Bab 1

Aku adalah seorang fotografer khusus foto pribadi. Malam itu, sahabatku sejak masa kuliah memintaku untuk memotret dia dan istrinya dalam sebuah sesi foto pribadi. Awalnya, semuanya terasa normal, sampai dia mengajukan permintaan yang benar-benar aneh.

"Wade, bisa nggak kamu penuhi permintaan istriku sekali ini saja?"

Kalimat itu membuatku tertegun. Aku tidak tahu apakah dia serius atau hanya bercanda. Namun, sorot matanya menunjukkan bahwa dia bersungguh-sungguh.

Cerita ini pun menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga. Apakah permintaannya benar-benar sebatas profesionalisme fotografi atau ada maksud lain di baliknya?

Namaku Wade. Sejak kuliah, aku sudah mendalami seni fotografi, terutama fotografi tubuh manusia. Aku sering hadir di berbagai acara cosplay dan para cosplayer sering kali berinisiatif menghubungiku untuk sesi foto.

Tanpa kuduga, aku menjadi terkenal di dunia maya. Setelah itu, semakin banyak wanita cantik yang ingin menjadwalkan sesi foto denganku.

Kemudian, seorang model bertanya apakah aku bisa melakukan "barter". Saat itulah aku baru tahu apa arti "barter". Ternyata, dalam sesi foto pribadi, istilah ini mengacu pada model yang tidur dengan fotografer sebagai gantinya untuk membebaskan biaya pemotretan.

Setelah itu, segalanya menjadi tidak terkendali. Hampir semua cosplayer terkenal di kota ini pernah melakukan "barter" denganku.

Suatu hari, sahabatku, Fredy, menelepon dan mengundangku makan malam. Dia bahkan secara khusus memintaku membawa peralatan fotografiku.

Ketika aku tiba di restoran dan duduk, tiba-tiba tercium aroma yang sangat wangi. Seorang wanita yang sangat menawan berjalan mendekat dari belakang. Dada lembutnya menyentuh lenganku sebelum dia duduk di seberangku.

Wanita itu adalah Yudith, tunangan Fredy, dan dia adalah wanita tercantik yang pernah aku lihat.

Yudith mengenakan gaun panjang berwarna kuning muda. Tubuhnya proporsional dengan lekuk tubuh yang menggoda, pinggangnya ramping, dan memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan. Dia memiliki pesona yang memadukan kepolosan seorang gadis muda dengan sedikit kematangan wanita dewasa. Benar-benar luar biasa.

Berdasarkan pengalamanku, wanita seperti ini biasanya sangat menggairahkan di tempat tidur dan bersedia mencoba berbagai hal. Benar-benar wanita idaman.

Namun, ketika aku melihat Fredy menatapku dengan pandangan penuh makna, aku sadar telah kehilangan kendali dan segera menundukkan kepala, lalu minum air untuk menyembunyikan rasa canggung.

Setelah semua hidangan tersaji, Fredy memesan sebotol anggur. "Aku lagi nyetir, jadi nggak minum," tolakku sambil melambaikan tangan.

"Nggak apa-apa, nanti Yudith yang akan mengantarmu pulang," katanya. Karena Fredy berkata begitu, aku pun tidak menolak lagi.

"Wade, menurutmu Yudith gimana?" tanyanya sambil bersulang. Setengah botol anggur sudah kami habiskan.

Yudith bangkit untuk menuangkan anggur ke gelasku. Saat dia sedikit membungkuk, kerah gaunnya turun dan memperlihatkan pemandangan kulit putih yang memikat. Bra berwarna ungu muda itu bahkan tidak bisa menutupi dada besarnya.

Meskipun aku sudah agak mabuk, bagaimanapun dia adalah tunangan sahabatku. Aku hanya melirik sekilas sebelum segera mengalihkan pandangan.

"Seperti bidadari turun dari surga, kamu benar-benar beruntung bisa mendapatkan wanita sehebat ini," candaku sambil tersenyum.

"Wade, gimana kalau kamu fotoin Yudith?" Fredy berkata dengan nada serius setelah bercanda sejenak.

"Ah, aku kira mau ngomong apa. Aku bisa langsung kontak studio foto, kita pakai lampu terbaik, sesuai standar tertinggi untuk adik ipar ini," jawabku sambil menenggak segelas anggur.

Namun, Fredy menghentikan tanganku yang sudah hendak mengambil ponsel. Dengan nada agak canggung, dia berkata, "Jangan, cuma kita bertiga saja."

Aku sedikit bingung melihatnya, "Maksudmu foto pribadi?"

Di samping, wajah Yudith tampak memerah, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Namun, tatapan matanya padaku begitu menggoda. Lidah kecil yang perlahan menjilat bibir merah mudanya, membuatnya tampak sangat memikat.

"Nanti kamu akan tahu. Aku sudah sewa vila di pinggiran kota. Peralatanmu sudah dibawa, 'kan?" Fredy mengedipkan mata ke arahku. Aku mengangguk, memberi isyarat bahwa semua peralatan ada di mobil. Meskipun penasaran dengan tingkahnya, aku memilih untuk tidak banyak bertanya.

Setelah selesai makan, Fredy memesan pengemudi pengganti untuk dirinya sendiri. Namun, dia meminta Yudith untuk menyetir mobilku dan membawaku ke lokasi pemotretan. Ada perasaan aneh yang menggelitik pikiranku, tetapi aku tidak bisa menjelaskan apa itu.

Di dalam mobil, hanya ada aku dan Yudith. Dari sudut pandangku, sabuk pengaman yang dikenakannya menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sangat sempurna. Gaun tipis yang membalut tubuhnya membuatnya terlihat seperti bungkusan yang ingin segera dibuka dan dirasakan sepenuhnya.

Yudith menyadari tatapanku. Alih-alih merasa malu, dia malah sengaja membusungkan tubuhnya, memberi kepuasan untuk mataku.

Pertama kali aku bertemu Yudith adalah saat di universitas. Dia mengadakan pesta ulang tahun untuk Fredy. Waktu itu, dia mengenakan tank top dan hot pants, memperlihatkan kaki jenjangnya yang penuh percaya diri. Aura segar, seksi, dan cerianya membuatku terpesona.

Sampai sekarang, aku masih ingat bagaimana aku terpukau melihatnya untuk pertama kali. Ungkapan "keindahan duniawi" benar-benar tidak berlebihan untuk mendeskripsikannya. Aku tidak pernah menyangka, bahkan dalam mimpi sekalipun, bahwa suatu hari aku akan memiliki kesempatan untuk memotret Yudith dalam sesi foto pribadi.

"Kita sudah sampai, Kak Wade." Suara Yudith membawaku kembali ke kenyataan. Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa kami sudah berada di depan sebuah rumah bertingkat tiga.

Kami berdua turun dari mobil, melihat Fredy turun dari mobil pengemudi pengganti, dan berjalan menghampirinya.

Fredy mengajakku ke sebuah gazebo di dekat rumah. Dia menyodorkan sebatang rokok sambil bergumam, "Makanan seenak apa pun kalau dimakan terus-menerus akan terasa membosankan. Begitu juga dengan wanita, secantik apa pun, kalau terlalu sering dilihat, akhirnya akan terasa biasa saja."

Bab 2

Meskipun merasa bingung dengan arah pembicaraan ini, aku memilih diam dan menunggu Fredy melanjutkan. "Wade, kita sudah kenal berapa lama?" tanya Fredy tiba-tiba.

"Kurang lebih 10 tahun, aku juga nggak menghitungnya," jawabku.

"Wade, aku mau cerita sesuatu, tapi kamu jangan tertawain aku," kata Fredy sambil mematikan rokoknya, seolah-olah telah mengambil keputusan besar. "Akhir-akhir ini aku merasa nggak ada gairah lagi sama Yudith. Tapi kalau membayangkan dia bersama pria lain, aku langsung naik birahi. Menurutmu, kenapa aku bisa begini?"

Saat itu aku baru menyadari bahwa masalah ini cukup serius. Mungkin ada yang tidak beres dengan sahabatku ini. "Kalau begitu, nggak usah dipikirin saja?"

"Masalahnya lebih buruk dari yang kubilang. Sekarang, hampir setiap malam aku nggak bisa tidur karena bayangan dia dan pria lain terus menghantuiku. Semua orang menganggap Yudith seperti bidadari, tapi kamu nggak tahu, aku sudah lama nggak menyentuhnya."

Fredy menatapku serius, "Kamu satu-satunya orang yang bisa aku percaya. Jadi, aku mau kamu membantuku."

"Gimana caranya aku bisa membantu?" tanyaku.

"Wade, menurutmu bagaimana Yudith?" tanya Fredy lagi.

Dia mengulangi pertanyaan yang sama seperti saat makan tadi. Aku bingung harus bagaimana menjawab. Mataku secara refleks melihat ke arah Yudith yang sedang melangkah masuk ke vila. Tubuhnya yang ramping, pinggul montok, dan kaki jenjangnya membuat pikiranku melayang.

"Wade, aku sudah perhatikan caramu melihatnya. Aku tahu kamu menahan diri karena kita bersahabat, dan aku mengerti itu," kata Fredy sambil menepuk pundakku.

"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?" tanyaku akhirnya.

Fredy menghela napas dan berkata pelan, "Aku sudah bicara sama dia. Sekarang cuma tinggal menunggu keputusanmu. Kamu cuma perlu ...." Dia mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik.

Ketika kami masuk ke dalam vila dengan membawa peralatan, Yudith sudah membuka sebotol anggur dan menuangkan ke tiga gelas. Wajahnya memerah, tangannya sedikit bergetar, dan dia tidak berani menatapku secara langsung.

Aku langsung meneguk habis anggur di gelasku, lalu naik ke lantai dua untuk mengamati sekitar. Aku memutuskan adegan pertama akan diambil di kamar utama di lantai dua. Ketika aku kembali ke bawah, Fredy sedang berbicara di dekat telinga Yudith. Wajah Yudith memerah, jelas Fredy mengatakan sesuatu yang cukup provokatif.

Kami naik ke kamar utama di lantai dua. Aku menutup tirai dan memberi isyarat kepada Fredy untuk menyiapkan lampu.

Foto pertama, Yudith mengenakan jubah mandi dan duduk di depan meja rias. Aku mengambil gambar dari sudut belakang samping, dengan sudut pandang dari atas ke bawah.

"Tegakkan pinggangmu, tarik kerah sedikit lebih terbuka, lihat ke arah sini, ya, begitu," kataku sambil memberikan arahan. Yudith masih tampak sedikit gugup, tetapi akhirnya dia berhasil berpose sesuai instruksiku.

"Bayangkan malam pertama kalian ...."

Kilatan lampu kamera menyala dan foto itu pun selesai. Di layar, terlihat seorang wanita yang malu-malu dan menawan, tetapi tetap memiliki kesan polos yang mengalahkan semua model yang pernah kufoto sebelumnya.

Seiring waktu berlalu, koordinasi kami menjadi semakin lancar. Setelah menyelesaikan satu set foto, Fredy memberiku isyarat dengan matanya. "Waded, kita masuk ke inti sekarang."

Mendengar hal itu, tubuh Yudith kembali tegang.

"Kamu mau ambil gambar seperti apa?" tanyaku.

"Kamu yang atur, kami akan ikuti," jawab Fredy.

"Baik, Yudith, jangan tegang. Kita ambil beberapa foto yang agak sensual," ujarku.

Kali ini, Yudith mengenakan gaun tidur bertali tipis. Dia berlutut dengan kaki sedikit ditekuk, dan membungkukkan pinggang rampingnya untuk menampilkan lekuk tubuh yang sempurna.

Saat aku hendak menekan tombol rana, Fredy tiba-tiba berkata, "Tunggu sebentar, Sayang. Lepaskan celanamu dulu."

Wajah Yudith memerah sepenuhnya. Dengan malu-malu, dia perlahan mengangkat gaunnya ....

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B86696" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B86696
Salin

Godaan Di Balik Jebakan Untuknya

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya