Bab 1

Seorang klien menyiramku dengan air dan memakiku. Namun, saat aku menahan makian itu, Michael malah memeluk asistennya dan menatapku sambil berkata dengan dingin, “Jocelyn, kamu bahkan nggak becus untuk tangani hal sepele ini. Perusahaan ini nggak butuh karyawan sepertimu!”

Aku menyeka air dari wajahku, lalu mengambil segelas alkohol dan menghabiskannya. Setelah itu, aku mengisinya kembali dan langsung menyiramnya ke wajah Michael.

Siapa yang sudi kerja di perusahaan ini? Aku berhenti!

Perutku terasa berdenyut. Baru saja aku pulang ke rumah dari rumah sakit, Michael Kusnadi langsung mencengkeram pergelangan tanganku.

“Sudah hebat kamu, ya! Kamu tahu apa yang dikatakan Pak Jancent padaku? Dia bilang aku terlalu memanjakanmu! Jocelyn, kamu yang kacaukan kerja sama ini. Cepat pergi minta maaf sama Pak Jancent!”

Aku menepis tangannya dan menjawab dengan acuh tak acuh, “Nggak! Aku nggak perlu ladeni klien yang nggak tahu cara menghormati orang! Kalau perusahaan ngotot mau kerja sama dengan klien seperti itu, aku akan undurkan diri.”

Ucapanku membuat Michael tidak senang. Dia menatapku, seolah-olah tidak menyangka aku akan mengatakan hal seperti itu.

Aku berjalan ke depan meja kopi, lalu membuka kemasan obat yang diberikan dokter dan meminumnya. Kemudian, aku mendongak untuk menatap Michael. Namun, dia hanya memperhatikan ponsel. Entah apa yang sedang dilihatnya, dia juga tersenyum.

“Masih ada urusan di kantor. Aku keluar dulu.”

“Oke.”

Ketenanganku membuatnya merasa agak terkejut. Namun, dia tetap berbalik dan pergi. Sebelum pergi, dia berkata, “Sebaiknya kamu cari kesempatan untuk jelaskan pada Pak Jancent.”

Setelah itu, dia langsung pergi. Aku juga tidak peduli padanya. Aku membuka laptop, lalu mulai membalas sebuah e-mail.

[ Pak Randy, aku putuskan untuk bergabung dengan perusahaan yang pernah kamu sebutkan sebelumnya. ]

Setengah tahun lalu, Profesor Randy pernah mencariku dan menyuruhku untuk ganti pekerjaan. Saat mengetahui aku bekerja di perusahaan Michael sebagai agen pemasaran, dia merasa sangat sedih.

“Jocelyn, kamu nggak seharusnya sia-siakan studimu. Perusahaan Michael terlalu berisiko, kamu harus undurkan diri secepat mungkin.”

Aku tahu niat baik Profesor Randy. Hanya saja, waktu itu aku teramat sangat mencintai Michael. Setelah bersama 4 tahun selama kuliah dan 4 tahun lagi sampai sekarang, aku merasa kami dapat berbaur dengan sangat baik.

Namun, Michael malah mulai sering keluar rumah. Dia memiliki selingkuhan. Sekretaris muda bernama Yanisa itu adalah selingkuhan barunya.

Aku pun tertawa mengejek. Saat ini, Michael sudah tidak tertarik padaku. Dia tahu jelas lambungku bermasalah, tetapi tetap menyuruhku minum alkohol. Aku sudah tidak ingin melanjutkan hubungan ini lagi.

Aku mempersiapkan surat pengunduran diri dan berencana untuk langsung memberikannya kepada atasanku serta departemen SDM.

Tepat pada saat ini, layar ponselku tiba-tiba menyala. Itu adalah notifikasi Yanisa memosting selembar foto di media sosialnya. Itu adalah foto punggung Michael. Dia juga menambahkan sebaris keterangan.

[ Aku cuma bilang pengen makan enak, dia langsung masak untukku. ]

Di hari kami baru mulai berpacaran, aku juga memasakkan semeja penuh makanan enak. Michael memujiku jago masak dan juga berkemampuan dalam pekerjaan. Pada saat aku sakit, dia juga hanya memesan makanan dari luar. Aku pun mengira dia tidak bisa memasak. Ternyata, dia bisa. Hanya saja, dia tidak ingin memasak untukku.

Aku pun tertawa, lalu menyukai postingan tersebut dan membubuhkan komentar.

[ Langgeng terus! ]

Tidak lama kemudian, Michael meneleponku.

“Jocelyn, apa-apaan kamu? Aku dan Yanisa cuma rekan kerja dan teman biasa. Kamu nggak pikirkan posisinya waktu berkata begitu? Cepat datang untuk minta maaf! Sekalian bawakan iga asam manis!”

Apa aku tidak salah dengar? Dia menyuruhku memasak? Aku hanya terkekeh, lalu menjawab, “Michael, dengar baik-baik, kita putus!”

Kemudian, aku terlebih dahulu memutuskan sambungan telepon. Saat ini, aku merasa sangat nyaman dan rileks. Berhubung Michael tidak menghargai hubungan kami selama 8 tahun ini, aku juga hanya bisa menghentikan semuanya tepat waktu.

Mungkin karena merasa tidak puas terhadap sikapku, Michael pun pulang tepat pada saat aku berjalan keluar dengan koperku. Begitu melihatku, dia langsung murka.

“Jocelyn, bisa nggak kamu berhenti buat onar!”

Aku menatapnya, lalu berkata, “Kebetulan kamu pulang. Nih, kuncinya. Hubungan kita sudah berakhir.”

Dia pun mencibir, “Mau main tarik-ulur? Kali ini, kamu mau main berapa lama? Tiga hari? Lima hari? Jocelyn, jangan pakai cara yang sama terus. Sebaiknya kamu ganti cara baru!”

Michael mengira aku hanya marah sesaat dan mengancamnya dengan berpisah. Bagaimanapun juga, aku memang sudah melakukan banyak tindakan bodoh sebelumnya.

Bab 2

Michael melipat tangannya di dada, lalu berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau mau pergi, pergi saja. Kalau sudah pergi, aku nggak akan kasih kamu kesempatan lagi.”

Aku menarik napas dalam-dalam dan menjawab, “Nggak usah. Michael, sudah 8 tahun. Aku capek. Sudah saatnya aku akhiri perasaan ini.”

Aku menaruh kunci rumah ke tangannya, lalu langsung pergi tanpa berbalik lagi.

Michael berteriak dari belakang dengan sombong, “Jocelyn, jangan nyesal kamu!”

Lelucon macam apa itu? Aku tidak pernah melakukan hal yang kusesali. Satu-satunya kesalahanku hanyalah menjalin hubungan dengannya selama 8 tahun. Aku benar-benar lelah selama 8 tahun ini. Setelah memutuskan untuk berpisah sekarang, aku juga tidak menyesal.

Aku mencari sebuah hotel dan mengambil sebuah kamar di sana. Saat senggang, berbagai macam pikiran akan memenuhi benakku. Aku pun menyelesaikan semua pekerjaanku, juga mengajukan pengunduran diriku ke perusahaan.

Begitu mengetahui aku ingin mengundurkan diri, penanggung jawab departemen SDM mengirim pesan padaku.

[ Kak Jocelyn, ada apa? Kok kamu tiba-tiba undurkan diri? Apa karena Yanisa? Tahu nggak, wanita itu benar-benar keterlaluan! Mentang-mentang punya hubungan baik sama Pak Michael, dia suka menindas kami. Beberapa proyek kami juga direbutnya! Kak Jocelyn, kalau kamu pergi, gimana dengan perusahaan? ]

Lihat saja, bahkan karyawan departemen SDM juga dapat melihat Yanisa sangat berbeda dari orang normal. Namun, memangnya kenapa meskipun karyawan perusahaan mengeluh? Mereka tetap harus menuruti kata-kata Yanisa.

Michael yang ingin merusak kariernya sendiri, tetapi aku tidak. Jadi, aku hanya membalas.

[ Ini semua pilihan Michael sendiri. Kamu jalankan saja prosedurnya seperti biasa. ]

Dia seketika mengerti bahwa aku dan Michael sudah sepenuhnya berpisah dan mau tak mau merasa agak panik.

Di dalam perusahaan, jika Michael itu bosnya, aku ini penasihat yang selalu berada di sisi Bos. Ada banyak pesanan perusahaan yang kutangani dan berhasil kudapatkan. Keahlian dan kepekaanku dalam pasar jauh lebih baik daripada Michael. Kami berdua memainkan peran yang berbeda dan saling melengkapi.

Awalnya, Michael mengatakan aku adalah tangan kanannya. Dengan adanya aku, perusahaan baru bisa makin sukses. Namun, entah sejak kapan, dia merasa semua ini adalah sesuatu yang seharusnya didapatkannya.

“Semua keberhasilanku saat ini kudapatkan berkat usahaku sendiri. Jocelyn, jangan kira karena sudah lama di sisiku, kamu juga berjasa. Perusahaan tetap bisa berjalan tanpamu!”

Dalam pertengkaran terakhir kami, Michael berkata begitu. Aku juga sudah melihat jelas semuanya. Berhubung aku bukan siapa-siapa, lebih baik aku berhenti bekerja dan biarkan dia sendiri menangani semuanya.

Keesokan harinya, aku tetap pergi ke perusahaan. Berhubung sudah mengundurkan diri, aku perlu melakukan serah terima pekerjaan.

Saat aku tiba, Michael dan Yanisa menghampiriku bersama. Michael berkata dengan sombong, “Kamu sudah berikan surat pengunduran dirimu, ‘kan? Kalau begitu, serahkan semua pekerjaan yang lagi kamu tangani.”

Yanisa juga menatapku, lalu menimpali sambil tersenyum berseri-seri, “Kak Jocelyn, meja kerjamu sekarang sudah jadi milikku. Tolong bereskan barang-barangmu dan cepat pergi.”

Aku mengangguk dan menjawab, “Oke. Tapi, tolong serah-terima pekerjaan denganku dulu.”

Aku mencetak 3 salinan formulir serah terima, yang satu untuk perusahaan, yang satu untuk orang yang ambil alih pekerjaanku, dan yang satu lagi untuk aku sendiri.

Setelah menerimanya, Yanisa tersenyum padaku dan berkata, “Jangan lupa data klien juga, ya!”

“Itu semua ada di dalam komputer. Aku juga sudah serahkan daftar kliennya ke perusahaan dari awal.”

Ucapanku membuat Michael tertegun sejenak. Kemudian, dia bertanya dengan terkejut, “Jocelyn, kamu benar-benar mau undurkan diri? Kamu rela tinggalkan hasil jerih payahmu selama bertahun-tahun?”

Bab 3

Aku mengangguk, lalu menjawab, “Rela kok. Bukannya kamu sudah bilang? Perusahaan tetap akan berjalan tanpa aku. Berhubung begitu, aku juga mau tahu gimana Pak Michael membalikkan keadaan.”

Ekspresi Michael langsung terlihat sangat muram. Dia langsung melambaikan tangannya dan berkata, “Yanisa, awasi dia!”

Yanisa tentu saja sangat patuh. Aku memeriksa formulir serah terima dengan saksama sekali lagi. Setelah memastikan tidak ada yang salah dan menandatanganinya, aku mulai membereskan barang-barangku. Pada saat aku hendak pergi dengan membawa barang-barang pribadiku, Yanisa malah menghentikanku.

“Kak Jocelyn, maaf. Kami perlu periksa barangmu sekali supaya mencegah ada yang bocorkan rahasia perusahaan.”

Aku menatapnya, lalu mencibir, “Memangnya kamu itu siapa sampai berani periksa barangku? Istri bos?”

Yanisa langsung merasa sangat malu. Para rekan kerja juga melirik ke arah kami.

Tepat pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang yang berkata, “Maksudnya itu maksudku juga!”

Begitu melihat Michael, Yanisa seketika kegirangan. Dia menatapku dengan tatapan menantang, lalu melemparkan diri ke pelukan Michael dan berkata dengan sok sedih, “Pak Michael, untung kamu datang. Kalau nggak, aku sudah nggak layak lanjut kerja di perusahaan ini.”

“Nggak ada siapa pun yang lebih layak kerja di sini dari kamu!” Michael merangkul pinggang Yanisa, lalu menatapku dan berkata, “Jocelyn, keluarkan barang-barangmu untuk diperiksa!”

Aku melirik kotak di tanganku. Isinya hanya kalender, cangkir, handuk, dan sebagainya. Aku pun tertawa, lalu membuang kotak itu ke lantai. Suara yang barang yang jatuh ke lantai segera menarik perhatian semua orang.

“Lihat! Isinya cuma sampah! Aku nggak mau lagi!” kataku sambil menendang kotak itu. Kemudian, aku mengacungkan jari tengahku ke hadapan Michael dan melanjutkan, “Michael, ingat baik-baik penghinaan yang kamu berikan padaku hari ini!”

Seusai berbicara, aku langsung menekan tombol lift dan berjalan pergi. Sementara itu, sudut mulut Michael terlihat berkedut dan ekspresinya sangat suram.

Aku pergi mencari Profesor Randy. Sebagai penengah, dia langsung merekomendasikan aku kepada Christian Liandi dari Tekno Solutions setelah aku mengundurkan diri. Saat melihat wajah mereka yang mirip, aku pun tertegun.

Profesor Randy langsung tertawa dan berkata, “Christian itu putraku. Dia selalu suruh aku perkenalkan eksekutif berbakat kepadanya. Aku mana kenal sama eksekutif berbakat. Jadi, aku cuma bisa perkenalkan murid-muridku padanya. Aku sangat percaya padamu, tapi kamu nggak setuju-setuju. Kali ini, akhirnya tugasku selesai juga.”

Kemudian, Profesor Randy menepuk-nepuk bahu Christian dan melanjutkan, “Aku sudah perkenalkan orangnya padamu. Sisanya, kamu negosiasi sendiri.”

Christian menyuruhku untuk duduk, lalu berkata sambil tersenyum, “Aku sudah dengar dari Ayah dari dulu kalau kamu sangat berbakat di bidang ini. Sebelumnya, kamu juga yang dapatkan beberapa pesanan besar Start Tech.”

“Pak Christian, pujianmu terlalu berlebihan. Setiap perusahaan punya karakteristik sendiri. Mencari karakteristik ini dan kebutuhan klien, lalu buat proposal yang sesuai adalah tugas karyawan profesional.”

“Yang kamu katakan benar!” jawab Christian.

Ada secercah apresiasi yang melintasi matanya. Setelah melihatnya, aku tahu bahwa aku sudah menemukan tempat yang cocok denganku.

Sebenarnya, Christian memiliki reputasi yang sangat bagus di industri. Di awal Michael mendirikan perusahaannya, perusahaan Christian adalah pedomannya. Sayangnya, Michael tidak bisa mencapai tingkatan Christian.

Setelah makan, aku dan Christian mencapai kesepakatan. Kami pun menandatangani kontrak kerja dengan lancar.

Saat keluar dari restoran, kami kebetulan bertemu dengan Michael dan Yanisa. Yanisa sengaja membelalak dan berseru, “Yang benar saja! Kak Jocelyn, kamu kejar sampai kemari? Aku sudah tahu kamu nggak mungkin tinggalkan Pak Michael!”

Michael juga mengejek, “Jocelyn, kalau kamu lebih cepat tunduk padaku, mungkin aku akan maafkan kamu.”

Aku pun tertawa. Tak disangka, dia begitu tidak tahu malu sampai sekarang. Aku pun mencibir, “Memangnya kamu layak kukejar?”

“Apa katamu?”

Aku menjawab sambil tersenyum sinis, “Maksudku, kamu nggak layak. Aku juga bukan datang demi kamu, melainkan orang lain!”

“Siapa? Jocelyn, cepat juga kamu pindah hati. Tapi, siapa di industri ini yang nggak tahu kamu itu wanitaku? Memangnya ada orang yang mau terima wanita yang sudah pernah kutiduri?”

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B27997" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B27997
Salin

Habis Manis Sepah Dibuang

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya