Bab 1

"Aku hamil anakmu, Reza."

Nia datang menemui pria ini setelah menemukan ada kehidupan baru dalam rahimnya. Tanpa sadar, Nia menunduk. Bahkan, tangannya bergetar menanti reaksi dari sahabat sejak SMA, sekaligus pria yang dicintainya ini.

"Apa kau yakin itu anakku? Kita hanya melakukan sekali dan aku dalam keadaan mabuk," kata Reza datar.

Deg!

"Lagi pula ... jika pun memang benar anakku, tidak mungkin aku bertanggung jawab," ucap Reza sebelum kembali berkata," kau tahu kan aku begitu mencintai Raya? Sebentar lagi, kami juga akan menikah."

Rententan kalimat dari pria itu membuat hati Nia berdenyut nyeri. Pria itu benar-benar menolaknya tanpa berpikir dua kali. Bahkan, Reza seakan meragukan dirinya, seakan dia wanita murahan.

Sungguh, Nia begitu kecewa. Namun, dia tidak dapat berbuat apa-apa. Ini semua karena kebodohannya! Begitu mudah dirinya menemani Reza yang sedang hancur saat dicampakkan Raya, hingga merenggut kesucian, bahkan menghadirkan janin tak bersalah ini.

"Ta--tapi--" ucap Nia terbata-bata, berusaha untuk membela diri.

Namun, belum sempat berbicara, ucapannya telah dipotong Reza dengan cepat, "--Gugurkan saja dan kita lupakan semuanya. Kamu tetap dapat menjadi temanku dan Raya."

"Tapi, ini anakmu. Apa kau tega membunuhnya?" Setelah mengumpulkan keberaniannya, Nia akhirnya bisa mengeluarkan isi pikirannya. Namun, tanpa dia sadari lelehan air mata telah luruh di pipinya.

Sayangnya, Reza tidak tersentuh sama sekali. Pria itu justru memutar bola matanya malas melihat Nia yang bersikukuh. "Terserah, kau. Yang jelas, dia bukan anakku! Sekarang, keluar atau kupanggil satpam!"

Tangan Nia mengepal. Namun, dia tahu bahwa dia tidak bisa apa-apa. Dengan lesu, Nia keluar dari ruangan Reza dan kembali ke rumahnya. Sungguh! Dia bingung bagaimana kelanjutan janin dan hidupnya nanti. Sayangnya, sesampainya di rumah, ada hal yang lebih mengerikan.

Nia begitu terkejut melihat laporan kehamilannya ada di tangan Anwar, Bapaknya. Belum sempat memproses semuanya, Anwar kini telah datang menghampiri Nia.

Plak!

Tamparan keras dilayangkan Anwar pada Nia. Wajah pria itu mengerut merah. "Apa ini, Nia? Siapa Ayah anak di kandunganmu?"

Tubuh Nia bergetar hebat. Seumur hidupnya, Anwar tidak pernah memarahinya. Dia adalah Bapak yang benar-benar penyayang dan selalu memberikan yang terbaik untuk Nia. Kali ini, Nia tersadar bahwa dia sudah sangat mengecewakan Bapaknya.

"Siapa Ayahnya?" tanya Anwar lagi.

Nia pun menggeleng. Dia tidak ingin menyebutkan nama laki-laki brengsek yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Mengenang wajah Reza sungguh membuat dada begitu sesak, hingga matanya memerah karena hampir menangis.

"Jawab! Siapa laki-laki itu?" Anwar menjadi tidak sabar melihat respons dari putrinya itu.

Sayangnya, meski sudah ditanya berulang kali, Nia masih memilih untuk bungkam seribu bahasa.

Melihat itu, Anwar hilang kesabaran. Pria itu benar-benar hancur mengetahui perbuatan memalukan yang sudah dilakukan oleh putrinya sampai harus mengandung diluar nikah.

Kini, bahkan putrinya itu tidak berani memberikan satu nama yang harus bertanggung jawab? Suara Anwar seketika berubah menjadi datar, "Jawab atau kau bukan anakku lagi."

Mendengar ancaman Anwar, Nia menangis. Dia tidak ingin dibenci oleh Bapaknya, apalagi sampai tidak dianggap anak lagi. Namun, Nia tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

Sungguh, Nia tidak pernah menyerahkan diri pada Reza begitu saja! Lelaki itulah yang mabuk dan merenggut kesuciannya secara paksa sampai dia bisa hamil saat ini. Kejadian itu benar-benar di luar dugaannya. Nia sudah menolak, tetapi kekuatan pria itu lebih besar. Tapi, siapa yang akan percaya padanya? Semua orang pasti akan langsung menyalahkan dirinya.

Hanya saja, wajah kecewa Anwar begitu menusuk hati Nia. Akhirnya, dengan bibir bergetar dan air mata berlinang, Nia menyebutkan nama Ayah dari janinnya, "Reza...."

Anwar terdiam mendengar nama yang disebutkan oleh Nia. Pria itu lalu memegang dadanya yang terasa nyeri dan sesak. Anwar tahu benar bahwa Reza adalah orang berada yang tidak sebanding dengan mereka.

"Nia, kenapa harus dia? Berapa kali bapak katakan padamu? Jangan berhubungan dengan orang kaya! Kita ini orang miskin. Bapakmu ini hanya pedagang ikan di pasar!"

Air mata Nia semakin membanjir pipi, rasa sakit ini sungguh begitu luar biasa.

"Dia harus bertanggung jawab!" Dengan cepat, Anwar menyeret Nia ke rumah Reza untuk menemui kedua orang tua Reza dan meminta pertanggungjawaban atas janin di rahim putrinya.

*****

Di depan pintu gerbang tinggi ini, keduanya berdiri. Bapaknya menghadap rumah besar di hadapannya dengan tatapan sulit diartikan.

Kemudian, pria itu melihat Nia yang berdiri di sampingnya. Hatinya begitu gundah memikirkan nasib anaknya setelah ini.

Sesaat kemudian, dia pun menarik paksa tangan anaknya untuk masuk ke sana dan disambut oleh tatapan meremehkan dari Liana, Ibu Reza.

"Siapa kalian?" Liana menatap penampilan dua orang asing yang memasuki rumahnya.

Seiring dengan itu, Reza yang kembali dari kantor juga berdiri di ambang pintu dan mendapati Nia dan Bapaknya berada di rumahnya.

"Saya, ingin meminta pertanggungjawaban. Anak saya hamil. Dan, Reza adalah Ayahnya," papar Anwar dengan perasaan penuh luka.

Anwar yang miskin harta, tetapi tidak dengan harga diri. Namun, kali ini harga dirinya sudah diinjak-injak karena kelakuan putri yang disayanginya. Namun, tidak apa. Saat ini, mengesampingkan perasaan hancurnya, Anwar rela ke sini demi anaknya mendapatkan pertanggungjawaban.

Liana terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh pria asing di hadapannya, kemudian melihat seorang wanita yang tidak lain adalah putri dari pria itu.

"Reza?" Liana seakan membutuhkan jawaban dari putranya, "apa mungkin kamu mau tidur dengan gembel ini?"

Menatap Nia saja, dirinya jijik. Apalagi masuk ke dalam keluarganya? Rasanya sangat mustahil sekali! Belum lagi, Liana sudah memiliki calon menantu yang luar biasa dan dari kalangan berada. Mungkinkah harus berganti dengan wanita miskin di hadapannya ini?

Tidak!

Liana tidak akan mau menikahkan putranya dengan Nia.

Untungnya, jawaban putranya sesuai dengan harapan. "Tidak! Aku bukan Ayahnya. Lagi pula, kau siapa?"

Reza benar-benar terlihat tidak pernah mengenali Nia, sehingga Nia pun tersentak.

"Nia, katakan! Apa benar lelaki ini Ayahnya?" Anwar pun kembali bertanya pada Nia, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Nia.

"Heh! Kalau bicara, jangan asal! Kami bisa melaporkan ini pada polisi, ya. Kalian ini orang miskin, tapi berani-beraninya memfitnah anak saya!" sergah Liana penuh kemarahan.

"Reza, katakan pada Ibumu bahwa ini benar anakmu." Kini, Nia yang sedari tadi diam saja, akhirnya berbicara dan memohon pada lelaki yang sudah menabur benih di rahimnya itu.

"Nyonya, ini memang anak Reza," terang Nia lagi sebab Reza hanya diam, seakan tidak mengakui.

Liana pun maju selangkah dan melayangkan tangannya pada wajah mulus Nia, hingga tubuh kecilnya terlempar ke samping seiring dengan layangan tangan yang begitu kuat tepat mendarat di pipinya.

"Lancang sekali kau berbicara!" seru Liana semakin bertambah emosi.

"Reza?" Nia menatap Reza berharap memberinya sedikit saja bekas kasih.

"Aku, sudah mempunyai calon istri. Raya adalah wanita yang aku cintai. Kau ini siapa?" Reza mengangkat bahunya seakan tidak perduli sama sekali.

Nia mengusap wajahnya mendengar jawaban Reza yang lagi-lagi membuatnya terluka.

"Kau itu siapa?" tanya Reza lagi. Kini, pria itu tersenyum miring menatap penampilan Nia.

Sendal jepit, dengan rok span berpadu kaos oblong. Satu lagi yang ingin membuat Reza tertawa, rambutnya yang dikepang. Memang ini zaman apa?

"Kau itu bukan levelku!" Reza tertawa terbahak-bahak meremehkan Nia.

Nia kehabisan kata-kata untuk berbicara lebih jauh lagi. Semua begitu mengejutkan. Hari ini, dia benar-benar melihat wajah asli pria yang dicintainya.

Jangankan untuk bertanggung jawab, mengakui saja tidak. Yang ada, hanya hinaan yang diterima oleh Nia. Gadis lugu itu tidak menyangka bisa menjadi korban kebejatan seorang pria yang tidak bertanggung jawab.

Kini Bapaknya sendiri mungkin sudah menganggapnya sebagai wanita murahan.

Ini begitu menyakitkan. Nia begitu terluka, tertusuk dalam jantung tanpa darah itu jauh lebih menyakitkan. Sakit di wajahnya tidak sebanding dengan sakit di hatinya.

Tak lama, Reza bahkan segera berlalu pergi meninggalkan ketiganya, sebelum berkata, "Usir saja mereka, Ma."

Bab 2

"Kau dengar sendiri, kan? Pergi dari rumah kami! Dasar, kalian pemulung gila! Anakku Reza yang tampan dan kaya raya itu, tidak akan sudi tidur dengan putri gembel milikmu! Banyak wanita di luaran sana yang lebih baik dan rela memberikan dirinya. Lalu, kenapa harus putrimu?" Liana pun mengerakkan kipas di tangannya, seakan tidak peduli pada lelaki yang mengharapkan tangung jawab atas anaknya.

Merasa tidak dihargai, Anwar pun masih mencoba untuk membela putrinya. Sekalipun sudah membuatnya kecewa, tapi rasa cinta seorang Ayah tidak akan mungkin berubah walaupun secuil.

"Mohon maaf Nyonya, kami memang orang miskin --"

"--Bagus kalau sadar." Liana tersenyum miring menatap sendal jepit milik Anwar.

Anwar tahu Liana dan Reza tidak menghargai dirinya dan anaknya yang mengharapkan pertanggung jawaban. Tetapi, dirinya masih sangat berharap jika hati Liana maupun Reza bisa terbuka.

Apa jadinya jika putrinya mengandung tanpa seorang suami, bagaimana nantinya nasib janin itu setelah lahir tanpa seorang Ayah?

"Nyonya, saya yakin jika janin yang ada di rahim putri saya adalah cucu Anda. Saya mohon. Jika kalian mau, silakan melakukan tes DNA setelah bayinya lahir." Anwar berbicara dengan nada suara rendah, berharap hati Liana terketuk dan bisa membuat Reza menikahi Nia.

Sekalipun itu adalah hinaan untuk dirinya dan juga putrinya, tidak apa. Meski nantinya Nia dinikahi pun, rasanya sudah begitu terhina. Namun, itu lebih baik dari pada putrinya dihina orang-orang karena hamil tanpa suami.

"Hey! Jangan lagi mengatakan bahwa anakmu ini dihamili anakku! Sadarlah! Lihat tadi sikapnya? Melihat anakmu saja, dia jijik. Mana mungkin menyentuh? Kalian ini dua gembel yang entah dari mana, tapi ingin kaya dengan cara instan. Dasar, Licik!"

Tidak ada rasakasihan, apa lagi pertanggung jawaban. Liana tidak mungkin mau menikahkan putranya dengan Nia.

"Satpam! Seret mereka keluar dari rumah ini! Jangan pernah membiarkan dua gembel menjijikan ini, menginjakkan kaki di rumah ini!"

Anwar pun diseret paksa, kemudian dilemparkan ke tengah jalanan.

Dengan mata kepalanya, Nia menyaksikan jika Anwar diperlukan layaknya seekor binatang. Bahkan, binatang bisa jadi lebih mulia daripada perlakuan mereka yang kaya terhadap orang miskin.

Di sini Nia tahu alasan dari Bapaknya yang selalu mengingatkan nya untuk tidak berteman apa lagi berpacaran dengan orang kaya. Namun, semua terlambat.

Sesaat kemudian, giliran Nia di seret paksa oleh satpam.

Dari ujung matanya, Nia dapat melihat ada mobil yang melaju dari arah barat, sedangkan Anwar masih berada di tengah jalan. Kakinya yang terbentur pada batu membuatnya sulit untuk bergerak.

"Bapak!" teriak Nia saat melihat mobil sport mewah yang begitu kencang.

"Aaaaaa!" Anwar akhirnya berteriak dengan kencang saat menyadari situasinya.

Tabrakan pun tidak bisa dihindari, kaki Anwar terhantam ban mobil di depannya.

Liana juga ikut menyaksikan semua itu dengan jelas dari ambang pintu.

Sesaat kemudian, pemilik mobil pun turun. Ternyata, itu adalah Chandra Winata, ayah dari Reza.

"Mampus!" Liana berseru dan tersenyum puas melihat penderita Anwar yang sudah lancang menghinanya.

"Mama, kenal mereka?" Chandra pun bertanya langsung kepada istrinya.

"Dia ini gembel yang ngaku-ngaku sedang mengandung anak dari Reza, Pa," jelas Liana pada suaminya.

Chandra pun menatap pakaian lusuh Anwar, berlanjut seorang wanita yang tengah menangis memeluk Ayahnya.

"Cih! Orang susah! Kalau begitu, menyingkirlah kalian!" sergah Chandra Winata penuh kebencian. Tadinya, dia ingin meminta maaf pada orang yang dtabraknya. Namun, ternyata dia adalah orang gila yang bermimpi untuk menipu keluarga mereka.

"Terakhir kali, kami peringatkan, ya! Jangan pernah datang ke sini! Apalagi, Reza akan menikahi calon istrinya yang jauh darimu! Raya adalah calon menantu kami, anak pengusaha tambang batubara. Kau siapa? Berkacalah!" Puas menghina Nia, Liana pun berlalu pergi bersama dengan suaminya. Mereka masuk ke dalam rumah tanpa peduli pada lelaki yang tengah menahan sakit akibat tabrakan yang dilakukan oleh Chandra.

"Bapak!!!" Nia menjerit sambil memeluk Anwar, berharap ada yang bisa menolongnya. Hingga, tanpa sengaja, mata Nia menatap ke arah balkon. Reza ada di sana,

tersenyum miring dan bahkan meludah. Menunjukan betapa dirinya sangat jijik pada Nia.

Anwar pun memegang dadanya, merasa sesak.

"Bapak!!!!" Nia kembali menangis melihat kondisi Anwar.

Melihat ada taxi yang lewat, Nia segera menghentikannya dan membawa Anwar menuju puskesmas terdekat. Salah satu kaki Anwar pun diperban.

Keduanya lalu kembali pulang ke rumah dengan keadaan yang begitu memperhatikan, ditambah perasaan yang campur aduk.

Bukan pertanggungjawaban yang didapat, melainkan hinaan. Bahkan, kaki Anwar kini pincang dan dadanya begitu sesak. Pria tua itu berusaha untuk tetap kuat.

"Bagaimana, Pak? Apa mereka mau bertanggungjawab?"

Dengan mata sembab, Farah, Ibu dari Nia yang menunggu di rumah dengan cemas, langsung bertanya pada Nia dan Anwar.

Sesaat kemudian, Farah menyadari suaminya yang pulang dipapah oleh Nia dengan perban di kaki.

"Tunggu! Bapak, kenapa begini?" Panik, Farah pun membantu suaminya untuk duduk di kursi reot di ruang tamu.

"Maaf, Pak! Maaf, Bu!" Nia bersimpuh di hadapan Bapaknya, tertunduk dengan perasaan penuh rasa bersalah.

Anwar masih saja tidak putus asa. Baginya, Reza harus bertanggung jawab atas anaknya. Tiba-tiba, dia teringat nama seseorang yang disebutkan oleh keluarga kaya itu dengan bangganya.

"Apa Raya yang dimaksud oleh mereka tadi adalah Raya sahabatmu?"

Nia pun mengangguk sebagai jawaban.

"Telepon Raya! Mintalah padanya untuk menggagalkan pernikahannya!" papar Anwar.

Deg!

Nia tersentak mendengar keinginan Anwar, seketika mendongkak menatap wajah Anwar. Meyakinkan dirinya bahwa apa yang didengar barusan rusaklah salah.

"Kenapa?" tanya Anwar.

"Enggak Pak, Raya sama Nia bersahabat!" Pada dasarnya, Nia memiliki hati yang baik, sehingga tidak akan bisa menyakiti orang di sekitarnya. Meskipun Raya tidak terlalu mencintai Reza seperti dirinya, tetapi Nia tidak ingin menghancurkan acara penting di hidupnya itu.

"Nia--" Tangan Anwar memegang dadanya yang terasa sakit. "Kenapa kau masih saja memikirkan orang lain?"

"Bapak, bapak kenapa?" Farah panik melihat keadaan suaminya.

Berkali-kali, pria itu mengambil udara dari mulut untuk bernapas.

"BAPAK!" Nia menangis, menjerit sekencang mungkin menyaksikan itu semua.

Tak lama, Anwar pun jatuh.

Bab 3

Ayahnya telah tiada.

Hati Nia masih begitu sesak menatap pusara sang Bapak.

Nia pun memeluk Farah, berusaha menguatkan perasaan sang Ibu walaupun hanya hancur lebur tanpa sisa.

"Kenapa Bapak pergi? Bagaimana dengan kami?" Sebagai seorang istri, pastinya Farah begitu hancur kehilangan suaminya untuk selamanya.

Dengan langkah yang berat, Nia berusaha menuntun Ibunya ke rumah.

Ketika mereka sudah sampai, Nia langsung berlutut di depan Farah. "Maaf, Bu. Maafkan, aku!"

Farah hanya terdiam menatapnya. Kini, dia hanya memiliki Nia dalam hidupnya. Haruskah dia menyalahkan putrinya ini?

Saat masih berpikir, tiba-tiba seorang perempuan masuk ke rumah mereka tanpa permisi dan berkata, "Kamu wanita murahan! Kenapa kamu menemui Reza dan Ibunya? Jangan coba-coba mengganggu pernikahan kami, ya!"

Raya datang menemui Nia langsung ke rumahnya. Perempuan itu terlihat tidak peduli bahwa mereka sedang berduka karena kehilangan Anwar.

"Raya, bisakah bicara baik-baik? Kamu duduk dulu," Nia pun berniat untuk memegang tangan Raya, tapi ditepis begitu saja.

Raya benar-benar tidak ingin disentuh sama sekali.

"Aku tidak bisa berbasa-basi! Sekarang aku tahu, kamu bersahabat denganku hanya karena kami orang kaya! Sayangnya, kau itu sudah ditakdirkan menjadi gembel, tidak usah bermimpi menjadi tuan putri!" Dengan kasar, Raya pun mendorong Nia.

Tubuh Nia pun kehilangan keseimbangan, hampir saja terjatuh pada sandaran kursi.

Beruntung, Farah menahan tubuh anaknya secepat mungkin.

Nia pun mengeluarkan keringat dingin, entah apa yang terjadi jika saja perutnya mengenai benda keras tersebut.

"Raya, kalian sudah berteman lama. Bukankah bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan cara baik-baik dan kepala dingin?" Farah pun mencoba menengahi perdebatan, tidak ingin menjadi tontonan warga yang mendatangi kediamannya dalam suasana duka ini.

Mendengar perkataan Farah, bukannya menjadi lebih baik, Raya justru menunjuk wajah Farah dengan tangan kirinya. "Hey, kamu! Ajarkan anakmu sopan santun, ya! Ajarkan dia menjadi wanita berharga! Jangan murahan!"

Perkataan Raya membuat Farah merasa kehilangan oksigen, mendadak kepalanya terasa sakit.

Semua terjadi begitu cepat. Tekanan darah tinggi pun menyerangnya, sehingga Farah terjatuh di lantai.

"Ibu!" teriak Nia.

Mendengar teriakan putrinya, Farah memegangi kepalanya, tetap berusaha sadar. Sayup-sayup dia mendengar Nia juga menjerit minta tolong.

"Raya, tolong bantu aku! Beri aku dan ibu tumpangan ke rumah sakit," pinta Nia dengan memohon.

Sayangnya, kebencian terhadap Nia sudah pada puncaknya. Raya tidak akan pernah mau menolong Nia.

"Ck, acting!" ejek Raya.

Raya bahkan yakin jika Farah tengah bersandiwara. Oleh sebab itu, segera Raya pergi. Dia juga tidak ingin disalahkan nantinya.

"RAYA!" Nia berteriak, berharap Raya yang sudah menyalakan mesin mobilnya bisa berubah pikiran lalu mengantarkan Farah menuju rumah sakit agar mendapatkan pertolongan secepat mungkin.

Nia sungguh takut kehilangan Farah. Baru saja, dia kehilangan Anwar yang membuat dunia seakan hancur. Apa mungkin harus kehilangan Farah juga?

Tidak, Nia tidak bisa!

Melihat Nia yang menjerit, warga sekitar pun berkumpul, hingga akhirnya memberikan pertolongan dan membawa Farah menuju rumah sakit.

******

"Ada masalah serius. Pasien mengalami masalah pada jantung karena tekanan darahnya begitu tinggi. Dia harus melakukan pencangkokan jantung secepat mungkin untuk menyelamatkan nyawa pasien," jelas sang dokter.

Angin terasa berhembus kencang, tubuh Nia mendadak menggigil mengetahui keadaan sang Ibu.

Kepergian sang Ayah benar-benar membuat Farah menjadi lemah. Dan, Nia adalah penyebab utamanya.

"Berapa biayanya, Dok?" tanya Nia berusaha tetap kuat.

"Anda bisa bicarakan pada bagian administrasi, saya permisi."

Setelah dokter itu berlalu, kaki Nia terasa lemas dengan hati yang penuh luka. Dia bahkan terduduk di lantai tanpa peduli keadaan sekitarnya.

Sungguh, dia menyesal karena naif dan percaya pada Reza dan Raya.

Dua sahabat yang dia kasihi sepenuh hati, ternyata adalah sumber penderitaannya. Saat Nia sibuk memikirkan perasaan mereka, keduanya bahkan tidak peduli sama sekali.

Mereka menunjukkan wajah asli mereka yang ternyata memandang harta dalam pertemanan.

Tangan Nia mengepal. Buku-buku jarinya bahkan memutih.

Seketika dia menyadari sesuatu. Saat ini, penyesalan pun sudah tidak berguna. Dia harus segera menemukan cara untuk menyelamatkan Ibunya.

Nia pun melangkah dan bertanya pada pihak administrasi. Namun, kakinya melemas mendengar pernyataan selanjutnya, “Harganya 100 juta dan harus dibayarkan segera.”

Nia begitu stress memikirkan nominal rupiah tersebut.

Tapi apa yang bisa dilakukannya saat ini, dari mana Nia bisa mendapatkan uang yang banyak? Bahkan, rumah yang mereka tempati saja masih mengontrak dan bukanlah peninggalan Bapaknya.

Nia memang memiliki satu sepeda motor, tapi berapa harganya?

Tidak! Nia tidak mau kehilangan ibu. Dirinya akan menjadi sebatang kara jika ditinggalkan oleh Farah juga.

Sampai di sini, Nia kembali menjernihkan pikiran walaupun sebenarnya sudah begitu buntu.

Dengan segera, Nia mengambil ponselnya, masih berharap Raya mau membantunya.

Sayangnya tidak, bahkan Raya dan Reza sudah memblokir nomor ponselnya.

"Apa yang aku harapkan?" Kepingan ingatan saat-saat Nia menolong Reza dan Raya pun terulang kembali. Saat-saat Reza terpuruk karena Raya meninggalkan tanpa alasan.

Datang dan pergi dengan sesukanya.

"Aku mencintainya Nia, aku sangat mencintainya," Reza memeluk Nia, meminta sedikit kehangatan agar dapat tenang dalam perasaan yang penuh kerinduan.

Sebagai seorang sahabat yang berhati tulus, Nia pun memberikan pundaknya, berharap Reza bisa segera pulih kembali seperti sedia kala.

Nia memberikan pundaknya untuk Reza bersandar, hingga pria yang tengah terpuruk karena ditinggalkan oleh kekasihnya tersebut bisa bangkit kembali.

Begitu pun dengan Raya. Saat dirinya ingin kembali pada Reza, Nia yang dijadikan alat. Sahabatnya itu memohon pada Nia untuk menolongnya--menjadi perantara antara dirinya dan Reza.

Namun, Nia terlupakan setelah keduanya bersatu kembali.

Mereka bahkan bersamaan menghina dirinya, mengkhianati persahabatan tulus ketiganya.

Nia kembali memejamkan mata. Dia tidak ingin mengingat setiap masa sakit itu, masa-masa bersama yang dipenuhi dengan ketulusan hatinya.

Ketika mereka terluka, Nia ada di sisi mereka. Saat Nia terluka?

Jangan ditanya! Mereka tidak ada. Hanya dirinya sendiri yang Nia punya.

Sudah cukup jelas jika Raya dan Reza adalah manusia berhati iblis.

"Aku tidak akan pernah memaafkan kalian," lirih Nia.

Istri Lugu Presdir Dingin

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya