Bab 1

Ibu angkatku memiliki kebiasaan yang mengerikan. Dia sangat suka makan plasenta dan hanya menginginkan plasenta dari kerabat dekatnya. Dia percaya bahwa plasenta dapat menyembuhkan segala penyakit, jadi dia mengadopsi banyak gadis untuk dijadikan pelampiasan nafsu bagi putranya.

Aku dan kakakku adalah saudara kembar. Namun, tampang kami sama sekali tidak mirip. Kakakku cantik dan pandai, serta sangat populer di panti asuhan. Karena itulah, ibu angkatku langsung terpikat padanya.

Aku tidak tahu apa yang dikatakan kakakku pada ibu angkatku waktu itu. Namun pada akhirnya, dia memutuskan untuk mengadopsiku juga.

Awalnya, aku berpikir kami akan menjalani kehidupan yang normal bersama. Namun, ilusi itu hanya bertahan selama satu tahun. Kenyataan baru mulai terbuka suatu malam ketika aku terbangun untuk pergi ke kamar mandi dan mendengar suara erangan dari kamar kakakku.

Dengan jelas, aku melihat bayangan Donny, putra ibu angkatku, melakukan hal yang membuatku merinding di atas tubuh kakakku.

Sejak itu, kakakku harus memenuhi keinginan ibu angkat dengan memberikan plasenta dari tiga anak yang dilahirkannya. Namun, saat ibu angkatku akhirnya menelan plasenta dari anak keempat kakakku, sesuatu yang tak terduga terjadi. Ibu angkatku tiba-tiba mengalami gangguan jiwa.

Suara jeritan yang menyayat hati terdengar dari ruang bersalin. Sementara itu, ibu angkatku duduk dengan wajah tak sabar di kursi.

Tak lama kemudian, dokter keluar dan memberitahukan dengan suara rendah, "Pasien kesulitan untuk melahirkan dan sekarang diperlukan operasi caesar. Di mana ayah dari anak ini? Kami butuh tanda tangannya."

Begitu mendengar hal ini, ibu angkatku langsung naik pitam, "Nggak perlu operasi caesar! Kalau sampai merusak plasenta, gimana jadinya?"

Mendengar ucapannya, dokter itu mengernyitkan dahi, "Kalau nggak operasi, nyawa pasien bisa terancam."

"Cuma agak sulit saja, 'kan? Padahal cuma melahirkan, apa susahnya? Nyawa bukan urusanku! Aku nggak peduli gimana caranya, tapi pastikan plasentanya tetap utuh. Kalau nggak, jangan harap rumah sakit ini bisa beroperasi lagi."

Begitu ibu angkatku selesai bicara, aku segera berlari mendekat dan memohon, "Dokter, tolong selamatkan kakakku."

Ibu angkatku menarikku, lalu menamparku dengan keras, "Di sini bukan tempatmu bicara." Tamparannya keras sekali, hingga pipi kananku terasa panas seolah-olah terbakar.

Aku ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi ibu angkatku langsung menendangku hingga terjatuh. Dengan sepatu hak tingginya, dia menginjak tanganku dengan kasar. Aku bahkan bisa mendengar suara tulang tanganku yang retak dengan jelas.

Aku merintih kesakitan. Ibu angkatku memandang dokter dengan tajam dan berkata, "Kalau kamu masih mau kerja besok, lakukan saja seperti yang kuperintahkan!"

Dokter terdiam sejenak sebelum akhirnya setuju. Aku merangkak dengan putus asa ke arah pintu ruang gawat darurat, tetapi ibu angkatku mengadangku. Dia menarik rambutku dengan kasar.

"Kamu benar-benar nggak tahu diuntung. Kalau bukan karena aku, kamu dan kakakmu sudah lama mati kelaparan di jalanan. Bukannya berterima kasih, malah berani melawanku."

Sambil berbicara, dia menduduki tubuhku dan memukul leherku dengan keras, "Dasar nggak berguna! Kalau saja kakakmu nggak bisa hamil, aku sudah menyingkirkanmu dari dulu."

Hidung dan mulutku sudah dipenuhi darah, tapi orang-orang yang berdiri di sekeliling hanya memandang tanpa ada yang berani menolong, wajah mereka terlihat terbiasa dengan pemandangan ini.

Saat itu, putra ibu angkatku, Donny, pun datang. Dia memandangku dengan ekspresi jijik. Dia bertanya, "Hilda gimana?"

Ibu angkatku menatapnya dan berdiri perlahan dari atas tubuhku. "Dokter bilang mungkin nggak akan selamat."

Donny berdecak, "Sayang sekali, padahal payudaranya besar sekali. Plasentanya gimana? Sudah dapat belum?"

Ibu angkatku menjawab, "Masih lagi operasi, tapi aku sudah perintahkan dokter, walaupun Hilda meninggal, plasentanya harus diambil." Mereka berbicara dengan tenang, seolah-olah nyawa manusia tidak berarti apa-apa.

Donny kemudian berjongkok, mematikan rokoknya di dadaku. Aroma kulit yang terbakar tercium dan aku berteriak kesakitan. Dia menekan mulutku dengan keras, "Diam! Kamu berdoa saja semoga plasenta itu bisa diambil utuh dari kakakmu, atau kamu tunggu mati saja."

"Melahirkan saja nggak bisa, perempuan macam apa kamu ini?"

Setelah itu, dia menendang perutku beberapa kali dengan kasar.

Saat kakakku didorong keluar dari ruang operasi, wajahnya tampak pucat pasi. Untungnya, dia berhasil selamat. Namun, ibu angkat dan Donny sama sekali tidak memperhatikan bayinya. Mereka langsung mendekati dokter yang membawa plasenta.

Ibu angkatku tersenyum senang, "Kualitasnya bagus kali ini, cepat bawa pulang dan olah."

Bab 2

Aku berusaha keras untuk bangkit melihat bayi yang begitu kecil dan kurus, bahkan napasnya juga sangat lemah. Inilah yang disebut bayi prematur.

Ibu angkatku sangat percaya bahwa plasenta dari bayi usia delapan bulan adalah yang terbaik. Jadi, begitu usia kandungan mencapai delapan bulan, mereka akan melakukan segala cara untuk mempercepat kelahiran.

Belum sempat aku meraih bayi itu untuk menggendongnya, seorang pengawal berbaju hitam datang dan langsung membawanya pergi. Mereka selalu begitu. Setiap bayi yang lahir pasti segera dibawa pergi dan tidak ada yang tahu ke mana bayi itu dikirim.

Ketika kakakku dipindahkan dari ruang perawatan intensif ke kamar biasa, hanya aku yang berada di sisinya. Ini adalah kelahiran ketiganya. Tiga tahun berturut-turut, dia melahirkan tiga anak.

Begitu sadar dan melihat luka di wajahku, tatapan kakakku seketika menjadi muram. "Mereka mukul kamu lagi?"

Aku hanya berdiri terdiam di samping, tidak berani berkata apa pun. Kakakku menarik napas panjang, "Sebentar lagi ... bertahanlah sedikit lagi."

Sebenarnya, aku tidak tahu apa yang dia maksud dengan "sebentar lagi". Namun, perkataannya selalu membuatku sulit menebak maksudnya.

Kami adalah saudara kembar, tetapi wajah kami sangat berbeda. Kakakku cantik dan pintar belajar. Di panti asuhan pun dia selalu disukai. Itulah sebabnya ibu angkat kami langsung tertarik padanya.

Aku tidak tahu apa yang dikatakan kakakku kepada ibu angkat saat itu, tapi akhirnya aku juga ikut diadopsi. Awalnya, aku pikir akhirnya aku dan kakakku bisa menjalani kehidupan normal. Namun, ilusi itu hanya bertahan setahun.

Suatu malam, ketika aku bangun untuk pergi ke kamar mandi, aku mendengar suara erangan dari kamar kakakku. Aku melihat dengan jelas bayangan Donny di atas tubuh kakakku dan bergerak naik-turun.

Gerak-gerikku langsung disadari oleh Donny. Dia menjatuhkanku ke lantai dengan kasar. Karena dikuasai nafsu, dia menatapku beberapa saat, lalu berusaha merobek pakaianku. Kakakku buru-buru berlari keluar dan menghentikannya.

Dia meraih Donny dan berkata, "Anak ini nggak ada gunanya, nggak ada yang bisa dimainkan dari dirinya." Sambil berbicara, kakakku terus menggoda Donny. Melihat sorot matanya yang diarahkan padaku, aku segera mengambil kesempatan itu untuk berlari keluar.

Saat itulah aku pertama kali memahami peran kakakku dalam keluarga ini. Tak lama kemudian, kakakku pun hamil. Ketika kakakku hamil, Donny mulai mengalihkan perhatiannya padaku.

Pada suatu malam, ketika aku melawan, Donny menjadi kesal dan mulai memukuliku. Pipiku terasa panas karena tamparannya dan seluruh punggungku penuh luka. Meskipun sudah menyakitiku seperti itu, Donny belum juga berniat melepaskanku.

Aku tak bisa lagi menahan diri. Aku menggigitnya dan berusaha melarikan diri. Namun, dia hanya menendangku hingga tersungkur ke lantai.

Wajahnya yang gelap dan dingin menatapku. "Mau lari ke mana? Sudah diberi makan dan pakaian, tapi masih berani melawan? Kamu pikir kamu ini apa? Kalau nggak patuh, aku akan menjualmu."

Sambil berbicara, dia menendang dan memukulku dengan kejam. Aku hampir mati disiksanya. Pada akhirnya, kakakku yang sedang hamil itu yang membantuku dan merawatku.

Melihat tubuhku yang penuh luka, kakakku berlinang air mata dan dia berulang kali meminta maaf. Itu adalah pertama kalinya aku melihat kakakku menangis.

Tak lama kemudian, entah dari mana kakakku mendapatkan ramuan herbal dan memberikannya padaku. Setelah beberapa hari meminumnya, aku merasakan sakit perut yang tak tertahankan.

Di rumah sakit, dokter hanya memberiku sebuah vonis. Kemungkinanku untuk hamil sangat kecil. Sejak itu, Donny hampir tidak pernah menyentuhku lagi.

Kakakku hanya dirawat di rumah sakit beberapa hari sebelum dijemput pulang. Setelah ibu angkatku mengonsumsi plasenta tersebut, tubuhnya tampak semakin segar dan penuh semangat.

Saat kami tiba di rumah, ibu angkatku sedang menikmati teh. Dia memanggil kakakku untuk mendekat, sementara aku sendiri naik ke lantai atas. Dari kamar sebelah, terdengar tangisan dan suara pukulan seorang wanita.

Bab 3

"Maafkan aku, aku nggak akan melarikan diri lagi."

Mendengar ucapannya, Donny malah menampar wanita itu lagi. "Perempuan nggak tahu diri! Sudah diperlakukan baik-baik, tapi malah mau melarikan diri," katanya sambil mengangkat tongkat kayu dan memukul keras kakinya.

Tulang kaki wanita itu patah, tertekuk ke arah yang tidak wajar. Namun, Donny tidak berhenti. Sebaliknya, dia malah semakin brutal memukulinya. Setelah lelah memukulinya, Donny duduk di samping dengan terengah-engah.

Pada saat itu, wanita yang terluka itu merangkak ke arahku. Wajahnya berlumuran darah dan dia berbisik dengan suara serak, "Tolong aku ... kumohon, tolong aku."

Aku belum sempat merespons ketika Donny berjalan mendekat, lalu menarik rambut wanita itu dan menatapku sambil tertawa sinis. "Kamu juga mau coba melarikan diri?"

Lemak di wajahnya bergetar hebat dan tampak sangar.

Wanita ini adalah orang baru yang dibawa beberapa minggu lalu. Sejak dibawa ke sini, dia selalu berteriak ingin melaporkan kejadian ini ke polisi. Sepertinya kali ini dia tertangkap saat mencoba kabur lagi.

Melihat hal itu, aku menenangkan diri sejenak. Kemudian, aku tersenyum sambil berkata dengan pelan, "Tentu saja nggak, aku nggak sebodoh dia. Aku sudah jadi milikmu. Tentu saja, aku akan melakukan apa pun yang kamu perintahkan."

Sebelum kembali ke rumah, kakakku sudah berpesan agar aku tidak memancing amarah Donny.

Donny mengangkat alis dan tidak mengatakan apa pun lagi. Namun, dia tetap menunjukkan kekejamannya di hadapanku. Dia mengambil tongkat kayu dengan duri di ujungnya dan mulai memukuli punggung wanita itu. Darah segar yang hangat memercik ke wajahku.

Sambil memukuli wanita itu, dia menatapku. Aku tahu dia sedang mengancamku dengan memberikan peringatan agar aku tidak mencoba melawan.

Namun, aku tidak gentar sama sekali. Aku hanya memeluk lutut, menggigil, dan berpura-pura ketakutan. Donny tampak puas melihatnya.

Entah bagian mana dari kejadian itu yang membuat Donny terangsang. Dia langsung menelanjangi wanita itu, lalu membuka celananya sendiri dan menodai wanita itu tanpa menghiraukan tangisan dan permohonannya.

Aku hanya bisa menatap pemandangan menjijikkan itu dengan tatapan dingin dan merasakan mual yang luar biasa.

Kejadian itu menimbulkan keributan yang mengganggu orang-orang di luar. Ibu angkatku datang untuk melihat apa yang terjadi. Namun, dia tampak tidak peduli. Dia hanya berkata dengan nada datar, "Tahan dirimu, jangan sampai dia mati. Kalau begitu, uang yang kita keluarkan jadi sia-sia."

Donny tertawa sinis, "Tenang saja, aku akan memastikan kamu mendapatkan cucu."

Setelah mendengar ucapan itu, ibu angkatku pun langsung pergi, bahkan menutup pintu dengan rapat. Donny kembali melanjutkan aksinya. Wanita yang terbaring di bawahnya hanya meratap dengan mata yang dipenuhi keputusasaan.

Di tempat ini, para wanita terbagi menjadi tiga kategori. Ada yang diadopsi, ada yang dibeli, dan ada yang datang secara sukarela.

Namun, tak peduli dari mana mereka berasal, mereka hanyalah alat untuk melahirkan tanpa hak sedikit pun. Bagi kami, wanita-wanita yang tidak memiliki kekuatan ataupun kuasa, kami tidak lebih dari ternak yang mereka pelihara.

Beberapa orang pernah mencoba melaporkan kejadian ini ke polisi. Namun, aksi ibu angkat dan Donny sangat rapi. Mereka cukup berpengaruh di kota ini untuk menutupi semua kejahatan yang mereka perbuat.

Sejak ayah Donny meninggal, ibu angkatku semakin tak terkendali. Dia terobsesi memakan plasenta, sementara Donny adalah pria cabul. Rumah ini benar-benar telah berubah menjadi neraka bagi wanita.

Beberapa hari setelah kami kembali ke rumah, Donny kembali memasuki kamar kakakku.

Aku berdiri di luar pintu dengan putus asa. Melalui celah pintu, aku dan kakakku saling bertatapan. Tebersit kekejaman dalam sorot mata kakakku. Sejak melahirkan anak keduanya, Donny seolah-olah terobsesi pada kakakku.

Ibu Angkat Psikopat

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya