Bab 5
"Anu ..." balas Deon dengan kaget dan agak tersipu.
"Cepat! Kamu nggak dengar? Kalau kamu nggak mendengar perintahku, kamu akan dipecat!" bisik Luna dengan nada mendesak.
Dia bahkan dengan sengaja mendekati Deon dengan tubuhnya yang montok, seputih salju dan berlekuk indah mempesona itu!
Mau tak mau, Deon menggertakkan gigi, mengulurkan tangannya dan mencubit bagian sensitif Luna dengan erat!
Ekspresi di wajah cantik Luna berubah, tubuhnya bergidik dan dia spontan menatap Deon dengan dingin.
Luna memang meminta Deon untuk menyentuhnya, tetapi dia tidak menyangka gerakan Deon begitu berlebihan, itu pun di bagian tubuhnya yang paling sensitif!
Luna terpaksa menahan keinginannya untuk berteriak dan berpura-pura tenang, lalu berkata, "Kalian lihat, 'kan? Kami benar-benar saling mencintai, jadi Ayah, Paman, menyerahlah!"
"Omong kosong! Luna! Aku tidak peduli apa hubunganmu dengan sampah kasta rendah itu, pokoknya kamu tetap harus menikahi Tuan Muda Keluarga Tier!"
Julian yang murka tiba-tiba menghampiri Luna dan langsung menamparnya!
Pipi Luna membengkak dan dia terhuyung hingga mundur beberapa langkah.
"Paman sedang memberimu pelajaran. Paman yakin kamu paham akan urutan superioritas di keluarga kita, jadi jangan berani melawan lagi!"
Julian mendengus dingin dan melanjutkan ceramahnya, "Jangan kira kami akan langsung menyerah karena jijik melihatmu mengencani seorang pria kelas bawah! Sampah akan selalu menjadi sampah, ingatlah pepatah 'ayam tidak bisa terbang ke langit'!"
Tak disangka, detik berikutnya wajah Julian juga ditampar dengan keras!
Akibatnya, Julian terhempas belasan meter hingga menabrak pilar marmer, bahkan kepalanya juga langsung berdarah!
"Julian!" Para anggota Keluarga Yossef yang kaget sontak bergegas maju sambil menyerukan namanya.
Deon menarik kembali tangannya dan menoleh ke arah Luna sembari bertanya, "Bu Luna, apa kamu baik-baik saja?"
Luna tercengang sejenak, lalu bertanya, "Ba ... bagaimana kamu bisa sekuat itu?"
Deon tersenyum dan berkata, "Aku pernah menjadi tentara selama beberapa tahun. Saat melihat kamu ditampar, aku spontan membalasnya tanpa berpikir dua kali."
Melihat situasi ini, Johan makin murka dan berseru, "Kemari! Tangkap pria gila itu dan habisi dia!"
Dalam sekejap, beberapa pria kekar bergegas menghampiri Deon. Ternyata, mereka adalah preman yang disewa Keluarga Yossef!
Merasa panik, Luna buru-buru berdiri di depan Deon sambil berkata, "Ayah! Jangan bertindak tanpa logika! Paman Julian memukulku lebih dulu, Deon hanya berusaha melindungiku!"
Deon yang berada di belakang Luna merasa terharu melihat Luna melindunginya atas inisiatif sendiri. Lalu, Deon perlahan keluar dari balik Luna dan berkata, "Nggak apa-apa, Bu Luna. Aku bisa menghabisi preman-preman ini seorang diri!"
"Jangan gegabah!"
Saat Luna hendak mencegatnya, tiba-tiba saja Deon sudah maju. Brak! Bruk!
Dalam sekejap, Deon telah mengalahkan para preman kekar itu hingga mereka jatuh ke lantai dengan menyedihkan.
Lemah sekali! Dibandingkan musuh yang dihadapi Deon di Provinsi Xino, para preman ini tidak ada apa-apanya.
Johan dan Julian kembali tercengang dan bertanya-tanya apakah mereka salah lihat.
Sambil menangkup kepalanya, Julian berjalan tertatih-tatih dan berseru dengan keras, "Kacau sudah, cepat hubungi kenalan kita di Biro Penegakan Hukum!"
"Sudahlah! Hentikan!"
Seorang pria tua yang mengenakan baju tradisional berjalan dengan tangan terlipat di punggungnya yang bungkuk.
Para anggota Keluarga Yossef langsung tertib, lalu menyapanya, "Kakek!"
Pria ini tidak asing di mata Deon. Dia adalah Simon Yossef, ketua Grup Lixon dan orang yang sebenarnya paling berkuasa di keluarga ini.
Julian si manja segera memanfaatkan kesempatan dan mengeluh, "Ayah! Luna bekerja sama dengan pria rendahan ini dan bahkan melukai keluarganya sendiri!"
"Hal-hal lain yang nggak penting nggak perlu dibahas lagi. Luna, Kakek nggak peduli hal keterlaluan apa saja yang sudah pernah kamu lakukan dengan pria lain. Asal kamu 'tidur' bersama Tuan Muda Keluarga Tier dengan patuh, Kakek akan melupakan kesalahanmu," ucap Simon. "Tuan Muda Keluarga Tier hanya ingin menikahimu. Perihal kamu perawan atau nggak sebenarnya nggak berarti."
Luna tidak menyangka kakeknya sendiri melontarkan kata-kata seperti itu. Dia pun berkata dengan wajah pucat, "Kakek, apakah Kakek hanya menganggapku sebagai alat tukar bagi keluarga kita?"
"Jangan lupa, semua yang kamu miliki sekarang adalah pemberian Keluarga Yossef! Asal kamu tahu, Kakek bisa menanggalkan jabatanmu sebagai wakil presiden kapan saja dan tidak meninggalkan apa pun untukmu!"
Melihat tatapan tanpa belas kasih di wajah Simon, wajah Luna menjadi pucat.
Luna tahu betul, kalau dirinya sampai kehilangan posisinya sebagai Wakil Presiden Grup Lixon, dia akan kehilangan pijakannya di Kota Sielo dan Keluarga Yossef dapat menghabisinya kapan saja!
Kakeknya tahu betul apa kelemahannya!
Melihat Luna terdiam, Simon akhirnya melirik Deon dengan dingin selama sesaat dan berkata, "Kamu. Aku akan memberimu 400 juta, jangan pernah berhubungan dengan Keluarga Yossef maupun Luna lagi! Kalau kamu berani coba-coba, ketahuilah bahwa seseorang tanpa status sepertimu nggak mungkin bisa menghadapi Keluarga Yossef dan Keluarga Tier!"
Walau sedang berbicara kepada Deon, Simon bahkan tidak melihat ke arah Deon sama sekali.
Lagi pula, besok lusa Tuan Muda Keluarga Tier akan datang langsung ke kediaman Keluarga Yossef untuk melamar Luna.
Kekuasaan Keluarga Tier tersebar di seluruh Kota Sielo dan mereka bahkan sedikit lebih berkuasa daripada Keluarga Yossef.
Memangnya Deon itu siapa? Berani-beraninya dia datang ke Kediaman Yossef untuk menghentikan pernikahan yang direncanakan Keluarga Yossef? Di matanya, Deon hanyalah kerikil yang akan hancur begitu ditendang!
Mendengar ini, Deon menatap Simon tanpa bergeming dan berkata, "Pak Simon, kamu tahu sebentar lagi kamu akan mati, 'kan?"
Bab 6
Mendengar ucapan Deon, semua anggota Keluarga Yossef naik pitam dan mulai mencaci maki Deon.
"Apa-apaan orang ini? Benar-benar tak beradab!"
"Benar! Berani-beraninya dia mengutuk Kakek seperti itu!"
"Orang yang lebih rendah dari binatang sepertinya nggak pantas diberikan uang! Lebih baik dia dipukul sampai mati lalu dibuang ke laut!"
"Sampah masyarakat memang seperti itu. Hanya melihatnya saja membuatku merasa buang-buang waktu!"
Dengan ekspresi masam, Simon berujar, "Hei, bocah. Apa kamu sadar apa yang baru saja kamu katakan? Minta maaflah dan aku akan melupakan masalah ini."
Bagi orang yang sudah berumur, dikutuk mati di depan orang lain adalah hal yang sangat tabu.
Deon mengerutkan kening dan menjawab, "Tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Tak lama lagi kamu akan mati."
Ekspresi Simon langsung menjadi tegang, tetapi dia berusaha menahan amarahnya dan berkata dengan nada mengancam, "Coba kamu ulangi ucapan itu satu kali lagi."
"Kakek, jangan salah paham, dia ini orang bodoh yang selalu asal bicara," sela Luna sambil menatap Deon dengan bingung.
