Bab 1
Saat belajar menyetir dengan ayah sahabatku, dia memintaku duduk di atas pangkuannya. Jalannya bergelombang sehingga aku terombang-ambing di atasnya.
Aku bisa merasakan dengan jelas di balik bokongku, ada sesuatu yang keras dan panas, yang menekan bagian bawah tubuhku setiap kali aku bergerak.
Ayah sahabatku terus mengelus tubuhku, dengan alasan untuk melatih konsentrasiku. Ketika tangannya masuk ke pakaianku, aku merasakan dengan jelas sensasi basah di bawah sana.
Detik itu juga, aku tahu segalanya menjadi di luar kendali.
Saat belajar menyetir dengan ayah sahabatku, dia memintaku duduk di atas pangkuannya. Jalannya bergelombang sehingga aku terombang-ambing di atasnya.
Aku bisa merasakan dengan jelas di balik bokongku, ada sesuatu yang keras dan panas, yang menekan bagian bawah tubuhku setiap kali aku bergerak.
Ayah sahabatku terus mengelus tubuhku, dengan alasan untuk melatih konsentrasiku. Ketika tangannya masuk ke pakaianku, aku merasakan dengan jelas sensasi basah di bawah sana.
Detik itu juga, aku tahu segalanya menjadi di luar kendali.
....
Di dalam MRT sangat ramai. Pria di belakangku terus menempel ke tubuhku, entah disengaja atau tidak.
Tubuh pria itu cukup kekar. Otot-ototnya terus mengenai punggungku. Bau keringat yang menyengat pun memenuhi hidungku. Aroma maskulin seperti itu membuatku sangat terangsang.
Seiring bunyi penanda keberangkatan, kereta bawah tanah mulai melaju dan pria di belakangku tiba-tiba menempelkan tubuhnya dengan keras ke punggungku. Bukan hanya itu, dia bahkan mendorong sedikit, membuat kemaluannya menghantam bokongku.
Seketika, rangsangan yang begitu kuat membuat wajahku memerah.
Merasakan pria itu memiliki niat terhadapku, bukannya merasa malu, aku justru merasakan sensasi menyenangkan yang samar di hatiku.
Aku tanpa sadar bersandar ke belakang, ingin lebih dekat dengan tubuhnya itu. Perasaan digesek oleh pria asing membuat bulu kudukkku meremang dan sekujur tubuhku melemas.
Mungkin karena aku tidak menolak saat ditekan oleh kemaluannya, bahkan menyambut, membuat pria itu semakin berani terhadapku.
Kedua tangan besarnya meraih tiang MRT, sementara tubuhnya semakin menempel kepadaku. Saat berikutnya, dia kembali menekanku.
Hari ini, aku memakai terusan bertali yang pendek dan stoking putih. Memang sangat minim. Ketika menempel padaku, rasanya seperti menempel langsung dengan kulitku yang lembut, membuat stimulasi yang ada bertambah berkali-kali lipat. Tubuhku seolah-olah kehabisan energi.
Hari ini, aku memang sedang kesal karena tidak dipuaskan oleh pacarku. Makanya, aku melarangnya mengikutiku dan menyuruhnya berdiri di sisi lain MRT bersama sahabatku.
Sekarang, aku merasa celana dalamku sudah basah karena terus ditekan oleh pria di belakangku. Niat nakalku semakin kuat. Aku refleks memandang ke sekeliling, memeriksa apakah ada yang memperhatikan kami.
Nyaliku semakin besar. Aku menggigit pelan bibirku, lalu menunggingkan bokongku sedikit untuk menyambut sentuhan dari belakang. Karena belum puas bermain dengan pacarku, bokongku yang bulat itu pun mulai bergoyang.
"Benar-benar nakal." Tiba-tiba, terdengar suara pria di belakangku.
Pria itu pun tidak berpura-pura lagi. Dia mendekatkan kepalanya ke kepalaku, lalu satu tangan besarnya meraih terusan pendekku dari belakang.
Seketika, aku merasa agak panik. Pria itu telah mengetahui rahasia memalukanku. Namun, rasa malu itu segera sirna setelah dia mencubitku beberapa kali.
Tubuhku benar-benar panas. Aku tidak sempat memedulikan hal lain lagi dan menggoyangkan bokongku dengan semakin hebat.
Tiba-tiba, aku menyadari satu hal. Kenapa suara pria ini begitu familier? Saat berikutnya, aku melirik ke belakang.
Aku sontak tertegun. Ternyata pria di belakangku dari kursus mengemudi sekaligus adalah teman sahabatku, Om Maxim!
Hari ini, aku, sahabatku, dan pacarku hendak pergi ke kursus mengemudi Om Maxim, makanya kami naik MRT ini.
Karena takut ketahuan, aku buru-buru memalingkan wajahku. Lagi-lagi aku merasakan rangsangan yang aneh. Aku pun tak kuasa melirik ke arah pacarku.
Ketika melihat pacarku sedang mengobrol dengan sahabatku, hatiku semakin gelisah. MRT ini begitu ramai. Seharusnya tidak ada yang memperhatikan kami.
Aku merasa aku seharusnya meminta pertolongan, tetapi sensasi menyenangkan ini membuat kata-kata yang ingin kulontarkan hancur, hanya menyisakan desahan dan napas yang memburu.
Om Maxim menyadari pemikiranku. Satu tangannya langsung meluncur ke bawah terusanku dan hendak mengangkatnya.
Bab 2
Saat ini, MRT akhirnya berhenti. Penumpang yang naik turun di stasiun ini lebih banyak.
Ketika melihat banyak orang keluar, aku khawatir Om Maxim akan mengenaliku. Apalagi sahabatku ada di dalam MRT. Ini memang memalukan.
Meskipun aku sangat menikmatinya, bahkan merasa enggan untuk berpisah, aku tetap mengikuti arus dan menuju ke tempat pacarku. Entah kenapa, Om Maxim tidak mengikutiku.
Setelah sampai di sisi pacarku dan sahabatku, pacarku mendapati wajahku memerah. Dia langsung merangkulku, membuatku bersandar di dinding MRT bersamanya. Kemudian, dia berbisik, "Sayang, akhirnya kamu kembali. Maaf ya. Malam ini aku bakal makan dua butir obat, biar kamu puas!"
Aku sangat sedih memikirkan pacarku harus makan obat-obatan agar bisa bermain lama dan kuat. Seketika, tubuh kuat milik sahabat ayahku muncul di benakku.
Rasanya ditekan oleh kemaluannya itu .... Jika kami benar-benar melakukannya .... Sambil memikirkan itu, aku mengiakan ucapan pacarku secara asal.
Sahabatku melirikku sekilas, berdecak dengan emosional. "Primadona kita ini bukan cuma cantik, tapi juga seksi. Harry, kamu benar-benar beruntung."
Pacarku, Harry, terkekeh-kekeh. "Tentu saja."
Mendengar godaan sahabatku, aku hanya bisa menghela napas dalam hati. Apa gunanya punya tubuh seksi? Pacarku tidak bisa memuaskanku. Lebih baik aku bertubuh pendek dan mungil seperti sahabatku.
Di tengah hatiku yang kacau, kami bertiga turun dari MRT. Aku tidak melihat Om Maxim lagi.
Sesampainya di kursus mengemudi, aku melihat Om Maxim duduk di samping mobil, menceritakan pengalamannya di MRT dengan para instruktur bertubuh kekar.
"Kalian nggak tahu, gadis di MRT itu benar-benar nakal. Tsk, tsk, celana dalamnya sampai basah. Kalau bukan lagi di MRT, aku pasti sudah menekannya habis-habisan, biar dia tahu sehebat apa pria sejati."
Salah satu instruktur menimpali, "Maxim, kamu lagi membual ya? Benaran ada gadis senakal itu? Aku juga ingin coba."
"Memang ada. Aku juga pernah ketemu wanita muda yang segenit itu. Tsk, tsk, hari itu aku juga naik MRT ...."
Aku tahu yang dimaksud Om Maxim adalah diriku. Pada saat yang sama, pikiranku kembali menjadi liar saat melihat para instruktur bertubuh kekar itu.
Kalau pacarku sekuat mereka, tubuhku tidak akan terasa hampa seperti ini. Semua ini karena pacarku yang tidak mampu memuaskanku.
Pacarku tidak menyadari perubahanku. Matanya berbinar-binar saat mendekati Om Maxim dan lainnya.
Kakiku masih lemas sejak tadi. Aku sampai hampir terjatuh karena pacarku yang tiba-tiba berjalan pergi.
Sahabatku berdeham beberapa kali, lalu berkata dengan wajah tersipu, "Ayah, kalian lagi bahas apa sih? Cepat ajari kami nyetir."
Mendengar ucapan itu, Om Maxim segera menoleh. Matanya tertuju padaku. Tubuhnya tiba-tiba menjadi tegak, sementara matanya dipenuhi keterkejutan.
Aku khawatir Om Maxim mengenaliku, jadi segera berkata kepadanya, "Om, ce ... cepat ajari kami nyetir."
Om Maxim pun tersadar dari lamunannya, lalu menyahut, "Oke, oke, aku ajari kalian."
Selesai mengatakan itu, dia menunjuk seorang pria muda dan berkata kepada sahabatku, "Teknik mengemudimu sudah lumayan. Aku kasih kamu dan Harry instruktur muda ini biar kalian lebih gampang berkomunikasi. Aku ajari Yessy saja."
Om Maxim sepertinya sengaja. Pacarku termangu sejenak, lalu melirik sahabatku dan mengangguk.
Bab 3
Aku agak takut, tidak mengerti kenapa Om Maxim menyuruhku naik mobil yang sama dengannya. Namun, aku akan terlihat mencurigakan kalau menolak. Selain itu, entah kenapa aku merasa agak bersemangat.
Jadi, aku berjalan ke mobil yang ditunjuk oleh Om Maxim. Lokasinya tidak jauh. Entah sengaja atau tidak, Om Maxim selalu berjalan lebih lambat dariku. Aku bisa merasakan dengan jelas bahwa tatapannya sedang mengamatiku dari belakang.
Bahkan aku bisa mendengar suaranya saat menelan ludah. Tatapannya yang begitu membara itu seolah-olah berubah menjadi tangan yang terus meraba tubuhku.
Tubuhku menjadi panas, sementara hatiku panik. Jangan-jangan Om Maxim sudah tahu aku adalah gadis genit di MRT itu?
Kalau benar begitu dan kami berada di mobil yang sama, apakah dia akan .... Memikirkan itu, aku merasa panik sekaligus menantikan.
Di tengah perasaan yang campur aduk, aku membuka pintu mobil dan hendak duduk di samping kursi pengemudi.
"Yessy, kemari," panggil Om Maxim.
Aku tidak mengerti maksudnya, jadi berjalan ke arah kursi pengemudi. Tak disangka begitu aku tiba, Om Maxim langsung menarikku ke atas pangkuannya. Kedua tangannya merangkul pinggangku.
"Om ... kamu ngapain?" Aku terkejut setengah mati.
Tubuh Om Maxim menempel erat padaku. Dia lantas berbisik di samping telingaku, "Tentu saja mengajarimu nyetir. Begini baru cepat belajarnya."
Belajar mengemudi dengan duduk di atas pangkuan Om Maxim. Posisi ini terlalu memalukan. Aku hanya memakai terusan pendek yang tipis. Begitu duduk, aku bisa langsung merasakan tonjolan yang cukup besar di antara kedua kaki Om Maxim.
Seketika, wajah dan telingaku memerah. Aku ingin menolak, tetapi Om Maxim sudah menyalakan mobil dan menginjak pedal gas. Mobil pun melaju dengan perlahan.
"Pegang kemudi baik-baik. Jangan sampai nabrak." Om Maxim meletakkan tanganku di atas kemudi, menyuruhku memegang dengan baik.
Ini adalah jalan pegunungan buatan di dekat kursus mengemudi. Di sampingnya adalah jalan setapak pegunungan yang ditumbuhi semak belukar. Akan sangat berbahaya jika menabrak salah satu sisi.
Aku hanya bisa memegang kemudi erat-erat sambil menatap ke depan. Namun, aku sulit mengabaikan sensasi di bawah tubuhku. Karena jalan yang bergelombang, aku terombang-ambing di atasnya dan bokongku terus membentur titik berbahaya itu.
Om Maxim bahkan sengaja mencondongkan tubuh ke depan, membenturku dengan keras hingga aku tak kuasa mengeluarkan seruan kaget. Pose ini membuat kami terlihat seperti sedang ....
Ketika aku sedang panik, tiba-tiba aku merasakan tangan Om Maxim yang tadinya merangkul pinggangku mulai bergerak ke atas. Setelah tiba di tempat yang lembut itu, dia meremas dengan kuat beberapa kali.
Tubuhku bergetar. Tanganku yang memegang kemudi pun menjadi agak lemas. "Jangan ... Om ...."
Om Maxim malah tertawa. "Jangan panik, Yessy. Jalanan ini agak bergelombang, aku khawatir kamu akan kehilangan konsentrasi kalau tubuhku terlalu terguncang. Makanya aku bantu kamu."
"Yessy, payudaramu besar sekali. Pasti rasanya nggak nyaman kalau guncangannya terlalu hebat, 'kan?"
Aku memegang kemudi dengan malu, membiarkan tangan itu meremas payudaraku. Tali terusanku pun jatuh, memperlihatkan sebagian besar braku. Om Maxim memasukkan tangannya, menggesek area yang paling sensitif melalui braku.
"Konsentrasimu kurang bagus. Biar Om bantu kamu berlatih ...."
Aku merasakan tangan kasar itu menyelip ke dalam braku, sementara tangan yang satu lagi bergerak ke bawah dan meraih bagian bawah terusanku yang berantakan, lalu menuju celana dalamku yang sudah basah kuyup ....