Bab 1
Suamiku mengunggah fotoku di media sosialnya, sehingga aku dianggap sebagai pelakor oleh selingkuhannya. Selingkuhannya membawa semua kerabat dan teman-temannya untuk melabrakku.
"Wanita murahan nggak tahu malu. Berani-beraninya kamu goda suamiku!"
"Kupukul kamu sampai mati, dasar pelakor!"
Sekumpulan orang itu menghujaniku dengan pukulan, merusak mobilku, dan merobek pakaianku. Aku dipukul hingga babak belur, gegar otak, dan mengalami patah tulang.
Pada akhirnya, aku melapor polisi dan mengajukan tuntutan pada mereka semua. Pada saat bersamaan, aku menyuruh sekretarisku untuk mempersiapkan surat cerai kepada suami berengsekku itu.
"Kalau bukan berkat aku, kamu masih jadi pengemis di jalanan sekarang. Berani-beraninya kamu berselingkuh dan diam-diam punya anak di belakangku? Pergi sana, jangan harap bisa dapat sepeser pun uangku!"
Saat baru turun dari mobil dan bersiap untuk masuk ke dalam mal untuk berbelanja, aku melihat sekelompok orang berwajah garang yang mendekatiku dari seberang jalan. Mereka membawa ponsel dan pengeras suara, tampaknya sedang melakukan siaran langsung. Pengeras suara itu terus-menerus mengatakan bahwa mereka akan memberikan pelajaran pada seorang pelakor.
Aku menggelengkan kepala. Sekarang ini siaran langsung benar-benar tidak ada batasnya, tak heran jika penontonnya banyak. Tiba-tiba, aku memfokuskan pandangan dan melihat wanita yang sedang menggendong bayi di tengah kerumunan. Aku mengenalnya.
Imelda, dia adalah mahasiswi yang disponsori oleh suamiku. Kondisi ekonomi keluarga suamiku tidak terlalu baik. Beberapa tahun yang lalu dia mengatakan padaku bahwa dia ingin mensponsori beberapa mahasiswa untuk berkuliah. Aku mengira bahwa dia mau membantu orang lain karena dia sendiri juga pernah mengalami kesulitan, sehingga aku pun mendukung keputusannya ini.
Imelda adalah salah satu mahasiswa tersebut. Aku pernah melihat foto dan data pribadinya. Keluarganya sangat miskin, kedua orang tuanya sudah tiada, dan kakek-neneknya yang merawatnya dengan penuh perjuangan. Waktu itu, aku merasa dia sangat malang dan meminta suamiku untuk membantunya sebisa mungkin, sekalian berbuat amal.
Mereka berjalan ke arahku. Baru saja aku hendak menyingkir, seseorang telah mendorongku hingga aku hampir terjatuh. Imelda menatapku dengan sinis.
"Mau kabur? Jangan harap!" Dia kemudian berbicara ke arah kamera ponselnya, "Semuanya, lihatlah, inilah pelakor yang merebut suamiku!"
Dengan ekspresi datar aku berkata, "Kalian salah orang, aku bukan pelakor!"
Imelda segera menjawab, "Nggak salah! Orang yang mau kami beri pelajaran adalah kamu, Yuliana."
"Kalian nggak tahu seberapa parahnya wanita licik ini. Bukan cuma mau menghancurkan keluargaku, dia juga berusaha memindahkan semua aset suamiku atas namanya! Suamiku adalah presdir dari perusahaan besar dan sangat tampan. Pelacur ini langsung tergoda dan mulai merayunya!"
Dia mendekatkan bayi yang digendongnya ke arah kamera. "Ini adalah putri kami, sudah lebih dari enam bulan. Saat aku sedang hamil, pelacur ini sudah mulai menggoda suamiku. Dasar wanita nggak tahu malu!"
Melihat tuduhannya semakin tidak masuk akal, aku mulai kehilangan kesabaran untuk menjelaskan. "Imelda, ya? Aku peringatkan, jangan asal bicara dan mencemarkan nama baikku ...."
Namun, belum selesai aku berbicara, seorang wanita di sampingku telah menampar wajahku. Seketika, kepalaku berdengung dan aku hampir saja tidak bisa berdiri tegak. Sepanjang hidupku, tidak ada seorang pun yang berani memukulku, tapi kali ini kesabaranku sudah habis.
Aku mengambil ponsel dari dalam tas untuk menelepon polisi, tetapi tas LV di tanganku langsung dirampas dan dibuang ke tanah, lalu diinjak-injak.
"Dasar pelakor sialan! Masih nggak mau ngaku? Sepertinya kamu nggak akan jera sebelum diberi pelajaran!"
"Ibumu nggak pernah ngajarin kamu nggak boleh jadi pelakor dan menghancurkan hubungan orang lain? Dasar murahan, lebih hina dari pelacur!"
Mereka mencengkeram rambutku, menariknya dengan kasar, membuatku kesakitan sampai berkeringat dingin. "Lepaskan aku! Aku bukan orang yang bisa kalian perlakukan seenaknya!"
Namun, seolah-olah tidak mendengarnya, mereka malah semakin mendekatkan ponsel ke wajahku. Ada juga yang terus-menerus memotret dan merekam video. Penonton di ruang siaran langsung semakin banyak dan berbagai komentar memenuhi layar.
[ Pelakor memang harus diberi pelajaran! Biar jera dan jangan sembarangan merusak rumah tangga orang! ]
[ Memang pantas dihukum! Moral wanita ini sudah hancur, mengganggu keluarga orang lain. ]
[ Kelihatan polos, ternyata pelakor juga. ]
Imelda melihat komentar terakhir dan menimpali, "Kalian tahu nggak, wanita yang terlihat polos begini biasanya paling liar. Semua pria mau digodanya!"
Teman Imelda menambahkan, "Lihat saja tampangnya yang genit, pasti pelakor ini sudah sering melakukannya!"
Kemudian, mereka melihat mobilku.
"Ini mobil Ferrari, harganya pasti miliaran. Jadi pelakor ternyata memang menguntungkan!"
Imelda menyerahkan bayinya kepada seorang wanita paruh baya di sampingnya lalu berkata, "Mobil ini dibeli dari hasil jual tubuh. Ayo kita rusak mobilnya!"
Mereka mengambil tongkat besi dan mulai merusak mobilku. Aku tidak pernah melihat orang segila dan tidak berpendidikan seperti ini.
Imelda bahkan merebut kunciku untuk membuka mobil, lalu mengeluarkan barang-barangku dan melemparkannya ke tanah dan menginjak-injaknya. Tak lama kemudian, dia mengeluarkan sebuah kotak hadiah besar dari bagasi.
Aku berujar dengan tegas, "Kuperingatkan kamu, itu adalah guci antik bernilai lebih dari ratusan miliar."
Aku membeli guci itu dari sebuah pelelangan untuk ayahku karena dia sangat menyukainya. Imelda tertawa sinis. "Kamu pikir aku bodoh? Hanya guci usang begini harganya ratusan miliar? Jangan bercanda!"
Setelah itu, dia membanting guci tersebut ke tanah sambil tertawa keras. Melihatnya dan semua barang yang dia hancurkan, aku tersenyum sinis, "Kita lihat saja apa kamu masih bisa ketawa waktu harus membayar ganti rugi."
Imelda menampar wajahku sekali lagi, "Masih mau nipu? Tutup mulutmu!"
Bab 2
Melihat perhiasan yang kukenakan, Imelda kembali mengulurkan tangannya dan menarik anting dari telingaku dengan paksa. Aku meringis kesakitan dan telingaku sudah pasti berdarah.
"Imelda, kamu sudah gila? Sudah kubilang, aku nggak kenal suamimu!"
Imelda baru hendak bicara ketika ponsel di tangannya berbunyi. Dia melihat nomor peneleponnya, lalu tersenyum manis. "Pasti suamiku yang menelepon untuk memastikan aku baik-baik saja."
Salah satu temannya berkata, "Aktifkan speaker-nya, biar perempuan ini dengar seberapa sayangnya suamimu padamu."
"Oke."
Begitu panggilan tersambung, Imelda yang tadinya berwajah garang langsung berubah menjadi lembut dan manja. "Sayang, aku lagi gendong bayi dan belanja sama teman-teman."
Di ujung telepon, suara laki-laki itu terdengar, "Jangan pulang terlalu malam, jaga anak baik-baik."
Aku tertegun. Aku dan Kent sudah saling mengenal bertahun-tahun dan aku langsung bisa mengenali suara itu. Sebelum mendengar suara ini, aku berpikir bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman. Namun sekarang, rasanya seperti ada sesuatu yang hancur dalam pikiranku.
Aku menatap Imelda yang baru saja menutup telepon dan bertanya, "Kamu punya foto suamimu?"
Dengan ekspresi bangga, Imelda membuka galeri ponselnya dan menunjukkan foto padaku. "Jalang, lihat baik-baik. Ini suamiku. Dia cinta banget sama aku, kamu nggak akan bisa merebutnya!"
Di foto itu, terlihat seorang pria duduk di sofa bersama Imelda yang sedang menggendong bayinya, layaknya keluarga kecil yang bahagia. Pria itu adalah suamiku, Kent!
Melihat ruang tamu yang tidak asing itu, aku mengepalkan tanganku perlahan. Rumah ini adalah vila yang kubeli dua tahun yang lalu. Aku jarang tinggal di sana karena terlalu jauh dari kantor, jadi aku membeli vila lain yang lebih dekat dan membiarkan Kent mengurus rumah ini.
Selama setengah tahun terakhir, Kent sering bilang dia harus dinas luar kota dan hanya beberapa hari dalam sebulan berada di rumah. Aku khawatir dia kelelahan dengan pekerjaannya, jadi setiap kali dia pulang, aku selalu membuat sup untuk menyehatkannya.
Namun, ternyata dia tidak pulang karena sudah memiliki rumah lain di luar sana. Selain itu, rumah itu kubeli dengan uangku sendiri!
Meskipun aku sudah bersama Kent selama bertahun-tahun, dia selalu memperlakukanku seperti dulu. Lembut, penuh perhatian, rajin, dan tampak jujur. Pria yang dianggap semua orang sebagai suami yang sempurna ternyata diam-diam berselingkuh di belakangku, bahkan sampai punya anak!
Aku masih ingat hari pernikahan kami, ketika Kent menangis dan bersumpah akan selalu memperlakukanku dengan baik seumur hidupnya.
Melihat aku terdiam, Imelda mengira aku merasa bersalah dan mengeluarkan foto lain untuk ditunjukkan padaku.
"Ini adalah akta nikahku dengan suamiku. Kalau bukan karena aku hamil dan melahirkan, suamiku pasti sudah mengadakan pesta pernikahan mewah untukku. Pelacur sepertimu cuma bisa bermimpi bisa mendapatkan semua ini."
Aku melihat foto dan nama di akta nikah itu dengan kebingungan. Ini tidak mungkin. Aku dan Kent belum bercerai, jadi jika mereka benar-benar menikah, itu berarti Kent telah melakukan poligami yang merupakan tindak kejahatan.
Namun, sebelum aku bisa mencerna semuanya, Imelda menarik paksa kalung dari leherku dan langsung berusaha merebut gelang di pergelangan tanganku. Aku berteriak panik, "Jangan sentuh gelang itu! Yang lain boleh kalian ambil, tapi jangan sentuh gelang ini."
Imelda menyuruh dua temannya menahan tanganku, lalu dia melepaskan gelang itu dari pergelangan tanganku. Dengan nada cemas, aku memohon, "Kembalikan gelangku, tolong kembalikan."
"Imelda, kalau kamu kembalikan gelang itu, aku nggak akan menuntut atas kerusakan mobilku atau kerugian akibat barang antikku yang hancur. Kumohon, kembalikan gelang itu."
Imelda menatapku dengan tawa sinis. "Seru juga melihatmu sepanik ini."
Aku merasa sangat cemas dan hampir berteriak, "Kamu tahu nggak, gelang giok hijau imperial ini bernilai lebih dari 200 miliar!"
Imelda menatapku dengan mencemooh. "Jangan coba-coba bohongi aku. Gelang biasa saja kamu bilang harganya lebih dari 200 miliar? Kamu pikir aku sebodoh itu?"
Aku mengepalkan tangan. "Gelang ini adalah giok hijau imperial yang sangat langka, nilainya nggak terukur di pasaran. Kamu nggak akan sanggup menggantinya!"
Dalam siaran langsung, beberapa penonton yang ahli mulai mengenali gelang itu.
[ Dari warnanya, itu benar-benar terlihat seperti giok hijau imperial. ]
Imelda terlihat sedikit bimbang. Wanita paruh baya yang tadi menamparku kemudian menyenggol lengannya. "Imelda, nggak usah takut. Kalau gelang ini benar-benar bernilai 200 miliar seperti yang dibilangnya, mana mungkin pelakor sepertinya sanggup membelinya?"
"Pasti suamimu yang beliin kasih dia, yang artinya ini adalah harta bersama milik kalian! Hancurkan saja semaumu, apa yang kamu takutkan?"
"Iya nih! Benar kata bibimu!"
Imelda mengangguk. "Benar, gelang ini pasti pemberian suamiku, yang berarti adalah milikku juga."
Aku menatap mereka dengan amarah yang membeludak. Dasar sekelompok orang bodoh!
"Dengar baik-baik, akulah istri sah Kent. Kalian pasti akan menerima konsekuensi atas perbuatan bodoh kalian ini!"
Namun, kata-kataku tenggelam oleh cacian mereka. Aku ditekan dengan kuat ke tanah. Tidak peduli sekeras apa pun aku berusaha melawan, semua usahaku sia-sia.
Bab 3
Imelda mengangkat gelang itu di udara sambil menatapku dengan senyum penuh kebencian. "Semakin kamu peduli, semakin ingin aku menghancurkannya. Siapa suruh kamu jadi pelakor dan menghancurkan keluargaku!"
Begitu kata-katanya selesai, dia melepaskan gelang itu dari tangannya. Aku berteriak, "Jangan!"
Seiring dengan suara benturan, gelang itu jatuh ke tanah dan pecah berkeping-keping. Seluruh tubuhku bergetar karena marah. Yang menyakitkan bukanlah nilai gelang itu, tetapi makna yang tersimpan di baliknya.
Sejak kecil, karena orang tuaku sangat sibuk, aku dibesarkan oleh nenekku. Dua tahun yang lalu, nenek meninggal dan gelang ini adalah pemberiannya di saat-saat terakhirnya. Memakai gelang itu membuatku merasa seperti nenek masih berada di sisiku.
Sekarang gelang itu sudah hancur! Satu-satunya kenanganku pun hilang.
Dengan mata memerah, aku menatap Imelda dan teman-temannya dengan gigi gemeretak saat berkata, "Kalian akan menyesal! Bahkan kalau nanti kalian berlutut memohon ampun padaku sampai kepala kalian berdarah, aku nggak akan pernah memaafkan kalian. Tak satu pun dari kalian akan lolos!"
Imelda menunjukkan ekspresi penuh kebencian.
"Teman-teman, lihatlah si jalang ini masih saja mengeyel. Harus diberi pelajaran sampai dia patuh!"
Karena kejadiannya di pinggir jalan, ada banyak sekali orang yang menonton. Aku meminta bantuan pada mereka, tapi mereka hanya berpangku tangan menyaksikan kejadian ini. Aku merasa sangat putus asa.
Agar bisa lebih puas memukuliku, Imelda dan teman-temannya menyeretku ke gang kecil di samping. Di tempat sepi itu, tindakan mereka semakin brutal dan tak terkendali. Mereka mulai menarik-narik pakaianku.
Aku mencengkeram erat ujung pakaianku. Untungnya, ini musim dingin dan aku mengenakan mantel tebal serta sweter di dalamnya, jadi mereka sulit untuk merobeknya.
"Jangan sentuh aku! Ini tindakan kriminal!"
Salah satu wanita yang bertubuh besar, menunjuk dahiku dengan kasar. "Kamu ini pelakor, masih berani bicara soal hukum sama kami?"
Karena pakaian yang kukenakan tidak bisa dirobek dengan mudah, mereka merasa semakin frustrasi.
"Wanita murahan! Begitu melihat suami orang adalah seorang presdir, kamu langsung mau merebutnya? Akan kuhancurkan wajahmu sekarang juga supaya kamu nggak bisa lagi menggoda pria lainnya!"
Aku menghindari serangannya dengan cepat sehingga wajahku tidak terluka. Namun, sejumput rambutku tercabut hingga membuatku meringis kesakitan.
Gila, sekelompok wanita ini benar-benar keterlaluan!
"Aku akan pastikan kalian menyesal atas semua yang kalian lakukan hari ini."
Mendengar ucapanku, mereka mulai memukuliku tanpa ampun. Imelda bahkan menginjak lenganku dengan keras. Rasa sakitnya membuat wajahku pucat, sementara dia terlihat sangat puas.
"Ayo terus maki kami lagi! Bukannya tadi kamu sombong sekali? Aku mau lihat apa kamu masih bisa bicara sekarang! Jadi pelakor akan mendapat karma buruk!"
Aku mencoba melawan, tapi jumlah mereka terlalu banyak. Aku ditekan kuat-kuat ke tanah hingga tak mampu bergerak. Aku menatap Imelda dan berkata, "Telepon Kent sekarang juga, tanyakan siapa aku sebenarnya!"
Imelda menarik kepalaku dan membenturkannya ke tanah. "Kamu itu siapa? Cuma pelakor sialan!"
"Jangan kira aku nggak tahu kamu cuma mau suamiku datang untuk menyelamatkanmu. Kuberi tahu saja, jangan mimpi! Bahkan kalau malaikat turun ke bumi sekalipun, kamu nggak akan selamat."
Di kolom komentar siaran langsung, seseorang bertanya.
[ Apa mukul orang seperti ini nggak terlalu berlebihan? ]
Imelda menambah tekanan pada lenganku yang diinjak, sambil menunjuk wajahku dan berkata, "Wanita ini jelas-jelas nggak tahu diri. Kalau nggak kuberi pelajaran hari ini, dia akan terus menggoda laki-laki lain. Mungkin dia nanti akan goda suami kalian juga! Aku ini sedang melakukan kebaikan untuk kaum wanita."
Komentar-komentar langsung mendukung tindakan Imelda.
[ Wanita begini cuma bisa merusak moral masyarakat. Memang seharusnya dipukul sampai kapok! ]
[ Kalau bukan karena aku lagi kerja sekarang, aku pasti ke sana untuk ikut nampar dia juga! ]
[ Aku jadi teringat dulu suamiku digoda pelakor sampai akhirnya meninggalkanku dan anak kami. Aku nggak bisa toleransi pelakor sama sekali! ]
Imelda yang mendapat dukungan semua orang, menjadi semakin sombong dan memukuliku habis-habisan. Aku belum pernah merasa semarah ini seumur hidupku. Aku menggigit bibirku dan menahan diri, tapi pandanganku perlahan-lahan mulai menggelap.
Sebelum aku benar-benar tak sadarkan diri, samar-samar aku mendengar suara sirene polisi ....