Bab 1
Pemain kartu yang cantik dan selalu bersikap angkuh, Sienna, selalu merendahkanku karena pekerjaanku cuma melayani tamu.
Sampai suatu hari, aku tanpa sengaja menemukan rahasia kecanduannya, sikap Sienna langsung berubah 180 derajat. "Kak Zayn, apa kamu ... bisa membantuku?"
Aku tidak menduga wanita ini akan berinisiatif meminta bantuanku. Sambil melihat tingkah Sienna, aku berusaha menahan hasrat dalam hatiku dan menyetujui permintaannya.
Namun, di dalam otakku, aku terus memikirkan cara untuk "menyiksanya". Huh! Selama ini kamu meremehkanku, 'kan? Sekarang kamu malah meminta bantuanku?
Namaku Zayn. Aku bekerja serabutan di rumah judi mahjong. Pekerjaan ini tidak terlalu baik, tetapi sangat santai. Terkadang ketika ada kekurangan pemain, aku bisa ikut bermain. Secara keseluruhan termasuk bagus.
Namun, yang lebih membuatku senang bekerja di sini adalah bisa melihat banyak wanita muda. Ada yang imut, ada yang lemah. Sementara itu, yang paling memikatku adalah Sienna.
Usianya 30-an tahun. Kulitnya putih dan lembut. Kakinya yang ramping selalu terpampang di depanku. Wajahnya kecil dan cantik ....
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa wanita semenawan ini rela hidup bersama suaminya yang tiba-tiba lumpuh. Sungguh membuang-buang kesempatan!
Setelah memikirkan semua itu, aku tak kuasa meludah ke tanah. Tiba-tiba, muncul sosok yang familier di pintu. Itu tidak lain adalah Sienna.
Aku bergegas menghampiri dan mengambil tas tangannya. "Hari ini mau main apa, Kak Sienna? Aku akan aturkan untukmu."
Saat aku berbicara, Sienna sudah menarik tangannya yang ramping dari hadapanku. Kemudian, dia membusungkan dadanya dan menggoyangkan pinggulnya, lalu bersiap untuk duduk. Dia terlihat seperti seekor angsa yang anggun dan misterius.
Aku mengikutinya dari belakang. Seketika, aroma parfum yang kuat bercampur dengan aroma tubuh wanita masuk ke hidungku ... membuatku tidak bisa berpaling.
Dalam sekejap, Sienna sudah duduk. Seperti biasa, aku berdiri di sampingnya dan menuangkan teh untuknya. Ketika melihat ke bawah, aku hanya bisa terpana. Tidak ada bagian tubuh Sienna yang tidak menarik perhatianku.
Hari ini, Sienna mengenakan rok pendek ketat yang menempel di tubuhnya, membuatnya terlihat sangat seksi. Di atasnya adalah kemeja putih yang simpel. Payudaranya yang besar membuat kancing di depannya hampir meledak. Selain itu, model branya terlihat sangat seksi. Pemandangan ini benar-benar luar biasa!
Aku terpana sampai tidak bisa mengalihkan pandanganku. Ketika melihatku menatapnya lekat-lekat, Sienna tidak mengatakan apa-apa. Namun, tebersit penghinaan dan kebencian di matanya, seolah-olah dia sudah terbiasa dengan tatapan penuh gairah seperti itu.
Setelah melihat pandangan Sienna, aku akhirnya sadar dan memalingkan wajah dengan canggung. Namun, aku merasa agak frustrasi.
Tiba-tiba, aku mencium aroma susu yang kuat, tetapi agak berbeda dari yang biasanya. Aku pun mengendus dengan kuat untuk mencari sumbernya. Siapa sangka ... aku malah melihat dua noda basah di pakaian Sienna! Itu terlihat jelas di kemeja putihnya!
Ketika aku masih terkejut, seorang pemain bernama Mike juga melihatnya. Dia langsung berseru, "Buset! Sienna, kenapa bajumu basah? Bukannya kamu nggak punya anak? Jangan-jangan kamu kecanduan sesuatu?"
"Tapi, wajar saja. Kamu bilang suamimu yang cacat itu nggak bisa memuaskanmu. Kamu pasti sangat tersiksa, 'kan? Gimana kalau aku bantu kamu saja? Aku bisa memuaskanmu lho!" goda Mike dengan ekspresi mesum. Dia bahkan mencoba menyentuh Sienna saat mengeluarkan kartu.
Bab 2
"Tadi aku nggak sengaja menumpahkan teh ke baju Kak Sienna. Maaf ya. Aku terlalu ceroboh." Selesai mengatakan itu, aku segera mengambil kain dari samping untuk menutupi tubuh Sienna. Kemudian, aku memberinya isyarat mata untuk membereskannya.
Namun, saat berikutnya, Sienna bukan hanya tidak menerima niat baikku, tetapi juga menamparku sebelum pergi ke toilet. Dia berbisik, "Jangan kira aku bakal tertarik padamu kalau begini. Pria sepertimu nggak pantas untukku."
Buset dah .... Kenapa wanita ini begitu tidak tahu diri? Apa aku salah membantunya? Saat melihat punggung Sienna yang tegak, aku merasa sangat kesal. Sialan! Aku ingin tahu, apa dia juga seangkuh ini di ranjang?
Beberapa hari berikutnya, aku tidak melihat Sienna. Dengar-dengar bos meneleponnya, tetapi tidak ada jawaban. Apa mungkin dia merasa canggung karena kejadian dua hari lalu?
Bos khawatir Sienna pergi ke rumah judi mahjong yang lain, jadi menyuruhku untuk mencarinya dan mengundangnya kemari lagi.
Ketika teringat pada sikapnya kepadaku, aku merasa agak enggan. Namun, sebagai karyawan aku hanya bisa menuruti perintah bos. Aku pergi ke alamat yang diberikan.
Setibanya di rumah Sienna, aku mengetuk pintu dengan sopan, tetapi tidak ada yang menanggapi. Tiba-tiba, aku melihat celah pada pintu.
Jadi, aku memanggil sambil masuk secara diam-diam. Aku ingin memastikan apakah ada orang di rumah ini atau tidak. Bahaya jika mereka lupa tutup pintu.
Mengejutkannya, aku mendengar suara wanita yang lirih dan berusaha ditekan. Aku tidak begitu paham tentang seks, tetapi aku sering menonton film porno. Aku tentu tahu suara apa ini!
Hanya saja, aku sangat penasaran, siapa yang berani melakukannya terang-terangan begini tanpa mengunci pintu rumah.
Dengan demikian, rasa penasaran membuatku tiba di depan sebuah kamar. Melalui celah pintu, aku bisa melihat bahwa pemilik suara itu adalah Sienna!
Saat ini, Sienna sedang mengenakan gaun sutra berenda berwarna merah. Dia berbaring di atas ranjang dengan bantal di bawah pinggangnya.
Sienna yang selalu bersikap dingin dan angkuh kepadaku, kini malah melakukan hal seperti itu di hadapanku. Meskipun dihalangi oleh pintu, aku tetap terkejut!
Buset! Aku tidak menyangka wanita ini begitu nakal dan liar di belakang! Bagaimana kalau aku tiba-tiba mendorong pintu ini? Kira-kira seperti apa reaksi Sienna? Apa dia berani memarahiku?
Meskipun berpikir demikian, aku tidak memiliki nyali untuk melakukannya. Aku hanya mengomel dalam hati dan berniat untuk mengintip sebentar.
Namun, karena terlalu fokus, aku tidak menyadari tubuhku mencondong ke depan. Bam! Pintu terdorong!
Dalam sekejap, aku bertatapan dengan Sienna. Aku bisa melihat penampilannya yang berantakan. Tatapannya yang masih dipenuhi hasrat seolah-olah memanggilku. Aku sungguh tidak tahan!
Bab 3
Mengejutkannya, Sienna sama sekali tidak berhenti karena kemunculanku!
"Ma ... maaf, Kak. Bos menyuruhku kemari untuk mengundangmu ke rumah judi mahjong. Kulihat pintu nggak dikunci, makanya aku masuk. Maaf sekali ya ...."
Begitu ucapan ini dilontarkan, aku hendak pergi. Namun, Sienna malah memanggilku, "Sebentar ... Zayn. Kamu ... mau pergi begitu saja? Kamu nggak mau duduk sebentar? Kubuatkan teh ya?"
Napas Sienna terdengar terengah-engah. Ini seperti sinyal untukku. Aku tidak berani menoleh. Akan tetapi, Sienna tiba-tiba menghampiri dan memelukku dari belakang, bahkan bersandar di tubuhku.
"Kamu sudah melihat gimana penampilanku saat candu seksku kambuh .... Gimana dong? Masa aku membiarkanmu pergi begitu saja? Gimana kalau reputasiku rusak nanti ...," bisik Sienna dengan menggoda.
Aku lantas terkesiap. Apa yang ingin dilakukan wanita ini? Masa dia mau menyekapku di sini? Aku menyahut, "Nggak akan, Kak. Aku nggak lihat apa-apa kok. Tenang saja, aku nggak bakal kasih tahu siapa pun."
Ini pertama kalinya aku menghadapi situasi seperti ini. Apalagi, wanita cantik yang berhasrat ini memelukku. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Aku hanya bisa bersikap rendah diri.
Namun, Sienna tidak menghiraukan omonganku. Dia tidak berniat melepaskanku. Sebaliknya, dia menarik tanganku dan membawaku ke pinggir ranjang.
"Zayn, sebenarnya aku yang salah waktu itu. Aku nggak seharusnya marah padamu. Aku cuma mencoba melindungi diri. Jangan marah ya ...," ucap Sienna dengan manja sambil memeluk leherku.
Aku sungguh kebingungan menghadapi kode Sienna yang agresif ini. Aku awalnya ingin mengelabui Sienna, tetapi wanita ini ternyata jauh lebih berani dari yang kubayangkan. Dia langsung duduk di pangkuanku!
"Kak, jangan begini. Aku ... aku benaran cuma mau mengundangmu ke rumah judi mahjong. Nggak ada maksud lain!"
Meskipun aku ingin sekali menerkam Sienna, Sienna sudah berkeluarga. Usai berbicara, aku pun hendak mendorongnya, tetapi tubuhku menjadi tidak bertenaga.
"Hehe. Kulihat kamu sangat berani waktu mengintip tadi. Kenapa sekarang malah takut?" Sienna sontak bangkit dan menatapku dengan dingin. Bahkan, tatapannya terlihat meremehkanku dan membenciku.
Saat ini, aku langsung teringat pada hinaan sebelumnya. Wanita yang selalu bersikap angkuh di depanku masih berani menginjak-injak harga diriku setelah aibnya ketahuan. Aku pun murka!
Saat berikutnya, aku bangkit dan mendorong Sienna. Sienna berucap, "Begini baru benar. Ayolah, bantu aku ya? Aku nggak nyaman sekali waktu kambuh begini. Aku mau kamu bantu aku ...."
Heh! Cepat sekali berubahnya. Dasar murahan! Ternyata wanita idamanku ini cuma wanita liar yang sok suci!
Segera, akal sehatku dikalahkan! Kini, aku hanya ingin menghukumnya seberat mungkin! Aku ingin mendapatkan kembali harga diriku sebagai pria!