Bab 2

Keesokan harinya, Henry mencium Vina seperti biasa.

"Vina, kemarin aku melewatkan perayaan ulang tahun pernikahan kita, Bagaimana kalau kita rayakan hari ini?"

"Bagaimana kalau ke taman bermain? Bukankah kamu pernah bilang ingin ke sana?"

Vina tidak tertarik. Saat akan menolak, Henry sudah mengemasi barang dan menyiapkan pakaian untuk istrinya.

Sesampainya di taman bermain, Henry sangat perhatian terhadap istrinya.

Ketika melihat bibirnya kering, Henry menyodorkan air kepada istrinya.

Melihat boneka yang menarik perhatian Vina, Henry langsung membelikan boneka itu untuknya.

Mereka bermain wahana komedi putar, Bom-Bom Car, bianglala ….

Henry tidak peduli wahana itu terlalu kekanak-kanakan. Asalkan Vina menyukainya, Henry mau menemaninya.

Henry menggandeng tangan istrinya dan tidak mau melepaskannya sedikit pun. Saat istrinya berupaya untuk melepaskan tangannya, Henry justru menggandeng tangan istrinya makin erat.

Henry membeli balon dan memasang balon itu di tas istrinya. Sambil tersenyum, Henry berkata, "Vina, dengan begini, kamu nggak akan hilang selamanya."

Nggak akan hilang selamanya?' cibir Vina dalam hati.

Sayangnya, kali ini Vina berniat pergi ke tempat tersembunyi selamanya.

Henry, aku sudah bukan milikmu lagi,' pikir Vina.

Henry dan Vina memiliki paras yang rupawan, kemesraan mereka juga menarik perhatian para pengunjung di taman bermain.

"Lihat, itu Tuan Henry dan Nyonya Vina! Bertemu mereka langsung di sini, ternyata mereka benar-benar semesra ini!"

Ada seorang gadis terlihat antusias melihat mereka, kemudian mengajak pacarnya menghampiri mereka dan berdiri di hadapan Vina.

"Hm … bolehkah kami foto bersama kalian? Kami adalah penggemar kalian!"

Melihat gadis itu begitu antusias, Vina setuju karena tidak mau mengecewakannya.

Meskipun Henry tidak suka foto, dia mau menemani Vina.

Selesai foto, pasangan muda itu segera berkata, "Kemesraan kalian membuat kami iri. Semoga kalian selalu langgeng seperti ini!"

Henry mengangguk sambil tersenyum.

Tanpa dia sadari bahwa Vina yang berdiri di sampingnya terus terdiam. Hanya Vina yang mengetahui bahwa mereka berdua akan berpisah.

Ketika jam makan siang tiba, Henry memeriksa ponselnya beberapa kali.

Henry menyadari tatapan Vina, kemudian dia buru-buru minta maaf dan membujuk Vina, "Vina, maafkan aku. Aku harus pergi karena ada urusan kantor mendadak. Kamu pergi makan duluan, nanti aku menyusulmu, bagaimana?"

Beberapa saat kemudian, muncul notifikasi sebuah hadiah kastil mewah di ponselnya.

Henry berbohong. Dia pergi bukan karena urusan kantor, melainkan menonton siaran langsung.

Vina tersenyum sinis. Dia diam-diam membuka siaran langsung Maira.

Maira adalah selebgram yang tidak terkenal, tetapi Henry merekrutnya menjadi duta merek perhiasan "Lovina" belum lama ini.

Semua orang menduga Maira bisa mendapat kesempatan sebagus ini karena mendapat dukungan dari pihak tertentu.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa yang mendukungnya adalah Henry.

Saat ini, Maira sedang siaran langsung melalui Tiktok di depan taman bermain. Maira mengangkat ponselnya sambil memamerkan kepada para penonton.

"Halo, semuanya. Pacarku memberiku taman bermain ini. Siapa pun yang menyebut namaku, akan dapat diskon. Silakan datang bermain ke sini."

Mendengar itu, tangan Vina yang memegang ponsel terasa dingin.

Henry mengajaknya ke taman bermain yang dia berikan untuk Maira?

Banyak orang yang meragukan di kolom komentar.

"Jangan membual. Kamu bukan selebgram terkenal. Mana mungkin kamu bisa punya taman bermain semewah itu?"

