Bab 1
Pada tahun 1970-an, aku mengikuti kebijakan nasional dan menjadi bagian dari program anak muda terpelajar yang dikirim ke pedesaan.
Demi mencari sensasi baru, aku diam-diam tertarik pada seorang pria berotot dan maskulin. Di tengah malam, aku memanjat jendela untuk naik ke ranjangnya yang dipenuhi hormon maskulin.
"Adri, kamu keras sekali. Sini kubantu."
Pria itu mencengkeram pinggangku dan menekannya dengan kuat. "Ini pilihanmu sendiri, ya."
Selain bekerja di ladang, hal yang paling sering kulakukan adalah "menunggangi" Adri dan mengayunkan tubuhku dengan lembut bersamanya. Baik itu di pegunungan yang sunyi maupun tempat-tempat terpencil di desa, jejak cinta kami tertinggal di mana-mana.
Pada hari pertama aku melihat Adri, aku sudah tergila-gila pada perutnya yang berotot. Dipadukan dengan kulitnya yang kecokelatan, mataku makin berbinar lagi.
Malam itu juga, aku memanjat jendela dan naik ke ranjangnya yang penuh dengan hormon maskulin. Aku pun mengelus otot-ototnya yang panas. Hasrat yang menjalar di sekujur tubuhku membuatku menggesek-gesekkan tubuhku ke tubuhnya.
Saat aku mencium menyusuri leher hingga perut bagian bawahnya, seseorang tiba-tiba menggenggam wajahku.
"Apa yang kamu lakukan?"
Di bawah sinar bulan, ekspresi wajahnya tidak terlihat menolak. Aku pun dengan berani mengulurkan tanganku ke area di antara kedua kakinya.
Erangan yang tertahan itu membuatku makin bergairah. Aku mengangkat tanganku yang dibasahi jejak gairah kami dan bertanya, "Kamu mau?"
Adri tidak membantah. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku yang ramping, lalu menindihku. Tangannya yang kasar meraba seluruh kulitku yang halus.
Aku membuka kakiku lebih lebar lagi agar dia lebih mudah memasukkan dan mengeluarkan tangannya. Napasku mulai memburu.
Lubang yang sempit itu diperlakukan dengan kasar oleh jarinya. Aku pun menggigit bibirku untuk menyembunyikan erangan sakit, tetapi mulutku dibuka dengan paksa. "Jangan gigit. Aku mau dengar eranganmu untuk menambah gairahku."
Tidak peduli seberapa tebal mukaku, aku juga merasa malu setelah mendengar kata-katanya dan menoleh ke samping. Tiba-tiba, rasa sakit terkoyak menjalar di bagian bawah tubuhku. Dia benar-benar memasukkan tiga jari.
Aku tak kuasa menahannya. "Sakit ...."
"Ini pilihanmu sendiri. Tahan!" perintah Adri sambil mengeluarkan "asetnya" yang membanggakan.
Aku langsung tertegun dan berpikir apakah aku sanggup menerimanya. Akan tetapi, dia tidak memberiku waktu untuk beradaptasi. Dalam sekejap, aku sampai lupa bernapas karena menahan rasa sakit untuk menerima asetnya itu.
Akhirnya, Adri menghela napas lega dan bersandar di dadaku yang seputih salju. Dia melirikku dan bertanya, "Apa alasanmu?"
Orang-orang yang datang bersamaku menghindari orang desa. Mereka takut tidak dapat kembali ke kota karena pernikahan. Namun, aku berbeda. Aku melingkarkan lenganku di lehernya dan berbisik, "Aku gatal."
Bab 2
Berhubung hal itu sudah terjadi, aku tidak berencana untuk menyembunyikannya. Setelah dewasa, area sensitifku terasa begitu gatal sehingga aku tidak bisa tidur setiap malam. Aku pernah menggunakan jari, pensil, timun, dan sebagainya .... Namun, tidak ada satu pun yang dapat memuaskan hasrat kuat ini.
Aku bukannya tidak pernah mencari pria kota. Hanya saja, begitu mereka melepas celana, aku langsung menolak. Ukuran mereka tidak dapat memuaskanku.
Setelah kebetulan mendengar dari temanku yang datang dari pedesaan mengatakan bahwa pria yang bekerja di ladang sangat kuat, pria idamanku berubah menjadi seorang petani yang kuat.
Aset Adri yang ada di dalam tubuhku perlahan-lahan membesar dan terasa makin panas. Aku mendesah untuk sesaat, lalu mengulum jarinya. "Kamu keras sekali."
"Meski sakit, kamu juga harus tahan."
Adri pun menurunkan pinggangnya dan bergerak secepat motor. Otot perutnya yang kencang bergerak maju dan mundur di depan mataku. Area bawah tubuhku terasa sangat puas. Suara yang kami hasilkan dapat membuat orang berimajinasi liar.
Tubuhku terasa makin panas dan hasratku sudah mencapai puncaknya. Aku pun memeluknya dengan erat sambil mengerang, "Adri, Adri!"
Gerakannya makin cepat. Dia menepuk dada montokku yang seputih salju dengan tidak puas. "Nggak boleh! Sama-sama, dong."
"Aku nggak tahan lagi ...." Aku tidak berhenti merintih, tetapi untungnya Adri mengampuniku. Saat aku mencapai puncak, Adri merangkul pinggangku dan menunjukkan senyum jahat tetapi tulus. "Sekali lagi."
Saat aku bangun, hari sudah siang. Aku segera mengenakan pakaianku dan berlari ke tempat kerja.
Orang-orang di desa sangat miskin dan tidak mampu membayar upah. Untuk menghasilkan uang, para guru juga bekerja paruh waktu di ladang selama musim tanam yang sibuk.
"Ke mana saja kamu!" tegur wakil ketua tim yang diangkat Adri untuk bertanggung jawab atas pengaturan kerja di ladang ketika melihatku datang terlambat.
Aku berhenti dan berdiri di depan Adri, lalu mengeluh dengan suara pelan, "Bukannya ini gara-gara kamu yang melakukannya berkali-kali."
Adri berhenti berbicara, lalu mengangkat dagunya untuk memberi isyarat agar aku bergegas pergi menyiangi rumput.
Aku terlalu lelah semalam, sedangkan pinggangku juga terasa pegal dan lemas. Ditambah dengan matahari yang sangat terik, aku pun jatuh pingsan tak lama kemudian.
Aroma maskulin yang familier menyerbak ke hidungku. Aku menggerakkan jari-jariku untuk meraih orang yang hendak pergi itu dan menjilat bibir bawahku yang kering. "Mau lakukan sesuatu yang mendebarkan?"
Kami berada di sisi teduh di balik tumpukan jerami yang tinggi. Di sisi lainnya, para anak muda terpelajar dan petani sedang bekerja.
Adri menahan tanganku yang sedang membuka kancing dan bertanya dengan ekspresi muram, "Kamu begitu bernafsu?"
"Iya, mau?" Aku mengembuskan napas dengan lembut. Tulang selangkaku yang halus sudah terekspos. Melihat dia tidak menjawab, aku mengalihkan pandanganku ke celananya yang sudah menonjol. Kemudian, aku berdiri sambil tersenyum. "Kalau kamu nggak mau, aku akan cari orang lain."
Baru saja aku melangkah maju dua langkah, sebuah tangan yang kuat sudah mengait ikat pinggangku dan menarikku mundur. Sebuah bayangan terbentuk di bawah terik matahari. Aku menatap dadanya yang berotot dan tidak dapat menahan diri untuk tidak meremasnya.
Dia memukul bokongku dua kali dan menyebabkan aku berseru. Adri segera menutup mulutku. "Ssst, kamu mau kelihatan orang lain?"
"Bukannya kamu suka dengar rintihanku?" Aku mengangkat bahu dengan acuh tak acuh, tetapi tanganku sibuk menyentuh asetnya.
Berhubung kami terlalu dekat dengan para pekerja, Adri pun mengambil segenggam jerami dan hendak menggunakannya untuk membuatku bungkam.
"Coba saja kalau kamu berani!"
Aku memelototinya. Pada detik berikutnya, dia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari sakunya, lalu meremasnya menjadi bola, dan menyumpal mulutku. "Bosku, begini sudah bisa, 'kan?"
Aku meringkuk dalam pelukannya dan tersenyum bodoh. Puncak dadaku tiba-tiba dicubit dua kali. Dia sedang menghukumku.
Cubitan yang kuat itu membuat dadaku yang seputih salju terasa panas. Aku merasa kulitku seperti sudah terkelupas, tetapi malah sangat menikmatinya. Perlakuan kasar seperti inilah yang kuinginkan. Makin kasar perlakuannya, makin basah pula aku.
Tubuh Adri dipenuhi aroma rumput yang bercampur dengan debu dan langsung membuatku kehilangan akal sehat.
"Adri ... bergerak ... lebih cepat lagi ...."
Mulutku tersumbat oleh uang kertas sehingga kata-kataku tidak jelas. Namun dia tetap mengerti dan mempercepat gerakannya.
Pada saat aku hampir mencapai puncak, dia tiba-tiba berhenti dan tersenyum jahat, lalu menarik diri. Di saat-saat kritis ini, aku buru-buru meraih tangannya dan memasang tampang memohon.
Bab 3
Adri mengeluarkan uang kertas itu dan menatap tubuh bagian bawahku. Sentuhannya yang kasar justru membuat area itu makin basah. Dia menarik tangannya dan berkata, "Basah sekali."
"Cepat .... Aku mau ...." Aku hanya ingin melepas hasratku.
Namun, dia menggeleng dan tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigi putihnya. "Aku akan memuaskanmu malam ini."
Setelah mengatakan itu, dia menyeka tubuh bagian bawahku dengan uang kertas. Kemudian, dia berdiri dan menarik celananya. Aku menggenggam saku celananya erat-erat sambil berujar dengan nada memelas, "Kalau kamu nggak memuaskanku sekarang, aku akan merasa sangat nggak nyaman. Berhubung begitu, aku akan cari orang lain."
Raut wajah Adri langsung menjadi kelam. Kemudian, dia membalikkan tubuhku dan menekanku ke atas kakinya. Bokongku yang empuk dipukulnya tanpa ampun sampai aku memohon ampun, "Adri, aku salah."
"Salah apa?" Pertanyaan mendadak itu membuatku tidak bisa menjawab. Dia pun memukulku lagi.
Akhirnya, aku tidak tahan lagi dan berseru, "Aku nggak akan cari orang lain. Aku cuma mau kamu!"
"Bagus." Adri tersenyum dan kembali bekerja di ladang.
Aku perlahan-lahan mengenakan pakaianku sambil menatapnya dengan penuh keluhan. Dia masih tersenyum seperti itu. Tampangnya saja terlihat jujur, tetapi dia sebenarnya sangat jahat.
Aku diam-diam memberi Adri penilaian dalam hati.
Dalam perjalanan ke kantin, seorang pemuda yang datang ke desa di periode yang sama denganku bertanya padaku, "Kamu sudah merasa baikan?"
"Emm, sudah jauh lebih baik," jawabku sambil diam-diam melirik reaksi Adri di hadapanku. Melihat dia sepertinya tidak mendengar percakapan kami, aku memberanikan diri berkata, "Aku lapar, boleh pinjam sedikit uang?"
Aku sangat pandai memanfaatkan kecantikanku. Pemuda itu pun memberiku setengah dari uangnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia melambaikan tangannya dengan murah hati dan berujar, "Aku kuat dan bisa hasilkan banyak uang. Kamu nggak perlu kembalikan uangnya lagi."
Sebelum sempat berterima kasih, aku melihatnya menggaruk kepalanya dan telinganya juga memerah saat bertanya, "Bisa nggak kamu datang ke gunung belakang malam ini?"
Gunung belakang adalah tempat di mana pasangan muda sering berkencan. Maksudnya sudah jelas. Aku berencana untuk menolaknya secara langsung malam ini. Jadi, aku menyetujuinya sambil tersenyum.
"Ikuti aku." Adri tiba-tiba berbalik dan menatapku dengan tajam. Bokongku pun terasa makin sakit.
Malam ini, untuk pertama kalinya, aku tidak memanjat jendela kamar Adri, melainkan berencana untuk naik gunung.
Namun, tepat setelah berjalan beberapa langkah keluar dari gubuk jerami, sesosok tubuh kekar menghalangi jalanku. "Mau pergi kencan?"
"Nggak."
"Ikut aku." Adri terlalu kuat. Aku mau tak mau membiarkannya menuntunku melangkah maju. Melihat jalan menanjak yang familier, aku tiba-tiba menyadari apa yang ingin dilakukannya. Aku pun buru-buru menepis tangannya. "Aku nggak mau pergi!"
"Bukannya kamu mau naik gunung? Aku akan menggendongmu."
Ucapannya memang manis, tetapi nyatanya, dia menggendongku di pundaknya tanpa peduli pada perlawananku. Berhubung takut teriakanku akan menarik perhatian orang, dia pun menyumpalkan uang kertas ke mulutku.
Setelah melihat punggung pemuda itu, Adri akhirnya menurunkanku. Entah bagaimana, dia sudah dengan cepat menggunakan ikat pinggangnya untuk melilit pinggangku dan mengikatku erat-erat ke pohon.
"Ugh!" Aku segera menggeleng.
Adri menyeka keringat di dahinya, lalu mencondongkan tubuh ke dekatku dan berbisik, "Aku sudah bilang akan memuaskanmu malam ini. Aku akan tepati janjiku."
Celanaku yang lebar langsung mengendur dan jatuh ke lantai. Kedua kakiku yang ramping pun terekspos di udara.
Telapak tangannya yang hangat dengan terampil menggoda setiap titik sensitifku dan akhirnya berhenti di bokongku yang telah dipukulinya hingga memar. Dia meremasnya dengan kuat dan bertanya, "Kamu begitu suka merayu pria? Cuma karena aku nggak memuaskanmu? Hah?"
Aku mengerang kesakitan dan pemuda itu juga mendengar keributan yang kami timbulkan.
"Aneh, kenapa dia masih belum datang?" Pemuda itu pun duduk di samping. Aku tahu kami hanya berjarak beberapa pohon.
Menyadari hal ini, gelora hasrat di tubuhku makin membara dan bagian bawah tubuhku langsung basah. Adri menjilat dan menggigit daun telingaku. Aku pun agak gemetar. Jika bukan karena sedang diikat, aku pasti sudah lemas dan jatuh ke lantai.
Adri juga menyadari bahwa aku lebih sensitif dari biasanya. Tiga jarinya dengan mudah meraih jauh ke dalam tubuhku dan mulai bergerak.
"Coba tebak aku beli apa?"
Dia tersenyum dan menggoyangkan terong ungu di depanku. Aku menggeleng sambil mengerang.
"Nggak mau?" Raut wajah Adri langsung berubah. Dia lanjut berkata, "Kamu harus mau meski nggak mau. Siapa suruh kamu yang memprovokasiku dulu."
Tidak! Aku menggeleng untuk menunjukkan bahwa aku tidak mau terong itu, melainkan menginginkannya secara langsung. Tidak ada yang bisa menandinginya. Dia kuat, panas, dan keras.
"Santai." Bokongku dipukulinya dua kali lagi. Aku merintih dan mengikuti instruksinya untuk melebarkan kakiku. Tindakan ini sepertinya menyenangkan Adri.
Tak lama kemudian, terong yang berlumuran cairan itu digantikan oleh tubuhnya yang hangat. Gerakannya makin cepat, sedangkan aku menggeleng dengan asal dan napasku makin terengah-engah.
Di hutan yang sunyi saat ini, aku merasa suara yang sama sepertinya tersebar di mana-mana. Aku baru menyadari bahwa tempat ini bukan hanyalah tempat untuk berkencan dan berjalan-jalan, tetapi juga tempat bagi para kekasih untuk melampiaskan hasrat mereka. Itu berarti pemuda itu juga memiliki niat buruk!
Adri menggigit pelan dadaku yang montok dan aku merasa hatiku seperti disengat listrik. Aku tidak mampu bertahan lagi. Dorongan untuk melepaskan hasratku dihentikan oleh Adri. Dia bertanya sambil tersenyum jahat, "Kamu menyukainya?"
Aku mengikuti arah pandangnya dan melihat pemuda itu sedang menyentuh dirinya sambil mendengar suara-suara dari sekitarnya.
"Kamu mau aku mengajaknya bergabung?"