Bab 2
“Kak Leon, Kak Leon, sudah belum? Sekarang giliranku!”
Wilbert menyaksikan dari samping dengan rasa iri.
“Ngapain kau terburu-buru? Hampir kelar kok, aku bisa merasakannya!”
Leon kemudian mempercepat gerakannya.
Dia mengerang dan berbaring di atasku tanpa bergerak.
“Sekarang giliranku, sekarang giliranku.”
Wilbert terlihat sangat tidak sabaran.
Leon turun dari tubuhku sambil mengumpat, lalu Wilbert naik ke atas tubuhku lagi.
Aku merasa sangat tercela melihat mereka bergiliran melecehkanku hingga dua tetes air mata darah mengalir dari sudut mataku.
“S-s-s-s-!”
Wilbert tiba-tiba menjerit dan segera mundur.
“Ada apa lagi?”
“Dia ... dia nangis! Dia masih hidup!” Wilbert menunjuk sudut mataku dengan sangat ketakutan.
Saat Leon mengamati, ekspresinya tiba-tiba berubah.
Dia mendekat dan menyentuh air mata darah yang mengalir dari sudut mataku, sambil menyipitkan matanya.
“Sial, jangan-jangan kita bawa pulang roh jahat. Tapi, ini juga nggak terlihat seperti roh jahat!” Leon bergumam dengan ekspresi aneh di wajahnya.
“Kak Leon, gimana ini?” Wilbert menarik tangan Leon dengan panik.
Leon berpikir, wajahnya berubah serius lalu mengumpat, “Sialan! Sekalipun itu roh jahat, aku ikhlas menerimanya! Siapa yang pernah bermain dengan roh jahat yang begitu cantik sebelumnya?”
“Kak Leon, kau …” Wilbert hampir menangis.
“Kenapa? Emang kau bisa dapatkan cewek di desa ini? Kau mau nggak? Kalau nggak mau, pergilah!”
Setelah Leon berkata demikian, Wilbert terlihat bimbang.
Ekspresinya berubah, dia menggertakkan giginya dan menyerbuku lagi.
“Mau! Toh sudah kumulai, terserah deh apa yang terjadi kemudian!”
Setelah mengatakan itu, Wilbert mulai beraksi lagi.
Aku sangat membenci kedua perampok kuburan ini.
Sungguh biadab! Bahkan mayat pun diperkosa!
Setelah selesai, Wilbert pun keluar.
Malam itu, Leon datang ke tempat tidur dan memperkosaku dua kali lagi.
Aku yang awalnya marah menjadi mati rasa pada akhirnya.
Aku sudah mati, apa lagi yang bisa kulakukan?
Aku menghela napas dan tiba-tiba teringat tadi aku meneteskan air mata.
Aneh, aku sudah mati, mengapa masih bisa menangis?
Mereka juga bilang tubuhku masih hangat dan elastis. Ini sungguh aneh.
Meskipun aku tidak tahu sudah berapa lama aku meninggal, tapi pasti sudah cukup lama, karena segala hal di sekitarku begitu asing bagiku.
Namun aku tidak berubah menjadi tulang-belulang. Sebaliknya, tampak hidup. Mengapa?
Pada hari-hari berikutnya, Leon dan Wilbert bergantian melecehkanku.
Lambat laun, aku menyadari aku bisa menggerakkan jari-jariku!
Meskipun hanya gerakan ringan selama beberapa saat, ini sudah sebuah keajaiban bagiku yang telah meninggal beberapa tahun.
Satu-satunya hal yang kubenci adalah kedua perampok kuburan itu tampaknya makin terobsesi dengan mayatku.
Mereka semakin sering datang.
Sampai akhirnya, mereka bahkan jaga di sisiku, tidak kemana pun lagi.
Aku melihat mereka berdua makin kurus dari hari ke hari dan menjadi sangat lemah.
Namun, seiring dengan kelemahan mereka, aku bisa menggerakkan lebih banyak jariku. Seketika aku sepertinya mengerti sesuatu.
Sepertinya aku bisa bergerak karena aku menghisap aura mereka, sama seperti hantu wanita di novel mistis?
Aku tidak tahu berapa hari telah berlalu, Leon dan Wilbert sudah sekurus tiang.
“Kak Leon, aku nggk bisa lagi, nggak kuat lagi.” Wilbert menggaruk lehernya dan berkata dengan lelah.
Leon juga lelah, “Aku juga, aku istirahat dulu, baru lanjut ... ! Wilbert, kau ... kau ... ”
Wilbert menatap Leon dengan aneh sambil mencengkeram lehernya sendiri dengan kuat, “Kenapa?”
“Jangan garuk lagi! Kulitmu bahkan sudah lepas!” Leon menekan tangan Wilbert.
Baru pada saat itulah Wilbert menyadari dia telah menggaruk semua kulit di lehernya sampai berdarah!
“Arrgghh!”
Wilbert berteriak ngeri dan terduduk.
Wajahnya panik, tapi dia tidak bisa mengendalikan tangannya untuk menggaruk dirinya.
“Kak Leon! Aku sangat gatal!” Wilbert berteriak, gerakan tangannya tak berhenti.
Saat Leon menatap Wilbert demikian, dia sendiri merasa gatal dan tanpa sadar juga menggaruk dirinya.
Tak lama kemudian, Leon juga menggaruk dirinya sendiri hingga berdarah.
Melihat keadaan mereka berdua yang menyedihkan, aku membuka mata dan tersenyum kecut.
Bab 3
“Arrgghh! Hantu! Hantu!”
Ketika Leon dan Wilbert melihat senyum anehku ini, mereka langsung ketakutan.
Namun beberapa saat kemudian, mereka mulai menggaruk tubuh mereka lagi.
Tak berapa lama kemudian, mereka berdua pun berdarah- darah, tanpa sepotong kulit yang utuh di tubuh mereka.
Aku sangat puas melihat keadaan mereka yang menyedihkan.
Inilah ganjaran mereka setelah berhari-hari melecehkan tubuhku.
Meskipun perilaku mereka aneh, aku tidak berdampak sama sekali. Aku saja masih bisa bertahan dalam keadaan demikian, maka tak heran lagi dengan keadaan mereka.
Teriakan Leon dan Wilbert menarik perhatian orang-orang desa.
Ketika mereka datang untuk memeriksa, mereka melihat dua gumpalan sosok manusia berdarah di lantai.
Semua orang terkejut dan segera berlari keluar.
“Waduh! Apakah itu Leon dan Wilbert?”
“Dari pakaiannya sepertinya iya!”
“Bagaimana mereka bisa menjadi seperti ini?”
“Rasain, pasti dapat ganjaran itu! Sudah berapa banyak kuburan yang mereka gerebek? Mereka mungkin dihantui.”
Mendengar kata-kata itu, wajah para penduduk desa menjadi semakin takut.
“Mau ngapain, untuk apa kalian semua berkumpul di sini?”
Seorang pria paruh baya mendorong masuk ke dalam kerumunan.
“Kepala Desa!”
“Kepala Desa, Leon dan Wilbert dibunuh oleh hantu!”
Kepala desa langsung mengumpat, “Omong kosong! Mana ada hantu di siang bolong gini?”
Dia berjalan menuju rumah.
Aku menatapnya dengan ironis, dan melihat dengan jelas ekspresi ngeri di wajahnya.
Dia memaksakan diri untuk tenang, pandangannya menyapu sekilas kamar dan melihat aku terbaring di tempat tidur.
Matanya langsung berbinar.
Aku melihat nafsu di matanya sama seperti saat Leon dan Wilbert menatapku.
Aku tersenyum sinis.
“Nona?”
Kepala desa melangkahi tubuh Leon dan Wilbert dan menghampiriku.
Aku hanya bisa menggerakkan jari dan ekspresi wajahku sekarang, masih tidak dapat berbicara, jadi aku hanya mengedipkan mata padanya.
“Bisu?” Mata kepala desa berbinar sejenak lalu dia berteriak, “Suruh dua wanita kemari! Sambil bawakan satu setel pakaian lagi!”
Penduduk desa di luar juga melihat aku terbaring di tempat tidur, masing-masing dengan ekspresi terobsesi di wajah mereka.
Ekspresi kepala desa menjadi muram lalu dia keluar dan mengusir semua orang.
Tak lama kemudian, dua orang wanita masuk, mengganti pakaianku dan menggendongku ke rumah kepala desa.
“Nak! Nak! Keluarlah, Ayah telah mendapatkan istri untukmu!”
Kepala desa berteriak begitu dia memasuki rumah.
“Haha, ... istri! Istri!”
Tak lama kemudian, seorang pria jangkung muncul di depanku.
Dia terlihat seperti orang bodoh dengan tatapan kusam dan ingus serta air liur di wajahnya.
Dia terkikik dan bergerak ke arahku.
“Nak, jangan terburu-buru, tunggu aku adakan upacara nikah untukmu dulu.” Kepala desa tersenyum sambil membujuk putranya yang bodoh itu.
Dia memanggil istrinya untuk memandikanku, lalu mengganti pakaianku dengan satu set pakaian pengantin berwarna merah.
Aku tak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku saat melihat pantulan diriku yang mengenakan pakaian pengantin di cermin.
Aku tidak menyangka bahwa pertama kali aku mengenakan pakaian ini adalah setelah aku mati dan untuk menikah dengan orang bodoh.
Semua orang desa segera mengetahui kalau putra kepala desa akan menikah.
Semua penduduk desa datang ke rumah kepala desa untuk melihat siapa yang menikahi putra kepala desa yang bodoh itu.
Malam itu, aku dibawa ke aula oleh istri kepala desa untuk menjalankan upacara nikah bersama putranya yang bodoh.
Aku seperti boneka yang dikendalikan orang dengan seenaknya.
Tak lama kemudian, upacara pernikahan pun selesai.
Penduduk desa mulai berteriak-teriak ingin melihat seperti apa pengantin wanita itu.
Kepala desa tertawa dan mengangkat tudung merah di kepalaku, “Lihat! Cantik sekali, kan?”
Ketika penduduk desa melihat wajahku, mereka semua tercengang.
Tapi ada juga penduduk desa yang menunjukkan ekspresi aneh, mereka adalah penduduk desa yang pergi ke rumah Leon pada siang hari tadi.
Melihat reaksi semua orang, kepala desa tertawa puas dan membawaku ke dalam kamar bersama putranya yang bodoh.
Aku kira aku akan dilecehkan oleh putra bodoh ini, tapi di luar dugaanku, orang yang terlebih dahulu melecehkanku adalah ayahnya.