Bab 1
Ibuku sangat membenci perempuan.
Bahkan aku, anak perempuannya sendiri.
Sejak aku lahir, dia sudah ingin membunuhku. Memakai lipstik, aku dipukul. Mengenakan rok, aku kena pukul juga. Apalagi kalau aku mendekati Ayah, akan lebih parah lagi.
Menjelang ujian masuk perguruan tinggi, ibuku yang sangat membenci perempuan menyebarkan gosip di sekolah, menuduhku merayu ayahku sendiri.
Sampai akhirnya aku terjun dari lantai lima belas.
Hasilnya? Ibuku sangat puas.
Di rumah sakit, seorang perawat dengan riang menerimaku dari dokter anak, lalu berkata kepada ibuku.
"Bayinya perempuan, kulitnya putih bersih. Pasti cantik kalau sudah besar!"
Mendengar itu, wajah ibuku yang awalnya tampak lemah seketika berubah.
Dia langsung menarik rambut perawat muda itu dan menamparnya beberapa kali.
Suara makian ibuku menggema di sepanjang koridor.
"Dasar perempuan sial! Apa kamu diam-diam menukar anakku? Aku sudah makan banyak tokek kering! Mana mungkin anak itu bukan laki-laki!"
Untungnya, bibiku cepat tanggap. Sambil menahan ibuku, dia menelepon ayahku untuk datang, sehingga keributan itu akhirnya reda.
Gara-gara telepon itu, ibuku terus menatap bibiku dengan sinis.
Setelah kesehatan Ibu membaik, Ayah membawanya pulang untuk menjalani masa nifas.
Beberapa waktu kemudian, Bibi datang menjengukku karena khawatir. Di dalam kamar, suara tangisan bayi nyaris tidak terdengar.
Sementara itu, ayahku sedang menyuapi Ibu makan bubur havermut hangat satu sendok demi satu sendok.
"Haris, dengar aku, ya. Kamu cuma boleh mencintaiku seumur hidup. Kamu nggak boleh memeluk dia, apalagi menciumnya!"
Tak lama kemudian, ayahku menjawab singkat, "Baiklah."
Sinar matahari sore yang hangat menyinari kamar, menciptakan suasana yang kelihatannya harmonis, tetapi membuat bibiku bergidik ngeri.
Ayahku memang menepati janjinya. Sepanjang ingatanku, kami tidak pernah bersentuhan secara fisik.
Namun, meskipun begitu, ibuku tetap tidak membiarkanku hidup dengan tenang.
Saat aku berumur tujuh tahun, aku baru saja pulang setelah berjalan sejauh lima kilometer. Belum sempat aku beristirahat, sebuah tamparan keras mendarat di wajahku.
Alasannya? Ibu menemukan karangan berjudul "Ayahku" di buku tugas menulisku.
"Masih kecil sudah belajar hal-hal nggak benar! Siapa yang mengajarimu?!"
Dengan buku tugas itu, dia menunjuk-nunjuk hidungku sambil memarahiku.
Aku tidak mengerti apa maksud ucapannya, hanya bisa mencari-cari sosok ayahku di dalam kamar dengan penuh harap.
Namun, yang aku dapatkan hanyalah pukulan tanpa ampun.
Setelah kejadian itu, semua urusan sekolah ditangani oleh ibuku. Kepada guru, dia bahkan mengatakan bahwa aku tidak punya ayah.
Aku masih ingat betul bagaimana puasnya wajah Ibu waktu itu saat menegaskan kepemilikannya.
Seiring bertambahnya usiaku ....
Ibuku mulai mengungkapkan keluhannya pada tetangga-tetangga di kompleks.
"Sial banget nasib keluargaku! Anak perempuan kandungku ini seperti perempuan jalang, dari kecil nggak tahu malu, hanya bisa menggoda laki-laki!"
Hampir di mana pun aku berada, ada saja orang yang berbisik-bisik di belakangku.
Aku mulai terbiasa dengan semua itu.
Hingga suatu hari, ada keluarga baru pindah ke rumah sebelah, keluarga kecil yang penuh kelembutan.
Setiap kali aku diusir oleh Ibu, mereka selalu menampungku di rumah mereka. Bahkan seorang kakak perempuan di keluarga mereka, yang usianya beberapa tahun lebih tua dariku, sering berbagi camilan denganku.
Bagiku, keluarga itu adalah salah satu dari sedikit cahaya dalam hidupku.
Namun, langit tidak selamanya cerah bagiku .
Hari itu, seperti biasa, aku menunggu Ibu selesai bermain kartu di depan rumah.
Melihatku berdiri di luar, kakak perempuan itu membawa kursi dan menemaniku sambil mengobrol.
Dengan penuh semangat, aku menceritakan kehidupan sekolahku padanya.
Aku sama sekali tidak menyadari bayangan gelap yang mendekat dari belakang.
Ketika aku berbalik dan melihat Ibu keluar, wajahku masih penuh senyum.
Melihat senyumanku, Ibu langsung melayangkan tamparannya tanpa berpikir panjang.
Bab 2
Tamparan itu membuatku terjatuh ke lantai, pandanganku berkunang-kunang.
Gigi depanku hampir copot karena tamparan yang terlalu keras, rasa besi dari darah menyebar di mulut.
"Anak kurang ajar! Di rumah pasang muka sedih, tapi di luar bisa tertawa-tawa senang. Apa kamu sedang belajar merayu laki-laki?!"
Umpatannya sangat kasar, begitu kasar hingga semua tetangga keluar untuk menonton, tetapi tak satu pun berusaha menghentikannya.
Mungkin di mata mereka, aku memang seperti yang ibuku katakan. Seorang anak tidak berguna yang mencoba merayu ayah kandungnya sendiri.
Kakak perempuan itu hanya terpaku di tempatnya sambil ketakutan.
Mendengar keributan itu, ibunya keluar, dan ketika melihat keadaanku yang berantakan, nalurinya ingin segera membantuku berdiri.
Namun, ibuku langsung menarikku ke hadapannya.
"Apa kamu yang sudah mengajarkan hal nggak benar pada putrimu, lalu menularkannya pada anak ini?"
"Apa kamu juga mau membantu anak ini merayu suamiku?"
"Kalian semua memang nggak ada yang benar!"
Aku hampir jatuh terseret dan berusaha keras menundukkan kepala untuk menyembunyikan rasa maluku.
Namun, saat itu, ibu dari kakak itu melindungiku di belakang tubuhnya. Aku melihat rasa sedih dan bersalah di matanya.
"Apa-apaan ini! Bagaimana mungkin seorang ibu bisa bicara seperti itu kepada anaknya sendiri?"
Tante itu mencoba menghalangi ibuku dengan tubuh kecilnya. Dia mencoba meredakan kemarahan Ibu dengan kata-katanya.
Namun, ibuku memang bukan orang yang mau berpikir dengan logika. Dia mencibir sambil melirikku, membuat bulu kudukku merinding.
Ibuku mengangkat tangannya, tapi tante itu tetap berdiri di depanku. Mungkin dia tidak percaya ibuku akan melakukan kekerasan.
Akan tetapi, selama ini, ibuku sudah sering memukul perempuan lain, hingga jumlahnya tak terhitung dengan satu tangan. Membayangkan wajah lembut tante itu terluka karena aku, membuat hatiku bergetar.
Jadi, sebelum tamparan ibuku mendarat, aku nekat melompat maju.
Itu adalah pertama kalinya aku melawan ibuku.
Meski hanya dengan memeluk lengan tante itu erat-erat, itu cukup membuatku menerima pukulan yang lebih keras darinya.
Dalam kekacauan itu, kepalaku terbentur pagar yang sudah berkarat, dan darah langsung mengalir deras.
Semua tetangga yang menonton buru-buru menutup pintu mereka. Ibuku tetap tidak berhenti, dan tante itu didorong jatuh ke tanah.
Kakak perempuan itu berdiri di samping, menangis ketakutan.
Dalam keadaan setengah sadar, aku mendengar langkah kaki ayahku yang baru pulang kerja menaiki tangga.
Aku mencoba berteriak minta tolong, tetapi suaraku begitu lemah hingga tidak terdengar.
Setelah itu, pintu rumah kami tertutup rapat tanpa ada keraguan sama sekali.
Selama itu, tante itu terus memohonkan belas kasihan untukku, awalnya dengan nada menyalahkan hingga akhirnya menyerah.
"Kami sudah berencana pindah, kami nggak akan muncul di hadapan kalian lagi! Tolong, lepaskan anak ini!"
Aku berusaha mengangkat kepala, dan melihat kakak itu penuh ketakutan, sementara air mata sudah membasahi wajah ibunya.
Entah ibuku lelah atau tergerak oleh kata-kata tante itu, akhirnya dia melemparku seperti sampah ke lantai, lalu masuk ke rumah.
Setelah kejadian itu, aku tidak pernah melihat mereka lagi.
Sebelum pergi, kakak itu memberiku beberapa barang, dan aku menyembunyikannya di suatu tempat. Aku tidak pernah tega untuk menggunakannya.
Meskipun mereka telah pindah, kebencian ibuku padaku tidak berkurang.
Dengan bertambahnya usiaku, kebencian Ibu padaku juga makin bertambah.
Belakangan ini, Ibu menatapku dengan pandangan penuh kecurigaan, seolah-olah aku bukan anaknya, melainkan saingan yang ingin merebut suaminya.
Tatapan itu membuatku merasa tidak nyaman, tetapi setidaknya aku masih punya tempat pelarian di sekolah.
Bertahun-tahun, meski sering terlintas pikiran untuk menyerah, aku selalu merasa terhibur setiap melihat Tiara di sekolah.
Seolah-olah aku harus mengalami semua penderitaan selama bertahun-tahun ini hanya agar aku bisa bertemu dengan malaikat kecil seperti dia.
Tiara adalah sahabat terbaikku di sekolah. Dia tidak tahu soal keadaanku di rumah, tetapi setiap melihat luka di wajahku, dia akan memelukku.
"Nggak sakit kok, jangan sedih lagi ya."
Kalimat sederhana dan pelukan darinya menjadi sumber kekuatanku.
Karena aku bekerja dengan cekatan dan nilaiku bagus, wali kelas juga sangat menyukaiku.
Aku selalu mengingat nasihat wanita itu sebelum pergi. "Belajarlah dengan baik." Aku percaya, selama aku terus belajar, suatu hari aku akan bisa keluar dari neraka ini, meninggalkan ibu yang seperti iblis itu.
Kemudian, di usiaku yang ke-18, aku duduk di kelas tiga SMA.
Wali kelas memegang hasil tesku, menepuk pundakku dengan bangga.
"Bagus, kalau kamu terus seperti ini, bisa masuk universitas negeri unggulan di dekat rumah!"
Nilai simulasi ketigaku keluar, dan aku masih berada di peringkat sepuluh besar di angkatan.
Wali kelas senang sekali, dan mengajak beberapa siswa lain untuk makan bersama di kantin lantai dua.
Setelah selesai, aku berjalan sendiri di belakang.
Aku hampir tidak bisa menahan rasa bahagia. Namun, setelah bertahun-tahun menahan semuanya, aku bahkan tak bisa lagi tersenyum. Ketika terpikir hanya tinggal dua puluh hari lagi untuk meninggalkan rumah itu, aku merasa ingin menangis.
"Amanda, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Jalan di depan masih panjang."
Wali kelasku berhenti, mungkin menyadari emosiku, dia mencoba menghiburku.
Tepat saat itu, Tiara datang untuk menjemputku. Dia melambai dengan semangat.
Dalam hatiku, sebuah harapan kecil mulai tumbuh.
Mungkin, jika aku bisa melewati ini, aku juga bisa seperti Tiara.
Masa depan yang cerah, penuh harapan.
Malam itu, aku pulang ke rumah dan melihat ibuku duduk di ruang tamu.
Pemandangan itu membuat jantungku berdegup kencang.
Aku berjalan cepat menuju kamarku, tapi ibuku menarik rambutku dari belakang.