Bab 1

Aku sudah menikah dengan Dennis selama sepuluh tahun.

Aku bahkan pernah bertemu dengan mantan pacarnya setelah kami menikah.

Setiap kali dia bosan dan ingin ganti pasangan, aku selalu jadi alasan terbaik untuk putus dengan setiap pacarnya.

“Kamu akan jadi seperti dia kalau menikah denganku. Pada akhirnya, akan bosan karena terlalu akrab dan terbiasa, jadi nggak ada perasaan baru lagi.”

Di hari peringatan pernikahan kami, aku malah sibuk menghibur mahasiswi yang baru saja dia putuskan, sementara dia asik menonton bioskop bersama pacar barunya.

Saat tisu di tanganku habis, aku seakan melihat bayangan diriku di masa lalu.

Jadi, aku pun mengajukan cerai pada Dennis.

Dia jarang sekali tampak bingung begitu dan berkata, “Nggak mau tunggu sebentar lagi? Siapa tahu aku bakal sadar dan berubah.

Aku hanya tersenyum tipis tanpa menjawab, lalu memesan tiket menuju negeri seberang.

Jika aku tak bisa menunggu kepulanganmu, biarlah aku yang melangkah pergi lebih dulu.

Melihat tisu di tanganku semakin menipis, tiba-tiba terlintas kata-kata ini di kepalaku, menikah dengan buaya darat, memang butuh kesabaran luar biasa.

Gadis yang duduk didepanku bernama Rani, mahasiswi semester akhir.

Sejak masuk, dia sudah menangis selama dua jam penuh.

Padahal kalau dihitung, hubungan mesranya dengan Dennis baru sebulan.

Sebenarnya tidak seharusnya menangis hingga makeupnya luntur.

Aku baru hendak bicara menenangkannya, tapi tiba-tiba dia menatapku dengan matanya yang merah dan bengkak.

“Dia pernah bilang aku agak mirip denganmu. Dilihat-lihat memang mirip.”

Aku terdiam, karena mantan-mantan sebelumnya tidak pernah mengatakan hal itu.

Rani mengisap hidungnya, lalu menghapus air mata di sudut matanya.

Dengan nada sinis, dia berkata,

“Aku nggak butuh kamu menghiburku, justru kamu yang lebih menyedihkan daripada aku.”

Bukankah begitu?

Seluruh Kota Sekar tahu kalau Dennis menikahi istri yang sempurna.

Sangking sempurnanya, bisa diselingkuhi berulang kali, bahkan harus membujuk mantan-mantannya.

Setiap perempuan yang berhubungan dengannya setelah kami menikah, kusebut mereka mantan.

Harga diri sebagai istri sah sudah tidak ada lagi.

Ponselku bergetar, pesan dari Dennis.

Dennis, [Masih belum selesai? Filmnya sudah mau mulai.]

Aku meletakkan ponsel terbalik di atas meja, lalu menatap mata Rani yang kembali memerah.

“Kamu mau kompensasi apa? Bilang saja, aku bakal bantu kamu mendapatkannya.”

Kalimat ini sudah tak terhitung kali kuucapkan, seperti seorang HR yang sedang memecat karyawan.

Dia mendengus dingin, lalu tiba-tiba berdiri.

“Aku nggak mau apa-apa.”

Aku menghela napas, “Tetap ambillah sedikit.”

Uang, mobil atau rumah, setidaknya sesuatu yang bisa digenggam di tangan.

Tatapannya semakin dingin.

Lalu, dia mengangkat tangan dan perlahan menuangkan kopi dingin di atas kepalaku.

“Aku hamil.”

“Aku mau melahirkan anak ini.”

Aku terdiam, menatapnya dan lupa cara untuk membujuknya.

Aku hanya bisa memaksakan diri untuk tersenyum getir.

Dennis, dari semua janji yang pernah kamu ucapkan, tak ada satupun yang ditepati.

Aku duduk di kursi penumpang depan dengan basah kuyup, sementara Dennis sedang sibuk menelepon.

Tanpa berusaha ditutupi, aku bisa langsung tahu dia sedang berbicara dengan pacar barunya.

Tanganku tanpa sadar menggenggam erat sabuk pengaman, ujung jariku sampai terasa sakit.

Entah apa yang dikatakan orang dibalik telepon, membuat Dennis tertawa dan garis halus di sudut matanya terlihat jelas.

“Iya iya, aku bakal pergi menemanimu malam ini.”

Begitu menutup telepon dan menyalakan mobil, Dennis menoleh sedikit ke arahku.

Tangan yang menggenggam setir tiba-tiba mengencang, seketika wajahnya memuram.

“Dia yang siram?”

Aku sudah mengambil tisu dan mulai menyeka rambutku pelahan.

Mungkin karena aku tidak menjawab, dia pun mendekat dan meraih tisu dari tanganku.

“Jangan gerak.”

Aku spontan menghindar ke sisi kanan, tapi dia malah menarikku dengan dingin ke dalam pelukannya.

Dia menyekanya dengan penuh perhatian, tapi keningnya berkerut dan wajahnya terlihat kesal.

“Kamu hanya duduk diam, membiarkan dia menyirammu?”

“Rina, ke mana hilangnya sisi galakmu yang dulu selalu membentakku?”

Dulu…

Sejak menemui Rani, perasaan hampa yang menyelimuti hati perlahan menyebar.

Aku melepaskan diri dari pelukannya dengan wajah dingin dan berkata dengan datar,

“Aku nggak mungkin marah-marah dengan wanita hamil, ‘kan? Bagaimana menurutmu?”

Dia tampak sedikit canggung, tapi tetap saja bersikeras menyeka rambutku.

Sepanjang perjalanan, kami tak berbicara. Dia mengemudi, sementara aku menatap keluar jendela.

Dari sudut mata, aku masih bisa menangkap tatapannya yang sesekali melirik ke arahku.

Gelombang kecewa dalam hatiku berulang kali menyebar.

Rasa kecewa sudah mencapai di titik putus asa, hingga akhirnya yang tersisa hanya mati rasa.

Aku menonton bioskop dengan setengah hati, sementara Dennis terus-menerus menunduk sibuk membalas pesan.

Perayaan peringatan hari pernikahan ini pun sudah runtuh menjadi puing-puing seiring layar film ditutup.

Lucunya, selesai menonton, aku masih harus duduk di sampingnya, pura-pura menyaksikan dia berakting.

Dia mengundang kerabat dan teman terdekat. Undangan dari keluarga Dennis di Kota Sekar sudah dikirim setengah bulan sebelumnya.

Di tengah suasana penuh tawa, Dennis menyibukkan diri melayani tamu sambil mengupaskan udang untukku.

Bab 2

Di hadapanku, piring makan sudah menumpuk seperti gunung kecil, tapi aku malah terpaku menatap pergelangan tangannya yang terlihat dari balik lengan baju.

Itu ikat rambut siapa?

Tiba-tiba, rasa mual menggerogoti perutku membuat selera makanku hilang.

Seorang pria yang rela mengupas udang untukmu belum tentu mencintaimu.

Seorang pria yang selalu ingat hari peringatan pernikahan selama sepuluh tahun pun belum tentu mencintaimu.

Seorang pria yang tidak pernah melepas cincin nikahnya bahkan saat mandi pun belum tentu mencintaimu.

Aku harus berterima kasih pada Dennis. Semua ini adalah pelajaran darinya.

Dua sahabat masa kecil yang tumbuh bersama, bahkan sepadan secara status.

Namun, semua itu menggambarkan Dennis dan Risma, kakakku.

Bahkan saat aku masih belum mengerti apa-apa soal perasaan, aku sudah tahu kalau keluargaku dan keluarga Dennis berencana menjodohkan mereka.

Aku pernah melihat wajah kakakku merona malu saat berkencan dengannya.

Aku juga pernah melihat Dennis yang terkenal arogan, menjadi begitu kalem di depan kakakku.

Jika tidak, bagaimana mungkin aku yang masih lugu, diam-diam menyimpan koleksi piringan hitam yang sengaja kukumpulkan untuk Dennis?

Dalam hubungan segitiga ini, aku hanyalah bayangan kakakku.

Cinta mereka sudah mekar, mana mungkin ada lagi ruang untukku.

Tragedi terjadi saat kakak berusia dua puluh tahun.

Kakakku yang selalu anggun dan pendiam, kabur dari acara pertunangan dan meninggal dalam kecelakaan pesawat.

Bersamaan dengan itu, isi buku hariannya terungkap.

Krisis dan aib keluargaku yang selama ini tertutup rapat kini tak lagi bisa disembunyikan.

Ternyata, sikap malu-malunya juga bisa dipalsukan. Kakakku terpaksa menjadi alat tawar-menawar yang dipertaruhkan orang tuaku.

Di balik perjodohan itu bukan berdasarkan cinta yang sempurna, melainkan ambisi dan kepentingan orang tuaku.

Satu-satunya kesempatan kakak memilih untuk dirinya sendiri, malah berakhir kehilangan nyawa.

Aku pun menjadi tumpuan harapan terakhir keluargaku untuk buru-buru bertunangan dan menikah.

Tujuannya adalah untuk menyelamatkan reputasi keluarga dan mencegah kebangkrutan keluargaku.

Sepanjang proses itu, aku bahkan tidak sempat membedakan apakah yang kurasakan lebih banyak sedih atau bahagia.

Meskipun hanya sebagai pengganti, aku tetap menikah dengan pria yang kucintai sejak masa remajaku.

Namun, saat kami bertukar cincin, hanya aku yang merasakan jantung berdebar.

Bahkan saat momen mencium pengantin wanita, Dennis hanya menyentuh bibirku sekilas dan meninggalkan satu kalimat yang masih membekas sampai sekarang.

“Kalau nggak mau, kenapa harus memaksakan diri?”

Saat itu, kami sepakat untuk menjalani pernikahan ini demi kepentingan masing-masing.

Namun, dalam sepuluh tahun pernikahan, rupanya aku yang salah.

Dia memang melakukan semuanya untukku, tapi tetap saja tidak pernah mencintaiku.

Saat pesta berakhir, hari sudah tengah malam.

Entah karena mabuk atau memang pusing, aku pun tertidur pulas di mobil.

Samar-samar, aku mendengar Dennis menelepon dengan pengeras suara dan menggoda pacarnya yang baru.

Rayuannya terus berulang-ulang.

Dia tak bosan mengucapkannya, tapi aku sudah muak mendengarnya.

Di sela obrolannya, aku merasa dia sempat menyentuh keningku.

Tiba-tiba, dia mengerem mobil mendadak dan mengumpat,

“Sial, kenapa nggak bilang kalau kamu demam?”

Teleponnya langsung dimatikan. Dia tampak panik, mengambil jaket untuk menyelimutiku.

Samar-samar, aku mendengar dia memanggil nama panggilanku, “Nana.”

Mungkin berhalusinasi karena demam tinggi, aku pun mengangkat sudut bibirku dan tersenyum getir.

Dennis selalu memanggilku dengan nama lengkap, seolah takut kalau kurang satu kata saja, aku bakal merasa kalau dirikulah yang ingin dia nikahi awalnya.

Orang yang sedang sakit mungkin lebih lemah, tapi juga lebih sadar.

Tiba-tiba, aku merasa sangat capek, capek menghadapinya, capek dengan perasaan yang tak pernah dibalas.

Mobil kembali melaju, kecepatannya membuatku sulit membedakan antara kencang dan lambat.

Dia seolah tak berhenti-henti menerima telepon, “Sebentar lagi, dok. Akan baik-baik saja.”

Atau mungkin aku hanya berhalusinasi.

Sampai akhirnya mobil berhenti lagi.

Aku susah payah mengangkat kepala, melihat dia buru-buru melepas sabun pengaman dan melompat turun.

Lalu berlari ke arah sosok kurus di depan pintu rumah sakit.

Rani dipeluk erat-erat olehnya.

Kata-kata yang sebelumnya terdengar tidak jelas itu akhirnya punya arti yang utuh.

“Tunggu aku, jangan gegabah, aku sampai sebentar lagi. Semuanya akan baik-baik saja, sayang.”

Setiap kata itu diucapkan untuknya.

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku mendengar Rani menangis sedih.

Aku juga mendengar Dennis menghiburnya dengan lembut.

“Mana mungkin aku membiarkan kamu menyakiti diri sendiri?”

“Sudah sudah, kita nggak putus. Soal anak, kita bicarakan lagi baik-baik.”

Pikiran yang penuh rasa sakit menyeret keluar kenangan yang selama ini kusimpan di lubuk hati terdalam.

Setengah tahun setelah menikah, sebenarnya kami juga pernah punya anak.

Waktu itu, di satu sisi aku hidup penuh kehati-hatian di keluarga Dennis dan di sisi lain juga sibuk bolak-balik mengurusi keluargaku.

Sayangnya, belum sempat aku menyadarinya, janin itu sudah tidak berkembang lagi.

Bab 3

Aku tak akan lupa suara dingin Dennis yang terdengar dari luar ruang rawat saat itu.

“Lebih baik begitu, lagipula dia juga nggak seharusnya ada.”

Sejak hari itu, kami seolah mencapai kesepakatan dalam diam.

Dia melanjutkan hidupnya sebagai seorang buaya darat.

Asal keluargaku masih bertahan, itu sudah cukup.

Dennis bisa menjalin hubungan tanpa menikah, asalkan… tidak ada yang hamil.

Sekarang, dia yang lebih dulu mengingkari janji.

Keluargaku sudah menjadi cangkang kosong sejak orang tuaku meninggal.

Jadi, aku juga tak perlu memaksakan hubungan dengan Dennis lagi.

Aku bersandar di jendela mobil, napasku terengah-engah dan terasa panas.

Aku melihatnya menenangkan Rani, lalu kembali lagi ke depanku.

Dia membuka pintu mobil, melingkari tanganku di lehernya dan menggendongku ke UGD.

Di balik bahunya, aku melihat Rani mendengus dingin dan menatapku dengan jijik.

Saat Dennis berjalan melewatinya, Rani mencoba meraih ujung pakaiannya, tapi tak berhasil.

Dennis melangkah cepat. Bahkan pemahat terbaik pun tak bisa menandingi wajahnya yang tampan dan serius itu.

Dia selalu memberikan ilusi, tak peduli berapa lama dia berkeliaran, akhirnya akan kembali padaku.

Namun kali ini, aku menggelengkan kepala dan menyadarkan diri lebih dulu.

“Dennis, kita cerai saja.”

Langkahnya terhenti, tapi matanya tak menoleh ke arahku.

“Ya?”

“Cerai, boleh?”

Ekspresi di wajahnya tampak rumit, dari muram menjadi bingung, hingga akhirnya hanya tersisa tawa pelan.

“Nggak mau tunggu sebentar lagi? Siapa tahu beberapa tahun lagi….”

Dia melirikku dan senyumannya penuh ejekan.

“Aku bakal sadar dan berubah?”

Aku juga tersenyum, mataku terasa panas, mungkin demamnya semakin tinggi.

“Bagaimana dong? Sudah bosan, nggak ada perasaan baru lagi, lebih baik kita jadi saudara angkat saja,” ujarku.

Seketika, raut wajah Dennis menegang, dia menggertakkan gigi sekuat mungkin, hingga otot-otot di wajahnya menegang.

“Masih nggak cukup perasaan barunya?” tanya Dennis.

Pandangan mataku sudah kabur karena genangan air mata, tapi aku tetap berusaha tersenyum.

“Kita memang tak seharusnya menikah, seperti yang kamu bilang dulu,” ujarku.

“Rina? Lebih baik aku menjadi saudara angkat dengan dia!”

Tentu saja Dennis tak ingin menjadi saudara angkat denganku.

Keluargaku sudah banyak mendapat bantuan dari keluarga Dennis selama sepuluh tahun terakhir.

Kami sudah menjadi beban.

Jadi, ketika berita perceraian kami menyebar, seluruh keluarga Dennis tampaknya pun menghela napas lega.

Aku menandatangani perjanjian cerai dengan demam tinggi yang tak kunjung turun, lalu pingsan selama dua hari.

Saat sadar, kulihat surat itu sudah ditandatangani oleh Dennis.

Aku sempat terdiam sejenak, lalu merasa kosong bercampur rasa bersalah.

Surat cerai itu jelas tak bisa disebut jujur, apalagi berjiwa besar.

Selama ini, aku selalu membantu menyingkirkan para mantannya dan setiap kali selesai, aku bakal menerima transfer uang darinya.

Uang itu selalu kusimpan dan kini, dalam pembagian harta, aku tetap menyiapkan jalan keluar untuk diriku sendiri.

Orang secerdas dia pasti bisa menyadari ketamakanku.

Namun, dia tetap menandatanganinya tanpa ragu.

Hal itu membuatku sedih cukup lama. Mungkin dia sudah lama menungguku untuk mengucapkan kata cerai.

Baginya, mengeluarkan uang untuk menyingkirkan masalah jauh lebih baik daripada terikat lagi denganku sepuluh tahun ke depan.

Setelah suhu tubuhku kembali normal, aku yang masih lemah mulai berkemas.

Sepuluh tahun yang terasa panjang itu ternyata hanya terisi dalam dua koper kecil.

Aku menuruni tangga, pelayan dan sopir memandangiku dari dalam dan luar rumah.

“Nyo… Nona Rina, perlukah kami mengabari Pak Dennis kalau kamu mau pergi?”

Aku menggeleng dan menjawab, “Nggak perlu.”

Jadi, tak ada yang mengucapkan selamat tinggal dan tak ada juga yang maju untuk menghentikan.

Mereka hanya terdiam sebentar, lalu kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Seketika, aku merasa hampa. Bahkan mereka pun sudah menyadari bahwa diriku hanya seorang tamu.

Saat taksi yang kupesan keluar dari rumah Dennis, aku tidak menoleh ke belakang.

Kenangan yang dimulai sejak masa kecil, akhirnya berakhir di saat ini.

Sopir bertanya dalam keheningan, “Butuh tisu?”

Barulah aku sadar bahwa wajahku sudah penuh air mata.

Padahal, seharusnya aku merasa lega.

Namun, burung yang terlalu lama terkurung dalam sangkar, saat tiba-tiba dilepaskan, tetap akan merasa asing.

Dari rumah Dennis menuju bandara, aku menukar boarding pass dan sekaligus menukar kartu lamaku.

Begitu masuk pesawat, aku langsung terlelap.

Beberapa hari ini, aku seperti dilanda kantuk yang tak ada habisnya.

Merasa kehilangan arah, aku hanya ingin larut dalam mimpi dan diam-diam mengobati luka perasaan ini.

Belasan jam kemudian, akhirnya aku mendarat di negeri seberang.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B96621" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B96621
Salin

Hilang Selamanya Dari Hatiku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya