Bab 1
Setelah menjemput anak, suamiku pergi ke hotel bersama sekretarisnya untuk membahas bisnis. Kebetulan, ada yang memotretnya dan mengunggahnya ke internet hingga menjadi trending topic.
Aku buru-buru menelepon, tetapi suamiku malah mengakhiri panggilan dengan tidak sabar, "Kalau bukan ketemu klien di hotel, mau ketemu di mana? Di rumah? Jangan bersikap nggak masuk akal!"
Aku segera mengeluarkan uang untuk menekan berita itu. Dua jam kemudian, aku malah mendapat panggilan darurat. Ketika tiba, jasad putraku sudah dingin. Tangannya memegang kartu karyawan sekretaris suamiku.
Aku menangis hingga sekujur tubuhku bergetar. Nomorku diblokir Charlie, jadi tidak bisa dihubungi. Setelah mengurus prosedur di rumah sakit, Charlie akhirnya meneleponku.
Suaranya dipenuhi amarah. "Kamu bawa anak kita pergi? Kenapa nggak mengabariku? Kami semua menunggunya mengambil kontrak! Cepat bawa dia kemari!"
Selesai mengatakan itu, Charlie mengakhiri panggilan dan memblokirku lagi. Aku terkekeh-kekeh melihat pesan yang kukirim tidak bisa masuk. Aku bisa memberimu klien, juga bisa menghancurkan masa depanmu!
Setelah mengurus pemakaman putraku, seluruh jiwa dan ragaku seolah-olah pergi bersamanya. Aku mengeluarkan ponsel untuk mengirim pesan kepada teman lamaku.
[ Aku sudah mau cerai. Nggak usah kasih aku klien lagi. ]
Siapa sangka, pernikahan selama enam tahun akan berakhir tragis seperti ini. Dulu, semua orang mendukung hubungan kami hingga akhirnya kami menikah. Lambat laun, cinta yang ada pun sirna.
Aku mencari pengacara untuk membuat surat perjanjian cerai, lalu segera pulang. Aku tidak berniat mengurus berita tentang Charlie di internet lagi. Lagi pula, kelak dia tidak punya kaitan denganku.
Aku duduk di sofa dan menunggu selama lima jam. Pada akhirnya, Charlie masuk dengan dipapah Tamara. Tatapan yang awalnya terlihat linglung sontak menjadi jernih saat melihatku.
Charlie mengempaskan tangan Tamara, lalu menghampiriku dengan wajah suram dan membentak, "Mana kontrakku? Kamu antar ke mana? Gara-gara putramu, rencanaku jadi hancur! Kamu tahu itu?"
Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku hanya tahu putraku ditabrak mobil di depan perusahaan karena membantu mereka mengambil kontrak. Tanganku terkepal erat. Amarahku berkecamuk.
Charlie menarik napas dalam-dalam untuk menahan emosinya. Dengan kaki yang masih memakai sepatu kulit, dia melemparkan diri ke sofa. Ketika melihatku hanya diam, dia mengernyit menatapku dan bertanya, "Mana obat pengarku? Kenapa diam saja?"
Saat berikutnya, Tamara bergegas maju dan berlutut untuk memijat paha Charlie. Dia pun bertanya dengan lembut, "Pak Charlie, obatnya di mana? Biar kuambilkan. Jangan menyulitkan Kak Naomi. Sepertinya dia kurang tidur."
Charlie menyingkirkan tangan Tamara dan menghardikku, "Aku suruh kamu ambil! Putramu yang membuat bisnis batal! Mana dia? Kamu sembunyikan dia di mana? Suruh dia keluar! Dia harus dihukum!"
Aku langsung melemparkan surat perjanjian cerai ke wajah Charlie. "Tanda tangan surat itu. Kamu nggak berhak mendidik putraku. Nafsu sendiri saja nggak bisa dikendalikan. Orang sepertimu nggak pantas jadi ayah."
Charlie bangkit untuk memungut kertas yang jatuh. Dia memelototi kertas itu untuk sesaat, lalu menegakkan tubuhnya dan merobeknya.
"Apa yang anak itu bilang? Naomi, kamu sudah gila? Aku bertemu klien di hotel, bukan meniduri wanita. Omong kosong apa ini? Perusahaan baru masuk bursa. Kenapa kamu nggak suruh aku mati saja? Kamu lihat berita di trending topic, 'kan? Kalau cerai, bukankah membuktikan berita itu benar?"
Bab 2
Aku tidak menyangka yang ada di pikiran Charlie sekarang hanya keuntungan perusahaan. Pria di depanku ini jauh berbeda dengan pemuda yang ada di ingatanku.
Sebelum aku kehilangan kendali, Tamara tiba-tiba mengeluarkan kotak hadiah dari tasnya dan meletakkannya di hadapanku. "Kak Naomi, ini hadiah yang dipilih Pak Charlie untukmu kemarin. Jangan marah lagi ya. Pak Charlie melakukan semua ini demi keluarganya."
Aku melirik tangan Tamara dan mendapati cincin yang dipakainya punya merek yang sama dengan kotak hadiah itu.
Amarahku makin bergejolak. Aku langsung melemparkan kotak itu sejauh belasan meter. Barang di dalamnya pun terjatuh keluar.
Charlie tercengang melihat tindakanku. Dia menatapku dengan tidak percaya dan bertanya, "Naomi, apa yang membuatmu jadi segila ini? Apa yang dibilang anak itu? Omongan anak kecil nggak bisa dipercaya. Kamu merajuk karena berita semalam? Mau sampai kapan?"
Aku mendongak menatap Charlie dengan dingin. Hingga sekarang, Charlie masih mengira sikapku begini karena berita di internet. Dia sama sekali tidak peduli dengan kematian putranya!
"Kamu kira aku buta dan nggak bisa lihat sendiri? Charlie, kamu kira kamu bisa mempermainkanku karena aku mencintaimu? Kamu merasa putraku menghalangi jalanmu untuk menjadi kaya, 'kan? Kalau begitu, tanda tangan surat itu. Kelak, kami nggak bakal muncul di hadapanmu lagi. Kamu bisa hidup bebas."
Tamara bergegas mendekatiku, lalu meraih lenganku. Namun, aku mendorongnya. Charlie berkata, "Naomi, kuberi kamu kesempatan sekali lagi. Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?"
Karena malas berbasa-basi lagi, aku langsung berbalik untuk berkemas. Ketika melihat ini, tatapan Charlie menjadi makin suram.
"Oke, kamu pergi pergi, 'kan? Pergi sana! Jangan pernah muncul di depanku lagi! Setelah keluar hari ini, jangan harap kamu bisa kembali lagi!"
Ini bukan pertama kalinya Charlie mengatakan hal seperti ini. Dia mengira aku merajuk karena cemburu. Dia mengira semua masih seperti dulu. Setelah bangun tidur, dia akan melihatku masak. Kami pun akan baikan tanpa perlu ada yang meminta maaf.
Namun, aku tahu betul bahwa kali ini berbeda. Aku dan Charlie berpacaran selama 10 tahun dan menikah selama 6 tahun. Sebelum menikah, orang-orang mengatakan kami adalah pasangan serasi.
Kami belajar bersama, mengikuti ujian bersama, dan masuk universitas bersama. Dulu kami memang saling mencintai dan saling mendukung.
Saat SMA, ada jam belajar mandiri di pukul 6 pagi. Demi berangkat bersama, Charlie bangun pukul 5 pagi, lalu buru-buru mandi dan membelikanku sarapan. Kemudian, dia akan berpura-pura bertemu denganku secara tidak sengaja.
Charlie juga meminta kepada guru supaya kami duduk bersama. Demi mendekatiku, dia janji akan masuk 10 besar. Guru pun hanya bisa menyetujuinya.
Sejak saat itu, Charlie belajar dengan giat. Nilainya tiba-tiba meningkat pesat sehingga guru tidak menentangnya mendekatiku. Kami menjadi teman terbaik dan teman seperjuangan. Seluruh sekolah mendukung hubungan kami.
Sebelum ujian masuk universitas, Charlie berdiri di lantai bawah apartemen dan menatapku dengan serius. "Aku tahu kondisi ekonomi keluargaku kurang bagus. Tapi, aku pasti akan memberimu masa depan yang bahagia. Naomi, tunggu aku."
Aku yang masih muda saat itu pun merasa terharu mendengarnya. Pada akhirnya, kami diam-diam berpacaran.
Setelah tamat, aku membawanya menemui orang tuaku. Demi menikah dengan Charlie, itu pertama kalinya aku menentang perkataan orang tuaku.
Di pesta pernikahan, keluargaku pun tidak hadir. Charlie menatapku dengan tulus dan berucap lirih, "Mulai sekarang, kita keluarga. Kapan pun itu, aku akan selalu ada di sisimu."
Bab 3
Seperti yang dikatakan Charlie, dia benar-benar ada setiap kali aku membutuhkannya. Setelah perusahaan makin berkembang, Charlie pun mulai sibuk. Setelah Tamara datang ke kehidupannya, kami bahkan bertengkar sengit untuk pertama kalinya karena wanita itu.
Sejak saat itu, hubungan kami retak. Begitu hubungan retak karena kehadiran seseorang, maka akan sulit untuk diperbaiki.
Anakku lahir pada masa tersulit perusahaan. Aku menjaga diri sendiri, pergi ke rumah sakit sendiri untuk melahirkan. Ketika sudah mau melahirkan, aku menelepon Charlie. Namun, yang menjawab panggilan adalah Tamara.
Terdengar suara centil di ujung telepon. "Kak Naomi, Pak Charlie lagi sama klien. Kalau ada masalah penting, aku bantu kamu sampaikan."
Aku menahan rasa sakit di perutku. Ketika mendengar suara napas Charlie di ujung telepon, aku pun tidak bisa berkata-kata.
Panggilan berakhir. Masuk notifikasi kartu kredit. Mereka check-in dengan kartu kreditku. Itu adalah pertama kalinya Charlie tertangkap basah memasuki hotel bersama Tamara.
Aku baru melahirkan. Orang yang memotret Charlie dan Tamara pun meminta uang 2 miliar dariku. Aku memutuskan untuk memberikannya.
Kini, aku baru menyadari bahwa keputusanku sudah salah sejak awal. Bagaimanapun, itu hanya langkah pertama. Masih ada banyak penderitaan yang harus kutanggung di belakang.
Setelah kehilangan putraku, aku langsung tersadarkan. Saat itu, aku yang membawa putraku ke kehidupan ini. Kini, aku juga yang mengantar kepergiannya.
Setelah meninggalkan rumah, aku merasa malu jika harus pulang ke tempat orang tuaku. Jadi, aku hanya bisa membawa abu putraku dan menyewa rumah.
Aku meminta asisten Charlie membantuku membuat janji di rumah duka. Setelah membeli bahan makanan, aku mengurung diri dua hari di rumah.
Hari ketiga, aku hendak pergi ke rumah duka. Tiba-tiba, ada yang menggedor pintu rumahku. Begitu pintu dibuka, aku terjatuh karena dorongan pintu yang kuat. Guci abu putraku hampir terlepas dari tanganku.
Aku segera bangkit. Setelah memastikan tidak ada yang rusak, aku menghela napas lega. Saat berikutnya, terdengar bentakan Charlie. "Kamu bawa anak kita ke mana? Suruh dia keluar!"
Aku mengernyit menatap para pengawal yang menggeledah rumahku. Sesaat kemudian, mereka berkumpul kembali di ruang tamu dan menggeleng kepada Charlie.
Seketika, Charlie naik pitam. Dia menatapku dengan mata memerah dan memekik, "Di mana anak kita?"
Saat ini, Tamara masuk dengan sepatu hak tingginya. Dia buru-buru menahan Charlie dan membujuk, "Pak Charlie, tenang sedikit. Jangan marah-marah atau main tangan. Kalian suami istri ...."
Sebelum Tamara selesai berbicara, aku sontak meludah ke wajahnya dan menghardik, "Nggak perlu sok baik! Kalau nggak ada kamu, hubungan kami nggak bakal berakhir seperti ini!"
Charlie malah menjambak rambutku. Aku kesakitan hingga mengernyit. Namun, dia seperti tidak melihat apa-apa, bahkan membentak, "Cuma karena cemburu, kamu menghasut putramu. Sekarang kamu mau pura-pura lugu? Apa aku terlalu memanjakanmu selama ini?"
Aku menggertakkan gigiku. Air mata tak kuasa mengalir. "Kamu nggak berhak mengatur putraku! Charlie, penyesalan terbesarku adalah menentang orang tuaku dan menikah denganmu! Aku benar-benar buta!"
Awalnya, aku berniat mengirim pesan kepada Charlie untuk memintanya menghadiri pemakaman putra kami. Namun, sekarang tidak perlu lagi. Charlie tidak pernah peduli pada putranya.
Begitu mendengar ucapanku, kemarahan pada sorot mata Charlie menjadi makin kuat. Dia pun mengangkat tangannya untuk menamparku.