Bab 5
Arlina harus menanggung konsekuensi atas kesalahan yang dilakukannya karena kebodohan sesaat. Beberapa hari berikutnya, dia benar-benar kehilangan semangat, seakan-akan jiwanya telah melayang. Saat ini dia bahkan belum lulus kuliah. Arlina tahu pasti bahwa anak ini tidak bisa dipertahankan.
Namun, dia juga tidak berani memberi tahu orang tuanya. Sementara untuk menjalani aborsi, dia butuh tanda tangan keluarga dan setelah operasi pun, dia harus beristirahat. Kalau sampai ketahuan pihak kampus, masa depannya akan hancur.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Arlina merasakan ketakutan dan kepanikan yang begitu mendalam, sampai-sampai Tania pun memperhatikan perubahannya dan bertanya dengan cemas, "Arlin, kamu kenapa? Ada masalah apa?"
Beberapa hari ini, wajah Arlina pucat pasi dan tatapannya kosong bagai arwah gentayangan.
Arlina hanya menggelengkan kepala dengan lemah. "Aku nggak apa-apa."
Mana mungkin tidak apa-apa?
"Kalau kamu ada masalah, cerita sama aku. Kita cari solusi sama-sama." Tania merasa iba melihat kondisi Arlina, lalu bertanya dengan ragu, "Apa ini gara-gara masalah Rio?"
Masalah Rio sekarang bahkan bukan apa-apa bagi Arlina. Namun, Tania juga masih seorang mahasiswa. Jika dia mengetahui hal ini, yang ada hanya akan menambah satu orang lagi yang kebingungan.
Arlina memaksakan senyum. "Aku benar-benar nggak apa-apa, kamu nggak usah khawatir."
Melihat Arlina tetap menolak bicara, Tania pun tidak bisa memaksanya lagi, lalu berusaha mengalihkan pembicaraan, "Nanti jam pelajaran terakhir ada kelas anatomi Pak Rexa, kita datang lebih awal biar dapat tempat bagus."
Namun saat mendengarnya, wajah Arlina malah terlihat menderita. "Boleh nggak aku nggak ikut kelas itu?"
"Nggak bisa, kamu juga tahu Pak Rexa itu orangnya sangat ketat. Setiap kali kuliah, dia selalu absen satu per satu. Memang sih, tindakannya ini agak berlebihan. Kalau mata kuliah lain sih, aku nggak berani jamin. Tapi untuk mata kuliah ini, nggak ada satu pun mahasiswa yang berani bolos."
Tentu saja ada. Arlina adalah yang pertama.
Meskipun dia punya niat, Arlina tetap tidak berani melakukannya. Selama dua tahun kuliah, dia belum pernah bolos sekali pun. Apalagi sekarang Rexa sudah tahu siapa dirinya. Kalau dia meminta Tania untuk menggantikannya absen, bukankah itu sama saja seperti menyerahkan diri ke kandang harimau?
Belum sampai jam kuliah, Tania sudah menarik tangan Arlina menuju ruang kelas. Sialnya, kali ini mereka malah dapat tempat di barisan depan.
"Nia, gimana kalau kita duduk di belakang saja? Masih ada tempat kosong di sana," kata Arlina mencoba membujuk. Setelah meniduri profesor, ditambah dengan kehamilannya ini, Arlina semakin tidak berani berhadapan dengan Rexa.
"Nggak bisa, tempat ini sudah paling bagus." Tania langsung duduk. "Di sini paling strategis. Dari sini kita bisa menikmati ketampanan Pak Rexa dari jarak dekat."
Arlina sempat berpikir untuk pindah ke belakang. Namun begitu menoleh, semua tempat duduk di belakang sudah penuh. Akhirnya, dia hanya bisa pasrah duduk di depan.
Tak lama kemudian, bel kuliah berbunyi. Arlina berusaha meringkuk di belakang Tania, mencoba menyamarkan keberadaannya.
Seperti biasanya, Rexa tampil memesona. Dia melangkah masuk ke kelas dengan langkah panjang dan berdiri di panggung dengan tubuh yang tegap dan ramping. Mantel berwarna khaki membalut tubuhnya, seolah-olah dia baru keluar dari majalah mode. Matanya bersinar tajam, fitur wajahnya tegas, dan ekpresinya tampak tenang.
Begitu dia muncul, seluruh kelas langsung sunyi. Suara lembutnya terdengar jelas dan matanya menyapu sekilas ke seluruh kelas saat berkata, "Kita mulai kuliahnya."
Kali ini Arlina tidak berani lagi melamun. Dia mencatat semua poin penting yang disampaikan Rexa di buku catatannya. Sambil mendengarkan, mata Arlina tanpa sadar terus mengikuti gerakan tubuhnya. Rexa benar-benar pria yang paling memikat yang pernah dia lihat.
Dirinya memancarkan aura yang tenang dan penuh pesona. Kalimat "kecerdasan membuat seseorang bersinar dari dalam" rasanya sangat cocok untuk menggambarkan Rexa.
Cara Rexa mengajar juga sangat terstruktur. Materi yang rumit bisa disampaikannya dengan sederhana, membuat semua orang mudah mengerti. Semua mahasiswa larut dalam suasana kuliah, perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada materi yang disampaikan olehnya.
Arlina mendengarkan dengan sungguh-sungguh, pandangannya terus tertuju pada Rexa. Tiba-tiba, Rexa menoleh ke samping dan pandangan mereka kembali bertemu tanpa sengaja. Arlina seketika tersadar dan buru-buru menundukkan kepala dengan cemas.
Tiba-tiba dia teringat, kira-kira bagaimana reaksi Rexa jika tahu dirinya hamil? Rexa adalah ayah biologis anak ini, apakah dia harus memberi tahu Rexa?
Arlina menggigit bibirnya dengan bimbang. Dia benar-benar tidak ingin punya keterkaitan lebih jauh dengan pria itu.
Akhirnya, bel tanda berakhirnya kelas berbunyi. Rexa mematikan proyektor dan berkata, "Kelas selesai. Kalau ada yang masih kurang jelas, bisa bertanya sekarang."
"Pak, saya mau tanya."
"Saya juga ada pertanyaan."
Beberapa mahasiswa langsung mengerubungi Rexa dan dia menjawab pertanyaan mereka satu per satu. Dari sudut matanya, dia melihat sosok yang duduk di barisan depan itu. Arlina sudah menggendong tasnya dan melarikan diri terbirit-birit dari kelas.
Beberapa hari ini, mereka sudah dua kali berpapasan di kampus. Setiap kali melihatnya dari kejauhan, Arlina langsung terkejut dan buru-buru memutar arah, jelas sekali dia sedang menghindari Rexa.
Rexa sempat memeriksa data mahasiswa Arlina. Usianya 21 tahun, dua tahun kuliah dengan kehadiran penuh, nilainya termasuk peringkat 10 besar seangkatan, dan setiap tahun mendapatkan beasiswa. Dia adalah murid teladan di mata para dosen.
Rexa menundukkan pandangan, lalu melanjutkan menjelaskan materi kepada mahasiswa-mahasiswa yang bertanya.
....
Arlina biasanya jarang pulang ke rumah di akhir pekan. Mungkin karena kejadian-kejadian belakangan ini membuat hatinya tidak tenang, dia berharap bisa menemukan sedikit penghiburan di rumah. Jadi, pada Jumat sore, dia memutuskan untuk pulang.
Begitu pintu rumah dibuka, aroma harum masakan langsung menyambutnya. Dari dapur terdengar suara ibunya, Heidy, "Max pulang ya? Ibu sebentar lagi selesai masak, tunggu sebentar ya."
Arlina meletakkan ranselnya dan berjalan ke pintu dapur, lalu memanggil, "Ibu, ini aku."
Heidy menoleh ke belakang. Begitu melihat Arlina, tangannya yang memegang spatula langsung berhenti. "Kenapa kamu pulang?"
"Besok akhir pekan," jawab Arlina pelan.
Heidy mengernyit. "Kamu ini ... kenapa nggak kasih tahu dulu sebelum pulang? Ibu jadi nggak masak nasi untukmu."
"Aku sudah bilang kemarin," ucap Arlina.
"Oh ya?" Nada bicara Heidy terdengar acuh tak acuh. "Kalau begitu aku lupa. Siapa juga yang ingat hal-hal beginian, biasanya juga kamu nggak di rumah."
Arlina hanya terdiam.
Orang tua Tania bahkan sudah menanyakan anaknya akan pulang untuk makan atau tidak sebelum akhir pekan tiba. Namun di rumah ini, keberadaan anak perempuan seperti tidak berarti.
"Kenapa bengong saja? Cepat bawa lauknya ke meja makan. Terus telepon ayahmu, suruh dia beli nasi putih dari luar," perintah Heidy.
"Oh, oke." Arlina buru-buru mencuci tangan dan membawakan lauk ke meja, lalu menelepon ayahnya, Godric.
Setelah semua lauk selesai dimasak, Godric masuk rumah dengan membawa kotak nasi sambil melepaskan sepatunya dan menggerutu, "Kenapa nggak bilang-bilang dulu kalau mau pulang. Sekarang nasi putih dari luar makin mahal. Kotak nasi juga harus bayar, enam ribu sudah cukup untuk masak nasi sekeluarga."
"Harga barang-barang semakin naik, semua serba mahal, cuma gaji kamu yang nggak tambah. Rumah ini sebentar lagi nggak ada yang bisa dimakan lagi," keluh Heidy sambil merebut kotak nasi dari tangan Godric.
"Untuk apa bawa kotak nasi segala? Plastiknya ini juga bersih, langsung pakai plastik saja, dong."
Bab 6
Arlina berdiri di samping, mengatupkan bibirnya dan memanggil, "Ayah."
Godric meliriknya sekilas, lalu matanya mengamati sekeliling ruangan. "Mana adikmu? Belum pulang?"
Arlina baru hendak berkata tidak tahu, tapi terdengar suara Heidy menyahut, "Tadi aku sudah telepon, dia bilang lagi main basket sama temannya. Dia baru selesai dan sedang dalam perjalanan pulang."
Godric mendengus, "Tahunya cuma main basket seharian, nggak mau belajar yang bagus. Dasar nggak berguna."
"Dia baru kelas satu SMA, dari mana kamu tahu nggak berguna? Mana ada ayah yang ngomong begitu tentang anaknya," kata Heidy.
Setelah lauk dihidangkan di meja, mereka bertiga duduk di meja makan, tetapi tidak ada yang mulai makan. Selama Max belum pulang, mereka tidak akan makan duluan. Arlina sudah terbiasa dengan ini. Dia menatap butiran nasi di depannya sambil melamun.
"Kenapa Max belum pulang juga ya? Jangan-jangan terjadi sesuatu?" kata Heidy dengan cemas.
"Anak sebesar itu, mana mungkin kenapa-kenapa." Meskipun berkata demikian, Godric tetap menambahkan, "Telepon tanyakan dia."
Arlina tiba-tiba teringat saat dia kelas tiga SMA. Lantaran uang sakunya habis, dirinya yang tinggal di asrama, terpaksa pulang ke rumah di akhir pekan untuk meminta uang. Saat itu, hujan deras mengguyur di tengah perjalanan pulang. Dia terpaksa berteduh lama di bawah atap toko sampai hujan agak reda.
Ketika dia pulang dengan baju basah kuyup dan membuka pintu rumah, kedua orang tua dan adiknya sedang duduk makan malam. Melihatnya basah kuyup, mereka sama sekali tidak peduli, malah hanya berkata, "Hujan deras sekali, kami kira kamu baru pulang besok."
Hari itu dia pulang terlambat sejam dan hanya makan lauk sisa. Berbeda dengan Max yang kalau telat pulang 10 atau 15 menit saja, mereka sudah sibuk menelepon dan menunggunya pulang untuk makan.
Heidy baru saja hendak menelepon Max, tapi terdengar suara pintu terbuka dari arah depan. Dia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu, "Max pulang!"
Yang masuk adalah seorang anak laki-laki berusia 16 tahun. Wajahnya terlihat polos, tetapi juga terkesan dewasa. Rambutnya yang sedikit acak, menutupi keningnya dan ekspresinya tampak cuek. Ritsleting seragam sekolahnya tidak dikancing dan dibiarkan menggantung di kedua sisi.
"Kamu pasti sudah lapar, ya? Ibu sudah masak daging kecap kesukaanmu," kata Heidy sambil tersenyum ramah pada Maxton.
"Itu dulu, sekarang aku nggak suka lagi," jawab Maxton dengan kesal.
"Oh ya? Kalau begitu sekarang kamu suka makan apa? Lain kali Ibu masakkin."
"Terserah," sahut Maxton dengan nada malas. Begitu masuk dan melihat Arlina, matanya langsung berhenti sejenak, lalu bertanya, "Dia ngapain di sini?" Bahkan tidak ada sapaan sama sekali.
"Ini akhir pekan, kakakmu datang makan di rumah," kata Heidy sambil mendorongnya ke arah dapur. "Cepat cuci tangan, lalu makan. Nanti makanannya keburu dingin."
Maxton berjalan masuk ke dapur dengan enggan.
Selama makan malam berlangsung, Arlina tetap diam. Hanya Heidy yang terus-menerus mengambilkan lauk untuk Maxton, seolah takut anaknya kelaparan.
Maxton juga tidak menunjukkan rasa terima kasih. Dia malah berusaha menghindar sambil berkata dengan tidak sabar, "Aku punya tangan, biar aku ambil sendiri."
Di samping, Godric yang melihat itu pun berkata, "Sudah, bisa nggak makan yang benar?"
Dibandingkan dengan mereka, Arlina terkesan tidak cocok berada di sana sama sekali. Hingga akhirnya, tanpa sadar dia memakan sepotong daging berlemak. Rasa minyaknya langsung memenuhi mulut Arlina, membuat perutnya seolah bergolak hebat.
"Hoek ...." Dia tidak bisa menahan diri dan langsung memuntahkannya ke lantai.
Ketiga orang itu langsung serentak menoleh ke arahnya, sementara Maxton menutup hidungnya dengan jijik.
Belum sempat berkata apa pun, perut Arlina kembali terasa mual. Dia bergegas berlari ke toilet dan berjongkok di lantai untuk memuntahkan semua makanan yang dia makan malam ini.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba muntah?" Heidy mengikutinya ke dalam kamar mandi, sambil menepuk-nepuk punggungnya. "Tadi baik-baik saja, kenapa tiba-tiba muntah?"
Arlina muntah hebat hingga air matanya hampir menetes. Matanya memerah, merasakan hangatnya tangan Heidy yang menepuk-nepuk punggungnya. Tiba-tiba dia teringat, mungkin sebelum Maxton lahir dulu, ibunya juga pernah menepuk-nepuk punggungnya seperti ini saat dia sakit.
Di detik itu juga, mata Arlina terasa panas. Perasaan cemas dan takut yang sudah lama dipendamnya, mendadak menyeruak ke permukaan. Dia ingin memberi tahu ibunya bahwa dia sedang hamil, ingin bertanya pada ibunya apa yang harus dia lakukan, dan apakah hidupnya benar-benar sudah berakhir.
"Kamu sudah baikan?" tanya Heidy sambil menatapnya.
Arlina menoleh dan mengangguk sedikit. Dia ingin bicara, tetapi merasa ragu. "Ibu, aku ...."
Belum sempat dia mengeluarkan kata-katanya, Heidy sudah berdiri dan berjalan keluar sambil mengerutkan kening. "Kalau sudah baikan, bersihkan ini semua. Lagi makan, tapi malah muntah semua ke lantai. Kenapa nggak tahan dulu sampai ke toilet?"
Ucapan Heidy bagaikan pukulan telak di hati Arlina. Dari luar toilet masih terdengar suara, "Max, kenapa nggak makan lagi? Ibu sebentar lagi beresin semuanya, makanlah yang banyak."
Suara Maxton yang kesal terdengar, "Nggak mau makan lagi, sudah hilang selera."
Suara Godric terdengar rendah dan berat, "Cepat beresin, mau makan nggak nih?"
Tidak ada seorang pun yang peduli bagaimana keadaan Arlina di dalam toilet. Tidak ada yang memberinya selembar tisu ataupun menuangkan segelas air untuk berkumur.
Arlina yang berjongkok di toilet tiba-tiba menangis sesenggukan. Dia tidak seharusnya berharap apa-apa dari mereka. Arlina sempat mengira dia bisa mendapatkan sedikit penghiburan dari keluarganya.
Namun dia lupa, semua luka yang dia alami justru berasal dari keluarga ini. Saat dia berbuat salah, mereka hanya akan menyalahkan dan menghakiminya, tak pernah ada satu pun yang memikirkan bagaimana perasaannya.
Di balik air matanya, Arlina teringat sosok pria yang teduh dan menenangkan itu. Apakah pria itu bisa memberitahunya, apa yang harus dia lakukan sekarang?
....
Malam semakin larut dan hening. Rexa duduk di ruang kerjanya dan di depannya tergeletak sebuah laptop. Cahaya dingin dari layar memantul ke wajahnya, menampakkan ekspresi tenang dan tajam. Ujung jarinya yang ramping bergerak lincah di atas keyboard.
Drrt drrt drrt ....
Ponsel di sampingnya tiba-tiba bergetar. Rexa memijat pelipisnya dan mengangkat ponsel. Ternyata dari nomor asing.
"Halo." Suara Rexa terdengar berat dan dalam.
Tidak ada jawaban dari seberang. Rexa mengulang lagi, "Halo."
Tetap tidak ada respons. Rexa menduga ini hanya telepon iseng, sehingga dia bersiap untuk menutup panggilan. Namun, tepat saat ujung jarinya hampir menyentuh tombol tutup, terdengar suara yang ragu dan gemetaran, "Pa ... Pak Rexa."
Rexa langsung mengenali suara itu sebagai Arlina. Dia kembali menempelkan ponsel ke telinga. Suara gadis itu terdengar sedikit gugup, "Ini aku, Arlina."
"Aku tahu."
"Maaf mengganggu Anda malam-malam begini." Suaranya terdengar cemas. Setelah mengumpulkan keberanian, dia melanjutkan, "Besok Anda ada waktu? Kita bisa bertemu?"
Rexa tidak banyak bertanya. Sembari menatap lampu meja di depannya, dia berkata, "Baik."
....
Waktu dan tempat pertemuan ditentukan oleh Rexa. Saat pintu restoran didorong terbuka, dia langsung melihat Arlina.
Gadis itu mengenakan jaket abu-abu yang sama seperti saat mereka pertama kali bertemu di kampus. Wajahnya yang mungil tampak menunduk, sementara jemarinya yang diletakkan di atas meja saling menggenggam dengan gelisah. Ini menunjukkan betapa gugupnya Arlina saat ini.
Rexa melangkah mendekat.
Mendengar langkah kaki itu, Arlina lalu mengangkat kepala. Wajah Rexa yang familier langsung memenuhi pandangannya. Dia buru-buru berdiri dan memanggil, "Pa ... Pak Rexa."
Rexa memberi isyarat padanya untuk duduk, lalu Arlina pun menurutinya. Keduanya duduk berhadapan, suasana menjadi hening sejenak.
Rexa membuka percakapan lebih dulu, "Mau makan apa?"
Arlina buru-buru menggeleng, "Nggak perlu, nggak usah."
"Kita bertemu di sini memang untuk makan." Rexa mendorong menu ke arahnya. "Pilih saja makanan yang kamu suka."
Nada bicara Rexa terdengar agak tegas, membuat Arlina tidak berani membantah. Dia asal menunjuk salah satu menu di daftar, "Yang ini saja."
Rexa melirik sekilas, yang dipilihnya adalah kepala ikan dengan cabai cincang. Dia memanggil pelayan tanpa mengatakan apa pun. Selain kepala ikan, dia juga memesan tiga hidangan lain. Saat menunggu hidangan datang, Arlina hanya sibuk menyeruput air, mencoba mengalihkan rasa gugupnya.
Rexa tampaknya juga tidak tergesa-gesa. Sejak duduk, dia belum menanyakan alasan Arlina memintanya untuk bertemu.
Akhirnya, makanan telah disajikan. Melihat kepala ikan yang dipenuhi cabai, Arlina langsung merinding. Dia tidak tahan makanan pedas, tadi dia hanya asal menunjuk menu karena pikirannya sedang tidak fokus. Sekarang dia terpaksa harus makan makanan yang dia pilih sendiri.
Setelah memakan beberap suap, dia kepedasan hingga berkeringat deras dan bibirnya pun memerah.
Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dan menuangkan air ke dalam gelasnya. Rexa berkata, "Air lemon bisa membantu mengurangi pedas. Kalau nggak bisa makan, nggak usah dipaksa."
"Maaf," Arlina merasa agak canggung.
"Nggak perlu minta maaf." Rexa memindahkan kepala ikan cabai itu ke samping. "Setidaknya aku tahu sekarang kamu nggak tahan pedas."
Kata-kata Rexa membuat hati Arlina sedikit tersentuh. Dia mengangkat kepala dan memandang pria itu. Nada bicaranya tetap tenang. Bahkan setelah tahu Arlina adalah mahasiswanya, Rexa hanya kehilangan kendali untuk sesaat. Namun kemudian, dia segera menenangkan dirinya dengan cepat.
Rexa tampaknya jauh lebih tua dari Arlina. Sikap tenang ini adalah hasil dari tempahan waktu pada dirinya. Arlina merasa, keputusannya untuk menemui Rexa mungkin adalah pilihan yang tepat.
Arlina tiba-tiba merasakan keberanian yang muncul. Dia menarik napas panjang dan berkata, "Pak Rexa, aku menghubungi Anda hari ini karena ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."
Saat akhirnya membahas masalah ini, Rexa mengangguk memberi isyarat, "Silakan."
Arlina membuka tasnya dan mengeluarkan hasil pemeriksaan yang baru saja dia peroleh, lalu menyerahkannya ke depan Rexa. Kedua tangannya tidak bisa berhenti gemetaran.
Bab 7
Rexa meraih kertas itu. Saat matanya membaca tulisan "Positif Hamil", sorot matanya menjadi lebih dalam. Arlina terus memperhatikan reaksinya dengan hati-hati.
Melihat pria itu hanya menatap lembaran kertas itu tanpa berkata apa-apa, dia langsung panik dan buru-buru menjelaskan, "Pak Rexa, anak ini ... anak ini milik Anda. Aku ... aku cuma pernah bersama Anda seorang."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, wajahnya langsung merah padam. Akhirnya, tatapan Rexa beralih dari kertas itu kepadanya. Pantas saja Arlina terlihat begitu gugup sedari awal. Dia hanyalah seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang belum pernah mengalami hal seperti ini. Saat mengetahui dirinya hamil, Arlina pasti merasa sangat bingung dan takut.
Kalau bukan karena benar-benar terdesak, mungkin Arlina tidak akan mencari dirinya. Rexa diam-diam mengutuk dirinya sendiri. Dengan sekali kehilangan kendali, dia telah menghancurkan hidup seorang gadis.
Rexa meletakkan hasil pemeriksaan itu di meja, lalu bertanya dengan nada lembut, "Bagaimana rencanamu?"
Sikap Rexa yang terlalu tenang membuat Arlina agak bingung dan tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Namun, dia tetap menggelengkan kepala dengan jujur dan menjawab dengan pelan, "Aku nggak tahu ... aku ... aku agak takut."
Melihat jemari Arlina yang terus-menerus menggenggam satu sama lain, muncul perasaan iba dalam hati Rexa. "Takut itu wajar. Siapa pun yang mengalami hal ini seumuran kamu pasti akan merasa takut."
Arlina menundukkan kepala tanpa berkata apa-apa. Rexa mulai menyampaikan pikirannya, "Kamu baru 21 tahun dan masih kuliah. Saat ini yang terpenting adalah pendidikanmu. Pilihan terbaik untukmu adalah menggugurkan anak ini."
Arlina sudah menduga jawaban itu sebelumnya. Hatinya bergetar sesaat, kemudian dia berkata pelan, "Aku nggak berani bilang ke orang tuaku. Operasi kuret butuh tanda tangan pihak keluarga."
Rexa melihat bulu matanya bergetar ringan. "Pertama-tama, aku mau minta maaf. Malam itu aku mabuk dan kehilangan kendali ...." Rexa terdiam sejenak, sulit baginya untuk melanjutkan kalimat itu, lalu memilih untuk melewatinya, "Aku lebih tua darimu, seharusnya aku bisa menahan diri."
Wajah Arlina merah merona, lalu dia buru-buru menggelengkan kepala. "Bukan begitu, aku juga salah ...."
"Kalau kamu memutuskan untuk menggugurkannya, aku akan mendampingimu sepenuhnya. Biaya operasi dan perawatan setelahnya akan kutanggung sepenuhnya sampai kamu pulih." Suara Rexa terdengar tenang dan stabil, entah mengapa membuat hati Arlina yang resah menjadi sedikit tenang.
Setidaknya, dia merasa masih ada seseorang yang bisa dia andalkan untuk diajak bicara. Arlina menggigit bibir, lalu mengangguk pelan, "Baiklah."
Pilihan yang ditawarkan Rexa memang yang terbaik. Kekhawatiran soal tanda tangan orang tua dan biaya sudah terjawab. Namun siapa sangka, Rexa kemudian berkata, "Aku belum selesai bicara. Selanjutnya adalah pilihan kedua."
Arlina tercengang, "Apa?" Masih ada pilihan kedua?
Rexa menatapnya dan berkata dengan tenang, "Kita menikah."
Hah????
Arlina langsung membelalakkan mata menatap Rexa dengan tidak percaya, seolah-olah telinganya salah dengar. Namun, wajah Rexa tetap datar. Seakan-akan, kalimat yang baru saja dia ucapkan itu sama sekali bukan hal yang mengejutkan.
"Aborsi akan memberikan dampak buruk bagi tubuhmu. Kalau kita menikah, anak ini bisa lahir dengan status yang sah. Aku akan bertanggung jawab sebagai suami dan ayah."
"Untuk urusan kuliah, nanti di trimester akhir kamu bisa cuti kuliah selama setengah tahun. Setelah masa nifas, kamu bisa melanjutkan kuliah lagi. Soal mengurus anak, aku yang akan bertanggung jawab."
"Sementara kamu di rumah melahirkan, aku juga bisa membantu mengajarkanmu pelajaran kuliah, aku yakin itu nggak akan mengganggu studimu."
Rexa menatap mata Arlina yang masih terpaku dan terkejut.
"Tentu saja, kamu mungkin merasa aku jauh lebih tua darimu. Tapi itu nggak sepenuhnya buruk. Pengalaman hidupku lebih banyak, aku bisa berbagi cerita dan membuatmu menghindari rintangan yang pernah kulalui. Lagi pula, nanti aku bisa pensiun lebih cepat daripada kamu."
Benar-benar lelucon terburuk sepanjang abad ini!
Arlina tidak menyangka, hanya dalam beberapa menit saja, Rexa bukan hanya menerima kenyataan bahwa dia akan menjadi seorang ayah, tapi juga langsung memberikan dua pilihan.
Salah satunya bahkan mengusulkan untuk menikah. Selain itu, mengenai kuliah dan rencana mengurus anak pun sudah dipikirkan matang-matang. Memang otak profesor itu berbeda, berpikir jauh lebih cepat dibandingkan orang lain.
Dari rasa terkejut, emosi Arlina berubah menjadi takut. "Pak Rexa, jangan bercanda seperti itu."
"Aku nggak lagi bercanda." Ekspresi serius Rexa membuat wajah Arlina seketika membeku.
"Aku perkenalkan diriku dulu, ya. Rexa Pariaman, 29 tahun, asli dari kota ini, lulusan doktoral, sekarang bekerja di Fakultas Kedokteran Universitas Sterling. Gajiku cukup untuk menghidupi keluarga. Karena baru pulang dari luar negeri, sekarang aku masih tinggal di rumah kontrakan. Tapi kalau mau beli rumah, aku sanggup."
"Aku pakai mobil keluarga, nggak merokok, nggak minum alkohol, dan nggak pernah melakukan kekerasan rumah tangga. Hobiku membaca buku dan lari pagi. Orangtuaku punya usaha kecil, jadi soal biaya pensiun nggak ada masalah."
"Setelah menikah, kita nggak perlu tinggal dengan mertua. Sekarang aku baru mulai bekerja, jadi mungkin agak sibuk, tapi setelah stabil nanti akan baik-baik saja. Aku punya libur akhir pekan, libur musim panas dan musim dingin, jadi cukup waktu untuk menemani kamu dan anak."
Betapa realistisnya perkenalan diri itu. Kalau ada yang mendengar, pasti mengira mereka sedang mengikuti sesi perjodohan.
Bagaikan disambar petir, Arlina terdiam sangat lama. Rexa memandangnya yang masih terpaku, lalu berkata dengan sabar, "Coba pikirkan, yang tadi aku sebutkan itu cocok nggak sama kriteria pasangan hidupmu."
'Tentu saja sangat amat cocok, tahu! Arlina bahkan merasa seperti mendapatkan durian runtuh yang jatuh tepat di kepalanya. Seorang profesor sehebat Rexa, malah mengajaknya menikah?'
Di bawah meja, Arlina mencubit pahanya sendiri.
'Aduh, sakit! Ini bukan mimpi.'
Arlina akhirnya menatap Rexa dengan wajah terkejut, lalu baru benar-benar menyadari bahwa dia tidak sedang bercanda. Rexa benar-benar serius dengan semua yang dia katakan.
Akan tetapi, menikah .... Bagi Arlina, kata itu terasa begitu jauh dari kehidupannya. Dia sama sekali tidak pernah memikirkan soal pernikahan. Ini adalah keputusan yang jauh lebih besar dibanding menggugurkan kandungan.
Arlina merasa ragu dan berkata dengan pelan, "Pak Rexa, apa aku boleh pertimbangkan dulu?"
"Berapa lama?"
" Senin depan aku akan memberimu jawaban."
"Baik." Rexa mengangguk.
Namun kenyataannya, Arlina bahkan tidak membutuhkan waktu selama itu. Saat dia pulang ke rumah dengan perasaan gelisah, dia mendengar suara Heidy dan Maxton dari dalam.
"Aku mau beli sepatu." Itu suara Maxton.
"Bukannya kamu baru beli belum lama ini?" jawab Heidy.
"Sepatunya rusak gara-gara main basket kemarin."
Heidy terdengar ragu. "Berapa harganya?"
"Tiga setengah juta."
Nada bicara Heidy langsung meninggi, "Semahal itu? Max, sebenarnya kita nggak perlu boros-boros hanya buat sepasang sepatu."
Maxton juga mulai kesal, "Teman-temanku pakai sepatu yang jauh lebih mahal dari ini, sekarang aku jadi nggak percaya diri di sekolah. Sudahlah, kalau nggak mau beli ya nggak apa-apa, aku sudah biasa diejek sama teman-teman."
Heidy buru-buru berkata, "Ya, sudah deh. Ibu belikan buat kamu."
Arlina langsung terpaku di tempat. Keluarga mereka sebenarnya tidak kaya. Heidy hanya ibu rumah tangga yang sesekali membuat kerajinan tangan untuk dijual. Godric hanya seorang kepala seksi di kantor lingkungan sekitar dengan gaji yang biasa-biasa saja.
Sejak kecil, Arlina sering mendengar orangtuanya menasihati bahwa keluarga mereka tidak mampu. Ayah dan ibunya bekerja keras, jadi dia tidak boleh menghamburkan uang sembarangan.
Itulah sebabnya, saat masih sekolah, uang sakunya hampir tidak ada. Ketika masuk asrama saat SMA, Arlina baru diberi uang saku beberapa ratus ribu rupiah dan itu pun tidak pernah mereka berikan dengan inisiatif.
Arlina harus hidup berhemat. Sampai ketika benar-benar kehabisan uang, barulah dia memberanikan diri pulang untuk meminta kepada mereka. Tentu saja, dia akan dimarahi habis-habisan.
Setelah masuk universitas, dia hampir tidak pernah meminta uang lagi dari mereka selain biaya kuliah. Bagi Arlina, uang sejumlah tiga jutaan itu adalah jatah hidup selama beberapa bulan saat SMA. Dulu, dia butuh waktu lama untuk mengumpulkan keberanian dan memohon agar diberi uang. Namun kini, jika putra mereka yang memintanya, semuanya bisa diberikan dengan mudah.
Hatinya tiba-tiba terasa sesak. Arlina tiba-tiba merasakan dorongan yang sangat kuat untuk melarikan diri dari keluarga ini.
Sementara Rexa ... seolah-olah menjadi satu-satunya pegangan hidupnya.
Arlina berlari keluar rumah. Saat berada di halaman apartemen, dia mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor telepon Rexa.
"Halo." Suara pria itu tetap lembut dan tenang seperti biasa.
"Pak Rexa." Mendengar suara pria ini, entah mengapa mata Arlina langsung berkaca-kaca. Dia menggenggam ponsel dengan erat, lalu berkata dengan suara gemetar, "Ayo kita menikah."