Bab 7

Para anggota Keluarga Yossef tercengang, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Dokter, jangan bercanda, deh. Pemuda itu hanya menekan beberapa titik di tubuh Kakek secara acak. Apa masuk akal kalau dia menyembuhkan penyakit semematikan itu?"

"Itu, sih, bukan kedokteran, melainkan teologi!"

"Benar, semua orang juga bisa, kok!"

Dokter Sogan mengerutkan kening dan berkata, "Nggak, nggak, walaupun terlihat gampang, menekan titik akupunktur adalah keahlian teknis dalam pengobatan tradisional. Hal ini tak sesederhana itu ...."

Simon melambaikan tangannya dan menyela, "Baiklah, baiklah, jangan dibicarakan lagi. Dokter, mari minum teh, keluarga kami mempunyai koleksi teh bunga kualitas terbaik!"

Mau tak mau, Dokter Sogan pun menyerah. Mau bagaimana lagi, para anggota Keluarga Yossef sangat kukuh dan menolak mendengar pendapatnya.

Setelah beberapa saat, Keluarga Yossef akhirnya meminta Dokter Sogan pulang.

Johan berkata dengan tidak senang, "Menurutku, si Dokter Ilahi itu nggak sehebat reputasinya. Siapa pun bisa melihat bahwa dia adalah dokter yang biasa-biasa saja!"

Simon menimpali sambil meraba janggutnya, "Itu wajar saja, Dokter Sogan juga sudah berumur. Sudahlah, lagi pula dia bukan penanggung jawab sebuah rumah sakit nasional. Wajar kalau dia sesekali melakukan kesalahan."

"Ayah, apakah kita akan membiarkan hal ini begitu saja? Aku bahkan ditampar oleh bocah sialan itu!" ujar Julian dengan marah, bekas tamparan merah masih terpampang dengan jelas di wajahnya.

Simon tertawa sinis dan menjawab, "Tentu saja tidak. Namanya Deon, pegawai di bagian penjualan grup kita, 'kan? Membalas dendam padanya tentu bukan hal sulit."

"Maksud Ayah ..." ujar kedua saudara itu dengan bersemangat.

Tampaknya, mereka tengah merencanakan sebuah konspirasi!

....

"Apa kamu belum puas merabaku?"

Tidak lama setelah meninggalkan Vila Willowtree, Luna melepaskan tangan Deon dan menatapnya dengan dingin.

"Sekarang sudah lewat sepuluh menit dari waktu yang disepakati!"

"Maaf, Bu Luna, ingatanku nggak bagus," jawab Deon dengan canggung

Walau berbicara seperti itu, nyatanya Luna merasa sangat nyaman di bawah sentuhan Deon sampai hampir tidak tahan ....

"Kamu lihat sendiri, 'kan? Aku menyuruhmu kemari hanya untuk membantuku menggagalkan pertunanganku, jadi jangan terlalu terbawa perasaan dan mengira aku benar-benar tertarik padamu."

Sambil memeluk dadanya, Luna berujar kata demi kata, "Kamu hanyalah anak magang dengan gaji 7 juta dan hanya memiliki ijazah SMA, sedangkan aku memiliki gelar doktor dari luar negeri dan merupakan wakil presiden sebuah grup besar. Setengah dari pria di Kota Sielo memujaku dan menginginkanku. Kita bagaikan langit dan Bumi, ketahuilah bahwa bintang di langit nggak akan pernah melirik ikan dan udang yang hidup di sungai."

"Baiklah, apa aku boleh pulang sekarang?" balas Deon dengan tenang.

Luna terkejut. Tujuannya berbicara panjang lebar adalah untuk memadamkan ilusi Deon dan mengintimidasinya, tetapi Deon tampak tidak peduli sama sekali.

Benar saja, seseorang yang sudah terbiasa dengan dunia mafia seperti Deon tidak mudah goyah karena hal-hal sepele seperti ini. Di bawah situasi dan tekanan apa pun, dia akan selalu tenang.

Ketika Luna melihat reaksi Deon, dia kecewa sekaligus marah. Sulit dipercaya bahwa dia memberikan kali pertamanya kepada pria seperti itu!

Luna hendak berbalik dan pergi, tetapi matanya tak sengaja menangkap mata-mata Keluarga Yossef yang sedang memperhatikannya tidak jauh dari sana!

Dia pun buru-buru menarik pakaian Deon dan berkata, "Tunggu sebentar! Aku nggak bilang kamu boleh pergi, 'kan?"

Merasa frustrasi, Deon bertanya, "Bu Luna, apa ada hal lain yang perlu dibicarakan? Bukankah misi menggagalkan pertunanganmu sudah selesai?"

Karena dia telah membantu Luna, bukankah perbuatannya terhadap Luna di kantor telah ditebus?

Luna mengangkat dagunya dan menjawab dengan dingin, "Ikuti saja perintahku."

"Lagi? Kali ini ke mana?" tanya Deon yang kebingungan.

Namun, Luna sama sekali tidak memberikan penjelasan apa pun dan hanya menarik lengan Deon hingga mereka kembali ke dalam mobil.

Mobil Luna melesat ke pusat kota dan tiba di sebuah gedung perkantoran.

Deon tiba-tiba menyadari sesuatu dan bertanya, "Kantor Catatan Sipil? Tunggu, jangan bilang ...."

"Kamu nggak berhak bertanya."

Detik selanjutnya, Luna menarik lengan Deon dan berjalan ke dalam kantor, lalu berkata, "Permisi, kami mau mengajukan akta nikah."

Petugas wanita di balik kaca ketakutan karena mengira bahwa Luna menculik Deon, tetapi kalau dipikir-pikir lagi, itu hal yang mustahil.

Bagi pria yang buluk dari atas ke bawah seperti Deon, bisa menikahi seorang wanita cantik yang bermartabat dan kaya raya tak diragukan lagi adalah sebuah berkat!

Pendaftaran akta nikah selesai dalam sepuluh menit.

Deon masih kebingungan dan membatin, 'Apakah aku benar-benar sudah menikah? Itu pun dengan wanita bernama Luna ini, yang notabene adalah atasan langsungku yang baru kutemui hari ini!'

Luna menghadap Deon, mengangkat alisnya dan berkata, "Kamu nggak penasaran kenapa aku melakukan hal ini?"

Deon menjawab dengan canggung, "Bu Luna, aku sudah bertanya berkali-kali, kamulah yang belum menjawab sampai sekarang."

Luna hanya terdiam seolah-olah hal demikian tidak pernah terjadi. Sebaliknya, dia mengubah topik pembicaraan dan menjelaskan, "Aku memintamu berpura-pura menjadi tunanganku supaya aku nggak dipaksa menikah dengan Harlan Tier, Tuan Muda Keluarga Tier, tapi keluargaku sulit dikelabui. Aku yakin mereka akan berusaha sebisa mungkin untuk menemukanku dan menyewa seseorang untuk mengikutiku. Karena itu, kamu harus terus bekerja sama denganku sampai misi ini selesai! Ingat, kamu harus memainkan peran ini dengan baik!"

Setelah Luna selesai menjelaskan, dia mengantar Deon ke sebuah vila di pinggiran kota tanpa menanyakan persetujuannya terlebih dahulu, kemudian berkata dengan serius, "Ini rumahku. Mulai sekarang, kamu boleh tinggal di sini, setidaknya tiga kali seminggu. Hanya dengan cara inilah aku bisa meyakinkan keluargaku."

"Kamarku di lantai dua. Kamu nggak boleh mengintip, apalagi masuk! Awas saja kalau kamu berani coba-coba!"

Melihat Luna naik duluan, Deon akhirnya bertanya, "Bu Luna, lantas aku harus tidur di mana?"

"Lantai pertama sangat luas, tidur saja di salah satu sofa itu," jawab Luna dengan acuh tak acuh.

Deon tidak bisa berkata-kata lagi.

Andai sifat Deon masih sekeras dulu, wanita ini pasti sudah dia hukum ....

"Oh, iya, di lantai satu juga ada ruang peralatan, kurasa ruangan itu juga bisa dijadikan tempat tidur setelah dirapikan," ucap Luna sambil menyeringai dengan sarkastik. "Deon, jangan lupa bahwa kamu itu pegawaiku. Kamu harus mematuhi keputusan atasanmu, ya!"

Atasan setingkat direktur memang keterlaluan, bukan? Deon menghela napas dengan tidak berdaya dan terpaksa menuruti Luna.

Deon merenungkan entah kenapa dirinya bisa begitu tidak beruntung hari ini, entah kenapa dia harus berpapasan dengan Luna di kantor ....

Di malam hari ....

Setelah sekian lama, Deon selesai menata dan mengubah ruang peralatan menjadi kamar tidurnya.

Tepat di saat itu ....

Mata Deon menangkap gerakan bayangan hitam yang sangat cepat!

Cepat sekali!' batin Deon dengan cemas, pupil matanya gemetar dan dia bergumam pada dirinya sendiri, "Siapa itu?"

Apakah ada yang berencana membunuh Luna?

Bab 8

Dengan gerakan yang cepat, Deon maju ke depan bayangan tersebut dalam sekejap dan memukulnya dengan sekuat tenaga.

Namun, bayangan tersebut hanya mundur beberapa langkah.

Deon benar-benar terkejut.

Meskipun Deon hanya menggunakan sepersepuluh dari kemampuannya yang sebenarnya, di Negara Nozil hanya ada segelintir orang yang mampu menangkal serangannya.

Aku nggak boleh menganggap remeh orang ini. Siapa, sih, yang Luna singgung? Kenapa musuh Luna sekejam ini?' batin Deon.

Pria itu sama sekali tidak memedulikan Deon dan bergegas ke lantai dua.

Melihat arah yang dituju orang itu, Deon berkeringat dingin! Dia tidak akan membiarkan orang itu masuk ke kamar Luna. Kalau tidak dicegah, Luna pasti akan mati!

Namun, Deon kembali ragu karena Luna tidak mengizinkannya naik ke lantai dua.

Peduli amat! Menyelamatkan nyawa seseorang jauh lebih penting!

Kalau nanti Luna memarahinya, biar saja dia marah sepuasnya!

Jantung Deon berdetak kencang. Dia segera berlari secepat kilat, tetapi dia menyadari bahwa bayangan hitam tersebut telah memasuki kamar Luna.

"Bu Luna! Hati-hati, seseorang telah memasuki kamarmu!"

Deon menerobos masuk, tetapi malah dikagetkan oleh pemandangan di hadapannya.

Luna baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah dan dia hanya mengenakan handuk. Lekuk tubuhnya yang montok dan seksi hampir membuyarkan konsentrasi Deon!

Di sisi lain, Deon yang masuk ke kamar Luna tanpa izin tanpa sengaja memegang handuk di badan Luna. Akibatnya, handuk itu jatuh ke lantai bersamaan dengan bunyi dentang.

Kini, tubuh cantik Luna terpampang dengan jelas!

Dalam sekejap, udara di dalam kamar seolah membeku, tetapi mata Luna bagaikan gunung berapi yang meletus!

"Bu Luna, aku ...."

"Keluar! Kalau nggak, aku akan memecatmu sekarang juga!" seru Luna sambil menutupi tubuhnya dan memelototi Deon dengan tatapan sedingin es!

Deon terpaksa keluar, diikuti suara pintu yang dibanting hingga tertutup rapat.

Deon berseru dengan cemas, "Bu Luna, aku nggak bermaksud mengintipmu, aku yakin ada gangster dengan niat jahat yang baru saja masuk ke kamarmu!"

Pintu terbuka sekali lagi. Luna kini sudah mengenakan piyama sutra dan berjalan keluar dari kamar sambil memasang ekspresi sedingin puncak gunung es, lalu berkata, "Aku akan memberimu waktu lima menit untuk menangkap gangster yang kamu sebutkan itu. Kalau nggak ketemu, awas saja nanti!"

Kamar Luna sangat luas dengan ukuran kurang lebih seratus meter persegi.

Deon masuk tanpa ragu dan menemukan sesuatu di balkon!

Dia berlari ke balkon dan hampir tersandung saat melihat pakaian Luna yang digantung. Ada celana dalam berpola berwarna putih, blus renda, rok mini dan lain-lain ....

Ternyata, Luna memiliki sisi yang tidak tertebak.

Deon merasakan pipinya memanas, tetapi bayangan hitam itu tiba-tiba muncul lagi, jadi Deon mengejarnya secara refleks sambil berseru, "Jangan coba-coba kabur!"

Bayangan hitam itu melompat dari balkon disusuli oleh Deon.

Deon berhasil menyusulnya dalam satu menit, tetapi saat dilihat dari dekat ....

Ekspresi Deon tiba-tiba berubah, lalu dia berkata dengan marah sekaligus geli, "Killan? Ternyata kamu?"

Sosok hitam itu menoleh, memperlihatkan wajahnya yang tampan dan berwibawa, lalu berlutut dengan satu kaki dan berkata, "Aku, Killan Nobu, memberi penghormatan kepada Raja Gangster!"

"Sekarang kamu sudah menjadi Dewa Perang termuda di Negara Nozil, Dewa Perang Killan. Kamu nggak perlu berlutut di hadapan seorang bekas tentara sepertiku," balas Deon sambil menghela napas.

Killan menjawab dengan hormat, "Bagi aku dan lima juta tentara lainnya di Provinsi Xino, Kak Deon tetaplah satu-satunya Raja Gangster Negara Nozil!"

"Aku hanya tak habis pikir bahwa seseorang semenakutkan dirimu, yang membuat para musuh Barat takut dan cemburu, kini bersembunyi di sebuah kota kecil kelas tiga dan bekerja sebagai pegawai kantoran!"

Deon tersenyum tipis dan berkata, "Maksudmu, kamu ingin mengujiku karena dulu aku adalah Raja Gangster yang biasanya hobi membantai orang saat marah, tapi sekarang berubah menjadi pekerja kantoran biasa?"

Mendengar pertanyaan ini, Killan seketika berkeringat dingin dan berkata, "Aku telah bersikap kelewatan! Tolong tenang, Raja Gangster. Sebagai bentuk permintaan maaf, aku akan memotong lenganku!"

Deon berkata, "Tak perlu begitu, aku bukan lagi Raja Gangster dan telah melepaskan semua hak istimewaku. Tujuanmu datang kemari bukan hanya untuk menyusulku, 'kan?"

Di mata banyak orang, Deon yang dulu adalah iblis penjagal yang menginjak tumpukan mayat dan mengarungi lautan darah untuk naik ke puncak.

Akan tetapi, setelah mencapai puncak kekuasaan, Deon merasakan kesepian yang tak berujung dan dia kerap bersikap buruk layaknya iblis.

Maka dari itu, dia pensiun tanpa paksaan, tanpa meminta imbalan apa pun dan kembali ke kampung halamannya.

Dia lelah membunuh orang tiap hari dan hanya ingin hidup bersama keluarganya sembari menikmati hangatnya kasih sayang keluarga.

Kini, temperamennya telah berubah drastis karena dia berusaha memperbaiki sifat buruknya.

Killan berkata dengan tegas, "Benar, Kak Deon. Sebenarnya, aku datang atas kepercayaan orang-orang penting di ibu kota."

"Awalnya, mereka takut pada Raja Gangster yang pasukannya nggak terbatas, tapi mereka menyadari sesuatu. Begitu Sang Raja Gangster pergi, kumpulan-kumpulan mafia luar negeri yang dulunya sudah nggak aktif malah datang menyerang mereka!"

"Di antara kumpulan-kumpulan tersebut, Organisasi V yang terkuat diam-diam telah menyelinap ke daratan Negara Nozil. Kedatangan mereka dapat mengancam keamanan nasional! Organisasi tersebut bahkan telah menghabisi beberapa veteran perang yang legendaris!"

Lalu, Killan melanjutkan laporannya dengan nada meremehkan, "Para pemabuk di ibu kota ketakutan hingga ketar-ketir. Organisasi V sangat kejam sampai nggak ada seorang pun di seluruh Negara Nozil yang bisa menaklukkannya, kecuali Kak Deon, Raja Gangster!"

"Beri tahu mereka bahwa aku akan bergerak, tapi bukan demi mereka, melainkan demi rakyat Negara Nozil," jawab Deon dengan serius.

"Kapan hari, mari kita bahas hal ini lagi secara mendetail. Untuk sekarang, pergilah dulu dan jangan sampai ketahuan siapa pun!"

Asik! Mendengar janji Deon bahwa dia akan kembali beraksi, Killan mengepalkan tinjunya dengan penuh semangat dan pergi tanpa suara.

Sebelum pergi, Killan mengembalikan Kartu Raja Gangster kepada pemilik aslinya, Deon.

Deon pun kembali ke vila.

Di sana, dia melihat Luna berdiri di depan pintu kamarnya. Luna kemudian berkata dengan nada dingin, "Di mana gangster yang kamu sebutkan itu?"

Deon tersenyum dengan terpaksa dan berkata, "Aku nggak melihat siapa pun, mungkin aku sedang berhalusinasi."

