Bab 2
Ayah tiri memperhatikanku dengan saksama, lalu tangannya menekan pelan payudaraku.
"Sini terlalu ketat, Ayah bantu tekan sedikit ya biar pas."
Dia berbisik pelan sementara jemarinya mulai menjelajahi bagian sensitifku. Aku mendesah lirih, tak mampu menahan getaran yang merambat ke seluruh tubuh.
"Ah ... Ayah, pelan-pelan. Geli banget ...."
Aku memohon dengan suara kecil, tapi ayah tiri seolah tidak mendengar. Remasan tangannya justru terasa makin bertenaga. Aku hanya bisa pasrah dalam kuasanya, sambil diam-diam menikmati sensasi rangsangan yang memabukkan itu.
"Oh, Sayang, geli ya? Biar Ayah bantu usap sampai enak."
Suara ayah tiri terdengar berat dan menggoda. Tangannya pun mulai merosot turun, beralih dari dadaku menuju ujung bawah gaun.
Gaun itu memang sangat pendek, bahkan nyaris tidak menutupi paha. Terlebih lagi, sisa jejak yang kutinggalkan saat memuaskan diri tadi masih terlihat jelas. Alhasil, area yang basah itu kini terekspos tanpa penghalang.
Aku meremas sprei dengan tegang, takut setengah mati jika dia menyadarinya.
Dia menyadari kegugupanku, lalu akhirnya perlahan melepaskan tangannya.
Dia menghirup napas dalam-dalam ke arahku, seolah sedang menikmati aroma tubuhku. Akhirnya, dia menarik tangannya menjauh, membuatku bisa bernapas lega.
"Chika, pas malam Natal nanti, pakai gaun kamu yang paling cantik ya. Kita rayakan ulang tahunmu sama Ayah. Ayah bakal kasih hadiah yang spesial buat kamu."
Sorot mata ayah tiriku tampak penuh dengan harap.
Aku berusaha keras menenangkan gejolak di dalam batin dan mengangguk pelan. Meski rasanya ingin sekali menghambur ke pelukannya, aku tahu aku harus menahan diri.
Ayah tiri terlihat sangat puas mendengar jawabanku. Dia menepuk bokongku yang polos. Sentuhan tangan besarnya itu seketika mengirimkan sensasi kesemutan yang nikmat ke seluruh tubuh.
Begitu dia keluar dari kamar, aku langsung terkulai lemas di atas ranjang. Jemariku tanpa sadar masuk ke dalam mulut, masih merasakan sisa gairah dari kejadian tadi.
Tubuhku gemetar hebat. Aku menjepit sprei kuat-kuat dengan kedua kaki sambil berguling ke sana kemari. Rasanya aku hampir tenggelam dalam hasrat, apalagi bayangan tubuh tegap dan otot-otot ayah tiriku terus terngiang di dalam kepala.
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, memaksa diriku untuk kembali sadar.
Bagaimana bisa aku punya pikiran seperti itu pada ayah tiriku sendiri? Benar-benar tidak sopan!
Selama dua hari berikutnya, aku berusaha sebisa mungkin untuk menghindari pertemuan dengan ayah tiri.
Sentuhan malam itu terasa begitu memalukan. Namun, yang lebih penting, aku tidak bisa mengendalikan hasrat yang meluap setiap kali melihatnya.
Malam Natal pun tiba. Teringat akan janjiku pada ayah tiri, aku menggigit bibir dan mengenakan gaun merah pendek itu.
"Gaun ini benar-benar menggoda ya," gumamku sambil mengagumi diri sendiri di depan cermin.
Sejak kecil aku tidak punya ibu, hanya ayah tiriku yang merawatku hingga dewasa. Bagiku, dia sudah seperti ayah kandung sendiri.
Aku berdandan dengan sangat teliti. Demi membuat gaun ketat ini terlihat makin seksi, aku bahkan tidak memakai penutup puting dan hanya mengenakan thong.
Begitu aku melangkah keluar dari kamar, dia sudah menyiapkan makan malam mewah dan beberapa botol bir.
Saat melihatku, ayah tiri langsung menarikku ke dalam pelukannya dengan hangat. Lengan kokohnya memancarkan aroma hormon pria yang kuat, membuat jantungku berdegup kencang.
"Chika, hari ini akhirnya sudah dewasa. Kamu sudah boleh temani Ayah minum alkohol."
Sambil berkata begitu, dia menuntunku duduk di meja makan. Tangan besarnya menepuk bokongku, memancing desahan kecil dari bibirku sementara pipiku mulai merona merah.
Aku duduk di meja makan, beradu pandang dengan mata ayah tiriku yang berkilat panas. Sorot matanya seolah sedang menelanjangi dan menyapu setiap jengkal kulitku.
"Sayang, kenapa pakai thong segala? Kalau nggak nyaman, lepas saja."
Wajahku memerah, lalu aku menjawab dengan suara lirih, "'Kan Ayah yang mau lihat, aku ... aku selalu nurut sama Ayah."
Ayah terkekeh pelan dan menarik tubuhku mendekat.
Seketika, aku terkepung oleh aroma maskulin yang begitu pekat. Sepasang tangan yang hangat mencengkeram kakiku, lalu dia mengangkat dan mendudukkanku di atas pangkuannya.
Bab 3
"Ingat nggak dulu waktu kecil? Ayah sering gendong kamu sambil makan begini. Hari ini kamu duduk di pangkuan Ayah saja, seperti dulu lagi, ya?
Aku duduk menyamping di atas paha tegapnya, membuat dadaku berada tepat di depan wajahnya, sementara area di antara kedua kakiku menempel pada gairahnya yang mulai bangkit.
Sambil bicara, ayah mengambil gelas dan mulai menyuapiku minum perlahan-lahan.
Aroma alkohol itu menyengat indra penciumanku. Begitu seteguk cairan panas itu melewati kerongkongan, sisanya mengalir dari leher hingga ke dadaku. Aku pun bergidik dibuatnya.
"Sudah besar kok minumnya masih berantakan begini? Nggak apa-apa, biar Ayah yang bersihkan."
Ayah pun mendekat. Dia menempelkan wajahnya di tulang selangkanganku, lalu dengan teliti menjilat tetesan minuman yang mengalir di sana. Sensasi geli yang menjalar membuat seluruh tubuhku gemetar.
Gerakannya terasa lembut. Namun, aku bisa merasakan kekuatan otot tubuhnya yang seolah ingin memaksa kedua kakiku terbuka.
"Aduh ... Ayah, pelan-pelan. Aku ada janji kencan nanti, nggak boleh minum terlalu banyak."
Aku menggeliatkan pinggangku yang ramping, mencoba melepaskan diri dari dekapan hangatnya. Namun, gerakanku justru membuat tubuh kami semakin menempel rapat. Aku hanya berharap bisa mengendalikan hasrat ini, tapi sensasi ini benar-benar terlalu nikmat.
Kemudian, begitu mendengar perkataanku, ayah langsung mengerutkan kening. Kilatan kesal tampak melintas di matanya.
Satu tangannya merangkul pinggangku, sementara tangan yang lain langsung meremas dadaku, memelintir ujungnya yang menegang seolah sedang mengancam.
"Sudah selarut ini masih ada janji kencan? Mau ketemu cowok mana, ha?" Suaranya merendah, menyisipkan nada amarah yang samar.
Aku mulai panik dan menjawab dengan terbata-bata, "Ngg ... nggak ada ...."
"Kamu masih ingat 'kan pesan Ayah? Sebelum Ayah kasih pelajaran biologi, kamu nggak boleh biarkan laki-laki mana pun menyentuhmu. Chika sudah nggak mau nurut lagi sama Ayah?"
Jemari ayahku mulai menjelajahi bagian sensitifku, membuatku hampir tak kuasa menahan desahan.
Wajahku memerah padam seperti apel. Aku mengatupkan rahang rapat-rapat, berusaha sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Namun, dia seolah tidak puas dengan sikap diam dan usahaku untuk bertahan. Sambil terus mempermainkan dadaku, dia mulai merenggangkan kedua kakiku dengan lembut.
Rasanya tubuhku seperti sedang dipanggang di atas tungku api. Akhirnya aku tidak tahan lagi dan mendesah manja.
"Ah ... Yah ... mhh ... aku salah .... Aku selalu tunggu Ayah buat ajarkan ... haah ... hal-hal itu. Makanya aku ... mhh ... belum pernah disentuh siapa pun ...."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku sendiri terkejut mendengarnya dan langsung menutup mulut dengan tangan.
Di bawah belaian ayahku yang bertubi-tubi, aku akhirnya benar-benar kehilangan kendali. Aku memekik pasrah sementara tubuhku mendadak lemas tak bertulang. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata saat aku menatap tubuhku sendiri yang kini pasrah dalam perlakuan memalukan ini.
Kilat penuh arti melintas di mata ayah saat mendengar eranganku. Suaranya terdengar serak dan berat, penuh dengan nada bujuk rayu yang menyesatkan.
"Chika, hari ini kamu sudah dewasa. Gimana kalau Ayah kasih pelajaran biologi sekarang?"
Bibirnya mendarat di tulang selangkanganku, sementara ujung lidahnya menyapu permukaan kulitku. Dia lalu mengulum putingku yang menegang di balik kain baju, sedangkan tangan lainnya mulai mengusap area bawahku dari balik celana dalam yang sudah basah kuyup tak karuan.
Aku mendongak dengan pandangan kabur. Sensasi nikmat yang merambat serentak dari dada dan bagian bawah tubuhku seketika melumpuhkan logikaku untuk sejenak.
Ponsel yang tergeletak tak jauh dariku tampak bergetar, mungkin itu pesan dari pacarku yang menanyakan keberadaanku.
Tanganku yang sempat terangkat kini terkulai lemas, sebelum akhirnya aku justru menekan kepala ayah tiriku yang sedang asyik menjilati dadaku. Aku membiarkannya melepaskan celana dalamku, hingga jemarinya amblas masuk ke dalam lubang bawahku yang sudah basah.