Bab 1
Ibuku adalah seseorang dengan pemikiran konservatif. Demi mempertahankan kesucianku, dia sengaja memesan set bodysuit ketat untuk membungkus tubuhku. Lantaran takut aku akan diam-diam membukanya di sekolah, dia bahkan mengikatnya dengan lima karet gelang dengan keadaan disimpul mati.
Hanya saja, bahan pakaian ini terlalu kasar. Suatu bagian di tubuhku tergesek hingga terasa sangat gatal. Jadi, sejak kecil aku pun sudah bisa memuaskan diriku sendiri.
Perlahan-lahan, cara ini sudah tidak ampuh lagi. Pada akhirnya, aku sampai ke tahap tidak bisa duduk dan berdiri dengan tenang.
Aku menangis mengatakan kepada ibuku bahwa aku sakit, berharap dia tidak memaksaku untuk mengenakan pakaian ini lagi. Aku juga ingin dia membawaku berobat. Alhasil, ibuku hanya memarahiku. Dia mengatakan aku ingin mencoba untuk berhubungan.
Demi meredakannya, aku mulai memasukkan banyak barang besar di dalam pakaian.
Saat aku dewasa, ibuku meninggal akibat kecelakaan mobil.
Akhirnya aku juga bisa terlepas dari pakaian sialan itu. Anehnya, setelah aku melepaskannya, aku bukannya merasa nyaman, malah merasa semakin tidak nyaman.
Seolah-olah ada iblis yang tiba-tiba siuman dari dalam tubuhku. Aku malah mulai menginginkan hubungan intim, berharap diseret oleh olahragawan ke dalam hutan untuk dilecehkan.
Namun, didikan ibuku mengenai mesti menjaga kesucian sebelum menikah telah melekat sampai ke tulangku. Aku pun cuma berani membayangkan saja.
Aku telah memutuskan dalam hatiku. Setelah kuliah nanti, aku akan mencari seorang kekasih dan menikah. Kesucianku pasti akan dihargai oleh kekasihku.
Namun setelah aku kuliah, aku menyadari bahwa diriku adalah sebuah lelucon. Sebab, pada zaman sekarang ini, jika seseorang yang sudah berumur di atas 18 tahun masih menjaga kesuciannya, dia pun akan diremehkan.
Saat sesi ngobrol malam di asrama, teman seasrama mendeskripsikan cerita memalukan mereka.
Ada yang mengatakan dirinya pernah berpacaran lima kali. Semuanya adalah olahragawan dengan tubuh kekar. Bahkan ada satu dari mereka adalah guru kimianya.
Ketika kepikiran dengan pengalamanku sendiri, aku semakin membenci ibu gilaku itu.
Setelah itu, aku ingin sepenuhnya membuka diriku untuk menikmati kebahagiaan. Namun segera aku sadar, aku harus membayar mahal atas kebodohanku di masa lalu.
Saat latihan militer, aku nekat tidak mengenakan apa pun di dalam dan menggunakan segala cara untuk menggoda pelatih hingga akhirnya dia jadi pacarku.
Saat dia mendengar aku masih perawan, dia merasa sangat antusias. Dia berkata bahwa dia akan melakukannya dengan pelan.
Namun, belum sempat aku merasakan apa-apa, dia pun mengeluarkannya. “Perawan kepalamu. Kendur sekali seperti berlubang saja.”
Dia mendorongku dan berlari pergi.
Selanjutnya, aku mencari kekasih lain lagi. Hanya saja, baru saja dia memasukkannya, dia pun buru-buru mengenakan celananya.
“Sialan, daripada sama kamu, lebih baik sama tanganku saja, lebih ada rasanya.”
Akhirnya aku mulai panik dan segera pergi ke rumah sakit. Dokter mendiagnosis bagian intimku kehilangan fungsi akibat kekenduran saluran kemaluan. Selain itu, aku juga mengidap kecanduan seksual.