Sebenarnya, percakapannya dengan Killan adalah rahasia militer yang tidak boleh diungkapkan.

Karena itu, Deon terpaksa membuat alasan.

Namun, setelah Luna mendengar penjelasan ini, dia tertawa sinis dan berkata, "Halusinasi, ya? Halusinasi bisa membuatmu menerobos kamarku tanpa mengucapkan sepatah kata pun, begitu? Deon Pastillo, memangnya kamu nggak ada alasan lain yang lebih masuk akal? Kamu benar-benar membuatku jijik!"

Kalau Luna tidak menghargai bantuan Deon hari ini, dia pasti sudah mengusirnya.

"Aku peringatkan, ya! Lain kali, aku nggak akan mau dekat-dekat lagi denganmu!"

Luna berbalik dan pergi, mengunci pintu kamar dan membuang handuk yang telah disentuh Deon ke tempat sampah.

Lalu, dia menarik napas dalam-dalam dan membatin, 'Aku benar-benar salah menilai pria ini! Awalnya, kukira sifatnya nggak mungkin seburuk itu, tapi hari ini dia membuktikan bahwa semua pria di dunia ini sama saja! Menjijikkan!'

Di sisi lain, Deon tidak peduli tentang kesalahpahaman itu. Dia kembali ke ruang peralatan dan tertidur pulas.

Keesokan harinya saat Deon bangun, dia menyadari bahwa Luna sudah berangkat kerja duluan. Ternyata wanita itu memang gila kerja.

Sebelum berangkat kerja, Deon mampir ke rumah untuk memberi tahu ibunya kenapa dia tidak pulang semalaman.

Saat dia baru saja tiba di rumah, dia malah melihat pasangan kencan butanya kemarin, Cindy, bersama ibunya, Camila. Mereka duduk di dalam rumah sembari berbicara dan tertawa riang.

Melihat Deon pulang, mata keduanya langsung berbinar.

"Deon, kami mencari tahu identitas wanita yang kemarin datang menemuimu. Dia adalah Luna Yossef, Wakil Presiden Grup Lixon, bukan? Apakah dia menyukaimu? Berapa banyak uang yang dia berikan padamu?"

Bab 9

Henni berdiri di belakang mereka dengan ekspresi canggung. Deon langsung bisa menebak bahwa Cindy dan ibunya masuk secara paksa.

Raut wajah Deon menjadi kusut. Dia tak menyangka kedua wanita itu sebegitu tak tahu malu. Dia sudah pernah menghadapi wanita dengan sifat seperti itu sebelumnya, tetapi ini adalah pertama kalinya dia menghadapi yang semenyebalkan ini!

Kalau dia memberi tahu mereka bahwa dia dan Luna saling jatuh cinta, Cindy dan ibunya pasti akan menjilatnya mati-matian dengan harapan bisa mendapatkan sebagian dari harta Luna!

Karena itu, Deon langsung menjawab dengan setengah hati, "Maaf kalau jawabanku mengecewakan kalian, tapi Bu Luna adalah bosku. Dia datang menemuiku karena alasan pekerjaan dan langsung pergi setelah menyelesaikan masalahnya."

Ketika Cindy dan Camila mendengar ini, ekspresi mereka tiba-tiba berubah.

"Apa? Ternyata dia bosmu, ya? Apa kubilang? Mustahil seorang gadis sehebat Luna bisa menyukainya."

"Mengecewakan sekali! Sial!"

Mereka pun pergi sambil mencaci maki dan mengambil kembali hadiah yang mereka bawa.

Di saat yang bersamaan, sebuah pesan teks dari Killan masuk ke ponsel Deon. Pesan itu berbunyi, "Kak Deon, 10 triliun telah ditransfer ke Kartu Raja Gangster. Aku berinisiatif memilih dan membeli sebuah komplek perumahan atas namamu. Ke depannya, silakan gunakan dana di dalam kartu ini sesuka hati."

Deon secara spontan menggeleng-geleng. Bocah bernama Killan itu memang gemar melakukan hal seperti ini.

"Nak, abaikan saja mereka. Ke mana saja kamu semalaman? Kamu membuat Ibu khawatir saja!" ucap Henni dengan cemas.

Deon tersenyum dan berkata, "Bu, jangan khawatir, aku nggak mungkin tidur di jalanan. Oh, iya. Kita masih memiliki utang luar negeri sebesar ratusan juta dan belum dilunasi, bukan? Bagaimana kalau kita bayar dengan uangku saja ...."

Henni langsung menyelanya dengan cemas, "Nak, kamu hanyalah seorang pegawai biasa. Gajimu juga hanya beberapa juta per bulan. Dari mana kamu mendapatkan uang untuk melunasi utang itu? Apakah kamu habis melakukan hal yang buruk?"

Deon buru-buru berkata, "Itu mustahil. Ibu berpikir terlalu jauh."

"Syukurlah kalau begitu. Ayahmu memutuskan untuk bekerja di tambang ilegal bersama teman-temannya karena berusaha menghasilkan uang, tapi sayangnya dia meninggal karena tanah longsor. Kamu nggak boleh terlibat dalam hal-hal yang melanggar hukum, paham?" ucap Henni dengan sungguh-sungguh. "Urusan uang dan utang, lebih baik kita bergotong royong mencari solusi, jangan terlalu membebani dirimu sendiri."

Deon mengangguk dengan patuh.

Karena khawatir ibunya terlalu menganggap serius hal ini dan bersikeras menyelidiki asal muasal uangnya, dia terpaksa merelakan gagasan melunasi utang dengan dana Kartu Raja Gangster.

Setelah menghibur ibunya, Deon bergegas ke stasiun kereta bawah tanah untuk berangkat kerja.

Dia bekerja di sebuah divisi kecil di bawah Departemen Penjualan Grup Lixon. Walau skalanya tidak besar, bekerja di bawah departemen ini merupakan tekanan yang besar.

Begitu dia masuk ke kantor, dia melihat beberapa rekannya sedang ditegur atasan mereka, Jason Kore.

"Apa-apaan kalian? Selama dua bulan berturut-turut, performa penjualan kalian masih belum mencapai target! Otak kalian semua hanya diisi kotoran, ya?!"

Dua teman baik Deon, Mina dan Dimas, juga dimarahi sampai telinga mereka hampir berdarah, terutama Mina yang habis ditampar oleh Jason hingga wajahnya membengkak!

Deon tidak tahan lagi dan langsung berjalan ke hadapan atasannya, Jason, lalu berkata, "Pak Jason, seingatku dalam aturan dasar perusahaan ada aturan bahwa karyawan tidak boleh dianiaya atau dipukuli ...."

Jason melirik Deon dengan tajam dan berkata, "Deon? Kamu karyawan baru yang bahkan belum melewati masa magang, beraninya kamu mengkritik tindakanku? Jangan lupa, kinerjamu sendiri juga sama buruknya. Dilihat dari gerak-gerikmu, sepertinya kamu sudah siap kehilangan pekerjaanmu, ya?"

Mina dan Dimas buru-buru menahan Deon sambil memohon, "Kak Deon, tenanglah, kami nggak apa-apa, kok."

Keduanya adalah karyawan tetap dan tidak keberatan merasa canggung selama beberapa hari setelah dimarahi oleh Jason. Namun, kalau Deon membuat Jason kesal selama dia masih magang, dia pasti akan dihukum.

Bahkan ada kemungkinan dia akan dipecat dalam hitungan menit!

Deon berkata dengan tegas, "Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mempunyai hak istimewa untuk memukul atau menganiaya karyawan. Pak Jason, meskipun Bapak adalah atasan kami, Bapak tetap harus minta maaf!"

Deon tahu bahwa Jason hobi mengatur semua orang di departemen ini, mempermainkan pegawai baru dan menggoda karyawan wanita.

Biasanya Deon mengabaikannya, tetapi dia tidak tahan kalau masalahnya menyangkut teman-temannya.

Melihat reaksi Deon yang berani, Jason tertawa sinis dan berkata, "Kamu memintaku meminta maaf? Aku nggak salah dengar, 'kan? Kamu pikir kamu ini siapa?"

Deon menjawab dengan tenang, "Aturan dasar perusahaan menetapkan bahwa tak peduli posisinya, setiap orang setara dan harus saling menghormati. Pak Jason, apakah menurutmu dirimu berada di atas aturan dasar perusahaan?"

Amarah Jason makin menjadi-jadi. Dia pun berkata, "Oh, jadi kamu mau menantangku dengan buku peraturan? Oke, kamu mau membela teman-temanmu, 'kan?"

"Kalau begitu, bantulah mereka berdua mencapai target penjualan dalam waktu tiga hari! Kalau berhasil, aku akan memaafkan mereka! Tapi kalau kalian gagal, kamu harus berkemas dan undur diri!"

Dengan wajah pucat, Dimas buru-buru berkata, "Kak Deon, jangan mengiakan begitu saja! Kami ditugaskan menjual Teh Adem, produk kesehatan keluaran terbaru Grup Lixon, tapi produk ini belum masuk pasar. Memperoleh penjualan dari produk ini adalah hal yang sama sekali mustahil!"

Tak hanya itu, Jason bahkan menetapkan target penjualan sebesar empat miliar per bulan!

Darren dan Mina telah berusaha sebaik mungkin dengan membeli dan meminum teh ini sendiri sampai perut mereka tak sanggup lagi, tetapi mereka hanya berhasil mendapatkan penjualan sebesar 200 juta sejauh ini.

Membantu keduanya mencapai target penjualan sebesar empat miliar dalam waktu tiga hari adalah hal yang mustahil!

Deon tertegun sejenak, kemudian berkata, "Kalau aku bisa mencapai target mereka dalam satu hari, apa Bapak akan meminta maaf?"

Jason juga tertegun sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Empat miliar dalam satu hari? Hahaha! Kamu kira kita lagi bermain Monopoli? Kalau kamu benar-benar bisa melakukannya, tak hanya membiarkanmu terus bekerja di sini, aku juga akan tunduk dan memohon maaf pada kalian!"

"Kalau aku bisa melakukannya dalam lima menit, Bapak harus meminta maaf sambil berlutut dan bersujud tiga kali, setuju?" tanya Deon lagi.

Mendengar tantangan ini, rekan-rekan Deon di seluruh departemen tercengang.

Ucapan Deon memang tidak pernah bisa ditebak!

Apa benar pria ini adalah anak magang yang biasanya selalu hidup tenang tanpa perlawanan itu?

Jason menggertakkan gigi dan berseru, "Kamu ini cuma datang buat mencari gara-gara, ya?!"

Dimas dan Mina juga buru-buru berusaha meyakinkan Deon, "Kak Deon, bertindak tanpa berpikir bisa membawa petaka! Menggarap empat miliar dalam lima menit itu mimpi yang konyol!"

Tidak, untuk memimpikannya saja mereka tidak berani!

"Aku nggak akan mengingkar janjiku. Pak Jason, sepertinya kamu takut, ya?"

Melihat Jason menginjak-injak para bawahannya membuat Deon kesal.

Namun, Deon hanya melakukan hal yang benar!

"Haha! Kenapa cemas begitu? Nggak sabar ingin dipecat, ya? Baiklah, aku akan membantumu mewujudkannya! Ayo, sini! Kalau kamu bisa melakukannya, aku akan langsung berlutut!" jawab Jason sambil menyeringai, matanya berkilap licik.

Faktanya, ini adalah jebakan yang Jason rencanakan. Pagi hari ini, Julian, paman Luna sekaligus direktur Grup Lixon, datang menemuinya, lalu memberinya dua miliar dan memintanya merencanakan skenario untuk mengusir Deon.

Jadi, Jason memanfaatkan perihal penjualan untuk menimbulkan masalah, tetapi Deon malah berinisiatif maju. Rencananya berjalan dengan sempurna!

Jason mengeluarkan ponselnya dan menyetel pengatur waktu sambil berkata, "Deon, lima menit itu waktu yang sangat singkat, loh!"

Menurut sepengetahuannya, penilaian performa Deon dalam beberapa bulan terakhir selalu nyaris tidak lulus.

Kemampuannya dalam menarik pelanggan tentu tidak sebanding dengan Mina dan Darren!

Karena itu, pemagang pemula seperti dirinya tidak mungkin bisa menaklukkan tantangan sesulit ini!

Di sisi lain, Deon mengeluarkan ponselnya dengan tenang dan membuka aplikasi buku kontak. Seorang kenalannya di Kota Sielo tebersit di benaknya. Deon yakin orang ini bisa membantunya.

"Halo, Murray Zune? Ini aku, Deon. Aku ingin memintamu melakukan sesuatu!"

Murray Zune?!

Mendengar sapaan ini, semua orang di kantor tercengang. Bukankah Murray Zune Walikota Sielo?

Setelah Mengetahui Rahasia Bos Wanitaku, Aku Terkena Masalah Besar

Bab 7
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya