Bab 6

Mendengar ucapan Deon, semua anggota Keluarga Yossef naik pitam dan mulai mencaci maki Deon.

"Apa-apaan orang ini? Benar-benar tak beradab!"

"Benar! Berani-beraninya dia mengutuk Kakek seperti itu!"

"Orang yang lebih rendah dari binatang sepertinya nggak pantas diberikan uang! Lebih baik dia dipukul sampai mati lalu dibuang ke laut!"

"Sampah masyarakat memang seperti itu. Hanya melihatnya saja membuatku merasa buang-buang waktu!"

Dengan ekspresi masam, Simon berujar, "Hei, bocah. Apa kamu sadar apa yang baru saja kamu katakan? Minta maaflah dan aku akan melupakan masalah ini."

Bagi orang yang sudah berumur, dikutuk mati di depan orang lain adalah hal yang sangat tabu.

Deon mengerutkan kening dan menjawab, "Tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Tak lama lagi kamu akan mati."

Ekspresi Simon langsung menjadi tegang, tetapi dia berusaha menahan amarahnya dan berkata dengan nada mengancam, "Coba kamu ulangi ucapan itu satu kali lagi."

"Kakek, jangan salah paham, dia ini orang bodoh yang selalu asal bicara," sela Luna sambil menatap Deon dengan bingung.

"Deon, berhenti beromong kosong. Minta maaf kepada Kakek sekarang juga, lalu pergi! Urusanmu di sini sudah selesai!"

Bagaimanapun, Deon adalah karyawan Luna. Karena situasinya berbahaya, Luna merasakan kewajiban untuk melindungi Deon.

Merasa kesabarannya mulai terkikis, Deon pun berkata, "Memang benar, kok. Sebentar lagi kamu akan mati, harus kuulangi berapa kali lagi? Apa kalian semua tuli?"

Bagaikan menambahkan minyak ke api, ucapan tersebut membuat Keluarga Yossef merasa seolah telah disambar petir.

Ekspresi Simon makin kusut, pembuluh darah bermunculan di sekujur tubuhnya dan paru-parunya kembang kempis karena marah.

"Aku tak akan membiarkanmu lepas! Kamu ... akan mati di sini!" gertak Simon.

Luna buru-buru menyela dengan cemas, "Kakek, dia adalah pegawai kita ...."

"Tutup mulutmu! Aku nggak peduli siapa dia, akan kupastikan dia mati hari ini!" seru Simon sambil membelalak. "Johan, Julian!"

"Ya, Ayah!" jawab keduanya dengan sigap.

"Tutup pintunya dan perintahkan semua preman kita kemari. Aku akan membunuh bajingan sialan ini sampai nggak bersisa!"

Simon tengah marah-marah, tetapi dia tiba-tiba merasakan rasa sakit yang menusuk di seluruh tubuhnya.

Detik selanjutnya, dia terjatuh ke lantai dan darah mengalir dari berbagai lubang di tubuhnya!

"Ayah!"

"Kakek!"

Para anggota Keluarga Yossef kaget setengah mati karena tidak menyangka hal ini, lalu segera berlari menghampiri Simon dengan tergesa-gesa.

Simon adalah pria tua yang sehat dan kuat, lantas kenapa dia tiba-tiba jatuh dan berdarah?

Luna juga bergegas ke sisi Simon sambil memerintah, "Bawa Kakek ke rumah sakit secepatnya! Kakek sekarat!"

Namun, hal ini sangat tidak terduga dan kondisi Simon memburuk dengan kecepatan yang tak tertolong. Saat ini, dia bahkan kesulitan bernapas dan berdarah dari mana-mana!

Hal ini membuat para anggota Keluarga Yossef merasa ngeri. Dari kediaman mereka, dibutuhkan setidaknya setengah jam untuk sampai ke rumah sakit terdekat.

Di tengah kericuhan, Deon perlahan berjalan ke sisi Simon dan menekan tiga titik akupunktur di tubuhnya. Di luar dugaan, hal ini membuat Simon merasa sedikit lebih lega.

Para anggota Keluarga Yossef memandang Deon dengan tidak percaya dan mulai bergumam, "Jangan-jangan bocah itu bisa melihat penyakit Kakek yang tidak kita ketahui?"

"Pak tua, di sini hanya aku sendiri yang mampu menyelamatkanmu. Kalau aku nggak mengobatimu, kamu akan mati dalam lima menit," ujar Deon dengan santai.

Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun di Provinsi Xino, keterampilan medis Deon berkembang secara luar biasa.

Dari awal, Deon sudah melihat napas Simon yang tidak teratur, bahkan gagal organnya sudah mencapai titik ekstrem. Dari depan, dia memang terlihat baik-baik saja, tetapi begitu mencapai titik kritis, dia tidak tertolong lagi!

Kebetulan, hari ini dia mencapai titik kritis tersebut.

Simon menggertakkan gigi dan berkata, "Kalau begitu, cepat selamatkan aku! Aku akan memberimu dua miliar!"

Deon menggeleng dan berkata, "Aku tidak menginginkan uangmu. Aku hanya ingin kamu berjanji nggak akan mengancam Bu Luna dengan mencabut posisi wakil presidennya. Anggap saja aku sedang membalas budi kepadanya."

Luna tertegun sejenak dan merasakan emosi campur aduk karena tidak menyangka Deon akan mengajukan permintaan seperti itu.

Mendengar permintaan ini, para anggota Keluarga Yossef marah-marah dan berkata, "Bocah terkutuk! Berani-beraninya kamu mengancam kami? Kamu pikir kamu siapa? Siapa yang memberimu hak untuk mengancam kepala Keluarga Yossef dan seluruh keluarga kami?"

Namun, saat ini Simon hampir sekarat. Meskipun dia merasa amat kesal, dia akhirnya berseru, "Baiklah! Aku berjanji, sekarang selamatkan dulu aku!"

Deon segera memulai pengobatannya dengan menekan ketiga titik akupunktur di tubuh Simon secepat kilat ....

Kurang dari satu menit kemudian, Simon telah pulih dan kembali ke keadaan semula.

Seluruh Keluarga Yossef tercengang. Menyelamatkan pasien sekarat hanya dalam satu menit adalah hal yang sangat mencengangkan!

"Nah, karena aku sudah menepati janjiku, aku harap kamu akan menepati janjimu juga," ujar Deon sambil menyeringai.

Pipi Simon kembang kempis karena kesal, tetapi dia harus melaksanakan tanggung jawabnya sebagai kepala Keluarga Yossef.

Dengan enggan, dia berkata, "Ya, sudah! Luna akan menjadi wakil presiden Grup Lixon seterusnya. Keluarga Yossef tidak akan mencabut posisinya!"

Luna tidak dapat memercayai hal ini. Apa benar pria ini adalah kakeknya yang mahakuasa dan tidak pernah menunduk kepada siapa pun itu?

Setelah itu, Deon kembali menjadi tamu dan menggenggam tangan Luna sambil berkata, "Bu Luna, ayo pergi."

Setelah keduanya pergi ....

Johan dan Julian mengepalkan tangan mereka dengan marah.

"Dasar bocah sialan! Bisa-bisanya dia mencari kesempatan dalam kesempitan!"

"Kukira dia mengobati Ayah dengan keterampilan medis yang luar biasa, ternyata cuma titik-titik akupunktur saja! Kalau cuma begitu, aku juga bisa! Dasar penipu!"

Pada saat ini, seorang pembantu tiba-tiba masuk dan melapor, "Pak, tadi kami menghubungi Dokter Sogan, seorang ahli pengobatan tradisional yang tinggal di dekat ibu kota, beliau sudah tiba!"

"Apa? Sialan, cepat suruh dia masuk!" pinta Simon. Mendengar kabar ini, dia merasa menyesal.

Andai dia tahu bahwa Dokter Ilahi Sogan tinggal di dekat rumahnya, dia tidak akan mau menyetujui syarat yang diajukan Deon!

Melihat Dokter Sogan masuk sambil menenteng kotak peralatan medis, Simon tersenyum pahit dan berkata, "Dokter datang terlambat. Penyakitku nggak serius dan sudah diobati seorang pemuda, itu pun hanya dengan menekan beberapa titik akupunkturku."

"Oh, begitu rupanya, sayang sekali. Kalau begitu, bagaimana kalau kuperiksa denyut nadimu dan merawatmu sampai sembuh sepenuhnya?" ujar Sogan sambil tersenyum sopan.

"Boleh juga," jawab Simon sambil mengangguk.

Dokter Sogan meletakkan tangannya pada denyut nadi Simon dengan terampil, tetapi begitu dia merasakan nadinya, Sogan terjatuh ke lantai dengan ekspresi ketakutan dan berkeringat deras.

"Pak Simon! Dosa apa yang pernah kulakukan terhadapmu? Untuk apa kamu berbohong padaku?!"

"Apa?" tanya Simon dengan bingung.

"Penyakitmu disebabkan oleh menurunnya lima titik vital manusia. Bisa dibilang, ini merupakan gejala yang tak dapat disembuhkan dalam sejarah pengobatan tradisional, tapi penyakit di tubuhmu ini sudah diobati sepenuhnya. Hanya dokter terbaik di Negara Nozil yang bisa melakukan hal seperti itu!" jelas Sogan dengan terkesima. "Kenapa kamu malah berbohong padaku dan berkata bahwa kamu diobati seorang pemuda biasa?!"

Bab 7

Para anggota Keluarga Yossef tercengang, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Dokter, jangan bercanda, deh. Pemuda itu hanya menekan beberapa titik di tubuh Kakek secara acak. Apa masuk akal kalau dia menyembuhkan penyakit semematikan itu?"

"Itu, sih, bukan kedokteran, melainkan teologi!"

"Benar, semua orang juga bisa, kok!"

Dokter Sogan mengerutkan kening dan berkata, "Nggak, nggak, walaupun terlihat gampang, menekan titik akupunktur adalah keahlian teknis dalam pengobatan tradisional. Hal ini tak sesederhana itu ...."

Simon melambaikan tangannya dan menyela, "Baiklah, baiklah, jangan dibicarakan lagi. Dokter, mari minum teh, keluarga kami mempunyai koleksi teh bunga kualitas terbaik!"

Mau tak mau, Dokter Sogan pun menyerah. Mau bagaimana lagi, para anggota Keluarga Yossef sangat kukuh dan menolak mendengar pendapatnya.

Setelah beberapa saat, Keluarga Yossef akhirnya meminta Dokter Sogan pulang.

Johan berkata dengan tidak senang, "Menurutku, si Dokter Ilahi itu nggak sehebat reputasinya. Siapa pun bisa melihat bahwa dia adalah dokter yang biasa-biasa saja!"

Simon menimpali sambil meraba janggutnya, "Itu wajar saja, Dokter Sogan juga sudah berumur. Sudahlah, lagi pula dia bukan penanggung jawab sebuah rumah sakit nasional. Wajar kalau dia sesekali melakukan kesalahan."

"Ayah, apakah kita akan membiarkan hal ini begitu saja? Aku bahkan ditampar oleh bocah sialan itu!" ujar Julian dengan marah, bekas tamparan merah masih terpampang dengan jelas di wajahnya.

Simon tertawa sinis dan menjawab, "Tentu saja tidak. Namanya Deon, pegawai di bagian penjualan grup kita, 'kan? Membalas dendam padanya tentu bukan hal sulit."

"Maksud Ayah ..." ujar kedua saudara itu dengan bersemangat.

Tampaknya, mereka tengah merencanakan sebuah konspirasi!

....

"Apa kamu belum puas merabaku?"

Tidak lama setelah meninggalkan Vila Willowtree, Luna melepaskan tangan Deon dan menatapnya dengan dingin.

"Sekarang sudah lewat sepuluh menit dari waktu yang disepakati!"

"Maaf, Bu Luna, ingatanku nggak bagus," jawab Deon dengan canggung

Walau berbicara seperti itu, nyatanya Luna merasa sangat nyaman di bawah sentuhan Deon sampai hampir tidak tahan ....

"Kamu lihat sendiri, 'kan? Aku menyuruhmu kemari hanya untuk membantuku menggagalkan pertunanganku, jadi jangan terlalu terbawa perasaan dan mengira aku benar-benar tertarik padamu."

Sambil memeluk dadanya, Luna berujar kata demi kata, "Kamu hanyalah anak magang dengan gaji 7 juta dan hanya memiliki ijazah SMA, sedangkan aku memiliki gelar doktor dari luar negeri dan merupakan wakil presiden sebuah grup besar. Setengah dari pria di Kota Sielo memujaku dan menginginkanku. Kita bagaikan langit dan Bumi, ketahuilah bahwa bintang di langit nggak akan pernah melirik ikan dan udang yang hidup di sungai."

"Baiklah, apa aku boleh pulang sekarang?" balas Deon dengan tenang.

Luna terkejut. Tujuannya berbicara panjang lebar adalah untuk memadamkan ilusi Deon dan mengintimidasinya, tetapi Deon tampak tidak peduli sama sekali.

Benar saja, seseorang yang sudah terbiasa dengan dunia mafia seperti Deon tidak mudah goyah karena hal-hal sepele seperti ini. Di bawah situasi dan tekanan apa pun, dia akan selalu tenang.

Ketika Luna melihat reaksi Deon, dia kecewa sekaligus marah. Sulit dipercaya bahwa dia memberikan kali pertamanya kepada pria seperti itu!

Luna hendak berbalik dan pergi, tetapi matanya tak sengaja menangkap mata-mata Keluarga Yossef yang sedang memperhatikannya tidak jauh dari sana!

Dia pun buru-buru menarik pakaian Deon dan berkata, "Tunggu sebentar! Aku nggak bilang kamu boleh pergi, 'kan?"

Merasa frustrasi, Deon bertanya, "Bu Luna, apa ada hal lain yang perlu dibicarakan? Bukankah misi menggagalkan pertunanganmu sudah selesai?"

Karena dia telah membantu Luna, bukankah perbuatannya terhadap Luna di kantor telah ditebus?

Luna mengangkat dagunya dan menjawab dengan dingin, "Ikuti saja perintahku."

"Lagi? Kali ini ke mana?" tanya Deon yang kebingungan.

Namun, Luna sama sekali tidak memberikan penjelasan apa pun dan hanya menarik lengan Deon hingga mereka kembali ke dalam mobil.

Mobil Luna melesat ke pusat kota dan tiba di sebuah gedung perkantoran.

Deon tiba-tiba menyadari sesuatu dan bertanya, "Kantor Catatan Sipil? Tunggu, jangan bilang ...."

"Kamu nggak berhak bertanya."

Detik selanjutnya, Luna menarik lengan Deon dan berjalan ke dalam kantor, lalu berkata, "Permisi, kami mau mengajukan akta nikah."

Petugas wanita di balik kaca ketakutan karena mengira bahwa Luna menculik Deon, tetapi kalau dipikir-pikir lagi, itu hal yang mustahil.

Bagi pria yang buluk dari atas ke bawah seperti Deon, bisa menikahi seorang wanita cantik yang bermartabat dan kaya raya tak diragukan lagi adalah sebuah berkat!

Pendaftaran akta nikah selesai dalam sepuluh menit.

Deon masih kebingungan dan membatin, 'Apakah aku benar-benar sudah menikah? Itu pun dengan wanita bernama Luna ini, yang notabene adalah atasan langsungku yang baru kutemui hari ini!'

Luna menghadap Deon, mengangkat alisnya dan berkata, "Kamu nggak penasaran kenapa aku melakukan hal ini?"

Deon menjawab dengan canggung, "Bu Luna, aku sudah bertanya berkali-kali, kamulah yang belum menjawab sampai sekarang."

Luna hanya terdiam seolah-olah hal demikian tidak pernah terjadi. Sebaliknya, dia mengubah topik pembicaraan dan menjelaskan, "Aku memintamu berpura-pura menjadi tunanganku supaya aku nggak dipaksa menikah dengan Harlan Tier, Tuan Muda Keluarga Tier, tapi keluargaku sulit dikelabui. Aku yakin mereka akan berusaha sebisa mungkin untuk menemukanku dan menyewa seseorang untuk mengikutiku. Karena itu, kamu harus terus bekerja sama denganku sampai misi ini selesai! Ingat, kamu harus memainkan peran ini dengan baik!"

Setelah Luna selesai menjelaskan, dia mengantar Deon ke sebuah vila di pinggiran kota tanpa menanyakan persetujuannya terlebih dahulu, kemudian berkata dengan serius, "Ini rumahku. Mulai sekarang, kamu boleh tinggal di sini, setidaknya tiga kali seminggu. Hanya dengan cara inilah aku bisa meyakinkan keluargaku."

"Kamarku di lantai dua. Kamu nggak boleh mengintip, apalagi masuk! Awas saja kalau kamu berani coba-coba!"

Melihat Luna naik duluan, Deon akhirnya bertanya, "Bu Luna, lantas aku harus tidur di mana?"

"Lantai pertama sangat luas, tidur saja di salah satu sofa itu," jawab Luna dengan acuh tak acuh.

Deon tidak bisa berkata-kata lagi.

Andai sifat Deon masih sekeras dulu, wanita ini pasti sudah dia hukum ....

"Oh, iya, di lantai satu juga ada ruang peralatan, kurasa ruangan itu juga bisa dijadikan tempat tidur setelah dirapikan," ucap Luna sambil menyeringai dengan sarkastik. "Deon, jangan lupa bahwa kamu itu pegawaiku. Kamu harus mematuhi keputusan atasanmu, ya!"

Atasan setingkat direktur memang keterlaluan, bukan? Deon menghela napas dengan tidak berdaya dan terpaksa menuruti Luna.

Deon merenungkan entah kenapa dirinya bisa begitu tidak beruntung hari ini, entah kenapa dia harus berpapasan dengan Luna di kantor ....

Di malam hari ....

Setelah sekian lama, Deon selesai menata dan mengubah ruang peralatan menjadi kamar tidurnya.

Tepat di saat itu ....

Mata Deon menangkap gerakan bayangan hitam yang sangat cepat!

Cepat sekali!' batin Deon dengan cemas, pupil matanya gemetar dan dia bergumam pada dirinya sendiri, "Siapa itu?"

Apakah ada yang berencana membunuh Luna?

Bab 8

Dengan gerakan yang cepat, Deon maju ke depan bayangan tersebut dalam sekejap dan memukulnya dengan sekuat tenaga.

Namun, bayangan tersebut hanya mundur beberapa langkah.

Deon benar-benar terkejut.

Meskipun Deon hanya menggunakan sepersepuluh dari kemampuannya yang sebenarnya, di Negara Nozil hanya ada segelintir orang yang mampu menangkal serangannya.

Aku nggak boleh menganggap remeh orang ini. Siapa, sih, yang Luna singgung? Kenapa musuh Luna sekejam ini?' batin Deon.

Pria itu sama sekali tidak memedulikan Deon dan bergegas ke lantai dua.

Melihat arah yang dituju orang itu, Deon berkeringat dingin! Dia tidak akan membiarkan orang itu masuk ke kamar Luna. Kalau tidak dicegah, Luna pasti akan mati!

Namun, Deon kembali ragu karena Luna tidak mengizinkannya naik ke lantai dua.

Peduli amat! Menyelamatkan nyawa seseorang jauh lebih penting!

Kalau nanti Luna memarahinya, biar saja dia marah sepuasnya!

Jantung Deon berdetak kencang. Dia segera berlari secepat kilat, tetapi dia menyadari bahwa bayangan hitam tersebut telah memasuki kamar Luna.

"Bu Luna! Hati-hati, seseorang telah memasuki kamarmu!"

Deon menerobos masuk, tetapi malah dikagetkan oleh pemandangan di hadapannya.

Luna baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah dan dia hanya mengenakan handuk. Lekuk tubuhnya yang montok dan seksi hampir membuyarkan konsentrasi Deon!

Di sisi lain, Deon yang masuk ke kamar Luna tanpa izin tanpa sengaja memegang handuk di badan Luna. Akibatnya, handuk itu jatuh ke lantai bersamaan dengan bunyi dentang.

Kini, tubuh cantik Luna terpampang dengan jelas!

Dalam sekejap, udara di dalam kamar seolah membeku, tetapi mata Luna bagaikan gunung berapi yang meletus!

"Bu Luna, aku ...."

"Keluar! Kalau nggak, aku akan memecatmu sekarang juga!" seru Luna sambil menutupi tubuhnya dan memelototi Deon dengan tatapan sedingin es!

Deon terpaksa keluar, diikuti suara pintu yang dibanting hingga tertutup rapat.

Deon berseru dengan cemas, "Bu Luna, aku nggak bermaksud mengintipmu, aku yakin ada gangster dengan niat jahat yang baru saja masuk ke kamarmu!"

Pintu terbuka sekali lagi. Luna kini sudah mengenakan piyama sutra dan berjalan keluar dari kamar sambil memasang ekspresi sedingin puncak gunung es, lalu berkata, "Aku akan memberimu waktu lima menit untuk menangkap gangster yang kamu sebutkan itu. Kalau nggak ketemu, awas saja nanti!"

Kamar Luna sangat luas dengan ukuran kurang lebih seratus meter persegi.

Deon masuk tanpa ragu dan menemukan sesuatu di balkon!

Dia berlari ke balkon dan hampir tersandung saat melihat pakaian Luna yang digantung. Ada celana dalam berpola berwarna putih, blus renda, rok mini dan lain-lain ....

Ternyata, Luna memiliki sisi yang tidak tertebak.

Deon merasakan pipinya memanas, tetapi bayangan hitam itu tiba-tiba muncul lagi, jadi Deon mengejarnya secara refleks sambil berseru, "Jangan coba-coba kabur!"

Bayangan hitam itu melompat dari balkon disusuli oleh Deon.

Deon berhasil menyusulnya dalam satu menit, tetapi saat dilihat dari dekat ....

Ekspresi Deon tiba-tiba berubah, lalu dia berkata dengan marah sekaligus geli, "Killan? Ternyata kamu?"

Sosok hitam itu menoleh, memperlihatkan wajahnya yang tampan dan berwibawa, lalu berlutut dengan satu kaki dan berkata, "Aku, Killan Nobu, memberi penghormatan kepada Raja Gangster!"

"Sekarang kamu sudah menjadi Dewa Perang termuda di Negara Nozil, Dewa Perang Killan. Kamu nggak perlu berlutut di hadapan seorang bekas tentara sepertiku," balas Deon sambil menghela napas.

Killan menjawab dengan hormat, "Bagi aku dan lima juta tentara lainnya di Provinsi Xino, Kak Deon tetaplah satu-satunya Raja Gangster Negara Nozil!"

"Aku hanya tak habis pikir bahwa seseorang semenakutkan dirimu, yang membuat para musuh Barat takut dan cemburu, kini bersembunyi di sebuah kota kecil kelas tiga dan bekerja sebagai pegawai kantoran!"

Deon tersenyum tipis dan berkata, "Maksudmu, kamu ingin mengujiku karena dulu aku adalah Raja Gangster yang biasanya hobi membantai orang saat marah, tapi sekarang berubah menjadi pekerja kantoran biasa?"

Mendengar pertanyaan ini, Killan seketika berkeringat dingin dan berkata, "Aku telah bersikap kelewatan! Tolong tenang, Raja Gangster. Sebagai bentuk permintaan maaf, aku akan memotong lenganku!"

Deon berkata, "Tak perlu begitu, aku bukan lagi Raja Gangster dan telah melepaskan semua hak istimewaku. Tujuanmu datang kemari bukan hanya untuk menyusulku, 'kan?"

Di mata banyak orang, Deon yang dulu adalah iblis penjagal yang menginjak tumpukan mayat dan mengarungi lautan darah untuk naik ke puncak.

Akan tetapi, setelah mencapai puncak kekuasaan, Deon merasakan kesepian yang tak berujung dan dia kerap bersikap buruk layaknya iblis.

Maka dari itu, dia pensiun tanpa paksaan, tanpa meminta imbalan apa pun dan kembali ke kampung halamannya.

Dia lelah membunuh orang tiap hari dan hanya ingin hidup bersama keluarganya sembari menikmati hangatnya kasih sayang keluarga.

Kini, temperamennya telah berubah drastis karena dia berusaha memperbaiki sifat buruknya.

Killan berkata dengan tegas, "Benar, Kak Deon. Sebenarnya, aku datang atas kepercayaan orang-orang penting di ibu kota."

"Awalnya, mereka takut pada Raja Gangster yang pasukannya nggak terbatas, tapi mereka menyadari sesuatu. Begitu Sang Raja Gangster pergi, kumpulan-kumpulan mafia luar negeri yang dulunya sudah nggak aktif malah datang menyerang mereka!"

"Di antara kumpulan-kumpulan tersebut, Organisasi V yang terkuat diam-diam telah menyelinap ke daratan Negara Nozil. Kedatangan mereka dapat mengancam keamanan nasional! Organisasi tersebut bahkan telah menghabisi beberapa veteran perang yang legendaris!"

Lalu, Killan melanjutkan laporannya dengan nada meremehkan, "Para pemabuk di ibu kota ketakutan hingga ketar-ketir. Organisasi V sangat kejam sampai nggak ada seorang pun di seluruh Negara Nozil yang bisa menaklukkannya, kecuali Kak Deon, Raja Gangster!"

"Beri tahu mereka bahwa aku akan bergerak, tapi bukan demi mereka, melainkan demi rakyat Negara Nozil," jawab Deon dengan serius.

"Kapan hari, mari kita bahas hal ini lagi secara mendetail. Untuk sekarang, pergilah dulu dan jangan sampai ketahuan siapa pun!"

Asik! Mendengar janji Deon bahwa dia akan kembali beraksi, Killan mengepalkan tinjunya dengan penuh semangat dan pergi tanpa suara.

Sebelum pergi, Killan mengembalikan Kartu Raja Gangster kepada pemilik aslinya, Deon.

Deon pun kembali ke vila.

Di sana, dia melihat Luna berdiri di depan pintu kamarnya. Luna kemudian berkata dengan nada dingin, "Di mana gangster yang kamu sebutkan itu?"

Deon tersenyum dengan terpaksa dan berkata, "Aku nggak melihat siapa pun, mungkin aku sedang berhalusinasi."

Sebenarnya, percakapannya dengan Killan adalah rahasia militer yang tidak boleh diungkapkan.

Karena itu, Deon terpaksa membuat alasan.

Namun, setelah Luna mendengar penjelasan ini, dia tertawa sinis dan berkata, "Halusinasi, ya? Halusinasi bisa membuatmu menerobos kamarku tanpa mengucapkan sepatah kata pun, begitu? Deon Pastillo, memangnya kamu nggak ada alasan lain yang lebih masuk akal? Kamu benar-benar membuatku jijik!"

Kalau Luna tidak menghargai bantuan Deon hari ini, dia pasti sudah mengusirnya.

"Aku peringatkan, ya! Lain kali, aku nggak akan mau dekat-dekat lagi denganmu!"

Luna berbalik dan pergi, mengunci pintu kamar dan membuang handuk yang telah disentuh Deon ke tempat sampah.

Lalu, dia menarik napas dalam-dalam dan membatin, 'Aku benar-benar salah menilai pria ini! Awalnya, kukira sifatnya nggak mungkin seburuk itu, tapi hari ini dia membuktikan bahwa semua pria di dunia ini sama saja! Menjijikkan!'

Di sisi lain, Deon tidak peduli tentang kesalahpahaman itu. Dia kembali ke ruang peralatan dan tertidur pulas.

Keesokan harinya saat Deon bangun, dia menyadari bahwa Luna sudah berangkat kerja duluan. Ternyata wanita itu memang gila kerja.

Sebelum berangkat kerja, Deon mampir ke rumah untuk memberi tahu ibunya kenapa dia tidak pulang semalaman.

Saat dia baru saja tiba di rumah, dia malah melihat pasangan kencan butanya kemarin, Cindy, bersama ibunya, Camila. Mereka duduk di dalam rumah sembari berbicara dan tertawa riang.

Melihat Deon pulang, mata keduanya langsung berbinar.

"Deon, kami mencari tahu identitas wanita yang kemarin datang menemuimu. Dia adalah Luna Yossef, Wakil Presiden Grup Lixon, bukan? Apakah dia menyukaimu? Berapa banyak uang yang dia berikan padamu?"

Setelah Mengetahui Rahasia Bos Wanitaku, Aku Terkena Masalah Besar

Bab 6
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya