Logo
Gerhana
Gerhana

Gerhana

54 Bab
Tamat
Dalam novel romance Gerhana, perseteruan antara putri jenderal dan preman dingin Tangguh Langit memicu konflik identitas. Meski terhalang status sosial, aksi dan rahasia mulai terungkap. Baca modern novel ini untuk melihat apakah cinta sanggup menyatukan perbedaan di web novel ini.
Bab 1 dari Gerhana

Gerhana memacu kencang mobilnya melebihi batas rata-rata kecepatan. Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Dan ia masih berada di jalan Thamrin. Sementara meetingnya dengan para investor proyek dan petinggi perusahaan akan dimulai tepat pada pukul delapan pagi. Kalau ia sampai terlambat, alamat dicor bersama dengan tiang pancanglah ia oleh Abizar. Sifat Abizar itu kan sebelas dua belas dengan Om Heru. Disiplin adalah nama tengah mereka. Apalagi ia belum genap sebulan bekerja di PT. Bina Graha Persada ini. Ia memang baru saja menamatkan kuliahnya dan menyandang gelar S.Ars alias sarjana arsirektur. Ia menjabat sebagai architect engineering di perusahaan ini.

Baru saja memikirkan konsekuensi dari keterlambatannya, ponselnya bergetar. Nah kan! Pasti itu Abizar yang memang hobby sekali merazia anak buahnya setiap pagi. Khususnya hari ini, di mana para petinggi proyek turun gunung semua. Perusahaan memenangkan tender proyek raksana dan teamnya yang akan mengeksekusi pembangunannya. Di bawah arahan Abizar sebagai manager project, diharapkan hasilnya akan maksimal. Saat ini pasti briefing sudah dimulai sementara ia sebagai architect engineeringnya malah belum sampai. Dugaannya benar seratus persen. Nama boss besar alias Abizar yang tertera di layar ponselnya. Gerhana membaca doa terlebih dahulu sebelum mengangkat ponselnya.

"Ha--"

"Apa di rumah kamu tidak ada jamnya hah? Kamu tahu tidak ini sudah jam berapa?" Teriakan boss besarnya membuat telinganya pengeng seketika.

Subhanalah, belum juga ngomong halo, boss besarnya sudah ngegas aja. Ini orang cemilannya petasan kali ya?

"Ada dong, Bang. Masalahnya tadi saya terlambat bangun. Saya lupa menyetel alarm, Bang. Makanya--"

"Jangan cari alasan! Mau kamu lupa menyetel alarm kek, ponsel kamu meledak kek, itu semua bukan urusan saya. Yang menjadi urusan saya, kamu harus sudah ada di kantor sebelum rapat dimulai. Paham kamu?! Satu hal lagi kalau masih jam kantor, panggil saya Bapak!"

Gerhana menjauhkan ponsel dari telinganya. Sepertinya gendang telinganya ikutan kaget di dalam sana. Beginilah gaya komunikasi Abizar kalau sudah membahas masalah pekerjaan. Pedesnya ngalah-ngalahin nasi goreng level 14nya Mang Rojak. Ia heran apakah Abizar tidak takut terkena penyakit stroke kalau kerjanya marah-marah melulu? Tapi ya, memang dia yang salah sih. Rapat penting bernilai triliunan rupiah seperti ini, ia malah bisa-bisanya terlambat. Semua ini gara-gara sifat pelupanya. Kalau saja ia tidak lupa menyetel alarm, pasti ia tidak akan keteteran seperti ini. Ia juga lupa membawa earphone hari ini. Sampai-sampai ia harus menyetir dengan satu tangan saat harus bolak-balik mengangkat telepon dari rekan-rekan satu divisinya. Kalau ayahnya tahu ia berkendara dengan cara seperti ini, alamat dikuliahi dari pagi sampai subuh.

Ponselnya bergetar lagi. Mampus! Jangan-jangan Abizar lagi atau salah satu rekannya. Ia mengerti saat ini rekan-rekan satu teamnya pasti sudah tidak sabar menunggu kehadirannya. Sistem pekerjaan mereka memang berhubungan satu sama lain. Satu yang error, alamat rubuh lah proyek mereka semua. Melihat nama yang muncul adalah Bagas, ia menarik napas lega. Ternyata drafter divisinya lah yang menghubunginya.

"Eh Nana pikun. Lo ini nyangkut di mana sih? Meeting udah mau dimulai, Na. Bisa abis kita semua kalo lo belum nongol. Gue mau ngejelasin apa kalo hasil drawing gue belum lo cek komposisinya? Lo mau proyek kita rubuh?"

"Sabar ya, Gas. Bentar lagi gue nyampe. Maap ye, gue lupa nyetel alarm."

"Dasar pikun. Masih perawan penyakit lo udah kayak nenek-nenek. Kalo kepala lo nggak nyangkut di leher, pasti lo lupa juga narohnya di mana. Cepetan ngebut! Kalo proyek ini direject, anak bini gue mau makan apa, Na?"

Gerhana meringis. Ia tahu kalau Bagas itu mempunyai banyak tanggungan. Selain bapak dari dua orang anak kembar, ia juga menanggung biaya hidup orang tua dan juga mertuanya yang sudah tidak berpenghasilan. Memikirkan nasib rekan-rekannya yang lain, membuatnya menekan pedal gas kian dalam. Ia harus secepatnya tiba di kantor.

Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Saat akan berbelok menuju kantornya, ia menabrak stealing martabak yang diletakkan terlalu dekat ke bahu jalan. Ia menjerit ngeri dan dengan cepat membanting stir. Bunyi decitan ban yang direm mendadak, berbarengan dengan teriakan ngeri para pengguna jalan lainnya. Mobilnya berguncang karena menabrak stealing martabak walaupun ia sudah berusaha mengeremnya.

Kepalanya serasa berputar dan pandangannya berkunang-kunang. Ia mengubur kepalanya sejenak pada stir mobil. Berusaha menenangkan diri. Ia shock! Nyaris saja! Ia baru mengangkat kepalanya dari stir mobil saat telinganya mendengar suara-suara teriakan. Ramainya orang-orang yang berkerumun di sekitar jendela mobil menyadarkannya. Mereka mengetuk-ngetuk jendela dan ada beberapa orang yang menggedor-gedornya. Dengan jemari bergetar ia berusaha membuka handle pintu. Namun karena jemarinya terus saja bergetar, ia kesusahan membukanya. Tangannya selalu luput dari sasaran. Saat gedoran bertambah kencang, baru lah ia berhasil membuka pintu.

"Lo ini bisa nyetir kagak hah? Lo liat itu stealing martabaknya Bu Wardah rusak parah. Kalo baru belajar nyetir, jangan main-main di jalan dong!" Seorang preman berwajah seram membentaknya dengan kasar. Beberapa orang yang ia asumsikan sebagai teman-temannya, berjalan petantang petenteng di sekelilingnya. Berusaha mengintimidasinya. Dengan tubuh kekar dan tatto yang menghiasi sebagian besar tubuh, tingkah laku mereka sungguh memuakkan. Ia memang sangat membenci orang yang menggunakan kekuatannya untuk menindas orang lain. Tidak bermoral kalau menurut ibunya.

Setelah sedikit tenang, ia memusatkan perhatiannya pada kerusakan yang ditimbulkannya. Ia adalah anak seorang penegak hukum. Ia khatam sekali mengenai hukum dan peraturan-peraturannya. Ia tahu kalau ia salah, namun ibu-ibu penjual martabak itu juga salah. Karena ibu tersebut berjualan di tempat ilegal dan stealingnya juga melewati bahu jalan. Dua hal itu saja, sudah salah.

Keadaan stealing martabak si ibu memang rusak cukup parah. Barang dagangan si ibu juga hancur berantakan. Semuanya tumpah ruah di sisi jalan. Untungnya keadaan si ibu baik-baik saja. Hanya saja wajahnya sedikit pucat. Mungkin karena kaget.

"Bagaimana keadaan Ibu? Apakah Ibu baik-baik saja? Atau kita perlu ke rumah sakit?" Gerhana keluar dari mobil dan menghampiri si ibu. Mengecek keadaannya dengan teliti.

"Ibu nggak apa-apa, Neng. Ibu cuma kaget," jawaban si ibu melegakan hatinya. Syukurlah.

"Eh lo harus mengganti semua kerugian Bu Wardah ini. Jangan cuma nanya-nanya doang!" Si Preman kembali mendekatinya sambil membuat gerakan meludah yang menyebalkan. Beberapa temannya mengikuti dan mulai mengelilinginya.

"Sudah, Barda, Jaka. Ibu kan tidak apa-apa. Jangan mengganggu gadis ini." Si Ibu berupaya menjauhkan beberapa orang preman yang terus saja mengelilinginya. Gerhana mundur teratur sampai punggungnya menabrak sesuatu yang keras. Dengan cepat ia berbalik. Ternyata ia menabrak bahu kekar seorang preman lainnya. Hanya saja penampilan preman ini begitu berbeda dengan preman-preman lainnya. Tubuh preman ini tinggi menjulang. Saat berdiri berhadapan seperti ini, tingginya hanya mencapai dadanya. Ia sampai harus mendongak saat menatap wajahnya. Walaupun penampilannya sangar dan wajahnya seram, namun struktur wajahnya sangat indah untuk dilihat. Rahangnya tegas dan dipenuhi dengan bulu-halus halus yang rapi. Hidungnya tegak lurus. Mancung tetapi berkesan angkuh. Alis kanannya terdapat bekas luka seperti disayat. Terlepas dari semua itu, tatap matanya sangat dingin dan datar. Gerhana merasa bisa membeku jika menatapnya terlalu lama.

"Anda siapa? Salah satu teman dari mereka?" Gerhana menunjuk beberapa preman yang mengelilinginya. Suaranya sengaja ia buat galak, padahal sesungguhnya ia ketakutan setengah mati. Seumur hidupnya ia tidak pernah berkonfrotasi dengan orang lain. Sekali-kalinya bermasalah, musuhnya malah preman-preman sangar. Mana mainnya keroyokan lagi. Bagaimana ia tidak gentar coba?

Sosok seram itu diam saja. Ia tidak menggubris pertanyaannya dan melewatinya begitu saja. Si Preman malah menghampiri si ibu. Dalam diam si preman memeriksa semua bagian tubuh si ibu dengan hati-hati. Ia terdengar mendesah lega saat tidak mendapati luka apapun di tubuh si ibu.

"Ibu tidak apa-apa?" Akhirnya si preman bersuara juga. Gerhana sempat mengira kali aja si preman itu bisu tuli. Karena ia hanya diam saja saat ditanya. Eh rupanya bisa ngomong juga. Sok sok cool kayak kulkas.

"Ibu nggak apa-apa, Nak. Cuma kaget saja."

Oh, ternyata preman kayak orang bisu tuli ini anaknya si ibu.

"Nggak apa-apa bagaimana? Orang Ibu pucet begini?" Preman yang dipanggil Barda tadi mulai nyolot. "Mbak ini harus membayar biaya berobat ibu lo dan juga semua kerusakan yang dia buat, Guh. Lihat stealing ibu lo, hancur! Martabaknya juga rusak semua,"

"Saya memang salah dan saya akan bertanggung jawab. Saya tidak akan lari dari kewajiban saya. Tapi Ibu ini juga salah karena sudah berjualan di luar fungsi jalan atau trotoar.

Berdasarkan Peraturan Mentri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2014, dilarang untuk berdagang atau berjualan di jalan dan trotoar, kecuali tempat tersebut telah ditetapkan oleh Gubernur sebagai tempat usaha pedagang kaki lima. Jadi intinya Ibu ini juga salah dan--"

"Pergi," ujar preman anak si ibu martabak datar.

"Maksud Anda?"

"Maksud saja jelas. Kamu pergi saja dari tempat ini. Satu hal lagi, saya tidak butuh pertanggungjawaban kamu karena ibu saya baik-baik saja. Lain cerita kalau ibu saya kenapa-kenapa. Kalau itu sampai terjadi, ke neraka pun kamu akan saya kejar. Sekarang, pergi!"

Gerhana cengo. Beneran ini ia disuruh pergi begitu saja? Tapi kan ia belum membayar ganti rugi kerusakan stealing dan martabak-martabak si ibu? Ia bukanlah orang yang suka lari dari tanggung jawab. Tetapi saat teringat pada jadwal meetingnya yang pasti semakin mepet, ia segera berlari ke mobil. Sebelumnya ia menjejalkan kartu namanya pada anak si ibu, dan berpesan agar ia bisa mencarinya di kantor. Ia sedang buru-buru katanya. Memikirkan nasib teman-teman satu devisinya, ia kembali tancap gas. Hanya saja kali ini ia lebih berhati-hati.

==================================

Gerhana tiba di kantor saat rapat baru saja akan dimulai. Ia seolah-olah bisa mendengar helaan napas rekan-rekan satu divisinya. Bagas mengelus dadanya seakan-akan baru saja terlepas dari azab sakratul maut. Selena dari staff admin, Bayu dari quality control staff, Rico yang menjabat sebagai structure engineering, bahkan Pak Hamzah sang mechanic, seperti mengucap kalimat alhamdullilah berjamaah tanpa suara. Drama pagi satu babaknya akhirnya bisa diselesaikan tepat waktu. Alhamdullilah.

Setelah meeting usai, barulah ia merasakan efek dari kecelakaannya tadi. Keningnya berdenyut-denyut nyeri. Ia ingat kalau saat kecelakaan tadi keningnya menghantam kemudi dengan cukup keras. Ketika kejadian mungkin tidak terasa karena ia masih dalam keadaan kaget. Ketika meeting pun belum terlalu terasa karena pikirannya terfokus pada masalah pekerjaan. Namun saat santai begini, semuanya baru terasa.

Ruangan meeting telah sepi. Para pesertanya telah kembali pada kesibukan mereka masing-masing. Hanya tinggal ia sendiri yang masih duduk dalam ruangan. Ia masih sedikit pusing. Denyutan pada keningnya terasa makin intens. Perlahan ia meraba keningnya yang tadi memang sengaja ia tutupi dengan rambut panjangnya. Ia meringis kesakitan saat meraba ada sedikit benjolan di sana. Karena berkonsentrasi dengan lukanya, ia sama sekali tidak menyadari ada langkah-langkah kaki yang menghampirinya.

"Kamu kenapa, Na?"

"Eh tokek, kadal, biawak!" Ia nyaris terlompat dari kursinya karena kaget. Abizar muncul tiba-tiba dari belakangnya.

"Kenapa cuma tokek, kadal dan biawak saja yang kamu sebut? Buayanya mana?" Abizar menoyor pelan pelipis pelipisnya. Gerhana memutar bola matanya. Lah ngapain coba seseorang menyanyakan keberadaan dirinya sendiri? Udah gitu, nggak sadar lagi!

"Buayanya kan ada di depan saya. Ngapain lagi saya sebut-sebut coba?" Gerhana nyengir yang sejurus kemudian meringis kesakitan. Keningnya berdenyut-denyut lagi.

"Kualat kamu kan ngata-ngatain orang yang lebih tua. Saya ulang pertanyaan saya sekali lagi, kamu kenapa?" Abizar kembali mengulangi pertanyaannya. Architect engineering sekaligus anak sahabat ibunya ini memang gemar sekali menguji kesabarannya. Ada-ada saja kelakuannya yang acap kali membuat emosinya terkait. Tetapi tetap saja, ia tidak bisa marah berlama-lama dengan makhluk imut ini. Ia menyukai Gerhana meskipun ia tahu kalau Gerhana hanya menganggapnya seperti seorang kakak. Tidak lebih. Makanya ia berusaha moved on dan memacari Maharani Ajisaka Prahasta. Putri bungsu Om Rendra dan Tante Cindy, teman baik kedua orang tuanya. Usia Rani ini sepantaran dengannya. Jika Gerhana itu kekanakan, heboh dan rada pikun, maka Rani adalah kebalikannya. Rani dewasa, smart dan mandiri. Kata smart membuatnya jadi tampak seksi. Sudah hampir tiga bulan ia memacari Rani.

"Saya baik-baik aja kok, Bang eh Pak. Masih jam kantor ini soalnya ya? Hehehe. Cuma tadi ada insiden kecil. Mobil saya mencium kios martabak karena saya ngebut," Air muka Abizar seketika berubah. Gerhana tahu, pasti Abizar merasa bersalah. Makanya ia mencoba bercanda untuk menghilangkan rasa tidak enak di hati Abizar.

Abizar menghela napas. Ia merasa bersalah karena secara tidak langsung, ia lah menyebabkan Gerhana terluka. Gerhana mengebut pasti karena amukannya. Coba kalau ia tidak membentak-bentak Gerhana, pasti keadaan gadis ini akan baik-baik saja.

"Mana lukanya? Coba sini saya periksa?" Abizar mendekatkan kepalanya. Gerhana seketika menjauh. Bukan apa-apa. Abizar itu kan sudah punya pacar. Tidak baik kalau ia terlalu akrab dengan pacar orang, walau pun ia sudah menganggap Abizar seperti kakaknya sendiri. Tetapi tetap saja, bagi orang lain sikap mereka tidak enak dilihat. Ia tidak mau menyakiti hati Mbak Rani.

"Nggak usah, Bang. Beneran kok, saya nggak apa-apa." Gerhana masih berupaya menolak. Tetapi Abizar memaksa dengan memegang belakang kepalanya.

"Saya lihat dulu. Setelah itu baru saya putuskan kamu itu tidak apa-apa atau memang kenapa-kenapa." Abizar bersikukuh dengan keinginannya.

"Ehm, kalian sedang apa Mas Izar, Dek Nana?"

Mbak Rani!

Nah kan! Baru aja dibatinin, eh udah kejadian aja.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Buku Harian Seorang Pengacara Muda
Buku Harian Seorang Pengacara Muda
Dalam Buku Harian Seorang Pengacara Muda, Edward Cicero menghadapi dilema besar di sekolah hukum. Untuk memenangkan kasus melawan perusahaan asuransi, ia harus memilih antara melakukan kejahatan atau dikeluarkan. Simak kisah modern novel penuh intrik dan mystery story yang menegangkan ini.
Darah Sang Mafia
Darah Sang Mafia
Darah Sang Mafia mengisahkan Dastan, pembunuh berdarah dingin yang terjebak misi melindungi Dara. Di balik aksi dan rahasia kelam keluarga, mereka harus bertahan dari ancaman kematian. Baca mafia romance books ini untuk mengikuti perjuangan mereka keluar dari dunia kegelapan di web novel ini.
Ketika Dokter Menentang Perwira
Ketika Dokter Menentang Perwira
Dalam romance novel ini, Nayra terbangun di tahun 1975 sebagai Ratri yang dibenci. Sebagai dokter, ia harus mengubah reputasi buruknya demi bertahan hidup di asrama militer dan menghadapi sikap dingin Kapten Ardan. Baca kisah modern novel Ketika Dokter Menentang Perwira di webnovel ini.
LINTANG Telik Sandi 69 - Prahara di Tanah Kematian
LINTANG Telik Sandi 69 - Prahara di Tanah Kematian
Dalam LINTANG Telik Sandi 69 - Prahara di Tanah Kematian, Lintang menyamar demi mengungkap teror di Benua Swarna Dwipa. Petualangan penuh aksi dalam fantasy novel ini membawa timnya ke Tanah Kematian untuk menghentikan konspirasi global. Baca adventure story ini di web novel sekarang.
Love and Virus
Love and Virus
Dalam Love and Virus, Wizard, Alvaro, dan Emma berpacu dengan waktu menuntaskan wabah SES. Di tengah misi sci-fi penuh risiko ini, mereka menghadapi konflik cinta segitiga. Temukan petualangan medis mendebarkan dalam sci fi novels ini dan baca kelanjutan misinya di platform webnovel.
Mahkota Pewaris yang Dikhianati
Mahkota Pewaris yang Dikhianati
Dalam Mahkota Pewaris yang Dikhianati, Emilia bangkit melawan pengkhianatan keluarganya. Sebagai pewaris sah yang terbuang, ia mengungkap identitas aslinya sebagai dokter ternama. Nikmati modern romance novel penuh aksi ini saat ia membalas dendam dan menemukan pelindung baru dalam web novel ini.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Dendam Sang Putri: Kembali untuk Merebut Segalanya
Dendam Sang Putri: Kembali untuk Merebut Segalanya
Eliana kembali kepada orang tua kandungnya dan berusaha memenangkan hati mereka, tapi mereka lebih memilih anak angkatnya, mempercayai kebohongannya, hingga mendorong Eliana menuju kematian. Setelah terlahir kembali, Eliana melepas ikatan keluarga dan bersumpah merebut kembali segala yang hak miliknya. Dalam perjalanan balas dendam, hubungannya dengan Liam berkembang dari sekutu menjadi kekasih. Dendamnya terbalaskan, dan mereka meraih kebahagiaan bersama.
[Versi suara dubbing] Kandang Uang: Kesedihan Cinta
[Versi suara dubbing] Kandang Uang: Kesedihan Cinta
Suami yang kaya menentukan harga barang-barang di rumah besarnya. Istri bekerja 16 jam setiap hari selama 7 tahun, hingga akhirnya runtuh karena kanker. Anak perempuan tidak mampu membayar tagihan dan mencari bantuan, tetapi suami yang ter terpengaruh informasi salah menolak, yang menyebabkan kematian istri.
Empat Cewek Cantik Rebutan si Bos
Empat Cewek Cantik Rebutan si Bos
Denis adalah pria paruh baya kaya raya yang merahasiakan kekayaannya. Demi melindungi keluarganya, dia selalu menyembunyikan identitasnya selama sekian tahun. Dia bahkan setiap hari bekerja sebagai penjual mi goreng. Karena hal itulah mantan istrinya menghina dirinya miskin dan bercerai dengannya. Setelah bercerai beberapa tahun, secara kebetulan Denis menjadi juragan di rumah yang dihuni empat orang wanita. Si mantan istri yang dulu merendahkan dirinya pun muncul kembali di dalam kehidupannya.
Dewa Kejahatan
Dewa Kejahatan
Dia dituntut dan kehilangan nyawa untuk melindungi dunia. Tapi ini bukan akhirnya. Kembali dalam kebangkitannya, dia akan menghukum yang jahat dan mempromosikan yang baik, membawa keadilan yang sebenar! Sebarkan berita, dewa kejahatan masih hidup!
Sampai Mana Kamu Berani?
Sampai Mana Kamu Berani?
Ibu tunggal Rena menjalani hidup tenang bersama putrinya, Mina, hingga suatu hari sang konglomerat kejam, Dominic, menyakiti Mina. Rena pun membalas dendam dengan amarah yang menyala-nyala, yang menarik perhatian para pendukung Dominic yang berkuasa, termasuk Nigel yang sangat berpengaruh. Kemudian sebuah fakta mengejutkan terungkap, ternyata Nigel adalah ayah kandung Mina. Dalam siaran televisi nasional, Mina dengan berani bersaksi melawan ayahnya sendiri. Pada akhirnya, dengan perlindungan dari Saul, Rena dan putrinya berhasil menghancurkan konspirasi tersebut dan menyambut awal baru kehidupan mereka.
Ibu Bodohku Adalah Seorang Pahlawan Wanita
Ibu Bodohku Adalah Seorang Pahlawan Wanita
Semua orang mengira dia orang bodoh di pedesaan, tetapi dia sebenarnya adalah dewi perang yang menyelamatkan seluruh negeri.