Bab 4
Perhiasan "Lovina" nilainya sangat mahal. Jika ingin menjualnya, satu-satunya cara adalah menjualnya di rumah lelang.
Jadi, Henry melihat perhiasan "Lovina" di rumah lelang?
Vina tidak menjawab, sebaliknya dia bertanya, "Kamu pergi ke rumah lelang?"
Henry terkejut. Beberapa saat kemudian, pria itu menjawab, "Aku mau belikan kamu perhiasan."
Vina mencibir dalam hati, 'Beli untukku atau untuk Maira?'
Maira sudah memberi pria itu kejutan besar, sudah sewajarnya Henry memberi hadiah sebagai balasannya.
Vina menahan emosinya, dia menjawab dengan tenang, "Bukan jual, aku menyumbangkannya."
Mendengar itu, Henry memegang tangan Vina dengan wajah tak berdaya. "Vina, aku tahu hatimu baik. Kamu boleh sumbangkan barang lainnya, hanya perhiasan 'Lovina' yang nggak boleh kamu sumbangkan."
Setelah itu, Henry mengeluarkan sebuah kotak dan menaruhnya di depan Vina.
Sebuah kotak beludru hitam dibuka, itu adalah perhiasan "Lovina".
Kilau permata yang tiada duanya dari perhiasan itu masih sama dengan sebelumnya.
"Aku membelinya lagi. Perhiasan Lovina adalah bukti cintaku padamu. Apa pun yang terjadi, kamu nggak boleh melepasnya."
Sambil berbicara, Henry membantu Vina memasang perhiasan itu lagi.
Melihat kalung Lovina terpasang lagi di lehernya, Vina mencibir.
Henry, Henry, aktingmu bagus sekali.'
Suami yang baru kembali dari bermesraan dengan wanita lain, sekarang mengatakan bahwa dia mencintai Vina.
Malam harinya, ketika Vina hampir tertidur, ponsel Henry tiba-tiba berbunyi lagi.
Henry segera mematikan ponselnya, lalu menepuk punggung Vina.
Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi lagi.
Melihat ponselnya berbunyi terus, Henry mengernyit. Karena takut tidur Vina terganggu, Henry terpaksa mengangkat telepon.
Suara si penelepon terdengar jelas di suasana kamar yang hening.
"Henry, ayo kita keluar bersenang-senang! Teman-teman sudah datang, tinggal kamu yang belum datang."
Henry langsung menolak. "Aku mau temani Vina tidur. Sudah, ya."
"Eh, jangan ditutup! Berhentilah jadi budak istrimu, kamu sudah lama nggak kumpul dengan teman-temanmu."
"Ya, benar. Setelah menikah, kamu melupakan teman-temanmu. Kamu sudah kelewatan."
Karena suara teman-temannya yang berisik, Henry mengatakan, "Cukup. Jangan keras-keras. Sudah kubilang, satu-satunya orang yang terpenting bagiku di dunia ini hanya istriku. Aku mau temani istriku."
Meskipun begitu, teman-temannya tidak menyerah.
Masih ada beberapa teman Henry lainnya berusaha membujuknya. Mereka bersikeras memaksa Henry keluar bersenang-senang dengan mereka.
Di tengah kebingungan, Vina terbangun dan mengatakan, "Pergilah kumpul sama mereka. Kalian juga sudah lama nggak bertemu."
Henry masih enggan, tetapi Vina membujuknya lagi. Akhirnya, Henry mengatakan, "Aku ajak kamu ikut ke sana. Kalau kamu nggak pergi, aku juga nggak mau pergi."
Lalu, terdengar suara temannya mengatakan, "Kakak Ipar, datanglah bersama Henry untuk meramaikan acara ini."
"Benar, Kakak Ipar. Ayo ikutlah. Kalau kamu nggak ikut, Henry juga nggak mau datang."
Vina memutuskan untuk ikut sehingga Henry baru mau pergi.
Saat baru masuk ruangan privat, teman-teman Henry memeluk banyak wanita di kanan dan di kiri. Ekspresi Henry tampak muram melihat teman-temannya, kemudian pergi tanpa ragu,
Teman-temannya mengerti, lalu buru-buru mengusir semua wanita itu.
"Pergi, pergi, cepat pergi."
Setelah semua wanita itu keluar dari ruangan, teman-temannya menghela napas dan merangkul bahu Henry.
"Henry, kenapa hatimu nggak berubah walaupun sudah menikah bertahun-tahun? Selain Kakak Ipar, kamu nggak mau dekat dengan wanita lain."
Henry mendorong temannya, lalu mengibaskan bahunya yang tidak berdebu. "Aku sudah menikah, wajar kalau aku menjaga perasaan istriku. Kalian masih lajang mengerti apa?"
Tiba-tiba, semua orang di ruangan tertawa dan diam-diam melirik ke arah Vina.
Meskipun Henry keluar untuk kumpul bersama teman-temannya, yang selalu menjadi pusat perhatian Henry adalah Vina.
Ada seorang temannya yang merokok, Henry langsung menegur temannya. "Vina nggak suka bau rokok."
Saat ada temannya yang minum alkohol, Henry langsung menegur sambil menggelengkan kepala, "Vina nggak suka bau alkohol."
Saat ada temannya menyanyi, Henry berkata sambil mengernyit, "Matikan, Vina suka ketenangan."
Henry menolak semua ajakan teman-temannya, dia hanya fokus mengupas buah untuk Vina.
Henry memegang pisau buah dengan luwes, dia menyajikan sepiring buah dengan rapi, kemudian memberikannya kepada Vina dengan tersenyum.
"Vina, makanlah."
Ketika menyadari gaun Vina terlalu tipis, sedangkan suhu di ruangan itu sangat dingin, Henry melepas jas, lalu menutupi tubuh Vina dengan jas.
"Vina, lebih hangat, 'kan? Apa kamu masih merasa kedinginan?"
Teman-teman di sekitarnya langsung menggodanya. "Henry, sok sekali kamu setelah menikah!"
Bab 5
Vina terdiam, dia ingin mengakhiri drama ini.
"Sudah malam, aku pulang dulu."
Henry juga ingin ikut Vina pulang, tetapi dihalangi oleh teman-temannya.
"Kakak ipar butuh istirahat. Kamu sudah lama nggak kumpul bersama kami, jangan pulang dulu!"
"Benar, biarkan Kakak Ipar pulang istirahat, kamu temani kami bersenang-senang di sini."
Vina melepaskan genggaman dari tangan Henry sambil berkata, "Sopir yang akan mengantarku pulang, kamu tetap di sini saja."
Setelah mengatakan itu, Vina langsung pergi.
Dia buru-buru pergi hingga Henry tidak sempat menghalanginya.
Ketika belum pergi terlalu jauh, Vina menemukan ponsel yang bukan miliknya di jas.
Ponsel itu milik Henry.
Vina mengernyit, dia menyuruh sopir kembali.
Sesampainya di depan bar, Vina melihat Maira baru saja turun dari taksi.
Maira terus-menerus membenahi riasan wajahnya. Dia terus berjalan ke arah ruang privat tanpa memperhatikan sekitar.
Vina tanpa sadar memegang ponsel dengan erat sambil mengikuti Maira.
Ternyata Maira berhenti di depan ruang privat Henry dan teman-temannya.
Begitu masuk, Maira berpelukan dengan Henry.
Henry memeluk pinggang Maira, kemudian berkata sambil mengelus kepala Maira dengan penuh cinta, "Kenapa kamu datang begitu cepat?"
Maira menyandarkan kepala di bahu Henry. Dengan tersenyum manja, Maira berkata, "Aku merindukanmu! Begitu menerima teleponmu, aku buru-buru kemari."
Henry tersenyum. "Sini, kuberi hadiah."
Sambil berbicara, Henry mencium bibir Maira. Setelah itu, mereka berciuman dengan penuh gairah.
"Cukup, cukup, jangan bermesraan di sini."
Teman-teman Henry tidak terlihat terkejut, sebaliknya mereka malah menggoda mereka berdua.
Vina menyaksikan semuanya dari celah pintu, tubuhnya menjadi gemetar.
Ternyata semua teman Henry mengetahui perselingkuhan antara Henry dengan Maira.
Mereka juga bersandiwara di depan Vina.
"Henry, sekarang Maira sudah datang. Selanjutnya, kita boleh melakukan permainan lain, 'kan?"
Teman-temannya tertawa dan bertepuk tangan. Tidak lama kemudian, beberapa wanita muncul dari ruangan sebelah.
Setiap pria memeluk seorang wanita di samping.
