Bab 1
Tiga tahun lalu, aku memberi obat pada pewaris mafia, Vincent.
Setelah malam liar itu, dia tidak membunuhku. Sebaliknya, dia meniduriku sampai kakiku lemas, memeluk pinggangku, dan terus berbisik satu kata yang sama berulang-ulang, "Putri."
Tepat ketika aku akan melamarnya, cinta pertamanya, Isabel kembali.
Untuk membuatnya bahagia, Vincent membiarkan mobil menabrakku, melemparkan peninggalan ibuku ke anjing liar, dan bahkan mengirimku ke penjara…
Tapi ketika aku benar-benar hancur, terbang ke Arunika untuk menikahi orang lain, Vincent mengobrak-abrik seluruh Mandala Jaya demi menemukanku.
Bagi dunia, aku adalah Sofia Permana, si putri keluarga yang liar dan mempesona. Vincent Dirgantara adalah pewaris mafia, dingin, terkontrol, dan gambaran sempurna dari pengendalian diri.
Tapi setiap malam, dia mencengkeram pinggangku, meniduriku sampai kakiku lemas sambil terus berbisik memanggilku, "Putri."
Dia hanya tidak tahu bahwa dua minggu lagi aku akan menikah dengan pria lain.
Seprai masih lembap oleh panas yang baru saja kami bagi. Aku berbaring di ranjang, mencoba mengatur napas sementara Vincent bangkit untuk berpakaian.
Dari sisi ranjang, aku memperhatikan jemari panjangnya yang cekatan mengancingkan kemejanya.
"Tidak menginap malam ini?" tanyaku.
"Ada rapat keluarga," jawabnya tanpa menoleh. "Bersikaplah baik."
Itu lagi.
Aku duduk, membiarkan seprai melorot sampai ke pinggang. Tangan Vincent sempat berhenti sebentar sebelum ia bergerak untuk mengikat dasinya.
"Vincent."
"Hm?"
"Tidak jadi."
Dia berbalik, menunduk, lalu menempelkan ciuman di dahiku. "Aku pergi."
Begitu pintu menutup, aku langsung meraih ponsel dan menekan nomor yang sudah sangat kukenal.
"Ayah, aku terima pernikahan bisnis itu. Dua minggu lagi aku akan menikahi pewaris Keluarga Nugraha yang sekarat di Arunika. Tapi aku punya satu syarat."
Di ujung sana, Hendra Permana terdengar girang. "Bagus! Sebutkan!"
"Kita bicarakan langsung."
Aku menutup telepon, lalu mataku jatuh pada ponsel Vincent yang tertinggal di meja samping tempat tidur.
Layar menyala oleh pesan baru.
Dari Isabel:
[Vincent, terima kasih sudah menemaniku ke rumah sakit hari ini. Dokter bilang pemulihanku berjalan baik, semua itu karena kamu. Aku ingin menonton film denganmu besok, seperti dulu.]
Diakhiri dengan emoji kecupan.
Aku menatap pesan itu, jemariku bergetar.
Vincent tidak pernah membawaku ke rumah sakit. Bahkan saat tulang rusukku patah saat latihan sekalipun.
Aku berpakaian dan diam-diam mengikuti mobilnya.
Dia berhenti di sebuah restoran Sunda yang hangat di Jalan Purnama. Dari kejauhan, aku melihatnya melangkah menuju seorang gadis bergaun putih.
Isabel.
Dia bahkan lebih kurus daripada di foto. Vincent mengulurkan tangan, menyelipkan helai rambut yang tertiup angin di belakang telinganya. Dia menyentuhnya seakan gadis itu terbuat dari kaca, rapuh dan mudah pecah.
Aku tidak pernah melihatnya selembut itu, kecuali saat kami di ranjang.
Tiga tahun lalu, ayahku mengirimku kepada Vincent. Waktu itu, melihat wajahnya yang tampan dan dingin saja sudah membuat lututku lemas.
"Sofia butuh pendidikan yang tepat tentang cara kerja keluarga kita," kata Hendra pada Vincent. "Dia terlalu liar. Hanya kamu yang bisa mengendalikannya."
Aku masih sembilan belas tahun saat itu, baru keluar dari sekolah asrama dan penuh pemberontakan. Kupikir Vincent hanyalah pria lain yang mencoba menjinakkanku.
Jadi aku memutuskan akan menjinakkannya terlebih dahulu.
Pertama kali kami bertemu, aku memakai rok mini ke kantornya hanya untuk memancing reaksi. Vincent duduk di belakang mejanya dan bahkan tidak repot-repot menoleh.
"Tutup kakimu, Sofia."
"Kenapa?"
"Karena cara kamu duduk itu membuat Keluarga Permana terlihat tidak punya kelas."
Aku sengaja mengangkat rokku lebih tinggi. "Kalau sekarang bagaimana?"
Vincent akhirnya mengangkat wajah, tatapannya dingin di balik kacamata bingkai emas. "Keluar."
Berbulan-bulan aku melakukan segalanya untuk mengusiknya. Menyelipkan catatan genit ke dalam berkasnya, mengacaukan misi yang dia berikan, bahkan pernah menaruh obat pencahar di bir miliknya.
Vincent selalu membereskan kekacauanku dengan ketenangan yang menyebalkan, lalu berkata dengan nada menggurui, "Sofia, kamu gadis pintar. Kamu harus menyalurkan kecerdasanmu ke hal yang benar."
Sampai malam itu.
Aku mencampur minuman Vincent dengan obat, ingin tahu seperti apa dia tanpa kendalinya yang sangat kuat.
Aku tidak menyangka akan tetap berada di ruangan saat efeknya mulai terasa.
Vincent menekan pergelangan tanganku, napasnya berat dan terengah. "Apa yang kamu masukkan ke minumanku?"
"Kamu sudah bisa menebak, kan?" Aku menatap matanya yang membara. "Mau coba aku?"
Malam itu mengubah segalanya.
Saat aku terbangun keesokan paginya, Vincent sudah berpakaian rapi.
Kupikir dia akan marah dan mengirimku kembali ke ayahku. "Vincent, aku..."
"Putri," bisiknya sambil membelai pipiku. "Ini akan menjadi rahasia kita."
Putri. Si putri kecil.
Itulah kata yang membuatku jatuh sepenuhnya.
Selama dua tahun berikutnya, kami mempertahankan hubungan aneh dan diam-diam ini. Siang hari, dia tetap menjadi Vincent yang sama, tenang, rasional, penuh kendali. Tapi di malam hari, dia akan membisikkan "Putri" di telingaku dan meniduriku sampai kakiku tidak sanggup lagi menopang tubuh.
Kupikir dia mencintaiku.
Sampai hari ulang tahunku.
Aku menghabiskan sepanjang hari bersiap, memakai gaun terindah dan memesan tempat di restoran tempat kami pertama kali bertemu. Aku berencana mengatakannya, bahwa aku mencintainya, bahwa aku ingin bersamanya, apa pun konsekuensinya.
Tapi Vincent tidak pernah datang.
Aku duduk sendirian di restoran itu selama tiga jam, sampai para pelayan pun mulai menatapku dengan tatapan iba.
Keesokan harinya, foto Vincent menyambut seorang wanita di bandara menjadi viral.
Dalam foto-foto itu, Isabel berada dalam pelukannya, sedekat kekasih yang sudah lama tak bertemu.
Jadi di sanalah dia semalam, menjemput Isabel.
Aku tertawa pahit dan minum sampai tidak bisa merasakan apa-apa. Aku ingin menemuinya, ingin menuntut penjelasan, apa sebenarnya diriku ini baginya? Teman ranjang? Alat?
Tapi aku tidak punya keberanian.
Aku terlalu kesepian, terlalu kecanduan pada hangatnya yang menenangkan.
Malam itu, Vincent pulang dan mendapati kekacauan, aku menggunakan botol anggur untuk menghancurkan setiap foto Isabel di ruang kerjanya.
Tapi dia bahkan tidak bereaksi. Hanya memerintahkan pembantu untuk membersihkan kekacauan itu dan merawatku, lalu berjalan melewatiku begitu saja.
Saat itu, aku akhirnya mengerti. Vincent adalah pewaris keluarga, tak tersentuh, dingin, dan penuh kebanggaan. Toleransinya bukan tanda kasih sayang, dia hanya tidak mau repot berdebat denganku.
Setelah itu, dia masih memanggilku Putri di ranjang, seolah tidak ada yang berubah.
Tapi hatiku sudah mati.
Di luar restoran, Vincent membukakan pintu mobil untuk Isabel. Mereka tertawa tentang sesuatu.
Aku memalingkan wajah dan mengemudi kembali ke kediaman Keluarga Permana.
Di ruang tamu, Hendra dan ibu tiriku, Melisa sedang menonton TV. Begitu aku masuk, ayah langsung mematikannya.
"Baiklah, apa syaratmu?"
Aku duduk di sofa seberang mereka. "Aku ingin kamu menghapus aku dari keluargamu."
Ekspresi Hendra membeku. "Apa kamu bilang?"
Melisa yang duduk di sebelahnya, terlihat jelas menahan senyum puas.
"Aku bilang, aku akan menikah dengan pewaris Keluarga Nugraha yang sekarat itu. Sebagai gantinya, kita putus semua hubungan. Mulai sekarang, aku bukan lagi anggota Keluarga Permana. Kau bisa menyambut selingkuhanmu dan anak haramnya ke rumah ini dengan tangan terbuka. Hari saat kau mengatur kecelakaan mobil yang membunuh ibuku, aku sudah berhenti menginginkanmu sebagai ayah."
Wajah Hendra berubah muram. "Aku sudah bilang, kecelakaan itu tidak disengaja!"
Aku menatap matanya dan menyeringai sinis. "Sengaja atau tidak, dia mati dalam perjalanan mencari tahu kau berselingkuh dengan Melisa. Ayah, hentikan sandiwara kita ini. Kau sudah berusaha menjualku ke Keluarga Nugraha selama lima bulan, bukan? Bukankah itu supaya selingkuhan kesayanganmu bisa menikah masuk keluarga, dan anak haramnya bisa memakai marga Permana?"
Hendra berdiri dengan marah. "Sofia, kau mau dihapus dari keluarga ini? Baik! Mulai besok, kau bukan lagi putriku!"
"Sepakat," jawabku sambil berbalik menuju tangga. "Oh, dan jangan lupa beri tahu Keluarga Nugraha. Pengantin mereka bukan lagi putri sulung Keluarga Permana, tapi seorang yatim piatu tanpa orang tua. Tanya apakah mereka masih mau membayar harga yang sama."
Kembali ke kamarku, aku menutup pintu, dan topeng yang kupakai akhirnya runtuh.
Air mata mengalir di pipi. Aku meringkuk di ranjang, seperti binatang terluka yang menjilat lukanya sendiri.
Kamu tahu, Vincent? Untuk benar-benar meninggalkanmu, aku harus melepaskan satu-satunya hal yang masih kumiliki.
...
Keesokan paginya, aku mendengar suara perabotan digeser di bawah.
Aku bangkit dan berjalan ke arah puncak tangga.
Sosok yang sangat kukenal berdiri di bawah.
Isabel.
Darahku seketika terasa membeku.
Bab 2
Isabel berdiri di bawah tangga dengan gaun putih sederhana, gambaran sempurna kepolosan yang rapuh.
Dia melihatku, lalu senyum cerah mengembang di wajahnya. "Kamu pasti Sofia. Aku Isabel. Senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu."
Aku tidak menjawab, hanya menatapnya dari atas.
Hendra keluar dari ruang tamu. Melihat Isabel, wajahnya menampilkan raut sayang yang jarang kulihat.
"Isabel, pasti kamu lelah setelah perjalanan. Biar Sofia mengantarkanmu ke kamarmu."
"Terima kasih, Om Hendra," jawab Isabel manis.
"Ambil saja kamar Sofia. Cahayanya paling bagus, cocok untuk pemulihanmu," kata Hendra.
Aku menoleh padanya. "Kamarku?"
"Mulai sekarang, itu kamar Isabel. Kamu bisa pindah ke lantai tiga. Ada kamar tamu kosong di sana."
Tawa dingin lolos dari bibirku. "Tidak, terima kasih."
Aku kembali ke atas dan mulai berkemas.
Tiga puluh menit kemudian, aku menurunkan koperku ke bawah.
