Bab 1

Hari itu adalah perayaan ulang tahun Ryan ke-70 tahun. Aku baru pulang dari stasiun kereta api di tengah hujan lebat. Sesampainya di depan pintu rumah, aku menemukan pintu rumah terkunci.

Ketika mendengar suaraku, tetangga seberang rumah berkata dengan ekspresi bingung, "Tante Elita, kenapa Tante pulang? Om Ryan hari ini menikah, dia dan istrinya sekarang masih menginap di hotel!"

Aku tertegun. 'Menikah?'

Aku cerai dengan Ryan sebulan lalu. Namun, Ryan memberitahuku bahwa sahamnya rugi banyak dan memiliki utang.

Agar tidak memengaruhiku, dia menceraikanku tanpa pisah rumah.

Dengan dalih menghindari penagih utang, putraku mengantarku ke rumah lama dan memintaku tinggal di sana selama satu bulan.

Ternyata sekarang Ryan sudah menikah lagi?

Aku menunggu di depan pintu rumah sampai pukul sembilan malam. Saat itulah, Ryan baru pulang bersama dengan Linda di sampingnya.

Mereka berdua mengenakan pakaian merah dengan wajah berseri-seri. Saat mereka berpapasan denganku, ekspresi mereka berubah muram bersamaan.

"Ryan, jelaskan padaku, apa-apaan ini?"

Ryan menjawab dengan tenang, "Nggak perlu ribut. Karena kamu sudah melihat kami, aku akan memberitahumu. Aku dan Linda sudah menikah.

Linda memegang lengan Ryan dengan erat. "Ini semua salahku. Kak Ryan, bicaralah baik-baik dengannya."

"Buat apa? Elita, kita sudah cerai!"

Aku tertawa. "Ryan, kamu menceraikanku dengan dalih punya utang, ternyata kamu menikah lagi! Jadi, selama ini kamu membohongiku, 'kan?"

"Kamu kejam sekali! Aku bersedia cerai denganmu dan pergi tanpa membawa apa-apa. Selama puluhan tahun berkorban, ternyata kamu menjebakku!"

"Sahabat macam apa kamu, beraninya menikahi istri sahabatmu sendiri! Kalau sahabatmu tahu bahwa kamu menikahi istrinya, entah apa yang akan dia pikirkan tentangmu!"

Wajah Ryan merona merah saat mendengar kata-kataku. Para tetangga keluar. Setelah mendengar pernyataanku, mereka memandang Ryan dengan tatapan berbeda.

Suami Linda adalah sahabat Ryan. Sayang sekali, sahabatnya meninggal di usia 30 tahun. Sejak suaminya meninggal, kehidupan Linda dan anaknya menjadi susah. Aku tidak keberatan Ryan membantunya.

Bagaimanapun, hidup sendiri itu sangat sulit. Namun, saat itu Ryan memberikan setengah dari gajinya kepada Linda, sementara keluarga kami yang terdiri dari lima atau enam orang, termasuk mertua, hidup dalam kesulitan.

Aku pernah meminta Ryan mengurangi memberikan uang kepada Linda, tetapi Ryan berkata dengan ekspresi serius, "Linda kesulitan membesarkan anak seorang diri. Kalau aku nggak membantunya, hidupnya akan susah."

"Bagaimana aku harus menjelaskan ini kepada sahabatku setelah aku meninggal nanti?"

Akibatnya, aku hidup menderita dan harus hidup berhemat selama puluhan tahun.

Sebaliknya, Ryan justru membohongiku demi menikahi Linda.

Putraku yang berada di samping terlihat tidak senang. "Bu, kita bicara dalam rumah saja. Ini sudah pukul sembilan malam, jangan ganggu orang-orang istirahat."

Putraku membuka pintu, lalu mendorongku masuk.

Mereka bertiga duduk sambil menatapku.

Putraku mengatakan, "Bu, mereka sudah menikah, relakan saja!"

"Ayah dan Tante Linda sudah memendam rasa selama 40 tahun, akhirnya sekarang bisa bersama. Meskipun nggak suka, juga nggak ada gunanya!"

Mendengar hal itu, ada kekesalan dalam hatiku.

Ternyata putraku sudah mengetahui hubungan gelap mereka. Dia tega membohongiku demi membantu Ryan.

Padahal dia adalah anak kandungku sendiri. Saat melahirkan dia, aku mengalami persalinan yang sulit. Bahkan, selama mengandung dia, hidupku sangat susah dan kurang nutrisi, akibatnya dia lahir dengan berat badan yang kurang.

Demi dia bisa makan, aku berhemat.

Mirisnya, sekarang dia membantu ayahnya menceraikanku dan berpihak pada ayahnya.

Aku tertawa. Suara tawaku membuat mereka jengkel.

Ryan berkata, "Elita, kita berdua sudah nggak cocok, kamu pergilah. Aku masih berbaik hati dengan memberikan rumah lama kepadamu!"

"Bu, pergilah. Hari ini adalah hari pernikahan ayah, jangan mengacaukan kebahagiaan mereka. Pergilah!"

Putraku berdiri dan berusaha mengusirku, tetapi aku menepis tangannya dan menamparnya dengan keras!

"Juan, mulai sekarang kamu bukan anakku lagi!"

"Ryan, kamu akan dapat karma suatu hari nanti!"

Aku keluar sambil menyeret koper, lalu putraku mengejarku.

"Bu, pertimbangkan lagi. Tanpa aku, nggak ada yang akan merawat Ibu di masa tua nanti!"

"Tenang saja, kamu nggak perlu merawatku!"

Aku pergi tanpa menoleh sedikit pun. Meskipun aku sedih karena Ryan sudah membohongiku selama ini, di sisi lain, aku lega bisa lepas dari tanggung jawab di keluarga ini.

Mulai sekarang, menjaga Keluarga Malik menjadi tanggung jawab Linda!

Bukankah katanya mereka berdua saling mencintai?

Bab 2

Aku meninggalkan rumahku. Setelah keluar dari kompleks kecil itu, aku menghela napas panjang. Aku terima tawaran untuk tinggal di rumah lama yang diberikan Ryan.

Karena sekarang sudah malam dan hujan deras, aku menginap di hotel terdekat. Mengenai masalah lainnya, pikirkan besok saja.

Umurku sudah tidak muda lagi, setelah kehujanan, malam itu aku demam.

Ponselku terus berbunyi. Berbaring di ranjang dalam kondisi setengah sadar, aku mengangkat telepon. Yang meneleponku adalah Juan.

"Bu, besok pagi Henny kerja, aku juga ada rapat, besok Ibu antarkan Chike pergi ke sekolah!"

Aku menolak sambil memejamkan mata. "Aku nggak mau. Linda sudah jadi ibumu, suruh dia saja. Mulai sekarang, jangan ganggu aku lagi."

Juan seharusnya menyadari kondisiku dari suaraku yang serak, tetapi dia pura-pura bodoh.

"Bu, apa maksudnya? Meskipun ibu sudah cerai dengan ayah, aku masih anakmu, 'kan?"

"Bagaimana nasib ibu ke depannya? Ibu hanya mengandalkan uang pensiun dua juta per bulan itu?"

Aku menjawab dengan nada mengejek, "Berapa pun uang pensiunku, kamu bukan anakku lagi. Juan, kamu yang menginginkan wanita itu menjadi ibumu, aku kabulkan keinginanmu!"

Setelah itu, aku menutup telepon. Tenggorokanku sangat sakit. Aku memegang dahi, panas sekali. Apa boleh buat, aku harus memaksakan diri bangun.

Baru turun dari ranjang, aku langsung terjatuh ke lantai.

Mendengar suara aku jatuh, ada seseorang di depan pintu mengetuk pintu. "Tante nggak apa-apa? Tante habis jatuh, ya?"

Aku mengenali suara itu adalah suara petugas resepsionis. Aku menjawab dengan suara serak, "Sakit …."

Setelah melihat bayangan orang di balik pintu, aku langsung jatuh pingsan.

Saat aku terbangun, ternyata aku sudah di rumah sakit.

Selain perawat, tidak ada seorang pun di dalam kamar. Perawat itu memberitahuku bahwa staf hotel yang mengantarku ke rumah sakit. Karena terjadi sesuatu padaku, staf hotel membawa koperku sekalian ke rumah sakit.

Aku mentertawakan kondisiku yang sial ini.

Sekarang aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri.

Namun, itu tidak masalah bagiku. Aku sudah pernah merasakan hidup susah, demam ini hanya masalah kecil.

Sambil menepuk tanganku, perawat itu bertanya, "Nyonya, apa yang terjadi? Kenapa kamu sendirian?"

Aku menggelengkan kepala. "Suamiku membohongiku agar kami bisa bercerai. Sekarang dia menikah dengan wanita lain.

Perawat itu menepuk kaki mendengar kata-kataku. "Nggak kusangka, ada orang sekejam itu."

"Jangan khawatir. Setelah kesehatanmu pulih, kamu bisa memulai hidup baru. Kamu pasti bisa melewati kesulitan ini. Aku contohnya."

Perawat itu menepuk dirinya sendiri. "Sejak umur 30 tahun, aku sudah ditinggal suamiku dan membesarkan anak-anakku sampai dewasa seorang diri. Aku orangnya nggak bisa diam, jadi kerja sambilan di rumah sakit ini, jadi aku bisa menghabiskan waktu sambil mendapatkan penghasilan!"

"Dalam hidup ini, kita harus mengandalkan diri sendiri. Kita egois sedikit, juga nggak masalah. Di usia kita yang sudah nggak muda lagi, kita berhak merasa bahagia!"

Kata-kata perawat itu membuka pikiranku. 'Benar juga,' pikirku.

Saat Juan menghubungiku, dia mengancamku tentang uang pensiun.

Aku masih bisa bertahan hidup. Lagi pula, aku masih punya rumah lama dan tabungan pribadi.

Seberat apa pun kehidupanku saat ini, apa lebih berat daripada penderitaan yang kualami di kehidupanku yang dulu?

Bagaimanapun juga, harus memikirkan kebahagiaan diri sendiri.

Aku sudah mengorbankan separuh hidupku untuk Ryan, selanjutnya aku akan mengutamakan kebahagiaanku sendiri.

Setelah mengurus prosedur keluar dari rumah sakit, aku keluar dengan membawa koper. Cuaca hari ini cerah.

Ryan tidak pernah menghubungiku. Entahlah, lebih baik aku pulang ke rumah lama dulu.

Sesampainya di rumah, Juan menghubungiku.

"Bu, kenapa? Bukankah aku sudah meminta Ibu mengantar anakku sekolah?"

"Gara-gara Ibu, guru di sekolah menghubungiku berkali-kali!"

Bab 3

Mendengar putraku mengeluh, aku menjadi emosi.

"Juan, aku nggak berutang apa-apa padamu! Sudah kukatakan, kamu sudah bukan anakku lagi!"

"Bu, apa perlu berbuat sejauh itu? Kita hanya berdebat …."

"Sudah kubilang, mulai sekarang, jangan ganggu aku lagi!"

Aku langsung menutup telepon. Juan meluapkan emosinya melalui pesan singkat. "Bu, kamu keras kepala sekali! Pantas Ayah menceraikanmu!"

"Ibu keras kepala, kelak jangan bertemu denganku lagi. Jangan menyesal, ya!"

Aku tertawa dan langsung memblokir nomornya.

Yang membuatku paling menyesal adalah melahirkan dia dan membesarkan dia dengan susah payah. Pada akhirnya, anak kandungku tega membantu ayahnya untuk menceraikanku.

Anak seperti dia tidak pantas mendapatkan cintaku!

Setelah menutup telepon, suasana langsung hening.

Aku mulai memikirkan apa yang bisa kulakukan agar hari-hariku jauh lebih bermakna.

Saat akan menikah dengan Ryan, orang tuaku sudah memperingatkan bahwa Ryan bukanlah pria yang baik.

Mereka khawatir aku akan hidup menderita dan tahu bahwa aku tidak akan berubah pikiran, jadi mereka diam-diam memberiku bantuan.

Aku menilai kekhawatiran orang tuaku berlebihan. Namun, sekarang aku baru mengakui bahwa mereka sangat visioner.

Setelah kubuka koper dari mereka, aku mengeluarkan dokumen berisi sertifikat pembelian emas batangan dan saham yang mereka belikan untukku.

Semuanya kujual, total hasil penjualan hampir 60 miliar.

Aku meminta orang untuk mengurusnya. Saldo di rekeningku sudah membuatku tenang kembali.

Setelah itu, pandanganku tertuju pada sejumlah nenek berambut putih di depan gedung seni dan budaya.

Mereka mengenakan pakaian cerah sambil membawa kipas. Senyuman di wajah mereka menggetarkan hatiku.

Ketika masih muda, aku termasuk bunga desa. Aku pernah bergabung dengan grup seni, tetapi mengundurkan diri setelah menikah dan punya anak.

Boleh dibilang, aku memiliki keterampilan dasar tarian.

Setelah memperhatikan agak lama, tanpa sadar aku mengikuti beberapa gerakan mereka. Hal itu menarik perhatian mereka, bahkan ada yang mengajakku bergabung.

"Nyonya, kelihatannya kamu dulu penari, ya?"

"Puluhan tahun lalu, sudah lama kutinggalkan."

"Nggak masalah. Ayo bergabung dengan kami. Kebetulan ada kompetisi beberapa hari lagi, tapi kami kekurangan anggota. Apa kamu mau bergabung?"

Mendengar itu, aku agak ragu. Tanpa basa-basi, wanita itu memberiku kipas dan menarikku untuk bergabung dengan mereka.

Ketika musik dimainkan, tanpa sadar aku ikut menari. Setelah lagu ketiga dimainkan, aku bisa mengikuti gerakan mereka.

Hal ini membuat Yessie Atmadja, ketua grup tari sangat senang.

Yessie menarik tanganku. "Oke, sudah diputuskan, kamu gabung dengan tim kami. Dua minggu lagi, kami akan mengikuti kompetisi."

Aku berpikir tidak ada salahnya mencoba.

Minggu ini, setiap hari aku berlatih gerakan tarian mereka sampai malam. Dalam waktu singkat, aku menjadi ketua grup tari mereka.

Pada hari kompetisi, Yessie mengantar kami ke tempat kompetisi. Ada 50 tim lebih yang usianya kurang lebih sama dengan kami.

Aku terkejut. 'Lawan sebanyak ini, apa kami bisa menang?' pikirku.

Tepat setelah aku ganti pakaian, aku berpapasan dengan Ryan dan Linda.

Ryan melihatku dengan tatapan sinis.

"Elita, lihatlah penampilanmu! Pakai riasan dan pakaian yang mencolok, jelek sekali!"

"Bukan urusanmu!"

Ryan tertegun sejenak. Dia tidak menyangka bahwa aku berani mengatakan seperti itu padanya. Dulu setiap kali dia memakiku, aku tidak melawan.

Kata-kataku barusan membuatnya terkejut. Linda yang berada di sampingnya berkata, "Elita, jangan marah. Kak Ryan hanya mengkhawatirkan kamu ditertawakan. Menurut dia, kamu nggak seharusnya berada di sini."

Aku mengejeknya. "Justru menurutku, dia yang nggak seharusnya berada di sini! Kami sudah bercerai, nggak perlu ikut campur dengan urusanku!"

Ryan marah. "Kurang ajar!"

"Ayo pergi, aku mau lihat pertunjukannya hari ini, aku akan beri dia skor nol!"

Aku tertegun. 'Jurinya adalah Ryan?'

"Berhenti! Sambil berteriak, aku maju menghalangi Ryan. "Kalau kamu balas dendam dengan cara ini, aku nggak akan mengampunimu!"

Sambil menatapku, Ryan berkata dengan sinis, "Coba saja! Elita, Juan memberitahuku bahwa kamu nggak memedulikan cucumu sendiri. Kalau kamu mau membantu putramu, hari ini aku nggak akan balas dendam. Kalau nggak, rasakan akibatnya nanti!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B60411" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B60411
Salin

Gapai Mimpi di Usia Senja

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya