Bab 1
Putra tetangga adalah seorang pengintip.
Aku sengaja memanggil namanya saat dia diam-diam mengintipku bermain dengan diriku sendiri.
Saat aku memberinya les dan dia menahanku di kamarnya, sebenarnya aku sudah punya firasat.
Namun, tidak kusangka, justru kakaknya yang menerobos masuk pada saat itu...
Namaku Tia Lewis. Di mata orang tua, aku adalah anak baik. Di kampus, aku dikenal sebagai primadona kampus yang polos.
Namun, sebenarnya, aku sangat menyukai tontonan yang membuat wajah memerah dan jantung berdebar tidak terkendali.
Terkadang, saat membeli barang-barang itu secara daring, aku tidak bisa menahan diri untuk menelan ludah..
Membayangkan betapa menyenangkannya diriku...
Setiap kali bertemu lawan jenis, bagian bawahku selalu basah dan gatal.
Selama ini aku pandai menyembunyikannya. Dengan gelar mahasiswa teladan yang kusandang, setiap kali liburan tiba, tante tetangga selalu memintaku untuk memberi les anak bungsunya.
Apa yang tidak diketahui tante tetangga adalah bahwa putra bungsunya, Owen Walsh, sebenarnya adalah seorang pengintip.
"Tante tenang saja, aku akan bantu mengajari Owen..."
Baru setengah kalimat, seorang pemuda berbaju hitam masuk dengan membawa bola basket, badannya basah oleh keringat. "Ibu."
Dia menatapku dan tertegun sejenak, lalu menyunggingkan senyum nakal. "Tia juga ada di sini?"
Sifat Owen sudah terkenal urakan.
Setelah setengah bulan tidak bertemu, Owen tampak lebih tinggi. Kaos tanpa lengan yang dikenakannya memperlihatkan otot perut yang samar, sementara beberapa helai rambutnya terlihat dari celananya yang longgar.
Tanpa sadar, aku menelan ludah.
Katanya, makin lebat rambut seseorang, makin kuat pula stamina mereka.
Itulah yang sering dikatakan oleh film-film dewasa. Aku tidak tahan untuk melirik Owen beberapa kali.
Owen meneguk air, ujung lidah yang kemerahannya menyapu sudut bibirnya...
Sangat menggairahkan...
Aku teringat bagaimana selama bertahun-tahun ini, dia selalu mengintipku diam-diam dari balik jendela, termasuk saat aku melakukan itu...
Setiap kali aku sengaja memulai setelah mandi, rasa tergoda karena diintip sungguh tidak tertahankan...
Bagian bawahku sudah tidak nyaman, aku mengalihkan pandangan.
Namun, mataku tetap tidak bisa menahan diri untuk melirik ke bagian tubuh Owen yang penuh gairah itu. Ukurannya benar-benar besar. Sebenarnya apa yang dia makan hingga bisa sebesar itu?
"Kalian lesnya di kamar Owen saja," ujar Tante Ratna.
"Oke," jawab Owen sambil tersenyum, lalu berjalan mendekat dan mencengkeram kerah bajuku, seperti mengangkat seekor anak ayam.
Owen dengan cekatan mengeluarkan tugas sekolah semester ini. Nama Owen tertera jelas di sampul buku. Dia menatapku dengan senyum nakal. "Ini tugasku, kerjakan semuanya untukku. Dengar nggak?"
Tangannya menyentuh punggungku, sensasi menggelitik langsung menyebar ke seluruh tubuhku.
Aku tidak memakai bra karena cuaca yang panas.
Puting susuku langsung mengeras dan bulu kudukku meremang.
Aku pura-pura tenang, lalu berdiri dan hendak pergi. "Owen, kita sudah dewasa. Aku nggak bisa lagi membantumu mengerjakan tugas."
"Kamu ulangi sekali lagi?"
Detik berikutnya, Owen mengunci pintu dan membuatku terjebak di dalam wilayah kekuasaannya.
"Sekarang berani sekali, ya."
Owen menatapku lekat-lekat.
Aroma maskulinnya langsung membanjiri indraku. Karena jarak kami yang begitu dekat, aku bahkan bisa melihat jelas keringat di pelipisnya yang belum kering setelah berolahraga. Tetesan keringat itu mengalir turun melewati garis rahangnya hingga ke jakunnya.
Mataku sedikit membelalak dan pandanganku mulai tidak fokus.
Kenapa jakun Owen bisa sebesar itu?
Katanya, pria dengan jakun besar ukurannya juga besar...
Pikiranku melayang, tiba-tiba Owen mencengkeram daguku. "Kenapa diam saja? Saat kamu main dengan benda itu, bukankah kamu menyebut namaku?"
Aku terkejut dan refleks membalas, "Dari mana kamu tahu?"
"Selama ini, kamu tahu aku mengintipmu, 'kan? Selain itu, kamu juga menikmatinya, setiap kali kamu nggak memakai..."
Owen menjilat bibirnya, lalu memandangi puting susuku yang mengeras dengan mata menggelap. Tangannya mencubit dan memelintirnya kasar.
"Sekeras ini? Pasti bawahmu sudah basah, ya?"
Aku buru-buru menutupi bagian bawahku, tapi dia malah menahan tanganku sambil tersenyum sinis.
"Waktu bermain sendiri kamu sampai begitu bergairah. Kenapa sekarang berpura-pura? Apa kamu takut ketahuan ibuku?"
Jantungku berdegup kencang, aku hampir lupa bahwa Tante Ratna juga masih di rumah.
Saat itu, sebuah suara tenang tiba-tiba terdengar, disertai ketukan di pintu, seolah mengetuk langsung ke dalam hatiku. "Tia, Owen, aku masuk ya."
Itu suara kakak Owen, Eric Walsh!
Bab 2
Mataku membelalak. Selama bertahun-tahun, aku selalu menyukai Eric. Andai saja dia tidak terlalu sempurna...
"Memikirkan apa?"
"Ingin kakakku melihatmu seperti ini?"
"Lalu bermain bersamaku untuk menyenangkanmu?" Owen mencengkeram leherku dengan marah.
Begitu pintu didorong terbuka, aku buru-buru mendorong Owen lalu menyelinap ke dalam selimutnya.
"Kak, baru pulang kerja?" Owen berdiri di samping dengan tenang dan menggunakan buku untuk menutupi bagian bawahnya.
Aku menyembulkan kepala sedikit dan berpura-pura bersikap manis. "Ka, Kak Eric."
Eric terlihat makin tampan. Kacamata berbingkai emas di wajahnya memberi kesan pria yang sopan, tapi ternyata punya sisi liar. Kemejanya terkancing rapi sampai leher, auranya begitu menggoda.
Aku penasaran, akan seperti apa sikap lembut Kak Eric saat berhubungan dengan orang lain?
Apakah tetap selembut itu?
Jarinya begitu panjang, pasti sangat nyaman untuk membuka jalan...
Tangan di balik selimut diam-diam memelintir puting susuku...
Tidak akan ketahuan, 'kan?
Pikiran itu membuat tubuhku makin sensitif dan wajahku memerah.
Eric menatapku dan berkata dengan suara lembut, "Tia kenapa? Apa kamu nggak enak badan?"
Setelah mengatakannya, Eric mendekat dan mengelus kepalaku. Jantungku berdebar karena gugup, tapi lebih dari itu, aku sangat senang.
Dia menyentuhku...
Ini bahkan lebih menggairahkan daripada saat Owen mencubit puting susuku tadi. Aku menggeliat... sepertinya aku sudah basah...
"Aku sedikit nggak enak badan..." jawabku sambil menunduk, karena takut ketahuan.
Tante Ratna melintas di depan pintu sambil menyandang tas dan berkata, "Ibu mau belanja. Ada yang kalian inginkan untuk makan malam?"
Owen dan Eric tidak menjawab, jadi aku pun terpaksa menjawab, "Iga kecap."
Tante Ratna pun keluar rumah.
Sepasang mata Eric menatapku dengan lembut, tapi entah mengapa aku justru merasa sedikit tertekan. Saat aku hendak bicara.
Owen tiba-tiba mengunci pintu dan tersenyum tipis. "Kak, aku sudah kubilang, dia cuma ingin disetubuhi."
"Lihatlah, dia sudah kepanasan."
Aku sempat terpaku sejenak, lalu melihat Eric membuka dua kancing kemejanya. Jakunnya bahkan lebih besar dari Owen dan bergerak naik-turun seolah menahan sesuatu.
Eric berjalan mendekat. "Tia, ternyata kamu memang jalang, ya? Bahkan lebih liar daripada saat aku mengintipmu."
Seketika aku paham, Kak Eric ternyata selama juga ini mengintipku!
"Mahasiswa teladan? Kamu cuma wanita murahan yang ingin disetubuhi," hardik Owen sambil meraih tanganku, lalu membuka selimut dengan kasar.
Rokku pun juga ikut terlepas.
"Tunggu! Kak Eric, aku... bukan, aku nggak semurahan itu!" bantahku panik, air mataku mulai mengalir.
Tanganku yang menutupi tubuhku digenggam oleh Owen. Dia membalikkan tanganku dan membelengguku dengan cepat. "Tia, bukankah kamu selalu memanggil namaku sambil bermain sendiri? Aku sudah lama ingin memuaskanmu."
Eric memperbaiki kacamatanya, lalu memandangi bagian bawahku dengan mata menyipit, "Basah sekali? Mana mungkin Kakak percaya kamu nggak menginginkannya?"
"Aku... aku nggak bisa menahannya... Kukira hanya Owen yang mengintipku, nggak kusangka Kakak juga."
Kakiku diangkat oleh Eric. Dia menggigit leherku. "Kamu pakai apa? Wanginya memabukkan. Di luar tadi, kamu terus menatap bagian bawahku. Kenapa? Apa kamu ingin kusetubuhi di depan ibuku?"
Aku menggelengkan kepala, tapi kenikmatan di tubuhku tidak bisa dibohongi.
Pikiranku bahkan membayangkan, bagaimana reaksi Tante Ratna jika melihat kami seperti ini?
Pasti makin menggairahkan.
"Makin basah? Kamu memang jalang sekali," ujar Eric saat jarinya menyentuhnya. Aku langsung menegang dan berkata, "Jangan, jangan sentuh sana."
"Hmm? Sentuh mana?" Eric menatapku, tapi jari-jari panjangnya justru mengeksplorasi perlahan. Dia memainkan rumputku, sementara tangan satunya yang dingin merabaku...
Bab 3
"Sebelumnya aku nggak memperhatikannya, bagian ini Tia kelihatannya jadi lebih besar, ya? Boleh aku coba?" ucapnya dengan sopan, tapi sama sekali tidak memberiku waktu untuk bereaksi.
"Ugh..."
Enak, enak sekali!
Ini benar-benar berbeda saat aku melakukannya sendiri. Kelincahan lidah dan napas hangatnya membuat sensasinya makin meningkat. Aku hampir menangis karena terlalu nikmat.
"Kak, aku nggak tahan lagi." Owen di belakangku melepas celananya dengan ekspresi tidak puas.
Aku tiba-tiba merasakan sesuatu dan langsung terkejut. "Kamu mau apa?"
"Sudah jelas, 'kan? Menurutmu aku mau apa? Bukankah kamu yang selama ini menginginkannya?" ujar Owen sambil mengangkat kedua kakiku.
Rasa terbakar dan malu yang hebat menyerangku, aku mulai takut dan buru-buru berkata, "Aku belum siap, Owen. Tunggu sebentar..."
Sebelum selesai bicara, Eric tiba-tiba menggigit puting susuku. Dia melepas ikat pinggangnya dan mengikat tanganku dengan santai.
Tubuhku terbuka sepenuhnya. Di belakang, gesekan dari Owen membuatku tidak tahan dan mendorong tubuhku ke depan.
Seolah aku sengaja menyodorkan diri ke mulut Eric.
Wajahku merah padam karena malu. "Kak Eric, aku belum pernah bermain dengan orang lain... hiks hiks... Aku salah... Aku nggak seharusnya bermain sendiri..."
"Bagaimana bisa?" Eric memperlihatkan benda besar yang sepertinya sudah lama ditahannya. Dia memamerkannya begitu saja di hadapanku. "Tia, lihat, apa kamu suka nggak?"
Mataku membelalak, itu sangat...
Wajah Eric yang dingin dan kalem tampak sangat kontras dengan bagian tubuhnya yang sangat besar.
Tidak bisa dipungkiri, aku menelan ludahku, karena aku tahu pasti akan sangat nikmat...
Bagian bawahku makin gatal dan tidak nyaman. Seolah ada api yang menyebar ke seluruh tubuhku dan membakar sisa-sisa kesadaranku.
Tiba-tiba, Owen memasukkan satu tangannya ke belakangku. Aku mengatupkan gigi kesakitan. "Sakit! Owen, pelan-pelan!"
"Kalau pelan bagaimana bisa memuaskanmu?" ujar Owen dengan kesal. Tatapannya membara, sementara jarinya bergerak lebih dalam, memancing lebih banyak kelembapan.
Belum sempat aku bereaksi, Eric sudah mulai mendorong masuk, membuatku terjepit dari dua sisi.
Aku menjerit, "Tunggu... nggak bisa masuk... nggak bisa, kalian..."
"Sayang, kamu pasti bisa..." ujar Eric lembut, tapi gerakannya kasar dan dominan.
Owen malah lebih parah, dia langsung masuk sepenuhnya. "Enak sekali!"
"Terlalu cepat! E... Eric... bukan... Owen... aahh..."
Aku sama sekali tidak bisa membedakan siapa yang sedang bergerak begitu liar, aku terjepit seperti roti lapis yang terombang-ambing...
"Aku sudah nggak tahan... Lihatlah wajahmu sendiri Tia, kamu memang jalang!"
Eric mengambil cermin. Aku melihat diriku sendiri, air liurku mengalir di sudut bibir, mataku memerah, dan wajahku merah padam karena terlalu larut dalam hasrat.
Terlalu intens, ini terlalu intens...
Tiba-tiba, suara pintu terbuka.
Suara Tante Ratna yang riang terdengar dari pintu. "Eric, Owen, Tia, aku pulang."
Seketika tubuhku mengencang luar biasa, membuat Eric serta Owen mendengus kesakitan dan menindihku.
"Hiss..."
Tante Ratna berjalan mendekat sambil bertanya, "Tia? Kenapa kalian diam saja?"
Pantatku ditampar pelan, lalu terdengar tawa nakal Owen. "Masih juga mengencang? Apa kamu mau ibuku melihatmu seperti ini?"
Makin Owen berkata seperti itu, makin sulit aku tenang...
Kalau sampai ketahuan...
"Tia, jangan takut." Owen tiba-tiba berbisik sambil menciumku lembut, tangannya mengelus tubuh putihku sambil memperdalam ciuman.
"Ibu, Tia mengantuk. Aku sedang mengerjakan tugas, jadi tolong pelankan suara Ibu," ujar Owen dengan tenang.
Tante Ratna bertanya heran, "Kakakmu di mana?"