Permainannya gampang. Putar botolnya, siapa pun yang ditunjuk oleh ujung botol harus memilih antara berkata jujur atau menjalani tantangan.
Botol berputar beberapa kali, lalu mengarah ke Henry.
Semua teman-temannya menjadi heboh dan suasana makin memanas.
"Henry, kapan terakhir kali kalian berhubungan?"
Ada seorang teman bertanya sambil tersenyum nakal, teman-teman lainnya mengerti maksudnya.
Henry mengangkat alis, dia menjawab dengan suara tenang, "Kemarin, di mobil."
Mendengar hal itu, teman-temannya langsung heboh.
"Gila, hebat kamu! Bagaimana rasanya?"
Maira tersipu malu dan membenamkan diri dalam pelukan Henry. Henry menjawab dengan menyunggingkan senyum, "Luar biasa, sangat menggairahkan."
"Hahaha. Sudah kubilang, wanita simpanan lebih menggairahkan daripada istrimu."
"Benar, Henry. Pria seperti kita, mana ada yang nggak punya wanita simpanan?"
"Selama kamu bisa menyembunyikan perselingkuhanmu, kamu akan hidup bahagia, Vina juga nggak akan mengetahuinya."
Sambil berbicara, teman-teman Henry mencium wanita di samping mereka dan meraba tubuh mereka.
Begitu mendengar nama Vina disebut, ekspresi Henry langsung membeku. Henry berkata dengan tegas, "Kalian jangan membuat masalah di depan Vina. Kalau nggak … rasakan akibatnya."
"Oke, oke! Kakak ipar nggak akan mengetahui rahasiamu."
Vina mendengar semua yang dikatakan mereka.
Suara tawa dari dalam terus terdengar. Vina merasa dingin di seluruh tubuhnya. Kakinya entah sejak kapan sudah mati rasa, dia berjalan keluar dengan tatapan kosong.
Melihat ada yang tidak beres pada diri Vina, sopirnya buru-buru menghampirinya. Ketika sopirnya mau masuk memberi tahu Henry, Vina langsung menghentikannya.
"Nggak perlu mengantarku, aku bisa pulang sendiri. Selain itu, jangan beri tahu Henry bahwa aku kembali ke sini."
Vina menyuruh sopirnya pulang, sedangkan dirinya berjalan sendirian di jalanan yang sepi.
Tiba-tiba turun hujan deras, tetapi Vina seperti tidak merasakan apa-apa.
Dinginnya hujan makin membuat Vina sadar.
Entah sudah berapa lama Vina berjalan.
Terasa sangat lama, jauh lebih lama daripada malam ketika Vina masih berusia 17 tahun. Waktu itu, Henry menggendongnya karena kakinya terkilir ….
Ternyata, ketulusan hati pria itu sudah berubah.
Bab 6
Sesampainya di rumah, Vina demam tinggi.
Henry pulang dalam kondisi mabuk. Saat melihat Vina pingsan, Henry langsung merasa panik.
Henry buru-buru membopong Vina dan mengantarnya ke rumah sakit.
Ketika sudah sadar, Vina berusaha membuka matanya yang terasa berat.
Melihat Vina sudah sadar, perawat terlihat gembira. "Nyonya Vina, akhirnya Anda sadarkan diri. Anda sudah mengalami demam semalaman, Tuan Henry sangat mengkhawatirkan kondisi Anda. Tuan Henry terus menjaga di samping Anda. Baru saja dia pergi setelah menerima telepon. Apa mau saya hubungi Tuan Henry? Dia pasti senang mendengar Anda sudah sadar."
Vina menggelengkan kepala dan menjawab dengan suara serak, "Nggak perlu."
Perawat itu tidak berkomentar, dia membantu Vina mengganti obat sebelum pergi.
Suasana bangsal yang luas tiba-tiba menjadi sunyi hingga Vina bisa mendengar suara Henry sedang telepon di luar.
Henry biasanya tampak tenang, dia hanya kehilangan kendali jika berhubungan dengan Vina.
Namun, sekarang suara Henry terdengar bahagia dan antusias.
Tidak lama kemudian, Vina mendengar suara langkah Henry yang makin menjauh. Henry sudah pergi.
Vina berusaha turun dari ranjang, dia perlahan berjalan keluar dari kamar.
Setelah turun ke bawah, Vina kebetulan melihat Henry sedang memapah Maira keluar dari ruangan ginekologi.
Wajah mereka tambah bahagia.
Saat melihat Vina, Maira sengaja berteriak dengan wajah terkejut, "Nyonya Vina juga ada di rumah sakit?"
Mendengar itu, Henry mendongak. Henry bertatap muka dengan Vina yang berada tidak jauh darinya.
Henry terkejut dan langsung melepas tangan yang memegang Maira.
"Vina, aku turun ke bawah untuk mengambilkan obatmu. Secara kebetulan, aku bertemu dengan Maira. Dia sedang hamil, aku memapahnya karena takut dia jatuh."
Henry menjelaskan dengan panik, dia takut Vina salah paham.
Vina melirik ke perut Maira, rasanya dadanya terasa sesak.
Vina memejamkan mata. Tidak lama kemudian, Vina bertanya, "Nona Maira, kapan … kapan kamu hamil? Di mana ayahnya?"
Maira mengelus perutnya dengan wajah bahagia. Maira berkata dengan tersenyum, "Aku barusan periksa, usia kandunganku satu bulan. Meskipun ayahnya nggak bisa datang karena sibuk, ayahnya bahagia setelah mendengar aku hamil. Ayahnya membelikanku beberapa vila dan uang sebesar 200 miliar. Malam ini, dia juga akan menyalakan kembang api demi merayakan kehamilanku."
Maira sangat bangga memamerkan kehamilannya, sementara Vina hanya menatapnya cukup lama. Setelah itu, Vina berkata dengan memaksakan tersenyum, "Benarkah?"
Sambil tertawa, Maira berkata dengan angkuh, "Nyonya Vina, kebetulan hari ini senggang, bagaimana kalau kita makan bersama? Aku akan panggilkan ayah dari bayiku untuk makan bersama."
Mendengar itu, ekspresi Henry langsung berubah. Pria itu menatap Maira dengan wajah muram, lalu berkata, "Nggak perlu, Vina sedang sibuk."
Setelah mengatakan itu, Henry memeluk Vina dan membujuknya.
"Vina, kondisimu belum stabil, jangan pergi ke mana-mana."
"Dia hanyalah duta merek, jangan diambil hati."
Saat mendengar nada meremehkan dari Henry, wajah Maira menjadi pucat.
Lalu, Maira menunduk. Maira berkata dengan mata berkaca-kaca, "Ya, aku memang nggak tahu diri. Aku lupa bahwa diriku nggak pantas makan bersama Nyonya Vina."
Maira menyeka air mata dan berbalik dengan wajah kesal.
Ekspresi wajah Henry berubah dan ingin menyusul Maira. Namun, saat melihat Vina berdiri di samping sambil menatapnya, Henry mengurungkan niatnya.
Selesai ambil obat, Vina pulang ke rumah.
Habis memarahi Maira, Henry menjadi tidak fokus di sepanjang perjalanan. Usai mengantar Vina pulang, dia mengunci diri di ruang kerja dengan dalih ada urusan kantor yang belum selesai dia kerjakan.
Namun, di kamar, Vina mendapat kiriman pesan berupa gambar dari Maira.
Foto USG.
Selain itu, wanita itu juga memberikan pesan provokatif.
"Vina, aku tahu kamu sudah tahu yang sebenarnya. Anak ini adalah anak Henry. Jangan mengira Henry benar-benar mencintaimu. Kalau dia tulus mencintaimu, buat apa dia berselingkuh denganku?"
"Tahukah kamu betapa dia mencintaiku? Setiap ulang tahunmu maupun perayaan ulang tahun pernikahan kalian, dia pasti menyuruhmu lekas tidur agar dia bisa menemuiku. Dia sangat bergairah berhubungan denganku sampai aku sendiri merasa kelelahan keesokan paginya."
"Kami pernah bercinta di mobil Maybach miliknya, di ruangan kantornya, bahkan pernah di kamar kalian. Orang-orang mengatakan bahwa cinta dan seks adalah dua hal yang nggak terpisahkan. Apa dia juga bersikap sama terhadapmu?"
Vina menarik napas dalam-dalam saat membaca pesan yang provokatif ini. Dia menahan emosi yang bergejolak di hatinya.
Saat mematikan ponsel, Henry memeluknya dari belakang.
"Sayang, kamu baca apa?"
Henry menempelkan dagunya di leher Vina. Yang dilihat Henry hanyalah layar ponsel Vina yang sudah dimatikan.