Bab 1
Setelah mengetahui bahwa aku hamil, aku dengan gembira pergi ke perusahaan suamiku untuk menambahkan bayi itu ke dalam daftar penerima asuransi.
Lalu, aku melihat berkas suamiku.
[Pasangan: Vivi Wisnutama.]
[Anak-anak: Jovan Hariyono, Salsa Hariyono.]
Aku tercengang.
Manajer SDM mengatakan bahwa wanita itu adalah istri sahnya, pewaris sebuah grup hotel terbesar di Pantai Timur. Anak-anak mereka sudah berusia tujuh tahun.
Saat itu, dunia terasa runtuh.
Dia sudah punya istri, lalu bagaimana denganku?
Aku ini apa?
Kekasih selama lima tahun?
Teman tidur gratis?
Yang paling lucu adalah aku mengandung anaknya di dalam perutku.
Seorang anak yang tidak akan pernah menerima pengakuan dari ayahnya.
Anak haram.
Aku mengangguk kosong, seluruh tenagaku terkuras.
Kupikir suamiku selamanya adalah milikku. Tapi bahkan setelah kematian, marganya juga tidak akan ada di batu nisanku!
Selama lima tahun ada di sisi Doni, baru hari ini aku tahu bahwa dia sudah punya istri sah dan dua anak! Bahkan dia diam-diam memberiku pil KB selama ini. Dan sekarang, dalam perutku, sedang tumbuh anak yang tidak akan pernah dia akui sebagai darah dagingnya.
Aku berjalan keluar seperti orang linglung, langkah kakiku terasa ringan seolah menginjak kapas.
Nama Vivi Wisnutama, pewaris Keluarga Wisnutama, sangat tidak asing di telingaku. Doni sudah berkali-kali mengeluh soal dia. Dengan wajah penuh kejengkelan, Doni berkata, "Vivi itu sombong dan kasar, semena-mena karena kekayaan keluarganya. Sekali pun aku bangkrut, aku nggak akan pernah mau menikahinya!"
"Elma, hanya kamu satu-satunya yang benar-benar memahami aku di dunia ini. Tak ada satupun gadis kaya yang sungguh-sungguh mencintaiku."
"Sekarang dewan direksi perusahaan mulai menekanku, jadi hubungan kita sementara harus dirahasiakan. Tapi tenang saja, begitu aku sudah menguasai perusahaan sepenuhnya, aku pasti mengumumkan pernikahan kita."
Dan sekarang, semua itu terdengar seperti lelucon kejam. Anak-anak mereka bahkan sudah masuk SD. Lalu, apa arti pengorbananku selama lima tahun ini?
Sarapan yang kusiapkan setiap pagi, malam-malam panjang yang kuhabiskan sendirian menunggunya pulang, dan … nyawa kecil yang belum dia ketahui itu gini sedang tumbuh di dalam tubuhku. Apa semua itu tidak berarti baginya?
Aku berjalan seperti larut dalam mimpi. Ketika melewati ruang rapat, aku melihat dua sosok di balik pintu kaca, yaitu Doni dan ibunya.
Ibunya bicara pelan, suaranya nyaris tidak terdengar, "Apa yang akan kamu lakukan tentang urusan dengan Keluarga Wisnutama?"
Nada Doni terdengar kesal saat berkata, "Ibu, jangan ikut campur. Vivi memang sombong, tapi dia setuju mempertahankan status kita saat ini. Sekarang dia kembali dari Negara Subara untuk mengurus perwalian keluarga, aku nggak bisa mengabaikannya."
"Terus, bagaimana dengan Elma?" Nada ibunya berubah dingin. "Selama tiga tahun ini, dia sudah mengurusku dengan sangat baik."
"Secara resmi, dia masih pacarku," jawab Doni enteng. "Vivi nggak peduli soal status. Lagi pula aku juga lebih banyak berada di kantor. Ada Elma di rumah untuk merawat Ibu, aku jadi bisa fokus bekerja."
Aku segera menutup mulutku. Seperti ada rasa darah di lidahku.
Di mata Doni, aku hanya pengasuh gratisan.
"Lagi pula, Vivi hanya memintaku ke Negara Subara beberapa hari setiap bulan untuk menemuinya dan anak-anak. Tenang saja, Elma itu sangat polos. Dia nggak akan curiga."
Darahku terasa berhenti mengalir. Suara gemuruh memenuhi telingaku, seperti ada air es yang disiram ke kepalaku.
Jadi, saat bilang sedang "dinas ke luar negeri", sebenarnya dia sedang bersama keluarga aslinya di Negara Subara.
Setiap kali dia mengigau dalam tidur, bukan karena ingin bertemu calon bayi kami, tapi karena merindukan anak-anaknya yang tinggal di Benua Etuania.
Saat aku hendak pergi, kudengar ibunya bicara lagi dengan nada yang lebih serius, "Anak-anak itu cepat atau lambat harus sekolah di Kota Orawa. Elma nggak akan bisa dibohongi terus."
Doni mendengus dingin, lalu berkata, "Elma bahkan nggak punya buku nikah, urusan anakku itu bukan haknya. Bilang saja ini pernikahan bisnis dan harus dilakukan. Dengan kepribadiannya, Elma pasti mengerti. Malah bisa jadi ikut bantu menjaga anak-anak."
Tiba-tiba perutku terasa sakit luar biasa. Aku membeku di tempat.
Ibunya sempat ragu, lalu berkata pelan, "Elma sudah merawatku selama ini, bukankah ini terlalu kejam untuknya?"
Nada suara Doni langsung dingin. Dia berkata, "Ibu, jangan naif! Apa Ibu nggak ingin melihat cucu kandung Ibu? Vivi itu anak keluarga terpandang, tapi dia mau melahirkan anak-anakku dan merawat mereka sendirian di Negara Subara selama ini. Sekarang dia hanya minta anak-anak kembali ke rumah, apa kita harus memikirkan perasaan orang luar?"
Aku ingin tertawa saking sakit hatinya.
Selama lima tahun aku selalu ada di sisinya dan di matanya aku hanya “orang luar.”
Akhirnya, ibunya pun menyerah dan berkata, "Ya, kamu benar. Darah daging tetap yang paling utama."
Kulihat dari balik kaca, dua orang itu sedang menyusun rencana dengan penuh perhitungan. Aku tidak bisa menahan tawa.
Lucu sekali. "Darah daging" yang mereka bangga-banggakan itu, justru sedang tumbuh dalam rahimku.
Selama lima tahun penuh.
Setiap kali dia pulang ke rumah dalam keadaan lelah, aku selalu tepat waktu meminum obat penyubur yang diresepkan dokter, demi meningkatkan peluang hamil.
Ketika dokter bilang kandunganku lemah, aku bangun subuh setiap hari untuk lari kecil dan mengatur pola makan dengan ketat.
Saat tahu hormonku rendah, aku rela menanggung suntikan hormon yang menyakitkan.
Lenganku penuh bekas tusukan jarum, suasana hatiku naik turun karena efek samping obat itu. Semua itu kulakukan dengan sukarela.
Tiga hari lalu, ketika tahu aku hamil, aku menangis bahagia. Penuh harapan menyusun kejutan untuk Doni.
Siapa sangka, di saat yang sama, mereka sedang sibuk menyusun rencana untuk membawa pulang istri dan anak-anaknya ke rumah tanpa sepengetahuanku.
Kukuku mencengkeram telapak tangan sampai berdarah, tapi sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa dingin di hatiku. Sampai akhirnya, kurasakan gerakan halus dari bayi dalam perutku dan aku tersadar sepenuhnya.
Kalau mereka menganggap anak orang lain itu segalanya, biar aku tunjukkan bahwa anak ini sepenuhnya adalah milikku.
Kuraih perutku, di bibirku muncul senyum tipis namun penuh tekad.
'Doni, kamu pikir aku ini apa? Kelinci kecil yang penurut?'
'Kalian sudah membohongiku dan menghinaku, lalu masih berharap aku akan mengurus istri dan anak-anakmu?'
'Jangan mimpi!'
Kekayaan Keluarga Hariyono?
Harapan ibumu?
Garis keturunanmu?
Tunggu saja, Doni Hariyono. Aku akan tunjukkan pada kalian, jangan remehkan wanita yang sedang hamil. Apalagi wanita yang berkemampuan dan punya sumber daya, akan membuat kalian mendapat konsekuensi besar!
Bab 2
Di dalam kamar tidur, aku diam-diam merapikan pakaian.
Di cermin meja rias, wajahku tampak pucat tanpa warna. Di sebelahnya terletak satu set parfum pemberian Doni, katanya itu edisi terbatas yang khusus dibawa langsung dari Kota Batri.
Memikirkannya sekarang, terasa sangat ironis.
“Elma.”
Suara Doni tiba-tiba terdengar dari belakang. Aku kaget dan botol parfum itu terlepas dari tanganku, pecah berkeping-keping di lantai marmer.
“Hati-hati!”
Dia segera berlari mendekat, meraih tanganku untuk memastikan tidak terluka karena pecahan kaca.
Lampu kristal di kamar menyinari alisnya yang berkerut tegang, tampak seperti manajer investasi yang sedang menghadapi krisis mendadak.
Saat melihatku tidak terluka, dia baru bisa bernapas lega. Lalu berbalik dan memanggil dari pintu, “Mirna! Cepat bersihkan lantainya! Kenapa ceroboh sekali, bagaimana kalau kena Nyonya?”
Dulu perhatian semacam ini bisa membuat hatiku berdebar. Namun, setelah mendengar pembicaraannya dengan ibunya, semua itu hanya menjadi sandiwara yang membuatku mual.
“Bukannya malam ini ada acara makan malam dengan dewan direksi perusahaan?” tanyaku sambil menatap bayangannya di cermin, suaraku datar tanpa emosi. Jari-jarinya mulai melonggarkan dasi, itu kebiasaannya saat sedang gugup.
Ketika aku bertanya itu, dalam hatiku masih ada secercah harapan.
Mungkin dia pulang lebih awal karena merindukanku.
Mungkin dia akan bilang ingin menghabiskan waktu bersamaku, tapi malah ....
“Keluarga Wisnutama mengatur supaya dua anak mereka datang ke sini. Katanya itu anak dari sepupu Vivi yang harus sekolah di Kota Orawa, Dia ngotot sekali menyuruh kita untuk menjaga mereka.”
Kata-katanya penuh ketidaksabaran, tapi juga ada rasa terpaksa.
Sinar senja menembus jendela besar, menerangi sisi wajahnya yang tampan dengan cahaya keemasan. Wajah yang telah kucintai selama lima tahun. Namun saat ini, sinar itu malah membuat mataku perih.
“Perusahaan butuh dukungan dana dari Keluarga Wisnutama, aku nggak bisa menolak.”
Tiba-tiba dia menggenggam tanganku yang dingin. Telapak tangannya menghangatkan tanganku. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku lembut, seolah memberi penghiburan padaku.
“Jangan khawatir, anak-anak itu akan ditempatkan di kamar tamu. Mereka nggak akan mengganggu kehidupanmu.” Akhirnya, Doni benar-benar melakukan hal ini.
Aku diam sesaat, lalu perlahan menarik tanganku. Aku berkata, “Terserah kamu saja.” Suaraku datar seperti sedang membicarakan pasar saham esok hari, bukan retakan besar dalam hubungan kami.
Mendengar itu, dia jelas merasa lega. Wajahnya bahkan tampak lebih santai. Segera dia mengambil ponselnya dan berkata, “Mirna, siapkan teh penenang untuk Nyonya, dia akhir-akhir ini susah tidur. Jangan lupa tambahkan madu, dia suka yang manis.”
Dia masih ingat seleraku, ingat aku sering susah tidur, dan ingat semua detail kehidupan pribadiku. Namun, dia juga ingat tahun anggur favorit Vivi, alamat vila wanita itu di Negara Subara, dan bagaimana bersikap pada anak-anaknya dengan baik.
Saat Doni meninggalkan kamar, langkahnya semakin cepat, sepatu kulitnya bergemuruh di lantai kayu.
Melihat punggungnya menghilang, aku tertawa kecil dengan sinis. Secepat itu dia pergi, ingin melaporkan kabar baik pada siapa?
Setelah memastikan dia benar-benar pergi, aku membuka brankas dan mengambil amplop warisan dari ayahku. Sebelum meninggal Ayah berpesan agar aku memakai uang itu untuk memulai kehidupan baru jika hidupku tidak berjalan baik.
Cocok sekali. Nanti anakku hanya butuh kasih sayang seorang ibu, itu sudah cukup. Siapa bilang anak harus punya ayah?
“Elma?”
Suara Doni terdengar lagi, membuatku hampir menjatuhkan amplop itu. Entah sejak kapan dia kembali, matanya tertuju pada amplop di tanganku. Dia berkata, “Mau kamu gunakan untuk warisan ayahmu itu?”
“Bukannya kamu sudah pergi?” Aku berusaha tenang dan memasukkan amplop ke dalam tas.
Doni mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. Dia memegang wajahku dengan kedua tangannya dan menatapku dengan penuh perhatian. Dia berkata, “Aku merasa kamu lemas hari ini, apa kamu sakit?”
Wajahnya penuh kasih, mata coklat itu menatapku hangat dan lembut. Kalau aku tidak melihat catatan pernikahannya dengan mata kepalaku sendiri, aku hampir saja percaya bahwa dia masih pria yang sama, yang pernah meneduhiku di tengah hujan malam itu.
“Jangan terima dua anak itu. Kita buat anak kita sendiri, bagaimana?”
Begitu mengatakannya, aku langsung menyesal. Permintaan yang rendah hati ini terdengar menyedihkan, tapi harapan kecil di hatiku tetap muncul tanpa bisa dicegah.
Wajah Doni berubah serius dan keheningan yang panjang terasa menekan. Aku melihat keraguan dan pertimbangan di matanya, sampai akhirnya dia menghela napas dan berkata, “Elma, dewan direksi perusahaan sudah menyetujuinya.”
Kalimat pendek itu langsung menghancurkan semua mimpi dan harapanku.
Mungkin karena kekecewaanku terlalu jelas, dia segera menarikku ke pelukannya dengan lembut. Lalu berkata, “Setelah urusan dengan anak-anak itu beres, aku akan mengurangi perjalanan dinas dan lebih banyak waktu di rumah untuk menemanimu. Kita pasti akan punya anak, percayalah padaku.”
Melihat wajahnya yang familiar itu, aku teringat tiga tahun lalu. Saat hendak terbang ke Negara Subara, dia juga memelukku seperti ini dan berjanji akan segera kembali.
Dia memang kembali, tapi hatinya tertinggal di sana.
“Aku mengerti.” Aku tersenyum tipis, menatap punggungnya yang bergegas pergi.
Karena di sistem pencatatan pernikahan Kota Orawa tidak ada nama kita, surat nikah kita di Marinawa jelas tidak punya kekuatan hukum. Setidaknya aku tidak perlu repot-repot mengurus perceraian.
Mulai sekarang, di dunia ini tidak akan ada lagi seorang istri Doni bernama Elma lagi.
Bab 3
Doni bekerja dengan sangat efisien. Pagi tadi dia masih dengan lembut menenangkanku di samping tempat tidur. Dia bilang kalau keputusan dewan direksi perusahaan membuatnya tak punya pilihan lain. Namun sebelum tengah hari, seluruh apartemen di lantai atas sudah sibuk. Pelayan sibuk membeli perabotan anak, petugas kebersihan menyiapkan kamar tamu, dan koki menanyakan selera makan anak-anak.
Aku hanya berdiri dengan acuh, lalu kembali ke kamar mengambil koper yang sudah kukemas rapi. Baru saja aku sampai di ruang depan, tiba-tiba sebuah gelas kopi melayang ke arahku.
Secangkir kopi susu panas tumpah membasahi seluruh tubuhku. Kopi meresap ke baju sutra yang kupakai, membuat kulitku perih terbakar.
“Wanita jahat!” Seorang bocah laki-laki berumur sekitar delapan atau sembilan tahun, berdiri di tangga sambil memegang gelas lain.
Di sampingnya, seorang gadis kecil mengarahkan ponselnya ke arahku. Dia berkata, “Ibu bilang benar, wanita sepertinya memang harus diberi pelajaran agar nggak mengganggu Ayah!”
Pyar!
Gelas kedua dilempar dan pecah di kakiku, serpihan kaca beterbangan.
Aku berusaha menghindar, tapi aku melihat ada seorang wanita berdiri di belakangku.
Vivi mengenakan setelan mahal, menatapku dari atas dengan sikap merendahkan. Dia berkata, “Bukannya ini ‘pacar’ Doni? Kenapa seberantakan ini?”
Dia sengaja menekankan kata ‘pacar’ dengan nada mengejek. Bibirnya yang diwarnai merah terang membentuk senyum sinis.
“Kalian ....” Saat aku hendak bicara, tiba-tiba bocah laki-laki itu meluncur turun tangga dan mendorongku dengan keras.
Aku terhuyung dan jatuh, lututku membentur keras lantai marmer.
“Siapa yang menyuruhmu menatap ibuku?” Gadis kecil itu berlari mendekat, kuku-kukunya yang runcing mencakar lenganku hingga meninggalkan bekas luka dalam.
“Wanita rendahan harusnya berlutut!”
Vivi dengan anggun merapikan rok dan tersenyum sinis. Dia berkata, “Dua anakku ini memang agak temperamental, tapi ....” Dia menunduk, menggunakan gesper tas mahalnya untuk mengangkat daguku. Lalu berkata, “Doni pun nggak akan marah pada mereka, apa kamu percaya?”
Baru saja selesai bicara, bocah itu mengambil vas bunga di dekatnya dan menyiramkan air ke wajahku. “Ibu bilang, Ayah paling sayang kami! Bahkan kalau kami mengusirmu, Ayah akan tetap mendukung kami!”
Air kotor membasahi wajahku, aku tidak bisa melihat apa-apa dengan jelas. Dari kejauhan terdengar Vivi memerintahkan pelayan, “Periksa barang bawaannya, aku ingin tahu apa yang mau dia bawa pergi.”
“Aku nggak bawa apa-apa ....” Belum sempat aku selesai bicara, perutku tiba-tiba kena pukulan keras.
Gadis kecil itu entah dari mana mengambil tongkat hoki dan memukul perutku dengan keras. Dia berkata, “Kamu sudah menggoda Ayah kami! Kamu menghancurkan keluarga kami! Ibu bilang, kalau kamu hilang, Ayah hanya akan jadi milik kami!”
Aku meringkuk kesakitan di lantai. Dari kejauhan terdengar suara Vivi dengan tenang berkata, “Sebenarnya aku ingin kamu pergi dengan tenang. Sayangnya... kamu hamil di saat seperti ini, benar-benar nggak tahu waktu.”
Wajah polos gadis kecil itu berubah menjadi senyum penuh kejahatan. Tongkat hoki itu terus menghantam tubuhku, sakitnya membuat pandanganku mulai gelap. Tepat ketika aku hampir kehilangan kesadaran, tiba-tiba terdengar suara.
“Berhenti!”
Suara Doni terdengar dari pintu.
Dalam keadaan setengah sadar aku melihat dia berjalan cepat ke arahku dan merampas tongkat hoki dari tangan anak itu.
Kedua anak itu saling pandang, lalu langsung memeluk Doni sambil menangis tersedu-sedu.
“Ayah! Dia bilang kami anak haram, mau memanggil polisi ... kami takut ....”
“Dia juga memukul Salsa!” Bocah laki-laki itu menarik lengan saudaranya dan menunjukkan beberapa bekas merah dan berkata, “Lihat!”
Wajah Doni membeku, matanya beralih-alih antara aku dan anak-anak itu.
Tiba-tiba perutku nyeri seperti diremas sampai robek. Cairan hangat mengalir deras dan membentuk noda merah yang mengerikan di lantai putih.
“Cepat ... cepat panggilkan ambulans!” Aku meraih kaki celananya. Darahku membekas di jasnya sambil berkata, “Ini anakmu ....”
Tubuh Doni kaku. Namun, saat Vivi tertawa dingin, dia tampak ragu.
“Aktingmu bagus sekali.” Vivi mengeluarkan saputangan dan mengusap tangannya.
“Kamu selalu membuatnya minum pil KB, ‘kan? Kok dia bisa hamil?”