Aku menangis. Aku memang celaka.
Namun, aku tidak memiliki waktu untuk bersedih. Penyakit kecanduanku membuatku tidak bisa makan dan tidur dengan tenang.
Aku terpaksa membeli satu set mainan dengan ukuran paling besar. Dalam waktu setengah bulan, mainan itu telah kumainkan hingga rusak. Sementara itu, penyakit kecanduanku yang tadinya tahap ringan berubah menjadi berat.
Mainan sudah tidak berguna lagi. Sepertinya aku mesti mencari pria.
Hanya saja, aku sudah tidak berharap untuk mencari kekasih. Asalkan bisa membuatku merasa nyaman, pria mana pun juga boleh.
Aku mendaftarkan diri ke dalam aplikasi kencan dengan nama “Wanita yang paling sulit dipuaskan di dunia.”
Sebagai bunga kampus, wajahku tidak perlu diragukan lagi, apalagi tubuhku juga sangat bagus. Ada banyak pria yang datang untuk mendekatiku.
Pada akhirnya, aku memilih seorang pekerja konstruksi dengan delapan otot di bagian perutnya. Aku langsung berterus terang memberitahunya bahwa bagian bawahku tidak erat.
Dia mengatakan dirinya besar, tebal, dan tahan lama. Wanita sekendur apa pun akan berlutut lantaran dipuaskan olehnya.
Saat mendengar ucapannya, kakiku spontan merasa lemas. Malam itu kita janjian di pepohonan sekolah.
Pria itu memiliki tinggi badan 1,9 meter. Di hadapannya, aku bagai seorang anak kecil saja. Dia langsung membuka rokku dengan antusias tinggi.
Bab 2
Aku menggigit erat bibirku sembari merasakan kehebatannya. Namun belum sempat aku merasa puas, dia malah mendorongku. Dia mengenakan celananya kembali, lalu hendak berjalan pergi.
“Sialan, kamu biasanya jual diri, ya! Sudah seperti ini, malah jualan lagi!”
Tidak disangka pria yang memiliki ukuran besar saja tidak menyukaiku. Kalau saja dia tidak bersedia, pasti tidak ada pria yang bersedia untuk bersamaku.
Aku juga tidak peduli dengan harga diriku lagi. “Paman, kamu sudah datang juga, ayo kita main sekali. Aku mohon sama kamu! Aku benar-benar nggak tahan lagi.”
Ketika melihat si pria tetap saja melangkah pergi, aku buru-buru menarik kaki celananya. Aku merangkak ke hadapannya dengan mengangkat tinggi bokongku dan menggeleng kepala, seperti seekor anjing betina yang minta untuk dipuaskan saja.
Entah karena merasa luluh atau alasan lagi, si pria mencoba beberapa kali lagi. Hanya saja, pada akhirnya senjatanya malah langsung lemas.
Sebelum pergi, pria itu berkata, “Meskipun kamu cantik sekali, anumu benar-benar nggak ada rasanya, mungkin mesti berukuran sebesar gajah baru bisa memuaskanmu.”
Aku menangis. Air mata tidak berdaya menetes di wajahku. Bahkan ukuran 18 sentimeter juga tidak bisa memuaskanku, apa ada lagi pria di dunia ini yang bisa memuaskanku.
Entah sudah menangis berapa lama, aku pun ketiduran.
Saat aku melebarkan mataku, langit juga sudah gelap.
Aku merapikan pakaianku berjalan keluar pepohonan. Tiba-tiba aku mendengar ada suara bertengkar pria dan wanita di depan sana.
Wanita yang bertubuh agak tinggi itu mengomel dengan berkacak pinggang, “Kamu itu monster. Punyamu itu terlalu liar, bahkan ada dua batang, mengerikan sekali. Aku nggak ingin pendarahan dan mati nantinya!”
Pria itu tinggi dan tampan. Terlihat juga bekas olahraga di tubuhnya. Garis ototnya kelihatan sangat jelas, tetapi dia malah memelas si wanita dengan tatapan penuh harapan. “Kamu saja nggak pernah coba. Lagi pula, kamu juga sudah ke sini, dicoba saja!”
Kenapa ucapan itu terdengar familier?
“Coba kepalamu. Aku rasa cuma orang dari luar angkasa saja yang bisa memuaskanmu!”
Usai berbicara, si wanita hendak berjalan pergi, tetapi malah ditarik oleh si pria.
Ketika dihadapkan dengan usikan si pria, wanita itu sungguh kehabisan kata-kata. Satu detik kemudian, wanita itu melihatku dan langsung berlari ke sisiku.
“Sebenarnya aku itu penyuka sesama jenis, aku suka wanita. Aku bisa janjian sama kamu karena aku merasa kamu lagi membual saja. Coba kamu lihat, kekasihku sudah datang buat jemput aku!”
Wanita itu berbisik pelan di telingaku, “Kak, tolong aku.”
Satu detik kemudian, dia malah langsung mencium pipiku. “Sudah lihat belum? Hmph!”
Usai berbicara, dia menggandeng tanganku dan berlari meninggalkan pria itu seorang diri di tempat.
Setelah berlari jauh, wanita itu baru memberi tahu kronologis kejadian.
Sudah setengah tahun wanita itu tidak bermain. Saat melihat seorang pria membuat keterangan 25 sentimeter di aplikasi, dia mengira hanya sedikit lebih besar dari orang-orang pada umumnya. Jadi, dia pun janjian dengan pria itu di pepohonan berencana untuk berperang sejenak.
Siapa sangka setelah melihat, wanita itu menyadari bahwa pria itu seperti monster saja. Bukan hanya memiliki dua batang saja, bahkan ukuran setiap batangnya juga sangat amat besar.
Setelah aku mendengar cerita itu, tenggorokanku menjadi kering. Wanita itu benar-benar tidak tahu diri. Alangkah baiknya jika pria itu bisa menjadi santapanku.
Wanita itu berterima kasih atas bantuanku, lalu hendak mengantarku kembali ke asrama. Aku pun mencari alasan bahwa aku masih ada urusan.
Aku pun meninggalkannya, lalu segera berlari ke tempat tadi. Pria itu memang sangat cocok denganku. Aku tidak boleh melewatkannya.
Untung saja, pria itu masih belum pergi. Saat mendekat, aku baru terdengar suara tangisnya. Ternyata pria itu sedang menangis sembari duduk memeluk lututnya.
Aku sudah menjelaskan kepadanya bahwa tadi aku terpaksa bersandiwara dengan wanita tadi.
Pria itu mengatakan namanya adalah Jason Husmin. Dia juga satu sekolah denganku.
Sebentar, Jason Husmin? Aku mendekatinya untuk melihat pria itu dengan saksama. Bukannya dia adalah pria tertampan di sekolah kami?
Sebenarnya aku diam-diam menyukainya. Hanya saja, sejak aku mengetahui kekuranganku, aku pun merasa rendah hati dan tidak berani membayangkannya.
Tadi aku merasa pria ini sangat tampan, tapi lantaran terlalu gelap, aku pun tidak mengenalinya.
Jason memberi tahu rahasianya kepadaku. Sejak kecil, dia memang berbeda dengan yang lain. Dia memiliki dua batang alat reproduksi. Selain itu, setiap batangnya mengidap penyakit hipertrofi, yang mana berarti setiap batangnya mengalami pertumbuhan berlebihan.
Dulu Jason pernah berpacaran, tetapi setiap kalinya dia melepaskan celananya, semua wanita pasti akan melarikan diri. Kemudian, Jason menurunkan standarnya, bukan kekasih juga bukan masalah, dia bisa mencari teman ngobrol dari aplikasi. Hanya saja, tidak disangka baru pertama kali saja, dia sudah diminta retur.
Jason berkata dengan malu, “Sebenarnya, aku tergolong setengah perjaka.”
Sembari berbicara, Jason malah bersandar di tubuhku dan mulai menangis. Dia sungguh mirip dengan seekor anjing berbulu saja.
Saat aku mencium aroma sabun mandi di tubuhnya, hatiku pun mulai tergerak.
Dulu aku merasa Jason adalah pria tertampan di sekolah yang sulit untuk dijangkau. Sekarang siapa sangka, nasibnya sama denganku, sama-sama memiliki rahasia yang memalukan.
Ukurannya terlalu besar, tidak ada yang sanggup untuk menerimanya. Kebetulan, aku butuh ukuran besar. Bukannya kami adalah pasangan sejati?
Jason bukan hanya berwajah tampan saja, tubuhnya juga kuat. Jika bisa ditindih dan dimainkan oleh pria berwajah seperti ini, pasti rasanya nikmat sekali.
Apalagi dia punya dua batang, rasa gembira akan berlipat ganda!
Lantaran sedang melamun, aku tidak sengaja menyentuh suatu bagian dari tubuh Jason. Sekujur tubuhku bagai kesetrum saja, aku pun langsung merinding.
Saat kepikiran ada dua batang yang berukuran sangat amat besar bersembunyi di balik celana, aku pun ingin segera ditariknya ke pepohonan.
Pada saat ini, bel tanda lampu asrama dimatikan berbunyi.
Bab 3
Aku langsung panik, karena pengurus asrama kami sangat ketat. Begitu bel berbunyi langsung tidak diperbolehkan untuk memasuki asrama lagi. Jika tidak, mereka akan menelepon dosen pembimbing.
Biasanya, aku pasti akan berlari sekencang mungkin untuk kembali, tapi hari ini aku tidak melakukannya.
Aku malah memberanikan diri sembari melihat si tampan dengan malu. “Kak, bel asrama sudah berbunyi, nggak diperbolehkan untuk masuk lagi. Apa kamu bisa bawa aku untuk nginap semalam di tempatmu?”
Usai berbicara, aku pun merasa menyesal. Apa dia akan merasa aku adalah wanita murahan?
Tidak disangka, Jason hanya merasa syok sejenak saja, kemudian dia pun mengangguk tanda memperbolehkannya.
Pada akhirnya, Jason kepikiran sebuah cara bagus. Tadi siang dia menjemur selimut. Jadi, dia menggulungku di dalam selimut, kemudian membawaku kembali ke asrama.
Ternyata cara ini ampuh untuk membohongi pengurus asrama.
Setibanya di asrama, Jason menurunkanku di atas ranjang. Dia menutup tirai tempat tidur, lalu pergi membasuh tubuh.
Aku memeluk bantalnya sembari meringkuk. Rasa bahagia tumbuh di hatiku.
Aku diam-diam mencungkil sebuah lubang, lalu mengintip bayangan punggung tegap. Tercium juga aroma kejantanan yang kuat di hidungku.
Hasrat bagian bawah tubuhku semakin kuat lagi. Aku spontan meringkukkan jari kakiku, lalu berusaha untuk mengendalikan hasrat yang hampir membuatku runtuh itu.
Lantaran tidak sanggup menahan, aku mengopek ke bawah. Hanya sedikit saja, alhasil aku pun kehilangan kendali, langsung membasahi atas ranjang.
Celaka! Aku telah membasahi kasur pria tertampan di sekolah. Bagaimana ini? Apa dia akan memberi hukuman berat kepadaku? Dia akan menyuruhku untuk mengangkat bokongnya, lalu menjambak rambutku, kemudian ….
Semakin dipikir-pikir, aku semakin mendambakannya saja. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengapit kakiku, tetapi sekujur tubuhku tetap gemetar.
Terdengar suara aliran air dari kamar mandi. Aku bagai seorang maling saja, mencondongkan kepalaku untuk melihat.
Teman satu asrama Jason sudah mengorok hebat. Setelah memastikan mereka semua telah tertidur, aku diam-diam menuruni ranjang, lalu membungkukkan tubuhku ke sisi pintu kamar mandi.
Dari celah pintu, aku bisa melihat punggung kekar dan lebar pria tertampan di sekolah. Lekuknya sangat kelihatan. Dadanya tegap, otot perut dan pinggangnya juga indah.
Air menetes dari ujung rambut, kemudian jatuh ke atas bahu, lalu mengalir ke bagian otot perutnya. Hormon yang kuat itu telah memenuhi isi kamar.
Terutama bagian anu Jason itu, astaga, aku memang tahu dia memiliki ukuran yang berbeda dari orang pada umumnya. Namun, ketika melihat secara langsung, aku bisa merasakan betapa jantannya hingga aku kehabisan kata-kata.
Di benakku terus terlintas khayalan aku sedang berperang hebat bersama Jason. Aku pun spontan menelan air liurku.
Sebuah pemikiran yang pemberani dan gila terlintas di benakku. Aku tidak bisa bersabar lagi. Aku ingin segera tidur dengan Jason. Aku ingin dikasari olehnya.
Demi menjamin kelancaran rencanaku, aku mengeluarkan beberapa butir obat tidur dan juga sebutir kapsul pembangkit gairah.
Tadinya aku mempersiapkan obat ini untuk bos jasa kurir. Sayangnya aku tidak berhasil mendapatkannya. Untung saja akhirnya obat itu berguna juga saat ini.
Setelah diam-diam memasukkan obat ke gelas cowok idola di sekolah, aku menahan detak jantung yang tidak karuan itu kembali ke dalam selimut.
Beberapa menit kemudian, Jason keluar dari kamar mandi. Air masih menetes dari rambutnya. Setengah badannya dalam keadaan telanjang. Dia hanya mengenakan sepotong celana pendek saja. Bagian menggumpal itu sepertinya bisa keluar kapan saja.
Aku menelan air liurku, ingin segera maju untuk melorotin celananya.
Saat Jason menyadari aku sedang menatapnya, dia pun merasa agak syok. “Masih belum tidur?”
Aku pun hampir menjawab aku sedang menunggumu.
Terlintas gairah di dalam matanya. Napasnya juga terasa berat.
Aku menyerahkan air kepada Jason. “Kamu pasti haus. Ini air buat kamu.”
“Terima kasih.” Jason mengambil gelas air dengan wajah merona.
Ketika melihat Jason meneguk air hingga tidak bersisa, aku pun baru merasa lega.
Mengenai soal seprai, aku berbohong aku tidak sengaja menumpahkannya di saat aku menuang air tadi. Dia tidak menyalahkanku, lalu mengambil sepotong seprai ganti yang baru.
Jason berbaring di dekatku. Aku menahan napasku sembari menunggu efek obat dengan sangat gugup.
Kata penjual, obat itu akan menunjukkan efeknya dalam 30 detik. Efeknya akan sangat kuat, bahkan orang biasa juga tidak bisa menahannya.
Namun, aku sudah menunggu selama tiga menit, masih saja tidak ada efeknya. Tidak lama kemudian, aku malah terdengar suara napas tenang di samping.
Jason malah sudah tidur?
Ketika melihat wajah tampan Jason, mana mungkin aku bisa menahan diriku? Hatiku berseteru sesaat. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk turun tangan.
Aku dengan perlahan merangkak ke bagian bawah. Aku menarik celana dalam Jason dengan tangan gemetar.
Astaga. Jarak sedekat ini. Napasku juga hampir berhenti.
Aku mengesampingkan rambutku. Baru saja aku berencana untuk menikmatinya, aku merasa ada yang sedang menatapku dari atas.
Aku mengangkat kepalaku. Mata hitam berkilauan Jason sedang membelalakiku. “Kamu … lagi ngapain?”