Bab 1
Ketika ibu mertuaku terkena serangan jantung, suamiku yang seorang spesialis kardiologi malah sibuk memasak untuk kucing mantan pacarnya.
Aku meneleponnya, memintanya cepat pulang untuk menyelamatkan ibu mertua.
Dia dengan dingin menjawab, “Nova, kamu sakit jiwa, ya? Berani-beraninya kamu mengutuk ibuku hanya demi memaksaku pulang!”
Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon.
Ibu mertuaku meninggal di meja operasi, sementara dia pergi menonton konser bersama mantan pacarnya.
Keesokan harinya, dia pulang ke rumah dan melihatku memeluk kotak abu jenazah. Dengan marah, dia melemparkan tas hadiah yang dibawanya ke arahku.
“Melda begitu perhatian pada ibuku, bahkan membelikan baju untuknya. Sementara kamu, sebagai menantu, cuma bisa mengajaknya berpura-pura agar aku kembali!"
Aku tersenyum sinis.
Ibunya sudah tiada, lantas untuk siapa baju itu?
Saat makan malam, ibu mertuaku tiba-tiba memegang dada, dan wajahnya pucat.
Aku segera meletakkan mangkok, lalu mendekat dan bertanya, "Ibu, jantungmu kambuh?"
Ibu mertuaku mengangguk.
Aku segera mengambil ponsel dan menelepon suamiku, Angga, yang merupakan ahli jantung.
Malam ini, dia bilang dia harus lembur, jadi dia tidak pulang untuk makan malam.
Aku menelepon beberapa kali, tetapi dia tidak mengangkatnya. Akhirnya, ketika dia mengangkat telepon, terdengar suara lembut dari ujung telepon.
"Nova, Leon sedang kurang enak badan, dan Angga sedang memasak untuknya. Tolong jangan terus menelepon, ya? Itu mengganggu tidurnya."
Aku merasa tubuhku kaku.
Itu adalah Melda, cinta pertama Angga.
Mereka sudah bersama sejak SMA, tetapi orang tua Melda merasa bahwa keluarga Angga terlalu miskin, jadi mereka memaksanya untuk berpisah dan mengirim Melda ke luar negeri untuk melanjutkan studi.
Kemudian, Angga bertemu denganku. Dia jatuh cinta padaku pada pandangan pertama dan setelah mengejarku selama setengah tahun, aku akhirnya setuju untuk menjalin hubungan dengannya.
Setelah kami menikah, hubungan kami selalu stabil, dan Angga adalah suami yang sempurna di mata semua orang.
Namun, tiga bulan yang lalu, Melda kembali dari luar negeri, dan Angga tampak seperti berubah menjadi orang lain.
Dia mulai pulang terlambat, tidak pulang di akhir pekan, dan setiap kali aku bertanya, dia selalu berkata sibuk dengan pekerjaan.
Namun, aku tahu dia bukan sibuk bekerja, dia malah pergi menemui Melda. Aku sudah tidak bisa menahan diri lagi, dan saat aku menanyakan hal ini padanya, dia malah mengatakan bahwa aku terlalu curiga dan berpikiran negatif.
Ternyata dia berbohong lagi, dia sama sekali tidak sedang lembur.
Namun, sekarang bukan waktunya untuk menyelidiki hal itu. Aku berbicara dengan suara dingin, "Beri teleponnya pada Angga."
"Melda, itu telepon dari siapa? suara Angga terdengar dari ujung telepon.
Aku segera berkata, "Angga, Ibu terkena serangan jantung, cepat pulang."
Aku pikir Angga akan panik mendengar ibunya sedang terkena serangan jantung, tetapi dia menjawab, “Nova, kamu sakit jiwa, ya? Berani-beraninya kamu mengutuk ibuku hanya demi memaksaku pulang!”
Setelah itu, dia langsung menutup telepon.
Aku menelepon lagi, tetapi dia mematikan teleponnya.
Melihat keadaan ibu mertuaku semakin buruk, aku tidak berani menunda waktu. "Bu, aku akan membawamu ke rumah sakit."
Aku membawa ibu mertuaku ke rumah sakit.
Begitu masuk ke lobi, aku membantu ibu mertuaku yang sudah pingsan duduk di kursi, lalu berbalik dan melihat seseorang yang aku kenal. Dia rekan kerja Angga, Mario.
Aku seperti menemukan secercah harapan, dan langsung berteriak, "Mario, ibuku terkena serangan jantung, cepat tolong dia!"
Mario menatapku sekilas dengan ekspresi tak berdaya.
"Nova, Angga bilang kamu cuma mau dia pulang, makanya kamu mengajak ibunya untuk berpura-pura. Jadi, jangan ganggu aku, ya."
Aku mendesak, "Ini bukan pura-pura. Ibu benar-benar terkena serangan jantung."
Mario tetap tidak percaya. "Nova, sebaiknya jangan main-main dengan hal seperti ini, nggak baik. Sekarang sudah malam, lebih baik kamu bawa ibumu pulang dan istirahat."
Mengingat ada nyawa yang dipertaruhkan, amarahku pun naik.
"Mario, dengar ya, cepat lakukan resusitasi pada ibuku, atau aku akan mengajukan keluhan terhadapmu!"
Aku biasanya lembut dan sopan, jadi Mario terkejut saat melihatku marah.
"Nova, kamu nggak bercanda, kan? Bibi benar-benar terkena serangan jantung?"
Aku menjawab dengan tegas, "Kamu dokter, masa kamu nggak lihat kondisi ibu mertuaku sangat buruk?"
Mario akhirnya sadar aku tidak berbohong. Dia segera memeriksa ibu mertuaku dan buru-buru mencari bantuan untuk membawanya ke ruang gawat darurat.
Tidak lama kemudian, Mario keluar dari ruang gawat darurat dengan panik dan berkata, "Nova, kondisi Bibi sangat gawat. Di seluruh kota ini, hanya Angga yang bisa melakukan operasi ini. Aku mencoba menghubunginya, tapi nggak bisa."
Napas aku tersentak.
Ibu mertuaku selalu baik kepadaku dan menganggapku seperti putrinya sendiri. Dia tidak pernah membiarkanku melakukan pekerjaan rumah tangga, dan bahkan selalu memasak berbagai makanan lezat untuk aku setiap hari. Dia juga sering mentransfer uang agar aku tidak kekurangan. Saat aku memberinya hadiah, dia selalu mengatakan tidak perlu dan meminta aku untuk tidak memboroskan uang.
Setiap kali aku dan Angga berselisih, ibu mertuaku tidak pernah memihak Angga. Sebaliknya, dia selalu membela aku dan meminta Angga untuk meminta maaf.
Aku harus mencari cara untuk menyelamatkannya.
Dengan tergesa-gesa, aku pergi ke kompleks tempat tinggal Melda dan menekan bel pintu dengan napas terengah-engah.
Tak lama kemudian, pintu dibuka oleh Melda. Dia hanya mengenakan gaun tidur tali tipis dengan bagian leher yang sangat rendah. Jika dia membungkuk sedikit saja, bagian dalamnya akan terlihat jelas.
Bab 2
Aku menggenggam jariku erat-erat, tetapi sekarang aku tak punya waktu untuk bertanya apa yang mereka lakukan di dalam.
"Di mana Angga?"
Begitu kata-kataku terucap, Angga muncul dengan kucing di pelukannya. Saat melihatku, wajahnya langsung berubah geram.
"Nova, mau apa kamu kesini?"
Dengan wajah tidak sabar, dia berkata, "Aku sudah bilang, Leon sakit dan perlu makan. Aku hanya membuatkan makanan untuknya dan akan segera pulang. Bisakah kamu sedikit simpati pada hewan?"
Aku tidak ingin membuang waktu berdebat dan langsung menarik lengannya. "Ikut aku, Ibu kena serangan jantung."
Namun, Angga menepis tanganku.
"Apa yang kamu bicarakan? Aku tahu kondisi Ibu lebih baik dari siapa pun. Dia baik-baik saja. Siang tadi aku bahkan memeriksanya. Keadaannya stabil. Jangan gunakan dia untuk menakut-nakutiku."
Memang, dia sendiri yang menangani penyakit ibu mertuaku, tetapi itu tidak berarti tidak ada kejadian tak terduga. Sebagai ahli kardiologi, seharusnya dia lebih tahu.
Aku berusaha menahan amarah dan tetap tenang.
"Angga, aku nggak bercanda. Ibu sekarang ada di rumah sakit, dan menunggu kamu untuk menyelamatkannya. Kalau kamu nggak segera datang dan terjadi sesuatu pada Ibu, kamu akan menyesal seumur hidup!"
Ekspresiku yang serius dan cemas membuat Angga mulai ragu.
Saat itu, Melda melihatku dengan wajah penuh rasa kasihan dan berkata, "Nova, aku tahu kamu cemburu melihat Angga di rumahku. Itu sebabnya kamu mengarang cerita tentang Ibu yang terkena serangan jantung."
"Tapi sungguh, nggak ada apa-apa di antara kami. Leon sakit, dan Angga hanya datang untuk memeriksanya. Jangan marah, ya?"
Mendengar Melda berbicara seperti itu, Angga langsung berpikir aku cemburu.
"Melda benar. Jangan asal bicara. Aku hanya punya ibu di dunia ini. Kalau kamu mau mati, mati saja sendiri, tapi jangan sumpahi ibuku!"
Amarahku hampir saja meledak.
Orang yang terbaring di ruang gawat darurat itu adalah ibu kandungnya. Apa dia sudah tidak waras?
Namun, sekarang bukan saatnya aku marah. Ibu mertuaku masih menunggu dia untuk melakukan operasi.
"Kalau kamu nggak percaya apa yang aku katakan, telepon Mario sekarang. Dia bisa membuktikan bahwa aku mengatakan yang sebenarnya."
Angga mengeluarkan ponselnya, tetapi sebelum dia bisa menelepon Mario, Melda berkata dengan nada yang berpura-pura peduli, "Angga, nggak perlu menelepon. Kamu dan Nova kembali saja, biarkan Leon bersamaku."
Melda mencoba mengambil kucing dari pelukan Angga, tetapi Angga menghindarinya dan mengelus kepala kucing itu sambil berkata.
"Aku nggak akan pergi. Aku harus menjaga Leon dan makanannya belum selesai dimasak."
Melihat Angga lebih peduli pada kucing daripada ibunya sendiri yang sedang kritis, aku sangat marah dan menunjuk wajahnya.
"Angga, kamu lebih memilih tinggal di sini memasak untuk seekor kucing daripada pergi ke rumah sakit menyelamatkan Ibu?"
Sebelum Angga bisa menjawab, Melda berkata, "Nova, aku tahu kamu marah karena salah paham dengan hubungan aku dan Angga, tapi kondisi ibunya memang stabil. Jangan sumpahi dia, aku khawatir suatu hari nanti sumpahmu jadi kenyataan."
Mendengar itu, Angga mengernyit tidak senang.
"Nova, kenapa kamu jadi seperti ini? Ibu sangat baik padamu, tapi kamu malah memanfaatkannya untuk menipuku aku agar pulang. Kamu benar-benar nggak tahu terima kasih. Nggak heran orang tuamu meninggalkanmu."
Aku mengepalkan tangan dengan keras sampai buku-buku jariku memutih.
Aku lahir di keluarga yang mengutamakan anak laki-laki, dan setelah aku lahir, orang tuaku meninggalkanku. Aku dibesarkan oleh pamanku.
Hal ini selalu menjadi luka dalam hatiku, dan Angga malah menaburkan garam di atas luka itu.
Aku menggigit bibirku.
Aku sangat putus asa.
Dengan suara terisak, aku berkata, "Angga, aku mohon, ibu benar-benar kritis, ayo pergi ke rumah sakit untuk menyelamatkannya."
Melda memegang tanganku dengan sikap lembut dan baik.
"Nova, tenang saja, Angga akan pulang setelah memasak untuk Leon. Jangan lagi menyumpahi ibunya, ya?"
Kalau bukan karena dia, Angga pasti sudah pergi ke rumah sakit untuk menyelamatkan ibu mertuaku. Memikirkan hal itu, aku sangat marah, lalu dengan kuat melepaskan tangannya. "Ini masalah keluarga kami, kamu nggak perlu ikut campur!"
Meskipun aku tidak menarik tanganku dengan keras, Melda jatuh ke lantai.
Angga segera membantunya bangun. "Melda, kamu nggak apa-apa, 'kan? Ada yang terluka?"
Melda dengan lemah menggelengkan kepala. "Aku nggak apa-apa."
Angga memandangku dengan marah. "Cukup, Nova, aku sudah sabar denganmu cukup lama, jangan membuat keributan lagi!"
Dia mendorongku dan menutup pintu dengan keras.
Aku mengetuk pintu dan menangis. "Angga, buka pintunya!"
"Ayo cepat ke rumah sakit, Ibu butuh kamu!"
Namun, meskipun aku terus mengetuk, Angga tidak menjawab.
Bab 3
Aku tidak punya pilihan selain bergegas kembali ke rumah sakit, dan dalam perjalanan, aku terjatuh beberapa kali karena terlalu panik.
Begitu Mario melihatku, dia bertanya, "Nova, di mana Angga?"
"Dia nggak mau ikut aku ke rumah sakit. Bagaimana dengan Ibu?"
Mario menoleh dan berkata tanpa menatapku, "Nova, kamu harus kuat."
Wajahku langsung pucat, dan aku segera berlari ke ruang gawat darurat.
Melihat keadaan ibu mertuaku yang lemah, aku merasa sangat sedih. "Ibu, maafkan aku, aku nggak bisa menemui Angga."
Aku tidak tega memberi tahu ibu bahwa Angga menolak untuk pergi ke rumah sakit bersamaku.
"Nova, kamu nggak perlu menyembunyikan hal itu dariku. Angga adalah anakku, aku lebih tahu tentang dia daripada siapa pun. Dia pasti sedang bersama wanita itu."
"Karena wanita itu, dia bahkan nggak peduli padaku, ibunya sendiri. Anak nggak tahu berterima kasih!"
"Sejak pertama kali bertemu, Ibu sudah tahu kamu anak yang baik. Dia sering pergi ke rumah wanita itu, dan kamu menahan perasaan sendiri tanpa memberi tahu Ibu. Ini salah ibu, Ibu nggak bisa mendidiknya dengan baik."
Aku terisak tak bisa berkata-kata.
"Bu, ini bukan salahmu, tolong jangan bilang begitu."
Saat ibu mertuaku batuk beberapa kali, aku pun khawatir. "Bu, jangan bicara lagi, istirahatlah. Ibu pasti akan baik-baik saja."
Air mata mulai mengalir di wajah ibu mertuaku. "Kalau Ibu nggak mengatakan ini sekarang, mungkin Ibu nggak punya kesempatan lagi."
Hatiku begitu sakit hingga aku tak bisa berkata apa-apa.
Ibu mertua menatapku. "Nova, kalau nanti ibu sudah nggak ada, kamu harus jaga dirimu baik-baik. Jangan lagi menahan kesedihan. Cerai saja, Ibu ingin kamu bahagia."
“Bu!”
Aku terjatuh di samping ranjang rumah sakit, menangis sejadi-jadinya.
Ibu mertuaku sudah meninggal.
Mario berdiri di sampingku dengan kepala tertunduk dan tidak berani berkata apa-apa.
Pagi pun tiba, dan aku melihat tubuh ibu mertuaku yang sudah kaku. Aku mengambil ponsel dan menghubungi Angga, tetapi dia tetap mematikan teleponnya.
Aku membuka WhatsApp, berniat mengirim pesan kepadanya. Apapun yang terjadi, pemakaman ibu mertuaku harus diselenggarakan dengan baik, dan Angga harus pulang untuk memberi penghormatan terakhir.
Namun, sebelum aku sempat mengirim pesan, aku melihat status WhatsApp yang diposting oleh Melda.
Dia mengunggah beberapa foto.
Dalam foto-foto tersebut, dia sedang duduk di kursi sambil memeluk kucing, dengan lengan seorang pria di sampingnya, dan aku langsung mengenali itu adalah Angga.
Tulisannya berbunyi. "Leon sangat beruntung, bertemu dengan ayah yang menyayanginya. Kami akan pergi ke konser!"
Angga juga menulis komentar di bawahnya. "Melihat kalian begitu bahagia, aku juga merasa senang."
Aku menggenggam ponsel dengan erat, dan hatiku terasa sakit seakan berdarah.
Ibu mertuaku sudah meninggal, tetapi dia masih sempat pergi nonton konser dengan Melda dan kucingnya.
Aku tidak jadi mengirim pesan kepada Angga.
Semua urusan kremasi ibu mertuaku aku urus sendiri. Setelah semuanya selesai, aku kembali ke rumah dengan membawa kotak abu jenazahnya.
Melihat gelas ibu mertuaku di atas meja, aku tidak bisa menahan diri, dan air mata langsung mengalir deras.
Ayah Angga sudah lama meninggal, dan ibu mertuaku bekerja keras dengan banyak pekerjaan untuk membesarkan Angga, hingga akhirnya dia jatuh sakit dan mengidap penyakit jantung.
Keesokan harinya, Angga pulang dan langsung bertanya, "Ibuku di mana?"
Aku duduk di sofa, menatapnya dengan dingin, sambil memegang kotak abu ibu mertuaku di pelukanku.
Ibu ada di sini.
Angga menatapku dengan penuh kebencian.
"Nova, apa belum cukup kamu membuat masalah?"
"Jangan kira karena ibuku menyayangimu, kamu bisa seenaknya menariknya ke dalam drama ini. Aku nggak akan tertipu. Dia pergi kemana? Cepat panggil dia keluar!"
Dengan marah, dia melemparkan tas hadiah yang dibawanya ke arahku.
“Melda begitu perhatian pada ibuku, bahkan membelikan baju untuknya. Sementara kamu, sebagai menantu, cuma bisa mengajaknya berpura-pura agar aku kembali!"
Aku tersenyum sinis.
Ibunya sudah tiada, lantas untuk siapa baju itu?
Aku tidak mengerti bagaimana ibu mertuaku yang begitu baik bisa melahirkan anak yang sebodoh dia.
Aku mengambil kotak hadiah itu dan melemparnya dengan keras ke arahnya.
"Angga, kamu percaya apa pun yang dikatakan Melda! Apa kamu nggak punya otak? Ibu sudah meninggal!"
Angga terkejut sejenak, lalu merebut kotak abu itu dari tanganku.
"Nova, aku rasa kamu benar-benar sakit. Kamu bahkan membuat kotak abu ini untuk menipu aku. Ini sudah keterlaluan!"
Dia mengangkat tangannya dan membanting kotak abu itu ke lantai.