Hendra melihat bagasiku dan mengerutkan kening. "Mau ke mana kamu?"
"Aku pergi," jawabku tanpa menoleh. "Karena aku sudah bukan lagi anggota Keluarga Permana, tidak ada alasan untuk tetap di sini."
"Sofia!" teriaknya dari belakang. "Pernikahanmu dua minggu lagi! Jangan konyol!"
"Aku tahu." Aku membuka pintu. "Aku akan ada di pernikahan untuk memenuhi perjanjian kita."
Pintu tertutup keras di belakangku. Aku mengemudi meninggalkan kediaman Permana tanpa sedikit pun menoleh.
Tujuan pertamaku adalah hotel termahal di Kota Pradipta, Hotel Graha Sentral.
"Aku mau kamar termahal yang kalian punya," kataku pada resepsionis.
"Untuk berapa malam?"
"Dua minggu."
Saat membayar, aku menggunakan kartu kredit tambahan yang diberikan Hendra padaku. Limitnya delapan puluh miliar dan jarang kusentuh.
Hari ini, aku akan menghabiskannya.
Begitu masuk ke kamar, aku langsung memulai balas dendam lewat belanja.
Aku menghubungi perancang busana privat Anindya Kusuma dan memesan tiga gaun pengantin khusus, masing-masing bernilai 1,6 miliar.
Lalu aku membeli sepuluh set perhiasan mewah dan dua jam tangan Rolex edisi terbatas.
Dalam satu hari, aku menghabiskan hampir enam puluh empat miliar.
Tak lama kemudian, telepon dari Hendra masuk.
"Sofia! Apa kamu sudah gila? Kamu menghabiskan enam puluh empat miliar dalam satu hari!"
"Ada apa?" tanyaku sambil bersantai di sofa kulit mewah hotel. "Aku akan dikirim ke Arunika. Seorang gadis harus memberi kesan yang baik, kan?"
"Kamu harus menghabiskan sebanyak itu hanya untuk memberi kesan?"
"Tentu saja," jawabku sambil menyesap sampanye. "Aku akan menikah dengan pewaris Keluarga Nugraha. Aku tidak boleh terlihat murahan, kan? Lagipula, Keluarga Nugraha membayar delapan triliun untuk aliansi ini. Beberapa miliar itu uang receh."
"Kamu..." Hendra sampai terengah karena marah.
"Ayah… oh, tunggu, seharusnya aku memanggilmu Tuan Hendra sekarang." Aku tertawa. "Kamu sudah menghapus statusku sebagai anakmu, jadi rasanya tidak pantas aku menghabiskan uangmu. Bagaimana kalau begini, begitu dana aliansi masuk, aku akan langsung mengembalikannya padamu?"
Aku langsung menutup telepon dan melanjutkan pesta belanjaku.
Rencanaku sederhana, menguras aset likuid Keluarga Permana sebelum uang aliansi masuk. Lalu, delapan triliun itu akan langsung masuk ke rekeningku. Kalau Hendra menginginkannya, dia harus datang memohon.
Kita lihat nanti apakah dia masih akan memihak ibu dan anak itu.
Saat aku hendak melakukan babak terakhir belanja, ponselku bergetar.
Pesan dari Vincent, [Kamu sudah tiga hari tidak datang ke markas. Ada masalah?]
Aku menatap pesan itu, jantungku tiba-tiba berdegup kencang.
Tapi aku cepat-cepat menenangkan diri. Vincent hanya benci kalau perintahnya dilanggar. Itu saja.
Aku membalas: [Ada urusan keluarga. Akan selesai dalam beberapa hari.]
Vincent tidak membalas lagi.
Keesokan paginya, saat aku hendak keluar untuk melanjutkan serangan belanja busanaku, resepsionis hotel menghentikanku.
"Nona Sofia, maaf sekali, tapi akun Anda telah dibekukan. Anda tidak bisa lagi membebankan biaya kamar."
"Maksudmu apa?"
"Anda harus segera melunasi tagihan, atau..." Dia berhenti sejenak, ragu. "Kami akan terpaksa meminta Anda meninggalkan hotel."
Satu jam kemudian, aku sudah berdiri di trotoar depan Hotel Graha Sentral dengan koper di sisiku.
Tanpa uang, tanpa tempat tinggal.
Aku tidak sanggup menjual barang-barang mewah yang sudah kubeli. Aku membutuhkannya sebagai perisai saat ke Arunika nanti.
Aku sempat terpikir menelepon teman, lalu sadar aku tidak punya siapa-siapa. Orang-orang yang dulu mengerumuniku hanya tertarik pada kekuasaan dan pengaruh Keluarga Permana.
Sekarang aku sudah diusir, siapa yang mau repot-repot peduli padaku?
Menjelang senja, aku menyeret koper tanpa tujuan di jalanan.
Akhirnya, aku menemukan bangku kosong di Taman Raya dan duduk di sana.
Malam semakin larut. Taman menjadi sunyi, hanya suara samar lalu lintas terdengar di kejauhan.
Aku memeluk lutut, menghitung mundur lima hari sampai hari pernikahan. Aku tidak mungkin hidup di jalanan selama itu.
Saat aku sedang resah, beberapa pria mabuk berjalan sempoyongan ke arahku.
"Hai, cantik. Sendirian?" Salah satu dari mereka meracau, bau alkohol murahan menyengat.
Aku berdiri dengan waspada. "Menjauh dariku."
"Jangan begitu, dong," katanya sambil mengulurkan tangan. "Ayo, minum bareng kami."
Aku mundur selangkah, tapi bangku di belakang menghalangi jalanku.
Tiba-tiba, suara berat dan mengancam memotong udara.
"Dia bersamaku."
Aku menoleh. Vincent muncul dari balik bayangan, wajahnya seperti topeng murka yang menggelegar.
Para pemabuk itu hanya butuh sekali melihat sosoknya yang mengintimidasi, lalu langsung kabur.
Vincent melangkah mendekat, tatapannya menyapu koperku, lalu bangku di belakangku.
"Tanpa rumah, dan masih juga menolak untuk datang mencariku?"
Bab 3
Vincent mengantarku kembali ke rumah mewahnya di Kota Pradipta.
Aku duduk di kursi penumpang, menatap lampu-lampu neon yang melintas dengan kekosongan menganga di dadaku.
"Kita sudah sampai." Vincent memarkirkan mobilnya lalu berjalan memutar untuk membukakan pintuku.
Kenapa selalu begini? Dia tidak mencintaiku, tapi tidur denganku, dan tetap saja sikapnya begitu perhatian.
Suara tercekat di tenggorokanku.
Aku turun dari mobil dan mengikutinya sambil menyeret koperku.
Aku terlalu mengenal rumah ini. Setiap sudutnya menyimpan kenangan saat tubuh kami saling terjerat.
Vincent meraih koperku, hendak membawanya ke kamar yang biasanya kupakai.
"Tidak usah," kataku sambil berjalan langsung menuju kamar tamu. "Aku cuma tinggal dua belas hari. Ini sudah cukup."
Vincent berhenti melangkah. "Kamu bisa tinggal selama yang kamu mau."
Aku meletakkan koper di kamar tamu dan menutup pintunya.
Aku duduk di tepi ranjang, menatap ponselku. Dua belas hari lagi, aku akan meninggalkan Mandala Jaya untuk selamanya.
...
Keesokan paginya, aku turun ke bawah. Vincent sudah ada di ruang makan. Begitu melihatku, dia memberi isyarat ke kursi di depannya.
Aku duduk. Seorang pelayan menghidangkan susu dan roti panggang untukku.
"Vincent." Aku mulai bicara.
Dia mengangkat kepala, tatapannya tenang di balik kacamata.
"Kamu tahu kalau Isabel itu anaknya Melisa?"
"Aku baru tahu kemarin," jawabnya, wajahnya datar tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Aku tersenyum pahit. "Isabel itu apa buat kamu?"
Vincent meletakkan cangkir kopinya. "Teman sekelas waktu SMA. Dia pernah menahan peluru untukku, menyelamatkan nyawaku. Sejak itu dia dirawat di Negara Valedria."
"Benar? Cuma teman sekelas? Penyelamat? Sesederhana itu?"
Alis Vincent sedikit berkerut. "Sofia, aku tidak mau kamu menargetkan dia hanya karena dia sudah kembali ke Keluarga Permana."
Aku tertawa tajam tanpa sedikit pun humor. "Itu peringatan?"
"Itu pengingat." Nada suaranya dingin. "Kesehatan Isabel rapuh. Dia tidak bisa menghadapi masalah apa pun."
Aku mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi.
Vincent membela Isabel lebih langsung dari yang pernah kubayangkan. Apa lagi yang perlu kutanya?
"Aku mengerti," kataku sambil berdiri. "Aku mau naik ke atas."
Hari itu aku tetap di kamar tamu. Pelayan mengantarkan makan siang dan makan malam ke depan pintuku. Aku tidak turun sama sekali.
Malamnya, aku berbaring di ranjang, tidak bisa tidur. Biasanya di jam-jam seperti ini, Vincent akan membuka pintu, mendorongku tanpa sepatah kata, dan menggenggam pinggangku sambil memanggilku Putri.
Tapi malam ini, lorong tetap sunyi.
Tentu saja. Cinta pertamanya sudah kembali. Untuk apa dia memikirkan aku?
...
Keesokan harinya hari Sabtu. Vincent tidak pergi ke kompleks.
Jam sepuluh pagi, dia mengetuk pintuku.
"Sofia, ada pesta malam ini. Kamu ikut denganku."
Aku membuka pintu. Vincent sudah berpakaian rapi dengan setelan hitam.
"Pesta apa?"
"Pertemuan antar keluarga."
Aku tidak ingin sendirian di rumah penuh kenangan ini, jadi aku mengangguk.
Jam tujuh malam, mobil Vincent berhenti di sebuah klub pribadi.
Aku mengikutinya masuk dan mendapati tempat itu dihiasi mewah dengan bunga dan pita.
Tidak seperti pertemuan mafia yang pernah kulihat.
Sebelum aku sempat bertanya, terdengar suara yang sangat kukenal.
"Vincent! Akhirnya kamu datang!"
Isabel mengenakan gaun malam putih, melangkah ringan seperti kupu-kupu. Begitu melihatku, ekspresinya sempat berubah sepersekian detik sebelum ia tersenyum manis.
"Sofia juga datang! Bagus sekali!"
Aku melirik sekeliling dan melihat spanduk besar bertuliskan [Selamat Kembali, Isabel].
Ternyata ini pesta penyambutan. Untuknya.
Vincent membawaku ke pesta penyambutan Isabel.
Aku berbalik ingin pergi, tapi Isabel menahanku.
"Sofia, kenapa? Kamu kurang enak badan?" tanyanya, suaranya penuh kepedulian. "Aku dengar kamu pindah dari rumahmu. Apa karena aku? Maaf sekali, aku benar-benar tidak tahu kalau Om Hendra akan membiarkanku tinggal di kamarmu."
Suaranya lembut, tapi cukup keras untuk didengar orang di sekitar. Beberapa tamu langsung melirik ke arahku.
"Tidak apa-apa," jawabku singkat. "Cuma sebuah kamar."
"Tapi Om Hendra bilang kamu sampai memutuskan hubungan dengannya." Mata Isabel berkaca-kaca. "Ini semua salahku. Kalau saja aku tidak kembali..."
"Isabel," potongku. "Alasan aku memutuskan hubungan dengannya tidak ada hubungannya dengan orang luar seperti kamu."
Air mata mulai mengalir di pipinya. Dia menatap Vincent dengan pandangan menyedihkan.
Vincent menghampiri, menatapku tajam sebagai peringatan, lalu berkata lembut pada Isabel, "Jangan menangis. Matamu bisa bengkak."
Dia mengeluarkan saputangan dan menyeka air matanya. Senyum pun kembali di wajah Isabel. Dia mengedipkan bulu matanya yang basah dan berkata, "Kamu baik sekali, Vincent."
Aku berdiri di sisi menyaksikan adegan lembut itu.
Rasa sakit menusuk dadaku.
Sepuluh hari lagi, aku akan pergi untuk selamanya, dan aku tahu aku tidak akan pernah mendapat kelembutan seperti itu darinya.
Aku berbalik menuju bar, mengambil segelas sampanye, lalu meneguknya hampir habis dalam sekali minum.