Bab 1

"Nggak ... jangan, bagian bawahku sudah nggak muat lagi, huhuhu!"

Di atas ranjang pasien, aku menunggingkan bokongku yang putih bersih. Dokter sedang membantuku memeriksa masalah gangguan gairah parah yang kuderita.

Namun, dia seolah sedang mempermainkanku. Telapak tangannya tak henti meremas bokong kencangku, bahkan memasukkan jarinya ke dalam.

Semakin aku memohon ampun, dia tampak semakin bergairah.

Tak tahan lagi, aku menoleh ke belakang. Siapa sangka, dia bukan dokter! Bukankah dia itu dosenku?

Detik berikutnya, dia mendesak maju ke arahku dengan kasar!

Namaku Lidia Yerdi. Sejak kecil, aku tersiksa oleh gangguan gairah tubuh.

Orang-orang selalu menganggapku gadis baik-baik, padahal hanya aku yang tahu betapa kuatnya hasratku terhadap pria.

Hanya dengan melihat pria bertubuh kekar, celanaku bisa mendadak basah tak tertahankan.

Sejak kuliah, gangguan ini semakin tidak terkendali.

Terkadang, gesekan saat berjalan saja bisa membuatku "klimaks" tanpa sengaja.

Orang lain mungkin mengira aku mengompol.

Penyakit ini benar-benar mengganggu kehidupanku sehari-hari.

Aku pun menceritakan keluhanku pada dosenku, dan dia menyarankan agar aku memeriksakan diri ke rumah sakit.

Hari ini, aku datang ke rumah sakit ginekologi. Setelah mendaftar, aku pun berbaring di ranjang periksa.

Melihat ruangan yang kosong dan mencium aroma hormon maskulin yang memenuhi udara, aku mulai merasa gatal lagi.

Di antara kedua kakiku rasanya seperti ada semut yang merayap masuk. Isi kepalaku penuh dengan bayangan pria.

Rasanya menyiksa sekali ....

Mumpung tidak ada orang, aku tak tahan untuk tidak memasukkan tangan ke balik rok.

Aku memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang berkembang dengan sangat seksi.

Kaki-kakiku jenjang dan ramping, terutama sepasang "bukit" ini. Bahkan saat berbaring pun rasanya hampir meledakkan pakaianku.

Sungguh sangat cantik, tapi malah punya penyakit seperti ini.

Tepat saat itu, pintu kamar rawat terbuka.

Seorang pria mengenakan jas putih dokter masuk. Dia menunduk, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Aku segera menarik tanganku, jemariku masih bersimbah noda lengket.

Sejujurnya, sangat memalukan jika penyakit ini sampai diketahui orang lain.

Bahkan di depan dokter pun, aku masih merasa sungkan.

"Berbaring, tengkurap dan nunggingkan bokongmu. Aku akan memeriksa bagian bawahmu," perintah dokter itu.

Aku berbalik dan tengkurap di ranjang, mengangkat pinggulku tinggi-tinggi.

Pose ini membuatku semakin malu, karena aku belum pernah melakukannya di depan lawan jenis.

Area di antara kedua kakiku sudah sedikit basah.

Yang lebih membuatku tersipu adalah saat dokter tiba-tiba menarik celanaku dan menyentaknya ke bawah dengan kuat.

Seketika, dua belah bokong yang putih dan bulat pun terpampang nyata.

"Ah ... apa harus buka celana juga?"

Mungkin karena merasa lucu dengan pertanyaanku, dokter itu terkekeh.

"Bagaimana aku bisa memeriksa kalau kamu nggak buka celana?"

"Tapi, tapi ...." Melihat bagian bawahku terekspos sepenuhnya di depan lawan jenis, aku merasa merinding di sekujur tubuh.

Lebih gawat lagi, rasa candu itu mulai kumat dengan hebat. Tubuhku didera rasa gatal yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Aku takut tiba-tiba akan "menyemprot".

"Jangan khawatir. Dokter punya etika medis. Ini memang pekerjaan kami, jadi nggak akan berpikiran macam-macam padamu."

Mendengar hal itu, aku sedikit tenang. Menjadi dokter adalah panggilan suci, mungkin aku saja yang terlalu sensitif.

Aku pun menahan rasa gatal yang menyiksa itu dan tetap menungging tinggi-tinggi untuk diperiksa.

Detik berikutnya, kedua telapak tangannya yang kasar menyentuh bokong kencangku.

Dia ternyata tidak memakai sarung tangan!

Biasanya dokter memakai sarung tangan putih saat memeriksa pasien, tapi tangan besar yang kasar dan hangat ini justru mengelusku. Seketika, aku merasa hampir tidak tahan lagi.

Tubuhku yang memang sudah gatal, kini terasa seperti gunung berapi yang siap meletus. Seluruh organ tubuhku rasanya seperti terbakar.

"Dokter, uh ... kenapa Anda nggak pakai sarung tangan?"

"Oh, ini agar bisa memeriksamu dengan lebih baik dan membantumu pulih."

Demi kesembuhan, aku terpaksa membiarkan dokter itu memeriksa bokongku. Aku hanya perlu bersabar sebentar lagi agar bisa terbebas dari penderitaan ini.

Memikirkan hal itu, aku mengatupkan gigi rapat-rapat, berusaha melawan rasa gatal yang menusuk.

Namun, teknik dokter ini benar-benar aneh.

Ini tidak terlihat seperti pemeriksaan medis.

Malahan terlihat seperti ... pelecehan?

Telapak tangannya sedikit menekan, menggosok kedua belah bokongku dengan gerakan melingkar yang lembut.

Tangan kasarnya yang menyapu kulit halusku, justru memberiku rasa nyaman yang unik.

"Uh ... emm ...." Aku tak sengaja mengerang lirih. Hasrat dalam tubuhku semakin menggebu.

Tak cukup sampai di situ, dokter itu meremas bokongku dengan kuat. Bokongku yang kenyal, berubah bentuk di bawah remasannya.

Bahkan, terdengar suara decak kagum dari mulut dokter itu.

"Kencang sekali, sangat lembut ... enak sekali dipegang."

Seketika, seluruh tulangku terasa lemas dan nikmat. Tanpa sadar, aku mengangkat pinggulku lebih tinggi.

Aliran hangat pun mengalir keluar tak tertahankan.

Mengapa ini bukannya menyembuhkanku, tapi malah membuatku makin tersiksa?

"Dokter, teknik Anda ... kenapa aneh sekali? Rasanya seperti sedang ... merabaku."

Dokter itu baru tersadar dan berkata padaku, "Ini adalah tahap awal pengobatan. Aku sedang memancing keluar hasrat di tubuhmu. Setelah semua hasratmu tercurahkan, baru kita bisa mengobatinya sampai ke akar."

Meski kata-katanya terdengar janggal, dia tetaplah seorang dokter, jadi aku terpaksa mempercayainya untuk sementara.

Kemudian, dokter itu menekuk satu jarinya dan mulai menyusuri belahan bokongku perlahan.

Rasanya seperti ada aliran listrik kuat yang menjalar dari tulang ekor, membuat seluruh tulang belakangku kesemutan nikmat.

Detik berikutnya, jari dokter itu sudah sampai di ....

Bab 2

Seketika, seluruh darahku terasa mendidih. Tubuhku gemetar tak terkendali, dan dari tenggorokanku keluar suara napas yang memburu.

Wajahku memerah padam, dan kedua kakiku mulai lemas.

Rasanya terlalu nyaman, hasrat dalam tubuhku melonjak gila-gilaan.

Aku mencengkeram seprei dengan kuat untuk melawan rasa geli yang luar biasa ini.

Disentuh bagian itu oleh lawan jenis dengan tangan kosong benar-benar memalukan.

Namun, di balik rasa malu itu tersembunyi gairah. Aku justru ingin sang dokter berbuat lebih kasar lagi.

"Nggak, jangan .... Dokter, aku sudah nggak kuat lagi, jangan masuk lebih dalam lagi."

Aku berbicara dengan susah payah sambil terengah-engah.

Rasanya setiap sel di tubuhku seperti diperas dan meledak seketika.

"Bagian ini memang sangat sensitif. Untuk menyelesaikannya, aku harus menggunakan metode khusus."

Metode khusus?

Sebelum aku sempat bereaksi, tiba-tiba terasa sentuhan lembut dan basah menyapu sepanjang celahku, meluncur naik turun dengan perlahan.

Ini ... lidah?

Aku sulit mempercayainya. Mana ada dokter yang mengobati pasien dengan cara seperti ini?

Namun, sensasi ini jauh lebih merangsang dan nyaman daripada jari tadi. Seribu kali lipat lebih nikmat!

Otakku terasa lumpuh karena kenikmatan yang membubung tinggi, hingga aku kehilangan kendali atas anggota tubuhku.

Aku hanya bisa terpaku membiarkan dokter itu melakukan "pengobatan" padaku.

Dokter itu menopang pinggulku agar aku tidak merosot karena kehilangan kendali.

"Berhenti, hentikan ... aku sudah nggak kuat lagi, hiks. Dokter, aku nggak mau berobat lagi, lepaskan aku."

Namun, dokter itu sama sekali tidak berniat berhenti. Sebaliknya, dia menjilat lebih kuat lagi, bahkan lidahnya berusaha masuk ke dalam.

Air mataku hampir jatuh, tapi tubuhku sama sekali tidak bisa diajak kompromi.

Ingin kabur pun tak bisa.

Dahiku penuh keringat yang menetes satu per satu ke seprei.

Dengan sisa tenaga, aku menoleh ke belakang untuk menghentikan pengobatan ini.

Begitu aku menoleh, rasanya seperti tersambar petir.

Pria ini bukan dokter! Bukankah dia dosenku?

Dia adalah Pak Gilion Andani, dosen yang menyarankanku untuk datang ke rumah sakit ini!

Seketika aku tersentak. Otakku langsung mengambil alih kendali tubuhku.

Aku membalikkan badan, meringkuk di sudut ranjang sambil memeluk lutut.

"Pa-Pak Gilion? Kenapa Bapak ada di sini?"

Gilion menjilat sisa noda lengket di bibirnya dan berkata, "Bapak ‘kan sedang mengobatimu. Jangan takut, kalau hasrat di tubuhmu sudah keluar semua, kamu akan sembuh."

Aku tidak percaya padanya. Dia jelas-jelas memanfaatkan kesempatan ini untuk melecehkanku.

Biasanya di kampus pun dia selalu menatapku dengan mesum, bahkan pernah mencuri pakaian dalamku.

Aku sudah lama tahu dia punya niat buruk padaku.

Namun, perasaan tadi sungguh terlalu kuat. Sampai sekarang aku masih bisa merasakan sisa-sisa kenikmatan itu.

Tubuhku terasa kosong, ingin diisi dengan kasar.

Namun bagaimanapun juga, dia adalah dosenku. Apalagi perbedaan usia kami hampir dua puluh tahun.

"Nggak, nggak boleh .... Pak Gilion, kita nggak boleh melakukan hal itu!"

Mulutku menolak, tapi jauh di dalam hati ada rasa kehilangan.

Gilion justru naik ke ranjangku, mendekat selangkah demi selangkah.

"Bapak hanya membantumu mengobati tubuhmu. Jadilah gadis penurut, buka kakimu, tinggal satu langkah terakhir lagi."

Sambil berkata demikian, dia mengulurkan tangan hendak menangkap kakiku.

Aku mundur beberapa langkah, lalu menyadari bahwa bagian seprei yang tadi kududuki sudah basah kuyup.

"Kamu sudah sebasah ini, pasti gatalnya sangat menyiksa, ‘kan? Jangan dipaksakan lagi, biar Bapak bantu menyelesaikannya, ya?"

Aku menggeleng tegas. "Bapak itu dosen, aku mahasiswa. Kita nggak boleh punya hubungan seperti itu!"

Namun, Gilion seolah kehilangan kendali nalurinya. Dia tiba-tiba mencengkeram kedua pergelangan kakiku dan menarik kedua kaki jenjangku hingga terbuka lebar.

"Jangan banyak omong! Mahasiswa seperti kamu ini memang terlahir untuk memuaskan dosenmu!"

Begitu kalimat itu selesai, dia menyentak rok pendekku hingga terlepas, memamerkan kedua paha yang polos.

Diperlakukan secara kasar justru membuat gangguanku kumat lagi.

Batinku berteriak gila, ingin diisi oleh pria di depanku ini.

Tanpa sadar, aku membuka kedua kakiku untuknya.

"Dasar gadis jalang, kamu suka yang kasar, ya? Hari ini aku akan membuatmu puas."

"Pak, yang ... yang kuat," erangku pelan.

Selanjutnya, dia dengan kasar memanggul kedua kakiku dan menerjang ke arah celah di antara kedua kakiku.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B95237" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B95237
Salin

Gadis Pecandu di Rumah Sakit

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya