Bab 2
: Gairah
Namun dia tidak mengenaliku, melihat aku tak menolak, dia semakin berani meletakkan tangannya di pantatku dan menggosoknya dengan keras hingga kedua pipi pantatku yang lembut benar-benar terbalut oleh telapak tangannya.
Aku semakin malu menggerakkan pinggul, mengencangkan otot panggul, berusaha melawan rasa malu yang menembus hingga ke tulang.
Namun api terus menyala membakar, sensasi aneh dari bawah tubuh pun terus menyerang hingga jiwaku benar-benar terkikis.
Ingin membiarkan tubuh yang penuh hasrat ini bergoyang bebas di atasnya, merasakan kenikmatan sesaat.
Kenapa adik iparku ini lihai sekali menggoda wanita? Tekniknya entah sudah bikin berapa wanita jatuh. Setiap sentuhannya membuatku merasa sangat nyaman.
Semua ini gara-gara suamiku sekarang sudah tidak bisa dalam hal ranjang, bahkan kalah dibanding pria tua berusia 70 tahun. Sudah berpuluh hari aku tak pernah merasa puas sekali pun.
Melakukan hal seperti ini dengan adik iparku sendiri jelas termasuk hubungan terlarang. Haruskah aku memberitahukan siapa aku sebenarnya?
Tangan kasar yang ada di bawahku tampaknya tak berniat melepasiku begitu saja. Dia merentangkan jarinya, menyelip ke dalam celana dalamku, lalu menariknya ke bawah seperti ular kecil yang menyusup, menjilat kulit paha yang paling lembut dan sensitif.
"Tidak... jangan..." Dengan mata terpejam, aku secara naluriah menolak dan mencongkelkan pantat ke belakang berusaha mendorongnya menjauh.
Tapi dia justru menekan lebih erat, membuatku jelas merasakan kelaminnya yang semakin perkasa dan mengintimidasi.
Wajahku memerah sampai hampir berdarah. Aku bukan perawan yang belum pernah disentuh, jadi aku sangat paham apa yang sedang terjadi.
Adik iparku benar-benar besar! Ukurannya jauh lebih besar dari suamiku, mungkin setara dengan pria dengan postur tubuh yang sangat besar.
Rasa rindu yang terdalamku benar-benar terbangkitkan, membuatku semakin merasa kosong di bawah sana.
Mengikuti naluri tubuh, aku menyesuaikan diri. Lagipula, dengan rok yang menutupi, tidak mungkin melakukan hal yang benar-benar melewati batas di dalam bus.
Dia pun terkekeh pelan, aroma maskulin dan tajam dari hormon pria itu menyerbu hidung dengan gila-gilaan hingga membuatku tak tahan dan gemetar semakin hebat.
"Kamu sudah basah, ya? Lihat kamu begitu sensitif... suamimu pasti nggak bisa apa-apa, ya?"
Dia... kenapa dia bisa ngomong begitu?
Tubuhku langsung lemas tak berdaya dan gemetar tanpa kendali. Ada gelombang panas yang mengalir dari tulang belakang, menjalar cepat ke seluruh darahku.
Detik berikutnya, satu tangan besar yang kasar langsung meraih pinggangku. Hangatnya seperti tungku kecil yang membakar kulit, bergesekan lembut di bagian pinggangku yang paling lembut.
Itu salah satu titik paling sensitif di tubuhku, sedikit saja disentuh, rangsangannya bisa langsung mengguncang seperti sensasi puncak kenikmatan saat bercinta.
Jantungku berdebar kencang, napasku jadi berat dan terengah-engah, kakiku hampir tak kuat menopang tubuh.
"Kumohon, jangan begini di dalam mobil..."
Suara doaku lirih setengah menggigil, sementara dia terus bertindak semaunya.
Tapi dia justru makin menjadi-jadi. Telapak tangannya yang lebar dan kuat meremas dengan kasar, lalu mengikuti garis pinggangku dan bergerak naik langsung menyusup masuk lewat bawah bajuku, menggenggam penuh buah dadaku yang lembut, sampai sebagian besar perutku ikut tersingkap.
Ya Tuhan... bagaimana bisa dia melakukan ini?!
"Nggak..."
Aku memekik panik, buru-buru menarik bajuku dengan tangan satunya, mencoba menutupi agar tidak sampai terlihat.
Dengan sekuat tenaga, aku mencubit punggung tangannya, berharap dia berhenti menyerang dadaku.
"Dasar genit, masih pura-pura sok polos? Kamu bahkan nggak pakai bra, bukannya memang sengaja biar gampang disentuh pria?"
Dia menahan kedua tanganku sembari terus meremas payudaraku yang besar dan lembut, bahkan menjulurkan lidahnya, menjilat lembut daun telingaku.
"Paling nggak ini ukuran 36F... bulat dan berdiri sempurna. Besar tapi tetap padat, benar-benar luar biasa."
Kenapa sih adik ipar bisa sejahat ini? Sudah puas mempermainkan tubuhku yang begitu mudah terangsang, sekarang dia malah berani-beraninya mengomentari semuanya seolah-olah sedang menilai barang dagangan.
Meskipun dulu aku sering berkhayal disentuh pria lain, ini tetap pertama kalinya aku begitu dekat secara intim dengan pria selain suamiku.
Dadaku terasa makin penuh dan sensitif. Tubuhku panas seperti terbakar dari dalam.
Adik ipar gemetar pelan di belakangku, napasnya berat, jelas sekali dia sangat terangsang dan kini tubuhnya menekan lebih kuat ke pangkal pahaku.
"Nakal sekali kamu... enak ya saat kusentuh seperti ini? Mau aku mainkan kamu lebih kuat lagi?" Terdengar suara di telingaku, akrab tapi juga terasa asing.
Meskipun hatiku dipenuhi rasa malu, tapi jiwaku justru tergoda oleh sensasi ini tanpa sadar. Pinggulku malah terangkat lebih tinggi menjemput sentuhan itu.
Rasa asam dan menggetarkan itu menyebar ke seluruh tubuhku, terlalu kuat sampai-sampai aku hampir kehilangan kendali... seperti ingin mengalir keluar.
Suamiku benar-benar harus belajar dari adik ipar. Dia benar-benar adalah penakluk wanita.
Lewat pantulan kaca, aku bisa melihat sorot matanya yang memerah penuh gairah. Kelaminnya yang kuat dan panas terus menekan titik paling sensitif di tubuhku, bergesekan berulang-ulang sampai tulang-tulangku bergetar tak tertahankan.
"Ku... kumohon... jangan perlakukan aku seperti ini..."
Bab 3
: Adik Ipar
Dari mulutku keluar suara lirih penuh rasa malu dan permohonan. Hanya dalam hitungan detik, aku sudah nyaris tak sanggup menahannya.
Tubuhku seakan terbakar oleh hasrat yang tak terkendali. Gairah ini hampir membuatku gila. Aku menginginkannya... kenikmatan itu yang manis dan menyiksa, menggoda sampai ke tulang.
Kenikmatan yang bisa membuatku melayang tinggi lalu jatuh seperti antara hidup dan mati... antara rasa asam yang menyesakkan dan gatal yang menggoda.
Aku menggeliat dan bergesekan dengannya penuh hasrat seperti seseorang yang lapar akan sentuhan. Kepalaku sudah melayang, pikiranku kabur dan tanpa sadar tanganku menyentuh bagian belakang tubuhku sendiri, mencari sensasi yang lebih dalam.
"Aku... aku nggak tahan lagi... aku mau... aku..."
Leher seputih salju itu sedikit terangkat, dan mulutku terbuka dan tertutup penuh kenikmatan mengeluarkan desahan yang memalukan dan cabul.
Sekarang yang lain sudah turun dari mobil, dan hanya aku dan dia yang tersisa!
Adik iparku langsung mendekat, tubuhnya menekanku ke jendela. Kedua tanganku melingkari lehernya, menariknya lebih dekat. Dengan penuh hasrat, aku membuka kakiku dan merapatkannya di pinggangnya erat seolah ingin menjebaknya di sana selamanya.
Tapi tiba-tiba sopir bus ngerem mendadak hampir bikin kami jatuh.
Tarikannya yang kuat akhirnya membuatku sedikit sadar. Saat ini wajah suamiku langsung muncul di kepalaku. Aku lagi ngapain ini?
Di tempat umum... sama adik ipar... aku benar-benar hampir lakukan itu?
Sopir bus tiba-tiba bilang dengan nada penuh sindiran, "Ini bus, bukan hotel… jaga sikap dong!"
Adik ipar langsung melirik dingin ke arahnya, tatapannya tajam banget, tapi akhirnya dia berhenti dan malah turun dari bus.
Sampai sekarang, aku bahkan belum benar-benar bicara baik-baik sama adik iparku.
Rok ketatku juga jadi kotor gara-gara dia, benar-benar keterlaluan!
Setiap inci kulitku sudah memerah. Aku pun hanya bisa menyeret tubuh lemas ini pulang. Saat itu jiwaku sudah berselingkuh.
Kalau aku bertahan sedikit lagi tadi, pasti aku sudah habis dilahap adik ipar sampai tak tersisa dan akhirnya pasrah sepenuhnya di bawah kendalinya.
Bayangan memalukan yang tak terhitung jumlahnya berkelebat di pikiranku, dan tanpa sadar buah dada serta pinggulku bergetar.
Sesampainya di rumah, suamiku sedang berbaring di sofa menonton pertandingan sepak bola. Ketika melihat aku kembali, ia tampak tidak tertarik. "Istriku, aku agak lelah hari ini. Bisakah kita tidak tidur bareng?"
Nafsu yang dipicu di dalam bus tadi belum juga reda. Aku masih berharap bisa dilepaskan oleh suamiku malam ini, setidaknya sedikit meredakan rasa panas ini. Tapi sebelum aku sempat buka suara, dia malah langsung menolak. Rasanya lebih menjijikkan dari menelan lalat hidup-hidup.
Aku menahan amarah sekuat tenaga, lalu melempar tas ke sofa sambil berkata dingin, "Terserah kamu!"
"Oh ya, adikku mau nginap di rumah beberapa hari. Dia ikut daftar lomba binaraga di kota."
Pantas saja adik ipar datang ke kota… jangan-jangan…
Tiba-tiba suara ketukan di pintu memotong pikiranku, membuat suamiku yang sedang duduk di sofa langsung terkejut dan berdiri. Begitu pintu dibuka, orang yang berdiri di sana sungguh tak terduga, ternyata adik ipar.
Wajah suamiku langsung disambut senyum antusias. "Alvin! Kamu berubah banget sejak rajin latihan fisik, ototmu gede banget, mukamu juga makin tegas. Hampir aku nggak mengenalimu!"
Ya Tuhan, dia benar-benar adalah adik iparku, Alvin. Aku tidak salah orang.
Saat itu juga, dia juga melihatku, wajahnya sempat terlihat terkejut, tapi dengan cepat berubah menjadi senyum samar yang sulit ditebak.
Seolah-olah dia bisa langsung melihat isi pikiranku. Rasa malu langsung menyergap, tapi entah kenapa juga muncul sensasi aneh yang menggoda. Adegan saat tanganku yang putih dan ramping menyentuh pahanya kembali terbayang begitu jelas.
Perut bagian bawahku langsung terasa panas bergelombang seperti riak air.
Peristiwa di dalam bus seolah menjadi rahasia yang tak perlu diucapkan. Kami sama-sama memilih diam.
Beberapa tahun ini aku tidak pulang kampung, dan sekarang penampilan adik ipar benar-benar berubah drastis. Siapa yang akan percaya kalau orang desa bisa punya postur tubuh dan aura seperti ini?
Pipiku langsung memerah, aku tidak berani menatap matanya. Tapi justru malah melihat bagian depan celana adik ipar yang menonjol seperti tenda kecil, benar-benar bikin takut.
Melihat pemandangan itu, aku bukannya marah, justru kedua kakiku makin merapat tanpa sadar.
"Alvin, penyakit anehmu itu sudah sembuh?
Suamiku bilang, beberapa tahun lalu adik ipar kena semacam penyakit aneh. Setiap kali dia melihat wanita cantik dan seksi, dia langsung bereaksi seperti anjing jantan yang sedang birahi, susah banget buat dikendalikan.
Dan reaksinya itu bisa berlangsung selama tujuh hingga delapan jam, membuatnya sangat menderita dan kesakitan.
Olahraga itu buat keluarkan tenaga, jadi hasratnya nggak terlalu kuat.
Adik ipar ini benar-benar menakutkan, kenapa suamiku dulu nggak pernah cerita soal ini ya?
"Kak, penyakit ini nggak ada obatnya. Malah sejak aku rajin latihan fisik, durasinya makin panjang, energiku juga makin meluap!"
"Sayang, kenapa kamu nggak carikan adik ipar seorang wanita aja?" Aku akhirnya nggak tahan dan bertanya.
Adik ipar menggeleng, nada suaranya agak sedih, "Di kampung semua bilang aku ini reinkarnasi keledai jantan. Makhluk itu bisa bikin wanita pingsan, siapa juga berani dekat-dekat sama aku?"
"Aku kambuh lagi hari ini. Kalau nggak bisa dilepasin, malam ini jangan harap bisa tidur."
Aku menduga adik ipar kena kecanduan tidur sama cewek dan sangat parah, rasanya seperti dia selalu bawa tongkat besi di celananya.
Beberapa saat kemudian, suamiku pelan berkata, "Alvin, kalau kamu memang susah banget, kamu bisa minta bantuan kakak iparmu untuk melepaskan..."
Bab 4
: Hubungan Terlarang
Setelah suamiku berkata begitu, aku dan adik ipar sama-sama terdiam di tempat. 'Apa mungkin suamiku sudah tahu sesuatu?'
Aku memaksakan diri untuk menekan pikiran-pikiran penuh nafsuku. Sebenarnya, aku bisa melakukannya. Sejak mengetahui betapa besar kemampuan adik ipar, aku ingin ditiduri dengan keras olehnya.
Tapi adik ipar dengan tegas menolak, "Kakak, jangan bercanda seperti itu. Itu namanya hubungan terlarang, kamu paham nggak sih?"
Adik ipar benar-benar pandai berpura-pura, padahal di bus tadi ucapannya sama sekali nggak seperti ini.
Bibirku yang kemerahan sedikit terbuka. Tenggorokanku pun terasa kering.
Saat ini tiba-tiba suamiku menerima telepon, katanya ada urusan mendadak di kantor dan harus lembur semalaman. Setelah bicara beberapa patah kata, dia pun buru-buru pergi.
Tinggallah aku dan adik ipar saling menatap, dan di matanya terlihat sorot tajam yang nyaris membakar seolah ingin melahapku habis hingga tak tersisa sedikit pun.
Dia merentangkan kedua tangan lalu memelukku erat, hidungnya menempel di bahuku dan menghirup dalam-dalam.
"Kakak Ipar, kamu benar-benar menggoda dan harum... Aku benar-benar iri pada kakakku."
"Di dalam bus tadi aku sampai nggak sadar, cewek genit itu ternyata kakak iparku sendiri!"
Telapak tangannya yang hangat bergerak liar ke sana ke mari, seolah menganggap aku ini istrinya sendiri.
Adik ipar memang benar-benar keterlaluan, tapi terlalu sering main api dan goda-godaan diam-diam di rumah begini malah bikin tubuhku makin terangsang dan membuatku makin kehilangan kendali.
"Adik Ipar, aku mau mandi dulu." Begitu kata-kataku keluar, aku langsung pergi seperti sedang melarikan diri. Sebenarnya, aku selalu mencintai suamiku. Kalau bukan benar-benar terpaksa, aku tak mungkin mengkhianatinya. Yang di bus waktu itu cuma kecelakaan.
Entah kenapa aku punya firasat, sepertinya akan terjadi sesuatu antara aku dan adik ipar.
Setelah membersihkan diri dan berbaring di bak mandi, uap panasnya membuatku semakin terangsang. Aku menggigit bibir bawah, merapatkan kaki kiri dan kananku erat-erat, lalu mulai memainkannya dengan jari-jariku yang ramping.
Akhir-akhir ini aku nggak tahu kenapa suamiku jadi begitu. Dia sama sekali nggak memuaskanku, apa dia nggak takut aku bakal selingkuh?
Sudah lama sejak terakhir kali aku disetubuhi sampai puncak kenikmatan, orgasme sungguhan itu seperti kehilangan keperawananku.
Wajahku perlahan memerah. Dengan wajah cemberut manja, napasku makin memburu menikmati kenikmatan kosong yang menyiksa.
Andai saja tangan mungil ini berubah jadi milik pria sungguhan, pasti rasanya jauh lebih hebat ya?
Aku memang tidak mengunci pintu kamar mandi, hanya menariknya rapat pelan-pelan.
Entah sejak kapan, pintu itu sudah didorong diam-diam, dan sepasang mata merah membara sedang diam-diam mengintipku dari celah.
"Siapa?" Aku berpura-pura terkejut, lalu buru-buru menutup tubuh mungilku dengan handuk. Kulitku masih basah karena campuran keringat dan uap air. Bibirku yang lembut memerah, lidah mungilku seolah berputar di bibir menambah kesan menggoda.
"Kakak Ipar, ini aku. Aku tahu kamu sedang menungguku!" Adik ipar sama sekali tidak mengintip, malah masuk ke kamar dengan santai dan percaya diri.
Jantungku pun berdebar kencang. Aku jelas tahu tampang genit dan menggoda seperti ini, mana ada pria yang bisa tahan?
Dia sekarang hanya mengenakan celana dalam hitam, otot perutnya tersusun rapi, otot di pangkal pahanya tampak bergerak seperti barisan belatung hidup.
Benjolan besar di balik celananya begitu mencolok, gila ukurannya bahkan lebih besar dari yang biasanya hanya bisa dibayangkan!
"Aduh, aku lagi mandi, Adik Ipar, cepat keluar dong!"
Aku sudah pernah merasakan betapa ganasnya adik ipar. Apa pun yang kulakukan tetap saja tak bisa mengisi kekosongan yang terus menganga di dalam hatiku.
Aku juga sangat menginginkannya... tapi itu terlalu memalukan! Harga diriku sebagai perempuan membuatku terus menyangkal, padahal hatiku berkata sebaliknya.
Tapi adik ipar sama sekali tidak peduli. Seperti binatang buas yang sedang kalap, ia menerkamku begitu saja dan mengangkat tubuhku lewat ketiak.
Handuk yang kupakai jelas tak mampu menutupi lekuk tubuhku yang menggoda dan kulitku yang telanjang masih basah, penuh tetesan air yang mengilap.
Lidahnya yang kasar langsung menerobos masuk ke dalam mulutku, menekan sampai ke tenggorokan. Seluruh tubuhku bergetar hebat tak mampu menahan sensasi itu. Dengan tatapan penuh godaan dan pesona, aku mendongak menatap adik ipar dari bawah.
Lidahnya tebal dan besar. Memang benar, pria seperti dia, bagian mana pun pasti besar!
Tangan itu mulai bergerak liar, menjelajah dari betis putih dan licin ke atas, lalu berhenti di bagian paling empuk. Pinggulku yang lembut dan montok, diremas-remas sampai aku nyaris lemas seperti cair.
Tubuhnya yang basah terasa lebih bernafsu dari biasanya. Adik iparku begitu panas sampai-sampai aku tak kuat menahan erangan malu.
Jangan salahkan aku karena terlalu menggoda, salahkan saja adik iparku karena terlalu memikat. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menikmati sepuasnya.
Tapi saat ini tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuat kami berdua terkejut.
Suara suamiku terdengar dari luar, berteriak keras, "Alvin, Sayang, cepat buka pintunya! Aku lupa bawa kunci!"