Bab 1
Suamiku adalah operator di menara kontrol bandara. Di kehidupan sebelumnya, ketika cuaca buruk akibat badai petir membuat putri kami mengalami serangan jantung, aku segera menghubungi suamiku untuk mengatur agar pesawat yang kukemudikan bisa mendarat lebih dulu.
Namun akibatnya, pesawat yang ditumpangi Wina, kekasih lama suamiku, terkena badai petir dan jatuh sehingga menyebabkan seluruh penumpang tewas.
Semuanya berjalan seperti biasa seolah-olah tidak ada yang berubah. Sampai di hari ulang tahun putri kami, suamiku mengunci kami di rumah dan membakar tempat itu hidup-hidup.
"Kalau bukan karena kamu mendarat lebih dulu, pesawat Wina nggak akan mengalami kecelakaan!"
"Aku yakin, anakmu waktu itu baik-baik saja. Kamu cuma iri sama Wina, makanya kamu tega menyebabkan kematian ratusan orang yang nggak bersalah!"
Aku dan putriku berusaha untuk melawan sekuat tenaga. Namun, semua usaha kami hanya sia-sia. Kami mati dalam kesakitan yang tak tertahankan.
Saat membuka mata lagi, aku mendapati diriku kembali ke hari saat putriku mengalami serangan jantung. Kali ini, suamiku langsung memutus kontak denganku. Namun, saat dia mendengar putri kami benar-benar meninggal, dia mendadak kehilangan akal sehat.
Putriku memegangi dadanya dengan penuh kesakitan. Tubuhnya terkulai lemas di lantai, wajah kecilnya sudah membiru keunguan. Penumpang di pesawat berteriak panik dan segera mengelilingi putriku.
Dengan suara gemetar, aku mencoba menghubungi menara kontrol. Namun, yang terdengar hanya tawa dingin dari Sheldon, "Jangan cari alasan! Anakmu cuma punya masalah jantung ringan. Ini cuma akal-akalanmu biar bisa mendarat duluan!"
"Demi kepentinganmu sendiri, kamu mengabaikan nyawa ratusan orang di pesawat ini. Kamu benar-benar menjijikkan!" Mendengar kata-kata itu, tubuhku seolah-olah terjatuh ke dalam lubang es. Tampaknya, Sheldon juga telah bereinkarnasi.
Ingatan masa lalu tentang api yang menyiksa dan membakar tubuhku masih terasa jelas. Rasa sakit yang menjalar dari kedalaman jiwaku membuatku menghela napas berat. Sambil tetap mengendalikan pesawat, aku berseru, "Sheldon, kamu nggak paham kondisi putrimu! Atas dasar apa kamu bicara seperti itu?"
"Dia benar-benar ...."
Tiba-tiba suara listrik berderak-derak terdengar, sinyal terganggu sesaat, dan kemudian Sheldon langsung memutuskan komunikasiku dengan menara kontrol.
Kopilot yang panik segera memanggilku, "Kak, putrimu sepertinya nggak akan bertahan ...."
Erangan putriku yang penuh penderitaan terdengar di telingaku dan membuatku gemetaran. Aku kembali mencoba menghubungi menara kontrol, tetapi suara rekan lain yang menyahut terdengar jengkel, "Bu Jeanette, Sheldon sudah bilang sama kami semuanya."
"Kamu cuma khawatir sama cuaca buruk dan ingin mendarat lebih cepat, 'kan? Untuk apa bohong dengan alasan putrimu sekarat? Lakukan saja sesuai prosedur! Jangan banyak alasan lagi!"
Di tengah-tengah komunikasi, terdengar seruan lega dari Sheldon, "C1876 sudah berhasil mendarat! Nggak ada masalah." C1876 adalah pesawat yang membawa Wina, orang yang dianggap Sheldon sebagai cinta sejatinya.
Seorang rekan bertanya, "Apa kita harus mengatur pendaratan untuk Bu Jeanette? Menurut urutan, giliran dia sekarang."
Namun, Sheldon hanya mendengus dingin dan berkata acuh tak acuh, "Biarkan dia menunggu! Bukannya dia bohong supaya bisa mendarat lebih dulu? Biar dia rasakan bagaimana rasanya didahului!"
Rekan tersebut memutuskan komunikasi, sekaligus memutuskan harapan terakhir putriku untuk bertahan hidup.
Kopilot mengabarkan bahwa putriku memanggil namaku dengan suara yang penuh kesakitan. Dia mengambil alih kendali pesawat, memberiku sedikit waktu untuk bergegas ke sisi putriku.
"Maaf, Bu ...," ucap putriku dengan bibir yang membiru sambil menyunggingkan senyum getir. "Kalau kita bisa memulai lagi, aku cuma bisa menemanimu sampai di sini ...."
Perlahan-lahan, matanya tertutup dan lengannya terkulai lemas. Aku menjerit penuh penderitaan, tubuhku gemetar dikuasai kemarahan yang luar biasa.
Namun di saat itu juga, kopilot berteriak cemas, "Kak Jeanette, sepertinya ada badai petir di depan!"
Aku tak punya waktu untuk berlarut-larut dalam kesedihan. Aku tahu, situasi ini sama persis dengan yang pernah kualami di kehidupan sebelumnya. Tugasku yang paling utama saat ini bukanlah meratapi kehilangan.
Aku harus memastikan keselamatan lebih dari 300 orang di pesawat ini dan melakukan pendaratan dengan selamat!
Bab 2
Aku kembali menghubungi menara kontrol. Sheldon berkata dengan tidak sabaran, "C2991 lagi ada masalah, harus mendarat lebih dulu! Kalian tunggu dulu sambil putar-putar di udara."
Dengan tegas aku menjawab, "Ada indikasi badai petir di sekitar posisi kami ...."
Sheldon tertawa sinis, "Sudahlah, Jeanette. Demi keselamatanmu sendiri, kamu bisa ngarang kebohongan apa saja! Apa sekarang sudah nggak ada alasan putrimu hampir mati?"
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha keras mengendalikan emosiku, "Sheldon, kamu sedang melakukan pelanggaran prosedur. Ada lebih dari 300 nyawa di pesawat ini!"
"Kamu juga nggak menghargai 300 lebih nyawa di pesawat lainnya!" jawab Sheldon dengan nada tajam, "Sejak awal, yang kamu pikirkan hanya keselamatanmu sendiri. Egois sekali kamu!"
Di sisi lain, terdengar suara lembut dari Wina, "Wah, Kak Sheldon, jadi ini menara kontrol ya. Aku belum pernah ke sini sebelumnya ...."
Hatiku yang kupikir tak akan lagi terusik, seketika hancur berkeping-keping.
Putriku dulu sangat penasaran dengan tempat kerja ayahnya dan berkali-kali dia meminta untuk melihatnya. Di hari ulang tahunnya yang ke-6, aku membantunya mengajukan permintaan itu sebagai hadiah ulang tahun.
Namun, Sheldon menolak tanpa ragu, "Dia sudah sebesar itu, kenapa masih saja kekanak-kanakan begini? Itu bukan tempat yang bisa dimasuki orang sembarangan!"
Namun sekarang, putriku bahkan belum lama meninggal, Sheldon justru membawa Wina masuk ke menara kontrol. Dengan suara dingin, aku berkata, "Sheldon, kalau pesawat ini mengalami kecelakaan, kamu juga akan mendapatkan sanksi!"
"Kamu tahu seberapa besar usahaku dulu supaya kamu bisa tetap kerja di bandara ini setelah sanksi yang kau dapatkan?"
"Omong kosong!" Sheldon menyela dengan tawa sinis.
Di hadapan mikrofon, dia berbicara dengan nada keras, "Jeanette, kamu benar-benar menjijikkan! Kamu kira aku nggak tahu semuanya? Kalau bukan karena Wina yang mengurus sanksi itu, aku mungkin sudah kehilangan pekerjaan dari dulu!"
"Sedangkan kamu ... dulu kamu bukan cuma mengabaikanku, sekarang malah mengaku-ngaku itu jasamu. Menjijikkan sekali!"
Dengan tidak percaya, aku berbalik bertanya padanya, "Kamu bilang itu berkat dia? Mana mungkin. Jelas-jelas waktu itu ...."
Namun, sambungan komunikasi kembali terputus. Semua penjelasan yang ingin kusampaikan tak pernah sempat didengar olehnya. Aku tahu, selama ada Wina di sampingnya, dia tidak akan mendengarkan ucapanku sama sekali meskipun telah kujelaskan berkali-kali.
Ketika menikah dengan Sheldon, aku sama sekali tidak tahu bahwa dia menyimpan perasaan pada orang lain. Aku memberikan seluruh cintaku sepenuhnya untuk suamiku. Aku berpikir kami akan menua bersama. Di mata orang lain, kami adalah keluarga kecil yang harmonis dan bahagia.
Namun ketika putri kami berusia 5 tahun, Wina kembali ke negara ini. Awalnya, Sheldon hanya sering melamun dan pulang semakin larut. Karena kepercayaanku padanya, aku tak pernah menanyakan lebih jauh.
Sampai suatu hari, Sheldon tiba-tiba membuat kesalahan besar. Katanya, dia melamun saat mengatur lalu lintas udara yang hampir menyebabkan dua pesawat bertabrakan.
Kesalahan ini begitu serius hingga pihak bandara langsung menangguhkan Sheldon dan membuatnya terancam kehilangan pekerjaannya. Demi mempertahankan pekerjaannya, aku meminta bantuan dari berbagai pihak.
Aku bahkan berkali-kali minum hingga mabuk berat dan mengalami pendarahan lambung hingga harus dirawat di rumah sakit dan hampir kehilangan nyawa.
Aku harus mengambil cuti seminggu penuh untuk dirawat dan tidak berani memberi tahu Sheldon mengenai hal itu. Aku berbohong padanya dengan mengaku sedang berlibur. Hanya dengan usaha keras itu, dia bisa mempertahankan pekerjaannya meskipun tetap menerima satu sanksi.
Namun, siapa yang menyangka bahwa kini Sheldon menganggap jasa itu sebagai milik Wina? Tak heran, sejak saat itu, Sheldon mulai memperlakukanku dengan sangat dingin. Sebaliknya, Wina menjadi prioritas utamanya dalam segala hal.
Saat jari Wina terluka, dia meninggalkan putri kami yang sedang demam tinggi dan segera pergi menemuinya. Ketika Wina merasa tertekan, Sheldon yang tak pernah memasak sebelumnya, rela turun ke dapur untuk menyiapkan makanan demi menghiburnya.
Di kehidupan sebelumnya, setelah Wina mengalami insiden, Sheldon hanya terdiam lama tanpa berkata apa pun. Aku berpikir, mungkin dia akhirnya sadar bahwa kami adalah keluarganya. Namun, kenyataan baru menyadarkanku saat dia mengunciku dan putri kami di rumah.
Dia tidak pernah berubah pikiran. Yang dia lakukan hanyalah menunggu kesempatan untuk membalas dendam demi wanita yang dicintainya.
Bab 3
Dengan penuh kemarahan, tanganku gemetar saat mencoba menelepon ulang Sheldon. Namun kali ini, menara kontrol benar-benar memutuskan semua komunikasi dengan pesawat kami. Bukan hanya Sheldon yang tidak mau membantu, aku juga tak bisa lagi menghubungi rekan-rekan lainnya untuk meminta pertolongan.
Pesawat terus berguncang hebat. Suara ribut, teriakan, dan tangisan dari kabin penumpang terdengar hingga ke dalam kokpit. Ketika seorang pramugari masuk, suara makian penumpang pun terdengar jelas.
"Pesawat macam apa ini? Apa aku akan mati di sini hari ini?"
"Aku dengar ini semua karena masalah pribadi si pilot! Gila, perempuan sialan ini menyeret kita semua ke dalam bencana!"
"Apa lagi yang dia tunggu? Cepat keluar untuk minta maaf!"
Bahkan ada yang memaki putriku, "Katanya anak ini anak pilot! Kalau bukan karena dia, kita nggak akan mengalami kecelakaan ini!"
Namun, ada juga yang masih berpikir jernih dan mencoba menenangkan yang lain, "Tolong jaga sikap kalian! Kita semua belum mati, 'kan? Kita harus percaya sama pilot!"
Semua ucapan mereka, berbagai ekspresi dan sikap manusia, semuanya tampak jelas di saat genting seperti ini.
Dengan suara gemetaran, pramugari berkata, "Bu Jeanette, situasi di luar semakin sulit dikendalikan ...."
Aku menatap panel instrumen yang penuh dengan tombol dan indikator, lalu menarik napas panjang dan menoleh ke kopilot, "Hector, kita hanya bisa mengandalkan diri kita sendiri."
Wajah Hector pucat pasi dan berkeringat deras.
"Kau siap?" tanyaku. Dia menarik napas dalam, lalu menatapku dengan mantap dan mengangguk, "Siap."
Kami benar-benar telah ditinggalkan oleh menara kontrol. Agar tidak mengganggu penerbangan lain dan tidak mengacaukan jalur mereka, aku memutuskan untuk terbang ke arah perairan yang tak dilalui rute penerbangan biasa.
Dengan penuh perjuangan, kami berhasil menghindari badai petir dan akhirnya mendarat darurat di lautan dengan selamat.
Di saat-saat terakhir itu, hampir semua penumpang yang tadinya mencaci maki kini telah terdiam. Semua orang menutup mata. Ada yang diam, ada yang menangis, semuanya seolah-olah tengah menunggu "kematian" menghampiri mereka.
Namun, saat pesawat berhasil mendarat dengan aman di permukaan laut, seluruh penumpang langsung berdiri. Mereka membungkuk hormat padaku. Tiga ratus enam puluh nyawa di pesawat ini. Semua selamat, kecuali putriku.
Di rumah sakit, aku menatap tubuh putriku yang kini tertutup kain putih lekat-lekat. Emosi yang telah lama kutahan akhirnya pecah. Mataku memerah dan aku tak mampu lagi menahan isak tangis. Tak pernah terbayangkan olehku bahwa aku berhasil menyelamatkan lebih dari 300 orang, termasuk diriku sendiri. Namun, aku justru kehilangan putriku sendiri.
Hector menghela napas panjang dan mencoba menenangkanku, "Bu Jeanette, di luar sudah banyak wartawan yang menunggu untuk mewawancarai Anda. Bagaimana kalau Anda keluar dulu, biar saya yang urus anak Anda di sini ...."
Aku mengusap air mataku, lalu memegang tangan putriku yang kini dingin dan kaku. Setelah menguatkan diri, aku beranjak keluar. Namun di tengah jalan, aku bertemu dengan Sheldon dan Wina.
Begitu melihatku, Sheldon langsung tertawa dingin, "Lihat siapa yang datang, sang pilot heroik. Jadi, bukannya tadi bilang anak kita sudah mati? Anak kita sudah mati, tapi kamu masih punya waktu untuk diwawancarai?"
Amarahku membuncah hingga ke ubun-ubun. Tanpa berpikir panjang, aku langsung maju dan mencengkeram kerah bajunya sambil berteriak marah, "Sheldon, kamu ngomong apaan! Itu anak kandungmu!"
Sheldon menepis tanganku dengan tawa dingin, "Anak kandung apaan? Anak itu sama sepertimu, egois dan munafik! Memang benar kata pepatah, 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya'. Punya ibu seperti kamu, nggak heran kalau dia tumbuh jadi pembohong yang menjijikkan!"
Tubuhku gemetar hebat karena marah dan wajahku semakin pucat. Aku nyaris tak mampu berdiri tegak, tetapi Sheldon tidak peduli. Dia justru merangkul Wina dengan lembut, lalu berkata dengan penuh perhatian, "Wina terlalu baik, sampai-sampai bisa kamu perlakukan seperti ini ...."
Aku tertawa getir, "Sheldon, kamu tahu nggak, putri kita benar-benar sudah tiada ...."
Sheldon hanya tertawa sinis, "Mati? Bagus sekali! Aku malah berharap dia pergi jauh, jadi kalian berdua nggak bisa lagi mengganggu Wina!"
Dendam dalam hatiku semakin membara, "Sheldon, jangan menyesal."
Dia hanya tertawa remeh, "Kalau aku sampai menyesal, kupotong kepalaku untuk dijadikan bola."
Baru saja dia selesai bicara, seorang perawat datang tergesa-gesa dari ujung lorong, "Bu Jeanette, surat kematian putri Anda sudah kami siapkan. Tolong segera hubungi pihak pemakaman agar jenazah anak Anda bisa segera diurus."
Wajah Sheldon berubah pucat seketika.