Bab 1

Saat Andre mengalami kebangkrutan dan dikejar oleh musuhnya, aku putus dengannya dan berkencan dengan pria kaya yang lain.

Andre mengatakan bahwa dia mencintaiku, memohon agar aku bisa tetap bersamanya. Andre juga mengatakan jika dia tidak bisa hidup tanpaku.

Aku menuang wiski ke arahnya dengan ekspresi mengejek sambil dipeluk oleh pria lain.

"Andre, berhenti menggangguku! Aku nggak mau terus bersembunyi dan menjalani kehidupan yang miskin denganmu lagi."

Andre pergi dengan sedih dan enggan.

6 tahun kemudian, dia kembali ke Jalan Wandara dan menjadi taipan keuangan di Kota Yorin.

Begitu kembali, Andre membawa tunangannya untuk dipamerkan padaku.

Hanya saja, Andre sama sekali tidak bisa menemukanku lagi, karena aku meninggal pada saat dia kembali.

Pada hari Andre kembali, aku sedang meringkuk di samping tong sampah di persimpangan Jalan Wandara, lalu memakan makanan sisa yang kukumpulkan.

Kedua kakiku diamputasi, jadi aku hanya bisa menopang tubuhku dengan tangan.

Rambutku berantakan, pakaianku juga compang-camping, aku terlihat seperti pengemis.

Aku melihat layar besar di persimpangan jalan. Andre yang sedang naik daun dalam daftar Forbes selama dua tahun terakhir, sedang diwawancarai oleh sebuah media keuangan dengan tunangannya yang bernama Anne.

Mungkin AC di ruang wawancara terlalu dingin, jadi Andre melepas jasnya dan meletakkannya di bahu Anne.

Gerakannya sangat terampil, tatapannya terlihat penuh dengan kasih sayang dan lembut.

Rongga mataku tiba-tiba memerah, hidungku terasa masam, air mataku juga mengalir turun dengan deras.

Dulu aku suka mengenakan gaun. Meskipun saat itu adalah musim dingin dengan suhu di bawah 10 derajat Celcius dan turun salju, aku tetap akan mengenakan gaun dengan kaki telanjang. Pada saat itu Andre akan melepas mantelnya dan meletakkannya di bahuku dengan penuh kasih sayang.

Saat wawancara akan berakhir, pembawa acara tiba-tiba bertanya, "Pak Andre, aku dengar Anda dan Nona Anne akan segera menikah. Bisakah Anda cerita bagaimana kalian bisa bersama?"

Andre tersenyum, lalu menggenggam tangan Anne. "6 tahun yang lalu, bisnisku bangkrut, aku juga punya utang yang sangat besar. Itu adalah masa terburuk dalam kehidupanku. Mantan istriku menceraikanku dan menggugurkan anak kami. Tapi Anne selalu menemaniku melewati masa-masa tersulit itu setiap saat sampai hari ini."

"Dua bulan lagi, aku akan mengadakan pernikahan yang megah untuknya. Kalian semua bisa hadir di pernikahan kami."

"Aku ingin dia menjadi pengantin yang paling bahagia di dunia ini!"

Begitu Andre selesai berbicara, semua orang mulai berdiskusi.

"Mantan istri Andre benar-benar sangat egois!"

"Dia kabur sementara suaminya terlilit utang."

"Sekarang Andre jadi sehebat sekarang, dia pasti sangat menyesal!"

Banyak orang mengatakan jika aku adalah orang yang kejam.

Selain itu mereka juga memuji Anne yang merupakan tunangan Andre yang setia.

Melalui layar besar, aku bisa melihat kebencian di mata Andre dengan jelas.

Seolah-olah dia sedang mengejekku yang kejam dan tidak tahu berterima kasih di dalam hatinya, ‘Lihatlah, dulu kamu meninggalkanku, tapi kamu pasti sangat menyesal sekarang!’

Aku tahu dia berharap aku mati.

Kebencian yang begitu besar membuatku seluruh tubuhku bergetar.

Saat ini sudah memasuki bulan Desember, salju mulai menutupi Jalan Wandara. Tubuhku menggigil di balik pakaianku yang compang-camping, seperti gadis penjual korek api. Aku merasa seolah-olah aku akan mati kedinginan di sini kapan saja.

Wawancara sudah berakhir.

Sudah waktunya bagiku untuk kembali.

Aku menopang tubuhku dengan kedua tanganku, lalu menggeser tubuhku. Kedua lenganku mati rasa karena menyentuh salju yang dingin di jalanan.

Aku menggertakkan gigi, lalu bergerak selangkah demi selangkah. Perjalanan sejauh lima kilometer memakan waktu tiga jam.

Aku tinggal di bawah jembatan layang, tempat para tunawisma berkumpul.

Seorang gadis kecil berusia 7 atau 8 tahun tidak sengaja terjatuh di depanku, dia hendak meminta maaf. Tapi saat melihat wajahku yang penuh dengan bekas luka, dia langsung menangis dengan keras

"Dari mana datangnya pengemis jelek ini? Minggir kamu!"

Ayah gadis kecil itu menggendongnya dan segera pergi.

Sebelum pergi, pria itu bahkan menendang punggungku dengan kakinya yang berlumpur. Aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari tangga.

Kepalaku membentur tanah.

Darah hangat mengalir dari lubang hidungku, lalu menetes ke atas kepingan salju.

Tali liontin jimat keselamatan di leherku putus dan berguling di atas tanah. Aku segera merangkak untuk mengambil liontin itu, kemudian memegangnya di tangan sampai aku menemukan tali, lalu memasangkannya kembali di leherku.

Ini adalah hadiah dari Andre.

Pada tahun pertama setelah kami bersama, aku mengalami demam tinggi dan pneumonia, lalu koma selama beberapa hari.

Agar aku bisa segera sadar, Andre sengaja membeli hadiah ini untukku demi mendoakan keselamatanku.

Liontin jimat keselamatan ini seharga beberapa rupiah, tapi aku tidak akan menjualnya, meskipun aku mati kelaparan.

Dengan ini aku bisa membuktikan cintaku pada Andre.

Aku hendak kembali ke jembatan layang untuk beristirahat, tapi entah kenapa aku merasa sangat lelah, kelopak mataku bahkan terasa begitu berat.

Aku hanya terjatuh dari tangga, kenapa aku bisa mengeluarkan begitu banyak darah?

Aku menyeka darah di hidungku dengan putus asa, tapi entah kenapa dahi dan hidungku terus mengeluarkan darah.

Kedua lenganku terasa sangat lemah sampai tidak bisa menopang tubuhku lagi. Aku hanya bisa merangkak di tanah, lalu membiarkan darah mengotori salju hingga memerah.

Perutku mulai terasa sakit seperti ditusuk dengan pisau.

Kepalaku juga terasa sangat sakit seperti akan meledak.

Tubuhku kejang-kejang karena kesakitan.

"Julie, Julie, apakah kamu baik-baik saja?"

Seseorang memanggil namaku, tapi aku tidak bisa membuka mulut dan mataku.

Mungkin aku akan segera meninggal.

Baguslah. Aku bisa melihat Andre untuk terakhir kalinya dan mengetahui jika dia baik-baik saja. Aku tidak perlu merasa khawatir lagi.

Hanya saja, mati di jalanan benar-benar sangat tidak bermartabat.

Selain itu kondisi tubuhku juga terlihat sangat mengenaskan, lupakan saja.

Sebentar lagi aku juga akan mati, apa bedanya tempat yang bersih dan kotor? Lagi pula tidak akan ada orang yang mengenaliku.

Untung saja Andre tidak pernah melihatku dalam kondisi seperti ini.

Saat malam tiba, tubuhku perlahan-lahan mendingin dan tertutup salju ....

Bab 2

Jelas-jelas aku sudah meninggal, kenapa aku bisa hidup kembali?

Saat melihat tubuhku tergeletak di tanah, aku baru menyadari jika aku tidak hidup kembali, melainkan jiwaku meninggalkan tubuhku.

Jiwaku ditarik oleh suatu kekuatan.

Aku tiba di Laut Argea.

Ini adalah rumah yang dibeli oleh Andre pada 6 tahun yang lalu setelah mendapatkan gaji pertama sebagai manajer investasi, ini adalah rumah pernikahan kami.

Rumah itu didekorasi dengan gaya Barat yang kusukai.

Terdapat taman yang luas di halaman depan dan belakang, taman ini dipenuhi mawar merah muda kesukaanku.

Setengah tahun setelah kami pindah ke rumah baru ini, pesaing Andre menjebaknya dan membuatnya bangkrut.

Ibu Andre yang merupakan ibu mertuaku, juga menderita penyakit ginjal.

Kami terus bersembunyi dari rentenir setiap harinya, kami hidup seperti tikus di dalam selokan.

Aku tidak bisa menjalani kehidupan ini lagi dan menceraikan Andre.

Andre menjual rumah itu, lalu meminjam uang dari orang lain sebagai jaminan untuk melunasi utang rentenir.

Kemudian dia meninggalkan Kota Yorin bersama ibunya.

6 tahun kemudian, Andre kembali dan menjadi taipan keuangan di Jalan Wandara.

Pintunya terkunci. Meskipun jiwaku bisa memasuki rumah ini, aku tetap ingin mencoba kata sandinya.

Aku memasukkan tanggal kami mulai berkencan, lalu pintunya terbuka.

Aku merasa senang dan juga sedih.

Aku senang karena Andre masih mengingat awal hubungan kami, lalu aku sedih karena bukan aku yang berada di sisinya.

Saat duduk di sofa, aku mendengar suara rem yang berdecit. Tidak lama kemudian, Andre berjalan masuk sambil menggendong Anne yang mabuk dan berjalan ke kamar tidur.

Setelah menutupi tubuh Anne dengan selimut dan hendak pergi, Anne berbalik dan memeluk pinggang Andre. Dia berkata dengan nada memohon, "Andre, jangan pergi. Apakah kamu bisa tidur bersamaku malam ini?"

Suara Anne terdengar seperti orang yang sudah mabuk, gaun merahnya seksi membuatnya terlihat sangat menggoda.

Andre ragu-ragu sejenak, lalu mengangguk.

Anne yang sudah mabuk membuka kancing kemeja dan ikat pinggang Andre, pakaian mereka terjatuh ke lantai.

Mataku terasa sangat perih, hatiku juga terasa sangat perih seperti ditusuk oleh jarum. Aku segera membalikkan badanku.

Aku tidak ingin melihat lebih lanjut lagi.

Aku menghibur diriku sendiri, mereka sebentar lagi akan segera menikah dan menjadi pasangan suami istri yang sah. Mereka melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri, kenapa aku harus bersedih?

Lagi pula, akulah yang menceraikan Andre.

Aku menyeka air mataku, lalu berkata pada diri sendiri untuk jangan menangis lagi.

Aku harus memberkati Andre dan mendoakannya agar dia bisa menjalani kehidupan yang bahagia.

Aku mengelilingi vila ini, dekorasi vila ini masih sama seperti dulu.

Selain kehadiran Anne, aku merasa ini masih merupakan rumah pernikahanku dengan Andre.

Kenapa aku selalu merasa jika aku masih merupakan nyonya rumah ini? Aku benar-benar sangat serakah.

Aku menghela napas, lalu bersiap untuk pergi.

Pada saat ini aku melihat Andre turun sambil membawa sebuah kotak kardus besar.

Aku berjinjit untuk melihat isi kotak itu, itu semua adalah hadiah yang kuberikan padanya.

Pisau cukur, jaket pasangan, gelas pasangan dan berbagai macam barang kecil lainnya.

Apa yang ingin dia lakukan? Apakah dia ingin membuang semuanya?

Menghapusku dari kehidupan dan ingatannya?

Hanya saja jika Andre memutuskan untuk melupakanku, kenapa dia membeli rumah pernikahan kami lagi?

Andre mengeluarkan korek api berlian dari dalam kotak, itu adalah hadiah ulang tahun pertama yang kubelikan untuknya.

Andre menyalakan sebatang rokok, lalu menatapnya korek api itu untuk waktu yang lama, entah apa yang sedang dia pikirkan.

Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dan membuka WhatsApp.

Aku dengan penasaran berdiri dari sofa, lalu mengintip layarnya.

Muncul pesan yang kukirim di bagian teratas.

Terakhir kali kami bertukar pesan adalah pada tanggal 26 Juli, 6 tahun yang lalu, hari di mana kami putus.

Dia membuka ruang obrolan, lalu mengetik pesan: [Sebentar lagi aku akan menikah, masih ada barang-barangmu di rumah. Aku sudah mengemas semuanya, kamu bisa ambil barang-barangmu.]

Setelah Andre mengirim pesan, dia tidak menerima jawaban untuk waktu yang lama.

Beberapa saat kemudian, Andre merasa sedikit kesal, lalu mengirim pesan lagi: [Aku kasih kamu waktu dua hari. Aku akan buang kalau kamu nggak mau ambil, agar nggak memenuhi gudangku.]

Aku melihat barang-barang di dalam kotak yang tidak berharga, tapi itu adalah bukti cintaku dan Andre selama beberapa tahun ini.

Kami sudah berkenalan selama lebih dari belasan tahun.

Barang-barang ini adalah bukti cinta kami selama lebih dari belasan tahun.

Dulu Andre sangat menyayangi barang-barang ini. Andre menyimpan barang-barang ini di lemari ruang kerjanya agar tidak ada orang yang bisa menyentuhnya.

Tapi sekarang dia akan membuangnya. Andre ingin melupakanku dan menghapusku dari kehidupannya.

Aku mengulurkan tangan untuk menyentuh cincin pasangan yang kuberikan untuknya, tapi tidak bisa. Jariku menembus kotak dan tidak bisa menyentuh apa pun.

Andre menatap layar ponselnya sampai pagi tiba.

Hanya saja dia tidak melihat balasan dariku.

Ekspresinya semakin memasam, dia tiba-tiba berdiri sambil mengangkat kotak itu.

"Julie! Kamu bahkan nggak balas pesanku, kamu benar-benar sangat kejam!"

Aku menatapnya dengan sedih. "Andre, aku sudah mati. Ponselku juga sudah rusak pada tiga tahun yang lalu. Aku bukannya nggak mau balas pesanmu, tapi aku nggak bisa."

Andre mungkin mengira aku sudah memblokir semua kontaknya dan tidak ingin memedulikannya lagi. Lagi pula, aku mengucapkan kata-kata yang kasar saat kami putus.

Dia memeluk kotak itu dengan penuh amarah, lalu berjalan ke tempat sampah di luar pintu.

Dia membuang semuanya dengan kejam.

Gelas keramik terjatuh ke lantai dan pecah, selimut merah muda yang kurajut juga terjatuh ke dalam kubangan lumpur ....

Saat melihat saksi cintaku dan Andre dibuang, hatiku terasa sangat sakit.

Bab 3

Jantungku terasa seperti ditusuk oleh jarum, rasa sakit ini bahkan membuat napasku menjadi lebih cepat.

Air mataku menetes tanpa terkendali.

Bukankah aku sudah mati? Kenapa aku masih bisa merasa sakit hati?

Suara pintu yang ditutup dengan keras mengejutkan Anne.

Saat ini Anne sedang mengenakan gaun tidur berenda, dia memeluk lengan Andre dengan mesra. "Kita hari ini harus potret foto pernikahan! Ayo kita pergi sekarang!"

Mereka berdua berganti pakaian dan pergi.

Di dalam studio, Anne mengenakan gaun tulle berwarna merah muda dengan ekor gaun yang panjang, sedangkan Andre mengenakan setelan jas putih.

Di bawah bimbingan fotografer, mereka membuat postur yang intim.

Foto terakhir mereka adalah foto saat mereka berdua berciuman.

Aku tak ingin melihat hal ini lagi, karena ini sama saja dengan menyiksa diriku sendiri.

Anne mengunggah foto pernikahan mereka di Facebook.

Tidak lama kemudian, orang-orang mulai menulis komentar.

"Anne cantik sekali. Dia adalah jenis wanita yang baik karena bisa bantu Andre bangkit kembali!"

"Mantan istri Andre yang egois benar-benar lebih buruk daripada Anne!"

"Mantan istri Andre yang kejam pasti akan mati muda!"

Saat melihat komentar terakhir, Andre hendak melaporkan komentar ini. Tapi dia menyukai komentar ini pada detik berikutnya.

Dia menatap layar sambil bergumam. "Julie, jangan kira kamu bisa menghilang begitu saja. Aku mau lihat kamu bisa sembunyi sampai kapan."

"Kamu bisa menceraikanku, tapi nggak bisa menemuiku?"

"Aku mau tanya padamu. Setelah lihat pencapaianku hari ini, apakah kamu menyesal karena menceraikanku? Apakah kamu menyesal meninggalkanku di masa-masa tersulitku?!"

Aku berdiri di belakang Andre sambil melihat kolom komentar yang penuh dengan umpatan dan mengutukku untuk mati, hidungku terasa sangat sakit.

Andre, aku tidak menyesal menceraikanmu dan meninggalkanmu.

Kalau aku bisa mengulang waktu, aku juga akan tetap melakukan hal yang sama.

Setelah meninggalkan toko gaun pengantin, Andre pergi ke perusahaan. Dia sibuk selama beberapa hari dan tidak pulang ke rumah.

Kabar tentang pernikahannya dengan Anne tersebar di internet.

Semakin banyak orang yang memerhatikan kisah cinta taipan keuangan dari Jalan Wandara itu.

Semakin banyak orang juga yang mencintai Anne, karena dia adalah wanita yang menemani Andre menjalani masa-masa tersulit dalam kehidupannya.

Sebagai mantan istri Andre, aku menjadi sasaran publik.

Hari ini, Andre tiba-tiba ditelepon dari polisi. Mereka meminta Andre untuk datang ke kantor polisi karena Anne dibuntuti dan dilecehkan.

Saat melihat orang itu, Andre langsung marah.

Aku juga tertegun.

Orang yang membuntuti Anne adalah Jack, pria yang pernah berpura-pura menjadi pasanganku di depan Andre.

Andre segera meninjunya!

"Beraninya kamu menguntit dan mengganggu tunanganku! Apakah kamu mau cari mati?"

"Kenapa Julie bisa menyukai pria bajingan sepertimu!"

"Oh, aku paham. Dia lihat aku sudah sukses dan akan segera menikah, jadi dia suruh kamu ganggu tunanganku, ‘kan?"

Jack lebih pendek satu kepala dari Andre, dia sama sekali tidak bisa mengalahkan Andre.

Dia dipukuli sampai babak belur.

Aku bergegas untuk meleraikan mereka berdua, tapi aku hanya bisa melihat tanganku menembus tubuh mereka, usahaku untuk menghentikan mereka sia-sia.

"Andre, jangan bertengkar lagi!"

"Jack, apakah kamu nggak bisa kabur!"

Aku tidak bisa menyentuh mereka, mereka juga tidak bisa mendengar ucapanku.

Pada akhirnya, polisi meleraikan mereka berdua.

Jack terduduk di tanah sambil terengah-engah. "Aku nggak menguntitnya dan juga nggak mengganggunya. Aku cuma minta dia untuk hapus komentar di postingan foto pernikahan kalian di Facebook!"

"Dia nggak mau hapus!"

"Jadi aku cuma bisa mengganggunya!"

"Andre, Anne membiarkan orang-orang mengumpat dan menghina Julie di kolom komentar, ini semua pasti berkat kamu!"

"Kamu nggak pantas jadi laki-laki! Kamu benar-benar sangat picik dan membiarkan orang-orang mengumpat Julie. Pantas saja Julie menceraikanmu, kamu sama sekali nggak pantas bersanding dengannya!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B92109" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B92109
Salin

Hari Pamermu, Hari Kematianku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya