Bab 2

Aku sangat berhasrat pada laki-laki sejak aku masih kecil.

Keluargaku tidak mengizinkanku untuk berpacaran terlalu dini.

Namun semakin dikekang, semakin besar pula keinginanku.

Aku sering mencari foto telanjang laki-laki dan menonton film porno.

Melihat wanita di dalam film berteriak kegirangan sambil melilitkan kakinya erat-erat di punggung laki-laki, lalu sekujur tubuhnya bergemetar dan dengan erat memegang seprai putih dengan tangannya, memutar matanya karena nyaman, tanpa sadar aku akan menjepit kedua kakiku dan membayangkan diriku sebagai pemeran utama wanita, diperlakukan kasar.

Lalu setelah tubuhku terangsang, aku memasuki kehampaan.

Saat menuruti keinginan orang tuaku dan menikah, aku begitu gembira sampai tidak bisa tidur.

Membayangkan kehidupan masa depan sebagai pasangan suami istri.

Namun kenyataan menamparku.

Aku begitu putus asa, sampai-sampai aku bertanya-tanya apakah aku akan tetap jadi perawan saat meninggal?

Tetapi aku sudah menikah, jadi tidak mungkin aku bisa cari laki-laki lain.

Setiap hari ketika hasrat melonjak, terjadi tabrakan hebat antara fisiologi dan rasionalitas, moralitas dan hasrat.

Aku ingin menikmati kenikmatan bercinta sepenuhnya, tetapi aku juga terikat oleh kesetiaan dan tanggung jawab pernikahan.

Bahkan ketika melihat murid laki-laki yang ceria dan kuat di universitas, aku juga secara tidak sadar akan melihat lebih lama, sebenarnya aku baru saja lulus kuliah dan hanya dua tiga tahun lebih tua daripada para mahasiswa tersebut.

Ketika aku masturbasi di malam hari, aku membayangkan diriku didorong di atas meja dan disetubuhi dengan keras oleh mereka.

Terutama saat pertama kali aku melihat Johan.

Tampan dan dingin, dengan sedikit aroma melati di sekujur tubuhnya.

Beberapa malam terakhir ini aku tertidur sambil membayangkan rupanya.

Terkadang setelah aku melampiaskan hasratku, aku merasa menyesal dan malu atas perbuatanku sendiri.

Tetapi aku hanya memuaskan hasratku sendiri dan tidak menyakiti siapa pun.

Terlebih lagi, suamiku yang lebih dulu meninggalkanku...

Tetapi aku tidak pernah menyangka kalau murid yang selama ini aku bayangkan ternyata adalah tetangga depan rumahku.

Ditambah lagi bertemu dengannya ketika aku baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaian dalam seksi...

Rasa bersalah, panik, malu dan emosi lainnya bercampur aduk dalam sekejap...

“Kamu... Apa yang kamu lakukan?”

Johan menggenggam pergelangan tanganku dengan erat hingga aku menjerit kesakitan.

Tapi dia malah tersenyum dan berkata dengan gembira.

“Bu Guru pakai baju gini pasti susah buang sampah, 'kan? Aku bantu buang saja.”

Aku begitu gugup sampai dadaku bergetar.

Tapi tatapan matanya tidak pernah lepas dariku!

Hanya saja, apa maksud dari perasaan menantikan dariku yang tidak dapat dijelaskan ini.

Aku dapat merasakan tubuhku perlahan memanas dan pipiku memerah.

Aku menelan ludah dan berkata, “Maaf merepotkanmu.”

Tapi tidak disangka, suaraku yang keluar malah terdengar begitu genit.

Tubuh Johan bergetar dan dia mencengkeram pergelangan tanganku lebih erat.

Seolah-olah dia ingin menyatukan diriku dengan tubuhnya.

Pemikiran yang berani ini, entah bagaimana, membuat setiap sel di tubuhku lebih bersemangat.

Jantungku berdebar kencang.

Aku harus menutup pintu dan segera pulang, aku hampir tidak dapat menahan hasrat yang bergejolak dalam hatiku.

Bab 3

Tetapi Johan tidak bermaksud membiarkanku pergi.

Dia melangkah maju, sementara aku melangkah mundur.

Pintunya pun tertutup secara tidak sengaja, aku menoleh saat mendengar suara itu, tetapi aku malah ditekan ke arah pintu oleh Johan.

Dia mengangkat daguku dengan tangannya dan memaksaku untuk menatap matanya.

Aku pernah dengar dia pandai menarik hati wanita, ternyata itu benar.

Beberapa gerakan ini membuat pikiranku kosong.

Pada saat ini, aku benar-benar lupa dia adalah seorang murid dan aku adalah seorang guru, aku hanya bisa mendengar suara jantungku sendiri yang berdetak kencang.

“Bu Guru, aku telah membantumu, kamu tidak mengucapkan terima kasih?”

Lalu dia tersenyum, hidung kami hampir bersentuhan.

“Gimana kalau dengan mengundangku masuk untuk duduk-duduk?”

“Aku...”

Tubuhku terasa lemah dan lemas.

Bibirnya yang lembut menyentuh telingaku dan aku bergetar seakan-akan tersengat listrik.

Dia tersenyum semakin lebar, tepat saat tangannya hendak menyerangku lebih jauh, seseorang di bawah memanggil namanya.

“Hei, Johan, cepatlah turun untuk bermain basket! Kalau tidak, aku akan naik, mengikat dan membawamu turun!”

Ternyata dia hendak pergi untuk bermain basket.

Seketika dia mengerang kecewa, melepaskanku, memungut sampah dan pergi.

Segala yang baru saja terjadi terasa seperti mimpi.

Aku pun membuka pintu dan masuk ke kamar tidur.

Tubuhku yang bersandar di dinding perlahan-lahan terjatuh, mengingat kembali kegembiraan dan kegirangan detak jantungku dan pipiku yang memerah tadi...

Malam harinya, aku minum bir untuk menenangkan diri.

Sebenarnya, aku tidak bisa minum banyak, setelah minum satu gelas saja mukaku sudah jadi merah dan badanku menjadi panas.

Tepat saat aku berganti ke jubah mandi dan bersiap untuk mandi dan tidur.

Dengan suara keras “bam”, pipa air di kamar mandi pecah.

Percikan air itu mengenai diriku.

Aku begitu takut hingga aku berteriak dan berlari keluar kamar mandi.

Tepat saat aku masih dalam keadaan kaget, terdengar suara ketukan keras di pintu.

“Bu Guru, kamu baik-baik saja?”

“Aku Johan, aku tadi mendengarmu berteriak saat aku pulang.”

Aku melihat kamar mandi yang berantakan dan berpikir dia datang pada waktu yang tepat.

Aku pun buru-buru membuka pintu dan berkata dengan cemas, “Entah kenapa tadi pipa airnya tiba-tiba meledak...”

Ketika aku melihat Johan dengan jelas, aku terdiam.

Dia seharusnya baru pulang dari bermain basket.

Napasnya kuat dan tubuhnya dipenuhi lapisan keringat, pembuluh darah di lengannya yang memegang bola basket menonjol dan lengannya tampak kuat dan bertenaga.

Napas penuh hormon berhembus ke wajahku.

Dia tampak sangat mirip dengan laki-laki kasar dan berotot dalam film-film itu, dengan nafsu terpancar jelas di wajahnya.

Aku menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri.

Tetapi aku menyadari tatapan Johan saat menatapku makin aneh.

Napasnya makin cepat dan tangannya terkepal erat, seakan-akan dia tengah menahan sesuatu.

Tiba-tiba hembusan angin bertiup melewati aula dan aku merasa kedinginan di sekujur tubuh.

Baru pada saat itulah aku melihat ke bawah dan menyadari aku basah kuyup.

Jubah mandi sutra melekat di tubuhku.

Dari dada, pinggang hingga paha, semua lekuk tubuh yang membanggakan terekspos.

Bahkan air yang menetes dari kepala pun menetes dari dagu hingga ke dada.

Kemudian mengalir dari puncak dada dan menetes perlahan.

Bagi seorang mahasiswa laki-laki yang muda dan energik, ini tidak diragukan lagi merupakan dampak visual yang besar.

Tanpa sadar aku menutupinya dengan tanganku.

Tapi Johan menggertakkan giginya seolah dia sudah mengambil keputusan.

Dia lalu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.

Terdengar suara “bam”, hanya ada kami berdua di dalam rumah.

Dia lanjut bertanya dengan suara berat di mana letak kamar tidur.

Aku tanpa terkendali menunjuk ke arah kamar tidur.

Dia menggendongku dan membawaku menuju kamar tidur.

“Tidak… Jangan!”

Detik berikutnya, aku dilempar ke tempat tidur dan jubah mandiku ditarik...

“Ah...”

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B96122" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B96122
Salin

Guru Cantik dan Tetangganya Murid Macho

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya