Bab 1

Aku dan sahabatku menikah dengan satu keluarga kaya yang sama.

Aku menikah dengan si kakak yang merupakan seorang dokter, sedangkan sahabatku menikahi adiknya yang merupakan seorang CEO dingin.

Di hari pernikahan kami, Riko Wicaksono tiba-tiba menghilang demi membantu mencarikan anjing peliharaan mantan kekasihnya.

Nenekku sampai terkena serangan jantung karena marah. Aku memohon padanya agar kembali dan menyelamatkan nenekku.

Tapi dia malah marah, "Mely, kamu sudah gila ya? Kamu bahkan memanfaatkan satu-satunya anggota keluargamu demi membuatku kembali? Anjing Anita hilang, aku sedang membantunya mencari. Resepsi pernikahan kita kan bisa digelar kapan saja."

Hari itu, anjing Anita bisa ditemukan. Tapi aku kehilangan nenekku untuk selamanya.

Aku menangis hingga pingsan. Setelah sadar, aku bertanya pada sahabatku, "Winda, aku akan bercerai. Bagaimana denganmu?"

Sahabatku memelukku sambil menangis, "Aku juga akan bercerai!"

Ketika dua bersaudara dari Keluarga Wicaksono itu menerima surat cerai, mata mereka memerah karena menangis.

"Riko, kita cerai!"

Aku baru saja mengirimkan pesan itu, dan langsung mendapatkan telepon darinya.

"Mely, kamu ini benar-benar nggak ada habisnya, ya! Kemarin kamu bohong dan bilang kalau nenekmu sekarat. Sekarang kamu malah mengancam mau cerai. Lagi pula, resepsi pernikahan kan cuma syarat saja. Memangnya sepenting itu?"

"Kemarin aku juga sudah bilang kalau anjing Anita hilang, dan dia sangat cemas. Peliharaan itu sudah menemaninya selama bertahun-tahun, dan sangat penting baginya. Anjing kan juga makhluk hidup, apa perlu kamu cemburu begini? Apa kamu nggak punya belas kasihan sedikit?"

Hatiku terasa sangat sedih mendengarnya mengkritikku seperti itu.

Kemarin adalah hari dimana resepsi pernikahanku dan Riko akan digelar, tapi Riko malah tiba-tiba pergi setelah mendapatkan telepon dari seseorang.

Nenekku sampai terkena serangan jantung karena marah. Aku segera membawanya ke rumah sakit, tapi dokter di sana bilang kalau hanya Riko yang bisa melakukan operasi jantung. Jadi, aku pun meneleponnya.

Setelah sepuluh kali menelepon, akhirnya dia baru menjawab.

"Sayang, nenekku kena serangan jantung. Cepatlah ke rumah sakit dan selamatkan dia."

Riko malah marah-marah, "Nenekmu itu satu-satunya keluarga yang kamu punya. Kamu tega bohong dan bilang kalau nenek sakit demi membuatku kembali dan melanjutkan acara pernikahan itu? Kamu setega itu?"

"Anjing Anita hilang, aku sedang membantu mencarinya. Jangan meneleponku lagi."

Aku menangis dan berkata, "Bukan begitu, aku nggak bohong. Nenekku benar-benar di rumah sakit menunggumu. Cuma kamu yang bisa mengoperasinya agar dia bisa selamat. Tolong, cepat datang ke rumah sakit."

Riko mendengar suara isakan tangisku, tapi dia malah makin emosi, "Sudahlah, jangan berpura-pura lagi. Itu kan cuma resepsi pernikahan, tunggu sampai aku berhasil menemukan anjing Anita, baru aku akan kembali dan mengadakan ulang pestanya. Jangan ganggu aku lagi."

Setelah itu dia langsung menutup telepon.

Aku baru saja mau meneleponnya lagi, tapi grafik EKG nenekku sudah berubah menjadi garis lurus.

Nenek meninggal.

Aku tidak punya orang tua sejak kecil, dan neneklah yang membesarkanku dengan susah payah.

Aku tidak akan bisa jadi seperti sekarang tanpa nenek.

Aku sangat sedih, sampai akhirnya pingsan karena menangis.

Sahabatku terus menemaniku.

Setelah sadar, aku memutuskan untuk bercerai.

Sejak Anita Surya kembali, hati Riko juga sudah condong kepada wanita itu.

Riko beberapa kali bilang kalau dia harus lembur, tapi sebenarnya dia pergi menemui Anita.

Riko juga tidak pernah mengomentari, atau sekedar menyukai unggahanku di Twitter. Kadang-kadang malah aku yang memintanya memberikan suka, tapi dia malah menyebutku kekanak-kanakan.

Tapi begitu Anita mengunggah sesuatu, dia langsung menyukai unggahan itu, bahkan meninggalkan komentar.

Aku pikir, setelah kami menikah nanti, Riko akan kembali padaku selama aku setia menunggunya.

Tapi yang kuterima malah siksaan batin. Dia makin tidak sabaran menghadapiku.

Malam setelah kami mendaftarkan pernikahan, Riko bahkan masih bertemu dengan Anita di puncak gunung untuk melihat bulan.

Tidak peduli sesibuk apa pun Riko, dia akan tetap datang setiap kali Anita menghubunginya.

Ketika aku mengalami radang usus buntu hingga berkeringat dingin, dia malah menganggapku berlebihan dan lemah karena memintanya mengantarkanku ke rumah sakit.

Tapi ketika tangan Anita tidak sengaja terluka saat memotong sayur, Riko bergegas membawanya ke UGD.

Bagi Riko, Anita adalah prioritasnya.

Aku tahu aku tidak bisa dibandingkan dengan Anita, tapi aku tidak menyangka kalau nenekku ternyata tidak lebih penting daripada anjing peliharaan wanita itu.

Riko yang ada di seberang telepon masih terus berbicara, "Anita bilang peliharaannya syok, makanya kami mengajaknya liburan beberapa hari supaya bisa menenangkan diri. Kalau ada apa-apa, tunggu sampai aku pulang, baru kita bicara lagi."

Sahabatku sudah tidak tahan lagi mendengarnya, dia merebut ponselku dan memarahi Riko.

"Riko, nenek Mely sudah meninggal! Kalau kamu masih punya hati, datang saja ke rumah sakit dan temui nenek untuk terakhir kalinya!"

Bab 2

Riko terdiam sejenak.

"Mely pasti sudah gila. Dia bahkan bohong dan bilang kalau neneknya mati. Suruh dia jangan main-main lagi, cukup! Aku pasti akan kembali setelah urusanku selesai."

Riko sudah lebih dulu mematikan telepon sebelum sahabatku sempat angkat bicara lagi.

Sahabatku mengembalikan ponselku lagi padaku, dan aku melihat unggahan terbaru dari akun Twitter Anita.

Dia sedang memeluk anjing peliharaannya di tepi laut sambil tersenyum lebar.

Di bawah unggahan tersebut tertulis, "Kiki hampir hilang, untung saja ayahnya menemukannya tepat waktu. Kami senang sekali!"

Aku tersenyum getir melihat unggahan tersebut, air mataku terus mengalir deras.

Sungguh ironis.

Riko bukannya menyelamatkan nenekku, malah berkeliling dan liburan bersama mantan kekasihnya serta anjing peliharaannya.

Pernikahanku dengan Riko benar-benar karena sebuah kebetulan semata.

Dia adalah dokter yang merawat nenekku. Saat itu, nenek membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar, dan aku sangat cemas karena tidak punya uang sebanyak itu. Riko yang menawarkan untuk membiayai pengobatan tersebut, asal aku mau menjadi pacarnya.

Dia melakukan hal itu karena tekanan dari kedua orang tuanya. Dia ingin aku pura-pura menjadi pacarnya di depan keluarganya.

Aku pun setuju. Seiring berjalannya waktu yang kami habiskan bersama, aku mulai jatuh cinta padanya.

Karena sahabatku juga menikah dengan adik lelakinya, kurasa menjadi saudara ipar dengan sahabatku sendiri juga bukan ide buruk. Aku pun mulai berusaha merebut hati Riko, hingga kami resmi pacaran sungguhan.

Sahabatku memelukku ketika melihatku menangis.

"Jangan sedih, Mely. Pria jahat itu nggak pantas diharapkan."

Aku merasa sangat terpukul mengingat kepergian nenek untuk selamanya.

Dengan suara tersedu aku berkata, "Winda, aku sudah nggak punya nenek lagi."

Sahabatku menepuk punggungku sambil menenangkanku, "Kamu kan masih punya aku, Mely. Aku akan selalu menemanimu."

Aku mengangguk.

Aku dan Winda Larasati sudah kenal sejak kecil. Kami adalah sahabat yang selalu saja punya topik untuk dibicarakan berdua. Kami bahkan lebih dekat daripada saudara kandung.

Lalu, tiba-tiba ponsel sahabatku berbunyi.

Ada telepon dari Rafi Wicaksono.

Sahabatku dan Rafi menikah karena urusan bisnis. Setelah menikah, Rafi terus saja diterpa gosip. Dulu sahabatku tidak percaya kalau Rafi akan mengkhianatinya, sampai semalam media memberitakan kalau pria itu pergi berlibur ke luar negeri dengan seorang aktris. Foto-foto kedekatan kedua orang itu juga tersebar.

Begitu Winda menerima telepon, dia mendengar suara Rafi yang terdengar marah, "Winda, aku baru turun dari pesawat dan kamu langsung cari masalah?"

"Aku cuma kebetulan bertemu dengan aktris itu di restoran. Hubungan kami nggak seperti yang diberitakan oleh media. Kenapa kamu mempermasalahkan hal sekecil itu sampai minta cerai? Sudahlah."

Winda tertawa sinis, "Kebetulan tapi kok makan bersama? Belanja berdua, bahkan menginap di hotel yang sama? Rafi, jangan kira aku ini bodoh, ya!"

Rafi tidak merasa bersalah sama sekali, "Itu semua cuma akal-akalan media saja. Aku nggak pernah menduakanmu. Terserah kamu mau percaya atau nggak. Terserah kamu juga kalau mau cerai."

Winda marah dan mau memakinya, "Rafi ... tut ... tut ...."

Panggilan sudah lebih dulu diakhiri.

Winda menyeka air matanya, "Mereka benar-benar saudara kandung. Dua-duanya sama saja. Kita harus menceraikan mereka dan menjauhi pria brengsek seperti mereka!"

Aku tahu sebenarnya Winda sangat terluka. Dia memang menikah demi urusan bisnis, tapi Winda sangat mencintai Rafi. Winda adalah putri keluarga kaya yang tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, tapi dia rela belajar memasak demi Rafi.

Pada hari ulang tahun Rafi, pria itu pergi ke luar negeri karena urusan pekerjaan. Winda rela terbang selama lebih dari sepuluh jam hanya untuk merayakan ulang tahun pria itu. Dia juga sering begadang demi menemani Rafi lembur.

Tapi Rafi malah mengira Winda tidak punya kerjaan dan selalu mengganggunya setiap hari, membuatnya sangat kesal.

Aku dan Winda berpelukan sambil menangis.

Setelah nenek dimakamkan, aku mengirimkan pesan pada Riko. Aku menanyakan kapan dia punya waktu untuk mengurus perceraian kami.

Riko butuh waktu lama sebelum akhirnya dapat membalas pesanku.

"Mely, sampai kapan kamu mau terus pura-pura? Kamu masih saja marah hanya karena aku pergi lebih awal saat acara resepsi kita, 'kan? Kita ini sudah resmi menikah, mau ada resepsi atau nggak itu sudah nggak penting."

"Kalau kamu terus mengancam minta cerai, apa kamu nggak takut kalau aku malah mengabulkannya? Penyesalanmu akan sia-sia kalau sampai itu terjadi."

Bab 3

Sebelumnya aku juga pernah membicarakan soal perceraian dengan Riko. Tapi dia selalu marah, dan akhirnya aku yang meminta maaf dan membujuknya agar mau memaafkanku. Makanya, dia mengira aku juga hanya sedang kesal saja seperti sebelumnya.

Aku balas menjawab, "Riko, kali ini aku serius. Ayo kita cerai. Kita bertemu di depan Kantor Catatan Sipil besok pagi jam setengah sembilan."

Riko segera membalas, "Oke, kalau memang kamu mau cerai. Akan kukabulkan keinginanmu itu."

Aku tidak membalas pesannya lagi.

Keesokan paginya, sesaat setelah aku dan Winda sampai di lokasi, Riko dan Anita juga datang.

Riko dan Anita pernah berpacaran saat masih kuliah, tapi mereka putus karena kesalahpahaman. Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, Riko rupanya masih belum bisa melupakan Anita.

Aku menatap anjing peliharaan di pelukan Anita, kemudian teringat wajah nenekku saat meninggal. Rasa sakit tiba-tiba menghujam dadaku.

Riko lalu berjalan mendekat, dia sempat melirikku sekilas saat hendak masuk gedung.

Aku hanya berkata dengan nada datar, "Tunggu sebentar. Winda juga mau bercerai, tapi Rafi masih belum datang."

Riko mengerutkan kening, "Mely, kamu masih belum puas hanya dengan menceraikanku? Kamu juga mau membuat seluruh keluargaku jadi kacau karena perceraian?"

Mendengar itu membuat Winda langsung marah, "Ini keputusanku sendiri, nggak ada hubungannya dengan Mely. Kamu sendiri juga tahu kan seperti apa sifat adikmu itu? Kalian berdua sama-sama brengsek!"

Anita tersenyum tipis, "Nona Winda, kami bicara begitu juga karena peduli. Kenapa Nona harus marah-marah begini?"

Dia melirik ke arahku, "Riko cuma nggak mau kamu terpengaruh oleh Mely, dan terbawa emosi sampai mau menceraikan Rafi juga."

Aku menatap balik Anita, "Memangnya Riko bisu? Sejak kapan kamu mewakilinya bicara begini?"

Anita lalu menatap Riko dengan tatapan memelas.

"Maafkan aku, Kak Riko. Aku sudah salah bicara dan malam membuat Mely marah."

Riko lalu berkata serius, "Cukup, Mely."

Aku hanya meliriknya tajam.

Sepertinya Riko sangat marah padaku, dia sampai membentak, "Memangnya apa salah Anita? Kamu duluan yang melarangku membantunya mencarikan anjing peliharaannya yang hilang, lalu sekarang kamu juga mau memojokkannya."

Anita berkata dengan lembut, "Nona Mely, tolong jangan salah paham. Waktu itu Riko cuma mau membantuku mencari Kiki saja. Kami nggak punya hubungan apa-apa."

"Tapi, seharusnya waktu itu kamu juga jangan sampai mendoakan nenekmu mati hanya demi membuat Riko kembali. Itu kan nggak sopan, apalagi nenekmu juga sudah tua."

Riko lalu menatapku dengan penuh penghinaan, "Kasihan nenekmu yang sudah sangat menyayangimu, Mely. Kamu benar-benar nggak tahu terima kasih."

Aku kemudian mengeluarkan surat kematian nenek dari dalam tas dan menunjukkannya padanya.

"Riko, buka matamu lebar-lebar dan baca ini baik-baik. Nenekku sudah meninggal, sudah meninggal!"

"Saat kamu pergi membantu Anita mencari Kiki, nenekku kena serangan jantung. Aku sudah memohon agar kamu kembali untuk menyelamatkan nyawanya, tapi kamu menolak. Kamu merasa bahwa membantu Anita mencari Kiki lebih penting daripada menyelamatkan nyawa nenekku. Tapi kamu masih berani memakiku?"

Riko melirik surat kematian yang ada di tanganku sambil tertawa mengejek, "Aku ini dokter yang merawat nenekmu. Aku lebih tahu kondisinya daripada kamu. Aku nggak habis pikir kamu bahkan sampai membuat surat kematian palsu demi membohongiku. Aku kecewa padamu."

"Jangan kira aku nggak tahu, ya. Kamu sebenarnya nggak mau cerai, makanya sampai menunjukkan surat kematian palsu itu padaku supaya aku luluh. Asal kamu tahu, itu nggak akan mempan. Kan kamu yang terus-menerus minta cerai!"

Aku memejamkan mata, tiba-tiba sudah lelah menghadapi semua ini. Aku enggan menjelaskan masalah ini lagi padanya.

Terserah apa yang dia pikirkan tentangku, aku tidak peduli lagi.

"Riko, kamu benar-benar bodoh!"

Raut wajah Riko langsung berubah menjadi suram setelah mendengar ucapanku barusan. Dulu aku sangat mencintainya, dan tidak akan mungkin menghinanya seperti barusan.

Dia baru saja mau mengatakan sesuatu, tapi Rafi keburu datang.

Aku dan Winda saling bertukar pandang, kemudian segera melangkah ke dalam gedung tanpa banyak bicara.

Hari ini tidak ada anteran, jadi surat cerainya dapat segera diproses.

Selama menunggu, tatapan Riko terus tertuju padaku. Aku tahu dia menungguku membuka mulut dan memohon padanya untuk membatalkan perceraian ini. Tapi aku tidak akan pernah melakukannya. Aku bahkan tidak meliriknya sama sekali.

Begitu keluar dari Kantor Catatan Sipil, tiba-tiba Kiki, anjing peliharaan Anita, melompat ke arahku. Aku pun refleks menepisnya.

"Jangan sakiti Kiki." Anita berlari menghampiri anjing peliharaannya, hendak melindunginya. Tapi wanita itu malah tidak sengaja jatuh ke tanah.

Riko segera membantunya berdiri, sambil bertanya dengan cemas.

"Anita, kamu nggak apa-apa, 'kan?"

Pria itu lalu menatapku dengan tatapan marah.

"Mely, cepat minta maaf ke Anita."

Aku malas menanggapinya dan memilih untuk segera berbalik pergi. Namun, Riko malah mengejarku dan mencoba meraih lenganku. Tapi entah kenapa, dia malah terhuyung dan tidak sengaja mendorongku jatuh dari tangga."

"Ah!"

Aku kaget dan segera melindungi perutku, tapi semuanya terlambat.

"Perutku sakit sekali ...."

Winda segera berlari ke sampingku, dia melihatku yang sedang kesakitan. Kedua matanya mulai memerah karena cemas.

"Jangan takut, Mely. Nggak apa, semuanya akan baik-baik saja."

Dia lalu menelepon ambulans dan berteriak marah pada Riko, "Riko, apa kamu nggak tahu kalau Mely sedang hamil? Kenapa malah mendorongnya?"

Riko membelalakkan mata melihat darah yang membasahi kakiku, dia tampak sangat kaget.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B95536" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B95536
Salin

Dua Sahabat yang Bercerai

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya