Bab 1

"Enak nggak?"

"Hmm... suamiku saja nggak pernah memperlakukan aku seperti ini!"

Malam itu, di sebuah bioskop privat, aku sengaja menggoda suamiku, membiarkan tangannya yang besar meraba pinggang dan bokongku. Namun, ketika menoleh, aku baru menyadari bahwa aku salah orang, dia ternyata pria asing. Pria itu bahkan lebih perkasa daripada suamiku, dan berhasil menaklukkan aku sepenuhnya...

Namaku Anna Palmer, seorang guru balet.

Tubuhku bahkan lebih seksi daripada model muda. Saat masa pubertas, payudaraku dan pinggulku membesar dengan cepat, seperti habis disuntik hormon.

Pacarku tidak mampu memuaskanku, jadi aku sering menonton film dewasa di tengah malam.

Di dalam film itu, seorang pria membuka lebar paha seorang wanita dengan kasar, memaksanya menungging, lalu menempelkan tubuhnya seperti mesin bor dengan ritme satu kali setiap detik.

Air liur wanita itu mengalir, kulitnya memerah oleh hasrat, dan payudaranya yang besar berguncang hebat.

Sungguh liar! Sungguh gila! Namun, aku sangat menyukainya. Aku juga ingin seperti itu...

Aku meniru pose wanita itu, menungging di atas tempat tidur dan meremas kedua payudaraku yang bulat. Kedua kakiku kulilitkan erat, aku berusaha meredakan hasrat yang menggila. Seketika, rasa malu menyergap dan celana dalamku pun basah kuyup.

Frekuensi masturbasiku makin sering dan hasratku pun makin kuat. Di malam sunyi, aku terus gelisah memikirkan pria. Mengandalkan diri sendiri saja tidak lagi cukup untuk meredakan dorongan itu.

Hari itu, aku baru saja selesai mandi dan pacarku langsung mendorongku ke sofa. Lidahnya yang besar menyerbu bibirku. Mulutku dipenuhi suara basah dari lidahnya yang bergerak liar.

Payudaraku juga terasa sangat tegang. "Hmm... uh..."

Tangan kasarnya meremas payudaraku dengan kuat. Sentuhan yang panas dan membakar itu membuat pinggangku tanpa sadar ikut bergerak. Setiap kali dia meremas lalu melepasnya, tubuhku tidak bisa berhenti bergetar.

"Ah... cepat!" Napasku tersengal, tapi pacarku tiba-tiba berhenti dan menghela napas pelan. Perasaan menggantung ini seperti digantung di udara, sungguh menyiksa.

Seluruh tubuhku gemetar dan jari kakiku menegang. Aku menahan rasa ngilu dan lemas yang menjalar hingga ke tulang. "Sayang, kenapa?"

"Anna, aku merasa berhubungan badan di rumah kurang menantang. Bagaimana kalau kita coba di luar?"

Hah? Membayangkan adegan itu saja sudah membuat jantungku berdebar hebat.

Akhirnya, kami sepakat untuk mencoba bersenang-senang di bioskop privat. Pacarku bahkan memintaku untuk tidak memakai pakaian dalam agar lebih mudah.

Aku bersandar manja dalam pelukan pacarku, jemariku menyentuh bagian tubuhnya yang menonjol. Pikiranku dipenuhi berbagai bayangan liar. Jika kami melakukannya di depan orang banyak, apakah itu akan terasa begitu menggairahkan hingga membuatku lemas?

Tangan pacarku yang kasar merengkuh pinggangku, lalu menyusuri lekuk tubuhku hingga ke pangkal pahaku. Dengan kasar, dia menekan bagian tubuhku yang paling sensitif menggunakan jarinya.

Rangsangan ini hampir membuatku kehilangan kendali, seperti aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuh membuatku lemas tidak berdaya. Aku hampir meleleh dan hasrat yang sudah lama kupendam akhirnya tumpah ruah.

"Ah... mmh..."

Sebuah gelombang panas muncul dari tulang belakangku dan menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Tanpa sadar, aku mengeluarkan suara bergetar yang memalukan seperti desahan yang lolos dari sela gigi.

"Jalang Kecil, sudah nggak tahan, ya?" Pacarku menyeringai nakal, dia mendekatkan wajahnya ke telingaku sambil mengembuskan napas panas, sementara kedua tangannya tidak berhenti menjelajah.

Bab 2

Rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuhku karena sentuhan dan remasan yang kuat. Dalam suasana seperti ini, rangsangan yang kurasakan langsung melonjak beberapa kali lipat, disertai perasaan bersalah karena seolah diawasi diam-diam oleh orang lain.

Detik berikutnya, sebagian besar penonton bioskop menoleh ke arah kami. Aku bisa melihat senyum penuh makna di wajah mereka.

Apa kita berdua sudah terlalu berlebihan?

Aku benar-benar malu setengah mati. Aku segera turun dari tubuh pacarku dan pura-pura fokus menatap layar.

Akhirnya, orang-orang itu pun mengalihkan pandangan mereka.

Namun, dada pacarku yang bidang dan keras kembali menempel padaku, kulitnya terasa panas seperti terbakar. "Sayang, lanjutkan..."

Agar aku tidak bersuara, dia memasukkan tiga jarinya ke dalam mulutku untuk membungkam bibirku, sambil memainkan lidahku yang merah muda.

Lidah adalah salah satu bagian tubuhku yang paling sensitif. Aku tergagap-gagap dan tidak bisa bicara, tapi aku justru menyukai sensasi ini dan mulai mengisap jarinya dengan liar.

Aku menanti dengan tegang dan penuh harap, tapi baru tiga menit berlalu, pacarku sudah menyerah. Performanya jauh dari biasanya.

"Anna, di tempat seperti ini aku terlalu terangsang dan kamu menjepitku dengan nikmat!"

Hasratku sama sekali belum terpenuhi. Aku benar-benar tidak bisa mendengarkan apa pun yang dia katakan.

Perasaan belum terisi sepenuhnya ini membuatku seperti dikerubung ratusan semut. Pikiranku dipenuhi bayangan pria perkasa yang memaksaku, gatal dan menggairahkan!

Emosi yang telah lama kupendam hampir tidak bisa kutahan. Aku menarik tangannya dan meletakkannya di payudaraku yang bulat, mengajaknya untuk melanjutkannya. Namun, pacarku tiba-tiba menerima telepon dan buru-buru pergi.

"Anna, ada urusan mendadak di kantor. Kamu lanjut saja menonton film di sini, aku pergi dulu."

Apa ini sekadar alasan untuk menghindariku?

Aku menatap punggungnya dengan penuh kekecewaan. Hasrat yang mengendap terasa seperti parasit yang terus menyiksaku. Tanpa sadar, aku menggigit bibir bawahku dan merapatkan kedua kaki. Namun, kini, aku seperti api yang berkobar, jika tidak dipuaskan, aku bisa gila!

'Lagi pula, tidak ada orang lain melihat.' Bisikan iblis dalam hatiku mendorongku untuk mulai berulah. Tangan nakalku merayap ke antara kedua paha, mengejar kepuasan semu yang tetap terasa kurang.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, film pun telah selesai diputar. Penonton lain beranjak pergi, sementara aku masih terpaku di kursi, kedua kakiku terasa lemas dan tidak sanggup berjalan.

Belum sempat berdiri, aku merasakan setiap jari kakiku gemetar.

Tiba-tiba, suara serak yang menggoda terdengar di telinga. "Cantik, butuh bantuan?"

Aku menoleh dan mendapati seorang pria tinggi dan tampan berdiri di depanku, tubuhnya dipenuhi otot yang kekar dan menonjol. Posturnya yang sempurna membentuk siluet tubuh ideal bak segitiga terbalik yang membuatku terpana.

Wajahku yang memerah berada sangat dekat dengan pinggangnya. Aku bisa merasakan panas tubuhnya, juga kelamin besar yang bahkan tidak bisa disembunyikan celananya. Apakah ini ukuran yang wajar bagi manusia?

Padahal punya pacarku sudah cukup besar, tapi punya pria ini setidaknya lebih besar separuhnya lagi!

Aku menolak dengan malu-malu karena menjaga kehormatanku sebagai seorang wanita, lalu bersiap berdiri dengan bertumpu pada sandaran kursi.

Begitu aku berdiri dan merapatkan kedua kaki, tubuhku langsung kehilangan keseimbangan dan terjungkal ke depan, lalu terjebak di antara dua kursi hingga tidak bisa bergerak.

Payudaraku yang berukuran 36F terjepit pas di sela kursi dengan sempurna.

Perasaan malu yang aneh menyergap, pikiranku kosong, dan tubuhku membeku di tempat tidak berani bergerak sedikit pun.

Tiba-tiba, sebuah tangan besar dan panas menepuk lembut bokongku dari belakang, seolah sedang menakar sesuatu yang lembut. "Cantik, apa sekarang kamu butuh bantuan?"

Dia lagi!

Aku berusaha berdiri, tapi sama sekali tidak berhasil. Bukan hanya karena terjepit rapat, tapi juga karena tubuhku terasa lemas dan tidak bertenaga.

Seluruh tubuhku seperti terbakar. "Terima kasih..."

Belum sempat menyelesaikan ucapanku, pria di belakangku terkekeh pelan, lalu tanpa ragu mendekat dan menempelkan tubuhnya erat di punggung dan bokongku.

Hembusan napas panas perlahan menyelinap masuk, rok miniku sama sekali tidak mampu menahan rasa panas yang perlahan membangkitkan gairahku.

Ototnya begitu kokoh, benar-benar seperti besi yang baru saja dipanaskan, keras dan panas.

Tanpa sadar, aku sedikit mengangkat pinggul ke belakang, yang membuat tubuhku makin menempel pada pria itu dan menimbulkan sedikit gesekan.

Sensasi ini tidak membuatku terasa tidak nyaman, justru membuatku makin terlena.

"Posisi kita sekarang agak aneh, ya!" Suara pria itu terdengar di saat yang tidak tepat dan langsung menghancurkan pertahanan mentalku yang sudah rapuh.

Bab 3

Reaksi malu tubuhku makin kuat dan cairan hangat mengalir keluar, kedua kakiku tanpa sadar merapat dan hampir menjepit kepala kelaminnya yang berbulu.

Astaga! Jika ada orang lain melihatku seperti ini, pasti aku akan malu setengah mati!

"Kumohon, cepat bantu aku keluar!" Wajahku merah padam dan suaraku lirih seperti bisikan nyamuk.

Pria itu menjawab, "Nggak masalah, tapi kamu terjepit begitu rapat. Kalau aku paksa menarikmu keluar, bisa melukai kulitmu."

Dia mencoba menarik bagian pinggang dan bokongku ke atas, tapi sama sekali tidak berhasil. Malah terasa perih dan panas.

"Ja... jangan seperti itu."

Aku merasa malu sekaligus panik. Pria ini jelas bukan pria lemah, tenaganya begitu besar. Saat menarikku, dia hampir saja membuatku terbelah menjadi dua.

"Maaf, aku akan lebih pelan sekarang, aku akan coba pelan-pelan..."

Apa maksudnya pelan-pelan? Aku menyadari ada makna tersembunyi dari ucapannya, jantungku langsung bergetar hebat.

Bokongku terasa menempel makin erat padanya, seolah-olah direkatkan dengan lem.

Tidak peduli seberapa keras bergerak, aku tetap tidak bisa melepaskan diri. Pria itu menempel rapat di belakangku seperti bayangan.

Tangannya perlahan meraba tubuhku dan tanpa kusadari sudah menyusup lewat kerah bajuku, lalu menggenggam payudaraku dan mencubit-cubit hingga terasa geli.

"Jangan... jangan seperti itu..."

"Payudaramu terlalu besar, makanya terjepit di sela-sela. Kamu harus rileks, ikuti arahanku, baru bisa keluar!"

Hah? Benarkah?

Sejujurnya, aku belum pernah tidur dengan pria selain pacarku. Suhu tubuh dan aroma tubuhnya seolah-olah membalutku sepenuhnya. Ditambah dengan posisi kami yang begitu intim, rasanya seperti sedang bercinta.

Tubuhku makin panas. Sekarang, aku tidak lagi khawatir terjepit dan malah hanyut dalam surga kenikmatan.

Setiap sel di tubuhku berteriak liar, menginginkan lebih dan ingin dipuaskan sepenuhnya.

Apa yang dimaksud pria itu dengan arahan ternyata adalah meremas perlahan hingga tubuhku bereaksi. Tubuhku yang sudah terangsang tidak mampu memberikan perlawanan sedikit pun.

Suara penuh nafsu kembali terdengar. "Cantik, kamu ingin ditiduri, ya? Aku tadi lihat kamu dengan pacarmu sedang melakukannya, dia sama sekali bukan lelaki sejati!"

Tubuhku gemetar secara naluriah, pinggang dan bokong bergoyang. Badanku yang basah oleh keringat menjadi lebih sensitif dari biasanya, dan jantung berdebar kencang seperti hampir keluar dari dada.

Apa maksud perkataannya?

Sebelum sempat bertanya, dia langsung membuktikan niatnya dengan tindakan.

Jarinya dengan lancang membuka kancing bajuku satu per satu. Namun, itu belum cukup...

Tubuh yang kuat bagaikan banteng itu tiba-tiba mengerahkan tenaga, terdengar suara robekan, dan rok tipisku tidak mampu menahan tarikannya.

"Nggak, jangan seperti ini!" Masih tersisa sedikit kesadaran dalam diriku. Satu-satunya bagian tubuh yang masih bisa bergerak adalah pinggul dan bokongku.

Seluruh tubuhku kaku. Aku merapatkan kedua kaki dengan erat, lalu dengan sekuat tenaga mendorong bokongku ke belakang untuk menjauhkannya.

"Kakak benar-benar nggak mau?"

Pria itu menggunakan ibu jarinya untuk mengaitkan tali celana dalamku, lalu secara perlahan menurunkannya sampai ke lutut dan menggulungnya.

Di sela-sela kursi bioskop, dia berniat melakukan hal tidak senonoh.

Saat ini tidak ada penonton lain di bioskop, jadi tidak ada yang bisa mendengar teriakanku.

Apakah aku benar-benar akan jatuh sepenuhnya hari ini?

Dia membuka bokongku, tubuhnya yang panas dan keras menekan dari belakang, lalu menggesek-gesekkannya dengan kasar. Kemudian, dia langsung mendorongnya dengan kuat...

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B59788" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B59788
Salin

Hasrat dalam Gelapnya Bioskop

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya