Bab 1

Di vila Keluarga Andara, pukul sembilan malam. Masih ada lampu remang-remang yang menyala di kamar tidur utama lantai dua.

[ Ibu, kontrak nikah ini akan berakhir sebulan lagi. Nanti, aku akan jadwalkan kematian palsuku. ]

Natasha duduk di depan meja rias sambil mengetik kata-kata itu, lalu mengirimkannya kepada ibu mertuanya.

Pesan itu langsung dibalas oleh pihak lain.

[ Sasha, terima kasih atas kerja kerasmu selama sepuluh tahun terakhir. Kamu sudah merawat Varo dengan baik, juga melahirkan keturunan Keluarga Andara. Sebenarnya, Ibu sudah anggap kamu sebagai menantu. Gimana kalau kita batalkan saja kontrak ini? ]

Setelah membaca pesan itu, Natasha tanpa sadar menggenggam erat ponselnya. Dia dengan cepat mengetik sebaris kata balasan.

[ Nggak, Ibu. Kita lakukan sesuai kontrak saja. ]

Di vila Keluarga Andara, pukul sembilan malam. Masih ada lampu remang-remang yang menyala di kamar tidur utama lantai dua.

[ Halo, aku mau pesan layanan kematian palsu. ]

Natasha Lestari duduk di depan meja rias dan mengetik pesan secara perlahan. Kemudian, dia menekan kirim dengan ekspresi tenang. Pesan itu langsung dibalas.

[ Pesanan kematian palsu sudah dibuat. Kapan kamu mau kematian palsu itu dijadwalkan? ]

[ Sepuluh hari lagi, di hari ulang tahunku. ]

Sebelum pihak lain membalas, Natasha mengirim tambahan pesan.

[ Penyebab kematiannya, ledakan dalam kecelakaan mobil. Pilihan mayatnya, nggak ada yang tersisa. ]

Setelah menandatangani kontrak dengan pihak lain, Natasha meletakkan ponselnya. Foto keluarga beranggotakan tiga orang di atas rak buku terlihat sangat menusuk mata.

Dalam foto itu, Natasha mengenakan gaun putih dan tersenyum bahagia. Di sampingnya, berdiri seorang pria yang memancarkan wibawa dan berperawakan tinggi. Dia menggendong putranya yang berusia empat tahun di satu tangan dan menggenggam Natasha dengan tangan lainnya.

Hanya dengan melihat foto, keluarga beranggotakan tiga orang itu terlihat bahagia dan dapat membuat orang iri.

Sepuluh tahun yang lalu, ketika Natasha baru saja lulus kuliah, keluarganya dilanda musibah dan orang tuanya meninggal dunia. Di saat-saat terburuk dan paling menyakitkan baginya, Alvaro Andara muncul. Pria itu langsung terpesona padanya pada pandangan pertama dan mulai mengejarnya dengan pantang menyerah.

Setelah mengetahui bahwa Natasha menyukai boneka kartun, Alvaro menghabiskan ratusan triliun untuk membangun taman hiburan terbesar di Kota Grata yang hanya dibuka untuknya. Alasannya hanya demi membuatnya bahagia.

Mengetahui Natasha takut dingin, Alvaro menghabiskan banyak uang untuk memasang pemanas lantai otomatis yang tak ternilai harganya di setiap jengkal Kota Grata. Kota Grata yang semula lembap dan dingin pun menjadi kering dan hangat, juga terasa bagaikan musim semi sepanjang tahun.

Dengan perhatian dan kasih sayang seperti itu, Natasha sepenuhnya jatuh cinta pada Alvaro yang mencintainya sepenuh hati. Oleh karena itu, ketika pria itu berlutut untuk melamarnya di depan siaran langsung seluruh Kota Grata, dia mengenakan cincin itu tanpa ragu dan mengangguk dengan tegas.

Bertahun-tahun setelah pernikahan, keduanya memiliki hubungan yang sangat baik. Natasha hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Alvaro. Setelahnya, Natasha hamil secara alami dan Alvaro sangat gembira.

Untuk meringankan rasa sakit Natasha saat melahirkan, Alvaro mengundang tim ahli persalinan kelas dunia untuk mendampinginya selama seluruh proses. Namun, tetap terjadi hal di luar dugaan. Natasha mengalami pendarahan hebat di hari persalinan.

Alvaro yang tidak pernah percaya pada hal-hal spiritual pun berlutut selama sehari semalam. Dia berdoa untuk meminta Tuhan menunjukkan belas kasihan dan menyelamatkan Natasha. Ketulusannya akhirnya mengharukan langit. Natasha dan putranya selamat.

Setelah lahir, di bawah bimbingan serta kasih sayang Natasha dan Alvaro, Enzo Andara tumbuh perlahan menjadi anak yang patuh dan penuh cinta. Mereka bertiga hidup bahagia bersama dan dianggap sebagai keluarga teladan di Kota Grata.

Natasha selalu menjadi prioritas dalam keluarga ini. Dia hanya batuk sekali, tetapi putranya yang baru berusia tiga tahun langsung menangis ketakutan, lalu segera pergi mengambilkan obat untuknya.

Saat dia demam, meskipun Alvaro masih harus menjaga Enzo yang berusia empat tahun, Alvaro tetap mendampinginya di samping tempat tidur selama sehari semalam tanpa berani memejamkan mata. Sesibuk apa pun pria itu, dia akan menyiapkan sarapan untuk Natasha setiap hari.

Enzo juga melakukan hal yang sama seperti ayahnya. Dia diam-diam menggoreng telur ekstra untuk ibunya setiap pagi.

Namun, ayah dan anak yang begitu mencintai Natasha itu malah diam-diam berkencan dengan wanita lain setiap minggu di belakangnya.

Saat itu adalah pesta ulang tahun Enzo yang kelima, Natasha tidak sengaja jatuh ke kolam renang. Ketika tersadar, dia sangat terkejut karena menemukan bahwa dirinya dapat mendengar suara hati putranya yang ada di samping tempat tidur.

'Kapan Mama akan sadar? Bibi Nana dan Papa masih menungguku.'

Natasha menatap putranya yang biasanya berperilaku baik dan manis dengan tidak percaya. Dia bertanya dengan suara gemetar, "Zozo, apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"

Enzo agak kewalahan, tetapi segera mengendalikan ekspresinya. Dia memeluk Natasha, lalu menjawab, "Mama sudah bangun? Mama mimpi buruk? Mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu dari Mama?"

Namun pada detik berikutnya, suara hatinya terngiang di telinga Natasha.

'Aku harus bantu Papa merahasiakannya. Mama nggak boleh tahu tentang keberadaan Mama Nana.'

Mendengar panggilan "Mama Nana", Natasha pun memicingkan mata dan jantungnya berdebar kencang. Dia tidak percaya putranya yang selama ini dia didik dengan begitu baik malah memanggil perempuan lain dengan sebutan "mama".

Saat Natasha hendak lanjut bertanya, ponselnya berdenting untuk menunjukkan pesan masuk. Itu adalah foto tangan yang saling bertautan dan lengan kokoh khas seorang pria di kamar hotel yang remang.

Natasha langsung terbelalak. Pria itu terlihat sangat familier. Itu adalah suaminya, Alvaro!

Kemudian, masuk lagi sebuah pesan.

[ Natasha, aku nggak nyangka suamimu begitu ganas di ranjang. ]

Wajah Natasha langsung memucat. Rasa sakit hati yang tak terkendali menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tidak percaya bahwa suami dan putra yang merupakan segalanya baginya malah jatuh ke pelukan wanita lain.

Air mata berlinang di matanya dan mengaburkan pandangannya. Natasha tiba-tiba menyadari bahwa malam-malam penuh keintiman dan momen-momen harmonis mereka sekeluarga ternyata hanyalah ilusi untuk menipunya.

Suami dan putra teladan yang diidam-idamkan semua orang malah mencintai wanita lain di belakangnya. Ternyata, dia hanyalah orang bodoh yang tidak mengetahui apa-apa.

Natasha menatap surat perceraian dan surat pernyataan pemutusan hubungan orang tua-anak di atas meja. Tanpa sedikit pun emosi di matanya, dia menandatangani kedua dokumen itu tanpa ragu. Kemudian, dia memasukkan kedua dokumen itu ke dalam kotak hadiah.

Sepuluh hari kemudian, Natasha akan menghilang sepenuhnya. Seluruh Kota Grata akan tahu bahwa di hari ulang tahunnya, Natasha Lestari, istri tercinta Alvaro Andara itu dibakar hidup-hidup hingga bahkan mayatnya juga tidak bersisa.

Bab 2

Terdengar ketukan di pintu kamar tidur. Kemudian, Alvaro berjalan masuk bersama Enzo. Pria itu membawa ember rendaman kaki, sedangkan putra di sebelahnya memegang semangkuk besar salad buah. Mereka sama-sama memasang ekspresi menyanjung.

"Istriku sayang, ayo rendam kakimu untuk sembuhkan flunya."

"Mama, ayo makan buah!"

Alvaro berjongkok dan melepas kaus kaki Natasha, lalu membasuh kakinya. Dia juga memijat kaki Natasha dengan tatapan penuh kasih sayang.

Enzo juga berdiri di samping dan menyuapi Natasha sepotong demi sepotong buah. Dia bahkan menyiapkan tisu dan dengan hati-hati menyeka noda di bibir Natasha.

Melihat kedua orang yang merawatnya dengan begitu perhatian dan saksama, Natasha mencibir dalam hati. Dia mengambil kotak hadiah tadi dan menyerahkannya kepada mereka berdua sambil berkata dengan santai, "Ini hadiah untuk kalian."

Alvaro menerimanya dengan wajah penuh kejutan. "Sayang, apa yang kamu berikan padaku?"

Enzo juga berjingkat-jingkat dan terlihat gembira. "Makasih atas hadiah Mama! Mama baik sekali! Zozo sayang banget sama Mama!"

Namun, ketika putranya hendak membuka tali pita itu, Natasha menghentikannya dan berujar dengan dingin, "Bukalah di hari ulang tahunku sepuluh hari lagi. Melihat isinya di hari itu baru akan berarti."

Mendengar hal itu, Alvaro dan Enzo pun menghentikan gerakan mereka dengan patuh. Mereka mengatakan akan melakukan semuanya sesuai keinginan Natasha, lalu dengan hati-hati memasukkan kotak hadiah itu ke dalam brankas.

Begitu brankas ditutup, ponsel Alvaro berdering. Suasananya pun menjadi hening.

Pada detik berikutnya, terdengar suara hati Enzo. 'Gawat! Bibi Nana pasti sudah menunggu dengan cemas di rumah. Aku harus segera bujuk Mama untuk tidur supaya aku dan Papa bisa pergi cari Bibi Nana.'

Dengan ekspresi datar, Natasha memperhatikan putranya merangkak ke sisinya dan memohon agar dia membacakan dongeng sebelum tidur. Alvaro juga memeluk Natasha dan membujuknya untuk tidur lebih awal.

Natasha tersenyum sinis dalam hati. Dia menatap putra yang biasanya sangat dia sayangi dengan tatapan penuh arti dan bertanya, "Kamu masih ingat kisah putri duyung kecil yang kuceritakan sebelumnya?"

Enzo merasa agak bingung. Tepat saat dia hendak bertanya, Natasha melanjutkan, "Putri duyung kecil itu berubah menjadi busa karena pengkhianatan sang pangeran dan menghilang selamanya. Enzo, kalau Mama dikhianati, Mama juga akan menghilang dari dunia semua orang seperti putri duyung kecil itu."

Natasha menekankan kata-katanya dan nadanya juga terdengar tegas. Suasananya sedikit menegang dan Enzo langsung mengelak.

'Apa yang terjadi pada Mama? Apa dia tahu sesuatu?'

Enzo tiba-tiba panik sejenak. Sebelum dia sempat berpikir, ponsel di saku Alvaro berbunyi beberapa kali lagi. Itu adalah pesan Luna mendesak mereka untuk berangkat.

Ayah dan anak itu bertukar pandang, lalu menyelimuti Natasha. Alvaro tersenyum dan menyentuh wajah Natasha. Dia berkata dengan tatapan lembut, "Sayang, apa yang lagi kamu pikirkan? Tidurlah."

Kemudian, Alvaro memberi isyarat pada Enzo. Enzo langsung sadar dan berbicara di saat yang tepat, "Benar, Mama. Istirahatlah dulu. Zozo masih ada PR. Zozo nggak ganggu Mama lagi, ya."

Natasha tidak menjawab, hanya menutupi dirinya dengan selimut dan memejamkan mata. Ayah dan anak itu mengira Natasha akhirnya tertidur. Mereka pun segera memadamkan lampu dan pergi secara diam-diam.

Namun, tak seorang pun tahu bahwa tepat setelah pintu ditutup, Natasha tiba-tiba membuka matanya dalam kegelapan.

Bab 3

"Papa, Mama agak aneh hari ini. Aku agak khawatir," ujar Enzo dengan ekspresi gelisah begitu masuk ke mobil.

Namun Alvaro hanya mengelus kepala putranya untuk menghiburnya dan tidak peduli pada kekhawatirannya.

"Mama cuma lelah dan perlu istirahat. Jangan berpikir kejauhan. Kita akan segera sampai di rumah Bibi Nana. Senang nggak?"

Mendengar hal itu, sang putra langsung menyingkirkan rasa cemasnya. Dia tersenyum dan mengangguk dengan gembira karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mama Nana-nya.

Namun, mereka tidak tahu bahwa setelah mereka pergi, Natasha langsung bangkit dan diam-diam mengikuti mereka. Sebab, begitu ayah dan anak itu berangkat, dia menerima pesan dari seorang wanita asing.

Itu adalah foto si wanita dan Alvaro di tempat tidur. Ada kostum pelayan, kostum perawat, dan gadis kelinci. Di bawah foto-foto itu, ada juga sebaris pesan.

"Kamu tahu suami dan anakmu akan datang menemuiku sekarang?"

Natasha menunduk beberapa detik, lalu menginjak pedal gas. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri seberapa jauh ayah dan anak itu bisa bertindak di belakangnya.

Maybach hitam itu melaju kencang dan segera meninggalkan kota untuk melaju ke pinggiran kota. Satu jam kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah kompleks vila yang megah.

Natasha pernah mendengar tentang kompleks vila ini sejak lama. Harga sebuah vila di sini mencapai ratusan triliun.

Beberapa tahun sebelumnya, Natasha yang tidak suka kebisingan memohon pada Alvaro untuk membeli vila ini. Akan tetapi, pria itu selalu bersikap ambigu. Dia selalu mengira Alvaro merasa vila di area ini terlalu mahal. Kini, dia sudah mengerti alasannya. Vila ini adalah rumahnya bersama wanita lain.

Di depan, ayah dan anak itu keluar dari mobil. Kemudian, terlihat seorang wanita ramping dan cantik keluar dari vila. Itu adalah wanita yang sama di foto.

Melihat wanita itu berjalan keluar, Enzo berseru kegirangan, "Mama Nana!"

Mendengar putra yang telah dia besarkan selama bertahun-tahun memanggil orang lain mama, hati Natasha serasa ditusuk pisau. Dia tanpa sadar meremas ujung bajunya erat-erat agar tidak bersuara.

Tidak jauh dari sana, Enzo bergegas menghampiri dan memeluk Luna Herdian. Dia membenamkan kepalanya di baju Luna dengan manja. "Mama Nana, akhirnya aku ketemu sama kamu. Aku rindu banget sama kamu."

Wanita itu tersenyum dan membungkuk untuk memeluk Enzo. Kemudian, dia memegang wajah anak laki-laki itu dan menciumnya. Seolah-olah bisa merasakan sesuatu, dia tiba-tiba mengangkat kepalanya dan bertemu pandang dengan Natasha di kejauhan.

Luna menatap Natasha dan berbicara kepada anak laki-laki di pelukannya, "Enzo, aku mau tanya. Kamu lebih suka sama Mama Natasha atau Mama Nana?"

Ekspresi Enzo pun membeku dan dia merasa agak serbasalah. Akan tetapi, dia tetap menjawab, "Aku suka sama Mama, tapi ... Mama terlalu keras padaku. Mama Nana lebih bisa menyenangkanku."

Natasha pun terpaku di sana. Hatinya terasa sakit hingga dia tidak bisa bernapas.

Ketiga orang yang sedang bersama itu lebih mirip seperti keluarga dekat.

Natasha menyaksikan mereka berpelukan sambil tersenyum, lalu memasuki vila bersama. Dia pun melangkah dengan susah payah dan lanjut memperhatikan mereka.

Luna menggendong putranya dan membujuknya untuk tidur. Tak lama kemudian, putranya tersenyum bahagia dan tertidur. Melihat Enzo sudah tidur nyenyak, Luna mengangkat alisnya dan duduk di atas Alvaro sambil tersenyum nakal. Dia juga membuka ritsleting jaketnya.

"Varo, ini piama yang sengaja kukenakan untukmu. Suka nggak?"

Mata Alvaro langsung dipenuhi nafsu. Dia menarik Luna ke dalam pelukannya dan menekannya ke tempat tidur. Kemudian, dia menunduk dan mengecup tulang selangka Luna dengan lembut. Setelahnya, terdengar suara penuh hasrat menggema di vila.

Di luar tembok, Natasha berbalik dengan ujung mata memerah. Dia mengepalkan tangannya erat-erat sambil menahan air matanya. Kemudian, dia jatuh terduduk di lantai dengan hati yang hancur.

Hati Beku yang Tak Dapat Dicairkan Lagi

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya