Bab 1

Setelah menikah selama lima tahun, suamiku, Vincent Amjaya, pulang dari perjalanan bisnis selama enam bulan dengan membawa pulang cinta pertamanya, Cindy Harris.

Cindy sudah hamil lebih dari tiga bulan. Vincent berkata bahwa hidup wanita itu tidak mudah, jadi dia akan tinggal untuk sementara di rumah kami.

Aku menolaknya, tetapi Vincent menyuruhku untuk jangan bersikap tidak tahu diri.

Suaranya penuh dengan nada merendahkan, seolah-olah pria itu lupa bahwa rumah ini adalah hadiah pernikahanku dari keluargaku.

Seluruh keluarganya hidup bergantung padaku. Kali ini, aku bertekad untuk menghentikan semua dukungan hidup mereka.

Aku tersenyum sambil menelepon asistenku, "Segera buatkan surat cerai untukku. Berani sekali seorang suami yang hidup dari istrinya membawa selingkuhan pulang ke rumah secara terang-terangan."

Ketika mengetahui bahwa Vincent akan pulang ke tanah air hari ini, sejak pagi-pagi buta aku sudah menata semua barang-barang kecil yang telah aku kumpulkan untuknya dari berbagai tempat selama setengah tahun ini. Aku menyuruh pelayan, Bibi Suni, menyiapkan satu meja penuh makanan kesukaannya.

Pada saat ini, pintu gerbang terbuka. Vincent muncul di hadapanku sambil memeluk cinta pertamanya.

Wajahku penuh dengan keterkejutan. Cindy tersenyum sambil berjalan menghampiriku, mengelus perutnya sambil menyapa.

"Kak Sarah, lama nggak bertemu."

Aku menatap perutnya yang sedikit membuncit, amarahku pun memuncak.

Cindy sepertinya menyadari perubahan emosiku. Dia segera berjalan ke sampingku, menarik pergelangan tanganku dengan manja sambil berkata, "Kak Sarah, kamu jangan terlalu emosi dulu. Semua ini salahku sendiri. Kalau kamu ingin menyalahkan seseorang, salahkan saja aku. Jangan sampai kamu menyakiti Kak Vincent."

Kalimat sederhana Cindy itu seperti petir yang menyambar kepalaku.

Aku belum mengatakan apa-apa, tetapi Cindy sudah memberi tahu segalanya.

Vincent yang ada di samping terus mengamati gerak-gerikku. Sikapnya tampak seperti dia siap maju untuk melindungi Cindy kapan saja.

Aku mengepalkan kedua tanganku dengan erat, lalu menatap Vincent sambil bertanya, "Apa kamu nggak akan menjelaskan?"

Setelah aku berkata demikian, Vincent menghela napas sambil menarik Cindy. Dia berkata dengan nada lembut, "Aku akan mengantarmu memilih kamar dulu. Serahkan urusan lainnya padaku."

Nada Vincent yang lembut itu membuatku terpana. Selama lima tahun menikah, Vincent tidak pernah menggunakan nada seperti itu padaku.

Di bawah tatapanku, dia menuntun Cindy naik ke lantai atas.

Sopir membawa tiga koper besar. Cindy sepertinya membawa setengah rumahnya ke sini.

Jelas-jelas Cindy terlihat lebih segar dan sehat daripada aku, tetapi Vincent melindunginya seperti melindungi boneka porselen.

Aku duduk lemas di sofa, menunggu Vincent selesai mengaturkan tempat untuk Cindy, lalu memberikan penjelasan padaku.

Aku mendengar suara tawa yang menyakitkan telinga dari lantai atas. Ketika aku baru saja bersiap untuk naik ke atas, bel pintu berbunyi.

Ayah dan Ibu Vincent, Harry dan Rania, melangkah masuk dengan wajah muram. Mereka seperti tidak melihatku sama sekali, langsung bergegas naik ke lantai dua.

Aku mengikuti mereka naik ke atas. Sesampainya di atas, aku melihat Vincent menarik orang tuanya sambil berkata dengan nada tulus, "Aku nggak bermaksud menyembunyikan ini dari kalian. Kadar progesteron Cindy nggak stabil di awal tahap kehamilan, aku takut terjadi sesuatu."

"Aku harap kalian bisa mengerti. Aku dan Cindy saling mencintai. Yang di dalam perutnya adalah cucu kandung kalian. Tolong jangan menyalahkannya."

Aku mengingat lima tahun pernikahanku dengan Vincent. Setiap kali aku dan ibunya berbeda pendapat, Vincent akan selalu berkata bahwa ibunya sudah tua, menyuruhku lebih sabar dengannya. Vincent tidak pernah membelaku sekali pun.

Selama ini aku berpikir memang begitu watak Vincent. Baru ketika aku melihatnya selalu melindungi Cindy hari ini, aku sadar bahwa selama ini aku hanyalah badut.

Cindy menarik tangan Rania sambil menambahkan, "Sebenarnya aku nggak bermaksud merusak pernikahan Kak Vincent. Kami benar-benar saling mencintai. Aku harap Paman dan Bibi bisa memahaminya."

Bab 2

Alis Rania perlahan-lahan mengendur, lalu dia melirikku yang sedang berdiri di luar pintu.

Aku tahu bahwa dia sedang ragu. Selama lima tahun ini, aku selalu mentransfer uang bulanan padanya tepat waktu. Siapa pun bisa melihat bahwa kekuatan finansial Cindy sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan diriku.

Hatiku seketika seakan tenggelam ke dasar es. Vincent adalah suamiku. Namun, ketika terjadi masalah seperti ini, dia tidak memberitahuku terlebih dahulu. Sebaliknya, dia mempermalukanku di depan umum.

Apakah dia benar-benar mengira aku tidak punya amarah? Tidak punya harga diri?

Ketika melihat suasana yang hening, mata Cindy langsung memerah, lalu dia mulai terisak.

"Anak dalam kandunganku nggak bersalah. Bagaimanapun juga, aku akan tetap melahirkannya."

"Kalian bisa memarahiku sesukanya, aku bisa menerimanya. Tapi aku berharap anakku nggak akan menerima perlakuan buruk."

Tetesan air mata besar mengalir di pipi Cindy.

Penampilannya membuat siapa pun yang melihat akan merasa kasihan.

Vincent dengan wajah penuh kasih sayang membantu Cindy menghapus air mata di sudut matanya. Dalam suaranya, terdengar nada penuh keluhan.

"Bu, cepat jawab dia. Kamu tahu sendiri kalau ibu hamil harus menjaga kestabilan emosi."

Setelah kami menikah, orang tua Vincent langsung mulai mendesak kami untuk memiliki anak. Selama lima tahun ini, tidak pernah ada kabar baik dari kami. Di belakang, orang tua Vincent banyak membicarakan gosip tentangku. Aku mengetahui semua ini.

Setelah mempertimbangkan keturunan keluarga, Harry yang berdiri di samping dan tidak mengatakan apa-apa sejak tadi, akhirnya pun bersuara.

"Bagaimanapun juga Cindy sedang mengandung keturunan Keluarga Amjaya. Selama beberapa bulan ini, semua orang harus menahan emosinya dulu."

Begitu kata-kata itu terucap, semua mata tertuju padaku.

Mereka berdiri di sini yang sama, menciptakan tekanan yang kuat. Seketika, aku merasa bahwa aku adalah orang luar.

Aku tidak bisa menahan tawa dinginku. "Apa nggak ada yang bertanya tentang pendapatku?"

Ketika melihat wajahku yang tidak senang, Vincent dengan sangat marah menghalangi di depan Cindy sambil bertanya, "Sarah, apa kamu nggak bisa mendengarkan?"

"Aku sudah menceritakan semuanya di hadapanmu. Apa lagi yang ingin kamu ketahui?"

Aku tidak bisa menahan diri untuk tertawa dingin. Suamiku pergi dinas luar negeri selama enam bulan. Begitu pulang, dia membawakanku kejutan sebesar ini. Bukan hanya tidak ada penjelasan langsung satu kata pun, dia malah bersikap memerintah padaku.

Melihat aku tidak berkata apa-apa, Cindy sekali lagi menangis. Dia menarik pergelangan tangan Vincent sambil terisak, "Kak, kalau Kak Sarah benar-benar marah, lebih baik aku pergi saja."

Ketika Rania mendengar ini, dia langsung merasa tidak senang. Dia segera membalas, "Kamu sedang mengandung cucu Keluarga Amjaya. Bagaimana bisa kami membiarkanmu pergi?"

Setelah berkata demikian, Vincent menatapku dengan marah, lalu berkata, "Katakan sesuatu. Lihat betapa takutnya Cindy."

"Bagaimanapun juga, Cindy sedang mengandung anakku. Kalau kamu benar-benar merasa marah, kamu bisa melampiaskannya padaku secara pribadi. Aku nggak akan pernah membiarkanmu menyakitinya."

Setelah berkata demikian, Cindy menarik pergelangan tangan Vincent, lalu berkata dengan nada cemas, "Jangan, Kak. Aku juga nggak ingin kamu diperlakukan dengan buruk. Aku akan merasa sakit hati."

Kalimat pendek Cindy itu membuat mata Vincent berubah memerah.

Setelah orang tua Vincent mendengar ini, mereka juga tersenyum sambil mengangguk. Tampak jelas bahwa mereka sangat puas dengan Cindy.

Aku yang tidak tahan untuk mendengarnya lagi, langsung berbalik pergi.

Aku mengunci diri di kamar tidur utama selama sepanjang siang tanpa keluar sedikit pun. Suara tawa dari ruang tamu terdengar sangat menyakitkan telinga.

Siang harinya, Bibi Suni mengetuk pintu. Begitu masuk, dia memberitahuku bahwa Cindy sebenarnya ingin tinggal di kamar tidur utama, tetapi dicegah oleh Rania.

"Dia mengatakan kalau bagaimanapun juga kamu mendapat dukungan dari Keluarga Darius. Segala urusan di rumah ini masih membutuhkan bantuanmu. Jadi, nggak boleh sampai benar-benar membuatmu marah. Dia juga mengatakan …."

Bab 3

Bibi Suni adalah orang yang menemaniku tumbuh besar sejak kecil. Dia mengenal watakku. Jadi, setelah mengatakan sampai sini, dia mengangkat pandangan untuk melihat ekspresiku.

Ketika melihat aku tidak memotong pembicaraannya, dia melanjutkan, "Dia juga mengatakan kalau semua pengeluaran setelah kehamilan akan ditanggung olehmu. Bagaimanapun juga, kamu nggak bisa melahirkan. Jadi, akan lebih baik untuk menyuruhmu ikut berpartisipasi merasakan pengalaman ini."

Pada saat ini, wajahku sudah pucat pasi. Aku merapikan lengan bajuku sambil bertanya, "Ada kata-kata lainnya?"

Bibi Suni menambahkan, "Mereka mengatakan kalau kamu nggak punya anak, jadi nanti semua hartamu akan menjadi milik anak ini ...."

Aku tidak bisa menahan tawaku. Keluarga ini benar-benar pandai bermain trik.

Meskipun aku merasa sangat marah, aku tidak menunjukkannya. Aku tahu bahwa saat ini bukan waktu yang tepat.

Bibi Suni bertanya apa yang harus dilakukan selanjutnya. Aku hanya tersenyum, menyuruhnya bersikap seperti biasa.

Dia mengantarkan makan siang untukku. Setelah makan, aku duduk di depan jendela kamar sambil melihat ke bawah. Saat ini, Vincent sedang membawa Cindy keluar.

Kenangan kembali menyerang pikiranku. Lima tahun yang lalu, di sore hari yang sama, aku pulang menemui orang tuaku sambil menangis dan merengek. Aku mengatakan bahwa aku harus menikah dengan Vincent atau aku tidak akan menikah sama sekali.

Saat itu orang tuaku sudah mempunyai calon menantu pilihan dalam hati mereka. Mereka merasa putra tunggal Keluarga Surya, Jevin Surya, cukup baik.

Kedudukan Keluarga Surya di Kota Jana cukup tinggi. Sejak kecil, aku dan Jevin sudah bertetangga. Orang tuaku selalu menyukainya, bahkan sering mengundangnya makan di rumah kami.

Namun, selama ini aku tidak pernah memiliki perasaan seperti itu terhadap Jevin. Sejak mengenal Vincent, seluruh hatiku selalu tertuju padanya. Tentu saja aku tidak akan bersedia menjadi menantu Keluarga Surya.

Aku selalu mengatakan pada orang tuaku bahwa pernikahan di generasi kami seharusnya bisa kami putuskan sendiri. Jevin pasti juga tidak menyukaiku.

Namun, orang tuaku mengatakan bahwa Jevin tidak mungkin akan begitu sering berinisiatif menjemput dan mengantarkanku ketika aku pergi bermain jika dia tidak menyukaiku.

Sebenarnya, saat itu aku tidak peduli apakah Jevin menyukaiku atau tidak.

Hari pertamaku bertemu dengan Vincent adalah di acara rekrutmen organisasi mahasiswa pada hari pertama masuk universitas. Kami mengambil formulir pendaftaran hampir dalam waktu yang bersamaan.

Dia dengan sangat sopan mengucapkan maaf padaku, lalu berinisiatif memberikan formulir pendaftaran itu padaku.

Hari itu, Vincent mengenakan seragam olahraga berwarna abu-abu. Mata dan alisnya tampak jernih, badannya tinggi, senyumnya juga sangat cerah.

Tangannya tampak sangat indah. Sebagai seseorang yang menyukai tangan yang indah, aku tidak bisa berhenti.

Takdir yang tiba-tiba membuatku tanpa sadar mengingat nomor ponselnya.

Setelah berpisah, aku menyimpan nomor WhatsApp-nya. Ketika aku menyebutkan namaku, Vincent tanpa ragu berkata padaku, "Nona Sarah, aku sudah lama mendengar tentangmu."

Sejak hari itu, aku tanpa sadar berharap bertemu Vincent secara kebetulan di jalanan. Bahkan demi bisa lebih banyak berinteraksi dengannya, aku berusaha keras untuk masuk organisasi mahasiswa.

Cinta pada pandangan pertama. Begitulah aku mengikuti bayangannya dengan sukarela.

Setelah menikah, Vincent berinisiatif mengusulkan untuk membantuku mengelola perusahaan, jadi aku bisa menjalani kehidupan yang santai sebagai seorang istri.

Aku tidak menolaknya. Aku berpikir bahwa suami istri memang harus satu hati. Kondisi keluarga Vincent sangat biasa saja.

Aku berpikir karena dia ingin memiliki prestasi dalam kariernya, aku juga harus membantunya.

Orang tua dan sahabat dekatku pernah menasihati diriku untuk mempertimbangkan semuanya dengan matang.

Terlebih lagi, sebelum menikah orang tuaku sudah memberitahuku bahwa Vincent tidak menikahiku hanya karena murni menyukaiku. Dia juga tertarik pada latar belakang keluargaku.

Aku mengatakan kalau aku tidak peduli dengan hal-hal itu. Selama Vincent benar-benar mencintaiku, semuanya bukanlah masalah.

Setelah menikah denganku, orang tua Vincent hidup dengan nyaman. Mereka berhenti dari pekerjaan mereka di pabrik, menerima uang bulanan yang ditransfer Vincent setiap bulannya, hidup dengan sangat nyaman.

Hanya Pria Tak Berguna

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya