Bab 1
Aku sudah tidak bisa melihat sejak masih kecil. Tapi ibu asuhku mengajariku menjadi seorang terapis pijat paling tersohor.
Hari itu, ada seorang pelanggan penting yang datang ke tempatku.
"Aku bukan orang sembarangan, tentu saja aku mau mencoba sesuatu yang beda dari yang lain."
Detik berikutnya, dia langsung menarik bajuku, dan menuangkan minyak pijat di dadaku.
"Wulan sayang, pijat aku begini saja ...."
Aku sudah tidak bisa melihat sejak masih kecil. Tapi ibu asuhku mengajariku menjadi seorang terapis pijat paling tersohor.
Hari itu, ada seorang pelanggan penting yang datang ke tempatku.
"Aku bukan orang sembarangan, tentu saja aku mau mencoba sesuatu yang beda dari yang lain."
Detik berikutnya, dia langsung menarik bajuku, dan menuangkan minyak pijat di dadaku.
"Wulan sayang, pijat aku begini saja ...."
....
Aku adalah terapis pijat termuda di Panti Pijat Intani.
Karena buta sejak kecil, ibuku membuangku saat usiaku masih lima tahun. Kemudian, Ibu Hera menemukanku di antara para gelandangan dan pengemis.
Dia iba melihatku, dan memberiku nama Wulan Harris. Dia juga mewariskan teknik pijatnya yang unik padaku.
Di dalam ruangan yang dipenuhi kabut uap, aku berlutut di samping dipan dan membuka botol di keranjang.
Minyak pijat yang bening membasahi jari hingga lengan bawahku.
Hanya ada lampu kecil di ruangan ini. Cahaya kuning redup dari lampu tersebut menyinari kulitku, membuatnya tampak lembut seperti madu.
Aku menuangkan minyak pijat ke telapak tanganku, lalu menggosoknya hingga hangat. Setelah itu baru menempelkan kedua tanganku ke tubuh pelanggan.
"Hm, posisinya pas ...."
"Turun sedikit lagi ...."
Tubuh pelangganku telanjang bulat, hanya bagian paling privat saja yang ditutupi dengan kain tipis.
Jari-jariku bergerak di atas lapisan lemaknya, lalu perlahan memijat ke bawah.
"Wulan, tangan kecilmu lembut sekali. Tanganmu sangat jago dalam menyenangkan orang."
Dia tampak sangat menikmati pijatanku, wajahnya memerah sambil terengah-engah.
Sebagai seseorang yang sudah berpengalaman, aku hanya memijat area penting dalam gerakan melingkar dan tidak sampai melewati batas.
Tapi pelangganku tetap menghela napas puas karena kenyamanan yang dia rasakan.
Sesi pijat pun selesai.
Tanganku sangat pegal sampai nyaris tidak punya tenaga untuk mengangkatnya. Tapi untung saja pelangganku sangat puas, bahkan memberiku banyak uang sebagai tip.
Setelah dia pergi, aku pun membereskan peralatanku. Tapi kemudian terdengar suara jeritan dari lantai atas.
Ibu Hera berlari turun dengan wajah panik.
Teman-temanku juga ikut bergerombol, mereka menutup mulut dengan saputangan sambil berbisik-bisik.
"Ada apa di lantai atas? Kenapa Bu Hera panik begitu?"
"Itu, katanya ada pelanggan penting di atas. Orangnya sangat pilih-pilih, bahkan Bu Hera nggak sanggup mengatasinya."
"Hm, aku jadi penasaran siapa sebenarnya pelanggan penting itu ...."
Aku mengerjapkan mata beberapa kali sambil mendengarkan pembicaraan mereka dengan bingung.
Ibu Hera adalah terapis paling ahli di antara kami semua. Kalau dia saja tidak bisa memuaskan pelanggan itu, sebaiknya pelanggan itu pindah ke panti pijat lain saja.
Entah apakah Ibu Hera akan kena semprot pelanggan itu atau tidak ....
Saat aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, Ibu Hera tiba-tiba bergegas menghampiriku, "Wulan, aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana lagi. Cuma kamu yang bisa menenangkan pelanggan merepotkan itu. Tolong gantikan aku, cepat naik ke atas dan menemuinya ...."
Aku sebenarnya sudah lelah, tapi tentu tidak akan menolak permintaan Ibu Hera. Apalagi, setelah semua kebaikannya yang sudah membantuku selama ini.
Aku mengangguk pelan, tapi tangan Ibu Hera yang memegang pundakku terasa makin berat.
"Wulan ... hati-hati."
Aku membalasnya dengan sebuah senyuman, lalu berjalan mengikuti Kak Saras naik ke atas.
Pelanggan penting itu ada di kamar paling besar dan prestisius di lantai atas.
Pintu kamarnya tidak tertutup sepenuhnya, ada sedikit celah.
Kak Saras menghentikanku sejenak, lalu mendekat dan mengintip ke dalam melalui celah tersebut.
"Wulan, pelanggan merepotkan ini ternyata punya tubuh yang bagus."
"Otot-ototnya kekar sekali! Nggak terbayang rasanya kalau bisa menyentuhnya ...."
"Hei, bahkan selimut dari kita hampir nggak bisa menutupi kehebatannya."
Aku tentu saja tahu apa yang dimaksud dengan "kehebatan" itu, dan wajahku otomatis memerah.
"Kak Saras, jangan asal bicara. Sebaiknya kita masuk saja."
Kak Saras tertawa pelan, lalu membukakan pintu untukku.
Tapi takdir memang sulit diprediksi. Begitu aku baru saja melangkah masuk, kakiku malah tersandung kusen pintu.
Tamat sudah!
Aku menjerit dalam hati, tapi tiba-tiba tubuhku terjatuh dalam pelukan tubuh yang kekar.
Semuanya terasa gelap, otot perut pria itu terasa seperti batu giok yang halus. Napasku sekarang jadi tersengal-sengal.
Bab 2
Aku menundukkan wajahku ke dadanya. Kedua telingaku mendengar suara debaran jantung yang amat kencang, entah itu debaran jantungnya atau jantungku sendiri.
Sebagai seorang terapis pijat, aku sangat familier dengan bentuk tubuh manusia.
Tapi, sekarang aku bingung apakah harus melepaskan tanganku, atau lanjut ....
Lalu tiba-tiba saja terdengar suara tawa pelan dari atas kepalaku.
"Sudah puas memegangnya?"
Aku didorong menjauh hingga tubuhku terhuyung beberapa langkah.
Pria itu lalu mendengus, dan memandangiku dari atas hingga bawah dengan tatapan dingin.
"Nggak kusangka, Wulan yang terkenal di Panti Pijat Intano ternyata perempuan yang ... nakal."
Suara pria ini terdengar sangat merdu. Setiap katanya membuat jantungku berdebar-debar.
Bahkan ujung jariku masih bisa merasakan sisa-sisa panas tubuhnya ....
Aku menggenggam tanganku erat-erat dan menyembunyikannya di belakang punggung, wajahku juga tampak memerah.
Keindahan memang bisa menyesatkan!
Ibu Hera sudah mengingatkanku untuk berhati-hati, mana mungkin aku berani menggoda pria ini!
"A-aku ...."
"Hm? Ternyata memang buta."
Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, pria itu sudah menyentuh mataku.
Dia berdiri sangat dekat denganku. Aku bisa merasakan napas hangatnya saat bicara.
Kedua pipiku sudah merah padam saat berada di suasana menegangkan begini. Aku meraba tas kecilku, mencoba mengambil sebotol minyak pijat.
"Tuan, perkenalkan, namaku Wulan."
"Aku sudah buta sejak kecil. Hari ini aku datang untuk menggantikan Ibu Hera memijat ...."
Pria itu tetap diam, tapi helaan napas hangatnya masih terasa.
Dia mencubit daguku dan memaksaku mendongak menatapnya. Tatapan tajamnya seolah membakar kedua pipiku.
Aku meremas botol minyak pijat di tanganku saking gugupnya.
Aku tidak akan diusir karena buta, 'kan?
Ibu Hera cuma bilang kalau hanya aku yang bisa memuaskan pelanggan ini ....
Aku menggigit bibir, lalu berkata pelan.
"Aku memang buta, tapi aku terapis andalan di Panti Pijat Intani."
"Kalau soal profesionalisme, bisa kupastikan kalau aku nggak kalah dengan kakak-kakak yang lain."
Aku tidak bisa melihat ekspresi wajah pria itu, dan hanya mendengar tawa pelannya.
"Lidah memang nggak bertulang. Beberapa orang yang masuk tadi juga bilang kalau mereka jago memijat, tapi menurutku biasa saja!"
"Kalau memang tidak percaya ... bagaimana kalau kutunjukkan saja?"
Segera setelah aku berkata demikian, aku merasakan pinggangku ditarik maju.
Pria itu duduk di ranjang pijat empuk yang ada di samping, lalu berbaring di atasnya.
"Cepat, aku nggak punya stok sabar untuk main-main denganmu."
"Kalau kemampuan pijatmu biasa saja, cepat keluar dari sini!"
Nada bicaranya meninggi, aku pun bergegas memijatnya. Aku membuka botol minyak pijat, lalu menuangkannya ke tanganku. Kemudian memijat beberapa titik akupuntur di tubuhnya.
Tanganku dapat bergerak lebih lembut dengan tambahan minyak pijat.
Otot-ototnya terasa menonjol, membuat punggungnya benar-benar kekar sempurna.
Punggung indahnya ini ... jauh lebih keren daripada punggung para pria paruh baya itu!
Saat sedang memijatnya begini, aku jadi teringat ucapan Kak Saras tadi.
Kalau tubuh pria ini saja sekekar ini, bagian pentingnya pasti ....
"Kekuatan pijatanmu ini ... lumayan ...."
Pria di bawahku ini bergumam pelan. Aku yang tadinya gugup ketakutan, akhirnya merasa lega setelah mendengar ucapannya barusan.
"Kalau Tuan suka, aku akan lanjut memijat."
Ketika aku mau mengeluarkan alat dari tasku, pria ini berkata lagi.
"Sebagai seorang pelanggan penting, aku tentu harus merasakan pengalaman yang beda dari yang lain."
Detik berikutnya, dia langsung menarikku mendekat ....