-tiba terdengar dari belakangku. "Pernikahan? Pernikahan apa?"
Bab 2
Jantungku berdebar kencang. Entah seberapa banyak yang sudah Samuel dengar.
Berhubung sudah memutuskan untuk benar-benar pergi, meskipun hanya demi jasanya yang menampungku selama 15 tahun, aku mungkin harus memberitahunya.
Aku mematikan layar ponsel dan berkata dengan ekspresi serius, "Aku dan ...."
Sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku, ponselnya berdering. Dia pun bergegas pergi ke ruang tamu untuk menjawabnya.
Ucapanku yang terpotong juga tidak perlu dilanjutkan lagi.
Setelah menjawab telepon, Samuel meraih jasnya dan berjalan keluar.
Aku mengeluarkan ponselku untuk membeli tiket pesawat, lalu mengirim pesan kepada Bibi tentang pernikahan itu sekaligus berpamitan. Alhasil, Bibi malah langsung datang menemuiku. Begitu melihatku, dia memelukku erat-erat.
"Anna, kenapa kalian nggak kasih tahu aku sampai tiga hari sebelum pernikahan? Sam juga sama saja."
Pekerjaan Bibi membuatnya tidak bisa merawatku di rumahnya, tetapi dia selalu mengundangku ke rumahnya setiap akhir pekan. Aku paling dekat dengannya di seluruh Keluarga Darmanto.
Di mata Bibi, Samuel dan aku adalah teman masa kecil yang sangat dekat dan ditakdirkan untuk bersama.
Aku tersenyum dan menggeleng, "Bukan begitu, Bibi. Yang akan kunikahi bukan dia."
Mata Bibi terbelalak. Dia bertanya dengan tidak percaya, "Ada apa ini?"
"Aku sudah capek dan ingin ganti lingkungan baru," jawabku dengan santai.
Bibi tidak bertanya lebih lanjut, tetapi langsung masuk ke rumah untuk membantuku mengemasi pakaian. Dia berkata, "Datanglah ke rumahku malam ini. Aku akan buatkan mie kuah kesukaanmu."
Aku tersenyum dan menyetujuinya.
Baru saja kami keluar dari lift dengan membawa barang-barangku, kami malah bertemu dengan Samuel dan Sonia yang kembali.
Sonia menyipitkan matanya dan merangkul leher Samuel, lalu mencium pipinya. "Sam, kepalaku sakit. Kamu bisa tinggal bersamaku malam ini?"
Mata Samuel dipenuhi sakit hati. "Iya, iya. Kamu nggak perlu takut. Aku akan membuatkanmu sup pereda mabuk dan tinggal bersamamu malam ini."
Tampang lembutnya itu sama persis seperti bagaimana dia memperlakukanku dulu.
Ketika Samuel baru memulai bisnisnya, lambungnya lemah dan dia tidak bisa minum alkohol. Jadi, aku yang menggantikannya minum dan menegosiasikan proyek.
Setiap kali aku mabuk, dia akan menghiburku seperti ini. Dia juga begitu sakit hati hingga hampir menangis, juga berada di sisiku sepanjang malam untuk merawatku. Hanya saja, orang yang dipedulikannya sekarang sudah berubah menjadi Sonia.
Setelah bermesraan seolah-olah dunia hanya milik berdua, Samuel akhirnya menyadari kehadiranku. Aku berencana untuk mengabaikannya, tetapi dia menghentikanku.
"Kebetulan kamu ada di sini. Hari ini, kamu tinggal di luar saja dulu. Nia mabuk karena minum-minum bareng temannya. Aku khawatir dia merasa nggak senang kalau melihatmu."
Saat aku hendak mengiakannya, Bibi yang muncul dari belakang segera membalas, "Tanpa perlu kamu usir, Anna memang akan tinggal di rumahku malam ini!"
Samuel tidak menyangka Bibi juga ada di sini. Dia segera melepaskan lengan Sonia yang merangkulnya, lalu memapahnya. Dia menyapa Bibi dengan terkejut, lalu menjelaskan dengan rasa bersalah, "Temanku mabuk, aku nggak bisa meninggalkannya sendirian di luar. Aku khawatir Anna nggak bisa tidur nyenyak malam ini, makanya ...."
Ekspresi Bibi seketika menjadi muram. Dia mendorong mereka dan menarikku keluar. Baru ketika kami sampai di rumahnya, dia memelukku dengan sedih. Kemudian, tanpa berkata apa-apa, dia membuatkanku semangkuk mie kuah.
Hatiku terasa hangat saat memakannya. Akhirnya, aku juga bisa tidur nyenyak setelah sekian lama.
Siapa sangka, Sonia malah mengirimiku foto di tengah malam. Dia mengenakan gaun tidurku, sedangkan Samuel tertidur lelap di pelukannya. Setelahnya, dia juga mengirimkan beberapa pesan.
[ Kak Anna, Sam ketiduran waktu merawatku. Kamu nggak keberatan, 'kan? ]
[ Kalau kamu keberatan, aku bisa langsung membangunkannya. ]
Aku tidak ingin menanggapinya, tetapi Sonia tidak berhenti mengirim pesan. Jadi, aku akhirnya membalas.
[ Nggak usah. Biarkan saja dia lanjut tidur. ]
Setelah mengirim pesan itu, aku langsung mengaktifkan mode hening.
Keesokan paginya, aku pergi ke perusahaan untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Setelah pagi yang sibuk dan baru saja aku menyelesaikan serah terima semua pekerjaanku, aku hendak pergi ke pantri untuk minum. Namun, aku malah menyadari semua orang sedang membicarakan tentang gosip kemarin di grup obrolan.
[ Kalian semua sudah lihat postingan itu? Bu Sonia itu benar-benar cinta sejati Pak Samuel! ]
[ Pak Samuel sudah nggak lajang lagi. Aku khawatir orang itu akan patah hati. ]
[ Dia itu cuma seorang yatim yang tinggal di rumah orang lain. Pak Samuel menerimanya sebagai adik karena baik hati. Mana mungkin dia bisa dibandingkan dengan Bu Sonia yang merupakan cinta pertama Pak Samuel? ]
Ketika jariku terbakar air panas yang mengalir keluar, aku baru buru-buru mematikan keran.
Samuel dan aku telah bersama selama sepuluh tahun dan berpacaran selama lima tahun. Akan tetapi, orang luar hanya mengenalku sebagai orang kasihan yang ditampung Samuel dan diam-diam menyukainya. Itu karena Samuel mengatakan tidak ingin memamerkan kemesraan.
Sekarang, Sonia baru saja kembali. Namun, Samuel malah melakukan segala sesuatu dengan sangat mencolok, seolah-olah sangat ingin mempublikasikan hubungan mereka.
Perbedaan antara mencintai dan tidak mencintai sangatlah jelas.
Aku membuka akun media sosialku dan melihat postingan ulang tahun Sonia.
[ Dengar-dengar, cincin ini sangat sulit didapatkan dan melambangkan cinta abadi. Syukurlah aku memilikimu tahun ini! ]
Foto itu menunjukkan Samuel berlutut dengan satu kaki dan menyematkan cincin itu di jari Sonia. Cincin itu adalah cincin kawin yang kudesain dan kubuat secara khusus selama enam bulan.
Samuel juga memosting ulang postingan itu dan kolom komentarnya dibanjiri ucapan selamat. Aku pun dengan santainya menekan tombol suka.
Namun, Samuel langsung menelepon.
Bab 3
Dia berujar dengan nada menyelidik, "Anna, jangan salah paham. Aku cuma nggak sempat belikan hadiah ulang tahun untuk Nia. Aku akan belikan sesuatu yang lebih bagus untukmu nanti."
"Emm, aku mengerti. Mendaur ulang barang juga hal yang baik."
Lagi pula, aku akan segera menikah. Tidak ada gunanya juga aku menyimpan cincin itu.
Samuel menghela napas lega, lalu bertanya, "Aku sudah lihat surat pengunduran dirimu. Kenapa kamu tiba-tiba memutuskan untuk berhenti?"
Ternyata, dia sudah mengetahuinya dari awal, tetapi tidak sempat berbicara denganku. Aku menjawab, "Aku capek dan ingin istirahat."
Dia setuju tanpa ragu. "Bagus juga. Berhubung sudah berhenti kerja, kamu bisa tinggal di rumah untuk rawat kandunganmu. Aku akan hidupi kamu. Nanti, pulanglah untuk makan."
Aku tanpa sadar menyentuh perutku yang sudah kosong dan menjawab, "Oke."
Aku mengemasi barangku, lalu naik taksi untuk pulang ke rumah.
Samuel yang tidak pernah memasak sudah menyiapkan meja penuh makanan. Aku meliriknya dan menemukan semuanya adalah hidangan pedas. Aku punya penyakit asam lambung dan tidak dapat makan yang pedas-pedas. Ternyata makanan itu bukan dimasak untukku.
Samuel melihatku dan berujar, "Hari ini ulang tahun Nia. Dia nggak terbiasa makan makanan luar, makanya aku kepikiran untuk masak buatnya. Ayo makan bersama."
"Aku nggak bisa makan makanan-makanan itu. Kalian makan saja sendiri."
Aku berbalik dan hendak kembali ke kamar.
Sonia tiba-tiba berkata dengan sedih, "Kak Sam, apa Kak Anna nggak menyambutku? Kalau begitu, lebih baik aku pergi."
Raut wajah Samuel juga menjadi agak masam. "Anna, bisa nggak kamu berhenti merajuk? Aku sudah jelaskan ini ulang tahun Nia. Sekarang, aku yang masak sendiri dan mengajakmu makan. Kamu malah marah dan mau buat semua orang nggak senang?"
Aku menjawabnya dengan sangat serius, "Aku nggak merajuk, cuma punya penyakit asam lambung."
Aku terkena penyakit asam lambung karena menggantikannya minum alkohol saat bernegosiasi proyek dulu. Namun, dia tetap tidak puas dengan jawabanku.
Samuel mengambil sepotong kue dan berkata, "Kalau nggak bisa makan yang pedas, makan yang manis nggak masalah, 'kan!"
Sebelum aku sempat mengatakan apa-apa, Sonia mulai memprovokasi, "Aku cuma mau berbagi kebahagiaan ulang tahunku dengan Kakak. Aku nggak nyangka kamu malah nggak senang. Dengar-dengar, Keluarga Darmanto sudah menampungmu selama 15 tahun. Demi hal itu, aku harap kamu nggak mempersulit Kak Sam."
Aku mau tak mau merasa semua ini sangat konyol. Sepertinya, Samuel sudah terbiasa meremehkanku, jadi dia juga membiarkan orang-orang di sekitarnya menggunakan jasa itu untuk menekanku. Memang benar aku ditampung orang lain selama 15 tahun, tetapi aku sudah melunasi utangku padanya.
Baru saja aku hendak menolak, sesendok kue sudah dimasukkan ke mulutku dengan tidak sabar.
Samuel membuang sisa kue itu ke tempat sampah sambil merepet, "Cuma disuruh makan saja juga banyak tingkah!"
Aku mau tak mau menelan kue di dalam mulutku, tetapi tiba-tiba menyadari ada yang tidak beres. Ada selai mangga di dalamnya, sedangkan aku alergi mangga.
Namun, sudah terlambat. Wajahku memerah dan aku tidak bisa bernapas. Aku berjongkok di lantai sambil memegangi dadaku dan bernapas terengah-engah.
Melihat keadaanku, Samuel sedikit panik. "Anna, kamu kenapa ...."
Dia mencoba mengulurkan tangan untuk membantuku, tetapi Sonia berbicara dengan suara manja lagi, "Sam, to ... tolong aku! Aku tersedak gara-gara terlalu gugup melihat amarah Kak Anna."
Begitu mendengar ucapan Sonia, kepanikan di mata Samuel langsung lenyap, lalu digantikan oleh kekhawatiran dan sakit hati.
Dia segera menggendong Sonia dan menatapku dengan kesal. "Annalise! Ini semua salahmu! Gara-gara kamu merajuk terus, Nia jadi tersedak. Kalau terjadi apa-apa padanya, apa kamu bisa tanggung jawab!"
Seusai memarahiku, Samuel pun menggendong Sonia dan segera keluar.
Sebelum pergi, aku melihat raut wajah Sonia yang penuh kemenangan dan seolah-olah sedang berkata, 'Lihat saja, waktu disuruh pilih salah satu di antara kita, dia pasti memilihku.'
Dalam seketika, suasana di rumah menjadi hening. Aku merasa kesakitan hingga hampir tidak dapat bernapas lagi. Aku dengan panik meraih ponselku dan menelepon ambulans.
Ketika membuka mata lagi, Samuel sedang duduk di samping ranjang pasienku. Melihatku sudah sadar, dia meremas tanganku erat-erat. "Anna ...."
Seorang perawat yang datang untuk memeriksaku menyela kata-katanya. Setelahnya, dia baru bertanya dengan cemas, "Anak kita baik-baik saja, 'kan?"