"Dia hanya ingin mencari perhatian. Dia tidak punya bukti kuat. Aku juga bisa berdiri di depan taman bermain dan mengatakan bahwa taman bermain itu milikku."

"Demi menjadi terkenal, dia bertindak seperti orang gila. Dia nggak tahu taman bermain itu harganya ratusan miliar?"

Maira berkata dengan kesal, "Aku nggak bohong! Lihat, sertifikat taman bermain ini atas namaku."

Sambil berbicara, Maira mengeluarkan sebuah sertifikat aset atas namanya dari tas.

Saat itu juga, siaran langsung menjadi heboh. Para penonton memujinya.

"Wah, ternyata aku bertemu bos."

"Pacarnya sayang sekali sama dia sampai menghadiahkan taman bermain untuknya, mirip sekali dengan Pak Henry yang begitu menyayangi istrinya."

"Semua mengatakan bahwa pria bersedia menghabiskan uang demi wanita yang dicintainya. Kenapa aku nggak punya pacar sebaik itu?"

"Karena pria yang sayang sama kekasihnya hanya ada dua di dunia ini, yang satu adalah Tuan Henry, yang satu lagi adalah pacar misterius Maira. Ayo kita voting, siapakah yang paling besar cintanya, Tuan Henry atau pacar misterius Maira? Pilihan nomor satu adalah Tuan Henry, pilihan nomor dua adalah pacar misterius Maira."

Banyak yang memilih pilihan nomor satu di kolom komentar. Bagaimanapun juga, Henry terkenal sangat menyayangi istrinya. Tidak hanya mengorbankan uang, bahkan nyawanya hampir melayang demi istrinya.

Pada saat itu, tiba-tiba muncul nama akun "Fans Maira". Akun itu memberikan banyak gift kapal di siaran langsung Tiktok Maira. Melihat itu, banyak penonton yang terperangah.

Sejak itu, jumlah penonton siaran langsung Maira meningkat pesat dari ratusan ribu penonton, sekarang menjadi puluhan juta penonton.

Tidak lama kemudian, ada sebuah pesan muncul. "Aku sangat mencintai Maira."

Para penonton siaran langsung itu menjadi heboh. Semua orang membanjiri layar dengan komentar.

"Kekasihnya muncul! Hebat! Hebat sekali!"

Maira tersenyum bangga. Dengan manja, dia berkata, "Lihatlah, seperti yang kubilang, pacarku sangat mencintaiku."

Vina memegang ponsel dengan tangan gemetar. Vina mendongak, dia melihat Henry sedang tersenyum dan tatapannya terlihat penuh cinta.

Pemilik akun "Fans Maira" adalah Henry!

Hati Vina terasa sakit. Meskipun Henry sudah melepas tangannya, Vina masih merasakan hatinya sakit.

Bab 3

Vina merasa sakit luar biasa. Tangannya mengepal erat di dada, untuk sesaat dia merasa sulit bernapas.

Akhirnya, Henry menyadari ada yang tidak beres. Henry segera menghampirinya sambil bertanya, "Ada apa, Vina?"

Henry tampak benar-benar mengkhawatirkannya. Seolah-olah jika terjadi sesuatu pada Vina, Henry rela mengorbankan segalanya demi menyelamatkannya.

Namun, pria yang kelihatan sangat menyayanginya ini ternyata menyembunyikan banyak hal darinya.

Vina berusaha menahan emosinya. "Nggak apa-apa … aku hanya merasa dadaku agak sesak."

Henry membantu Vina menekan dada. Setelah memastikan Vina baik-baik saja, dia segera mengantar Vina pulang.

Di perjalanan pulang, Henry berusaha menghibur Vina agar suasana hatinya membaik.

Namun, meskipun Henry sudah berusaha menghibur Vina, Vina masih tidak terlihat gembira.

Vina menyandarkan kepala di jendela mobil, menatap ke pemandangan di luar yang terus bergerak sambil melamun.

"Vina, apa aku melakukan kesalahan padamu?" tanya Henry dengan hati-hati.

"Nggak." Akhirnya, Vina menjawabnya, "Aku hanya sedang mengingat drama yang kutonton hari ini."

Henry merasa lega, lalu bertanya dengan tersenyum, "Drama apa?"

Mendengar itu, Vina menoleh dan menatap Henry.

"Tokoh utama pria dulunya sangat mencintai tokoh utama wanita, tapi kemudian hatinya mendua dan diam-diam menyembunyikannya dari sang wanita ...."

Vina diam-diam melirik Henry dan memperhatikan perubahan mimik wajah suaminya. Vina berkata dengan santai, "Henry, kalau suatu saat kamu mendua hati …."

"Nggak akan!"

Sebelum selesai bicara, Henry langsung menyela, seolah-olah dia menjamin hal itu tidak akan terjadi. "Vina, hanya kamu yang kucintai. Meskipun semua pria di dunia selingkuh, aku nggak akan melakukannya. Aku nggak bisa hidup tanpamu."

Hati Vina makin terasa sakit.

Henry mengatakan tidak bisa hidup tanpanya, tetapi pria itu masih berani berselingkuh dengan wanita lain.

Sebelum Vina sempat mengatakan sesuatu, ponsel Henry berbunyi.

Henry merasa ragu sejenak dan berniat tidak mau mengangkat telepon, tetapi Vina justru mendorongnya. "Angkat saja."

Henry mengangkat telepon itu. Entah apa yang dikatakan oleh si penelepon itu, ekspresi wajah Henry langsung berubah.

Henry menelan ludah, lalu menutup telepon dan menatap Vina.

"Vina, ada urusan mendesak di kantor, aku harus segera ke sana. Bagaimana kalau aku pesankan taksi untukmu?"

Vina tidak berkomentar apa-apa, selain mengangguk.

Setelah melihat mobil Maybach milik Henry sudah pergi menjauh, Vina naik taksi. Namun, Vina tidak mau kembali ke vila.

Vina berkata, "Tolong ikuti mobil itu."

Sopir taksi mengikuti dari belakang sesuai perintah Vina.

Mobil pria itu berhenti di depan sebuah vila.

Tidak jauh dari sana, ada seorang gadis dengan mengenakan kostum kelinci membuka pintu. Saat melihat pria itu turun dari mobil, gadis itu bergegas menghampiri pria itu, lalu memeluknya dengan wajah gembira.

Gadis itu adalah Maira, sedangkan pria itu adalah Henry.

Belum lama berpelukan, mereka berdua berciuman.

Mereka berciuman sangat lama. Setelah itu, Maira menjauhkan bibirnya dan menarik dasi Henry sambil tersenyum. "Tuan, kelinci kecil sudah menyiapkan hadiah untukmu. Mau lihat, nggak?"

Sambil berbicara, Maira menyentuh jakunnya.

Jakun Henry bergerak beberapa kali. Sambil menggenggam tangan Maira dengan erat, Henry berkata dengan tatapan penuh gairah, "Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 30 menit, aku bisa sampai ke sini dalam waktu 15 menit. Menurutmu, aku mau lihat atau nggak?"

Maira tertawa. Gadis itu memegang jari Henry yang ramping dan mengajaknya masuk ke mobil. "Lihat sendiri di dalam mobil."

Tidak lama setelah mereka berdua masuk, mobil itu mulai bergoyang.

Selanjutnya, goyangan mobil itu makin lama makin cepat, makin lama makin cepat ….

Tanpa sepengetahuan mereka, Vina menyaksikan hal ini tidak jauh dari sana.

Jelas-jelas sudah tidak mengharapkan cinta dari Henry lagi. Namun, ketika menyaksikan kejadian ini, hati Vina terasa sakit.

Bagai ada sebilah pisau yang menusuk jantungnya, membuatnya sulit bernapas dan menitikkan air mata.

Waktu masih pacaran, Henry selalu menghargai Vina, pria itu bahkan bisa mengendalikan diri untuk tidak menyentuh Vina.

Pria itu mengatakan bahwa menjaga kesucian wanita sangat penting agar menjadi momen yang indah saat malam pertama.

Pria itu berjuang mendapatkan hati Vina selama tiga tahun, mereka pacaran selama tiga tahun, baru akhirnya mereka menikah.

Henry yang biasanya tangguh di dunia bisnis, justru kelihatan gugup saat malam pertama. Baru membuka pakaian Vina, telinga pria itu sudah memerah.

Pria itu sangat menghargai Vina, setiap sentuhan selalu memperhatikan perasaan Vina. Saat akhirnya memilikinya, Henry merasa terharu hingga meneteskan air mata.

Henry berbisik berulang kali di telinganya, "Vina, akhirnya kamu menjadi milikku. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu selamanya."

Saat itu, Vina merasa sangat dicintai. Di pikiran Vina waktu itu, mungkin satu-satunya pria yang tulus mencintainya adalah Henry.

Henry mencintai Vina.

Henry sendiri yang mengatakannya.

Namun, sekarang pria itu mengingkari janjinya.

Sopir taksi melihat Vina menangis, dia merasa iba, lalu memberikan tisu kepada Vina.

"Semua pria memang suka berselingkuh, termasuk suamiku. Gara-gara punya anak, aku nggak bisa bercerai dengannya …."

Ketika membahas masalah rumah tangganya, suara sopir taksi itu terisak-isak. Sopir taksi itu berhenti sejenak, lalu berkata lagi.

"Dik, jangan sedih. Karena kalian sudah menikah, biarkan saja dia, anggap nggak terjadi apa-apa."

Vina memegang tisu dengan erat, lalu menjawab dengan suara serak dan tegas.

"Nggak, aku nggak akan memaafkannya."

Aku nggak akan memaafkan Henry!' pikir Vina.

Sesampainya di rumah, Vina membongkar barang-barangnya dan mengeluarkan semua hadiah dari Henry.

Termasuk perhiasan "Lovina" yang bernilai tinggi.

Vina menghubungi seseorang.

"Apa benar ini agen properti? Aku mau menjual semua asetku? Semua hasil penjualan akan kusumbangkan ke yayasan untuk semua korban wanita yang ingin bercerai, tapi nggak bisa bercerai karena nggak punya uang maupun karena memiliki anak."

Dalam waktu satu jam, Vina menjual semua aset berharganya.

Lalu, Vina mengemasi barang-barangnya.

Setelah mengemasi barang selama setengah jam, Henry tiba-tiba pulang.

Henry masuk dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan. Dia tidak pergi ganti baju, melainkan buru-buru menghampiri Vina dengan gugup dan suara bergetar.

"Vina, kenapa kamu menjual perhiasan "Lovina"?"

Bab 4

Perhiasan "Lovina" nilainya sangat mahal. Jika ingin menjualnya, satu-satunya cara adalah menjualnya di rumah lelang.

Jadi, Henry melihat perhiasan "Lovina" di rumah lelang?

Vina tidak menjawab, sebaliknya dia bertanya, "Kamu pergi ke rumah lelang?"

Henry terkejut. Beberapa saat kemudian, pria itu menjawab, "Aku mau belikan kamu perhiasan."

Vina mencibir dalam hati, 'Beli untukku atau untuk Maira?'

Maira sudah memberi pria itu kejutan besar, sudah sewajarnya Henry memberi hadiah sebagai balasannya.

Vina menahan emosinya, dia menjawab dengan tenang, "Bukan jual, aku menyumbangkannya."

Mendengar itu, Henry memegang tangan Vina dengan wajah tak berdaya. "Vina, aku tahu hatimu baik. Kamu boleh sumbangkan barang lainnya, hanya perhiasan 'Lovina' yang nggak boleh kamu sumbangkan."

Setelah itu, Henry mengeluarkan sebuah kotak dan menaruhnya di depan Vina.

Sebuah kotak beludru hitam dibuka, itu adalah perhiasan "Lovina".

Kilau permata yang tiada duanya dari perhiasan itu masih sama dengan sebelumnya.

"Aku membelinya lagi. Perhiasan Lovina adalah bukti cintaku padamu. Apa pun yang terjadi, kamu nggak boleh melepasnya."

Sambil berbicara, Henry membantu Vina memasang perhiasan itu lagi.

Melihat kalung Lovina terpasang lagi di lehernya, Vina mencibir.

Henry, Henry, aktingmu bagus sekali.'

Suami yang baru kembali dari bermesraan dengan wanita lain, sekarang mengatakan bahwa dia mencintai Vina.

Malam harinya, ketika Vina hampir tertidur, ponsel Henry tiba-tiba berbunyi lagi.

Henry segera mematikan ponselnya, lalu menepuk punggung Vina.

Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi lagi.

Melihat ponselnya berbunyi terus, Henry mengernyit. Karena takut tidur Vina terganggu, Henry terpaksa mengangkat telepon.

Suara si penelepon terdengar jelas di suasana kamar yang hening.

"Henry, ayo kita keluar bersenang-senang! Teman-teman sudah datang, tinggal kamu yang belum datang."

Henry langsung menolak. "Aku mau temani Vina tidur. Sudah, ya."

"Eh, jangan ditutup! Berhentilah jadi budak istrimu, kamu sudah lama nggak kumpul dengan teman-temanmu."

"Ya, benar. Setelah menikah, kamu melupakan teman-temanmu. Kamu sudah kelewatan."

Karena suara teman-temannya yang berisik, Henry mengatakan, "Cukup. Jangan keras-keras. Sudah kubilang, satu-satunya orang yang terpenting bagiku di dunia ini hanya istriku. Aku mau temani istriku."

Meskipun begitu, teman-temannya tidak menyerah.

Masih ada beberapa teman Henry lainnya berusaha membujuknya. Mereka bersikeras memaksa Henry keluar bersenang-senang dengan mereka.

Di tengah kebingungan, Vina terbangun dan mengatakan, "Pergilah kumpul sama mereka. Kalian juga sudah lama nggak bertemu."

Henry masih enggan, tetapi Vina membujuknya lagi. Akhirnya, Henry mengatakan, "Aku ajak kamu ikut ke sana. Kalau kamu nggak pergi, aku juga nggak mau pergi."

Lalu, terdengar suara temannya mengatakan, "Kakak Ipar, datanglah bersama Henry untuk meramaikan acara ini."

"Benar, Kakak Ipar. Ayo ikutlah. Kalau kamu nggak ikut, Henry juga nggak mau datang."

Vina memutuskan untuk ikut sehingga Henry baru mau pergi.

Saat baru masuk ruangan privat, teman-teman Henry memeluk banyak wanita di kanan dan di kiri. Ekspresi Henry tampak muram melihat teman-temannya, kemudian pergi tanpa ragu,

Teman-temannya mengerti, lalu buru-buru mengusir semua wanita itu.

"Pergi, pergi, cepat pergi."

Setelah semua wanita itu keluar dari ruangan, teman-temannya menghela napas dan merangkul bahu Henry.

"Henry, kenapa hatimu nggak berubah walaupun sudah menikah bertahun-tahun? Selain Kakak Ipar, kamu nggak mau dekat dengan wanita lain."

Henry mendorong temannya, lalu mengibaskan bahunya yang tidak berdebu. "Aku sudah menikah, wajar kalau aku menjaga perasaan istriku. Kalian masih lajang mengerti apa?"

Tiba-tiba, semua orang di ruangan tertawa dan diam-diam melirik ke arah Vina.

Meskipun Henry keluar untuk kumpul bersama teman-temannya, yang selalu menjadi pusat perhatian Henry adalah Vina.

Ada seorang temannya yang merokok, Henry langsung menegur temannya. "Vina nggak suka bau rokok."

Saat ada temannya yang minum alkohol, Henry langsung menegur sambil menggelengkan kepala, "Vina nggak suka bau alkohol."

Saat ada temannya menyanyi, Henry berkata sambil mengernyit, "Matikan, Vina suka ketenangan."

Henry menolak semua ajakan teman-temannya, dia hanya fokus mengupas buah untuk Vina.

Henry memegang pisau buah dengan luwes, dia menyajikan sepiring buah dengan rapi, kemudian memberikannya kepada Vina dengan tersenyum.

"Vina, makanlah."

Ketika menyadari gaun Vina terlalu tipis, sedangkan suhu di ruangan itu sangat dingin, Henry melepas jas, lalu menutupi tubuh Vina dengan jas.

"Vina, lebih hangat, 'kan? Apa kamu masih merasa kedinginan?"

Teman-teman di sekitarnya langsung menggodanya. "Henry, sok sekali kamu setelah menikah!"

Jangan Ada Dusta di Antara Kita

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya