Bab 1
Sahabat masa kecil yang berjanji akan menikah denganku begitu kami lulus kuliah, malah melamar gadis kaya palsu bernama Cita di hari wisudaku.
Namun, Simon yang dikenal sebagai pria suci dari kalangan elite ibu kota, menyatakan cinta padaku secara terbuka setelah lamaran itu berhasil. Selama lima tahun pernikahan, dia memperlakukanku dengan lembut dan memanjakanku seolah aku adalah segalanya.
Sampai suatu hari, aku tidak sengaja mendengar percakapannya dengan sahabatnya. "Simon, sekarang Cita sudah terkenal, kamu masih mau terus berpura-pura sama Monica?"
"Lagian, aku nggak bisa menikahi Cita, jadi nggak masalah. Selama ada aku, Monica nggak akan bisa mengganggu kebahagiaan Cita."
Kitab suci yang selama ini disimpannya dengan baik, tertulis nama Cita di setiap bagiannya.
[ Semoga Cita bisa terbebas dari obsesinya, semoga dia damai lahir batin. ]
[ Semoga segala yang diinginkan Cita tercapai, semoga cintanya tak pernah dirundung duka. ]
....
[ Cita, aku nggak berjodoh denganmu di kehidupan ini. Aku hanya berharap di kehidupan selanjutnya bisa menggenggam tanganmu dan menemanimu selamanya. ]
Mimpi selama lima tahun, tersadarkan dalam sekejap. Aku pun menyusun identitas palsu dan merencanakan sebuah insiden tenggelam.
Sejak itu, kita tidak perlu lagi bertemu selama-lamanya.
Setelah memastikan semua pengaturan akhir untuk kematian palsu, aku menutup telepon. Dua hari lagi, aku akan menghilang selamanya seperti yang mereka harapkan.
Saat itu, aroma samar kayu cendana tercium dari luar pintu. Aku secara refleks menoleh dan melihat Simon berdiri di sana. Dia memelukku dan bertanya dengan suara lembut, "Telepon sama siapa tadi?"
"Bukan apa-apa, urusan galeri," jawabku sambil tersenyum. Aku berusaha membuat nada bicaraku terdengar senatural mungkin.
Simon menunduk dan mencium kepalaku sambil berbisik, "Kenapa akhir-akhir ini banyak sekali urusan? Nanti malam aku masak makanan yang agak ringan untuk merawat lambungmu."
Selama lima tahun menikah dengan Simon, dia selalu bersikap lembut dan penuh perhatian, serta memanjakanku sepenuh hati. Semua orang bilang, jika seorang pria bijak jatuh cinta, cintanya akan berlangsung seumur hidup.
Aku pun dulu mengira itulah kebahagiaanku.
Namun sekarang, akhirnya aku sadar. Pernikahan ini bukanlah kebahagiaan milikku, melainkan perlindungan diam-diam Simon terhadap Cita.
Simon mengelus lembut pundakku, lalu berkata pelan, "Oh iya, besok Keluarga Kamara mau mengadakan pesta syukuran, katanya Cita sedang hamil."
"Sekalian juga merayakan keikutsertaannya di pameran seni internasional. Kamu nggak usah datang, nanti aku saja yang jadi perwakilan untuk mengantarkan hadiah, lalu cepat pulang temani kamu."
"Aku juga ingin ikut pameran itu ...," ucapku setengah hati.
Namun, dia langsung memotong dengan nada yang tetap lembut tetapi tidak bisa dibantah, "Lebih baik kamu jangan ikut. Bukannya kamu selalu bilang ingin punya anak? Mumpung ada waktu, istirahatlah di rumah dan jaga kesehatan."
Aku menundukkan pandangan, menyembunyikan gejolak di dalam hatiku. Selama bertahun-tahun menikah, kami tidak pernah punya anak.
Dulu aku pikir mungkin memang belum waktunya. Namun sekarang, sepertinya dia memang tak pernah menginginkannya. Mungkin, alasan dia melarangku ikut pameran hanya karena takut aku merebut sorotan Cita.
Simon kembali mencium keningku, seolah tidak sadar bahwa hatiku telah terjun ke titik terendah.
"Lusa adalah ulang tahunmu. Aku sudah siapkan kejutan. Semoga kamu selalu bersukacita."
Selalu bersukacita.
Aku mengulang kalimat itu pelan, lalu tiba-tiba merasa betapa menusuknya rangkaian kata tersebut. Selama bertahun-tahun, setiap ucapan doa dan harapan darinya selalu menggunakan kata "Cita".
Sampai detik ini, aku baru menyadari makna sebenarnya dari "Cita" itu.
Ternyata, semua doa yang keluar dari mulutnya selama ini tak pernah ditujukan untukku.
"Baiklah, di hari ulang tahunku nanti aku juga sudah punya rencana sendiri. Pastikan kamu kosongkan waktumu untuk menemaniku."
Dia mengangguk, "Tentu saja, semua keputusan ada di tanganmu."
Aku menatapnya dan tersenyum.
'Simon, kamu benar-benar pintar sekali berpura-pura.'
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Perlahan, aku menggeser lengannya yang melingkari tubuhku. Tanpa sengaja, aku menjatuhkan gelang tasbih yang selalu dia bawa ke mana pun.
Bab 2
Saat memungut gelang tasbih itu, aku merasakan ada yang aneh pada permukaan maniknya. Dengan bantuan cahaya lampu yang temaram, aku memperhatikannya lebih saksama. Baru kusadari, setiap butir manik di gelang itu terukir tulisan.
[ Cita. ]
Saat itu juga, hatiku benar-benar hancur.
....
Keesokan paginya, aku berkata pada Simon, "Ayo kita pergi bersama ke rumah Keluarga Kamara."
Ekspresinya sempat membeku sejenak, tetapi dia buru-buru menenangkan diri dan menjawab dengan nada datar, "Oke, setelah mengantar hadiah, kita langsung pulang."
Aku tahu dia sebenarnya tidak ingin aku ikut karena takut aku mengganggu Cita. Namun, aku hanya ingin kembali ke rumah untuk melihat keluargaku sekali lagi.
Sebab ... besok aku harus bersiap untuk menghilang.
Begitu tiba di rumah Keluarga Kamara, seisi ruangan dipenuhi tamu yang merayakan dua kabar bahagia. Kehamilan Cita dan keterlibatannya dalam pameran seni internasional.
Di tengah kerumunan, Cita menjadi pusat perhatian dan dielu-elukan bagai bintang. Semua orang memuji bahwa lukisan yang dikirimnya untuk lomba pasti akan menang besar.
Mereka bahkan menyebut bahwa lukisan itu diberi kaligrafi oleh sang maestro sehingga menjadikannya perpaduan sempurna antara lukisan dan kaligrafi yang luar biasa indah.
Saat aku masuk, raut wajah Cita jelas berubah sesaat. Namun, dia segera menyesuaikan diri dan kembali menampilkan senyum anggun.
Akan tetapi, ucapannya penuh sindiran, "Kakak datang juga? Akhir-akhir ini kamu cukup santai, ya?"
Aku tidak menanggapi provokasinya. Tatapanku langsung tertuju pada lukisan yang dipajang di tengah ruangan. Lukisan itu begitu familier hingga menusuk hatiku.
Itu adalah karya yang kubuat sendiri bertahun-tahun lalu dan kusembunyikan dengan hati-hati. Tidak pernah sekali pun kuperlihatkan pada siapa pun. Kenapa lukisanku bisa ada di sini? Bagaimana bisa menjadi "karya lomba" milik dia?
Cita menatapku dengan senyum ambigu. Dia tiba-tiba mendekat dan berkata dengan suara yang lembut, tapi penuh provokasi. "Kakak suka sekali sama lukisan ini, ya?"
Aku menatapnya dengan dingin. Baru saja aku hendak bicara, dia tiba-tiba berteriak, "Jangan ...!"
Aku bahkan belum sempat bereaksi ketika tubuh Cita tiba-tiba terhuyung ke belakang. Dia memegangi perutnya dengan ekspresi penuh kesakitan di wajah. Sekeliling kami langsung menjadi heboh.
"Ada apa ini?"
"Cita lagi hamil, kenapa kamu mendorongnya!"
"Cepat panggil dokter!"
Di tengah kekacauan itu, aku mendengar sebuah suara yang berteriak cemas, "Cita!"
Orang lain mungkin tak mengenalinya, tapi aku langsung tahu. Itu suara Simon.
Tatapan sayangnya kepada Cita nyaris tak bisa disembunyikan. Di saat itu juga, harapan terakhir dalam hatiku hancur sepenuhnya.
Saat menyadari aku sedang melihat ke arahnya, Simon segera kembali tenang. Dia menoleh padaku dan menegurku dengan suara lembut, "Bagaimanapun juga, Cita sekarang lagi hamil, kamu seharusnya nggak mendorongnya."
Tepat di saat itu, datang sebuah kabar. Lukisan Cita berhasil masuk babak final dan sangat berpeluang meraih medali emas.
Raut wajah Simon berubah seketika. Kegembiraan yang muncul tidak bisa disembunyikannya. Ekspresi itu belum pernah kulihat selama lima tahun pernikahan kami.
Aku bertanya padanya dengan pelan, "Kenapa lukisan Cita itu sama persis dengan punyaku?"
Wajahnya sedikit menegang, tapi dia segera menenangkan diri dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. "Mungkin cuma kebetulan. Bisa jadi gaya melukis kalian mirip ...."
Aku hanya tertawa sinis dan tidak ingin mengatakan apa pun lagi.
Lukisan itu adalah karya yang kusimpan di galeri pribadiku, hanya segelintir orang yang memegang kuncinya. Ditambah dengan tulisan kaligrafinya ....
Meski menggunakan nama palsu, gaya tulisan itu sama persis dengan tulisan Simon yang telah menyalin ribuan kitab selama ini.
Bagaimana lukisan itu bisa muncul di sini dan siapa yang melakukannya ... semuanya sudah sangat jelas.
Tadinya lukisan itu ingin kuhadiahkan untuk ulang tahun pernikahan kelima kami. Kini setelah kupikir kembali, bahkan pernikahan kami pun hanyalah sebuah kebohongan, jadi adi lukisan itu pun jadi tak berarti lagi.
Aku tersenyum sekilas. Suaraku sangat tenang hingga tak bisa ditebak apa yang kurasakan.
Bab 3
Simon tampaknya menyadari ada yang berbeda dariku. Ekspresinya sedikit tertegun, lalu dia mengusulkan dengan inisiatif sendiri. "Gimana kalau kita pergi sekarang? Cari tempat yang bisa bikin kamu rileks."
Aku menatapnya, sudut bibirku terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau begitu, ayo naik kapal layar saja. Jalan-jalan malam, sekalian lihat matahari terbit besok."
....
Begitu masuk ke dalam mobil, dia mulai membicarakan rencana esok hari. "Aku sudah siapkan kejutan ulang tahun untukmu. Setelah semua kesibukan ini selesai, kita bisa mulai rencanakan punya anak, ya?"
Aku hanya diam mendengarkan. Pandanganku terarah ke luar jendela, tanpa memberi jawaban.
Begitu mobil mulai berjalan, teleponnya berdering. Simon mengangkatnya, lalu alisnya perlahan mengerut. Nada bicaranya terdengar agak canggung.
Aku menoleh menatapnya dan berkata dengan tenang, "Kalau kamu ada urusan, pergilah duluan."
Simon tampak ragu. "Monica, aku ...."
"Nggak apa-apa. Aku akan menunggu di kapal."
Aku tak sempat melihat siapa peneleponnya, tapi aku tahu, hanya ada satu orang yang bisa membuat ekspresinya seperti itu. Setelah naik ke atas kapal sendirian, aku mengeluarkan ponsel dan membuka linimasa media sosial Cita.
Sebuah foto baru saja diunggah olehnya. Teks yang menyertainya berbunyi.
[ Di saat sukses, ada yang menemani. Dibawakan makanan malam, bahkan meluangkan waktu untuk mengobrol. Terima kasih karena selalu menjagaku. ]
Kolom komentar dipenuhi pujian.
[ Suamimu benar-benar luar biasa! ]
[ Inilah definisi pria sejati penyayang istri! ]
Namun, yang paling menarik perhatianku bukanlah kata-kata mereka, melainkan sebuah detail kecil dalam foto itu. Tangan seseorang dengan gelang tasbih yang tidak asing. Tangan itu milik Simon.
Aku langsung meneleponnya.
Namun, yang mengangkat teleponku adalah Cita.
"Sudah malam begini, Kakak telepon aku ada urusan apa? Jangan-jangan mau cari Simon, ya?" Suara Cita penuh dengan nada mengejek.
"Sudahlah, menyerahlah. Malam ini dia nggak akan pulang. Siapa suruh kakakku tercinta nggak bisa memikat pria? Orang sudah kuberikan padamu, tapi tetap saja kamu nggak bisa mempertahankannya."
Aku menutup telepon dengan dingin, lalu menoleh ke arah kru kapal. "Jalankan kapalnya."
"Nggak menunggu yang lain?"
"Nggak usah. Cuma aku sendiri."
Kapal layar perlahan mulai bergerak, membelah laut malam yang kelam dan melaju menuju perairan dalam. Aku berdiri sendirian di haluan kapal sambil menatap langit malam bertabur bintang. Angin laut menusuk tulang dan cahaya bintang memantul di permukaan air yang berkilau.
Semalaman penuh aku menunggu, tetapi dia tidak pernah datang.
Aku bersandar di dek sambil menatap kosong ke arah laut. Kenangan selama lima tahun terakhir berkelebat dalam pikiranku.
Sikap lembutnya, kebersamaannya, janji-janji yang dia ucapkan .... Setiap momen itu seperti pecahan kaca yang menyayat hati, tapi tak ada satu pun yang benar-benar utuh. Semua kepalsuan dan kemunafikan, kini terasa begitu menyedihkan dan konyol.
Menjelang fajar, aku mencoba meneleponnya sekali lagi. Kali ini, ponselnya sudah tidak aktif.
Aku menatap layar sejenak, lalu mengatur agar rekaman telepon dan video proses pembuatan lukisan yang semula kusiapkan untuk ulang tahun pernikahan kami dijadwalkan untuk diunggah otomatis.
Setelah semua selesai, aku berjalan ke buritan kapal. Aku menatap sekali lagi cahaya mentari yang mulai merekah di ufuk timur. Lalu, aku melompat. Menenggelamkan diri ke dalam laut yang dingin membekukan.
Di tempat lain, Simon bergegas pergi dari tempat Cita sambil berkata, "Aku harus pergi, besok ulang tahunnya. Aku janji akan menemaninya melihat matahari terbit."
Cita berusaha menahannya dengan kesal, "Simon, aku juga butuh kamu sekarang ...."
Simon menggeleng, "Nggak boleh. Hari ini nggak bisa."
Saat itulah asistennya mendatanginya. "Pak Simon ... istri Anda melompat ke laut!"