Bab 2
Ketiga kakakku sangat menyayangi adik perempuanku, sedangkan mereka selalu menjauhiku. Bahkan pelayan di rumah pun memperlakukanku dengan setengah hati.
Aku sering tidur dalam keadaan lapar, tapi aku tetap bertahan hingga umurku delapan belas tahun.
Kak Samuel sering berkata orang jahat sepertiku pasti akan hidup lama.
Aku pun mulai berpikir, apakah karena aku terlalu jahat, sehingga aku terus hidup dan sulit untuk mati?
Aku bangkit dari kasur, menyeret sandal, lalu berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Rambut kusut dan wajah yang tampak kurus, siapa pun yang melihatku tidak akan menyangka aku adalah putri sulung dari keluargaku.
Namun, aku tidak peduli dengan semua itu, karena aku melihat hitungan mundur di atas kepalaku.
Melalui cermin, angka merah itu jelas terlihat jelas di atas kepalaku.
Akhirnya, hari itu tiba juga.
Aku ingin tertawa, tapi hanya bisa tersenyum tipis.
Aku meletakkan gelas di tanganku, memandangi bayanganku di cermin dan larut dalam pikiranku.
Aku tidak punya teman, orang yang biasanya berinteraksi denganku sangat sedikit. Jadi, bagaimana aku harus melewati hari terakhir ini?
Setelah berpikir cukup lama, aku perlahan bersiap-siap dan turun dari kamar kecilku di lantai atas.
Kamar asliku sudah lama dijadikan ruang ganti untuk adik perempuanku sejak dia lahir.
Dulu, aku sering berdiri di jendela kecil lantai atas, memperhatikan adikku bermain di taman. Dia begitu ceria dan tertawa tanpa beban.
Sedangkan aku hanya bisa bersembunyi dalam kegelapan, mengintip kebahagiaan mereka.
Aku tak menyangka kakak kedua dan adikku masih ada di rumah sekarang.
Saat menuruni tangga, aku mendengar suara tawa riang Selina, adikku.
Dia memegang dasi dan berkata dengan semangat, "Kak Stephen, biar aku yang bantu pasangkan dasimu."
Stephen, kakak keduaku menundukkan kepalanya, membiarkan adikku memasangkan dasi di lehernya. Dia menatap adikku dengan penuh kasih sayang, meskipun dasi itu dipasangkan dengan cara yang salah.
Selina mundur beberapa langkah dan melihat hasilnya, lalu berkata dengan nada agak kesal, "Sepertinya miring, bagaimana kalau kakak pasang sendiri saja?"
Namun, Stephen tidak melepas dasinya. Sebaliknya, dia tersenyum dan mengusap kepala adikku.
"Nggak apa-apa, ini pertama kalinya Selina memasang dasi kakak, ini sudah sangat bagus!"
"Yuk, kakak antar kamu ke sekolah."
Mendengar itu, Selina dengan gembira menggandeng Kak Stephen.
Hatiku terasa perih.
Mengingat masa kecilku, dulu aku pernah membuat syal untuk pertama kalinya. Aku menghabiskan beberapa hari untuk merajut syal itu, meski hasilnya tidak sempurna.
Dengan gugup, aku memberikan syal itu pada Kak Stephen, berharap mendapat pujian darinya. Aku ingin dia mengusap kepalaku seperti dulu.
Namun, dia tidak menerimanya. Wajahnya tampak tidak senang dan berkata, "Jangan-jangan setelah pakai syal ini malah mendapat kutukan darimu."
Akhirnya, aku memberikan syal itu untuk anjing kecil kami yang bernama Mochi, agar ia bisa lebih hangat di tempat tidurnya.
Namun keesokan harinya, aku menemukan syal itu di tempat sampah. Syal itu sudah digunting menjadi beberapa bagian yang tak bisa disatukan lagi.
Tak peduli dengan kotornya tempat sampah, aku memungut syal itu dengan hati-hati, mencuci dan menyimpannya di dalam kotak. Sejak itu, aku tidak pernah mengeluarkannya lagi.
Ketika pintu depan terbuka dan mereka hendak pergi, aku memutuskan untuk mencoba memanggil mereka,
"Kak Stephen, Selina."
Saat mereka melihatku, reaksi mereka sangat berbeda. Selina terlihat senang dan langsung memanggilku, "Kak Samantha!"
Sedangkan Stephen memasang wajah muram, seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia menahan diri karena ada Selina.
"Bolehkah kita makan malam bersama malam ini? Hanya sekali ini saja."
Ujarku dengan susah payah, menunggu jawaban mereka dengan cemas.
"Boleh!" "Nggak!"
Dua jawaban yang bertolak belakang terdengar bersamaan. Selina menoleh pada Stephen dengan bingung dan bertanya,
"Kenapa nggak?"
Iya, kenapa tidak?
"Bukannya kamu sudah janji dengan Kak Sherwin untuk menemaninya ke acara lelang malam ini?" tanya Stephen.
"Acara lelang?" jawab Selina.
Dengan tatapan Stephen yang penuh keyakinan, Selina tampak tersadar. Dia lalu melihatku dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Maaf, Kak Samantha, aku nggak bisa makan malam denganmu malam ini."
Setelah berpikir sejenak, dia kembali tersenyum dan berkata, "Bagaimana kalau besok saja? Besok kita makan bersama sekeluarga."
Sekeluarga? Aku tersenyum getir, senyuman yang menyimpan banyak kepedihan. Rasa pahit di hatiku hampir menenggelamkanku.
Aku sudah tidak punya hari esok.
Namun, aku tetap mengiyakannya, lalu memandang mereka pergi.
Sebelum pergi, Stephen menatapku dengan tatapan tajam, seperti sebuah peringatan. Tatapan itu dingin seperti sebilah pisau, seolah ingin mencabikku perlahan.
"Samantha, jangan sampai aku tahu kalau kamu merencanakan sesuatu lagi."
"Kami nggak akan memaafkanmu kalau kamu sampai menyakiti Selina."
"Jauhi dia!"
Bab 3
Aku melihat bayangan mereka yang semakin jauh, perasaan bahagia sekaligus gugup yang sempat kurasakan mendadak hancur, seperti terjatuh ke dalam lubang es yang dingin.
Apa aku benar-benar begitu buruk di mata mereka? Seorang penjahat dan juga pembunuh?
Jantungku terasa sakit, begitu juga perutku. Aku berjalan ke dapur, berharap bisa makan sesuatu, tapi tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada setengah potong roti kukus yang sudah keras di atas meja.
Aku mengambil roti itu dan memecahkan dua butir kenari untuk dimakan, tetapi itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa laparku.
Saat aku makan, salah satu pelayan lewat. Dia melirikku dengan tatapan merendahkan, seolah-olah aku tidak melihatnya.
Saat melihat roti di tanganku, dia pura-pura terkejut dan berkata,
"Aduh! Nona, jangan bilang kamu makan roti itu? Itu sudah harusnya dibuang!"
"Kami membuatnya lebih awal karena Pak Stephen dan Nona Selina bangun pagi. Kalau kamu mau makan, aku bisa masak untukmu sekarang."
Ekspresi pelayan itu terlihat seolah-olah benar-benar merasa bersalah.
Aku hanya mengerutkan alisku.
Dengan wajah datar, aku menolak tawarannya. Menahan rasa perih di perutku, aku kembali ke kamar.
Rumah ini memang tidak pernah menganggapku bagian dari mereka, bahkan para pelayan pun memperlakukanku dengan penuh kepalsuan.
Rasa perih di perutku semakin menjadi-jadi, membuat emosiku hampir meledak.
Dengan tangan gemetar, aku membuka botor obat pereda sakit, menelannya dan meneguk air dingin yang ada di dekatku. Akhirnya, rasa sakit itu sedikit mereda.
Aku memutuskan untuk berganti pakaian dan merias wajahku dengan ringan, berusaha terlihat lebih baik.
Langkah pertamaku adalah pergi ke toko perlengkapan pemakaman. Waktuku hanya tersisa sehari, jadi aku tidak bisa memesan kotak abu khusus.
Aku memilih salah satu dengan corak yang kusukai, kotak yang akan menjadi 'rumah' terakhirku kelak.
Aku memeluk kotak abu itu dengan hati senang, meskipun merasa banyak mata yang menatapku dengan bingung dan terkejut.
Namun, aku mengabaikannya dan melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya.
Saat berjalan, aku melewati kampus Samuel. Kebetulan sedang jam istirahat, jadi terdengar suara tawa para mahasiswa dari dalam.
Aku melihat mereka dengan iri, anak-anak muda yang penuh semangat dan kebahagiaan.
Namun, sejak umur sepuluh tahun, aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki di sekolah.
Saat hendak pergi, aku melihat Samuel turun dari mobil dan bersiap masuk ke kampus.
Teringat ini adalah hari terakhirku, aku pun menguatkan hati dan berlari kecil mendekatinya.
Namun, saat mendekat, aku melihat dia berbicara serius di telepon dengan alis yang berkerut.
Mungkin karena melihatku, sekilas matanya menunjukkan kewaspadaan.
Dia hanya menjawab singkat ke telepon, "Baiklah, aku tahu."
Lalu, dia pun menutup teleponnya dan berjalan mendekat ke arahku.
Aku ingin mengajaknya untuk makan malam di rumah malam ini, tapi tatapannya malah membuatku terdiam.
"Samantha, kalau kamu masih mau tinggal di rumah ini, buang semua niat busukmu!"
"Kalau sampai aku tahu kamu melakukan sesuatu pada Selina, akan kupastikan hidupmu akan lebih menderita daripada mati."
Bab 4
Seketika, tubuhku langsung membeku, lagi-lagi Selina.
Aku sudah bisa menebak siapa yang meneleponnya, pasti Stephen.
Wajar saja, sejak kecil aku dianggap sebagai pembawa sial. Jika bukan karena diriku, mana mungkin keluargaku meninggal satu per satu?
Mengingat ancaman Samuel, tubuhku gemetaran tak terkendali.
Dulu, saat ibu baru saja meninggal, aku pernah diantar pulang oleh seorang dokter wanita yang baik hati.
Tiga hari penuh, aku dikunci di gudang kecil rumah oleh Samuel. Tak ada yang memberiku makan dan minum.
Pengalaman itu menjadi trauma masa kecil yang sulit kulupakan hingga saat ini.
Pada hari ketiga, saat aku merasa hidupku akan segera berakhir, kakak pertamaku, Sherwin tiba-tiba muncul seperti malaikat penyelamat.
Dia melepasku keluar.
Meskipun setelah itu, dia tak pernah benar-benar peduli padaku, setidaknya dia adalah orang yang paling baik padaku di rumah ini.
Aku yakin kabar tentang permintaanku tadi pagi sudah sampai ke telinganya.
Melihatku hanya diam, Samuel mengira diriku ketakutan. Dia pun mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berkata dengan suara yang santai, tapi mengancam,
"Kamu tahu dengan kemampuanku, mudah sekali untuk menghilangkan seseorang."
Mendengar kata-katanya, tubuhku gemetaran. Sementara dia pergi masuk ke gedung kampus tanpa melihatku lagi.
Dengan langkah terhuyung, aku melanjutkan perjalanan ke tempat tujuanku semula. Tapi, kepalaku terlalu kosong untuk berpikir.
Aku tiba di studio foto. Petugas resepsionis di sana melihatku dengan tatapan penuh simpati setelah aku memberitahunya bahwa aku datang untuk memotret foto pemakaman.
Dia mengucapkan beberapa kata lembut untuk menghiburku.
Semua rasa sakit dan kesedihan yang kutahan selama ini tiba-tiba meledak begitu saja.
Manusia memang mudah kehilangan kendali hanya karena satu kata perhatian dari orang asing, seperti yang kualami sekarang.
Air mataku membasahi bahunya, tetapi dia juga tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menepuk punggungku dengan lembut.
Meski tidak saling kenal, kehangatannya memberiku kekuatan yang luar biasa.
Setelah keluar dari studio foto, aku duduk di pinggir jalan. Aku memeluk kotak abu dan foto pemakaman yang telah kupersiapkan untuk diriku sendiri, sambil melamun menatap kejauhan.
Aku memutuskan untuk pergi ke kantor Sherwin. Karena belum pernah pergi ke sana, aku membutuhkan waktu lama untuk menemukannya, tapi aku malah dihentikan oleh resepsionis.
Mereka mengatakan bahwa aku tidak bisa masuk tanpa janji dan bosnya sedang rapat sehingga tidak bisa menerima telepon.
Aku tidak menyerah dan menelepon nomor yang sudah kuhapal di luar kepala berkali-kali, tapi tak ada yang menjawab.
Lalu, aku mencarinya melalui media sosial.
Hari ini adalah hari terakhirku. Aku hanya ingin Sherwin menemaniku, meski hanya sebentar.
Aku mengirimkan pesan yang sudah kususun dengan hati-hati, lalu menunggu dengan cemas.
Dua jam berlalu tanpa ada balasan.
Waktuku tidak banyak lagi. Aku tidak ingin mati di luar, jadi aku pun kembali ke rumah.
Semua pelayan sedang pergi berbelanja.
Rumah besar itu terasa sunyi, sepi dan kosong.
Aku mulai memasak, berharap mereka pulang tepat waktu.
Tidak ada pesan yang masuk di ponselku. Pesan yang kukirim pun tidak dibalas.
Aku duduk di kursi, menatap pantulan cermin yang memperlihatkan hitungan mundur di atas kepalaku.
Sisa tiga jam terakhir ...
Aku ingin mereka menemaniku di saat-saat terakhir ini. Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka saat diriku benar-benar meninggal.
Mungkinkah mereka senang?
Tidak ada seorang pun yang peduli dengan hidup matiku di dunia ini.
Orang-orang terdekatku bahkan membenciku, muak dengan keberadaanku.
Aku memasak hidangan satu meja penuh. Tanganku beberapa kali terkena percikan minyak panas. Rasanya sakit, tapi tidak bisa menutupi rasa tidak nyaman yang perlahan tumbuh di hatiku.
Aku sadar ada sesuatu yang salah dengan tubuhku. Tubuhku bergetar hebat, begitu juga dengan perasaanku yang memuncak tanpa kendali.
Waktu tersisa dua jam lagi. Aku duduk di kursi, menatap pintu dengan penuh harapan.
Dengan tangan gemetar, aku menelepon Sherwin.
"Kak Sherwin."
Teleponnya tersambung, tapi dia tidak berkata apa-apa.
Suaraku mulai gemetar, "Bisakah kalian ... menemaniku makan malam?"
"Aku ... sudah mau mati."