Bab 2
. Tuduhan Kebohongan dan Pengkhianatan
"Padahal saat menikah denganku, kamu sudah tidak perawan!”
DEG!
Sepasang mata Analea membelalak. Mendengar tuduhan sang suami, hati wanita itu seperti tertusuk ratusan belati.
"Astaghfirullah, Mas. kenapa Kamu berpikir seperti itu?!” Analea mengelus dadanya yang terasa nyeri. Ia tidak menduga Hamid akan mengatakan menuduhnya seperti itu. “Demi Tuhan, Mas. Aku masih suci! Kamu adalah satu-satunya pria yang mendapatkan kesucianku secara sah.”
Ia berusaha meyakinkan suaminya.
"Tidak perlu bawa-bawa nama Tuhan di hadapanku!” bentak Hamid. “Buktinya, malam itu tidak ada bercak darah di ranjang kita!"
Kedua tangan Analea makin menekan dada, menahan rasa nyeri yang luar biasa.. Lagi-lagi ia tak menduga suaminya mengatakan dia tidak perawan karena tidak ada bercak darah di ranjang mereka.
Padahal, ia tidak pernah berhubungan badan dengan siapa pun sebelum menikah dengan Hamid.
Namun, kini, semua tampak masuk akal. Sejak malam itu, Hamid berubah dingin padanya. Suaminya tersebut tidak pernah mengatakan apa pun dan justru selalu menghindar darinya.
"Mas Hamid adalah satu-satunya pria yang pernah melakukan hal itu denganku." Analea mencoba kembali meyakinkan suaminya dengan suara bergetar menahan tangis. Sekuat mungkin Analea mencoba untuk tidak menangis di depan suaminya.
Namun, suaminya tersebut hanya menatapnya dengan pandangan menghakimi, seakan-akan Analea adalah wanita paling kotor di dunia.
“Mas,” Dada Analea makin terasa sesak karena tidak dipercayai oleh pria yang baru saja menjadi suaminya sendiri. “Demi Tu–”
"Kamu nggak pantas bawa-bawa nama Tuhan, Analea!”
Analea menoleh ke arah suara nyaring yang tiba-tiba muncul dari arah ruang tamu. Ibu mertuanya menatapnya dengan wajah memerah marah, sama sekali tidak tergerak meskipun Analea sudah berurai air mata.
“Ibu …,” panggil Analea saat melihat ibu mertuanya, Irma, di depan Hamid.
Irma menatap nyalang menantunya itu. “Aku sudah menduga sejak awal kalau kamu memang bukan wanita baik-baik!” sergah wanita itu sembari menudingkan jarinya ke wajah Analea. “Ternyata memang benar pergaulanmu liar, sama seperti ibumu!”
“Astaga, Ibu.” Analea terbelalak mendengar hujatan dari mertuanya, ibu pria yang ia cintai. Meskipun ia baru sebentar menjadi menantu Irma, tetapi Analea sudah menganggap wanita itu sebagai orang tuanya sendiri. Namun, wanita ini pulalah yang menghujat asal usul dan ibu yang telah membesarkannya tanpa pamrih. “Ibu saya memang tinggal di area lokalisasi, tetapi beliau wanita baik-baik. Beliau telah merawat saya–”
“Halah!” Bu Irma mengibaskan tangannya. “Omong kosong. Memang ya, buah itu tidak jatuh jauh dari pohonnya. Kalau sudah begini, kasihan anakku, nikah sama penipu.”
Wanita tua itu kemudian mendengus kasar. Dengan nada ketus, ia melanjutkan, “Benar kata para tetangga, sudah benar anakku nggak mau lagi tidur sama kamu.”
Analea tersentak mendengar ungkapan ibu mertuanya.
Para tetangga …?
Sepasang mata Analea membulat ketika secara otomatis teringat obrolan ibu-ibu tetangga tadi pagi.
Apakah … ibu mertuanya ini adalah orang yang telah menyebarkan informasi bahwa ia dan Hamid sudah tidak tidur satu kamar?
"Maaf, Bu. Apa ibu mengatakan pada tetangga bahwa kami,” Analea menunjuk dadanya dan kemudian suaminya yang sejak tadi diam, tak bergerak sedikit pun dengan wajah keruh, “tidak tidur satu kamar?"
Seketika, Bu Irma tampak gugup. Wanita itu sekilas melirik ke arah Hamid, sebelum kemudian kembali membentak Analea.
"Dasar menantu kurang ajar! Berani-beraninya kamu menuduhku yang tidak-tidak!"
Analea menghapus bekas-bekas air mata di pipinya terlebih dahulu sebelum dengan sopan menyahut, "Bukan begitu maksudku, Bu–”
"Pintar ngomong kamu sekarang? Dasar anak pelacur!" bentak Bu Irma sekali lagi. Lalu, pada Hamid, ia berkata, “Lihat istri yang tadinya kamu banggakan itu, Nak. Padahal sudah menipu kamu sampai begini, sekarang malah menuduh ibu yang tidak-tidak.”
Bu Irma mengadu pada sang putra, menambahkan bahan bakar ke dalam api.
“Bu, bukan begitu,” ucap Analea kemudian. Nada suaranya melembut menghadapi ibu mertuanya yang marah-marah. “Aku tidak menuduh ataupun menyalahkan Ibu. Hanya saja, baiknya hal-hal tersebut disimpan–”
“Dengar itu, Hamid!” sergah Bu Irma sembari menunjuk ke wajah Analea. Satu lengannya merangkul lengan Hamid, seakan-akan meneguhkan putranya tersebut atas kelakuan sang istri. “Istrimu–”
"Analea!" Teriakan Hamid menghentikan ucapan Bu Irma.
Spontan saja Analea menoleh pada suaminya. Ia berharap Hamid akan membelanya.
Namun, harapannya hanyalah harapan kosong belaka.
"Dengar, Analea! Jangan coba-coba kamu melemparkan kesalahan pada ibuku. Apalagi menuduh beliau yang telah membesarkanku seperti itu! Seharusnya kamu sadar dengan dosa yang telah kamu perbuat, bukan malah melemparkannya pada orang lain."
Analea terhenyak mendengar ucapan suaminya. Tanpa mampu bicara lagi, wanita itu hanya terpaku meiihat Hamid meraih jaketnya dengan kasar, lalu berjalan menuju pintu keluar. Tatapannya nanar melihat punggung suaminya menghilang di balik pintu.
Sementara itu, diam-diam tanpa dilihat siapa pun, Bu Irma tersenyum penuh kemenangan sesaat, sebelum kembali menyalahkan Analea.
"Nah, kan. Gara-gara kamu, sih! Hamid pergi lagi, tuh!” ucap Bu Irma. “Mau bagaimana lagi, di rumah dibuat tidak betah sama istri sendiri. Yah, semoga saja di luar sana Hamid menemukan wanita baik-baik yang akan mendampinginya nanti."
Usai mengatakan itu, Bu Irma pergi meninggalkan Analea begitu saja sementara wanita muda itu tidak punya tenaga untuk sekadar membalas ucapan mertuanya, pun mengejar suaminya yang entah ke mana. Analea hanya sanggup berjalan masuk ke kamar dan menangis sendirian.
Entah berapa lama Analea menangis, terdengar nada ponsel Analea, menandakan ada pesan masuk. Wanita cantik itu kemudian menggeliat. Entah pukul berapa ia tertidur setelah semalaman menangis.
Area di sampingnya dingin–sama seperti malam-malam sebelumnya karena Hamid enggan tidur bersamanya.
Perlahan Analea meraih ponsel di atas meja rias, lalu membuka sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal.
Seketika napasnya terhenti saat melihat sebuah foto yang dikirim seseorang entah siapa itu padanya.
"Astaga, Mas Hamid!"
Air mata Analea lolos begitu saja melihat foto Hamid bersama seorang wanita cantik memasuki sebuah rumah. Saat itu juga tubuh Analea terasa lemas, apalagi saat membaca pesan yang ia terima bersamaan dengan foto tersebut.
[Suamimu menghabiskan malam panas dengan perempuan lain. Jika tidak percaya, kamu bisa pergi ke sini.]
Tak berselang lama, sebuah pesan kembali masuk dari nomor yang sama. Mata Analea melebar saat sebuah alamat tertera pada layar ponselnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Napasnya naik turun.
Seketika itu juga Analea merapikan penampilannya dan bergegas memesan ojek online untuk membuktikan kebenaran pesan-pesan dari nomor asing tersebut.
Ternyata alamat yang ia tuju tidak begitu jauh dari rumahnya. Dalam waktu 15 menit ia sudah sampai di depan sebuah rumah yang persis seperti di foto tadi. Ia terhenyak melihat sepatu suaminya berada di teras rumah bercat biru itu.
Seketika darah Analea mendidih.
Ia jelas mengenali sepatu itu, sepatu yang Analea berikan saat mereka merayakan ulang tahun sang suami sebelum mereka menikah dan sepatu itu pulalah yang justru mengantarkan suaminya ke rumah perempuan lain dan bermalam di sana.
Analea kemudian melangkah ke sebuah jendela yang tirainya tidak tertutup.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat pemandangan di depan matanya. Pria yang baru tiga minggu ini menjadi suaminya kini tengah tidur berangkulan dengan seorang wanita lain!
Bab 3
. Gugatan
“Bisa-bisanya dia menuduhku berzina sebelum menikah, sementara ia justru berselingkuh di belakangku."
Analea berguman pada dirinya sendiri. Seketika dadanya merasakan sesak dan nyeri. Kedua tangan Analea mengepal erat karena geram.
Sekian detik kemudian, Analea melangkah mendekati pintu, lalu menggedornya dengan sedikit kasar. Tidak ada jawaban.
Cukup lama ia menunggu.
Setelah berkali-kali mengetuk, akhirnya pintu itu terbuka dan muncullah seorang wanita.
Analea tertegun, merasa tidak asing dengan sosok wanita yang tengah berpenampilan seksi tersebut–atau lebih tepatnya, wanita itu belum mengenakan pakaiannya dengan benar. Wanita itu pernah beberapa kali Analea temui di rumah Hamid sejak ia belum menikah. Dulu, Analea sempat terheran dengan sambutan ibu mertuanya yang selalu hangat setiap wanita itu datang. Jauh berbeda ketika ia yang datang dan selalu disambut dengan dingin.
"Nandita, Siapa-?”
Ketegaran dan sorot dingin yang sejak tadi berusaha ditampilkan oleh Analea serta usahanya untuk tetap berdiri tegak, seketika goyah saat ia mendengar suara sang suami dari dalam rumah. Tatapan wanita itu beralih pada Hamid yang baru saja menampakkan dirinya.
Dada Analea makin bergemuruh saat melihat pakaian yang dikenakan suaminya masih berantakan–kemeja pria itu tidak dikancingkan dengan benar dan rambutnya acak-acakan.
"Analea ... kamu–" Langkah Hamid terhenti begitu saja. Pria itu tak menyangka orang yang mengetuk pintu berkali-kali di pagi buta itu adalalah istrinya sendiri.
"Kenapa, Mas? Kaget?” Analea sebisa mungkin menyembunyikan getar dalam suaranya saat bertanya. Tatapannya tajam, menghunjam kedua manik mata Hamid yang tampak terkejut. Kedua tangan wanita itu mengepal kuat di samping kiri dan kanan tubuhnya. Ia berusaha menahan diri agar tidak kehilangan kendali dan menjadi histeris demi menuntut penjelasan. “Ternyata kamu lebih paham seperti apa itu berzina. Bagaimana rasanya, Mas?"
Hamid sempat terhenyak melihat kehadiran Analea. Namun ia segera tersadar. Pria itu tiba-tiba melangkah maju dan menarik satu lengan Analea dengan kasar menepi ke dinding. Wajahnya memerah karena marah–sekaligus malu.
"Diam kamu!” bentaknya. Napasnya memburu. Ia tidak terima dengan kata-kata yang dilontarkan Analea. “Semua ini juga gara-gara kamu!"
Analea mengerutkan keningnya. "Gara-gara aku?” ulangnya tidak percaya. “Kamu menyalahkan aku atas perselingkuhan kamu ini, Mas?”
Mendengar itu Hamid menghempas napas kasar.
"Andai saja kamu bisa membuatku nyaman, aku tidak akan tergoda wanita lain!” desis Hamid. Ia memojokkan Analea ke dinding. Dalam posisi ini, Analea bisa melihat urat-urat wajah suaminya yang menonjol, menandakan kemarahan pria itu. “Andai saja kamu tidak menipuku, aku pasti tidak akan selingkuh! Toh, aku baru melakukannya satu kali.”
Analea mendengus mendengar ucapan suaminya. “Satu kali?” ulangnya. “Mau satu kali atau sepuluh kali, bagaimana aku bisa tahu kebenarannya? Bagaimana bisa aku percaya ucapan Mas Hamid begitu saja?"
Mendengar itu, Hamid terdiam. Analea seakan sedang membalikkan posisi mereka, menempatkan Hamid di pihak yang tidak bisa ia percayai.
"Kamu harus percaya aku, Analea!" Akhirnya, Hamid berkata tegas dengan wajah merah padam. Sementara cengkraman tangannya semakin menyakiti Analea.
Analea tersenyum getir. “Kenapa? Padahal sendirinya kamu tidak percaya padaku,” ucap wanita itu. Suaranya terdengar parau. “Kamu justru menuduhku yang tidak-tidak."
Hamid tak menjawab. Pria itu masih berdiri terpaku di depan Analea yang perlahan mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangan suaminya.
Setelah berhasil melepaskan diri, Analea mendorong Hamid mundur dan mengambil beberapa langkah menjauh sebelum kemudian menarik napas panjang. Ia mencoba untuk menghalau rasa sakit yang begitu dalam.
Kemudian wanita itu berkata, "Jika di antara kita sangat sulit untuk saling percaya, untuk apa lagi pernikahan ini dipertahankan, Mas? Lebih baik ... kita berpisah."
Sejak tadi, wanita yang dipanggil Nandita oleh Hamid tadi memandang sepasang suami istri itu dengan santai. Tubuhnya bersandar pada tepi pintu dengan kedua tangannya dilipat di depan dada. Mendengar ucapan Analea, wanita itu diam-diam tersenyum penuh kemenangan.
“Jangan mempermainkanku, Analea!”
Meskipun sempat tertegun saat menyaksikan istrinya berlalu begitu saja usai mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia duga sama sekali, Hamid merasa egonya seperti diinjak-injak oleh Analea.
Amarah Hamid pun seakan meledak. Ia yang sejak tadi menjaga volume suaranya karena khawatir akan didengar oleh warga sekitar, kini sudah tidak peduli lagi.
“Jika kita akan cerai, harusnya Aku yang menalakmu, karena sudah bohongi Aku! Lebih baik Kamu coba ngaca dulu dan pikirkan kesalahan yang telah kamu lakukan padaku!”
Analea memejamkan matanya sesaat dan menghela napas. Sedetik kenudian ia meneruskan langkahnya meninggalkan Hamid. Namun, kata-kata pria itu masih saja terus berdengung di telinganya.
Wanita itu mengayunkan kakinya tanpa arah. Di kepalanya terus terlintas bayangan Hamid dan perempuan selingkuhannya. Kejadian yang baru saja ia alami membuatnya tak mampu berkonsentrasi dengan baik. Hingga saat tiba di jalan besar, sebuah mobil mewah nyaris saja menyerempet tubuhnya.
“Aaah!”
Suara rem berdecit terdengar keras di pagi yang masih sepi itu.
Analea jatuh dengan posisi terduduk di tepi jalan. Setelah beberapa detik, baru ia merasakan sakit akibat benturan aspal. Hal itu membuat Analea spontan meloloskan tangisan, sesuatu yang ia tahan sejak tadi.
"Mbak ... Mbak nggak apa-apa, kan?" Sopir dari mobil yang tadi hampir menabraknya turun dan menghampiri Analea. Namun, wanita itu tak menghiraukan dan justru malah terus menangis. Sang sopir kebingungan. “Mbak?”
Suara tangisan Analea tampaknya mengganggu sesosok pria yang ada di kursi belakang mobil mewah tersebut.
Tidak sabar, pria asing itu memutuskan untuk turun dan langsung disuguhi sebuah pemandangan di mana seorang wanita yang tidak ia kenal tengah terduduk di pinggir jalan sambil menangis. Wajah wanita tersebut tampak sembab, pakaian bawahnya sedikit kotor lantaran terjatuh.
Pandangan pria dalam balutan jas mahal warna biru itu tiba-tiba bertemu dengan sepasang mata yang sudah basah milik Analea . Dilihatnya, wanita itu perlahan berdiri sembari meminta maaf.
"M-maaf ..., maafkan saya!"
Dengan suara serak, Analea meminta maaf pada sopir dan sosok pria asing di hadapannya dengan wajah tertunduk, Ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembab.
Hening. Tidak ada tanggapan dari sopir maupun pria berjas di hadapannya selama beberapa waktu, sementara air mata Analea terus berjatuhan.
Sebuah sapu tangan berwarna abu-abu tiba-tiba disodorkan pada Analea.
"Tenangkan dirimu." Suara bariton pria pemilik mobil itu terdengar jernih saat berucap, membuat Analea mencoba menghentikan tangisnya dan menerima sapu tangan tersebut untuk mengusap air matanya. “Mari saya antar ke rumah sakit terdekat.”
Analea spontan menggeleng.
"T-tidak perlu. S-saya tidak apa-apa," sahut Analea sedikit gugup. Ia menunduk makin dalam. “Sekali lagi, maafkan kecerobohan saya.”
"Hmm ...”
Analea tetap menunduk, menanti tanggapan lebih lanjut dari pria di hadapannya. Namun, wanita itu tidak mendengar pria itu kembali bersuara. Baru ketika Analea mendongak untuk melihat wajah dingin tersebut, pria itu berkata, “Pak, panggilkan taksi untuk Nona ini."
Sepasang mata Analea melebar, apalagi saat sang sopir mengangguk dan bergegas menyetop taksi yang kebetulan lewat.
"T-tidak usah, Tuan," tolak Analea. Namun, tidak dihiraukan.
Usai mendapatkan taksi, Analea dibantu masuk ke dalam mobil tersebut oleh sopir. Sedangkan Pria yang tampaknya berusia akhir tiga puluhan tersebut merogoh sesuatu dari balik jasnya, lalu menyodorkan sejumlah uang pada sopir taksi.
"Ini adalah bentuk tanggung jawab saya," ujar pria tersebut sambil melirik pada Analea yang baru saja duduk di kursi penumpang bagian belakang. Lalu, pada sopir taksi ia berkata, “Antarkan Nona ini sampai rumahnya.”
Analea hanya mengangguk samar. Tanpa ia sadari, satu tangannya masih menggenggam erat saputangan pria itu.
***
"Loh, ternyata Mbak Ana? Dari mana? Kok pulang pagi?"
Baru saja Analea turun dari mobil, suara familiar ibu-ibu tetangganya langsung menyapa. Rupanya sudah ada segerombolan ibu-ibu di depan rumahnya, mengelilingi gerobak sayur.
Merasa terlalu lelah, Analea hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.
Namun, seperti tidak memedulikan kelelahan Analea, ibu-ibu yang lainnya justru menimpali, "Tumben beda, pakaiannya rapi banget! Habis ketemu siapa sih?"
Suara centil ibu-ibu itu mengundang cekikikan dari para ibu lain. Namun, Analea mengabaikan mereka. Ia berusaha tidak memikirkan gunjingan apa yang akan mereka ucapkan dan masuk ke dalam rumah.
Namun, baru saja membuka pintu, terdengar suara bentakan dari Bu Irma.
"Dari mana saja!? Bagus ya, suami tidak di rumah malah keluyuran malam-malam! Memang dasar perempuan nggak benar!"
Bab 4
. Sebuah Penyesalan
"Memang dasar perempuan nggak benar!”
Analea terdiam saat mendapatkan sorotan tajam dan sinis dari ibu mertuanya. Namun, ia mencoba untuk tetap sopan meskipun sama sekali tidak mendapatkan respons baik dari Bu Irma.
"Ibu ... asalamualaikum!" Analea berucap lirih.
Ia terpaksa menunda untuk masuk ke kamarnya. Padahal ia sangat ingin merebahkan tubuhnya sejenak.
Tubuh Analea terasa lelah setelah menghadapi serentetan kejadian tadi, dan kini, ia pun harus menghadapi bentakan sekaligus tuduhan dari sang ibu mertua.
"Ternyata benar apa yang digunjing orang-orang tentang ka–”
"Bu ... Aku baru saja melabrak Mas Hamid.” Analea segera menyanggah ucapan Bu Irma yang tampaknya selalu ingin memojokkannya. “Dia semalam tidur dengan perempuan lain, Bu."
Meskipun Bu Irma selalu terkesan tidak menyukainya, Analea berpikir bahwa saat wanita paruh baya itu mendengar kelakuan anaknya di luar sana, Bu Irma akan terkejut dan bersimpati pada Analea.
Namun, ibu mertuanya itu malah tersenyum sinis– dan Analea lah yang terkejut dengan apa yang diucapkan wanita itu setelahnya.
"Ya, jelas saja putraku itu mencari wanita lain. Semua ini juga gara-gara kamu.”
Analea terkejut. “Ibu tahu?”
“Tahu atau enggak, Ibu paham kenapa Hamid begitu,” sahut Bu Irma. “Lagi pula, Hamid pasti tidak puas dan kecewa sama kamu yang sudah tidak gadis lagi ketika dia nikahi. Belum lagi masa lalumu yang kotor itu.”
Analea menghela napas, terdengar lelah. Sudah berkali-kali ia membela diri, tetapi tidak ada yang percaya padanya. Meskipun, ya, ia tahu bahwa ia sempat tinggal di area lokalisasi dan itu akan mempengaruhi pandangan orang-orang terhadap dirinya, ia tidak menyangka semua akan jadi seperti ini.
Apalagi karena suaminya dulu tidak mempermasalahkan masa lalunya tersebut.
Kini usai serentetan kejadian yang ia alami, Analea merasa terlampau lelah dan tidak sanggup lagi berusaha meyakinkan orang-orang tentang dirinya.
Ia bahkan tidak tahu entah sampai kapan ia akan menerima semua tuduhan dan hinaan ini, kapan mereka akan bosan menudingnya dengan kabar-kabar yang tidak benar.
Karena itu, akhirnya Analea berkata:
"Ya Bu. Aku akan mengajukan cerai pada Mas–”
"Siapa bilang aku akan menceraikanmu!?"
Ucapan Analea barusan tiba-tiba mendapat sanggahan dari arah pintu masuk. Hamid muncul dan langsung berdiri di hadapan Analea.
Bu Irma yang sempat senang saat mendengar kata cerai dari bibir Analea, seketika cemberut mendengar bantahan dari Hamid. Wanita paruh baya itu mendekat dan berdiri di sebelah putranya.
"Kenapa, Hamid? Memangnya kamu nggak malu mendengar omongan tetangga?" Bu Irma berusaha mengompori putranya.
"Tidak, Bu,” sahut Hamid tegas. “Aku tidak mau bercerai dengan Ana.”
Analea memandang sang suami yang tengah menatapnya. Sesaat kemudian Hamid melanjutkan ucapannya, "Setelah apa yang ia perbuat, aku tidak akan melepaskannya begitu saja, Bu."
Ucapan Hamid yang penuh penekanan membuat sepasang mata Analea terbelalak. Tubuh wanita itu melemas seketika.
"Mas." Analea merasa sudah lelah menghadapi sikap Hamid padanya. Pria itu sungguh sangat berbeda dengan sosok yang dikenalnya sebelum menikah. "Mas Hamid, kalau Mas memang nggak percaya sama aku, apa gunanya pernikahan ini kita lanjutkan?"
Sekuat mungkin Analea menahan jatuhnya air mata yang telah menggantung di kedua sudut matanya.
Hamid menoleh pada Analea dan menatap istrinya itu dengan tajam.
"Dengar, Ana. Ini bukan masalah kepercayaan.” ucap Hamid. Tatapan matanya menggelap. “Tapi, kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu mau dengan mudah. Setelah membuatku menikahimu, tentu saja aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku akan terus menahanmu agar tetap bersamaku!"
Sudah tidak ada air mata di wajah Analea, meskipun sepasang matanya tampak sembab. Yang tersisa adalah raut wajah lelah dan kekecewaan di sana–serta benih kemarahan karena diperlakukan secara semena-mena.
“Kalau aku masih istrimu, kamu tidak bisa menemui wanita tadi dengan bebas,” ucap Analea. “Aku bahkan bisa saja menyebarkan perselingkuhan Mas dan wanita itu, hingga ke kantor jika aku mau."
Mendengar ancaman Analea, Hamid spontan mendengus.
"Coba saja kalau bisa. Lagian memangnya Kamu punya bukti? Nggak, kan?" Hamid membalas.
Analea terdiam. Ia memang tidak mengambil potret saat suaminya tidur dengan wanita itu–ataupun saat ia mendapati mereka tidak berpakaian pantas di kediaman si wanita. Yang Analea punya hanyalah foto saat keduanya memasuki rumah, yang ia dapatkan dari nomor tidak dikenal tadi.
Bukti itu tentunya tidak kuat dan bisa dibantah begitu saja oleh semua pihak.
"Lagian siapa yang bakal percaya dengan omongan kamu?” lanjut Hamid, terdengar meremehkan di telinga Analea.
Benar. Apa yang dikatakan oleh Hamid semuanya benar.
Jika Analea menyebarkan perselingkuhan suaminya sekalipun, semua orang sudah pasti berpihak pada Hamid, mengingat tidak ada siapa pun yang percaya dia di sini.
Namun, Analea tidak mengiyakan ataupun memberikan konfirmasi bahwa ia setuju dengan kata-kata suaminya. Ia hanya diam dan memasang ekspresi tidak terbaca, membuat senyum di wajah Hamid perlahan menghilang dan meragukan ucapannya sendiri.
Sebelum Analea akhirnya masuk ke kamarnya, ia berucap pelan, “Terserah Mas. Keputusanku sudah bulat untuk bercerai.”
“Ana! Jangan keras kepala!” bentak Hamid. Namun, Analea tidak lagi menoleh ke suaminya hingga pria itu menjatuhkan diri di atas sofa ruang tamu. Hamid mengusap wajahnya yang tampak lelah. Dalam hati, ia bergumam, “Sial, kenapa pernikahan kita jadi seperti ini, Ana?”