"Deon, berhenti beromong kosong. Minta maaf kepada Kakek sekarang juga, lalu pergi! Urusanmu di sini sudah selesai!"
Bagaimanapun, Deon adalah karyawan Luna. Karena situasinya berbahaya, Luna merasakan kewajiban untuk melindungi Deon.
Merasa kesabarannya mulai terkikis, Deon pun berkata, "Memang benar, kok. Sebentar lagi kamu akan mati, harus kuulangi berapa kali lagi? Apa kalian semua tuli?"
Bagaikan menambahkan minyak ke api, ucapan tersebut membuat Keluarga Yossef merasa seolah telah disambar petir.
Ekspresi Simon makin kusut, pembuluh darah bermunculan di sekujur tubuhnya dan paru-parunya kembang kempis karena marah.
"Aku tak akan membiarkanmu lepas! Kamu ... akan mati di sini!" gertak Simon.
Luna buru-buru menyela dengan cemas, "Kakek, dia adalah pegawai kita ...."
"Tutup mulutmu! Aku nggak peduli siapa dia, akan kupastikan dia mati hari ini!" seru Simon sambil membelalak. "Johan, Julian!"
"Ya, Ayah!" jawab keduanya dengan sigap.
"Tutup pintunya dan perintahkan semua preman kita kemari. Aku akan membunuh bajingan sialan ini sampai nggak bersisa!"
Simon tengah marah-marah, tetapi dia tiba-tiba merasakan rasa sakit yang menusuk di seluruh tubuhnya.
Detik selanjutnya, dia terjatuh ke lantai dan darah mengalir dari berbagai lubang di tubuhnya!
"Ayah!"
"Kakek!"
Para anggota Keluarga Yossef kaget setengah mati karena tidak menyangka hal ini, lalu segera berlari menghampiri Simon dengan tergesa-gesa.
Simon adalah pria tua yang sehat dan kuat, lantas kenapa dia tiba-tiba jatuh dan berdarah?
Luna juga bergegas ke sisi Simon sambil memerintah, "Bawa Kakek ke rumah sakit secepatnya! Kakek sekarat!"
Namun, hal ini sangat tidak terduga dan kondisi Simon memburuk dengan kecepatan yang tak tertolong. Saat ini, dia bahkan kesulitan bernapas dan berdarah dari mana-mana!
Hal ini membuat para anggota Keluarga Yossef merasa ngeri. Dari kediaman mereka, dibutuhkan setidaknya setengah jam untuk sampai ke rumah sakit terdekat.
Di tengah kericuhan, Deon perlahan berjalan ke sisi Simon dan menekan tiga titik akupunktur di tubuhnya. Di luar dugaan, hal ini membuat Simon merasa sedikit lebih lega.
Para anggota Keluarga Yossef memandang Deon dengan tidak percaya dan mulai bergumam, "Jangan-jangan bocah itu bisa melihat penyakit Kakek yang tidak kita ketahui?"
"Pak tua, di sini hanya aku sendiri yang mampu menyelamatkanmu. Kalau aku nggak mengobatimu, kamu akan mati dalam lima menit," ujar Deon dengan santai.
Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun di Provinsi Xino, keterampilan medis Deon berkembang secara luar biasa.
Dari awal, Deon sudah melihat napas Simon yang tidak teratur, bahkan gagal organnya sudah mencapai titik ekstrem. Dari depan, dia memang terlihat baik-baik saja, tetapi begitu mencapai titik kritis, dia tidak tertolong lagi!
Kebetulan, hari ini dia mencapai titik kritis tersebut.
Simon menggertakkan gigi dan berkata, "Kalau begitu, cepat selamatkan aku! Aku akan memberimu dua miliar!"
Deon menggeleng dan berkata, "Aku tidak menginginkan uangmu. Aku hanya ingin kamu berjanji nggak akan mengancam Bu Luna dengan mencabut posisi wakil presidennya. Anggap saja aku sedang membalas budi kepadanya."
Luna tertegun sejenak dan merasakan emosi campur aduk karena tidak menyangka Deon akan mengajukan permintaan seperti itu.
Mendengar permintaan ini, para anggota Keluarga Yossef marah-marah dan berkata, "Bocah terkutuk! Berani-beraninya kamu mengancam kami? Kamu pikir kamu siapa? Siapa yang memberimu hak untuk mengancam kepala Keluarga Yossef dan seluruh keluarga kami?"
Namun, saat ini Simon hampir sekarat. Meskipun dia merasa amat kesal, dia akhirnya berseru, "Baiklah! Aku berjanji, sekarang selamatkan dulu aku!"
Deon segera memulai pengobatannya dengan menekan ketiga titik akupunktur di tubuh Simon secepat kilat ....
Kurang dari satu menit kemudian, Simon telah pulih dan kembali ke keadaan semula.
Seluruh Keluarga Yossef tercengang. Menyelamatkan pasien sekarat hanya dalam satu menit adalah hal yang sangat mencengangkan!
"Nah, karena aku sudah menepati janjiku, aku harap kamu akan menepati janjimu juga," ujar Deon sambil menyeringai.
Pipi Simon kembang kempis karena kesal, tetapi dia harus melaksanakan tanggung jawabnya sebagai kepala Keluarga Yossef.
Dengan enggan, dia berkata, "Ya, sudah! Luna akan menjadi wakil presiden Grup Lixon seterusnya. Keluarga Yossef tidak akan mencabut posisinya!"
Luna tidak dapat memercayai hal ini. Apa benar pria ini adalah kakeknya yang mahakuasa dan tidak pernah menunduk kepada siapa pun itu?
Setelah itu, Deon kembali menjadi tamu dan menggenggam tangan Luna sambil berkata, "Bu Luna, ayo pergi."
Setelah keduanya pergi ....
Johan dan Julian mengepalkan tangan mereka dengan marah.
"Dasar bocah sialan! Bisa-bisanya dia mencari kesempatan dalam kesempitan!"
"Kukira dia mengobati Ayah dengan keterampilan medis yang luar biasa, ternyata cuma titik-titik akupunktur saja! Kalau cuma begitu, aku juga bisa! Dasar penipu!"
Pada saat ini, seorang pembantu tiba-tiba masuk dan melapor, "Pak, tadi kami menghubungi Dokter Sogan, seorang ahli pengobatan tradisional yang tinggal di dekat ibu kota, beliau sudah tiba!"
"Apa? Sialan, cepat suruh dia masuk!" pinta Simon. Mendengar kabar ini, dia merasa menyesal.
Andai dia tahu bahwa Dokter Ilahi Sogan tinggal di dekat rumahnya, dia tidak akan mau menyetujui syarat yang diajukan Deon!
Melihat Dokter Sogan masuk sambil menenteng kotak peralatan medis, Simon tersenyum pahit dan berkata, "Dokter datang terlambat. Penyakitku nggak serius dan sudah diobati seorang pemuda, itu pun hanya dengan menekan beberapa titik akupunkturku."
"Oh, begitu rupanya, sayang sekali. Kalau begitu, bagaimana kalau kuperiksa denyut nadimu dan merawatmu sampai sembuh sepenuhnya?" ujar Sogan sambil tersenyum sopan.
"Boleh juga," jawab Simon sambil mengangguk.
Dokter Sogan meletakkan tangannya pada denyut nadi Simon dengan terampil, tetapi begitu dia merasakan nadinya, Sogan terjatuh ke lantai dengan ekspresi ketakutan dan berkeringat deras.
"Pak Simon! Dosa apa yang pernah kulakukan terhadapmu? Untuk apa kamu berbohong padaku?!"
"Apa?" tanya Simon dengan bingung.
"Penyakitmu disebabkan oleh menurunnya lima titik vital manusia. Bisa dibilang, ini merupakan gejala yang tak dapat disembuhkan dalam sejarah pengobatan tradisional, tapi penyakit di tubuhmu ini sudah diobati sepenuhnya. Hanya dokter terbaik di Negara Nozil yang bisa melakukan hal seperti itu!" jelas Sogan dengan terkesima. "Kenapa kamu malah berbohong padaku dan berkata bahwa kamu diobati seorang pemuda biasa?!"
Bab 7
Para anggota Keluarga Yossef tercengang, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Dokter, jangan bercanda, deh. Pemuda itu hanya menekan beberapa titik di tubuh Kakek secara acak. Apa masuk akal kalau dia menyembuhkan penyakit semematikan itu?"
"Itu, sih, bukan kedokteran, melainkan teologi!"
"Benar, semua orang juga bisa, kok!"
Dokter Sogan mengerutkan kening dan berkata, "Nggak, nggak, walaupun terlihat gampang, menekan titik akupunktur adalah keahlian teknis dalam pengobatan tradisional. Hal ini tak sesederhana itu ...."
Simon melambaikan tangannya dan menyela, "Baiklah, baiklah, jangan dibicarakan lagi. Dokter, mari minum teh, keluarga kami mempunyai koleksi teh bunga kualitas terbaik!"
Mau tak mau, Dokter Sogan pun menyerah. Mau bagaimana lagi, para anggota Keluarga Yossef sangat kukuh dan menolak mendengar pendapatnya.
Setelah beberapa saat, Keluarga Yossef akhirnya meminta Dokter Sogan pulang.
Johan berkata dengan tidak senang, "Menurutku, si Dokter Ilahi itu nggak sehebat reputasinya. Siapa pun bisa melihat bahwa dia adalah dokter yang biasa-biasa saja!"
Simon menimpali sambil meraba janggutnya, "Itu wajar saja, Dokter Sogan juga sudah berumur. Sudahlah, lagi pula dia bukan penanggung jawab sebuah rumah sakit nasional. Wajar kalau dia sesekali melakukan kesalahan."
"Ayah, apakah kita akan membiarkan hal ini begitu saja? Aku bahkan ditampar oleh bocah sialan itu!" ujar Julian dengan marah, bekas tamparan merah masih terpampang dengan jelas di wajahnya.
Simon tertawa sinis dan menjawab, "Tentu saja tidak. Namanya Deon, pegawai di bagian penjualan grup kita, 'kan? Membalas dendam padanya tentu bukan hal sulit."
"Maksud Ayah ..." ujar kedua saudara itu dengan bersemangat.
Tampaknya, mereka tengah merencanakan sebuah konspirasi!
....
"Apa kamu belum puas merabaku?"
Tidak lama setelah meninggalkan Vila Willowtree, Luna melepaskan tangan Deon dan menatapnya dengan dingin.
"Sekarang sudah lewat sepuluh menit dari waktu yang disepakati!"
"Maaf, Bu Luna, ingatanku nggak bagus," jawab Deon dengan canggung
Walau berbicara seperti itu, nyatanya Luna merasa sangat nyaman di bawah sentuhan Deon sampai hampir tidak tahan ....
"Kamu lihat sendiri, 'kan? Aku menyuruhmu kemari hanya untuk membantuku menggagalkan pertunanganku, jadi jangan terlalu terbawa perasaan dan mengira aku benar-benar tertarik padamu."
Sambil memeluk dadanya, Luna berujar kata demi kata, "Kamu hanyalah anak magang dengan gaji 7 juta dan hanya memiliki ijazah SMA, sedangkan aku memiliki gelar doktor dari luar negeri dan merupakan wakil presiden sebuah grup besar. Setengah dari pria di Kota Sielo memujaku dan menginginkanku. Kita bagaikan langit dan Bumi, ketahuilah bahwa bintang di langit nggak akan pernah melirik ikan dan udang yang hidup di sungai."
"Baiklah, apa aku boleh pulang sekarang?" balas Deon dengan tenang.
Luna terkejut. Tujuannya berbicara panjang lebar adalah untuk memadamkan ilusi Deon dan mengintimidasinya, tetapi Deon tampak tidak peduli sama sekali.
Benar saja, seseorang yang sudah terbiasa dengan dunia mafia seperti Deon tidak mudah goyah karena hal-hal sepele seperti ini. Di bawah situasi dan tekanan apa pun, dia akan selalu tenang.
Ketika Luna melihat reaksi Deon, dia kecewa sekaligus marah. Sulit dipercaya bahwa dia memberikan kali pertamanya kepada pria seperti itu!
Luna hendak berbalik dan pergi, tetapi matanya tak sengaja menangkap mata-mata Keluarga Yossef yang sedang memperhatikannya tidak jauh dari sana!
Dia pun buru-buru menarik pakaian Deon dan berkata, "Tunggu sebentar! Aku nggak bilang kamu boleh pergi, 'kan?"
Merasa frustrasi, Deon bertanya, "Bu Luna, apa ada hal lain yang perlu dibicarakan? Bukankah misi menggagalkan pertunanganmu sudah selesai?"
Karena dia telah membantu Luna, bukankah perbuatannya terhadap Luna di kantor telah ditebus?
Luna mengangkat dagunya dan menjawab dengan dingin, "Ikuti saja perintahku."
"Lagi? Kali ini ke mana?" tanya Deon yang kebingungan.
Namun, Luna sama sekali tidak memberikan penjelasan apa pun dan hanya menarik lengan Deon hingga mereka kembali ke dalam mobil.
Mobil Luna melesat ke pusat kota dan tiba di sebuah gedung perkantoran.
Deon tiba-tiba menyadari sesuatu dan bertanya, "Kantor Catatan Sipil? Tunggu, jangan bilang ...."
"Kamu nggak berhak bertanya."
Detik selanjutnya, Luna menarik lengan Deon dan berjalan ke dalam kantor, lalu berkata, "Permisi, kami mau mengajukan akta nikah."
Petugas wanita di balik kaca ketakutan karena mengira bahwa Luna menculik Deon, tetapi kalau dipikir-pikir lagi, itu hal yang mustahil.
Bagi pria yang buluk dari atas ke bawah seperti Deon, bisa menikahi seorang wanita cantik yang bermartabat dan kaya raya tak diragukan lagi adalah sebuah berkat!
Pendaftaran akta nikah selesai dalam sepuluh menit.
Deon masih kebingungan dan membatin, 'Apakah aku benar-benar sudah menikah? Itu pun dengan wanita bernama Luna ini, yang notabene adalah atasan langsungku yang baru kutemui hari ini!'
Luna menghadap Deon, mengangkat alisnya dan berkata, "Kamu nggak penasaran kenapa aku melakukan hal ini?"
Deon menjawab dengan canggung, "Bu Luna, aku sudah bertanya berkali-kali, kamulah yang belum menjawab sampai sekarang."
Luna hanya terdiam seolah-olah hal demikian tidak pernah terjadi. Sebaliknya, dia mengubah topik pembicaraan dan menjelaskan, "Aku memintamu berpura-pura menjadi tunanganku supaya aku nggak dipaksa menikah dengan Harlan Tier, Tuan Muda Keluarga Tier, tapi keluargaku sulit dikelabui. Aku yakin mereka akan berusaha sebisa mungkin untuk menemukanku dan menyewa seseorang untuk mengikutiku. Karena itu, kamu harus terus bekerja sama denganku sampai misi ini selesai! Ingat, kamu harus memainkan peran ini dengan baik!"
Setelah Luna selesai menjelaskan, dia mengantar Deon ke sebuah vila di pinggiran kota tanpa menanyakan persetujuannya terlebih dahulu, kemudian berkata dengan serius, "Ini rumahku. Mulai sekarang, kamu boleh tinggal di sini, setidaknya tiga kali seminggu. Hanya dengan cara inilah aku bisa meyakinkan keluargaku."
"Kamarku di lantai dua. Kamu nggak boleh mengintip, apalagi masuk! Awas saja kalau kamu berani coba-coba!"
Melihat Luna naik duluan, Deon akhirnya bertanya, "Bu Luna, lantas aku harus tidur di mana?"
"Lantai pertama sangat luas, tidur saja di salah satu sofa itu," jawab Luna dengan acuh tak acuh.
Deon tidak bisa berkata-kata lagi.
Andai sifat Deon masih sekeras dulu, wanita ini pasti sudah dia hukum ....
"Oh, iya, di lantai satu juga ada ruang peralatan, kurasa ruangan itu juga bisa dijadikan tempat tidur setelah dirapikan," ucap Luna sambil menyeringai dengan sarkastik. "Deon, jangan lupa bahwa kamu itu pegawaiku. Kamu harus mematuhi keputusan atasanmu, ya!"
Atasan setingkat direktur memang keterlaluan, bukan? Deon menghela napas dengan tidak berdaya dan terpaksa menuruti Luna.
Deon merenungkan entah kenapa dirinya bisa begitu tidak beruntung hari ini, entah kenapa dia harus berpapasan dengan Luna di kantor ....
Di malam hari ....
Setelah sekian lama, Deon selesai menata dan mengubah ruang peralatan menjadi kamar tidurnya.
Tepat di saat itu ....
Mata Deon menangkap gerakan bayangan hitam yang sangat cepat!
Cepat sekali!' batin Deon dengan cemas, pupil matanya gemetar dan dia bergumam pada dirinya sendiri, "Siapa itu?"
Apakah ada yang berencana membunuh Luna?