Bab 1

Di hari pernikahan, sahabat kecil tunanganku muncul di lokasi dengan mengenakan gaun pengantin yang sama persis denganku.

Melihat mereka berdiri berdampingan menyambut tamu, aku tersenyum dan memuji bahwa mereka benar-benar pasangan yang serasi.

Sahabat kecilnya langsung pergi dengan wajah malu dan kesal, sementara tunanganku menuduhku picik dan suka membuat keributan di hadapan semua orang.

Setelah resepsi berakhir, dia malah pergi ke tempat bulan madu yang sudah kami pesan bersama sahabat kecilnya.

Aku tidak menangis dan ribut, melainkan langsung menelepon pengacara.

Setelah menyelesaikan semua urusan dan pulang ke rumah, hari pun sudah larut malam.

Cahaya bulan menyinari ruang tamu, membuat seluruh ruangan terasa semakin sepi.

Dengan tubuh yang kelelahan, aku masuk ke kamar. Saat melihat hiasan pernikahan berwarna merah di dalam kamar yang biasanya melambangkan kebahagiaan pernikahan, aku malah merasa itu sangat sarkastik.

Kelopak bunga di atas ranjang belum sempat dibereskan, tapi karena benar-benar terlalu lelah hari ini, aku hanya menyapunya ke lantai seadanya, lalu menjatuhkan tubuh ke ranjang empuk.

Saat mengisi daya ponsel, aku kebetulan melihat unggahan Steve di instagram.

[Sungguh beruntung bisa bersamamu di masa muda ini.]

Dengan foto dirinya merangkul Cindy. Keduanya saling bertatapan mesra, hampir berciuman dan di tangan mereka terlihat memakai gelang pasangan.

Jika ini terjadi dulu, aku pasti langsung pergi menemui Steve dan menuntut penjelasan.

Namun sekarang, aku hanya diam-diam mematikan ponsel dan berbalik tidur.

Beberapa hari berikutnya, aku sama sekali tidak menerima kabar dari Steve, hanya sesekali melihat unggahan tentang perempuan itu di instagramnya.

Mereka tampak sedang berpelukan, berfoto dan jalan-jalan bersama.

Aku tidak peduli, malah langsung menghubungi pengacara untuk mengurus perceraian.

Aku dan Steve sudah pacaran enam tahun, dari SMA sampai sekarang.

Meski baru mengadakan pesta pernikahan beberapa waktu lalu, sebenarnya kami sudah menikah secara hukum sejak lulus kuliah, karena waktu itu kami menikah secara impulsif.

Walau belum mengadakan resepsi, dia tetap memberikan uang mahar, perhiasan dan cinta yang tulus.

Namun sekarang, cinta itu sudah lenyap, yang tersisa hanya kekacauan belaka.

Setengah bulan kemudian, saat aku sedang duduk di rumah membaca draft awal dari pengacara, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.

Saat menoleh, aku melihat Steve masuk sambil menggandeng tangan Cindy.

Begitu tatapan kami bertemu, aku melihat ada sedikit kepanikan di mata Steve. Dia buru-buru melepas tangan Cindy dan berbicara dengan nada agak canggung,

“Cindy belum pernah keluar negeri, jadi aku mengajaknya pergi.”

“Lagian kamu juga sibuk bekerja, jadi aku pergi bersamanya….”

Belum selesai dia bicara, aku sudah mengalihkan pandangan kembali ke draft di tanganku dan mengangguk santai.

“Oh, iya.”

“Ke….”

Kata-katanya langsung terputus. Melihat aku tetap fokus ke laptop tanpa memberi reaksi apapun, dia terlihat semakin kesal dan bertanya dengan dingin,

“Perlukah kamu begitu? Aku sudah jelasin kalau Cindy belum pernah keluar negeri, makanya aku membawanya pergi.”

“Lagipula, bulan madu itu bisa kapan saja, untuk apa ribut begini?!”

“Aku juga sudah bilang berkali-kali, aku dan Cindy itu hanya….”

Melihatnya bicara tanpa henti, akhirnya aku langsung memotong ucapannya.

“Aku tahu, kamu hanya menganggapnya adik.”

Aku menatapnya dengan wajah datar, tanpa ekspresi marah sedikit pun.

Wajahnya justru semakin dingin. Dia menatapku sambil mengernyit, nada suaranya terdengar tak berdaya.

“Terus apalagi yang kamu ributkan?”

“Aku lagi sibuk.”

Jawabku santai, lalu kembali fokus ke pekerjaanku tanpa melihat wajah Steve.

Cindy yang dari tadi diam, tiba-tiba maju selangkah, menggandeng lengan Steve dan berkata manis,

“Jangan marah, Kak Luna. Kamu juga tahu aku dan Steve sudah kenal sejak kecil.”

“Lagipula, meski Steve nggak pergi denganmu kali ini, dia tetap menyempatkan diri untuk belikan hadiah untukmu, lho.”

Usai bicara, dia menatap Steve dengan pandangan lembut.

“Steve, ayo cepat kasih lihat hadiah untuk Kak Luna.”

Mendengar itu, Steve buru-buru mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya, membukanya dan menyodorkannya padaku.

“Ini khusus untukmu, coba dibuka.”

Steve terlihat cukup bangga, seolah yakin aku bakal sangat berterima kasih.

Aku melirik sekilas ke dalam kotak, sepasang anting dengan desain simple, dihiasi mutiara dan permata biru berbentuk bunga, tampak manis dan segar.

Namun, aku hanya melihat sekilas, lalu mendorong kotak itu kembali ke arahnya.

“Nggak perlu, aku nggak punya hobi mengumpulkan barang gratisan.”

Seketika, suasana membeku. Ekspresi Steve langsung memuram.

“Luna, apa maksudmu?”

Aku menatap santai jam tangan di pergelangannya yang nilainya puluhan juta, lalu menatap matanya dan berkata pelan,

“Sesuai apa yang kubilang barusan. Kamu kasih anting ke orang lain, lalu kasih aku hadiah gratisannya. Kamu pikir aku hanya pantas dikasih barang gratisan?”

Mungkin Steve tak menyangka aku akan menyinggung barang gratisan itu secara langsung, ekspresinya langsung terlihat canggung.

Namun, Cindy langsung menyahut dengan nada manja tapi menyebalkan,

“Jangan marah, Kak Luna. Sebenarnya anting itu dikasih ke aku karena aku sangat suka. Tapi, kalau Kak Luna nggak senang, aku kasih saja ke kakak.”

“Jangan sampai kalian bertengkar gara-gara aku, nggak sepadan.”

Meski bicara seperti itu, tangannya tetap diam saja. Ekspresinya malah seperti merasa kasihan pada Steve. Tapi, saat matanya beralih padaku, justru penuh dengan sindiran.

Melihat reaksinya, Steve langsung menggenggam pergelangan tangannya, lalu menatapku dengan tidak senang.

“Cindy, jangan dengarkan dia. Anting itu sudah kukasih ke kamu, jadi itu punyamu.”

“Dia memang begitu, perhitungan dan picik.”

Aku hanya melirik mereka sekilas dan tak menjawab, lalu kembali menatap layar laptop di depanku.

Sikapku itu justru membuat Steve semakin marah. Dia malah langsung merangkul Cindy dan berjalan keluar. Setelah melewati pintu, dia sengaja membanting pintu terbuka, lalu berdiri di ambang pintu sambil menatapku.

Aku tahu, dia sedang menungguku luluh. Menungguku seperti biasanya, mengalah dan minta maaf duluan.

Dulu, selalu aku yang mengalah dan minta maaf duluan. Tapi, yang kudapat justru sikapnya yang semakin keterlaluan.

Namun sekarang, aku bahkan tak meliriknya. Aku malah menambahkan harga anting yang dia belikan untuk Cindy ke dalam catatan pembagian harta.

Melihat sikapku, akhirnya Steve membanting pintu sekuat tenaga dan pergi.

Tak lama setelah mereka pergi, orang tuaku menelepon dan menyuruhku pulang makan malam bersama.

Aku tak menolak, tapi tak menyangka bakal bertemu Steve di depan rumah orang tuaku.

Bab 2

Saat melihatku, wajahnya sempat menunjukkan ekspresi canggung, tapi dia tetap pura-pura tenang dan berkata,

“Masuk bersama?”

Aku tak menolak, langsung mengangguk dan berjalan masuk.

Makan malam terasa canggung, sepertinya orang tuaku masih menyimpan rasa kesal soal kejadian di hari pernikahan. Jadi, sikap mereka terhadap Steve juga tidak ramah.

Jika ini terjadi dulu, mungkin aku akan mencoba mencairkan suasana, tapi sekarang aku biarkan saja dia duduk di sana dengan canggung.

Setelah makan malam selesai, aku baru mau pesan taksi untuk pulang, Steve sudah lebih dulu menghentikan mobilnya di depanku. Begitu masuk, mataku langsung tetuju pada stiker yang menempel di kursi penumpang depan [Kursi khusus Cindy].

Steve berdeham pelan, lalu agak canggung menjelaskan,

“Cindy yang maksa pasang di sana, lagipula kamu juga menyetir sendiri biasanya.”

Aku mengangguk dan menjawab datar,

“Iya, semuanya berawal seperti ini.”

Steve mengernyit, seperti masih ingin bicara, tapi ponselku berbunyi.

Aku tidak menanggapi Steve lagi, langsung menunduk dan fokus membalas pesan.

Begitu urusanku selesai, Steve sudah menghentikan mobil di depan sebuah rumah mewah.

Begitu aku turun, Cindy langsung berlari ke arah Steve dan memeluknya.

“Steve, aku kangen sekali denganmu, kamu kangen aku nggak?”

Mungkin karena ada aku di sana, ekspresi Steve jadi agak canggung. Dia buru-buru menahan gerakan Cindy yang mau mencium pipinya.

“Sudahlah, sudah dewasa, masih saja seperti dulu.”

Cindy sempat melirikku dengan tatapan kemenangan, lalu dengan manja berkata,

“Emangnya kenapa? Meskipun sudah dewasa, aku tetap adikmu, ‘kan?”

Aku malas menanggapi drama mereka, langsung masuk ke dalam rumah.

Begitu sampai di depan pintu, mataku langsung tertuju pada layar elektronik yang sedang memutar beberapa foto. Semuanya adalah foto Steve dan Cindy.

Ada yang sedang duduk bersama menikmati senja, ada yang makan malam romantis dan foto terakhir adalah foto mereka sedang berciuman mesra.

Baru sempat kulihat, Steve langsung buru-buru lari ke arahku untuk menjelaskan,

“Luna, semua foto itu palsu, percayalah padaku. Jangan marah, ya.”

Aku menoleh menatap Cindy, jelas kulihat rasa bersalah di matanya walau hanya sekilas.

Aku mengangguk pelan.

“Iya, fotonya bagus kok.”

Cindy langsung mengernyitkan dahi.

“Luna, kamu nggak marah?”

Aku menjawab dengan tenang,

“Nggak kok.”

Baru saja menjawab, ponselku kembali berdering.

Kali ini dari dokter, mau membahas soal rawat inap besok.

Ternyata, hasil pemeriksaan kesehatanku beberapa waktu lalu menunjukkan ada masalah di paru-paru. Hasilnya baru keluar sekarang.

Aku menjauh sebentar untuk menerima telepon, tak menghiraukan ekspresi Steve.

Begitu selesai, aku kembali ke ruang pesta, kulihat Steve sedang melindungi Cindy sambil membentak seseorang.

Dari percakapan mereka, aku bisa menangkap bahwa pria itu hanya tak sengaja menumpahkan sedikit minuman ke ujung gaun Cindy, tapi Steve bersikeras menyuruh dia meminta maaf.

Melihat itu, pikiranku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu. Beberapa tahun lalu, aku dan Steve pernah menghadiri acara serupa. Di tengah keramaian dekat menara sampanye, aku sengaja didorong Cindy hingga terjatuh ke arah menara.

Aku kehilangan keseimbangan dan langsung jatuh menimpa menara sampanye.

Suara gelas pecah terdengar nyaring, cairan sampanye bercampur darah mengalir di tubuhku.

Aku menoleh ke arah Steve, berharap bantuannya. Tapi, dia malah memarahiku dengan lantang di depan semua orang.

“Kamu buta?! Menara sampanye sebesar itu saja nggak kelihatan?”

“Malah sengaja menabrak, kamu tahu nggak seberapa pentingnya acara ini? Aku benar-benar nggak habis pikir, orang nggak berguna sepertimu hidup untuk apa, sih?!”

“Kalau aku jadi kamu, mending langsung menabrak tembok dan mati sekarang juga!”

Pikiranku perlahan kembali fokus. Melihat semua ini, aku hanya merasa konyol dan menyedihkan. Aku pun langsung berbalik dan pergi.

Steve tidak pulang semalaman. Aku tidak kaget, karena ini bukan pertama kalinya.

Namun, saat aku sedang mencuci wajah, aku melihat Steve pulang membawa sarapan dan dibelakangnya ada Cindy.

Melihatku keluar, dia menaruh sarapan di atas meja dan agak tidak biasa, dia langsung memberi penjelasan,

“Kami bermain terlalu malam kemarin, aku takut sendirian, jadi menginap di rumah Cindy semalam.”

“Kamu nggak marah, ‘kan?”

Cindy langsung merangkul bahunya dan bicara dengan nada menantang,

“Iya, Kak Luna, kamu nggak marah, ‘kan?”

Aku hanya mengangguk dan tak menjawab.

Sepertinya Steve juga menyadari sikap dinginku. Dia meletakkan sarapan di atas meja, lalu berbicara dengan nada lembut,

“Kemarin kamu pengin sekali menonton film bioskop yang baru tayang itu, ‘kan?”

“Kebetulan aku ada waktu hari ini, ayo kita pergi.”

Film itu memang langsung banjir pujian sejak tayang perdana. Aku sudah pernah beberapa kali mengajaknya nonton, tapi selalu ditolak oleh Steve.

Steve bilang sibuk kerja dan banyak urusan. Tapi beberapa hari kemudian, aku melihat postingan dari instagramnya Cindy.

[Film terbaik tentu pantas ditonton dengan orang terbaik.]

Memang fotonya tidak menunjukkan wajah, tapi dari tangan mereka yang saling menggenggam, aku tahu betul itu Steve.

Saat mencium samar-samar aroma parfum wanita dari tubuh Steve, aku langsung menolak.

“Nggak perlu, aku ada urusan hari ini.”

Melihat sikapku, wajah Steve sempat tampak canggung, tapi dia masih mencoba membujuk lagi.

Cindy yang sudah duduk di sofa, mencoba menantangku,

“Kak Luna, kamu bilang ada urusan? Jangan-jangan mau bertemu teman SMA?”

Aku memandangnya dengan bingung.

Tidak ada yang tahu soal rencana perceraianku, selain aku dan pengacara. Apalagi soal pengacaraku yang ternyata adalah teman SMAku.

Melihat ekspresi bingungku, Cindy kembali memasang ekspresi seolah khawatir Steve tersakiti.

“Steve, kamu jangan marah dulu. Beberapa hari lalu aku dengar dari temanku, katanya dia melihat Kak Luna lagi bersama teman SMAnya di kafe, kelihatannya….”

Cindy sengaja berhenti sebentar, lalu pura-pura menghela napas khawatir.

“Mesra….”

“Tapi mungkin temanku salah lihat, soalnya Kak Luna begitu sayang denganmu, mana mungkin selingkuh?”

Begitu dia selesai bicara, ekspresi Steve langsung berubah muram. Dia mengangkat tangannya dan melempar vas bunga di meja. Wajahnya penuh amarah saat menatapku.

“Luna! Kamu menoleh pergi menonton bioskop karena mau bertemu laki-laki lain di belakangku?!”

“Kamu nggak malu seperti itu?”

Aku menunduk melihat pecahan vas di lantai, belum sempat bicara, Cindy sudah sok bijak dan melanjutkan,

“Steve, jangan marah dulu, semua ini bisa dibicarakan baik-baik.”

“Nggak bisa salahkan Kak Luna juga, bagaimanapun juga, ibunya dulu juga pernah selingkuh….”

Belum sempat dia selesai bicara, aku langsung mengambil kotak tisu di samping dan melempar ke arahnya.

Fitnah aku tak masalah, tapi jangan pernah menghina ibuku.

Bagian yang tadi terkena kotak tisu langsung memerah. Steve buru-buru mengangkat lengannya dan memeriksa dengan penuh kekhawatiran.

Melihat wajah Cindy yang seolah demi kebaikan dirinya, Steve langsung menunjuk ke arahku dan memarahiku,

“Luna, kamu benar-benar mengecewakanku!”

“Meski yang dikatakan Cindy itu bohong, kamu tetap nggak seharusnya main tangan!”

“Kamu nggak tahu kalau….”

Steve masih terus menuduhku, tapi aku langsung memotong ucapannya,

“Jadi, kamu juga tahu kalau dia sedang berbohong!”

Wajah Steve langsung berubah canggung, tapi dia langsung bersikap sok benar dan menunjukku sambil berkata lantang,

“Iya, aku juga lihat sendiri hari itu.”

“Tapi kamu tetap salah karena main kekerasan.”

“Cepat minta maaf sama Cindy! Kalau nggak, kita langsung cerai sekarang juga!”

Rasa dingin langsung menjalar ke seluruh tubuhku. Aku menatapnya dengan tak percaya dan dengan ragu berkata,

“Steve, kamu sadar apa yang sedang kamu ucapkan?”

Steve malah menertawakanku seolah aku sedang bercanda.

“Luna, tentu saja aku tahu apa yang sedang kuucapkan.”

“Tapi, apapun alasannya, kamu nggak boleh main tangan. Cepat minta maaf ke Cindy!”

“Kalau nggak, kita langsung cerai sekarang juga!”

Aku langsung tertawa sinis sangking kesalnya, lalu mengambil surat perceraian yang sudah lama kusiapkan dan melempar ke depannya.

“Ayo, kita bisa langsung cerai sekarang juga.”

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B76354" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B76354
Salin

Janji Selamanya

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya