Bab 3
Aku melihat bayangan mereka yang semakin jauh, perasaan bahagia sekaligus gugup yang sempat kurasakan mendadak hancur, seperti terjatuh ke dalam lubang es yang dingin.
Apa aku benar-benar begitu buruk di mata mereka? Seorang penjahat dan juga pembunuh?
Jantungku terasa sakit, begitu juga perutku. Aku berjalan ke dapur, berharap bisa makan sesuatu, tapi tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada setengah potong roti kukus yang sudah keras di atas meja.
Aku mengambil roti itu dan memecahkan dua butir kenari untuk dimakan, tetapi itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa laparku.
Saat aku makan, salah satu pelayan lewat. Dia melirikku dengan tatapan merendahkan, seolah-olah aku tidak melihatnya.
Saat melihat roti di tanganku, dia pura-pura terkejut dan berkata,
"Aduh! Nona, jangan bilang kamu makan roti itu? Itu sudah harusnya dibuang!"
"Kami membuatnya lebih awal karena Pak Stephen dan Nona Selina bangun pagi. Kalau kamu mau makan, aku bisa masak untukmu sekarang."
Ekspresi pelayan itu terlihat seolah-olah benar-benar merasa bersalah.
Aku hanya mengerutkan alisku.
Dengan wajah datar, aku menolak tawarannya. Menahan rasa perih di perutku, aku kembali ke kamar.
Rumah ini memang tidak pernah menganggapku bagian dari mereka, bahkan para pelayan pun memperlakukanku dengan penuh kepalsuan.
Rasa perih di perutku semakin menjadi-jadi, membuat emosiku hampir meledak.
Dengan tangan gemetar, aku membuka botor obat pereda sakit, menelannya dan meneguk air dingin yang ada di dekatku. Akhirnya, rasa sakit itu sedikit mereda.
Aku memutuskan untuk berganti pakaian dan merias wajahku dengan ringan, berusaha terlihat lebih baik.
Langkah pertamaku adalah pergi ke toko perlengkapan pemakaman. Waktuku hanya tersisa sehari, jadi aku tidak bisa memesan kotak abu khusus.
Aku memilih salah satu dengan corak yang kusukai, kotak yang akan menjadi 'rumah' terakhirku kelak.
Aku memeluk kotak abu itu dengan hati senang, meskipun merasa banyak mata yang menatapku dengan bingung dan terkejut.
Namun, aku mengabaikannya dan melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya.
Saat berjalan, aku melewati kampus Samuel. Kebetulan sedang jam istirahat, jadi terdengar suara tawa para mahasiswa dari dalam.
Aku melihat mereka dengan iri, anak-anak muda yang penuh semangat dan kebahagiaan.
Namun, sejak umur sepuluh tahun, aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki di sekolah.
Saat hendak pergi, aku melihat Samuel turun dari mobil dan bersiap masuk ke kampus.
Teringat ini adalah hari terakhirku, aku pun menguatkan hati dan berlari kecil mendekatinya.
Namun, saat mendekat, aku melihat dia berbicara serius di telepon dengan alis yang berkerut.
Mungkin karena melihatku, sekilas matanya menunjukkan kewaspadaan.
Dia hanya menjawab singkat ke telepon, "Baiklah, aku tahu."
Lalu, dia pun menutup teleponnya dan berjalan mendekat ke arahku.
Aku ingin mengajaknya untuk makan malam di rumah malam ini, tapi tatapannya malah membuatku terdiam.
"Samantha, kalau kamu masih mau tinggal di rumah ini, buang semua niat busukmu!"
"Kalau sampai aku tahu kamu melakukan sesuatu pada Selina, akan kupastikan hidupmu akan lebih menderita daripada mati."
Bab 4
Seketika, tubuhku langsung membeku, lagi-lagi Selina.
Aku sudah bisa menebak siapa yang meneleponnya, pasti Stephen.
Wajar saja, sejak kecil aku dianggap sebagai pembawa sial. Jika bukan karena diriku, mana mungkin keluargaku meninggal satu per satu?
Mengingat ancaman Samuel, tubuhku gemetaran tak terkendali.
Dulu, saat ibu baru saja meninggal, aku pernah diantar pulang oleh seorang dokter wanita yang baik hati.
Tiga hari penuh, aku dikunci di gudang kecil rumah oleh Samuel. Tak ada yang memberiku makan dan minum.
Pengalaman itu menjadi trauma masa kecil yang sulit kulupakan hingga saat ini.
Pada hari ketiga, saat aku merasa hidupku akan segera berakhir, kakak pertamaku, Sherwin tiba-tiba muncul seperti malaikat penyelamat.
Dia melepasku keluar.
Meskipun setelah itu, dia tak pernah benar-benar peduli padaku, setidaknya dia adalah orang yang paling baik padaku di rumah ini.
Aku yakin kabar tentang permintaanku tadi pagi sudah sampai ke telinganya.
Melihatku hanya diam, Samuel mengira diriku ketakutan. Dia pun mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berkata dengan suara yang santai, tapi mengancam,
"Kamu tahu dengan kemampuanku, mudah sekali untuk menghilangkan seseorang."
Mendengar kata-katanya, tubuhku gemetaran. Sementara dia pergi masuk ke gedung kampus tanpa melihatku lagi.
Dengan langkah terhuyung, aku melanjutkan perjalanan ke tempat tujuanku semula. Tapi, kepalaku terlalu kosong untuk berpikir.
Aku tiba di studio foto. Petugas resepsionis di sana melihatku dengan tatapan penuh simpati setelah aku memberitahunya bahwa aku datang untuk memotret foto pemakaman.
Dia mengucapkan beberapa kata lembut untuk menghiburku.
Semua rasa sakit dan kesedihan yang kutahan selama ini tiba-tiba meledak begitu saja.
Manusia memang mudah kehilangan kendali hanya karena satu kata perhatian dari orang asing, seperti yang kualami sekarang.
Air mataku membasahi bahunya, tetapi dia juga tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menepuk punggungku dengan lembut.
Meski tidak saling kenal, kehangatannya memberiku kekuatan yang luar biasa.
Setelah keluar dari studio foto, aku duduk di pinggir jalan. Aku memeluk kotak abu dan foto pemakaman yang telah kupersiapkan untuk diriku sendiri, sambil melamun menatap kejauhan.
Aku memutuskan untuk pergi ke kantor Sherwin. Karena belum pernah pergi ke sana, aku membutuhkan waktu lama untuk menemukannya, tapi aku malah dihentikan oleh resepsionis.
Mereka mengatakan bahwa aku tidak bisa masuk tanpa janji dan bosnya sedang rapat sehingga tidak bisa menerima telepon.
Aku tidak menyerah dan menelepon nomor yang sudah kuhapal di luar kepala berkali-kali, tapi tak ada yang menjawab.
Lalu, aku mencarinya melalui media sosial.
Hari ini adalah hari terakhirku. Aku hanya ingin Sherwin menemaniku, meski hanya sebentar.
Aku mengirimkan pesan yang sudah kususun dengan hati-hati, lalu menunggu dengan cemas.
Dua jam berlalu tanpa ada balasan.
Waktuku tidak banyak lagi. Aku tidak ingin mati di luar, jadi aku pun kembali ke rumah.
Semua pelayan sedang pergi berbelanja.
Rumah besar itu terasa sunyi, sepi dan kosong.
Aku mulai memasak, berharap mereka pulang tepat waktu.
Tidak ada pesan yang masuk di ponselku. Pesan yang kukirim pun tidak dibalas.
Aku duduk di kursi, menatap pantulan cermin yang memperlihatkan hitungan mundur di atas kepalaku.
Sisa tiga jam terakhir ...
Aku ingin mereka menemaniku di saat-saat terakhir ini. Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka saat diriku benar-benar meninggal.
Mungkinkah mereka senang?
Tidak ada seorang pun yang peduli dengan hidup matiku di dunia ini.
Orang-orang terdekatku bahkan membenciku, muak dengan keberadaanku.
Aku memasak hidangan satu meja penuh. Tanganku beberapa kali terkena percikan minyak panas. Rasanya sakit, tapi tidak bisa menutupi rasa tidak nyaman yang perlahan tumbuh di hatiku.
Aku sadar ada sesuatu yang salah dengan tubuhku. Tubuhku bergetar hebat, begitu juga dengan perasaanku yang memuncak tanpa kendali.
Waktu tersisa dua jam lagi. Aku duduk di kursi, menatap pintu dengan penuh harapan.
Dengan tangan gemetar, aku menelepon Sherwin.
"Kak Sherwin."
Teleponnya tersambung, tapi dia tidak berkata apa-apa.
Suaraku mulai gemetar, "Bisakah kalian ... menemaniku makan malam?"
"Aku ... sudah mau mati."
Bab 5
Kata-kata yang selama ini kupendam akhirnya terucap dan aku bisa mendengar jelas detak jantungku sendiri.
Dulu, aku selalu merasa bisa menerima kematian dengan tenang. Tapi saat ini, tiba-tiba aku merasa ingin melihat dunia ini sekali lagi.
Ruangan menjadi sunyi, hanya suara napasku yang terdengar sedikit tersengal.
Ketika aku berpikir dia tak akan menjawab, suara dari balik telepon justru mematahkan harapanku, langsung menjatuhkanku ke neraka.
"Samantha, kamu pikir dengan berbohong seperti ini kami akan merasa kasihan padamu?"
"Kamu benar-benar bisa menggunakan segala cara agar kami pulang. Kamu pikir kami masih sebodoh saat masih kecil dan mudah tertipu olehmu?"
"Jangan lupa bagaimana ayah, ibu dan kakek meninggal."
Hatiku jatuh ke dasar jurang. Bukan ... bukan seperti itu!
Aku berteriak dalam hati dengan penuh keputusasaan, tapi tidak ada satu pun kata yang bisa keluar dari mulutku.
Air mata mengalir di pipiku, menetes ke lantai.
Seperti boneka yang kehilangan kendali, aku hanya bisa terus berkata, "Aku nggak bohong, kumohon ... kumohon untuk terakhir kalinya saja, bisakah kalian pulang?"
Telepon itu langsung diputuskan. Sebelum diputuskan, aku mendengar Selina yang tertawa gembira sambil memanggil Sherwin.
Kegembiraan yang sempat kurasakan kini digantikan oleh keheningan yang menyakitkan.
Aku duduk kembali ke meja makan dengan tubuh kaku dan mulai berbicara sendiri, membayangkan perlakuan hangat mereka terhadap Selina yang pernah kulihat secara diam-diam.
Aku merasa seperti orang gila. Dalam dunia khayalanku sendiri, aku mulai tertawa.
Suara tawa itu semakin lama semakin keras, hingga akhirnya bercampur dengan isak tangis.
Waktu terus berlalu, detik demi detik dan tidak ada satu orang pun yang kembali.
Aku menunggu hingga tengah malam. Waktu yang tersisa kini hanya tiga menit terakhir.
Aku mulai mengingat kembali perjalanan hidupku.
Namun, hidupku begitu sederhana, bahkan tidak ada yang pantas untuk dikenang.
Sejak lahir, hidupku sudah menjadi sebuah tragedi.
Waktu mulai menghitung mundur. Aku duduk diam di meja makan, tubuhku bersandar di atas meja. Di sebelahku, tergeletak kotak abu dan foto pemakamanku sendiri.
5, 4, 3, 2, 1 ...
Hitungan mundur berakhir, aku pun merasakan sekelilingku tiba-tiba menjadi begitu hening.
Tidak ada suara apa pun di ruangan ini, bahkan suara napasku sendiri terasa menghilang.
Pada saat yang bersamaan, terdengar suara dari arah pintu. Ada yang kembali!