Bab 1

Sudah lima tahun menikah, tiba-tiba cinta pertama suamiku mengunggah foto sertifikat rumah di instagram.

Dia menulis,

"Terima kasih Kak Boni sudah memindahkan kepemilikan rumah ini untukku."

Aku terkejut melihat alamat di sertifikat itu adalah rumah kami, jadi aku memberikan komentar, "?"

Tak lama kemudian, suamiku langsung meneleponku dengan nada marah,

"Dia itu ibu tunggal, kasihan sekali. Aku hanya memindahkan kepemilikan rumah supaya anaknya bisa lebih mudah untuk daftar sekolah nantinya. Itu nggak akan mengganggu tempat tinggal kita!"

"Kenapa kamu nggak punya hati nurani? Masa nggak bisa sedikit bersimpati?"

Di balik telepon, terdengar suara tangisan lembut dari cinta pertamanya.

Setengah jam kemudian, cinta pertamanya mengunggah lagi, kali ini menandai aku di unggahannya.

Dia memamerkan sebuah mobil mewah seharga dua miliar, lengkap dengan catatan,

"Dibayar lunas, seperti kata pepatah, pria yang mencintaimu akan rela menghabiskan uang untukmu."

Aku tahu itu hadiah dari suamiku untuk menenangkannya.

Tapi kali ini, aku sudah memutuskan untuk bercerai.

Bukankah hanya memberinya sertifikat rumah?

Saat Boni pulang, aku menelan satu butir mifepristone sambil memakan kue ulang tahun.

Ini adalah obat yang harus dimakan di hari keguguran.

Hari ini adalah hari ulang tahunku, aku sudah membeli kue lebih awal dan menunggu Boni pulang untuk merayakannya. Aku ingin memberitahunya bahwa aku hamil.

Namun, aku menunggu sampai pukul tujuh malam, dia juga tak mengangkat telepon dan membalas pesan.

Hingga aku mengomentari unggahan Sofie tentang sertifikat rumah. Boni langsung meneleponku dengan nada marah, memarahiku tanpa henti.

Aku baru saja ingin menjelaskan, tapi teleponnya langsung dimatikan dan aku pun diblokir. Aku begitu marah hingga keguguran.

Saat pulang, Boni melihat obat dan kue di meja makan.

Dia mengernyit dan bertanya, "Siapa yang ulang tahun? Kamu?"

Aku diam-diam menyimpan obat itu dan membuang kue itu ke tempat sampah,

Lalu menjawab dengan tenang, "Bukan aku, temanku yang ulang tahun."

Dia menghela napas lega.

"Aku ingat ulang tahunmu itu 28 September, hari ini baru tanggal 8 September."

Selama lima tahun menikah, Boni selalu salah mengingat ulang tahunku.

Ironisnya, ulang tahun orang itu selalu diingat dengan jelas.

Boni duduk di sampingku dan menyerahkan sebuah boneka beruang kecil.

Lalu berkata, "Ini dari Sofie. Dia merasa ketakutan dengan sikap sarkastismu tadi, kamu harus minta maaf padanya."

Ada logo mobil Mercedes-Benz di badan boneka itu.

Sepertinya itu hadiah dari pembelian mobil, bahkan masih ada noda minyak yang terlihat jelas.

Dengan datar, aku berkata,

"Aku nggak mau."

Boni mengerutkan kening, menjawab kesal,

"Sok angkuh apa sih? Dia bahkan ketakutan, tapi masih berusaha berdamai denganmu, kamu masih nggak mau minta maaf?"

Melihatku tidak peduli, Boni berusaha menarikku untuk menelepon Sofie.

Dia menarikku dengan keras hingga aku terhuyung. Kaki kananku yang terluka terbentur meja yang dingin.

Itu adalah luka bakar dari seminggu lalu.

Waktu itu, Boni keluar dari dapur membawa bubur panas sambil sibuk membalas pesan Sofie. Tak sengaja, bubur itu tumpah ke kakiku, membakar kulitku hingga melepuh.

Melihat lukaku kembali berdarah, Boni panik.

"Ayo, ke rumah sakit."

Aku tidak menolak.

"Iya."

Begitu masuk ke mobil, terdengar suara speaker bluetooth. Itu suara manja Sofie.

"Selamat datang kembali direkturku. Jangan lupa kerja keras supaya aku bisa terus belanja, ya~"

Ekspresi Boni langsung berubah.

Dia buru-buru menjelaskan, "Sofie membelinya waktu beli mobil kemarin, dia lupa mengambilnya kembali, aku buang langsung."

"Nggak perlu," jawabku datar.

Mobil kembali sunyi.

Boni menatapku dengan heran.

"Kamu nggak marah?"

Aku hanya mengatupkan bibir.

Dulu, aku sangat terganggu dengan keberadaan Sofie.

Namun sekarang, aku bahkan tidak peduli pada Boni, apalagi semua perempuan di sekitarnya?

"Ayo cepat jalan, sudah malam."

Perjalanan ke rumah sakit hanya membutuhkan satu kilometer lurus setelah putar balik. Namun, tiba-tiba telepon Boni berdering. Saat dia mengangkatnya, bibirnya melengkung tersenyum.

Aku mendengar suara Sofie lagi. Dia sedang bermanja, meminta Boni mengajarinya menyetir mobil Mercedes dengan satu tangan.

"Sofie butuh bantuan darurat, aku akan menurunkanmu di sini, ya. Hanya perlu menyeberang saja dan jalan lima puluh meter."

Boni bahkan enggan putar balik. Dia tidak sabar ingin bertemu Sofie.

Aku menatapnya dengan datar dan berkata, "Aku nggak bisa jalan."

Ekspresinya langsung berubah dingin.

"Bisa nggak jangan begitu manja? Kakimu hanya luka, bukan cacat!"

Boni membuka pintu penumpang, memaksaku turun dari mobil dan menyuruhku meneleponnya setelah mengganti perban.

Mobil melaju kencang, percikan air kotor mengenai lukaku.

Hujan mulai turun, aku yang basah kuyup merasakan mataku mulai berkaca-kaca.

Perjalanan lima puluh meter ... aku bahkan sudah berkeringat dingin hanya dengan berjalan beberapa langkah. Tiba-tiba, perutku terasa sakit luar biasa. Aku pun terjatuh di tengah zebra cross.

Banyak mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Kalau bukan karena petugas keamanan rumah sakit yang baik hati, aku mungkin sudah tertabrak.

Dengan susah payah, aku kembali ke rumah. Saat sedang berbaring, tiba-tiba Boni masuk dengan penuh amarah.

"Bukannya sudah kubilang, langsung hubungi aku setelah ganti perban! Aku menunggu satu jam di depan rumah sakit, tapi ponselmu malah mati!"

Aku menatapnya kosong.

Bab 2

Aku menghabiskan dua jam untuk infus di rumah sakit, tapi saat keluar, aku tidak menemukan mobil Boni di mana pun.

Aku merasa sangat tidak nyaman, hingga akhirnya terpaksa memesan taksi untuk pulang.

Padahal ponselku baru saja mati dua menit yang lalu.

Dengan kata lain, Boni sama sekali tidak datang menjemputku.

Padahal ... dia selalu perhatian padaku dulu. Sejak kapan sikap hangatnya berubah menjadi dingin seperti ini?

"Karena kamu memblokirku, jadi aku nggak bisa menghubungimu."

Boni sempat terdiam, sedikit terkejut. Wajah marahnya pun sedikit melunak.

"Aku tahu kamu pasti lapar, jadi aku bawakan bubur ayam dan telur pitan untukmu."

Aku menatap bubur itu.

Hanya ada taburan daun bawang di atasnya, tidak terlihat sedikitpun telur pitan dan potongan daging. Bubur itu lebih mirip sisa makanan orang lain.

Setengah jam sebelumnya, aku sempat melihat unggahan Sofie di instagram.

Foto itu menunjukkan Boni sedang memasak bubur di dapur, dengan tulisan,

"Siapa bilang nggak ada pria baik di dunia ini? Dia nggak hanya mengajariku menyetir mobil Mercedes dengan satu tangan, tapi juga memasak bubur untukku saat aku lapar. Hm, harum sekali~"

Aku mengaduk bubur itu dengan sendok sambi tersenyum pahit, tapi yang kurasakan hanya mual.

"Buang saja, aku nggak mau makan."

Raut wajah Boni langsung memuram. Dia menatapku tajam dan berkata,

"Kamu kenapa lagi? Aku sudah repot-repot membawakannya dan kamu malah mau buang begitu saja?"

"Kamu marah karena aku memindahkan kepemilikan rumah ke nama Sofie, 'kan? Aku tahu kamu kesal, tapi aku juga nggak melarangmu untuk tinggal di rumah itu."

"Anaknya butuh rumah untuk urusan administrasi sekolah. Dia hanya mengunggah foto untuk berterima kasih, tapi kamu malah komentar dengan sindiran seperti itu, aku bahkan belum mempermasalahkannya padamu soal itu."

Baru saja keguguran dan kaki yang kembali terluka, aku merasa sangat lelah.

Aku menjawab, "Kamu salah paham, aku hanya bingung kenapa sertifikat yang dia unggah itu tertuliskan alamat rumah kita ... "

Boni langsung memotongku dengan nada kesal,

"Salah paham? Ternyata benar yang Sofie bilang, kamu memang orang seperti ini!"

"Kamu memang suka marah nggak jelas, nggak punya toleransi dan rasa simpati. Setiap aku dekat dengan perempuan lain, kamu langsung curiga! Menurutku, masalahnya ada di dirimu!"

Dulu, aku akan mencoba membela diri, berharap dia bisa mengertiku.

Sekarang, aku hanya menatapnya dingin.

Setelah Boni selesai memarahiku dengan nada tinggi, barulah aku berkata pelan,

"Sudah selesai? Tolong matikan lampunya sebelum keluar."

Dia menatapku dengan ekspresi marah, lalu membanting pintu dan pergi, lampu masih dibiarkan menyala.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu yang dibanting dari ruang tamu.

Dulu, aku selalu sulit tidur semalaman setiap kali bertengkar dengannya dan dia pergi ke rumah Sofie.

Namun, aku tidur nyenyak sendirian malam ini.

Keesokan paginya, aku meminta rekomendasi teman untuk menghubungi seorang pengacara dan mulai berkonsultasi tentang perceraian.

Setelah membanting pintu waktu itu, Boni tidak pulang selama tiga hari.

Aku melihat fotonya lagi di unggahan seorang temannya, Christian.

Mereka sedang liburan bersama. Dalam foto itu, Sofie berdiri di samping Boni, mereka mengenakan baju pasangan. Wajah Sofie juga tampak sangat bahagia.

Aku pun memberikan tombol suka pada unggahan itu.

Boni langsung meneleponku.

"Aku akan menjemputku ke pantai nanti. Aku mau mengenalkan kamu ke teman-temanku."

Setelah berhenti sejenak, dia menambahkan,

"Sejujurnya aku nggak mau mengajakmu, Tapi, anggap saja ini hadiah untukmu, karena sudah berperilaku cukup baik belakangan ini."

"Iya."

Rencana perceraian sudah berjalan, aku tidak ingin dia tahu.

Sesuai janji, Boni menjemputku. Anehnya, kali ini Sofie tidak muncul.

Begitu tiba di pantai, Christian menghampiriku dan menyapa ramah,

"Aku yang mengadakan acaranya waktu itu, maaf nggak memberitahumu sebelumnya. Aku akan minum tiga gelas sebagai permintaan maaf."

Christian mencoba menjaga harga diriku di depan orang-orang.

Aku tersenyum tipis dan menjawab,

"Aku sibuk di kantor akhir-akhir ini, jadi juga nggak ada waktu luang."

"Dengar-dengar kamu berhasil meyakinan beberapa staf terbaik untuk ekspansi ke Kota Yeras. Selamat, ya!"

Ujar Christian dengan nada memuji.

Aku menjawab dengan senyuman kecil,

"Hanya rencana, belum pasti berhasil."

Usai bicara, Boni berjalan cepat ke arahku. Dia menatapku dengan kesal dan bertanya,

"Kamu mau ke Yeras? Kenapa nggak kasih tahu aku? Aku sudah mengizinkanmu?"

Aku menoleh dan menatapnya dengan tenang.

Seketika, suasana menjadi menegang.

Saat Boni terus mengomel, Christian mencoba mencairkan suasana dengan mengajak kami untuk mulai memanggang daging.

Beberapa pria dengan cepat menyiapkan panggangan. Boni duduk di sampingku, wajahnya tampak sedikit gelisah.

"Aku sudah bicara dengan Sofie. Setelah anaknya lulus SD, kepemilikan rumah itu akan dipindahkan kembali lagi."

"Jadi, jangan marah lagi. Itu rumahku, sebenarnya aku nggak wajib menjelaskannya padamu."

"Oh."

Aku mengangguk dengan tenang.

Tak lama kemudian, sosok yang familiar muncul dari kejauhan. Senyumanku langsung memudar.

Seseorang yang tak kukenal, tetapi sepertinya dekat dengan Boni dan Christian. Dia berdiri dan melambaikan tangan dengan semangat ke arah Sofie.

"Kakak ipar! Kakak ipar! Boni di sini, cepat ke sini!"

Dalam sekejap, suasana di sekitar kami langsung hening. Semua orang seperti menarik napas panjang.

Bab 3

Christian menendang pemuda tadi sambil memarahinya karena tidak peka dengan situasi.

"Aku ke kamar mandi sebentar."

Aku berdiri perlahan, memilih untuk tidak marah di depan semua orang. Aku hanya ingin menjaga harga diri kami berdua.

Boni melirikku sebentar, lalu menoleh ke Sofie. Pada akhirnya, dia juga tidak mengejarku.

Saat aku kembali, semua orang sudah selesai makan dan duduk di tepi pantai.

Sofie duduk di samping Boni, posisi keduanya sangat dekat. Aku memilih tempat di sudut lain untuk duduk.

Christian mencoba mencairkan suasana.

"Baiklah, karena sudah lengkap semua, ayo waktunya main game! Kita main jujur atau tantangan!"

Putaran pertama, Boni menang sementara Sofie kalah.

Sofie memilih jujur dan Boni memberi pertanyaan yang mudah. "Apa hal yang paling membuatmu bahagia belakangan ini?"

Sofie mengedipkan mata sambil menatap Boni dengan penuh makna.

Lalu menjawab, "Aku bertemu dengan seorang pria yang luar biasa. Hanya dalam waktu sehari, aku langsung punya rumah dan mobil. Oh iya, dia juga mengajariku menyetir Mercedes dengan satu tangan."

Usai bicara, Sofie melirikku dengan ekspresi puas dan penuh ejekan.

Semua orang tahu bagaimana Sofie mendapatkan rumah dan mobil itu, tapi biasanya mereka memilih untuk berpura-pura tidak tahu.

Namun, Sofie malah membahas topik ini di depan semuanya.

Suasana menjadi canggung, bahkan Christian tampak salah tingkah.

Melihat aku tetap diam tanpa reaksi, Christian berusaha mencairkan suasana lagi.

"Sudah sudah, lanjut ke putaran kedua! Nah, sekarang giliran si cantik, Sherlyn!"

Giliranku tiba dan kali ini Sofie mendapat kesempatan untuk menghukumku.

"Aku pilih jujur," kataku datar.

Sofie membawa segelas alkohol dan mendekatiku.

"Sherlyn, kita main yang lebih seru, bagaimana kalau tantangan saja?"

Aku mengerutkan kening, firasat buruk langsung muncul.

"Aku pilih jujur."

"Tantangan saja, aku nggak akan menyulitkanmu. Kata Boni kamu itu atlet renang, bagaimana kalau kamu berenang satu putaran di depan kita semua?"

Dia menatap perutku dengan pandangan penuh arti.

Dengan suara rendah, aku menjawab tegas,

"Aku lagi nggak enak badan, nggak bisa berenang."

Dengan wajah memelas, Sofie menoleh ke Boni yang langsung menunjukkan ekspresi kesal.

"Bukannya kamu jago renang, ini hal yang paling kamu kuasai, kenapa malah bilang nggak bisa?"

"Lagipula, Sofie sudah minta maaf waktu itu, sekarang juga mencoba berhubungan baik denganmu. Apa salahnya kamu berenang sebentar?"

Tanpa peduli dengan penolakanku, Boni dan Sofie memaksaku berdiri, mendorongku menuju ke tepi pantai.

Sofie bahkan melepas jaketku. Dia sengaja menegukkan segelas alkohol di tangannya dan berkata,

"Sherlyn, aku sudah meneguk habis untukmu, sekarang giliranmu."

Dia membuat suasana seolah-olah aku yang salah. Akhirnya, kesabaranku pun habis.

"Sudah kubilang, aku nggak mau berenang. Aku bahkan nggak memaksamu untuk minum, itu bukan urusanku. Dan kenapa aku nggak boleh memilih jujur?"

Sofie mulai cemberut dan berpura-pura menangis, matanya mulai berkaca-kaca. Boni menatapku dengan marah.

Tiba-tiba, dia melempar botol alkohol ke pasir dan berteriak,

"Kenapa kamu sombong sekali? Hanya berenang saja? Sofie bahkan sudah mengalah dengan minum segelas tadi, kenapa kamu masih nggak tahu diri?"

Aku menatap Boni yang tampak seperti pahlawan kesiangan, lalu menoleh ke Sofie yang mulai terisak.

Aku tertawa sinis, "Aku nggak menyuruhnya minum dan aku sudah bilang nggak mau berenang. Bukankah ini jelas pemaksaan?"

Jawabanku membuat tangisan Sofie makin keras.

Dengan wajah muram, Boni menghentakkan kakinya.

"Nggak mau renang? Baiklah, aku akan berenang bersamamu!"

Dalam tatapan kaget semua orang, tiba-tiba Boni menjambak rambutku dan memaksaku masuk ke air pantai.

Rasa dingin langsung merayap ke kulitku, membuat seluruh tubuhku menggigil. Detik berikutnya, air pantai masuk ke hidungku, membuatku batuk dan tersedak hebat.

Boni tetap tidak melepaskanku. Aku meronta dengan sekuat tenaga, mataku menjadi merah dan napasku tercekat.

Saat napasku terasa sesak, aku berusaha mendorong tubuh Boni, hingga akhirnya dia melepaskanku.

Sialnya, ombak besar datang menghantamku. Aku mencoba meraih celana Boni, tapi dia malah menendangku dengan keras.

Tubuhku terbawa arus, tenggelam dalam dinginnya air pantai.

Entah berapa lama, dengan sisa tenaga terakhir, aku berhasil berenang ke tepi pantai. Aku terengah-engah menghirup udara segar.

Dari kejauhan, aku melihat Boni merangkul Sofie dengan lembut. Tak lupa menenangkannya,

"Jangan menangis lagi, aku sudah menghukumnya."

"Dia memang pantas mendapatkannya, aku akan menghukumnya lagi nanti."

Setelah itu, Boni berjalan ke arahku. Dia menatapku dari atas sambil berkata,

"Minta maaf dengan Sofie! Lalu minum segelas alkohol untuk menghukum dirimu sendiri! Kalau nggak, kita ... "

Di bawah tatapan terkejut semua orang dan tatapan Boni yang penuh tekanan, aku memotongnya dengan mata berkaca-kaca,

"Boni, tunggu surat dari pengacaraku, kita cerai!"

Ucapan itu membuat Boni terdiam. Ekspresi tidak percayanya begitu jelas.

Dengan tubuh yang lemah, aku berjalan menjauh. Saat sampai di jalan raya, pandanganku menjadi gelap dan aku pun pingsan.

Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, samar-samar aku mendengar suara panik di sekitarku,

"Ada yang pingsan!"

"Cepat panggil ambulans! Astaga, dia berdarah! Darahnya banyak sekali!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B36071" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B36071
Salin

Hanya Karena Sebuah Rumah

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya