Bab 1

Aku terlahir dengan libido yang rendah. Hal ini pun membuat suamiku merasa frustrasi. Oleh karena itu, dia merekomendasikan seorang dokter pengobatan tradisional yang terkenal kepadaku ....

Aku tidak menyangka cara pengobatannya ternyata seperti ini...

Sebelum aku sempat berbicara, pria tampan dan tegap itu langsung mengenaliku. Dia membawaku ke lantai dua sambil menanyakan detailnya.

Aku menjawab dengan malu, "Aku juga mau tidur dengannya. Tapi, setiap kali dia menyentuh bagian pribadiku, aku merasa nggak nyaman dan menolak secara naluriah."

Pria itu berbalik. Tangannya yang kuat mengusap bokongku, lalu meremasnya dengan kuat ....

Aku secara naluriah melangkah mundur, lalu menatap wajahnya yang tegas ....

"Kamu ...."

Baru saja aku mengucapkan sepatah kata, dia sudah menyela, "Bu Tania, jangan salah paham. Aku cuma mau menguji reaksi normalmu waktu kamu lengah ...."

Ekspresinya terlihat profesional dan aku pun menahan rasa gelisahku.

Kemudian, dia bertanya, "Apa kamu pernah punya pengalaman seksual yang buruk sebelumnya?"

Aku menggeleng.

"Penyakit ini bisa disembuhkan!"

Aku langsung merasa senang.

Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Pengobatannya harus dengan teknik pengobatan tradisional yang diwariskan keluargaku secara turun temurun. Tapi, teknik ini melibatkan kontak yang mendalam dengan bagian pribadimu."

Setelah mendengar ucapan itu, aku tiba-tiba merasa agak gugup dan ingin segera pergi. Namun, setelah mengingat keadaanku akan membuat suamiku menderita, aku pun menggertakkan gigi dan menyahut, "Dokter, aku bersedia diobati ...."

Dia tersenyum puas dan membuka pintu. Ruangan ini sangat remang dan aku samar-samar bisa melihat sebuah tempat tidur besar berwarna merah.

"Berbaringlah di tempat tidur, lalu buka rokmu."

Dia menutup pintu tanpa menyalakan lampu. Tiba-tiba, aku merasa gugup dan napasku menjadi tidak teratur.

"Jangan gugup. Lampu di kamar ini rusak. Kamu baring saja dulu. Aku akan membantumu."

Dia duduk di sampingku, lalu menyalakan senter kepalanya dan mengenakan sepasang sarung tangan kulit. Di ruangan yang tertutup dan remang-remang ini, aku bisa mendengar napasku yang gugup. Saat membayangkan seorang dokter tampan yang tak kukenal menyentuh area sensitifku, aku pun merasa agak kurang nyaman.

Kemudian, dia membungkuk sedikit. Tatapannya terlihat lembut dan meyakinkan. "Bu Tania .... Sekarang, aku akan memeriksamu."

Selanjutnya, dia perlahan-lahan mengangkat rokku dan membuka pengait tersembunyi di celana pengamanku. "Ayo angkat kakinya ...."

Aku dengan patuh mengangkat kakiku, lalu dia menurunkan celana pengamanku dengan lembut. Dia berada sangat dekat denganku hingga napasnya yang panas menerpa celana dalamku. Aku seketika membeku dan merasakan rasa malu yang tak terjelaskan. Aku memejamkan mataku tanpa sadar.

"Buka matamu! Kamu perlu belajar memahami tubuhmu," ujarnya dengan sangat lembut.

Entah kenapa, ucapan lembutnya membuatku merasa damai .... Aku pun menurut dan membuka mataku. Begitu aku membuka mataku, dia langsung merobek celana dalamku dan menopang kakiku dengan bingkai kayu.

Hatiku tiba-tiba menegang. Situasi mendadak ini terasa agak tidak senonoh dan aku hampir berteriak.

Untungnya, dokter itu tidak terburu-buru membuka kakiku seperti yang dilakukan suamiku, juga tidak mengatakan sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, dia menatapku dengan tatapan profesional, tenang, dan lembut. Namun, berhubung bagian bawah tubuhku diamati orang asing, itu tetap membuatku tersipu malu.

Kemudian, dia menyingkap kemeja putih lengan pendekku hingga ke ketiak dan mengekspos bagian dadaku yang bergetar ....

"Mulai besok, buang semua pakaian dalam berwarna dinginmu. Kenakan sesuatu yang hangat dan cerah, seperti pakaian dalam renda merah atau pakaian dalam sutra hijau zamrud bermotif kupu-kupu ...."

Bab 2

"Baik, Dokter Jafar!" jawabku dengan wajah memerah dan suara gemetar.

Aku memang selalu memakai pakaian dalam putih sejak kecil. Pantas saja libidoku begitu rendah.

Kemudian, dia melepas braku dan memperlihatkan payudaraku yang bergetar ....

"Gimana rasanya?"

Sebelum aku sempat bereaksi, Dokter Jafar sudah mengulurkan tangannya untuk menggenggam dan meremas payudaraku.

Aku menggigit bibir bawahku karena malu dan menjawab, "Ng ... nggak ada rasa apa-apa."

Wajahku memerah karena malu ....

Dia meningkatkan tekanan remasannya dan berdiri dari kursi. Sentuhannya yang lembut menjadi sedikit lebih kasar, tetapi tidak menyakitiku. "Sekarang?"

"Ada, ada."

Disentuh seperti ini oleh orang asing di ruangan yang remang-remang, aku secara naluriah mencengkeram seprai dengan kuat dan mendesah.

"Sensitivitas tubuhmu terlalu rendah."

Dokter Jafar mengucapkan diagnosisnya saat ini. Kemudian, satu tangannya menelusuri pusar dan perut bagian bawahku ....

Aku mau tak mau gemetar sejenak dan secara naluriah menahan tangannya untuk menghentikannya melanjutkan gerakannya.

"Ada apa?" tanyanya sambil menatapku dengan bingung.

"Nggak apa-apa, cuma ... agak gugup."

"Santai saja. Sebentar lagi, kamu akan merasa baik-baik saja," hiburnya sambil meraih tanganku yang menahannya dan perlahan-lahan melepaskannya. Sebelah tangannya lagi menepuk-nepuk bokongku.

Aku memalingkan wajah dan tidak berani menatapnya. Aku menarik napas dalam-dalam dan berusaha sesantai mungkin untuk memudahkan pengobatannya.

Dia mengangkat pinggulku sedikit, lalu menurunkan rokku yang masih bertengger di pinggang. "Kamu sendiri yang mencukurnya?"

Aku menggigit bibir bawahku dan menggeleng. "Nggak, ini alami ...."

"Indah sekali!"

Saat dia berbicara, aku samar-samar mendengarnya menelan ludah. Aku pun bertanya-tanya apakah itu hanyalah ilusiku.

"Nanti, aku akan bersihkan kamu dengan teknik pengobatan leluhurku."

Seusai berbicara, dia mengeluarkan sebuah penutup mata dan melanjutkan, "Kamu terlalu gugup. Pakai ini dan biasakan dirimu dengan lingkungan asing ini. Ini akan merangsang tubuhmu dan membantumu rileks. Ingat, jangan melepasnya. Aku sedikit banyaknya akan menyentuh bagian pribadimu. Aku khawatir kamu merasa nggak nyaman atau menolaknya ...."

Aku memakai penutup mata itu dengan patuh dan mengangguk.

Pandanganku menjadi gelap. Seperti yang dikatakan oleh Dokter Jafar, aku samar-samar bisa merasakan tubuhku menjadi lebih sensitif. Aku bahkan sedikit menantikan sesuatu ....

Ternyata memang berefek ....

Tiba-tiba, ada sesuatu yang menyelimuti dadaku dan terasa hangat. Berhubung diliputi rasa malu, tubuhku menjadi makin sensitif dan mulai gemetar .... Namun, aku tidak berani bergerak karena takut mengganggu pengobatannya.

Dia berdiri dan menepuk-nepuk bokongku. "Sekarang sudah lebih sensitif dari sebelumnya, 'kan?"

Aku mengangguk. "Emm, benar."

"Oke, mari kita lanjutkan ke langkah berikutnya. Aku akan bersihkan kamu."

Setelah itu, dia bergerak ke bagian bawah tubuhku.

Aku tidak tahu bagaimana dia membersihkanku dan itu membuatku merasa sangat tidak nyaman. Sentuhan yang tak terjelaskan itu membuatku secara naluriah mengangkat bokongku ....

"Emm, Dokter, mau cuci berapa lama? Aku mau ke kamar mandi," tanyaku dengan canggung.

Dia tiba-tiba berhenti. "Tahan dulu, masih butuh waktu beberapa saat. Tubuhmu kelebihan panas yang terlalu banyak hingga hampir membentuk racun panas yang menyumbat respons sarafmu .... Kamu harus dibantu dengan teknik khusus untuk lancarkan sirkulasi darahmu. Jangan keberatan, ya."

"Oke!" Aku menggerakkan tubuhku dan menyetujuinya dengan enggan.

Selanjutnya, aku merasakan tangannya yang kuat dan kasar di dadaku, lalu perlahan-lahan meluncur turun ke perut dan berhenti di antara kedua kakiku.

"Gimana rasanya?"

Seluruh tubuhku menegang. Aku mencengkeram seprai erat-erat dan menjawab dengan jujur, "Agak kurang nyaman dan aneh."

"Santai, jangan gemetar."

Hanya saja, tepat pada saat aku rileks, dia tiba-tiba memasukkan tangannya. Stimulasi tiba-tiba itu hampir membuatku menjerit dan kakiku menendang tanpa sadar. Aku tidak dapat menggambarkan perasaan itu dengan kata-kata.

"Jangan gugup. Santai .... Tahan sebentar lagi. Kamu akan merasa lebih baik setelah ini," ucapnya dengan tenang.

Gerakannya menjadi makin aneh. Jari-jarinya mengusap lembut setiap lembarnya ....

Tubuhku gemetar hebat. Secercah harapan yang telah lama hilang juga samar-samar tumbuh dalam hatiku ....

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B15318" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B15318
Salin

Istri yang Libidonya Rendah

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya