Bab 1

"Pak, apa benda keras yang menekan bagian intimku?"

Di sekolah mengemudi dekat kampus, aku mengajar seorang mahasiswi tahun pertama belajar mengemudi.

Tidak disangka, mahasiswi yang tampak polos itu mengenakan pakaian terbuka, meminta duduk di pangkuanku. Dia menyuruhku mengajarinya secara langsung sambil dekat-dekat denganku.

Sepanjang jalan, aku menahan nafsuku dan fokus mengajarinya. Aku sengaja mengabaikan sentuhan halusnya yang disengaja maupun tidak.

Namun, entah mengapa, dia melepas kopling terlalu cepat. Mesin mobil tiba-tiba mati dan terguncang hebat.

Dia jatuh tepat di antara kedua pahaku. Kebetulan area sensitifku tepat menempel di area sensitifnya.

Sementara dia hanya mengenakan rok pendek dan celana dalam tipis di baliknya.

Namaku Andreas Sunanto. Tahun lalu, aku berselisih dengan Pak Leo, pimpinan sekolah mengemudi, dan dipecat.

Tahun ini, aku melamar di sekolah mengemudi dekat kampus Diploma. Tempat itu penuh dengan mahasiswi muda.

Siswa sekarang diawasi sangat ketat ketika SMA. Karena itu mereka masih polos.

Mereka sedikit banyak memahami nafsu, tetapi belum sepenuhnya memahami batasan. Mereka hanya mengikuti intuisi dan sering kali berpakaian terbuka, tindakannya sangat berani.

Karena itu, aku sering dimanjakan dengan pemandangan yang memanjakan mata. Namun, begitu teringat dengan pengalaman pahitku yang pernah dipecat karena berselisih dengan pimpinan, aku sangat menghargai pekerjaan ini. Aku menahan diri dari godaan dan mengajar mereka dengan serius.

Namun, tetap saja tidak bisa menghindari kontak fisik dengan mereka.

Mereka semua berusia sekitar 20 tahunan. Masa di mana hasrat mereka sedang memuncak.

Pada waktu SMA belum pernah pacaran dan belum pernah disentuh oleh pria, jadi tubuh mereka sangat sensitif.

Terutama adik yang mengambil jurusan tari itu. Dia mahasiswi tahun pertama. Perkembangan tubuhnya sangat sempurna. Payudaranya montok dan bokongnya ramping. Setiap melangkah keduanya bergoyang.

Adik kecil itu sepertinya sangat suka dekat-dekat denganku. Setiap kali, dia selalu meminta bimbingan pribadi dariku.

Terkadang payudaranya yang besar menempel di lenganku. Terkadang, kakinya yang mulus menyentuh celanaku.

Setelah setiap sesi bimbingan dengannya, aku harus menghabiskan waktu yang cukup lama untuk melampiaskan hasratku.

Kejadian semacam ini makin sering terjadi. Tatapannya padaku makin berani.

Sore itu, Liana berlari kecil dengan tergesa-gesa datang untuk belajar mengemudi.

Liana mengenakan pakaian dansa, sebuah gaun pendek yang hampir tidak menutupi pantatnya. Lekuk tubuhnya terlihat begitu sempurna.

Liana membungkuk dan mengetuk jendela mobil.

"Pak. Maaf terlambat. Barusan aku baru ikut kelas menari."

Baju menari dengan kerah V sekilas memperlihatkan payudaranya yang montok setiap kali dia membungkuk.

Aku membuka pintu penumpang dan menyambutnya sambil tersenyum.

"Aku sudah menunggumu lama sekali. Cepat naik."

Liana duduk di kursi depan, memegang lenganku, dan memohon dengan manja.

"Pak. Aku sudah gagal empat kali di ujian tahap kedua. Kalau aku gagal lagi, aku harus ujian ulang. Bapak harus membantuku."

Aku menghela napas ketika melihat tatapan memohon Liana.

"Oke, kalau begitu kita mulai dengan … "

Liana tiba-tiba mendekat. Napasnya begitu hangat di telingaku.

"Nggak. Pak. Aku nggak bisa belajar seperti ini."

Jari-jarinya meluncur menuruni tanganku dan berhenti di pahaku.

"Gimana kalau aku duduk di pangkuanmu dan kamu ajari aku selangkah demi selangkah?"

Aku membeku di tempat. Aroma manis gadis itu begitu dekat.

Aku pun mengangguk setelah merasakan godaan aneh.

"Terima kasih, Pak. Aku duduk di pangkuan Bapak. Bapak nggak boleh mengeluh."

Liana merangkak ke pangkuanku dari kursi penumpang. Pantatnya terangkat tinggi ketika dia perlahan-lahan mengubah posisinya.

Liana baru saja selesai menari, di badannya masih ada aroma keringat. Stoking putih yang transparan membuat Liana sangat menggoda.

Aku tidak bisa menahan diri untuk menciumnya. Aroma memabukkan gadis muda itu langsung membuat darahku berdesir.

Tidak tahu apakah Liana sengaja atau tidak, tangannya menekan bagian sensitifku!

Pada saat itu, tubuhku seolah-olah tersengat listrik. Sensasi kesemutan membuatku gemetar luar biasa.

Melihat hal itu, Liana meminta maaf berulang kali.

"Maaf, Pak. Aku nggak sengaja. Bapak nggak sakit, 'kan?"

Liana benar-benar orang yang sangat baik hati. Dalam situasi dimana aku jelas-jelas diuntungkan, dia malah meminta maaf.

Aku melambaikan tangan dan berkata sambil tersenyum, "Nggak apa-apa. Kamu duduk yang benar. Aku akan mengajarimu cara mengemudi selangkah demi selangkah."

Liana menyesuaikan posisinya dan duduk dengan stabil di pangkuanku.

Tepat sasaran. Mendarat di bagian sensitifku!

Liana mengenakan rok pendek dipadukan dengan stoking putih.

Begitu Liana duduk, aku merasa sesuatu menekan titik sensitifku. Ada perasaan halus seperti diselimuti.

Lebih parahnya lagi, Liana menggerakkan tubuhnya agar bisa duduk lebih nyaman.

Gesek itu memberikan gelombang kenikmatan pada tubuhku. Aku langsung ereksi. Bagian sensitifku langsung berdiri tegak dan menempel di tubuh Liana.

Liana menyadari tekanan yang tidak biasa. Dia pun memiringkan kepala dan bertanya,

"Pak, apa benda keras yang menekan bagian intimku?"

Bab 2

Aku tidak tahu harus menjawab apa ketika ditanya seperti ini olehnya.

Aku asal menjawab, "Itu tumor di pahaku. Kamu tahan saja dan fokus mengemudi."

Setelah Liana duduk dengan stabil, aku menggenggam tangannya di setir.

Lalu, mengajarinya dengan sabar.

"Genggam setir dengan erat. Mata lurus ke depan!"

"Kaki kiri di kopling, kaki kanan di rem. Lepaskan kopling perlahan hingga sampai ke posisi setengah gigi."

Liana mengemudi dengan hati-hati. Setelah empat kali mogok, dia tidak berani membuat kesalahan lagi.

Saat kopling sampai di posisi setengah, mobil mulai bergetar hebat.

Tubuh Liana membentur tubuhku dengan keras. Gelombang gesekan itu menyebar ke seluruh tubuhku.

Pantat Liana yang lembut dan lentur bergetar intens di kulitku. Sensasi nikmat pun menyebar ke seluruh tubuhku. Setiap pori-pori seolah-olah terbuka dan menyerap sensasi kelembutan dengan serakah.

Aku meraih dan memegang pinggang Liana dengan erat. Aku pun meniru posisi gitu. Sensasi psikologis yang memuncak membuat adrenalinku meningkat.

Tubuh Liana seolah merespons juga. Suhu tubuhnya naik dengan cepat dan bagian miliknya meleleh seperti genangan air.

Akhirnya, Liana pun tidak tahan lagi. Kakinya tergelincir dan kopling dilepas terlalu cepat. Mobil pun tiba-tiba mogok.

Mobil berguncang keras.

Liana terlempar ke atas dan mendarat dengan keras di atas area sensitifku.

Huh!

Hal itu membuat gelombang panas mengalir di pembuluh darahku. Setiap sel di tubuhku bergetar.

Liana mendesah pelan-pelan dengan suara terengah-engah yang menggoda.

Ini adalah pertama kalinya Liana merasakan sensasi seperti ditekan. Dia begitu semangat dan penasaran, seolah-olah baru menemukan dunia baru.

Namun, Liana tidak berani menunjukan.

Liana hanya bisa memeluk tubuhku erat-erat. Dia duduk di atasku sambil merasakan setiap sensasi.

Liana berkata dengan pelan, "Pak. Aku nggak sengaja buat mobil mogok."

"Aku nggak tahu kenapa bagian bawahku rasanya sangat gatal. Tubuhku nggak bertenaga."

Liana mengira bahwa mengatakan bagian bawah tidak akan menarik perhatianku.

Aku menekan tubuhnya dengan lebih erat lagi. Titik itu menekan erat ke tubuhku.

"Bapak nggak salahkan kamu. Nyalakan mesin dan coba lagi."

Liana bangkit untuk mengeluarkan kunci. Aku tidak bisa menahan diri lagi, membuka risleting celanaku, dan mengeluarkan area sensitifku.

Begitu Liana duduk kembali, sensasinya makin intens.

Melalui celananya yang ketat, aku sudah bisa merasakan suhunya. Rasa hangat yang sangat nyaman.

Liana terdiam sejenak. Wajahnya merona merah. Dia pun berkata dengan malu-malu,

"Pak, tumor di kaki Bapak rasanya cukup hangat."

Aku berkata dengan sangat gembira sambil memegang tangannya, "Kali ini aku akan mengajarimu selangkah demi selangkah. Kamu ikuti instruksiku."

Liana mengangguk.

Aku menyalakan mobil dan memasukkan ke gigi ke posisi setengah.

Kali ini sensasi dari getaran lembut itu lebih terasa. Aku jelas-jelas merasakan tekanan ke dalam cekungan lebih dalam.

Dari celana yang tipis, aku bisa merasakan aliran hangat dan lembut.

Tubuh Liana menegang, ia berusaha menahan sensasi gatal yang muncul di tubuhnya, sambil mencoba menghentikan kaki yang gemetar.

Mobil berjalan dengan lancar. Aku memegang tangannya, memutar setir, dan membimbingnya selangkah demi selangkah.

"Ingat posisi untuk mundur. Lalu, nyalakan lampu tanda untuk berbelok. Lakukan perlahan saat parkir paralel."

Setiap setir berputar, bagianku terasa makin terhisap, sensasi terjerat makin kuat.

Awalnya Liana berhasil menahan sensasi gatal di tubuhnya dan fokus mengemudi.

Namun, tubuhnya perlahan-lahan makin panas dan lembut.

Liana hampir tidak punya tenaga untuk menekan pedal rem. Seluruh tubuhnya terkulai lemah di atas tubuhku. Dia terus mengeluarkan dengusan tersendat dari tenggorokannya.

Tubuh Liana terkadang bergetar.

"Pak. Aku gatal banget. Tenagaku hampir habis."

Aku menepi dan memindahkan gigi ke posisi netral.

Lalu aku memeluknya dan mencondongkan tubuhnya ke arah setir.

Liana menunduk di atas setir. Pantatnya yang montok dan berkilau mengarah ke arahku. Melalui celana putihnya yang ketat, aku samar-samar bisa melihat bentuk area sensitifnya.

Liana memalingkan kepalanya dan menatapku dengan ketakutan. Antisipasi tersirat dalam tatapannya yang rumit.

"Pak, aku gatal banget. Nggak tahan … "

Aku menatap celana ketatnya yang basah. "Sebagai pelatih, aku pasti akan membantumu lulus ujian kali ini."

"Kalau kamu kesulitan, aku akan membantumu menghadapinya."

Aku menelan ludah saat tanganku menyentuh pinggangnya yang ramping.

Liana melepaskan celana ketatnya dengan lembut. Setiap gerakannya tampak malu-malu.

Dua pantat yang montok tiba-tiba terlihat di hadapanku. Pantatnya putih dan mulus, di bawahnya ada rerumputan merah muda.

"Kenapa kamu tersipu malu?" Jantungku berdebar bagaikan guntur.

Liana berbicara dengan lembut dan pipinya merona merah, "Pak … Aku merasa nggak nyaman di sini. Apa Bapak bisa bantu aku?"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B66803" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B66803
Salin

Hasrat di Depan Kemudi

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya