Bab 2
Sepatu kulit Jordan juga sesekali bergesekan dengan pergelangan kakiku yang mulus. Hal ini membuat hatiku terasa gatal. Aku menggeser kakiku ke belakang, tetapi dia akan tetap mendekat.
Hal ini benar-benar mengacaukan pikiranku. Saat akhirnya tiba di rumah, suamiku sudah sepenuhnya mabuk. Aku mencoba membangunkan suamiku, tetapi dia sudah sama sekali tidak bereaksi. Aku pun menyerah dan berencana untuk pergi melihat putraku. Sebelum keluar dari kamar, aku menerima pesan dari Jordan.
[ Jordan: Maaf soal tadi. Aku nggak bisa kendalikan diriku. Dengar-dengar, keluarga kalian lagi alami kesulitan keuangan. Kalau kamu butuh kerja, kamu bisa kerja di rumahku. Istriku meninggal waktu melahirkan dan putriku butuh ibu susu. Gajinya sangat tinggi. ]
Aku langsung menolak tanpa berpikir panjang.
Aku adalah seorang gadis desa yang konservatif. Jika insiden tadi tidak terjadi, aku yang kekurangan uang mungkin bersedia menjadi ibu susu putrinya Jordan. Namun, setelah teringat apa yang dilakukan Jordan tadi, aku sangat takut dia akan makin menjadi-jadi apabila aku setuju untuk bekerja untuknya.
[ Jenny: Nggak apa-apa. Tapi, anakku benar-benar butuh dirawat. Sebaiknya Pak Jordan pekerjakan orang lain sebagai ibu susu putri Bapak. ]
Setelah suamiku bangun dan aku memberitahunya mengenai tawaran Jordan, aku mengira suamiku juga akan berpendapat sama denganku dan membenci cara kerja Jordan. Tak disangka, dia malah mengkritikku.
Sonny Cerika yang kepalanya terasa berat akibat mabuk membaca pesan penolakan yang kukirim kepada Jordan. Kemudian, ekspresinya langsung bertambah suram.
“Kamu nggak tahu ini kesempatan yang sangat baik? Kamu pada dasarnya memang harus menyusui seorang anak, memangnya kenapa kalau kamu tambah menyusui seorang anak? Apalagi, Pak Jordan juga begitu royal. Kalau uang yang terkumpul sudah cukup, kita kan bisa bayar biaya operasi putra kita!”
Aku pun merasa serbasalah dan berharap suamiku bisa memahamiku. “Tapi, di tangga darurat semalam ... Pak Jordan langsung ....”
Aku pun menceritakan kejadian semalam kepada suamiku. Namun, ekspresinya hanya sedikit berubah. Setelah menenangkan diri beberapa menit, dia mulai menasihatiku lagi.
“Jenny, biaya operasi putra kita 300 juta. Sekarang, kita masih punya utang 100 juta. Kalau cuma andalkan gaji 10 jutaku per bulan, kita nggak mungkin bisa kumpulkan biaya operasi itu.”
Aku menggigit bibirku sambil berlinang air mata.
Namun, suamiku masih lanjut menasihatiku, “Pak Jordan punya harta ratusan miliar. Dia bisa dapatkan wanita mana pun yang diinginkannya. Semalam, dia mungkin sudah mabuk. Dia bukan orang seperti itu.”
Pada akhirnya, suamiku membujukku selama setengah jam, tetapi aku masih belum berubah pikiran. Dia pun berkata dengan kesal, “Jenny, coba pergi ke kamar sebelah dan lihat putra kita. Kamu tega biarkan dia tuli seumur hidup? Keluarga ini sudah membesarkanmu selama 20 tahun. Kamu cuma perlu jaga anak dan bisa hasilkan ratusan juta, tapi kamu nggak bersedia?”
Pada akhirnya, aku pun setuju. Namun, aku setuju bukan karena bujukan Sonny. Aku hanya tidak ingin putraku hidup menderita. Sebagai ibu, aku rela berkorban lebih banyak.
Dengan begitu itu, aku pun menyetujui permintaan Jordan. Karena alasan pekerjaan, aku mau tak mau harus membawa putraku pergi ke rumah Jordan.
Jordan sedang berdiri di depan vila. Ketika melihat aku tiba, dia berinisiatif membantuku membawakan koperku. Kali ini, dia terlihat sopan, juga meminta maaf lagi atas kejadian malam itu dengan sikap yang baik.
Oleh karena itu, aku mau tak mau merasa diriku berpikiran terlalu sempit. Mungkin saja hari itu Jordan benar-benar mabuk.
Jordan menatap putraku dengan lembut dan sopan, lalu mengambil sebuah mainan dan menghiburnya. Seusai membereskan barang-barangku, aku pun pergi ke kamar anak untuk menemui putri Jordan yang bernama Silvy.
Silvy sedang menangis hebat. Aku pun menggendongnya dan tahu bahwa dia kelaparan. Jadi, aku mengangkat bajuku dan mulai menyusuinya.
Bab 3
Sekitar setengah jam kemudian, aku sudah menidurkan Silvy. Baru saja aku meletakkan Silvy kembali ke tempat tidurnya dan hendak menurunkan pakaianku, pintu kamar tiba-tiba dibuka. Orang yang datang tidak lain adalah Jordan yang sedang menggendong putraku.
Pakaianku masih terbuka saat bertemu pandang dengannya. Aku pun merasa sangat malu, lalu buru-buru mengalihkan pandanganku dan menurunkan pakaianku.
Jordan tersenyum canggung dan berkata sambil mengelus hidungnya, “Maaf, aku lupa ketuk pintu.”
Wajahku sudah semerah tomat dan aku tidak berani mendongak. Aku pun memberanikan diri untuk menggendong putraku dari pelukannya. Putraku tidak dapat mendengar, juga tidak bisa berbicara. Dia hanya bisa tersenyum padaku.
Aku juga hanya bisa tersenyum pahit dan memeluk erat putraku. “Nggak apa-apa. Aku yang lupa mengunci pintunya.”
Jordan sangat royal. Meskipun hanya bekerja sebagai pengasuh, gajiku dibayar per hari dan aku mendapat gaji 4 juta sehari. Biasanya, dia sangat jarang berada di rumah karena sibuk bekerja. Kami juga jarang bertemu. Namun, sikapnya sangat sopan dan dia tidak pernah melakukan hal yang keterlaluan lagi terhadapku.
Aku adalah seorang wanita normal yang juga memiliki kebutuhan biologis. Namun, sejak aku melahirkan, suamiku tidak pernah lagi menyentuhku.
Setelah bekerja, aku pernah pulang beberapa kali dan mengutarakan kebutuhanku baik dengan cara halus maupun secara terang-terangan. Namun, dia selalu menghindariku. Alasannya tidak lain karena kelelahan bekerja. Aku pun hanya bisa menahan kekesalanku berulang kali.
Pada malam ini, aku menyusui Silvy seperti biasa. Kali ini, ketika aku masih sedang menyusui anak, pintu kamar tiba-tiba dibuka lagi. Aku pun secara refleks membelakangi pintu.
Pembantu di rumah ini sangat sedikit. Saat aku menyusui, tidak ada orang juga yang pernah menggangguku. Orang yang mungkin masuk hanyalah Jordan. Mungkin saja Jordan masuk dengan tidak sengaja lagi. Jadi, aku pun menunggu pintunya ditutup kembali.
Setelah mendengar suara pintu ditutup, aku mengira Jordan sudah pergi dan baru berani berbalik lagi. Siapa sangka begitu berbalik, aku langsung bertemu pandang dengan orang di samping tempat tidur.
Begitu melihat wajah Jordan, jantungku langsung berdegup kencang. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya dan berkata dengan terbata-bata, “Pa ... Pak Jordan, ke ... kenapa kamu masuk kemari?”
Jordan yang awalnya bertatapan denganku mulai mengalihkan perhatiannya dan menatap bagaimana aku menyusui putrinya dengan tatapan penuh nafsu. Pada saat ini, aku tidak bisa bersembunyi maupun menutupi tubuhku. Silvy sedang mengulum putingku dengan erat.
Aku pun merasa malu dan marah, lalu menekankan kata-kataku, “Pak Jordan, tolong keluar.”
Setelah mendengar ucapanku, Jordan bukan hanya tidak berbalik, malah memandangku dengan lebih terang-terangan lagi. Aku dapat melihat dia menelan ludah dan tatapannya yang dipenuhi dengan hasrat tak terbendung.
Meskipun aku sudah berbalik, Jordan juga tetap berpindah ke depanku. Sampai Silvy sudah kenyang, aku pun menaruhnya kembali ke tempat tidur dan hendak langsung menurunkan pakaianku.
Namun, Jordan bertindak lebih cepat. Dia langsung menahan tanganku dan menatapku lekat-lekat. Dia berkata dengan nada penuh hasrat yang tak terkendali, “Jenny ... kulihat, kamu selalu perah banyak ASI dan membuangnya setiap hari. Apa ASI-mu terlalu banyak?”
ASI-ku memang sangat banyak. Meskipun sudah menyusui dua anak, ASI-ku juga masih berlebih sangat banyak. Jadi, aku hanya bisa diam-diam memerahnya dan membuangnya. Aku tidak menyangka apa yang kulakukan belum cukup tersembunyi dan terlihat orang.
Dalam keadaan seperti ini, aku tidak tahu harus bagaimana menjawabnya dan hanya bisa memaksakan diri untuk melontarkan “emm”. Kali ini, dia bergerak lebih dekat lagi. Dia mencium bau ASI dari tubuhku dan makin terpesona. Sementara itu, aku makin ketakutan.
“Jenny.” Jordan memanggilku dan mengungkapkan maksudnya dengan sangat jelas, “Sayang sekali kalau dibuang. Berikan saja padaku. Sekali, 6 juta.”
Mataku pun membelalak. Enam juta? Apa semua orang kaya begitu royal?
Meskipun aku tidak mengerti kenapa orang sebesar Jordan masih begitu menyukai ASI, aku benar-benar merasa sangat ragu. Aku pun bertanya dengan hati-hati, “Aku perah keluar ... lalu memberikannya padamu?”
Tirai dalam ruangan ini ditutup sehingga ruangan ini sangat remang dan sunyi hingga kami dapat mendengar detak jantung satu sama lain. Aku merasa sangat gugup karena ditatap lekat-lekat oleh Jordan.
Pada akhirnya, aku mendengar Jordan menolak dengan tegas, “Aku cuma mau minum yang langsung dari sumbernya.”
Tanpa menunggu jawaban dariku, Jordan sudah menunduk dan membenamkan kepalanya di payudaraku, lalu langsung mengulum putingku. Sensasi yang begitu menggairahkan seketika membuat sekujur tubuhku merinding. Aku pun mengerang tak terkendali.