Bab 1

Aku membuat janji pergi ke festival musik bersama sahabatku. Tapi kekasih kakakku mengunciku di toilet.

"Anak gadis zaman sekarang nggak punya malu. Merasa nggak berdosa menggoda pacar orang lain!"

"Aku akan memberimu pelajaran hari ini. Orang tuamu sendiri gagal mendidikmu, jadi biar kubantu mereka!"

Dia tidak mendengarkan penjelasanku dan menyiramkan air pel toilet dari atas kepalaku. Dia menamparku di depan umum, melucuti pakaianku, dan menggunakan solder panas untuk menuliskan kata-kata "Simpanan Murahan" di tubuhku.

Saat kakakku tiba, wajahku tidak dapat dikenali lagi karena parahnya siksaan mereka.

"Calvin, tolong dengarkan penjelasanku. Sumpah, kukira dia cuma "adik ketemu besar", bukan adik kandungmu!"

Aku punya janji pergi ke festival musik di pusat kota dengan sahabatku, jadi aku berdandan khusus cukup lama.

Di tengah kemacetan lalu lintas jalan, aku membuka aplikasi video pendek di ponselku dengan santai. Di beranda, aku mendapat rekomendasi video live dari pengguna di kota yang sama.

Akun itu bernama "Natasha Larasati", yang diisi oleh dia sendiri bersama teman-teman wanitanya yang muda-muda dan cantik-cantik. Aku memang suka menonton kakak-kakak cantik, jadi aku tertarik dan membuka live tersebut.

Tapi mataku tercengang seketika. Si kakak cantik Natasha berderai air mata di depan kamera, seolah dilanda kesedihan yang luar biasa.

"Aku pacaran jarak jauh dengan dia. Kami terpaksa putus tiga tahun yang lalu karena aku harus lanjut kuliah di luar negeri. Tapi aku nggak nyangka kalau ternyata dia selalu cinta padaku selama itu dan selalu menunggu aku pulang. Jadi, kami balikan lagi satu bulan yang lalu."

"Aku berencana pulang lebih awal sebagai kejutan. Tapi, aku lihat ... dia jalan-jalan dan berpelukan mesra dengan wanita lain!"

"Aku pergi melabrak wanita simpanan itu, tapi dia malah menyombongkan diri. Katanya dia lebih muda dan lebih cantik dariku. Dia bahkan mengatai aku tua bangka dan mengancam akan menggantikan posisiku!"

"Pacarku direktur grup besar. Selingkuhan itu pasti mengincar uang pacarku! Huhu, aku sedih ...."

Mengetahui bahwa kakak yang begitu cantik dikata-katai oleh simpanan pacarnya, aku merasa ingin ikut menangis bersamanya.

Aku bukan satu-satunya yang kasihan pada Natasha. Kolom komentar dipenuhi orang-orang yang geram dan tidak terima.

"Kak Natasha kasihan sekali. Kalau pacarku yang selingkuh, sudah kukuliti mereka berdua!"

"Dunia sudah edan. Jadi selingkuhan saja berani bertingkah!"

"Nggak adil! Karena nggak ada hukum yang bisa menindak pelakor, kita harus mengandalkan diri sendiri agar wanita murahan itu menerima hukuman yang setimpal!"

"Setuju. Cuma diri sendiri yang bisa diandalkan. Kak Natasha jangan putus asa. Kami bersedia membantumu menghukum wanita simpanan itu!"

Melihat semua orang di kolom komentar semakin bersemangat, kesedihan di wajah Natasha berangsur-angsur mereda dan tatapannya berubah tegas.

Aku baru saja ingin menyarankan agar jangan bertindak gegabah, tapi mobilnya tiba-tiba berhenti.

"Nona, sudah sampai."

Aku keluar dari video live tadi, mengambil tas baruku, dan melompat keluar. "Bapak pulang dulu saja. Terus nanti sore juga nggak usah jemput, aku mau pulang sendiri."

Setelah menjelaskan kepada Pak Sopir, aku berjalan menuju lokasi festival dengan penuh semangat.

Sahabatku sudah tiba dan sedang menungguku di arena. Aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dulu sebelum masuk, takutnya nanti tidak bisa keluar.

Tapi, ketika aku selesai, pintu kamar mandi tidak bisa dibuka.

Mungkin, seorang petugas kebersihan tidak sengaja mengunci pintu dari luar?

Bab 2

Rasa panik bergejolak dalam hatiku. Apa jadinya kalau tidak ada yang menyadari aku di sini? Aku tidak ingin melewatkan festival musik. Sahabatku sudah memasuki arena dan tidak bisa keluar lagi untuk saat ini.

Aku berteriak, "Di luar ada orang? Tolong!"

"Tenang saja, kami akan mengeluarkanmu kalau sudah waktunya."

Ada orang? Hatiku sangat lega sampai membuatku ingin melompat-lompat. Untunglah, selalu ada jalan keluar!

Tapi, kalimat berikutnya membuatku membeku di tempat.

"Semuanya, ini dia wanita simpanan yang akan kita beri pelajaran hari ini. Jangan khawatir, teman-temanku sudah menjaga di luar. Nggak akan ada yang datang meskipun dia berteriak sekencang-kencangnya!"

Wanita simpanan?

Sejak kapan aku seorang wanita simpanan?

Dan suara gadis ini terdengar seperti Natasha, yang video live-nya aku tonton di jalan!

Melalui pembatas toilet, aku menjelaskan dengan lantang, "Kamu salah! Aku bukan wanita simpanan!"

Kukira kata-kata itu sudah cukup untuk menjelaskan semuanya, lalu mereka akan menyadari kesalahan mereka dan membiarkanku keluar. Tapi aku mendengar seorang gadis berkata penuh amarah, "Dasar nggak tahu malu! Punya simpanan itu sangat memalukan, mana ada pria yang berani terang-terangan mengakui kalian sebagai simpanan?"

"Kalau bukan karena kepintaran Natasha, hubungan kotor kalian pasti akan berlanjut lebih lama lagi."

Natasha berkata, "Nggak usah capek-capek bicara dengannya! Nggak ada yang perlu dibicarakan dengan wanita simpanan!"

Setelah mengatakan itu, seember air pel yang dingin dan berbau busuk disiramkan ke kepalaku. Seluruh tubuhku basah kuyup.

Aku menggigil, dan air pel masuk ke mata, mulut, serta hidungku. Kepalaku pusing. Riasan yang kusiapkan selama dua jam luntur tak bersisa. Rambutku basah dan menempel di wajahku.

Di luar dugaan, Natasha hanya terlihat cantik menggemaskan di video. Sifat aslinya ternyata sangat berbahaya dan moralitasnya sangat rendah.

Kalaupun ini salah paham, mereka sudah keterlaluan!

Aku berteriak keras, "Orang gila! Sudah kubilang kalian salah orang, apa kalian tuli, nggak bisa mendengar?!"

Aku menggedor dan mendobrak pintu sekuat tenaga, berusaha untuk membukanya.

Pintu toilet tiba-tiba terbuka dari luar. Tarikan gravitasi membuatku terjerembap di lantai. Pandanganku menghitam di antara rasa sakit.

"Berani jadi wanita simpanan, harus berani dihukum!"

Tawa menghina dari beberapa orang wanita serta ejekan dan makian yang tak terhitung jumlahnya memenuhi telingaku.

Ponselku yang terjatuh ke lantai tiba-tiba bergetar.

Aku merangkak untuk mengambilnya, tapi sahabat Natasha mengambilnya terlebih dahulu. Dia mematikan ponselku dan melemparkannya ke toilet.

Natasha menarikku dan menyorot wajahku dengan kamera ponselnya. "Semuanya, lihat baik-baik. Ini dia si pelacur murahan yang mencuri pacarku! Masih muda, nggak berpendidikan!"

"Aku akan memberimu pelajaran hari ini. Orang tuamu sendiri gagal mendidikmu, jadi biar kubantu mereka!"

Sambil bicara, dia menampar wajahku.

Penonton live bersorak dan mengatakan bahwa mereka sangat puas menyaksikan seorang wanita simpanan dipukuli.

"Beri dia pelajaran! Wanita simpanan nggak pantas mati dengan tenang!"

"Wanita simpanan ini murahan sekali, siang bolong pakai rok mini. Mau merayu siapa, sih? Ck ck, badannya lumayan juga!"

"Wanita simpanan ini harus dibunuh biar jadi peringatan untuk orang lain!"

Aku sudah sedikit kelelahan karena pukulan keras yang bertubi-tubi. Tapi aku masih bisa menahan rasa sakit dan menjelaskan dengan lemah, "Demi Tuhan, aku bukan simpanan. Kalian salah orang."

"Aku peringatkan, berhenti sekarang juga. Mungkin aku masih bisa memaafkan kalian!"

Bab 3

Natasha menangis sedih di depan penonton live. "Kalian dengar itu? Aku diancam wanita simpanan!"

Kolom komentar menjadi semakin ramai, memintanya agar jangan melepaskan aku.

Tidak peduli seberapa keras aku melawan, tenagaku tidak bisa mengalahkan Natasha dan teman-temannya.

Natasha menyuruh seseorang untuk membawaku ke mobil. Saat aku hendak bertanya mereka ingin membawaku ke mana, Natasha menutupi wajahku dengan kain, dan perlahan-lahan aku kehilangan kesadaran.

Ketika terbangun, aku mendapati diriku berada di dalam ruangan pribadi karaoke. Suasananya remang-remang. Rasa sakit yang luar biasa membakar wajah dan tubuhku.

Ada sekitar 20 orang pria dan wanita mengisi ruangan ini. Melihat aku bangun, mereka semua berkumpul dan menatapku.

Natasha masih lanjut live di tengah kerumunan, mengarahkan kameranya kepadaku.

"Hei, sudah bangun?" Ekspresi Natasha menjadi semakin bersemangat saat melihatku terbangun.

"Natasha, ini dia simpanan pacarmu? Dia pakai tas ratusan juta, jangan-jangan hadiah dari pacarmu?"

"Dasar pelacur nggak punya malu. Kak Calvin sampai membelikan dia tas mahal!"

Dalam keadaan linglung, aku mendengar mereka mengata-ngatai aku.

Tunggu sebentar, Calvin?

Mungkinkah pacar Natasha yang mereka sebutkan itu adalah kakakku, Calvin Andhika?

Kakakku pernah bercerita kepadaku bahwa pujaan hati yang dia tunggu selama bertahun-tahun akhirnya pulang dari luar negeri. Dia juga secara khusus memesan tempat di restoran langit terbaik di kota. Katanya, dia ingin memperkenalkan kami satu sama lain malam ini.

Tapi pujaan hati yang diceritakan kakakku adalah seorang kakak yang lembut, pengertian, manis, dan baik hati!

Dibandingkan dengan Natasha yang bengis, kejam, dan keji di hadapannya, apakah benar ini orang yang sama?

Memikirkan penampilannya yang mengundang iba saat aku menontonnya di live, aku hanya bisa mendesah. Wanita ini jelas tidak sesederhana kelihatannya.

Aku menatap Natasha dan mengucapkan kata demi kata, "Kalau yang kalian maksud Calvin Andhika, direktur Grup Naraya, aku sarankan kalian cepat-cepat melepaskan aku. Aku adiknya Calvin, dan dia nggak akan mengampuni perbuatan kalian!"

Setelah aku mengatakannya, semua orang terdiam, lalu tertawa terbahak-bahak.

Natasha tertawa terbahak-bahak seolah mendengar lelucon paling menggelikan.

"Heh pelacur, akhirnya ngaku juga kalau kamu selingkuhan Calvin?

"Adik? Zaman apa ini, kalian masih pakai tipuan yang sama?!"

"Aku kenal Calvin sejak kuliah, tapi aku nggak pernah dengar dia punya adik perempuan!"

Tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan, Natasha mencengkeram daguku sangat erat dan berkata dengan keras, "Aku sudah bilang ke Calvin, pesawatku mendarat sore ini. Dia sudah janji mau menjemputku di bandara."

"Tapi dia tiba-tiba bilang nggak bisa hari ini, katanya ada rapat penting yang nggak bisa ditinggalkan. Dia pasti sudah janji pergi ke festival musik denganmu, ya 'kan?"

Aku menoleh paksa dan berkata sambil merasa terheran-heran, "Aku janji pergi ke festival musik dengan sahabatku! Kesurupan dari mana kamu sampai membuat kesimpulan yang sangat meleset?!"

Emosi Natasha semakin tersulut dan wajahnya yang polos terlihat sangat menyeramkan. Dia memerintahkan kepada teman di sebelahnya, "Ambil barangnya! Mari kita lihat berapa lama sampai pelacur ini mau mengaku!"

Ketika gadis di sebelahnya mendengar ini, dia langsung berlari keluar dengan penuh semangat.

Jantungku berdebar kencang. Rasa gelisah yang kuat tiba-tiba melanda diriku.

Aku berpura-pura tenang dan menghibur diri, memperingatkan, "Natasha, berhenti main-main! Kakakku nggak akan pernah memaafkanmu!"

Jahatnya Pacar Kakakku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya