Bab 1
. Dikira Pembantu
"Kak, masuknya lewat pintu belakang aja!" ujar Imah setengah berbisik.
Tiba-tiba saja Imah adik iparku yang masih remaja itu menghadangku untuk masuk ke dalam rumah. Aku yang baru saja pulang dari pasar tercengang melihat di dalam rumah banyak tamu. Tiga mobil mewah terparkir di pinggir jalan tepat di depan rumah ibu mertua. Tidak biasanya ibu kedatangan tamu dengan mobil-mobil bagus seperti itu. Pasti tamu-tamu itu bukanlah orang sembarangan. Siapa gerangan para tamu itu? Kenapa Imah melarangku masuk melewati pintu depan?
Sejak kami menikah, Mas Alif mengajakku tinggal di rumah ibunya. Karena dia sendiri belum sanggup untuk membeli rumah. Jadi aku harus tau diri selama tinggal di sini. Karena masih menumpang pada mertua, aku tak boleh berpangku tangan. Apapun pekerjaan yang ada di rumah ini, aku kerjakan.
Aku terpaksa menuruti ucapan Imah untuk masuk lewat pintu belakang. Dua kantong belanja yang cukup berat aku letakkan di atas meja dapur yang terbuat dari kayu. Memang dua hari sekali Ibu menyuruhku ke pasar untuk berbelanja keperluan dapur .
Peluh mengalir di wajahku, karena kelelahan berjalan kaki pergi dan pulang dari pasar yang cukup jauh. Baru saja ingin menjatuhkan tubuhku di sebuah kursi kayu , tiba-tiba saja Ibu mertua berteriak dari ruang tengah.
"Shinta ..., Kamu lama banget, sih. Buruan bikin minum yang banyak!' perintah Ibu mertua yang sedang asik dengan gawainya di depan televisi.
"Memang tamunya belum dibuatkan minum?" tanyaku heran seraya menghampiri ke ruang tengah.
Kenapa harus menungguku pulang? Bukankah di rumah ada Imah dan Kak May? Namun pertanyaan itu hanya bisa aku ungkapkan dalam hati.
"Ya belumlah. Itukan tamu suami kamu. Mereka itu teman-teman Alif waktu SMA dulu. Masak aku yang bikinin. Males deh," sahut Kak May-kakak iparku yang sampai saat ini belum menikah, seraya berlalu masuk ke kamarnya.
Astaga! Apa salahnya jika dia membantu membuatkan minum? Bukankah Mas Alif juga adik kandungnya?
Tanpa menunggu lama, aku segera kembali ke dapur dan membuat beberapa gelas teh manis hangat dan dua toples cemilan. Setelah selesai, dengan hati-hati aku membawanya ke ruang tamu. Mungkin saja Mas Alif ingin memperkenalkan aku dengan tamu-tamunya, yang katanya adalah teman-temannya semasa sekolah dulu.
Mereka sedang tertawa terbahak-bahak ketika aku masuk ke ruang tamu yang sudah ramai. Ruang tamu ibu memang luas dengan sebuah meja panjang di tengahnya. Teman Mas Alif yang terdiri dari laki-laki dan perempuan itu tampak asik berbincang tentang masa-masa SMA mereka dulu. Tawa dan canda riuh terdengar di setiap sudut ruangan ini.
Perlahan aku meletakkan satu persatu gelas di atas meja. Mereka seperti tidak menghiraukanku. Mas Alif juga tidak menyapaku. Apalagi memperkenalkanku. Suamiku itu tetap asik bersenda gurau dengan teman-teman wanitanya, seakan aku tidak ada di dekatnya.
Kenapa Mas Alif tak mempedulikan kehadiranku? Apa Mas Alif malu memperkenalkan aku pada teman-temannya. Seketika aku tersadar. Aku memang tidak cantik seperti mereka. Ya, Mas Alif pasti malu punya istri dengan penampilan lusuh sepertiku.
"Mbak, ada air es nggak?" sontak aku terkejut, seorang wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang bertanya sedikit ketus padaku.
"A-ada. Sebentar saya ambilkan," sahutku.
"Buruan ! Haus nih!" lanjut wanita itu dengan nada sedikit membentak. Alis matanya naik dengan tatapan tajam ke arahku.
Astaghfirullahaladzim ... !
Aku melirik pada Mas Alif. Ia memberi kode dengan dagunya agar aku segera melakukan perintah perempuan itu.
Kenapa Mas Alif diam saja? Apa mereka pikir aku ini pembantu disini? Apa karena pakaianku seperti ini mereka pikir aku ....
Segera aku melangkah ke dalam mengambil dua gelas kosong dan dua botol air es dari lemari pendingin, lalu kembali membawanya ke meja tamu.
"Lama banget sih. Ambil air esnya di Bogor, ya?" ketus wanita tadi disertai tawa beberapa teman-temannya. Mereka memandangku dengan tatapan meremehkan.
Aku kembali melirik pada Mas Alif. Dia tetap tidak mempedulikanku. Malah asik berbincang akrab dengan para wanita-wanita ini.
Air mataku membendung di pelupuk mata. Teganya Mas Alif bersikap seperti ini padaku.
"Makanya Lif, nikah aja sama si Mela. Kalian dari dulu kan cocok."
"Cieee, cinta lama belum kelar nih ceritanya."
"Pepet terus Lif, jangan kasih kendor."
Riuh tawa memenuhi ruangan. Wanita yang aku duga bernama Mela itu tampak salah tingkah dan malu-malu. Wajah cantiknya merah merona. Tampak olehku dia mencuri-curi pandang pada Mas Alif, suamiku.
Mas Alif pun nampak senyum-senyum. Terlihat rasa bangga dari wajahnya. Tanpa menghiraukan perasaanku, dia juga curi-curi pandang dengan si Mela itu.
Sekuat tenaga aku menahan agar air mata ini tak tumpah. Sesak di dada ini semakin terasa dihimpit batu besar. Hingga rasanya sangat sulit untuk bernapas.
Ya Tuhan. Kenapa Mas Alif enggan memperkenalkan aku pada teman-temannya? Apa karena penampilanku? Aku memandang daster panjang lusuh yang kupakai sejak subuh. Daster bekas pemberian ibu mertua, serta hijab instan berukuran sedada yang warnanya sudah memudar. Hatiku mencelos melihat penampilanku sendiri. Pantas saja Mas Alif enggan memperkenalkan aku sebagai istrinya. Sedangkan penampilan teman-temannya saat ini jauh lebih cantik dan menarik.
Bagaimana aku bisa tampil rapi? Sejak subuh Aku melakukan semua pekerjaan rumah ini tanpa henti. Sedangkan kakak dan adik Mas Alif tidak ada yang peduli. Hampir setiap hari seperti ini. Mereka mengandalkan semua pekerjaan rumah daku
Air mataku mulai mengembun. Tubuhku mulai bergetar menahan tangis. Hati ini perih seakan teriris benda tajam. Tega sekali kamu, Mas.
Sepertinya aku harus segera kembali ke dalam sebelum ibu mertua berteriak menyuruhku masak.
Aku yang sejak tadi bersimpuh di depan meja, perlahan mencoba untuk berdiri. Kakiku terasa lemas. Aku mencoba berpegangan pada meja.
Prang ...!!
Aku tersentak mendengar suara sesuatu yang pecah didekat kakiku.
"Dasar pembantu nggak becus! Lihat bajuku jadi basah begini!" pekik wanita di depanku. Wajahnya merah padam dengan mata melotot menatapku.
Ya Tuhan, aku tak sengaja menyenggol sebuah gelas dan membasahi baju wanita bernama Mela itu.
Hatiku makin terluka ketika dengan cekatan Mas Alif meraih tissue dan berusaha mengeringkan pakaian wanita itu.
Aku tak tahan lagi. Berusaha kembali untuk berdiri dan kemudian berlari menuju ke dalam.
"Aaaww!" Tak sengaja aku menabrak seseorang dengan tubuh yang jauh lebih besar dariku.
"Maira?" Sontak aku terlonjak ketika seseorang memanggilku dengan nama 'Maira'. Nama yang tak asing di telingaku.
Astaga! siapa laki-laki ini? Kenapa ia tahu nama kecilku?
Bab 2
. Siapa Lelaki Baik Hati Itu?
"Maira?" Sontak aku terlonjak ketika seseorang memanggil nama 'Maira'. Nama yang tak asing bagiku.
Astaga! siapa laki-laki ini? Kenapa ia tahu nama kecilku?
"Shinta! Apa yang pecah?" Tiba-tiba ibu datang menghampiriku. Wajah mertuaku itu merah padam. Tatapannya nyalang padaku. Beliau pasti sangat marah.
"G-gelas, Bu," sahutku bergetar. Aku masih shock dengan kejadian di ruang tamu tadi. Tubuhku masih gemetar. Bulir bening pun telah luruh di kedua pipiku. Berkali-kali aku mencoba menghapusnya dengan punggung tanganku.
Sementara laki-laki yang menabrakku tadi masih terus menatapku. Entah kenapa aku merasa tak asing dengan tatapan teduh itu. Sungguh hati ini terasa damai melihat tatapan pria itu.
"Hai, Kak Raka. Mau ke toilet? Yuk, aku antar!" Tiba-tiba imah datang menghampiri laki-laki yang ternyata bernama Raka itu. Imah sepertinya memang berusaha untuk mencari perhatian Raka.
"Oh, ya. Makasih, Dek Imah," sahutnya ramah. Bibirnya melengkung menciptakan sebuah senyuman. Imah nampak sangat bahagia mendapat respon dari Raka. Mereka pun melangkah ke belakang menuju kamar mandi.
"Shinta! Ngapain kamu ikut-ikutan liatin Raka? Mentang-mentang ada laki-laki tampan dan kaya. Dasar perempuan gatal kamu!" Aku terlonjak ketika ibu mertua menegurku dengan suara yang cukup keras, hingga beberapa teman Mas Alif yang berada tak jauh dari ruang tengah, menoleh ke arahku. Sontak aku tertunduk.
"Sana cepat bereskan pecahan gelas tadi!" bentak ibu seraya berkacak pinggang di hadapanku.
Apa? Kembali ke ruang tamu? Apa aku sanggup?
"Hei, Shinta! Malah bengong. Cepat sana kerjakan!" teriak ibu dengan mata melotot ke arahku.
Dengan membuang napas kasar, berusaha kuatkan hati. Aku melangkah kembali ke ruang tamu dengan membawa kain pel, sapu dan pengki. Sementara Ibu mertuaku terus mengawasiku dengan sudut matanya.
Perlahan mendekati pecahan gelas yang masih berserakan di lantai. Tampak para wanita itu sudah pindah duduk dari tempat semula. Tanpa melihat sekitar, kupunguti satu persatu pecahan kaca dan memasukkannya ke dalam plastik sampah.
"Nih sekalian!"
"Aduh ..."
Tiba-tiba seseorang melemparkan tumpukan tissue bekas hingga mengenai wajahku. Sungguh dada terasa sesak bagaikan terhimpit batu yang sangat besar. Siapa yang tega memperlakukan aku seperti ini?
"Hei! Yang sopan, dong!" Teriak seseorang membelaku. Siapa pemilik suara bariton itu? Namun aku tak berani menoleh. Saat ini pasti semua mata sedang menuju ke arahku.
Tiba-tiba seseorang ikut berjongkok di sebelahku, membantuku membersihkan lantai basah dengan pecahan kaca dan tissue bekas yang berserakan.
"Raka, ngapain sih ikut-ikut bantuin pembantu?" Ternyata wanita yang bernama Mela itu kembali berkata sinis.
Sementara Laki-laki bernama Raka itu hanya diam. Tangannya dengan cekatan membantuku memasukkan pecahan kaca, lalu mengepel lantai hingga kering.
Sungguh aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Pria berpakaian rapi layaknya seorang bos itu mau membantuku melakukan hal yang menurutku tidak pantas untuknya.
Sementara suamiku sama sekali tak peduli padaku. Ibu mertua pun tetap hanya mengawasiku dari jauh.
"T-terima kasih," lirihku seraya meraih plastik dan sapu dari tangan Raka. Kemudian dengan cepat aku segera masuk kembali ke dalam. Sekilas aku sempat melihat Raka mengangguk dan tersenyum ramah padaku.
Ya Tuhan, siapa laki-laki yang baik hati itu? Tidak hanya wajahnya yang tampan, tapi juga hatinya tulus membantuku.
Raka juga tahu nama kecilku. Nama di saat kedua orang tuaku masih hidup. Ketika aku belum di pindahkan ke panti asuhan oleh orang-orang yang membenciku. Mereka berharap aku akan menderita. Dan apa yang mereka inginkan terjadi hingga saat ini.
"Dasar wanita penggoda! Apa yang kamu katakan pada Raka?" Aku terlonjak ketika tiba-tiba Mas Alif mengikutiku ke dalam dan lantas berteriak memarahiku di dapur.
Aku menggeleng. Mataku berembun. Betapa nyeri hati ini mendengar tuduhan Mas Alif. Tega sekali dia bilang aku ini wanita penggoda. Bukankah dia lihat sejak tadi apa saja yang aku lakukan? Tanpa sadar akhirnya air mataku kembali luruh. Satu tanganku menekan dada, menahan nyeri dan sesak.
"Asal kamu tahu ya, Aku dan teman-teman sedang mencoba untuk melamar pekerjaan di perusahaan Raka. Jangan sampai gara-gara kamu semua jadi kacau! Paham kamu?" Mas Alif kembali membentakku seraya menunjuk-nunjuk wajahku. Matanya melotot dengan wajah menggelap.
"Tega sekali kamu,Mas. Seharusnya kamu yang membelaku di sana. Bukan laki-laki itu." Aku memberanikan diri untuk menjawab. Suamiku itu justru tampak semakin emosi mendengar sahutanku.
"Halaah! Memang kamu mau cari perhatian sama si Raka itu, kan? Mentang-mentang dia tampan dan kaya. Jangan mimpi kamu! Wanita dekil kayak kamu, melirikpun dia tidak akan sudi," ketus Mas Alif seraya berlalu dari hadapanku. Mungkin ia kembali ke ruang tamu menemui teman-temannya.
Wanita dekil katanya. Ya, memang sehari-hari aku seperti ini. Karena memang tak punya pakaian bagus. Karena bertumpuk pekerjaan setiap waktu yang membuatku tak sempat merias diri. Semua pekerjaan di rumah ini dibebankan padaku. Aku pun tak kuasa membantah. Karena hanya bentakan dan cacian yang akan aku terima.
Dulu aku sangat bahagia ketika Mas Alif datang kepada ibu panti untuk melamarku. Pada saat itu aku berharap laki-laki itu akan membuatku bahagia dan menjadikan aku sebagai ratunya. Namun itu hanyalah menjadi harapanku saja. Kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Keluarga Mas Alif yang tak pernah setuju jika Mas Alif menikahiku, gadis yatim piatu yang tak diketahui asal usulnya, selalu memperlakukan aku dengan tidak ramah.
"Buruan masak! Melamun aja kerjanya. Dasar menantu tidak berguna! Mending si Mela aja yang jadi menantuku dari dulu. Sudah cantik, pintar pula. Nggak malu-maluin kayak kamu!" ketus Ibu mertua yang ternyata sudah berdiri bertolak pinggang di pintu dapur.
"I-iya, Bu," sahutku sambil menghapus air mata yang mulai mengalir dengan lengan bajuku. Aku tak ingin Ibu melihatku menangis.
Setelah melihatku mulai bekerja, Ibu beranjak ke ruang tengah dan kembali asik dengan gawainya di atas sofa panjang.
Aku mulai mengeluarkan isi dua kantong belanja di atas meja. Membersihkan beberapa sayuran yang tadi aku beli dipasar. Kemudian bergegas meraih bahan-bahan makanan yang hendak aku olah dari dalam lemari pendingin. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan memasak ini sebelum ibu kembali datang dan memarahiku dengan alasan kerja terlalu lama. Belum lagi Kak May dan Imah yang sebentar-sebentar menyuruh ini dan itu.
Seperti itulah setiap hari perlakuan yang aku dapatkan dari keluarga ini. Entah sampai kapan aku bisa bertahan berada di sini.
Dalam hati ini berdoa, semoga laki-laki bernama Raka itu adalah malaikat penyelamat yang Tuhan kirimkan untukku.
Bab 3
. Melamar Pekerjaan
Pov Alif
Pagi ini aku harus tampil rapi. Aku tak ingin harapanku untuk dapat bekerja di kantoran gagal lagi. Cita-citaku sejak dulu adalah bekerja di kantoran. Bukan sebagai pedagang di pasar seperti sekarang ini.
Beruntung aku memiliki teman seperti Raka. Teman semasa SMAku itu memiliki banyak perusahaan. Raka memang berasal dari keluarga berada. Kemarin dia bilang membutuhkan banyak karyawan untuk bekerja di kantor cabangnya yang baru saja dibuka.
Aku dan teman-teman SMAku segera akan melamar ke sana. Raka memang paling beruntung diantara kami. Hanya dia satu-satunya teman sekelas kami yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga keluar negri. Tidak seperti aku. Kuliah di dalam negripun tidak. Aku hanya lulusan SMA. Sejak lulus sekolah hanya meneruskan usaha toko kelontong milik almarhum ayahku di pasar.
Pagi-pagi sekali aku bangun. Biasanya aku bangun sesukaku. Kemudian berangkat ke pasar berjualan. Itu pun aku sering kesiangan. Rasanya sudah bosan hidup serba pas-pasan seperti sekarang ini. Toko kelontong peninggalan Ayah pun tidak terlalu ramai pembeli.
Aku sengaja berangkat lebih pagi, karena akan menjemput Mela lebih dulu. Gadis cantik itu juga akan melamar di perusahaan Raka. Mela juga hanya tamatan SMA seperti aku. Semoga kami bisa satu kantor, lalu akan sering bertemu nantinya. Mela jauh lebih cantik dan menarik dari pada istriku. Wawasannya cukup luas. Sehingga membuat hari-hariku menjadii lebih bersemangat. Pokoknya Shinta tidak ada apa-apanya dibanding Mela.
"Mas, nggak sarapan dulu?" tanya Shinta yang melihatku sudah rapi. Seperti biasa, setiap hari Shinta selalu menyiapkan sarapan untukku sebelum berangkat kerja. Kali ini dia membuat nasi goreng kesukaanku.
"Tolong bungkusin aja. Dua ya!"sahutku seraya beranjak menuju teras.
"Kok dua, Mas? Satu lagi untuk siapa?" tanyanya heran.
"Bawel banget, sih. Ya terserah aku lah." sahutku ketus. Wanita dekil ini selalu saja membuat moodku jadi tidak baik.
Entah mengapa semakin hari dia tampak semakin membosankan. Belum juga kami punya anak, dia sudah tak pandai merias diri. Apalagi kalau nanti direpotkan oleh anak, entah seperti apa tampang istiku itu nanti.
Bagaimana nanti kalau aku sudah kerja di kantoran. Pasti sangat memalukan jika teman-teman kantorku melihat istriku seperti ini.
Ponselku bergetar. Ternyata pesan masuk dari Mela. Kenapa hati ini juga ikut bergetar?
[Lif, jangan kesiangan jemputnya. Aku sudah siap, nih]
[Oke cantik. Aku segera meluncur]
Tanpa menunggu lama, segera menaiki motorku. Dengan hati berdebar segera menuju rumah Mela yang hanya beda dua gang dari rumahku.
Tak kuhiraukan Shinta yang terus memanggiku. Apa sih maunya dia? Berharap aku pamit dan mencium keningnya yang bau asap kompor itu? Mengingat wajah perempuan itu membuatku bergidik.
Jalanan masih belum terlalu ramai. Hanya dalam waktu beberapa menit saja aku sudah tiba di depan rumah wanita cantik itu.
"Hai, Lif. Wah, pangling aku. Kamu terlihat makin tampan dengan kemeja ini." Pujian Mela membuatku melayang.
"Ah, kamu juga tambah cantik," balasku seraya mencubit hidungnya. Mela tampak tersipu malu.
"Kita cari sarapan dulu, yuk!"
"A-apa? Sarapan?" Rasanya aku ingin tepok jidat mengingat sarapan yang tadi disiapkan Shinta, lupa aku bawa. Sepertinya tadi Shinta lari-lari mengikuti seraya berteriak memanggilku untuk memberikan sarapanku yang tertinggal.
Waduh bagaimana ini? Kalau sarapan di luar terpaksa aku harus mengeluarkan uang. Aku sengaja meminta pada Shinta sarapan dua bungkus nasi goreng, agar lebih irit.
"Kenapa, Lif?" Mela terheran melihatku panik.
Mataku membelalak melihat Shinta berlari kecil dari kejauhan.
"Mel, A-aku haus. Boleh minta teh manis hangat?" Aku berpura-pura kehausan sambil mengusap-usap tenggorokanku.
"Oke, sebentar aku ambilkan."
Tak lama Mela masuk ke dalam. Tampak Shinta menghampiriku membawa dua bungkus nasi.
"Mas, sarapannya tertinggal. M-maaf tadi aku disuruh ibu untuk mengantarnya ke sini." Shinta terengah-engah. Sepertinya dia lelah mengejar motorku.
"Ya sudah. Sini nasi gorengnya. Kamu langsung pulang sana!"
Jangan sampai Mela melihat Shinta ada di sini. Wanita itupun menurut dan segera pergi dari hadapanku.
"Ini tehnya, Lif." Mela muncul dari dalam membawa segelas teh untukku.
"Mel, aku tadi bikin nasi goreng khusus untukmu. Yuk, kita makan sama-sama."
Tampak binar di wajah wanita cantik itu.
"Beneran kamu bikin sendiri khusus buat aku?" Senyumnya mengembang , lagi-lagi membuat jantungku berdegub kencang.
"Aku jadi tidak sabar. Sebentar aku ambil piring dan sendok." Dia pun melangkah ke dalam.
Ah, syukurlah Mela mau makan nasi goreng ini. Jadi aku tak perlu mengeluarkan uang untuk makan di luar. Dia pasti suka. Karena masakan Shinta selalu enak di lidah.
Setelah melahap nasi goreng hingga tak bersisa, kami langsung berangkat menuju kantor Raka. Mela tak lupa mengunci pintu sebelum naik ke motorku. Gadis itu memang tinggal sendirian di rumahnya. Karena kedua orang tuanya lebih memilih untuk tinggal di kampung.
-------------------
Setelah mengikuti test tulis, kami diwawancara satu persatu oleh kepala HRD. Entah di mana temanku Raka. Sejak tadi tidak nampak batang hidungnya. Apa benar perusahaan ini miliknya? Perusahaan ini sangat besar dan mewah. Padahal ini hanya kantor cabang. Kantor pusatnya pasti lebih besar lagi. Pasti gajiku tidak sedikit di sini.
"Selamat Saudara Alif, Anda kami terima di perusahaan kami," ujar kepala HRD yang tampaknya sudah berumur itu.
"Terima kasih. Apa jabatan saya, Pak?" tanyaku tanpa beban. Aku yakin Raka akan memberiku jabatan bagus di perusahaannya.
Laki-laki dihadapanku itu tertawa.
"Tidak ada jabatan untuk lulusan Sekolah Menengah Atas. Saudara kami terima sebagai staf biasa di sini. Itu pun sudah sangat beruntung. Karena staf kami lainnya hampir semuanya sarjana," jelasnya panjang lebar.
Ah, percuma saja aku sahabatan dengan Raka yang katanya pemilik perusahaan. Masa diterima hanya sebagai staf biasa?
Sepertinya aku harus bicara pada temanku itu.
"Baiklah, Pak. Terimakasih," sahutku lemas
, kemudian keluar dari ruangan HRD.
Sampai di depan kantor, aku langsung menghubungi ponsel Raka.
"Hallo Raka. Apa kamu tidak bisa memberiku jabatan di kantormu?"
"Sudahlah, Lif. Terima saja! Posisi itu sangat cocok untukmu saat ini. Yang penting kamu bisa kerja di kantoran. Ya, kan?" sahutnya dari sebrang sana. Entah dimana dia berada saat ini
Aku membuang napas kasar. Benar juga katanya. Yang penting tiap hari aku bisa rapi berkemeja. Tidak seperti kemarin-kemarin kepanasan di pasar. Setidaknya setiap hari aku bisa berdekatan dengan Mela, wanita cantik yang mengisi mimpi-mimpiku saat ini.
Sungguh tak sabar rasanya setiap hari pergi dan pulang kerja bersama wanita cantik berambut gelombang itu.