Bab 1

Setelah istriku mengalami keguguran. Menurut dokter, dia tidak akan bisa hamil lagi seumur hidupnya.

Istriku menangis-nangis meminta maaf kepadaku, menyuruhku untuk melupakannya dan mencari wanita lain yang bisa memberiku anak.

Aku memeluknya dengan hati pilu dan menegaskan padanya bahwa aku tidak peduli kami punya anak atau tidak.

Saat aku memeluknya pula, dia tidak bisa melihat bahwa bibirku menyeringai. Obat aborsi tradisional yang aku beli dari desa rupanya benar-benar manjur dan bekerja lebih cepat dari dugaanku.

Karena bayi yang dia kandung sama sekali bukan anakku.

Istriku sangat antusias soal hubungan suami-istri denganku setelah dia hamil, tapi aku menahan diri dan tidak menyentuhnya.

Aku tidak menyangka dia akan bercumbu dengan pria lain saat pergi periksa kandungan.

Hingga suatu hari, aku pergi ke luar kota dengan alasan perjalanan kerja. Lalu aku melihatnya masuk ke hotel bersama seorang pria.

Dan pria itu memiliki wajah yang sangat aku kenal ....

...

Namaku Ramana Pangestu. Aku bekerja sebagai manajer tingkat menengah di kantor pusat sebuah perusahaan konstruksi. Tapi, bosku tiba-tiba memintaku pergi menangani proyek di luar negeri. Keberangkatannya satu bulan lagi dan tanggal kembalinya belum ditentukan.

Pikiranku sangat bimbang. Tinggal di luar negerinya masih belum pasti berapa lama!

Proyek luar negeri ini baru saja dimulai. Kondisinya hidup di sana jelas tidak terlalu nyaman. Aku sendiri tidak masalah, tapi aku tidak ingin istriku menderita. Setiap kali mengingat istriku, Galih, aku selalu ingin tersenyum.

Kami bertemu lewat kencan buta. Setelah sepuluh tahun menikah, hubungan kami semakin dekat karena tubuh dan jiwa kami sangat cocok. Terutama nafsunya di tempat tidur yang membuatku mabuk kepayang.

Sayang sekali, kami belum punya anak. Inilah masalah yang selalu mengganjal di hati kami, atau lebih tepatnya, di hati Galih.

Di tengah sebuah rapat, ponselku bergetar. Ternyata istriku yang menelepon. Dia biasanya tidak pernah telepon di jam kerja. Karena itu, dia pasti menelepon karena sesuatu yang penting.

Aku meminta maaf kepada bosku dan izin keluar untuk mengangkat telepon.

"Sayang, kamu jangan lembur malam ini, oke? Pulanglah lebih cepat."

Godaan dalam suara Galih tersalurkan melalui telepon, membuat tubuhku tegang. Aku terbatuk kecil mencoba meredakannya.

"Iya. Kamu nggak apa-apa 'kan?"

Galih menjawab tidak apa-apa, katanya dia hanya ingin memberiku sebuah kejutan.

Akhirnya, aku jadi sering melamun sepanjang hari ini. Terutama karena aku masih belum yakin harus bilang apa kepada istriku soal perjalanan kerja ke luar negeri. Meski perusahaan memperbolehkan aku membawa anggota keluarga, aku tidak tega membuatnya menderita.

Memikirkan kulit lembut Galih, aku kadang menjadi berdebar-debar dan tanpa sadar terlalu kasar saat melakukannya. Dia akan mengerang dan memintaku berhenti bergerak, membuat seluruh tubuhku basah dengan keringat yang penuh semangat.

Aku bukannya tidak ingin ditemani Galih. Aku benar-benar tidak bisa membiarkan wanita secantik dia sendirian di rumah.

Bukan pencuri yang aku takuti, tapi aku takut ada pria lain mencuri hatinya!

Apalagi, si pencuri ini sudah mengincar cukup lama.

Setelah selesai kerja, aku segera pulang ke rumah.

Begitu membuka pintu, Galih tidak melompat ke dalam pelukanku seperti biasanya. Seisi rumah gelap dengan tirai tertutup. Saat aku hendak menyalakan lampu, istriku tiba-tiba datang entah dari mana dan menahan tanganku.

Mataku lalu ditutup dengan secarik kain.

Mungkinkah dia ingin bermain peran hari ini?

Tangan kecil nan lembut istriku turun ke bawah dan tubuhku langsung merasakannya. Tepat ketika aku ingin berbalik menyentuhnya, dia mengulurkan tangan dan mengetuk bibirku dengan lembut. Aku pun mengerti dan tidak lagi bergerak, menunggu serangan berikutnya.

Gerakannya semakin cepat dan tangannya yang lain bergerak melucuti pakaianku. Aku benar-benar gatal ingin bergerak sendiri, tapi aku menyerah setelah percobaanku gagal tiga kali.

Galih tertawa kecil dan menarik tanganku untuk menyentuhnya.

Kulitnya halus dan lembut, dibalut pita-pita tipis dan kain yang tidak menutup sama sekali. Semua ini menandakan kegilaan yang akan terjadi malam ini.

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Dia hendak melepaskan diri setelah menyulut api, lalu memekik merdu saat aku mengejarnya.

Tangannya terus menerus mendorongku. Jadi, aku melepas kain yang menutup mataku dan akhirnya melihat istriku yang mengenakan gaun terbuka dengan wajah tersipu malu dan mata polos menggoda.

Dia menatap mataku dan menarikku masuk ke kamar. Aku menatapnya tanpa henti, merasa tidak percaya mata kepalaku sendiri.

Ini ... adalah kilas balik cinta yang sempurna! Sejak pertama berkenalan sampai mulai pacaran.

Yang terpenting lagi, dia menyerahkan sebuah kotak kado kecil kepadaku. Seukuran kotak jam tangan atau hadiah kecil lainnya.

Aku mengambilnya dengan bingung, berkali-kali memastikan dalam kepalaku bahwa sekarang bukan hari jadi pernikahan, pacaran, atau apa pun.

Setelah kotak kado dibuka, di dalamnya terdapat alat tes kehamilan.

Bab 2

"Sayang, kamu sekarang calon ayah!"

Aku mengeluarkan alat tes kehamilan itu dengan mata membelalak. Beberapa detik berlalu sampai aku tersadar kembali.

"Ini ... beneran?"

Galih tampak geli melihat wajahku yang tercengang. Dia melingkarkan tangannya di leherku dan cemberut, bertanya apakah aku tidak senang.

Akhirnya aku tersadar bahwa reaksiku agak kurang normal. Aku menjelaskan padanya bahwa aku hanya terlalu terkejut, lalu aku bertanya hadiah apa yang dia inginkan.

Galih pun tersenyum lebar penuh arti.

"Aku nggak mau hadiah apa-apa. Aku cuma ingin kamu tulus kepadaku, selalu mencintai aku dan anakku."

Sambil bicara, tangannya menggerayang ke bawah, membuat tubuh bagian bawahku semakin bersemangat dan terangkat tinggi tak terkendali.

Api yang tadi belum padam pun menyala semakin membara. Tapi Galih masih hamil muda, aku takut terjadi sesuatu padanya, jadi aku hanya menutup mata dan pergi mendinginkan diri di kamar mandi.

Saat aku keluar, Galih sedang bermain ponsel dan berceloteh tentang hal-hal yang harus diperhatikan mulai sekarang.

Aku menjawabnya, yang penting sekarang adalah pergi ke rumah sakit dulu untuk memeriksakan usia kandungan dan kesehatan janin.

Galih mengangguk-angguk dan membenamkan dirinya dalam pelukanku. Dia mengeluh bahwa sudah mulai bodoh meski baru di awal kehamilan. Ujarnya, untunglah anak kami punya ayah yang pintar sepertiku.

Keesokan harinya kebetulan hari minggu, jadi aku bisa menemaninya pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali. Setelah tes darah, Galih bisa dipastikan hamil empat minggu.

Galih sangat senang dan lanjut meminta saran serta apa saja yang harus diperhatikan sehari-hari. Aku sampai tidak bisa menyela. Saat kami keluar, wajahnya tampak gelisah.

"Rama, kamu nggak senang aku hamil ya?"

Aku tersentak dan buru-buru menyangkalnya.

"Kita akhirnya punya anak setelah menikah sepuluh tahun. Mana mungkin aku nggak senang?"

"Tapi kenapa kamu nggak mendengarkan penjelasan dokter tadi?"

Rupanya dia tidak senang dengan sikapku tadi. Aku segera menjelaskannya, sambil menghibur dan membujuk cukup lama hingga akhirnya dia tersenyum cerah lagi.

Saat memasuki mobil, dia tidak pergi ke kursi sebelah seperti biasanya. Dia mengikutiku di kursi pengemudi dan duduk di atas pangkuanku. Melihat wajahku yang mulai memerah, dia tersenyum puas.

Melihat ekspresi bangga itu, mau tak mau aku mengancam.

"Sayang, jangan menatapku seperti itu. Kamu pikir aku nggak berani menyentuhmu sekarang?"

Galih terkejut menerima tatapanku dan berusaha mengingatkan dengan terbata-bata.

"K-kata dokter ... sekarang nggak boleh ..."

Meski begitu kata-katanya, mata lebar Galih berkata lain. Aku tahu apa yang ada dalam pikirannya, tapi tidak sekarang. Setidaknya, tunggu sampai kandungannya berusia empat bulan.

Lagi pula, aku juga tidak ingin melakukannya sekarang.

Setelah mengantar istriku pulang, aku pamit pergi ke kantor karena ada urusan mendadak. Meski Galih sedikit tidak senang, dia tidak mengeluh. Tidak ada yang namanya akhir pekan di lokasi konstruksi, jadi wajar saja ada sesuatu yang tidak terduga.

Aku tidak ke pergi ke kantor, tapi ke sebuah rumah sakit swasta yang dipimpin oleh teman masa kecilku, Denis Linata.

Saat Denis melihatku, dia mengangkat alisnya dan bersiul, terlihat seperti seorang playboy.

Tapi aku sedang tidak ingin bercanda dengannya. Aku sedang gelisah.

"Denis, tolong periksa aku bisa punya anak atau nggak!"

Rahang Denis menganga begitu mendengar kata-kataku.

"K-Kak Rama, bukannya kamu penganut setia hidup childfree? Dan ... kamu bisa punya anak atau nggak, 'kan baru bisa tahu kalau sudah melakukannya."

Ini adalah hal yang sulit dibicarakan dengan orang lain, tapi di depan sahabat yang sudah berteman denganku sejak kecil, aku tidak lagi peduli.

"Istriku hamil. Aku curiga itu bukan anakku."

Denis semakin terkejut. Mulutnya membuka mengatup beberapa kali, tapi tidak keluar satu kata pun.

Aku mengikutinya masuk, dan setelah periksa, ternyata aku benar-benar tidak punya sperma. Satu pun bahkan tidak ada.

Bayi itu benar bukan anakku.

Bab 3

Denis juga sedikit tidak percaya saat melihat hasilnya. Dia ingin menghiburku, tapi tidak ada satu kata pun yang dapat menghiburku.

Aku sejak dulu tidak pernah ingin punya anak. Sampai sekarang pun aku tidak bisa menerima kehadiran anak dalam pernikahanku.

Tapi aku sangat cinta kepada Galih, sedangkan Galih sangat suka dengan anak-anak. Aku tidak sanggup berkata tidak. Aku tidak pernah mengaku padanya bahwa aku sudah operasi sterilisasi jauh sebelum bertemu dengannya.

Dia sangat cemas karena tidak kunjung hamil dan hampir pergi periksa ke rumah sakit untuk itu.

Aku tahu tindakan dan keinginanku sangat egois. Tapi aku tetap tidak terima istriku selingkuh.

Kami sudah menikah bertahun-tahun. Aku masih belum bisa percaya bahwa Galih mengkhianatiku. Siapa tahu, mungkin satu kali itu aku benar-benar bisa membuatnya hamil?

Denis seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi mengurungkan niatnya. Dia akhirnya hanya menyarankan kepadaku agar datang lagi setelah usia kandungan lebih besar untuk tes DNA.

Tapi, waktu yang disarankan adalah usia kandungan delapan minggu. Aku sudah di luar negeri pada saat itu.

Sesampainya di rumah, Galih duduk meringkuk di sofa dengan wajah cemberut, tidak membukakan pintu untukku.

Biasanya, aku akan segera meminta maaf kepadanya di tempat tidur begitu melihat dia seperti ini. Tapi suasana hatiku benar-benar sedang tidak menentu. Aku bahkan tidak tahu siapa ayah bayi dalam perutnya!

Hatiku terasa seperti ditindih batu besar, tapi aku berusaha untuk menghibur diriku sendiri. Sebelum hasil pastinya diketahui, aku harus selalu menutup mulutku rapat-rapat.

"Sayang, kamu kenapa?"

"Huh, masih tanya? Kamu pergi lama sekali, pesanku nggak dibalas. Aku ditinggal sendirian di rumah ...."

Galih mulai menangis kesal dan sedih, berbeda dari sebelumnya. Dia biasanya menangis untuk merangsang perasaanku dan mewarnai suasana di tempat tidur.

Ini mungkin salah satu efek kehamilan.

Aku duduk dan mendekapnya dengan lembut, menahan rasa mual dalam hatiku, lalu menciumi bibir dan lehernya untuk menghiburnya.

Galih jelas terpancing dengan godaanku. Dia memang seperti ini. Kebutuhannya sangat tinggi dan dia tahu macam-macam trik dalam hubungan. Pikirannya sangat terbuka soal hal semacam ini.

Dia menggiring tanganku ke bawah dan masuk tanpa hambatan.

"Jangan, kamu masih hamil muda!"

Aku lalu cepat-cepat melarikan diri ke kamar mandi. Sentuhan basah itu benar-benar menyulut hatiku. Aku takut tidak bisa menahan diri kalau lanjut lebih lama lagi.

Sekarang bukan waktunya.

Saat aku berangkat kerja di hari Senin, aku mengatakan kepada bosku bahwa istriku sedang hamil, jadi aku tidak bisa pergi ke luar negeri dalam waktu satu atau dua tahun ke depan. Untungnya, bosku pun maklum. Aku jadi sedikit lebih lega.

Selama satu bulan berikutnya, aku merawat dan memperhatikan Galih dengan rajin. Tetap menjadi suami yang baik serta ayah yang lebih baik lagi.

Aku berusaha agar tidak terlalu banyak bersentuhan dengan Galih. Tapi dia selalu merayuku dengan segala macam cara setiap hari. Sayangnya, aku tetap tidak tergerak.

Dia menguji batas kesabaranku dengan kesal, ingin melihat seberapa kokohnya kendali diriku.

Aku berkata bahwa aku melakukan ini demi dia dan anak kami, tapi dalam hatiku tidak menyimpan emosi apa-apa. Ini hanya reaksi naluriah tubuh yang bisa aku atasi.

Aku tidak bisa menyentuhnya sebelum memastikan kebenaran.

Pada hari kedua setelah usia kandungannya beranjak delapan minggu, aku mengatakan kepadanya bahwa aku ingin membawanya ke rumah sakit Denis untuk periksa lanjutan. Alasanku, peralatan di sana lebih canggih dan tenaga medisnya lebih berpengalaman.

Senyum di wajah Galih seketika membeku setelah mendengar nama Denis, tapi segera kembali. Dia lalu mengangguk mengiakan.

Tapi aku tetap melihat sesaat keraguan itu.

Saat kami tiba di rumah sakit, Denis sedang tidak bertugas. Katanya sedang ada rapat. Yang menyambut kami adalah Cakra, sekretaris Denis.

Kami sudah saling kenal sebelumnya.

Saat menaiki tangga, Galih tampak sedikit melamun dan hampir terjatuh. Cakra bergerak lebih cepat dariku dan membantu menopang tubuh istriku. Tangannya bahkan tidak sengaja menyentuh bagian ujung buah dada istriku sampai membuat Galih bergidik.

Ini adalah pemandangan yang sangat aneh, tapi Cakra segera melepas pegangannya. Galih cepat-cepat melangkah naik tangga dan menggandeng lenganku. Tangan lembutnya mengusap-usap lembut kulitku, sedikit menenangkan.

Aku spontan melirik ke arah Cakra yang sudah berpaling dan melangkah maju. Tergambar sebuah senyuman aneh di bibirnya.

Karena tes DNA ini kulakukan tanpa sepengetahuan Galih, aku harus berdalih agar dia mau melakukannya. Untungnya, dia tampak sangat perhatian dengan anak ini dan menjalani tes tanpa ragu setelah mendengar bahwa semua ini demi kebaikan anak itu.

Tes-tes lain menunjukkan bahwa janinnya baik-baik saja, tapi hasil tes DNA baru bisa keluar paling cepat besok.

Selesai tes, aku meminta Galih duduk dan beristirahat sebentar. Aku ingin mencari Denis. Melihat hal ini, Cakra segera meyakinkan bahwa dia akan menjaga Galih dengan baik di sini.

Padahal aku justru semakin tidak tenang dengan adanya dia di sini. Aku sangat curiga dia punya niat tidak baik. Sorot matanya telah menjelaskan segalanya!

Tapi aku tetap menampakkan wajah biasa-biasa saja dan mengangguk padanya, segera berjalan pergi. Setelah tiba di tempat tersembunyi, aku diam-diam berbalik dan memperhatikan mereka. Kecurigaanku pun terbukti!

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B80672" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B80672
Salin

Istriku Hamil Anak Siapa?

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya